EVALUASI PERENCANAAN PENGADAAN
OBAT ANALGETIK NON OPIOID DENGAN METODE ABC (Always Better Control) DISALAH SATU
APOTEK DI DAERAH BANDUNG
Melin Yunisah1, Wempi Eka Rusmana2
Politeknik Piksi Ganesha, Indonesia
melinyunisah12@gmail.com, wempiapt@gmail.com
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
10 April 2022 15 April 2022 20 April 2022 |
Latar Belakang : Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah dan periode pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai (BMHP) sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien. evaluasi perencanaan pengadaan analgetik ini menggunakan metode analisis ABC (Always Better Control). Tujuan : Untuk mengetahui evaluasi perencanaan obat analgetik dengan metode ABC di salah satu Apotek di daerah Bandung dan Untuk mengetahui berapa jumlah item dan persentase Analgetik oral yang termasuk ke dalam kelompok A, B dan C berdasarkan nilai pemakaian dan nilai investasi Apotek. Penelitian ini menggunakan populasi obat yang ada di Apotek di daerah Bandung dari bulan April Juni 2021. Metode : Jenis penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif dengan metode penelitian kuantitatif, yang bertujuan untuk mengevaluasi perencanaan obat di salah satu apotek di daerah Bandung berdasarkan metode analisis ABC. Hasil : Untuk hasil analisis ABC berdasarkan nilai investasi yaitu kelompok A terdiri dari 28 jenis obat dengan nilai investasi Rp. 59.844.450, kelompok B terdiri dari 17 jenis obat public dengan nilai investasi Rp. 16.662.150, dan kelompok C terdiri dari 28 jenis obat public dengan nilai investasi Rp. 9.288.730. Kesimpulan : Kelompok item obat A nilai pemakaian maupun nilai investasi paling
banyak, sehingga perlu diperhatikan
ketersediaan stok obat tersebut agar terhindar dari kekosongan obat yang
dapat menyebabkan kerugian bagi
Apotek. Kata Kunci : Pengelolaan Obat; Analisis Metode ABC; Apotek daerah Bandung. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: Needs planning is an activity to determine the quantity and period of
procurement of pharmaceutical preparations, medical devices, and medical
consumables (BMHP) in accordance with the results of the selection activities
to ensure the fulfillment of the criteria for the right type, right quantity,
timely and efficient. evaluation of this analgesic procurement plan using the
ABC (Always Better Control) analysis method. Objectives: To determine the evaluation of planning analgesic drugs using the ABC
method at a pharmacy in the Bandung area and to find out how many items and
percentages of oral analgesics are included in groups A, B and C based on the
value of use and the value of the pharmacy's investment. This study uses the
drug population in pharmacies in the Bandung area from April to June 2021. Methods: This type of research is a descriptive
non-experimental research with quantitative research methods, which
aims to evaluate drug planning in a pharmacy in the Bandung area based on the
ABC analysis method. Results: The results of the ABC analysis based on the investment value, namely
group A consists of 28 types of drugs with an investment value of Rp.
59,844,450, group B consists of 17 types of public drugs with an investment
value of Rp. 16,662,150, and group C consists of 28 types of public drugs
with an investment value of Rp. 9,288,730. Conclusion: Group A drug items have the highest usage value and investment value,
so it is necessary to pay attention to the availability of the drug stock in order to avoid drug shortages that can cause losses to
the pharmacy. Keywords: Drug Management; ABC Method Analysis; Bandung area pharmacy. |
|
*Correspondent Author : Melin Yunisah
Email : melinyunisah12@gmail.com
PENDAHULUAN
Pelayanan
kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung, tepat dan bertanggung jawab kepada
pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang
pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien dan menjadi tolak ukur yang
dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan
pelayanan kefarmasian (Umar, 2020).
Salah
satu kegiatan pelayanan kefarmasian yaitu pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai (BMHP) yang dimulai dari pemilihan,
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
pemusnahan dan penarikan, pengendalian, dan administrasi (Febreani & Chalidyanto, 2016). Proses
perencanaan sangat berpengaruh pada ketersediaan obat dengan kebutuhan guna
mendapatkan harga yang ekonomis sehingga dapat menghindari adanya kekurangan
dan kelebihan obat. Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan
jumlah dan periode pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai (BMHP) sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin
terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien (Fajarini, 2018).
Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam perencanaan pengadaan obat adalah alokasi dana
yang tersedia, harga per item obat dan penentuan berapa besar serta kapan
perencanaan pengadaan obat harus dilakukan. Apabila hal ini tidak sesuai, maka
perencanaan pengadaan obat belum bisa
dikatakan efektif sehingga menyebabkan beberapa masalah seperti kekurangan atau
kelebihan obat. Selain itu alokasi dana yang tidak sesuai dapat menyebabkan
kerugian dalam hal ekonomi (Deram, n.d.).
Berdasarkan
pengamatan langsung di salah satu Apotek di daerah Bandung, metode perencanaan
obat yang digunakan yaitu metode konsumsi dengan menggunakan data penjualan
obat yang diambil dari Sistem Informasi Manajemen Apotek selama dua bulan terakhir
dan sisa stok obat, obat mana yang sudah habis maupun akan habis. Proses
pengadaan obat dilakukan dua kali dalam satu minggu yaitu pada hari Kamis dan
Minggu. Hal ini terjadi karena meningkatnya kunjungan pasien ke Apotek dan
adanya kendala seperti kekosongan obat dari distributor, keterlambatan
pengiriman obat atau stok kosong pada saat pemesanan.
Berdasarkan
hasil dari pengamatan langsung, maka penelitian ini berfokus pada evaluasi
perencanaan dan pengadaan obat.
Dalam
penelitian ini, penulis mengevaluasi perencanaan pengadaan obat analgetik karena analgetik
merupakan obat yang sering digunakan sehingga mengakibatkan ketidaksesuaian
antara perencanaan dan pengadaan yang menyebabkan ketersediaan analgetik menjadi kurang.
Dalam
evaluasi perencanaan pengadaan analgetik ini
menggunakan metode analisis ABC (Always Better Control). Prinsip utama
analisis ABC adalah dengan menempatkan
jenis-jenis obat ke dalam suatu urutan, dimulai dengan jenis obat yang memakan
anggaran terbanyak (Rarung, Sambou, Tampai, & Potalangi, 2020). Hasil
dari analisis ABC dikategorikan A merupakan kelompok obat yang menyerap
anggaran 70%, kategori B merupakan kelompok obat yang menyerap anggaran 20%,
serta kategori C merupakan kelompok obat yang menyerap anggaran 10%. Dengan 4
pengelompokan tersebut maka cara pengelolaan obat akan lebih mudah sehingga
pengendalian obat dapat menjadi lebih baik (Rarung et al., 2020).
Penelitan ini
bertujuan untuk mengetahui evaluasi perencanaan obat analgetik
dengan metode ABC di salah satu Apotek di daerah Bandung dan untuk mengetahui
berapa jumlah item dan persentase Analgetik oral yang
termasuk ke dalam kelompok A, B dan C berdasarkan nilai pemakaian dan nilai
investasi Apotek.
METODE PENELITIAN
Jenis
penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif
dengan metode penelitian kuantitatif, yang bertujuan untuk mengevaluasi
perencanaan obat di salah satu apotek di daerah Bandung berdasarkan metode
analisis ABC. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini
sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk
penelitian (Nasution, 2018; Siyoto & Sodik, 2015). Data
yang di kumpulkan secara rektospektif yaitu melihat
data pengeluaran/penjualan obat periode
April - Juni 2021.
Metode
penelitian kuantitatif adalah metode positivistik karena berlandaskan pada
filsafat positivisme, metode ilmiah/scientific karena
telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris,
obyektif, terukur, rasional, dan sistematis serta data penelitianya
berupa angka angka (Siyoto & Sodik, 2015)
Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui perencanaan pengadaan obat dengan menggunakan
metode analisis ABC.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perencanaan kebutuhan obat ini dilakukan di salah satu
Apotek di Daerah Bandung. Tahap pertama dari perencanaan ini adalah melakukan
telaah dokumen mengenai pemakaian obat dari bulan April 2021- Juni 2021. Dari
data tersebut didapat kelompok obat publik kelompok A, kelompok B, dan kelompok
C berdasarkan nilai pemakaian (Laukati, Mutiara, &
Erni, 2022).
Tahap selanjutnya dimasukkan data nama obat, harga obat,
stok obat dan pemakaiannya. Data ini dimasukkan ke dalam komputer program Excel
sehingga didapatkan Analisis ABC (Always Better Control) berdasarkan
investasi (Salam & Rusmana,
2021). Hasil analisis
berdasarkan nilai pemakaian di dapatkan hasil sebagai berikut:
1.
Kelompok A terdapat 27 item obat yang merupakan
keseluruhan jenis dengan pemakaian sebanyak 180.170 (70% dari pemakain keseluruhan).
