SAINS DALAM PERSPEKTIF
FILSAFAT
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Email: verasiregar02@gmail.com
|
|
Abstrak |
|
|
Received : Revised : Accepted : |
01 Mar 2022 10 Mar 2022 15 Mar 2022 |
Latar Belakang: Perubahan sosial dan ekonomi yang sangat pesat dalam tiga dekade
belakangan yang mencengangkan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi
yang dikendalikan oleh aplikasi teknologi. Tujuan: Peneliti bertujuan untuk mengembangkan individu
agar mengenal ruang lingkup sains itu sendiri serta mampu menggunakan
aspek-aspek fundamental dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Jadi fokus
program pengembangan pembelajaran sains hendaklah ditujukan untuk memupuk pemahaman,
minat dan penghargaan anak didik terhadap dunia di mana mereka hidup pada
hal-hal di atas secara umum menyampaikan bahwa pengembangan pembelajaran
sains pada anak usia dini Metode: Jenis penelitian
ini termasuk penelitian penelitian bahan pustaka (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan di pustaka dan
menggunakan bahan-bahan bacaan berupa buku, majalah atau lainnya. Sedangkan bila dilihat dari segi cara dan
taraf pembahasan masalah, jenis penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif. Hasil: Sains memiliki
ruang lingkup yang
terbatas yaitu hanya pada hal yang
dapat dipahami oleh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, rabaan,
sentuhan dan juga ucapan. Kesimpulan: Sains adalah suatu
deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan
tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk
diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut. Kata kunci: Sains; Filsafat; Ilmu
Pengatahuan. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: The very rapid
social and economic changes in the last three decades have been astonishingly
influenced by economic developments driven by the application of technology. Objectives: Researchers aim to
develop individuals to recognize the scope of science itself and be able to
use the fundamental aspects in solving the problems they face. So the focus
of the science learning development program should be aimed at fostering
students' understanding, interest and appreciation of the world in which they
live. In general, the above conveys that the development of science learning
in early childhood Methods: This type of
research includes library research research, namely research conducted in
libraries and using reading materials in the form of books, magazines or
others. Meanwhile, when viewed in terms of the way and level of problem
discussion, this type of research is descriptive research. Result: Science has a
limited scope that is only on things that can be understood by our senses
such as sight, hearing, touch, touch and also speech. Conclusion: Science is a series
of concepts and conceptual schemas that are related to each other, and grow
as a result of experimentation and observation, and are useful for further
observation and experimentation. Keywords: Science; Philosophy; Science. |
|
*Correspondent Author :
Email :
PENDAHULUAN
Perubahan
sosial dan ekonomi yang sangat pesat dalam tiga dekade belakangan yang
mencengangkan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi yang dikendalikan
oleh aplikasi teknologi (Susanti & Khairunisak, 2021). Friedman misalnya dalam buku The World is Flat, menjelaskan dengan
meyakinkan bahwa teknologi informasi dan outsourcing-offshoring
telah merubah cara hidup manusia di seluruh dunia dalam berinteraksi dan
bertransaksi, dia mengatakan kondisi ini sebagai Globalisation 3.0 (Arifin, 2019). Tidak diragukan lagi bahwa dalam keadaan begitu,
inovasi menjadi kata kunci kepada keunggulan kompetitif dari kesuksesan dan
kesejahteraan bagi tiap-tiap individu, daerah ataupun negara. Konsekuensi
langsung dari situasi ekonomi global yang penuh persaingan ini adalah
ketergantungan yang sangat besar terhadap kemahiran/ketrampilan (skills), pengetahuan dan modal
intelektual dari pihak yang memang mampu berkreasi dan mengembangkan berbagai
inovasi tersebut.
Skenario
dari perkembangan aktual ini mau tak mau akan menempatkan bahwa sektor
pendidikan akan menjadi lebih strategis dan tumpuan utama dalam hal mendukung
kesuksesan. lni tidak lain karena melalui pendidikan lah pengetahuan dan
kreativitas untuk inovasi terus dikembangkan (Sumintono, 2010). Bekal pengetahuan dan kemahiran dari
prosespendidikan akan menjadi tumpuan, Bybee dan Fuchs mensyaratkan bahwa itu
dapat dicapai dengan guru yang berkualitas, isi kurikulum yang tepat dan
berkesinambungan, tes belajar yang sesuai dan sistem penilaian yang terkait
dengan tujuan paling penting (Suprayitno & Wahyudi, 2020). Pelajaran bahasa dan matematika merupakan
disiplin yang fundamental untuk diajarkan, setelah itu pelajaran sains menjadi
sesuatu yang penting yang juga perlu dipahami dengan baik oleh siswa (Abidin, Mulyati, & Yunansah, 2021).
Sains
memiliki ruang lingkup yang terbatas yaitu hanya pada hal yang dapat dipahami
oleh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, rabaan, sentuhan dan juga
ucapan (Desiningrum, 2017). Dapat dikatakan bahwa sains adalah ilmu
pengetahuan yang didapat dari proses pembelajaran dan juga proses pembuktian,
yang berbeda antara sains terapan dan sains murni adalah sains terapan
merupakan aplikasi sains yang memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Objek-objek yang dapat dilihat dan diliti oleh sains sangat
banyak yaitu alam, tumbuhan, hewan,
manusia, serta kejadian-kejadian di alam sekitar juga merupakan objek kajian
sains (Saifulloh, 2017). Dari objek penelitian itulah muncul
teori-teori sains yan saat ini dikenal.
Tujuan
pembelajaran sains bagi anak adalah mengembangkan aspek perkembangan dan
potensi yang dimiliki anak. Selain itu pembelajaran sains juga ditujukan untuk
mengembangkan individu agar mengenal ruang lingkup sains itu sendiri serta
mampu menggunakan aspek-aspek fundamental dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya. Jadi fokus program pengembangan pembelajaran sains hendaklah
ditujukan untuk memupuk pemahaman, minat dan penghargaan anak didik terhadap
dunia di mana mereka hidup pada hal-hal di atas secara umum menyampaikan bahwa
pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini hendaklah di tujukan untuk
merealisasikan empat hal yaitu (Mirawati & Nugraha, 2017) :
1.
Pengembangkan pembelajaran sains pada anak usia
dini ditunjukan agar anak-anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang
dihadapinya melalui penggunaan metode sains, sehingga anak-anak terbantu dan
menjadi terampil dalam menyelesaikan berbagai hal yang dihadapinya.
2.
Pengembangkan pembelajaran sains pada anak usia
dini ditunjukan agar anak-anak memiliki sikap-sikap ilmiah. Misalkan tidak
cepat-cepat dalam mengambil keputusan, dapat melihat segala sesuatu dari
berbagai sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi-informasi yang
diterimanya.
3.
Pengembangkan pembelajaran sains pada anak usia
dini ditunjukan agar anak-anak mendapatkan pengetahuan dan informasi ilmiah.
4.
Pengembangkan pembelajaran sains pada anak usia
dini ditujukan agar anak-anak menjadi lebih berminat dan tertarik untuk
menghayati sains yang berbeda dan ditemukan di lingkungan dan alam sekitarnya.
METODE
PENELITIAN
Jenis
penelitian ini termasuk penelitian penelitian bahan pustaka (Library Research), yaitu penelitian
yang dilakukan di pustaka dan menggunakan bahan-bahan bacaan berupa buku,
majalah atau lainnya (Fijas & Marlini, 2020). Sedangkan bila dilihat dari segi cara dan
taraf pembahasan masalah, jenis penelitian ini merupakan penelitian Destriptif.
Yakni penelitian yang berupaya mengungkapkan suatu masalah
atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada walaupun
kadang-kadang diberikan interpretasi atau analisis (Lusiono & Alrizwan, 2021)(Lusiono & Alrizwan, 2021).
Sumber
data dari penelitian ini adalah penulis menggunakan beberapa literatur sebagai
bahan rujukan untuk kelengkapan dan keabsahan tulisan ini. Teknik pengumpulan
data peneliti menggunakan penelitian
Dokumentasi, yakni metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat
atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh
orang lain tentang subjek (Sari & Asmendri, 2020).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Istilah
sains berasal dari bahasa latin scientia yang berarti pengetahuan. Namun
pernyataan ini terlalu luas dalam penggunaannya sehari-hari. Dalam arti sempit sains
adalah disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan life
sciences (ilmu biologi) (Billah, 2016). Termasuk physical
sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi,
meteorology, dan fisika, sedangkan life science meliputi biologi (anatomi,
fisiologi, zoology, sitologi, embriologi, mikrobiologi). Dalam hal ini istilah
sains dimaknai secara khusus sebagai nature of science atau ilmu pengetahuan
alam (Akbar, 2018).
Pengertian
atas istilah sains secara khusus sebagai Ilmu Pengetahuan Alam sangat beragam.
Conant mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual
yang berhubungan satu sama lain, dan tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan
observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut (Suryani, Amir, Nurfathurrahmah, Azmin, & Hartati,
2021). Carin
& Sund mendefinisikan sains adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta
melalui observasi dan eksperimen yang terkontrol (Shawmi, 2015). Menurut James Conan, sains sebagai deretan
konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang tumbuh
sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan
dieksperimentasikan lebih lanjut (Hayat, 2018).
Ahli
lain menyatakan bahwa hakikat sains atau Nature
of Science (NoS) merupakan pengetahuan tentang epistemologi (metode) dari
sains, proses terjadinya sains, atau nilai dan keyakinan yang melekat untuk
mengembangkan sains. Pendapat tersebut diperkuat oleh Carin and Sund dalam
Wenno bahwa hakikat sains meliputi scientific
product, scientific processes, dan scientific
attitudes (WIJAYA, 2022).
Produk
sains yang meliputi fakta, konsep, prinsip diperoleh melalui serangkaian proses
penemuan ilmiah dengan metode ilmiah dan didasari oleh sikap ilmiah. Menurut
Toharudin (Narut & Supardi, 2019), hakikat sains terdiri dari saIns sebagai
proses, sains sebagai produk dan sians sebagai sikap. Berikut penjabaran
masing-masing aspek:
1.
Sains sebagai Proses Sains sebagai proses,
merupakan aktivitas kognitif. Sains sebagai proses akan selalu merujuk pada
suatu aktivitas ilmiah yang dilaksanakan oleh para ahli sains. Setiap aktivitas
ilmiah mempunyai ciri-ciri yang rasional, kognitif dan bertujuan. Aktivitas
seorang dalam mencari ilmu pasti memerlukan pikiran untuk menalarnya. Dalam
melaksanakan ktivitas ilmiah yang merupakan kegiatan terbaik harus dipayungi
oleh kegiatan yang bernama penelitian
2.
Sains sebagai sikap Sikap ilmiah pada dasarnya
adalah sikap yang diperlihatkan oleh ilmuan saat mereka melakukan berbagai
kegiatan ilmiah terkait dengan profesinya sebagai seoarang ilmuwan. Dengan perkataan lain, sikap ilmiah merupakan kecenderungan individu untuk bertindak atau
berperilaku dalam memecahkan masalah sistematis melalui langkah-langkah. Karena
itu, seorang peneliti harus mampu mengembangkan beberapa sikap ilmiah.
3.
Sains sebagai produk Sains sebagai produk
ilmiah, dapat berupa pengetahuan-pengetahuan sains yang didapat dari bahan
ajar, makalah-makalah ilmiah, buku teks, artikel ilmiah dan pernyataan para
ahli sains berupa teori, postulat, hukum dan lain-lain. Secara umum, ada
beberapa produk sians seperti faka, konsep, lambang, konsepsi atau penjelasan
dan teori. Berdasarkan definisi dari para ahli dapat disimpulkan bahwa sains
adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan baru yang berupa produk ilmiah
dan sikap ilmiah melalui suatu kegiatan yang disebut proses ilmiah. Siapapun
yang akan mempelajari sains haruslah melakukan suatu kegiatan yang disebut
sebagai proses ilmiah. Seseorang dapat menemukan pengetahuan baru dan
menanamkan sikap yang ada dalam dirinya melalui.
J.D.Bernal
menyarankan untuk memahami sains haruslah melalui pemahaman dari berbagai segi
atau aspek dari sains seutuhnya (Arif, 2017). Ia menonjolkan adanya 5 aspek yaitu:
1.
Sains sebagai institusi
Institusi di sini artinya adalah suatu lembaga
imaginer, kelembagaan dari bidang profesi tertentu. Misalnya orang bertanya
“anda bekerja di mana?”, maka orang yang ditanya itu menjawab “di bidang
sains”. Bidang sains memang baru muncul abad ke 20 dan diakui eksistensinya
karena kenyataannya telah ada beribu manusia menggantungkan hidupnya pada
bidang ini. Sains memiliki ciri khusus; kalau bidang lain (kedokteran, hokum,
dan sebagainya) berhadapan langsung dengan masyarakat, tetapi bidang sains
cenderung memisahkan diri dari masyarakat umum. Ilmuwan bekerja di laboratorium
dengan alat-alat yang asing bagi masyarakat, membuat hitung-hitungan yang hanya
bisa dimengerti mereka, seolah-olah mereka memiliki bahasa khusus yang hanya
dimengerti oleh rekan-rekan seprofesinya. Karena ciri khusus itulah maka orang
cepat mengetahui bahwa itu sains, tetapi jika ditanya apa itu sains maka
sebagaian besar tidak mengetahui karena memang tidak mengerti apa yang dilakukan
oleh para ilmuwan. Maka jawabnya adalah “sains itu ya apa yang dikerjakan oleh
ilmuwan” atau “science is what scientist do” sebagaimana dikemukakan Bernal.
2.
Sains sebagai metode
Hal ini berkebaikan dengan sains sebagai
institusi yang merupakan sesuatu yang nyata dan dapat dilihat hubungannya
dengan masyarakat. Sains sebagai suatu metode adalah suatu hal yang abstrak,
yang merupakan konsepsi. Konsepsi metode sains itu senditri tidaklah tetap
karena pegertiannya berkembang sesuai dengan perkembangan sejarah. Jadi metode
sains merupakan suatu proses yang terus berubah. Metode sains terdiri dari
sejumlah kegiatan, baik mental maupun manual, termasuk di dalamnya adalah
observasi, eksperimentasi, klasifikasi, pengukuran, dan sebagainya. Metode
sains juga melibatkan teori-teori hipotesis serta hokum-hukum.
3.
Sains sebagai kumpulan pengetahuan
Sains dapat dipandang sebagai suatu body of
knowledge yang terus tumbuh, tidak statis. Kumpulan pengetahuan sains tidak
sama seperti agama ataupun kesenian. Agama berkenaan dengan pelestarian suatu
kebenaran yang bersifat mutlak, sedangkan seni bersifat individual. Perbedaan
dengan sains adalah kebenaran sains tidak bersifat mutlak karena kebenaran
sains diperiksa oleh orang lain atau diulang observasinya, dan jumlahnya pun
selalu berkembang. Sains sebagai kumpulan pengetahuan mengacu pada kumpulan
berbagai konsep sains yang sangat luas. Sains dipertimbangkan sebagai akumulasi
berbagai pengetahuan yang telah ditemukan sejak zaman dahulu sampai penemuan
pengetahuan yangbaru.pengetahhuan tersebut berupa fakta, konsep, teori, dan
generalisasi yang menjelaskan tentang alam.
4.
Sains sebagai faktor pengembang produksi
5.
Sains sebagai salah satu faktor yang
mempengaruhi kepercayaan dan sikap.
R. Harre
dalam bukunya The Philosophies of Science
dijelaskan bahwa “science is a collection
of well attested theories which explain the patterns and regularies and
irregularies among carefully studied phenomena” (Smith, Moskal, Xu, Kang, & Bobaljik, 2019), yang berarti sains adalah kumpulan
teori-teori yang telah diuji kebenarannya, menjelaskan tentang pola-pola dan
keteraturan maupun ketidakteraturan dari gejala yang diamati dengan seksama (Muhammad, 2016). Kalimat tersebut berisi dua hal. Yang pertama
menyatakan bahwa sains itu suatu kumpulan pengetahuan, dalam hal ini
teori-teori. Yang kedua menjelaskan fungsi dari pengetahuan atau teori itu
yaitu untuk menjelaskan adanya pola hubungan antara berbagia gejala alam.
Objek
pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang diteliti sains) ialah semua objek
yang empiris. Menurut Jujun. S dalam Ahmad Tafsir mengatakan bahwa objek kajian
sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia (Mujab & Nasir, 2020). Sedangkan karakteristik sains menurut Randall
dan Buchker (Hanugraheningtias, 2015) yaitu:
1.
Hasil sains bersifat akumulatif dan merupakan
milik bersama, artinya hasil sains yang lalu dapat digunakan untuk penyelidikan
hal yang baru, dan tidak memonopoli. Setiap orang dapat memanfaatkan hasil
penemuan orang lain.
2.
Hasil sains kebenarannya tidak mutlak dan bisa
terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah manusia.
3.
Sains bersifat objektif ,artinya prosedur kerja
atau cara penggunaan metode sains tidak tergantung kepada siapa yang
menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.
Objek
kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia,
yang dimaksud dengan pengalaman manusia disini adalah pengalaman indera. Sains
menjadi berbeda dengan pengetahuan filsafat dan mistik karena ia membatasi rung
jelajahnya hanya pada alam materi atau semua bentuk pegalaman manusia. Artinya,
objek penelaahan sains meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh
pengalaman manusia lewat pancaindera. Dengan demikian segala sesuatu yang ada
di alam sekitar menjadi ranah kajian sains.
Sains
memiliki ruang lingkup ang terbatas yaitu hanya pada ha yang dapat dipahami
oleh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, rabaan, sentuhan dan juga
ucapan. Dapat dikatakan bahwa sains adalah ilmu pengetahuan yang didapat dari
proses pembelajaran dan juga proses pembuktian, yang berbeda antara sains
terapan dan sains murni adalah sains terapan merupakan aplikasi sains yang
memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Objek-objek yang dapat
dilihat dan diliti oleh sains sangat banyak
yaitu alam, tumbuhan, hewan, manusia, serta kejadian-kejadian di alam
sekitar juga merupakan objek kajian sains. Dari objek penelitian itulah muncul
teori-teori sains yang saat ini dikenal.
KESIMPULAN
Abidin, Yunus, Mulyati, Tita, & Yunansah, Hana. (2021). Pembelajaran
literasi: Strategi meningkatkan kemampuan literasi matematika, sains, membaca,
dan menulis. Bumi Aksara.
Akbar, Mohammad
Rizqy. (2018). Perancangan wisata edukasi sains di Bantaran Sungai Brantas
Kota Kediri dengan pendekatan arsitektur fraktal. Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim.
Arif, Rifda
Mardian. (2017). Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran sains. STILISTIKA:
Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 2(1).
Arifin,
Syamsul. (2019). Menunggu Sentuhan Nadiem. Arsip Publikasi Ilmiah Biro
Administrasi Akademik.
Billah, Arif.
(2016). Pendidikan Karakter Untuk Anak Usia Dini dalam Perspektif Islam dan
Implementasinya dalam Materi Sains. ATTARBIYAH: Journal of Islamic Culture
and Education, 1(2), 243–272.
Desiningrum,
Dinie Ratri. (2017). Psikologi anak berkebutuhan khusus. psikosain.
Fijas, Felya
Invita, & Marlini, Marlini. (2020). Pelestarian dan Pemeliharaan Koleksi
Bahan Pustaka di SMA Negeri 3 Tualang Kabupaten Siak Provinsi Riau. Baitul’Ulum:
Jurnal Ilmu Perpustakaan Dan Informasi, 61–76.
Hanugraheningtias,
Arvinda. (2015). Relasi Etika, Bisnis Media, Dan Masyarakat Tontonan yang Diciptakannya.
JURNAL INTERAKSI, 4(1), 90–100.
Hayat, Muhammad
Syaipul. (2018). Hakikat Sains Dan Inkuiri.
Lusiono, Eko
Febri, & Alrizwan, U. Ari. (2021). Analisis Potensi Kecurangan (Fraud)
Terhadap Pengelolaan Keuangan Desa. Sebi: Studi Ekonomi Dan Bisnis Islam,
3(2), 152–162.
Mirawati,
Mirawati, & Nugraha, Rini. (2017). Meningkatkan Keterampilan Proses Sains
Anak Usia Dini Melalui Aktivitas Berkebun. Early Childhood: Jurnal
Pendidikan, 1(1), 13–27.
Muhammad, A. R.
(2016). Sains, Teknologi, Dan Nilai-Nilai Moral. Elkawnie: Journal of
Islamic Science and Technology, 2(2), 109–126.
Mujab, Sayful,
& Nasir, M. Rifa Jamaludin. (2020). Ilmu Falak (Dimensi Kajian Filsafat
Ilmu). AL-AFAQ: Jurnal Ilmu Falak Dan Astronomi, 2(2), 1–18.
Narut, Yosef
Firman, & Supardi, Kanisius. (2019). Literasi sains peserta didik dalam
pembelajaran ipa di indonesia. JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar), 3(1),
61–69.
Saifulloh,
Ahmad Munir. (2017). Telaah Korelasi Sains dan Agama dalam Paradigma Islam. Tarbiyatuna:
Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 137–157.
Sari, Milya,
& Asmendri, Asmendri. (2020). Penelitian Kepustakaan (Library Research)
dalam Penelitian Pendidikan IPA. Natural Science: Jurnal Penelitian Bidang
IPA Dan Pendidikan IPA, 6(1), 41–53.
Shawmi, Ayu
Nur. (2015). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Pembelajaran Sains
di SD/MI. TERAMPIL: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 2(2),
240–252.
Smith, Peter
W., Moskal, Beata, Xu, Ting, Kang, Jungmin, & Bobaljik, Jonathan David.
(2019). Case and number suppletion in pronouns. Natural Language &
Linguistic Theory, 37(3), 1029–1101.
Sumintono,
Bambang. (2010). Pembelajaran sains, pengembangan keterampilan sains dan sikap
ilmiah dalam meningkatkan kompetensi guru. Al-Bidayah: Jurnal Pendidikan
Dasar Islam, 2(1).
Suprayitno,
Adi, & Wahyudi, Wahid. (2020). Pendidikan karakter di era milenial.
Deepublish.
Suryani, Erni,
Amir, Amran, Nurfathurrahmah, N., Azmin, Nikman, & Hartati, H. (2021).
IDENTIFKASI KESULITAN BELAJAR SISWA KELAS VIII SMPN 3 KOTA BIMA MATERI
KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP TAHUN PELAJARAN 2020/2021. JP-IPA: Jurnal
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, 2(01), 23–27.
Susanti, Melly,
& Khairunisak, Syefira. (2021). Filsafat Ekonomi Islam Edisi 1.
Media Sains Indonesia.
WIJAYA, DANDY.
(2022). ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA SMA PERGURUAN KRISTEN HOSANA
MEDAN DENGAN INSTRUMEN TEST OF SCIENTIFIC LITERACY SKILLS (TOSLS).
|
|
© 2021 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |