KONSEP KEBENARAN BERDASARKAN TINJAUAN FILSAFAT, AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

 

 

Fiki Robi Handoko Harahap1, Salminawati2

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

fikirobi@gmail.com, salminawati@gmail.ac.id

 

 

 

Abstrak (indonesia)

Received:

Revised  :

Accepted:

10-03-2022

15-03-2022

25-03-2022

Latar Belakang: Dalam kehidupan sehari-hari tentu saja sering mendengar istilah “benar” ataupun “kebenaran” , istilah kebenaran dalam istilah filsafat juga sering digunakan mengenai apa itu kebenaran dan bagaimana kebenaran itu diperoleh.

Tujuan: apa itu kebenaran dan bagaimana kebenaran itu diperoleh.

Metode: Adapun perangkat yang digunakan dalam metode penelitian adalah dengan menggunakan penelitian kualitatif sebagaimana yang dilampirkan oleh Strauss dan Corbin di tahun 1990 bahwa penelitian jenis kualitatif  dengan menggunakan prosedur penemuan yang tidak dilakukan melalui pendekatan prosedur kuantifikasi dan statistic.

Hasil: Secara etimologis, kebenaran memenuhi kondisi yang ditentukan, keadilan, akurasi, kebenaran dan kesesuaian.

Kesimpulan: Filsafat, kebenaran itu relatif, tidak ada yang mutlak sempurna. Jika tidak ada jawaban ilmiah untuk sebuah pertanyaan, maka filsafat diam, dan meme menjawab tebakan, spekulasi, tebakan, dugaan, dan tebakan, dan kemudian manusia berada dalam kekacauan.

 

 

Kata kunci: Teori; Kebenaran; Filsafat; Hukum Islam.

 

 

 

 

Abstract (English)

 

Background: In everyday life of course often hear the term "true" or "truth", the term truth in philosophical terms is also often used about what truth is and how truth is obtained.

Purpose: what is truth and how is truth obtained.

Method: The instrument used in the research method is to use qualitative research as attached by Strauss and Corbin in 1990 that qualitative research uses discovery procedures that are not carried out through quantification and statistical procedures approaches.

Result: Etymologically, truth satisfies the specified conditions, fairness, accuracy, correctness and suitability.

Conclusion: Philosophy, truth is relative, nothing is absolutely perfect. If there is no scientific answer to a question, then philosophy is silent, and memes answer guess, speculate, guess, conjecture, and guess, and then humanity is in chaos.

 

 

Keywords: Theory; Truth; Philosophy; Islamic Law.

*Correspondent Author : Fiki Robi Handoko Harahap

Email : fikirobi@gmail.com

 

 

PENDAHULUAN

 

   Dalam kehidupan sehari-hari tentu saja sering mendengar istilah “benar” ataupun “kebenaran” , istilah kebenaran dalam istilah filsafat juga sering digunakan mengenai apa itu kebenaran dan bagaimana kebenaran itu diperoleh. Sedangkan dalam Islam prinsip meneganai kebenaran pernah menjadi bahan renungan oleh seorang ulama Imam Ghazali untuk mengetahui apa sebenarnya hakikat kebenaran tersebut (Djamaluddin, 2014).

Kebenaran adalah keinginan segala mahluk yang terdapat dimuka bumi, dan apabila terdapat sebagian atau keseluruhan dari agama terdapat kesalahan atau ketidakbenaran maka tentu harus menolaknya. Apabila terdapat suatu kepercayaan yang terdapat kesalahan didalamnya akan tetapi bermanfaat didalam masyarakat, tentu akan menimbulkan pergejolakan dalam diri dan masyarakat itu sendiri. Filsafat adalah bagaimana mencari ilmu pengetahuan dalam rangka memahami ilmu pengetahuan, sedangkan agama adalah upaya untuk mengetahui ilmu tentang ibadah (Uno, 2022).

Kemudian perbedaan antara agama dan filsafat adalah bahwasanya agama berkorelasi erat dengan keadaan hati, sedangkan filsafat adalah berhubungan dengan keadaan pikiran. Kebenaran pada dasarnya memiliki arti abstrak yang tidak dapat diketahui dengan muda. Kebenaran sebagai permasalahan korelasi antara pendapat dan ralitas yang terjadi, pada intinya kebenaran berhubungan erat dengan proses manusia berfikir yang memiliki pemahaman, adapun manusia dengan kebenarannya sebagai sesuatu yang tidak terlepas satu sama lainnya.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Dalam hal memeproleh hasil dari pembahasan yang memiliki hubungan dengan materi dan tema yang berkaitan dan juga untuk mempermudah arti dan arah peneliti maka dari itu penulis akan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan metodologi agar kemudian mampu mengetahui informasi dan data yang terkumpul. Adapun perangkat yang digunakan dalam metode penelitian adalah dengan menggunakan penelitian kualitatif sebagaimana yang dilampirkan oleh Strauss dan Corbin di tahun 1990 bahwa penelitian jenis kualitatif  dengan menggunakan prosedur penemuan yang tidak dilakukan melalui pendekatan prosedur kuantifikasi dan statistic (Hermawan, 2019).

Sedangkan sifat penelitian adalah sumber bacaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rangkaian data dan informasi yang diperoleh dari hasil kepustakaan, yang kemudian disajikan dengan hasil yang baru. Dalam hal ini, informasi kepustakaan yang diperoleh digunakan sebagai sumber ide dasar dalam penulisan penelitian ini. Sebagai prinsip dasar deduksi berdasarkan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, diharapkan dapat dikembangkan kerangka teori baru sebagai dasar pemecahan masalah penelitian (Ridwan, Suhar, Ulum, & Muhammad, 2021).

   Penulis akan merumuskan hasil karya para ulama terdahulu yang tentunya termasuk dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan Islam, sebagai landasan utama untuk membuat artikel ini sesuai dengan judul yang diberikan. Selain itu, penulis juga akan merumuskan model masyarakat sebelum dan sesudah menerima gagasan teori kebenaran dari sudut pandang keduanya.

Dalam memperoleh data untuk penelitian ini, penulis menggunakan sumber penelitian, data primer, karya para ilmuwan filsafat dan ilmu pengetahuan Islam. Dan yang kedua adalah data sekunder. Dengan kata lain, merupakan gambaran yang berkaitan dengan makna kebenaran sebagai subjek materi ini, teori kebenaran, dan hakikat kebenaran itu sendiri. Peneliti berperan langsung tidak hanya sebagai penulis tetapi juga sebagai peneliti, dan diharapkan mampu melakukan proses penelitian, memecahkan masalah yang berkaitan dengan bahan pembahasan, dan menjelaskan hasil penelitian secara detail. Metode pengumpulan data untuk survei ini adalah survei isi atau analisis isi. Artinya, survei yang menggunakan beberapa langkah untuk menghasilkan kesimpulan dari data dan informasi secara objektif dan sistematis.

Selanjutnya penulis menganalisis data menurut Anton Becker, menganalisis data filsafat dan ilmu pengetahuan dengan menggunakan analisis seperti tulisan, pemahaman, atau tafsir, koherensi internal, kesinambungan sejarah secara keseluruhan, dan deskripsi. Penulis juga menggabungkan beberapa metode dalam analisis data, yang terpenting adalah deskriptif, yang digunakan dalam analisis pemikiran filosofis dan juga dalam ilmu-ilmu keislaman dan banyak hal yang terkait dengannya, dan yang kedua menggunakan analisis interpretatif, dan menganalisis peristiwa terkini. yang terjadi dengan situasi saat ini. Penyajian data adalah informasi yang memungkinkan peneliti untuk menarik kesimpulan atau mengambil tindakan. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk analisis data, untuk mendapatkan kesimpulan lebih lanjut.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A. Hasil Penelitian

 

1.       Konsep Dasar Mengenai Kebenaran

Kebenaran adalah sesuatu yang dapat dijelaskan dengan akal sehat, yang tidak akan tumbang seiring waktu yang menolak semua yang salah, dekaden, dan tidak berdasar. Padahal, Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan hal-hal yang tetap dan teguh serta tidak menyesatkan manusia, yang menyenangkan setiap orang yang memberi petunjuk, karena membingungkan manusia. Manusia hidup ketika mereka hanya mengandalkan ilmu pengetahuan, atau filsafat, dan hanya pada agama, terutama kebenaran yang diperoleh dari Islam (Yasin, Zarlis, & Nasution, 2018).

Sebaliknya, akan sulit bagi manusia untuk bertahan hidup hanya dengan menjaga kebenaran tanpa mempertimbangkan kebenaran dari aspek lain. Untuk menyelaraskan kehidupan sebagai makhluk sosial, ketiganya harus berjalan secara seimbang dan berkorelasi. Kebenaran, penelitian, dan pengetahuan sebenarnya tidak dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketiga hubungan ini berhubungan dengan bagaimana proses menghasilkan kebenaran. Sama seperti filsafat dan sains berpikir bahwa kebenaran adalah tujuannya. Ada beberapa cara untuk mengungkapkan kebenaran:

Secara etimologis, kebenaran memenuhi kondisi yang ditentukan, keadilan, akurasi, kebenaran dan kesesuaian. Ini adalah kondisi yang diperlukan, hak yang tak terelakkan, wajib, dan wajib. Kebenaran selalu berkaitan dengan masalah yang dihadapi.

2.       Filsafat, Agama dan Ilmu Pengetahuan

a.       Filsafat

Pengertian filsafat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: (1). Pengetahuan dan penyelidikan rasional tentang sifat, penyebab, dan asal usul hukum dari segala sesuatu yang ada. (2) Teori alam pikiran atau aktivitas pikiran; (3) Ilmu dengan logika, estetika, metafisika dan epistemologi sebagai intinya. Istilah filsafat berasal dari kata Yunani, yang terdiri dari dua kata. Filsafat berarti cinta dalam arti luas, yaitu keinginan, dan Sophia berarti kebijaksanaan (kebijaksanaan) atau kebenaran. Secara etimologis, filsafat berarti kebijaksanaan dan cinta akan kebenaran (Susanto, 2021).

b.       Agama

Selain kata religi, masyarakat Indonesia juga mengenal kata arab din dan bahasa eropa relegi. Agama berasal dari bahasa Sansekerta. Dalam satu pendapat, kata ini terdiri dari dua kata a = tidak dan gam = pergi, sehingga tidak pernah hilang dan diturunkan dari generasi ke generasi. Agama memiliki sifat seperti itu. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Selain itu, gam konon berarti ajaran ajaran yang menjadi pedoman hidup para pengikutnya. Menurut salah satu pendapat, agama berasal dari bahasa latin dan aslinya relegere yang artinya mengumpulkan dan membaca. Agama tentunya merupakan kumpulan cara mengabdi kepada Tuhan dan wajib dibaca. Menurut pendapat lain, kata tersebut berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran agama memiliki sifat mengikat bagi manusia. Dengan kata lain, itu membatasi manusia dengan Tuhan.

c.       Ilmu Pengetahuan

Perspektif ilmiah dan ilmiah sangat berbeda Sains dalam Islam. Karena di Barat hanya untuk dunia atau materi, dan dalam Islam terkait dengan perilaku ibadah mereka masing-masing. Oleh karena itu, yang membedakan cara berpikir Islam dari cara Barat adalah keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa Tuhan berkuasa atas segalanya, dan segala sesuatu, termasuk pengetahuan, berasal dari satu-satunya sumber selain Tuhan.

d.       Metode Mencari Kebenaran

Sains, penelitian, dan kebenaran adalah tiga hal yang dapat dibedakan, namun pada kenyataannya keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu pengetahuan dan penelitian sangat erat hubungannya, dan hasil serta prosesnya sangat erat hubungannya. Penelitian adalah sebuah proses dan hasilnya adalah ilmu atau filsafat. Di sisi lain, menurut pendapat lain, penelitian, ilmu pengetahuan dan filsafat adalah proses untuk mencapai kebenaran. Sains dan filsafat ilmu memprediksi sebagai tujuan yang dapat dicapai, tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya menangkap kita. Kami menilai semua subjektivitas, tetapi kami tidak lepas dari faktor-faktornya. Setiap langkah yang kita ambil untuk menemukan pengetahuan yang benar selalu tertutup kesalahan (Nuansa, 2020). Untuk mencari dan menemukan kebenaran dapat digunakan cara-cara sebagai berikut:

1.       Penemuan secara kebetulan, penemu ini tidak dapat dihitung terlebih dahulu. Keadaan yang tidak pasti dan tidak selalu memberikan gambaran tentang kebenaran.

2.       Trial and error, upaya aktif dilakukan untuk mencoba lagi. Pada saat percobaan dilakukan, solusi yang tepat untuk dilakukan belum diketahui.

3.       Wewenang, pendapat suatu lembaga/badan atau orang terkemuka yang dianggap berwibawa dijadikan pedoman, yang kebenarannya dianggap mutlak dan bahkan pendapat itu sudah menjadi milik umum, misalnya kepercayaan pada seseorang yang tidak pernah salah.

4.       Pemecahan spekulatif, pemecahan masalah terjadi melalui pemilihan berbagai kemungkinan pemecahan, dimana yang bersangkutan juga tidak yakin apakah cara yang dipilihnya paling sesuai, tetapi hanya atas dasar pertimbangan yang kurang baik sehingga pilihan dianggap baik.

5.       Orang memiliki kemampuan berpikir kritis atau berdasarkan pengalaman. Silogisme mengatur cara berpikir, yaitu dengan mengambil premis-premis untuk menarik kesimpulan (deduktif) atau berdasarkan fakta yang diperoleh melalui pengalaman langsung dan kemudian menarik kesimpulan umum (induktif) untuk sampai pada jangkauan kebenaran. Dari sinilah metode penelitian dimulai, karena manusia mulai mencari cara terbaik untuk mencapai tujuannya.

6.       Metode penelitian ilmiah, penelitian ini merupakan keingintahuan manusia pada tataran ilmiah. Seseorang akan diyakinkan bahwa ada penyebab yang dapat dijelaskan secara ilmiah untuk setiap efek dari suatu fenomena. Penelitian bersifat objektif karena kesimpulan hanya ditarik jika didasarkan pada bukti yang meyakinkan dan dikumpulkan melalui proses yang jelas, sistematis, dan terkendali .

 

B. Pembahasan

 

Teori Kebenaran

Beberapa teori yang umumnya berkembang adalah sebagai berikut:

1.       Kebenaran suatu proposisi, yaitu kebenaran diperoleh apabila proposisi itu benar (formal dan material). saran Aristoteles. (pencuri = niat + peluang + orang lain).

2.       Kesesuaian sejati, kebenaran diperoleh bila menyangkut sesuatu yang lain (sejalan dengan atau bertentangan dengan fakta lain).

3.       Koherensi kebenaran, kebenaran diperoleh bila suatu hal selaras atau selaras dengan sesuatu yang memiliki hierarki lebih tinggi (skema, sistem, nilai indrawi atau rasional, atau dalam tataran transendental).

4.       Kebenaran struktural yang khas, teori ini diturunkan dari teori konformitas.

5.       Eksekusi kebenaran, kebenaran diperoleh bila ada pandangan praktis yang mengintegrasikan apa yang ada di baliknya (teoretis dan filosofis). Atau, jika itu benar-benar dapat dicapai, maka sesuatu itu benar.

6.       Kebenaran praktis, kebenaran diperoleh bila bersifat konkrit, personal dan konkrit ,

Teori pengetahuan menurut Islam tidak memberikan pandangan khusus kepada umat Islam tentang sains, tetapi juga menekankan urgensi mencari ilmu. Sains memiliki dua tujuan: sakral dan sekuler. Tujuan dunia adalah ilmu yang memungkinkan seseorang untuk hidup dengan sukses dan efektif dengan memahami sifat fisik dan psikologis dan menggunakan pengetahuan itu untuk kepentingan individu dan masyarakat.

Ini tidak menunjukkan teori pengetahuan oleh Islam, tetapi menekankan urgensi mencari pengetahuan serta perspektif khusus yang dilihat Muslim dalam sains. Sains memiliki dua tujuan: sakral dan sekuler. Tujuan dunia adalah ilmu yang memungkinkan seseorang untuk hidup dengan sukses dan efektif dengan memahami sifat fisik dan psikologis dan menggunakan pengetahuan itu untuk kepentingan individu dan masyarakat.

Selain kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan berupa al-Qur'an yang termuat dalam agama, juga mengakui bahwa kebenaran itu sesuai dengan kebenaran mutlak, yaitu kebenaran yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an. . Kebenaran adalah hasil kerja keras orang. Alasan beribadah adalah Allah, dan Allah menciptakannya dengan sia-sia. Karena sampah itu alami, namun relativitasnya harus diperhatikan sebelum bisa dimanfaatkan. Ini berarti bahwa dengan bersikeras pada kebenaran relatif, orang harus siap untuk meninggalkannya ketika mereka menemukan hasil yang lebih tepat dan layak. Ketika kebenaran relatif terhadap kebenaran mutlak, ia harus mengubah kebenaran mutlak itu .

Dengan keterangan di atas, jelaslah bahwa selain kebenaran mutlak dari Tuhan, diakui juga adanya kebenaran relatif sebagai hasil kebudayaan manusia. Ada kebenaran spekulatif (filosofis) dan kebenaran positif (sains). ) Dan kebenaran sehari-hari. Hiduplah dengan kebenaran. Hanya bersikeras pada kebenaran sains dan filsafat, tanpa kebenaran agama. Di sisi lain, manusia tidak bisa hanya hidup normal dalam kebenaran agama absolut tanpa kebenaran relatif. Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa manusia dapat hidup secara wajar dan wajar hanya jika ia harus tunduk pada kebenaran mutlak dan sekaligus mengakui keberadaan dan kebenaran yang sesuai dengan kebenaran mutlak agama. Agama, sains, dan filsafat memang berbeda. Agama adalah tentang iman, dan sains adalah tentang sains. Pelita agama ada di hati, dan pelita ilmu ada di otak.

Arenanya berbeda, tetapi ketiganya saling terkait dan saling terkait. Agama menetapkan tujuan, tetapi tidak dapat dicapai tanpa bantuan ilmu pengetahuan dan filsafat. Pengetahuan yang kuat dapat meyakinkan keyakinan agama. Oleh karena itu, agama menetapkan konsep ilmu dan filsafat untuk perkembangan dan kemajuan manusia. Karena tanpa pembangunan itu akan menjadi agama yang statis, tetapi Allah menyuruh kita untuk berpikir dan membaca.

 

 

KESIMPULAN

 

Filsafat, kebenaran itu relatif, tidak ada yang mutlak sempurna. Jika tidak ada jawaban ilmiah untuk sebuah pertanyaan, maka filsafat diam, dan meme menjawab tebakan, spekulasi, tebakan, dugaan, dan tebakan, dan kemudian manusia berada dalam kekacauan. Sains adalah ilmu yang sistematis dan terstruktur secara metodologis. Metode yang digunakan adalah pengalaman, dimensi ruang dan waktu, dan didasarkan pada kemampuan panca indera manusia, rasional dan umum, dan para ahli dapat membantu proposisi. Agama adalah seperangkat aturan tentang bagaimana melayani Tuhan, yang harus dibaca dan mengikat. Aturan yang datang lebih tinggi dari Tuhan, dan manusia adalah pelaksana aturan tersebut. Karena aturan tersebut, jika dia tidak melaksanakan aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, dia akan dihukum. Agama telah menjadi pertanyaan tentang emosi, subjektivitas, dan kecenderungan, dan terkadang tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Kebenaran agama adalah filsafat absolut, dan sains adalah kebenaran relatif.

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Djamaluddin, Ahdar. (2014). Filsafat Pendidikan. Istiqra: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam, 1(2).

Hermawan, Iwan. (2019). Metodologi Penelitian Pendidikan (Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed Method). Hidayatul Quran.

Nuansa, Rama. (2020). Revitalisasi Filsafat Sains dengan Islam dalam Menghadapi Tantangan Era 5.0 Civil Society. Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam Dan Sains, 2, 233–244.

Ridwan, Muannif, Suhar, A. M., Ulum, Bahrul, & Muhammad, Fauzi. (2021). Pentingnya Penerapan Literature Review pada Penelitian Ilmiah. Jurnal Masohi, 2(1), 42–51.

Susanto, Ahmad. (2021). Filsafat ilmu: Suatu kajian dalam dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bumi Aksara.

Uno, Hamzah B. (2022). Landasan Pendidikan. Bumi Aksara.

Yasin, Verdi, Zarlis, Muhammad, & Nasution, Mahyuddin K. M. (2018). Filsafat Logika Dan Ontologi Ilmu Komputer. Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research, 2(2), 68–75.

.

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).