2.
Kelompok B terdiri dari 18 item obat yang merupakan
keseluruhan jenis dengan dengan pemakaian sebanyak
52.070 (20% dari pemakaian keseluruhan).
3.
Kelompok C terdiri dari 28 item obat yang merupakan keseluruhan
jenis dengan pemakaian 25.924 (10% dari pemakaian keseluruhan).
Hasil penelitian pemakaian obat yang terdapat di salah
satu Apotek di Daerah Bandung dapat dilihat dalam tebel
1.1 berikut:
Tabel 1.1 Pengelompokan obat publik dengan analisis
ABC berdasarkan jumlah pemakaian Periode
April 2021- Juni 2021.
Kelompok
|
Jumlah Item
|
Jumlah Pemakaian
|
% Pemakaian
|
A
|
27
|
180.170
|
70
|
B
|
18
|
52.070
|
20
|
C
|
28
|
25.924
|
10
|
Total
|
73
|
258.164 |
100,0
|
Hasil analisis ABC berdasarkan nilai investasi terhadap obat publik
1.
Kelompok A dengan nilai
investasi 70% dengan biaya Rp.
59.844.450 dengan jumlah item 28
2.
Kelompok B dengan nilai
investasi 19%
dengan biaya Rp. 16.662.150 dengan jumlah item 17
3.
Kelompok C dengan nilai investsi 11% dengan biaya Rp.
9.288.730 dengan jumlah item 28
Hasil penelitian pemakaian obat publik yang terdapat di bidang farmasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Kelompok
|
Jumlah Item
|
Jumlah Investasi
|
% Investasi
|
A
|
28
|
59.844.450
|
70%
|
B
|
17
|
16.662.150
|
19%
|
C
|
28
|
9.288.730
|
11%
|
Total
|
73
|
85.795.330
|
100,0
|
Tabel 2.2 Hasil pengelompokan obat publikan
dengan analisis ABC berdasarkan nilai investasi periode April 2021- Juni 2021.
Dari analisis ABC berdasarkan investasi didapatkan
kelompok A sebanyak 70%, kelompok B 19%, kelompok C 11%. Ini sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh sanderson (1982) yaitu
70-20-10. Penanganan obat-obatan yang termasuk kelompok A harus diperhatikan
dengan ketat dimana diperlukan langkah-langkah yang
dalam pelaksanaanya. Karena uang yang berputar untuk
item-item obat publik ini sangat berperan untuk Apotek di Daerah Bandung maka
sangat diharapkan harus dipantau pelaksanaannya sehingga tidak terjadi
kekurangan yang dapat mengakibatkan terlambatnya pelayanan di bidang farmasi.
Perencanaan obat sangat mempengaruhi ketersediaan obat di
salah satu Apotek di Daerah Bandung, sebab perencanaan bertujuan untuk
menetapkan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan
kesehatan di salah satu Apotek di Daerah Bandung agar tidak terjadi kosongan maupun kelebihan obat. Apabila kebutuhan obat
tidak direncanakan dengan baik maka terjadi kekosongan yang akan mempengaruhi
pelayanan serta kenyamanan pasien dan kelebihan obat akan menyebabkan kerusakan
obat dan merugikan anggaran yang dipakai untuk obat tersebut. Hal inilah yang
mendasari perlunya dilakukan evaluasi dari perencanaan yang telah dibuat (Hartono, 2007).
Evaluasi disini berdasarkan analisis
ABC sehingga perencanaan obat dan yang harus diadakan adalah obat yang sangat
dibutuhkan Karena penggunaannya banyak dan dapat memberikan nilai investasi
tinggi bagi salah satu Apotek di Daerah Bandung (Winasari, 2015).
Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan
informan yaitu Apoteker di Apotek tentang perencanaan yang ada yaitu
perencanaan dilakukan untuk menentukan jenis dan jumlah kebutuhan obat.
Perencanaan obat dibuat oleh petugas Administrasi di Apotek setiap bulan yang
didasarkan pada kebutuhan obat periode sebelumnya (Nesi & Kristin, 2018).
Data sekunder diperoleh berupa data pemakaian obat pada
Dari April 2021 - Juni 2021 beserta harga belinya yang diperlukan dalam
pengelolaan data Analisa ABC. Dengan Analisa ABC, jenis obat ini dapat di
evaluasi lebih lanjut.
Berdasarkan data yang di peroleh
untuk hasil analisa ABC berdasarkan pemakaian diperoleh yang termasuk dalam
kelompok A terdapat 27 item obat dengan nilai pemakaian sebanyak 180.170,
kelompok B terdiri dari 18 item obat dengan nilai pemakaian sebanyak 52.070,
obat yang termasuk dalam kelompok C terdiri dari 28 item obat dengan nilai
pemakaian 25.924. Sedangkan untuk analisis ABC berdasarkan nilai investasi
diperoleh yang termasuk dalam kelompok A terdapat 28 item obat dengan nilai
investasi sebanyak Rp. 59.844.450, kelompok B terdiri dari 17 item obat dengan
bilai investasi Rp. 16.662.150 yang termasuk dalam kelompok C terdiri dari 28
item obat dengan nilai investasi sebanyak Rp. 9.288.730. Adapun waktu pemesanan
kembali obat di salah satu Apotek di Daerah Bandung dilakukan tiap hari kamis
dan hari minggu dengan waktu tunggu tiga sampai lima hari dan stok pengamanan
sebanyak 20% sehingga jarang terjadi kekosongan obat.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian, analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan dari
hasil penelitian diperoleh hasil analisis ABC berdasarkan pemakaian yaitu
kelompok A terdiri dari 27 item obat dengan nilai pemakaian 180.170 dan nilai
investasi RP. 59.844.450, kelompok B terdiri dari 18 item obat dengan nilai
pemakaian 52.070 dan nilai investasi Rp. 16.622.150, kelompok C terdiri dari 28
item obat dengan nilai pemakaian 25.924 dan nilai investasi Rp. 9.288.730.
Deram, Agnes. (n.d.). EVALUASI PERENCANAAN OBAT DI
INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT ST. GABRIEL KEWAPANTE KABUPATEN SIKKA TAHUN 2018.
Fajarini, Hanari. (2018). Implementasi Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 73 tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
Parapemikir: Jurnal Ilmiah Farmasi, 7(2), 260269.
Febreani, Stella Herliantine, & Chalidyanto, Djazuly.
(2016). Pengelolaan Sediaan Obat pada Logistik Farmasi Rumah Sakit Umum Tipe B
di Jawa Timur. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 4(2),
136145.
Hartono, Joko Puji. (2007). Analisis Proses Perencanaan
Kebutuhan Obat Publik Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) di Puskesmas Se
Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Program Pascasarjana
Universitas Diponegoro.
Laukati, Yune, Mutiara, Rina, & Erni, Nofi. (2022). Model
Perencanaan dan Pengadaan Obat dengan Metode ABC Indeks Kritis (Studi Kasus Di
Rumah Sakit Jiwa dr. Soeharto Heerdjan Jakarta). Jurnal Health Sains, 3(3),
504515.
Nasution, Mardiah Kalsum. (2018). Penggunaan metode
pembelajaran dalam peningkatan hasil belajar siswa. Studia Didaktika, 11(01),
916.
Nesi, Gregorius, & Kristin, Erna. (2018). Evaluasi
Perencanaan Dan Pengadaan Obat di Instalasi Farmasi RSUD Kefamenanu Kabupaten
Timor Tengah Utara. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia: JKKI, 7(4),
147153.
Rarung, Jacky, Sambou, Christel N., Tampai, Randi, &
Potalangi, Nerni O. (2020). Evaluasi Perencanaan Pengadaan Obat Berdasarkan
Metode ABC Di Instalasi Farmasi RSUP Prof. Dr. RD Kandou Manado. Biofarmasetikal
Tropis, 3(2), 8996.
Salam, Hadi Subekti, & Rusmana, Wempi Eka. (2021).
Analisis Efisiensi Pengelolaan Obat Berdasarkan Metode Pareto/ABC di Apotek
Keluarga 8 Antapani Bandung. Jurnal Sosial Sains, 1(10), 1211.
Siyoto, Sandu, & Sodik, Muhammad Ali. (2015). Dasar
metodologi penelitian. Literasi Media Publishing.
Umar, Anugrah. (2020). Gambaran Tingkat Kepuasan Pasien
Terhadap Pelayanan Obat Di Apotek X Desa Pattimang Kecamatan Malangke Kabupaten
Luwu Utara Tahun 2020. Jurnal Kesehatan Luwu Raya, 7(1), 2227.
Winasari, Ajrina. (2015). Gambaran Penyebab Kekosongan
Stok Obat Paten Dan Upaya Pengendaliannya Di Gudang Medis Instalasi Farmasi
RSUD Kota Bekasi Pada Triwulan I Tahun 2015.
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |