TEORI KEBENARAN
BERDASARKAN PERSPEKTIF FILSAFAT DAN SAINS ISLAM
Mayang Mustika Dewi1, Salminawati2
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
mayangmd27@gmail.com, salminawati@uinsu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Mar 2022 10 Mar 2022 15 Mar 2022 |
Latar Belakang: Pemikiran mengenai kebenaran
sudah sejak awal ada dalam pemikiran manusia termasuk pada ilmuwan filsafat
ilmu yakni Aristoteles dan Plato, hal demikian tentu saja berkaitan dengan
manusia yang diciptakan sebagai mahluk yang mampu
berpikir secara kritis dan rasional selama menjalani kehidupannya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana prinsip dasar yang dapat ditemukan dalam
mencari kebenaran yang menjadi jawaban sebagaimana yang diharapkan. Terlebih
di masa yang berkembang saat ini memasuki era 5.0 bahwa segala sesuatu
dipandang lebih rasional jika melibatkan sains didalamnya,
termasuk dalam mengungkapkan kebenaran. Metode: Jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian yang dilakukan
dengan menggunakan sejumlah data dan informasi yang berasal dari hasil
kepustakaan yang kemudian disajikan dengan hasil yang baru. Dalam hal ini
informasi pustaka yang didapat kemudian digunakan sebagai sumber ide pokok
dalam keberlangsungan penulisan penelitian ini. Hasil: Otoritas/Kewibawaan, pendapat dari
suatu lembaga/badan atau orang-orang terkemuka yang dianggap berwibawa
dijadikan pegangan yang kebenarannya dianggap mutlak bahkan pendapat itu
sudah menjadi milik umum misalnya keyakinan terhadap seseorang yang selalu
benar yang tidak pernah salah. Kesimpulan: Dalam perspektif filsafat
dan sains Islam diperlukan adanya konsep kebenaran secara hakiki demi
terciptanya kemajuan dan perkembangan diberbagai
bidang aspek kehidupan termasuk perkembangan ilmu pengetahuan. Kata kunci: Teori; Kebenaran;
Filsafat; Sains Islam. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background:
Thoughts about truth have existed in human thought since the beginning,
including philosophers of science, namely Aristotle and Plato, this is of
course related to humans who were created as creatures who are able to think
critically and rationally during their lives. Objective: This
study aims to reveal how the basic principles that can be found in seeking
the truth are the answers as expected. Especially in the developing era that
is currently entering the 5.0 era that everything is seen as more rational if
it involves science in it, including in revealing the truth. Methods: The
type of research used is qualitative research. The research was conducted
using a number of data and information derived from
the results of the literature which were then presented with new results. In
this case, the library information obtained is then used as a source of main
ideas in the continuity of writing this research. Result:
Authority/Authority, opinions from institutions/agencies or prominent people
who are considered authoritative are used as guidelines whose truth is
considered absolute, even those opinions have become public property, for
example belief in someone who is always right who is never wrong. Conclusion: In the
perspective of Islamic philosophy and science, it is necessary to have an
essential concept of truth in order to create
progress and development in various aspects of life, including the
development of science. Keywords: Theory; Truth; Philosophy; Islamic Science. |
|
*Correspondent Author : Mayang
Mustika Dewi
Email : mayangmd27@gmail.com
PENDAHULUAN
Pemikiran
mengenai kebenaran sudah sejak awal ada dalam pemikiran manusia termasuk pada
ilmuwan filsafat ilmu yakni Aristoteles dan Plato, hal demikian tentu saja
berkaitan dengan manusia yang diciptakan sebagai mahluk
yang mampu berpikir secara kritis dan rasional selama menjalani kehidupannya (Susanto, 2021).
Teori mengenai kebenaran seringkali di analogi kan
seperti berikut, manusia adalah mahluk yang berpikir
kemudian dalam berpikir tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan atas berbagai
kejadian yang terjadi, lalu pertanyaan nya akan
menghasilkan sebuah jawaban dan jawaban yang diharapkan adalah sebagai fakta
yang terjadi yakni kebenaran (Amin,
2015).
Dengan
demikian maka, mahluk yang berpikir secara rasional
dalam mencari jawaban sebagai upaya menemukan fakta – fakta atas kejadian yang
terjadi disekitarnya. Untuk mencari tau kebenaran tersebut tentu saja diperlukan pengalaman
dalam hal ini berupa teori yang dapat menguatkan dasar fakta yang terjadi
sebelum dirumuskan menjadi sebuah kebenaran.
Dalam
hal ini peran filsafat sebagai ibu dari sains tentu sangat diperlukan untuk
mengungkapkan bagaimana prinsip dasar yang dapat ditemukan dalam mencari
kebenaran yang menjadi jawaban sebagaimana yang diharapkan. Terlebih di masa
yang berkembang saat ini memasuki era 5.0 bahwa segala sesuatu dipandang lebih
rasional jika melibatkan sains didalamnya, termasuk
dalam mengungkapkan kebenaran (Harisah,
2018).
Islam
kemudian hadir dan berkembang ditengah segala upaya
manusia dalam mencari kebenaran. Tak kalah pentingnya Islam mampu membawa
nilai-nilai kebenaran yang ternyata
dikemudian semakin menunjukkan tentang arti, teori-teori dan bahkan bagaimana
sikap dari kebenaran itu sendiri.
METODE PENELITIAN
Untuk
mendapatkan hasil pembahasan yang berkesinambungan dengan tema dan materi
terkait dan demi mempermudah pengertian juga arah penulis dalam merumuskan
hasil sajian materi dalam penelitian ini maka penulis menghimpun
informasi-informasi yang terkait dengan metodologi untuk kemudian menganalisa informasi dan data yang terkumpul. Dan
perangkat dari metode penelitian yang digunakan oleh penulis yakni penelitian
kualitatif (Murdiyanto,
2020).
Seperti yang di kemukakan oleh Strauss dan Corbin
pada tahun 1990 bahwasanya penelitian kualitatif adalah jenis pada penelitian
yang menggunakan prosedur temuan yang tentu saja tidak dilakukan dengan
menggunakan prosedur kuantifikasi maupun statistic (Mukhlasin,
2021).
Adapun
sifat penelitian ini adalah kepustakaan (Library Research) ialah penelitian yang dilakukan dengan
menggunakan sejumlah data dan informasi yang berasal dari hasil kepustakaan
yang kemudian disajikan dengan hasil yang baru. Dalam hal ini informasi pustaka
yang didapat kemudian digunakan sebagai sumber ide pokok dalam keberlangsungan
penulisan penelitian ini. Sebagai prinsip dasar dalam deduksi yang berasal dari
pengetahuan yang telah ada sebelumnya kemudian diharapkan kerangka teori baru
dapat dikembangkan sebagai landasan dalam pemecahan masalah penelitian (Asyafah,
2019).
Dalam
memperoleh data pada penelitian ini penulis menggunakan sumber penelitian yakni
: Data primer, yaitu tulisan para ilmuwan mengenai filsafat dan sains Islam.
Dan yang kedua data sekunder yakni tulisan yang berkaitan dengan arti
kebenaran, teori dari kebenaran dan sifat kebenaran itu sendiri sebagai pokok
bahasan pada materi ini (Nuansa,
2020).
Peneliti sekaligus penulis berperan secara langsung sebagai instrument
penelitian pada karya ini, peneliti diharapkan mampu untuk melakukan proses
penelitian, kemudian menyelesaikan masalah yang terkait materi pada pembahasan
dan selanjutnya memaparkan hasil dari penelian secara
mendetail.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Istilah
filsafat berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas dua kata: philo berarti cinta dalam arti luas, yakni keinginan dan
Sophia berarti hikmah (kebijakan) atau kebenaran. Jadi secara etimologi,
filsafat berarti cinta kebijakan atau kebenaran (love
of wisdom)7. Filsafat dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia diartikan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakekat segala yang ada, sebab, dan asal hukumnya. Teori
yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan, ilmu yang berintikan
logika, estetika, metafisika dan epistimologi (Nurgiansah,
2021).
Plato
mengungkapkan bahwa filsafat merupakan sains mengenai segala sesuatu yang ada.
Sedangkan Aristoteles meyakini bahwasanya filsafat merupakan penyebab dan
alasan segala benda yang ada. Lalu dari tokoh Islam yaitu Al Farabi juga
menyatakan pendapat mengenai filsafat, yakni sains tentang alam dan segala
sesuatu yang terdapat didalamnya dan bertujuan untuk
mengetahui apa hakikat yang terdapat padanya (Nasution,
2016).
Sedangkan
teori kebenaran dalam perspektif islam adalah sebagai
suatu hasil manusia dengan akalnya, akal yang diberikan oleh Allah secara
khusus hanya kepada manusia. Seperti yang tertulis dalam Qur’an
surah Az Zumar ayat 18 yang menerangkan bahwasanya
selain terdapat kebenaran mutlak pada agama juga terdapat kebenaran yang
disesuaikan yakni kebenaran yang tidak bertentangan terhadap apa yang tertulis didalam Al-Qur’an (Lailiyah,
2020).
Pada
intinya mengenai teori kebenaran berdasarkan perspektif filsafat dan sains
Islam bahwa selain terdapat kebenaran mutlak yang datangnya daripada Allah Swt kebenaran relative yang
datangnya dari hasil pemikiran manusia juga diakui sebagaisebuah
kebenaran, baik itu berupa kebenaran spekulatif yakni filsafat, kebenaran
positif yaitu sains maupun kebenaran pada perilaku kebiasaan sehari-hari.
Cakupan
agama, sains dan filsafat tentu pada lingkaran yang amat berbeda satu dengan
yang lainnya. Cakupan agama berbicara bagaimana perihal kebenaran akan suatu
kepercayaan dalam hal ini nilai-nilai Islam. Sedangkan cakupan sains berputar diantara informasi-informasi akan ilmu pengetahuan baik
dimasa lalu maupun yang akan berkembang di masa yang akan datang. Sedangkan
cakupan dari filsafat adalah bagaimana prinsip daripada kebenaran itu sendiri.
B. Pembahasan
Manusia
mustahil hidup apabila hanya mengandalkan kebenaran yang bersumber dari sains
saja atau hanya dari filsafat saja dengan mengesampingkan kebenaran yang
diperoleh dari agama, khususnya Islam. Begitu juga sebaliknya pun manusia akan
kesulitan bertahan hidup jika hanya berpegang pada kebenaran agama saja tanpa memoertimbangkan kebenaran dari aspek lainnya. Ketiganya
harus berjalan seimbang dan saling berkorelasi demi menyelaraskan kehidupan sebagai
seorang mahluk sosial (Samho,
2019).
Kebenaran, penelitian dan juga pengetahuan merupakan hal yang sebenarnya mampu
dibedakan akan tetapi tidak dapat terlepas antara satu dengan yang lainnya,
hubungan ketiganya terkait tentang bagaimana antara proses, kemudian hasil
sehingga melahirkan kebenaran. Seperti halnya filsafat dan sains yang melihat bahawa kebenaran adalah sebagai tujuan (Hidayatullah,
2019).
Terdapat beberapa metode dalam mengungkapkan kebenaran :
1.
Seseorang akan yakin bahwa ada sebab bagi
setiap akibat dariPenemuan secara kebetulan, penemua ini datangya tidak dapat
diperhitungkan terlebih dahulu. Keadaan tidak pasti dan tidak selalu member gambaran kebenaran.
2.
Trial dan Error, terdapat usaha aktif untuk mencoba lagi. Pada saat
melakukan trial tidak ada kesadaran yang pasti
mengenai pemecahan yang akan dilakukan.
3.
Otoritas/Kewibawaan, pendapat dari suatu
lembaga/badan atau orang-orang terkemuka yang dianggap berwibawa dijadikan
pegangan yang kebenarannya dianggap mutlak bahkan pendapat itu sudah menjadi
milik umum misalnya keyakinan terhadap seseorang yang selalu benar yang tidak
pernah salah.
4.
Pemecahan Secara Spekulatif, pemecahan masalah
dilakukan dengan memilih berbagai kemungkinan pemecahan, meskipun yang
bersangkutan juga belum yakin bahwa cara yang dipilihnya itu paling tepat, tapi
hanya berdasarkan pertimbangan- pertimbangan yang tidak begitu masuk suatu
pilihan itu dianggap baik atau benar.
5.
Dengan Berpikir Kritis atau Berdasarkan
Pengalaman, manusia mempunyai kemampuan berpikir. Dengan silogisme diaturlah
cara berpikir yaitu dengan berpangkal pada premis-premis untuk diperoleh suatu
kesimpulan (deduktif), ataupun berpangkal pada fakta-fakta yang diperoleh
melalui pengalaman langsung, untuk kemudian ditarik suatu kesimpulan umum
(induktif), untuk sampai kepada kebenaran. Dari sini bermula metode penelitian,
karena manusia mulai mencari jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai
tujuan-tujuannya.
6.
Metode Penelitian Ilmiah, penelitian merupakan
penyaluran hasrat ingin tau manusia dalam taraf
keilmuan.
Gejala
yang tepat dapat dicari penjelasannya secara ilmiah. Penelitian bersifat
objektif, karena kesimpulan yang diperoleh hanya akan ditarik apabila dilandasi
dengan bukti- bukti yang mayakinkan dan dikumpulkan
melalui prosedur yang jelas, sistematis dan terkontrol. Sedangkan kebenaran
yang diperoleh melalui pengetahuan agama maka akan diperoleh melalui petunjuk wahyu
yaitu Al Qur’an dan Hadits (Fitrah,
2018).
Pada
dasarnya agama Islam bersifat universal dan mampu menyelaraskan dengan
nilai-nilai yang terkandung disetiap sistem tatanan
sosial masyarakat. Filsafat kemudian adalah sebagai landasan dasar dalam
mencari dan membuktikan kebenaran. Terdapat tiga teori kebenaran (Sanusi,
2017), yaitu
:
1.
Teori Korespondensi
Disebut juga sebagai teori kesesuaian.
Berdasarkan teori ini kebenaran adalah terjadinya kesesuaian antara fakta ,
data, realita dengan statement
yang disampaikan atau dikemukakan. Sebagai contohnya adalah Presiden Joko
Widodo merupakan presiden Indonesia yang ke 7. Akan tetapi, teori korespondensi
ini terdapat keraguan pada sebagian golongan yang menyatakan bahwa apabila
kebenaran merupakan kesesuaian antara fakta, data, realita
dengan statement lantas bagaimana keduanya dapat dibandingkan
? karena dalam hal membandingkan maka diperlukan adanya fakta atau data
terlebih dahulu dan dengan adanya fakta maka tidak dibutuhkan lagi untuk
mencari kebenaran, karena kebenaran adalah sama dengan fakta itu sendiri.
2.
Teori Koherensi
Dalam teori ini menjelaskan bahwasanya
kebenaran dianggap sah apabila berada diantara
hubungan keputusan yang baru beriringan dengan keputusan-keputusan yang telah
diakui kebenarannya. Satu pernyataan dianggap benar jika masih memiliki
korelasi dengan pernyataan sebelumnya atau lainnya yang telah dianggap pasti
kebenaran ada padanya, seperti layaknya teori semantic,
teori kecocokan juga konsistensi.
3.
Teori Pragmatis
Merupakan teori yang menganggap suatu
dipastikan kebenarannya jika pernyataan tersebut bisa berlaku, bermanfaat dan
memuaskan. Maksudnya adalah hal kebenaran dibuktikan apabila dapat terbukti
kegunaannya, fungsi dan tujuannya juga sebab akibat yang ditimbulkannya.
Ketiga
teori diatas adalah teori umum yang biasanya
digunakan dalam mengungkapkan suatu fakta atas data dan informasi yang
diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga teori tersebut bukanlah membatasi
satu dengan yang lainnya melainkan ketiganya melengkapi antara yang satu dengan
yang lain.
Selain
itu sebenarnya juga terdapat beberapa teori kebenaran yang dikemukakan oleh
para ahli salah satunya pangeran Moenta (Nurhayani,
2022), yakni
:
1.
Kebenaran Propesisi,
adalah kebenaran yang akan didapatkan jika proposisinya benar.
2.
Kebenaran Korespondensi, adalah kebenaran yang
akan didapatkan jika sesuatu tersebut sejalan dengan sesuatu yang lain.
3.
Kebenaran Koherensi, adalah kebenaran yang akan
didapatkan jika suatu fakta tersebut sejalan dengan suatu fakta yang
kedudukannya lebih tinggi.
4.
Kebenaran Struktural Paradigmatik,
adalah kebenaran yang akan didapatkan jika suatu fakta tersebut dibuktikan
dengan struktur yang terjadi pada saat itu berlangsung.
5.
Kebenaran Performatif, adalah kebenaran yang
akan didapatkan jika suatu fakta dapat diaktualkan dalam tindakan.
6.
Kebenaran Praktis adalah kebenaran yang akan
didapatkan jika hal tersebut nyata dan spesifik adanya.
KESIMPULAN
Dalam
perspektif filsafat dan sains Islam diperlukan adanya konsep kebenaran secara
hakiki demi terciptanya kemajuan dan perkembangan diberbagai
bidang aspek kehidupan termasuk perkembangan ilmu pengetahuan. Perlu
keselarasan dalam aspek keIslaman seperti nilai iman,
islam dan ihsan sebagai struktur keagamaan yang
kemudian berkolaborasi dalam aspek filsafat yakni urgensi dari keberadaan
sesuatu, dan tentunya sains yang terdiri atas komponen objek pembahasan, asumsi
yang berlaku sebagai landasan epistimologis yang
berakar dari sains tersebut dan juga tujuan yang akan dicapai dari sains
tersebut.
Kebenaran
yang didasarkan pada asumsi, logika, kenyataan, keadaan dan berbagai hal
lainnya yang dikemudian hari dapat dibuktikan akan menajadikan
kesempurnaan pada sebuah karya sains dan ilmu pengetahuan. Metode dalam sains
Islam yang kemudian baik bersumber dari wahyu Al-Qur’an
dan Hadits maupun dari akal intelektual ,manusia. Maka kemudian kebenaran yang
terkandung dalam filsafat dan sains Islam akan berfungsi kepada banyak hal yang
berkaitan dengan perkembangan manusia.
Dengan
demikian teori kebenaran menurut persektif filsafat
dan sains Islam menyeleraskan antara konsep cakupan
daripada ketiganya sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya sebagai tujuan
dari perkembangan dan tentu kemajuan manusia dan lingkungannya sepanjang masa.
Amin,
Alfauzan. (2015). Metode dan Pembelajaran Agama Islam (Vol. 1). IAIN
Bengkuu.
Asyafah, Abas. (2019). Menimbang Model Pembelajaran (Kajian
Teoretis-Kritis atas Model Pembelajaran dalam Pendidikan Islam). TARBAWY:
Indonesian Journal of Islamic Education, 6(1), 19–32.
Fitrah, Muh. (2018). Metodologi penelitian: penelitian
kualitatif, tindakan kelas & studi kasus. CV Jejak (Jejak Publisher).
Harisah, Afifuddin. (2018). Filsafat Pendidikan Islam
Prinsip dan Dasar Pengembangan. Deepublish.
Hidayatullah, Syarif. (2019). Agama dan Sains: Sebuah Kajian
Tentang Relasi dan Metodologi. Jurnal Filsafat, 29(1), 102–133.
Lailiyah, Siti. (2020). Keilmiahan sains adalah bukti
kebenaran Al Qur’an. Prosiding Seminar Pendidikan Fisika FITK UNSIQ, 2(1),
204–216.
Mukhlasin, Ahmad. (2021). MANAJEMEN PEMBELAJARAN EFEKTIF PADA
MASA PANDEMI (Analisis Manajemen Resiko, Jenis dan Bentuk Resiko pada MAS YPI
Batang Kuis). PROSIDING UNIVERSITAS DHARMAWANGSA, 1(1), 47–55.
Murdiyanto, Eko. (2020). Penelitian Kualitatif (Teori dan
Aplikasi disertai contoh proposal). Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat (LP2M) UPN” Veteran ….
Nasution, Ahmad Taufik. (2016). Filsafat ilmu: Hakikat
mencari pengetahuan. Deepublish.
Nuansa, Rama. (2020). Revitalisasi Filsafat Sains dengan
Islam dalam Menghadapi Tantangan Era 5.0 Civil Society. Prosiding Konferensi
Integrasi Interkoneksi Islam Dan Sains, 2, 233–244.
Nurgiansah, Heru. (2021). Filsafat Pendidikan.
Nurhayani, Nurhayani. (2022). Tinjauan Siyasah Dusturiyah
terhadap Penerapan Perda Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pelayanan Pendidikan Era Pandemi Covid-19 di Kecematan Cempa
Kabupaten Pinrang. IAIN Parepare.
Samho, Bartolomeus. (2019). Agama dan Kesadaran
Kontemporer. PT Kanisius.
Sanusi, Sanusi. (2017). Integrasi Al-Quran, Sains Dan Ilmu
Sosial Sebagai Basis Model Pengembangan Materi Ajar IPS Di Madrasah. IJTIMAIYA:
Journal of Social Science Teaching, 1(1).
Susanto, Ahmad. (2021). Filsafat ilmu: Suatu kajian dalam
dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bumi Aksara.
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |