PERKEMBANGAN FILSAFAT DAN SAINS
PADA ZAMAN ISLAM TERHADAP KEMAJUAN BIDANG KEILMUAN MODERN
Ega
Diana1, Salminawati2
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
egadiana1307@gmail.com
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01-03-2022 10-03-2022 20-03-2022 |
Latar Belakang: Mulai dari masa dahulu
hingga di masa modern seperti saat ini, semua tidak begitu saja terjadi.
Semua kemajuan yang kita nikmati pada saat ini, adalah hasil dari ilmu
pengetahuan atau yang kita kenal dengan sains. Sejatinya, filsafat dan sains
sudah mulai berkembang sejak masa sebelum adanya Islam. Hingga akhirnya
filsafat dan sains mulai masuk dan berkembang pada zaman Islam seiring dengan
masuknya Islam di Negara Arab. Tujuan: terkait
kemajuan zaman saat ini yang justru terbalik. Jika dulunya Islam terukir
dalam sejarah bahwa memiliki intelektual tang tinggi, lantas mengapa saat
ini, orang-orang barat yang berhasil menguasai dunia. Metode: Model penelitian ini
menggunakan model pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan
studi dokumen yang mana studi dokumen dilakukan dengan mengkaji
dokumen-dokumen terkait topik penelitian. Hasil:
Perkembangan filsafat mulai berjaya dan berkembang dengan pesatnya pada abad
ke 9 – 12 M dalam khazanah ilmu pengetahuan dan masyarakat muslim. Kemajuan filsafat ini ditandai dengan
lahirnya filosof muslim yang begitu
banyak. Salah satunya adalah Al-farabi, yang
terkenal dengan teori emanasi. Kesimpulan:
Filsafat ilmu
dan agama memiliki hubungan yang saling terhubung
satu sama lain. Hubungan yang
saling terhubung ini terdapat pada tiga potensi
utama manusia yaitu akal, budi
serta keyakinan. Sejarah munculnya filsafat ilmu sendiri berasal dari Keldania, Mesir Yunani, Suryani hingga tiba di Arab. Kata kunci: Filsafat,
Sains, Islam. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: From
ancient times to modern times like today, things don't just happen. All the
progress that we enjoy today, is the result of science or what we know as
science. Indeed, philosophy and science have begun to develop since the
pre-Islamic period. Until finally philosophy and science began to enter and
develop in Islamic times along with the entry of Islam in Arab countries. Purpose: related
to the progress of the current era which is actually
reversed. If in the past Islam was engraved in history that had high
intellectual power, then why today, the westerners have succeeded in ruling
the world. Methods: This
research model uses a qualitative approach model. The data collection
technique used a document study where the document study was carried out by
reviewing documents related to the research topic. Result: The
development of philosophy began to triumph and grow rapidly in the 9th-12th
century AD in the treasures of science and Muslim society. The progress of
this philosophy was marked by the birth of so many Muslim philosophers. One
of them is Al-Farabi, who is famous for his theory
of emanation. Conclusion:
Philosophy of science and religion have a mutually connected relationship
with each other. This interconnected relationship is found in the three main
human potentials, namely reason, reason and belief.
The history of the emergence of the philosophy of science itself comes from Keldania, Egypt, Greece, Syria and arrived in Arabia. Keywords: Philosophy, Science, Islam. |
|
*Correspondent Author : Ega Diana
Email : egadiana1307@gmail.com
![]()
PENDAHULUAN
Filsafat
Ilmu dan Agama memiliki keterkaitan yang saling tersambung satu sama lain dalam
menunjang kemampuan manusia. Hal ini bisa kita lihat dari tujuan filsafat, ilmu
dan agama, yaitu mencari kebenaran (Hanifah, 2018).
Keterkaitan itu juga bisa dibuktikan, dengan “adanya 3 potensi yang Allah
berikan kepada manusia, yang akan menjadikan manusia memperoleh kebahagiaan
yang sebenarnya, yaitu akal, budi dan kepercayaan” (Mawaddahni, 2017).
Sejatinya
sebagai umat yang beragama, kita diperintahkan untuk mempelajari alam, mencari
setiap hukum yang ada didalamnya, agar kita bisa
hidup sesuai dengan tujuan dan ketentuan yang Allah ridhai
(Nurjaman, 2020). Dan
ilmu dijadikan sebagai alat yang diarahkan oleh agama, agar manusia bisa
memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya. Seperti yang pernah dikatakan oleh Einstein “Science without religion is blind, religion
without science is lame” (Rajab, 2016).
Filsafat membantu agama dalam beberapa hal sebagai berikut:
1.
Dapat menjelaskan setiap dalil yang terkandung
dalam Al-qur’an dan hadis secara objektif.
2.
Memberikan metode-metode pemeikiran
pada teologi.
3.
Membantu menghadapi perkembangan zaman yang
terus berubah dengan segala problema nya.
4.
Membantu agama dalam mempertahankan
kebenarannya dari munculnya ideologi-ideologi baru.
Dengan adanya keterkaitan antara filsafat ilmu
dan sains dengan Agama, tentunya hal ini membuat kita memiliki alasan, seberapa
pentingnya mempelajari ilmu tersebut (Susanto, 2021). Selain
melatih diri agar berfikir secara filsafat, juga
dapat memuaskan diri dalam menemukan kebenaran yang sesungguhnya, yang akan
menambah keyakinan kita dalam beragama hanya pada Allah (Madjid, 2019). (Hidayat & Wijaya, 2016).
Adanya
rasa ingin tahu penulis, terkait kemajuan zaman saat ini yang justru terbalik.
Jika dulunya Islam terukir dalam sejarah bahwa memiliki intelektual tang
tinggi, lantas mengapa saat ini, orang-orang barat yang berhasil menguasai
dunia.
METODE PENELITIAN
Dalam
Penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
kasus, mengacu pada John W.Creswell dalam bukunya Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Tradition bahwa studi
kasus sebuah eksplorasi dari suatu sistem yang terikat atau suatu kasus/beragam
kasus yang dari waktu ke waktu melalui pengumpulan data yang mendalam serta
melibatkan berbagai sumber informasi yang kaya dalam suatu konteks (Babchuk, 2017). Sistem terikat ini diikat oleh waktu dan tempat sedangkan kasus dapat
dikaji dari suatu program, peristiwa, aktivitas atau suatu individu dan
organisasi. Dengan perkataan lain, studi kasus merupakan penelitian dimana peneliti menggali suatu fenomena tertentu (kasus) dalam
suatu waktu dan kegiatan (program, even, proses,
institusi atau kelompok sosial) serta mengumpulkan informasi secara terinci dan
mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode
tertentu (Kurnianto & Kusumalestari, 2016).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Perkembangan Filsafat dan Sains di Masa Islam
Seperti
yang sudah dijelaskan sebelumnya diatas, bahwa
lahirnya filsafat Islam, setelah hadirnya Islam pada bangsa Arab. Orang Islam
mulai mengembangkan filsafat sejak filsafat mulai meninggalkan Yunani dan
menjadi bagian yang penting dalam kebudayaan Islam. Filsafat mulai terlihat
peran nya dalam membangun peradaban Islam ketika di
masa Abassiyah yaitu sekitar abad ke 9 M (Masang, 2020).
Perkembangan
filsafat mulai berjaya dan berkembang dengan pesatnya pada abad ke 9 – 12 M
dalam khazanah ilmu pengetahuan dan masyarakat muslim”. Kemajuan filsafat ini ditandai dengan
lahirnya filosof muslim yang begitu
banyak. Salah satunya adalah Al-farabi, yang terkenal
dengan teori emanasi. “Hal ini membuatnya diberi julukan sebagai “guru kedua”,
yang mana guru pertama nya yaitu Aritoteles,
dan belum ada penerusnya hingga saat ini” (Sholikhah, 2018). “Pada
abad ke 12, perkembangan filsafat islam perlahan
mulai terhenti dikarenakan mendapat serangan dari para ahli-ahli agama. Para
filosof di hukum karena telah menjadi mulhid. Hal ini yang menyebabkan pada
akhir abad ke 12, filsafat dalam kebudayaan Islam mulai menghilang”. Buku-buku para ilmuwan pun habis dibakar dan
dimusnahkan. Dan akhirnya “pada abad ke 14 tidak ada lagi filosof Islam” (Wahid, 1999).
Menurut
pemakalah, peristiwa ini yang menjadi alasan mengapa filsafat dalam dunia Islam
bisa tertinggal. Dikarenakan mereka takut dikatakan seorang mulhid. Sementara
hal sebaliknya dilakukan oleh dunia Barat. Para ilmuwan Barat yang awalnya
menuntut ilmu dari para filosof muslim mengalami kemajuan yang pesat, yang
dapat kita lihat hingga saat ini. Mereka mulai mengembangkan ilmu pengetahuan
yang telah mereka dapatkan, mengembangkan pemikiran filsafat mereka, hingga
berhasil membuat tertinggalnya umat Islam dengan negara-negara barat.
Allah
menurunkan wahyu berupa kalamnya pada Qs. Al alaq, dimana Allah memerintahkan
Rasulullah untuk membaca. Lalu Rasulullah memerintahkan seluruh pengikutnya
untuk belajar membaca dan menulis. “Hal sama juga Rasul perintahkan kepada isterinya, Aisyah dan anak angkatnya Zaid bin Haritsah
untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani (Dirwan, Bunyamin, & Umrah, 2018). Para
tawanan pun diberi kebebasan setelah mereka mampu mengajar 10 orang kaum muslim
membaca dan menulis”. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat peduli dengan ilmu
pengetahuan. Hal ini membuat para kaum muslimin semakin semangat dalam menuntut
ilmu. Yang awalnya hanya berpusat pada Al-quran,
hadis, kalam, fiqh, nahwu, sharaf dan lainnya, namun seiring dengan semakin luasnya
daerah kekuasaan Islam, ilmu yang dipelajari umat Islam pun semakin berkembang
pesat (Wahidin, 2012). Umat islam pun mulai mempelajari disiplin ilmu lainnya seperti
astronomi, kedokteran, hingga ilmu-ilmu sosial.
Perluasan
wilayah Islam pun semakin meluas, dimulai dari kepemimpinan Khalifah Abu Bakar
As-shiddiq hingga dinasti Abassiyah
(Wahab, 2019).
“Wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaan Islam saat itu diantaranya
Damsyik (629), Syam dan Irak (673), Mesir dan Maroko (645), Persi
(646), Samarkand (680), dan seluruh Andalusia (719)”.
Hingga satu abad kemudian dimasa puncak kejayaan Islam, “kekuasaan negara Islam
saat itu bahkan melebihi Imperium Romawi, yang membentang dari Teluk Biskaya sebelah barat hingga Turkestan
dan India” (Napitupulu, 2019).
Jauh
sebelum Islam menguasai wilayah Timur, “Syria adalah
tempat bertemunya dua negara super power yaitu Roma dan Persia. Hal ini yang membuat
bangsa Syria memliki peran
penting dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan peradaban Yunani ke Timur dan
Barat, terutama bagi orang Monofisit dan Nestorian” (Faslah, 2021). Hanya saja saat itu kedudukan ilmu
pengetahuan belum begitu tinggi. Mislanya saja
orang-orang lebih mempercayai pengobatan spiritual yang dilakukan oleh pendedeta daripada ilmu kedokteran. “Pada saat Islam
berhasil menaklukkan Antokiah, Ephesus
dan Iskandariah yang merupakan pusat-pusat ilmu
pengetahuan, kegiatan penterjemahan buku-buku Yunani
ke dalam berbagai bahasa tetap diperbolehkan, terutama penterjemahan
kedalam bahasa Syria atau
Suryani”(AZHAR, n.d.).
Saat
pemikiran-pemikiran Yunani merasuk pada umat kristen
hingga mewarnai pemikiran tokoh gereja, Nestorius,
Uskup Constantinopel, tantangan keras pun diberikan
oleh kaum konservatif dan ortodoks, dan ajaran-ajarannya pun dilarang oleh
gereja. “Nestorius dan pengikutnya tidak setuju
dengan keputusan itu (Siddiq, 2022).
Akhirnya mereka melarikan diri ke Syiria dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani hingga mendirikan
sekolah-sekolah dan tetap aktif dalam menterjemah
karya-karya Yunani mengenai filsafat dan logika”. Semakin meluasnya daerah
kekuasaan Islam ke berbagai penjuru tentunya membawa konsekuensi umat Islam
sendiri dalam menghadapi pluralitas bangsa. Mengahadapi beragam agama dalam suatu wilayah dengan
keanekaragaman budayanya. Hal ini tentunya membuat umat Islam untuk bisa selalu
memperkenalkan ajaran-ajarannya bahwa setiap manusia itu kedudukan nya sama dan memiliki hak yang sama pula.
Hal ini
yang membuat umat Islam mulai mempelajari ilmu Yunani yang kemudian mereka
terjemahkan kedalam bahasa Suryani. Dan kebiasaan ini
terus berlanjut hingga pada dinasti Abassiyah. “Pada
abad ke 7, berdirilah dua pusat ilmu pengetahuan yang berada di Haran dan Jusdhispur dan Thabit ibnu Qurra seorang ahli matematika dan astronomi yang belajar di
Haran".“Di Jundishapur,
pusat ke ilmuan didirikan oleh Khosru Anusirwan dalam bidang filsafat dan kedokteran” (Pulungan, 2022). Karena
letaknya yang dekat dengan kota Baghdad membuat hubungan politis antara orang-orang
persia dengan Khalifah Abbasiyah
begitu erat. Kehadiran pusat ke ilmuwan ini memberikan keuntungan bagi umat
muslim disana. Diantaranya
seperti adanya para tabib di istana, pembangunan rumah sakit observatorium di
Baghdad yang diberikan oleh orang Nestorian pada masa
pemerintahan Harun Al-Rasyid (Pulungan, 2022).
Dari
penjelasan diatas dapat dilihat bahwa Islam tidak
pernah mengganggu bahasa bahkan kebudayaan suatu wilayah yang berhasil di
kuasinya. Hal inilah yang menjadi alasan, mengapa sebelum dinasti Mu’awiyyah menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi
mereka, bahasa Persia dan Yunani tetap boleh dipergunakan. Hal itu juga yang
menyebabkan karya Yunani sebagian ada yang berbahasa Persia.
“Ilmu
kedokteran adalah ilmu yang pertama kali diterjemahkan kedalam
bahasa Arab yang ditulis seorang pendeta bernama Ahran
bin A’yun dalam bahasa Suryani saat pemerintahan
Marwan bin Hakam saat pemeritahan dinasti
Umayyah”. Lalu buku tersebut dipindahkan
ke tempat ibadah, agar masyarakat umum bisa mempelajarinya. Namun “ada beberapa
riwayat yang menjelaskan bahwa yang ilmu kimia (Shun’ah)
yang terkenal saat itu merupakan ilmu yang pertama kali diterjemahkan oleh
Khalid bin Yazid Al-Umawi”. “Setelah resminya
pemerintahan Khalifah Abassiyah yang dipimpin oleh
Harun Al-Rasyid, penterjemahan karya-karya ilmiah dan
filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab pun dilakukan dengan serius. Diantaranya seperti astronomi karya Ptolemy,
Astrologi dan Matematika. Ada juga Yahya bin Bitriq
yang menterjemahkan Timaeus
karya Plato, De anima,
Secret of Secret, Analytica
Priori karya Aritoteles”.
Ketertarikan
akan ilmu pengetahuan dan filosof tidak hanya pada para Khalifah dan para
menteri nya, tetapi juga masyarakatnya. Hal ini dapat
dilihat seperti “Banu Musa bin Shakir yang terkenal
dalam teknik mesin serta telah menciptakan berbagai alat canggih pada masanya.
Keluarga nya juga termasuk yang menjadi donatur dalam
kegiatan penterjemahan tersebut. Mereka rela membayar
mahal untuk mengirim orang-orang ke Byzantium untuk
membeli naskah-naskah Yunani”.
Melihat
semakin berkembangnya ke ilmuwan di Iskandariyah dan Jundhispur, “Baghdad membangun juga pusat keilmuwan dan filsafat yang sangat lengkap, yang diberi
nama Bail al-Hikmah pada
tahun 830 oleh Ma’mun. Di dalamnya tidak hanya ada perputakaan, tetapi juga ada laboraturium
untuk menerjemah dan Observatorium bintang”.
Penerjemah-penerjemah
yang ada di Bait al-Hikmah diantaranya
Hunayn bin Ishaq seorang kristiani dai Harran dan murid Hasawaih yang
memiliki peran besar dalam menterjemahkan karya medis
klasik dan juga dokter pribadi Harun Al-Rasyid. Ada juga Qusta
bin Laqa yang beragama kristen
juga dan Thabit ibn Qurra yang menterjemahkan karya
astronomi.
Pada
abad ke 10, lahirlah 2 penerjemah yang termahsyur
yaitu Yahya bin ‘Adi dan gurunya Abu Bisyr Matta yang
memiliki peran penting dalam menterjemahkan karya-karya
Aritoteles, terutama dalam logika. Para ahli sejarah
mengungkapkan bahwa Islam memiliki peran yang sangat besar dalam berkontribusi
dalam bidang sosial-budaya dan ilmu pengetahuan terhadap Eropa dan Barat
terutama pada abad pertengahan.
Majunya
perkembangan ilmu pengetahuan Barat dan kecanggihan teknologi yang mereka
ciptakan saat ini, tidak lain karena perjuangan ilmuwan Muslim yang
mengembangkan ilmu pengetahuan selama kurang lebih 13 abad yang lalu. Lalu
bagaimana dengan umat Islam saat ini ?. “Jika orang Yunani adalah Bapak Metode
Ilmiah, maka orang Muslim adalah Bapak Angkatnya”.
Begitu
besar peran ilmuwan muslim dalam peradaban dunia hingga saat ini. Bahkan
“seorang penemu metode eksperimen dibarat yang bernama Roger Bacon, tidak membuat metode itu sendiri, melainkan hanya
mentransfer ilmu-ilmu dari para ilmuwan muslim seprti
Ibnu Sina dan Ibn Haitsam”.
Hal ini
dibuktikan dengan masuknya kebudayaan
dan peradaban Muslim ke Eropa melalui 2 cara, yaitu studi orang Barat ke
Andalusia dan kotak perdagangan serta penterjemahan.
Spanyol merupakan pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Hal ini membuat
orang-orang Eropa datang dan belajar di universitas-universitas disana, seperti Cordova, Sevilla, Malaga
dan Granada.
Dari
penjelasan sejarah perkembangan filsafat dan sains di zaman Islam ini kita bisa
melihat bahwa umat islam juga memiliki peran yang
besar hingga bisa mempengaruhi filsafat kristen sejak
abad ke 12. Ketika orang-orang Latin mengadakan kontak dengan orang-orang Arab
melalui Sicilia dan Andalusia serta buku-buku yang diterjemahkan. Pengaruhnya
terus menguat hingga abad ke 13 hingga era renaissace.
Hampir tidak ada tokoh-tokoh ilmuwan yang bermunculan saat ini yang tidak
memiliki hubungan dengan Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Adapun
tokoh-tokoh filosof yang termasnyur pada zaman Islam
ini, diantaranya yaitu sebagai berikut (Nursalim & Khojir, 2021) :
a.
Al-Kindi (801-866)
b.
Al- Razi (864-926)
c.
Al-Farabi (870-950)
d.
Ibnu Sina (980-1037)
e.
Al-Ghazali (1058-1111)
f.
Ibnu Tufail
(110-1185)
g.
Ibn Rusyd
(1126-1198)
2. Urgensi Filsafat Islam Pada Kemajuan Bidang
Keilmuan di Era Modern.
Banyak yang
bertanya tentang untuk apa manfaatnya mempelajari filsafat pendidikan islam? disini akan dijelaskan
dari pendapat ahli filsafat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah
disebutkan. Imam Barnadib yang mengambil pendapat Brubacher mengatakan bahwa filsafat pendidikan sewajarnya
dipelajari oleh mereka yang memperdalam ilmu pendidikan dan keguruan (Sholeh & Irawan, n.d.).
alasannya sebagai berikut:
a.
Berbagai masalah pendidikan selalu timbul dari
zaman kezaman, yang menjadi perhatian ahlinya
masing-masing.
b.
Orang yang mempelajari filsafat pendidikan akan
memiliki pandangan-pandangan yang jangkauannya empirik
atau eksperimental oleh ilmu pengetahuan.
c.
Dengan berlandaskan asas berfikir
logis maka berfilsafat pendidikan berarti memiliki kemampuan intelektual dan
membentuk pribadi pendidik yang baik.
Maka
pada dasarnya, filsafat pendidikan islam adalah ilmu
yang dapat dijadikan pegangan dan pedoman yang dilandaskan filosofis bagi
pelaksanaan pendidikan islam dalam tujuan untuk
menghasilkan generasi baru yang berkepribadian islam. Adapun fungsi filsafat islam
adalah “sebagai mendalami dan menelaah berbagai macam sumber pengetahuan”. Pada
filsafat pengetahuan di katakan sumber-sumber pengetahuan manusia adalah Akal,
Panca Indara, serta Budi Pekerti. Pengetahuan ilmiah
akan dapat menghasilkan kebenaran ilmiah, yaitu “sebuah kebenaran yang
diperoleh dengan sarana dan tatacara tertentu yang
hasilnya dapat dikaji ulang oleh siapapun dan dimana pun dengan kesimpulan yang sama, ia disebut sebagai
a higher level of knowlage”.
Pengetahuan ilmiah ini secara terus menerus dikembangkan dan dikaji oleh
tiap-tiap orang agar melahirkan yang disebut filsafat ilmu. Dengan demikian
filsafat ilmu dikembangkan secara mendalam dan filosofis agar tercapainya
tujuan dari yang disebut filsafat pengetahuan. Di dalam filsafat ilmu terdiri
dari tiga aspek ilmu yaitu Ontologi, Epistimologi dan
Askiologi. Dalam Ontologi biasanya membahas
permasalahan segala sesuatu yang ada, Epistimologi
mencoba menelaah tentang teori-teori dari suatu pengetahuan untuk mencapai
kebenaran ilmiah dan adapun Aksiologi suatu ilmu yang mempertanyakan untuk apa
suatu ilmu pengetahuan digunakan atau dengan kata lain kegunaan suatu ilmu
pengetahuan.
Dari
pemaparan penjelasan mengenai urgensi filsafat Islam di atas, kita bisa menarik
kesimpulan bahwasanya dalam Islam. Ilmu adalah satu, dan bersumber dari sang
pemilik ilmu yaitu Allah. Tidak ada namanya pembagian ilmu seperti yang
dilakukan oleh non muslim, yang berpendapat “science for science”. Karena baik itu
ilmu agama dan ilmu science, keduanya memiliki interconnected satu sama lain. Namun di era saat ini,
bahkan masih banyak Muslim yang berdapat hal yang sama, bahwa science dan agama adalah dua hal berbeda. Salah satu bukti
keterkaitannya antara science dan agama ialah dalam
filsafat Islam, kita bisa membuktikan eksistensi Allah, melalui
fenomena-fenomena yang terjadi di dunia, yang Allah jelaskan dalam Al-qur’an. Setelah itu mengakaji
kebenarannya dengan melakukan pembuktian secara ilmiah. Kemajuan cabang ke
ilmuan yang hadir saat ini hampir semuanya tidak terlepas dari
pemikiran-pemikiran para filosof Muslim. Mulai dari bidang kedokteran, astranomi hingga teknologi yang di era saat ini semakin di
gencarkan oleh orang-orang barat. Memiliki pemikiran yang kritis seharusnya
dimiliki dalam jiwa seorang muslim. Tidak hanya menjadi seorang manusia yang
hanya menerima apa yang sudah ada. Berfikir untuk apa
kita diciptakan, kemana kita akan berpulang, bagaimana
tuhan dan penciptaan alam semesta. Karena dengan menemukan jawaban akan semua
pertanyaan ini, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Seperti
para filosof muslim yang telah memberikan kontribusi untuk peradaban dunia
hingga saat ini. Kemajuan teknologi yang kita nikmati saat ini, tak terlepas
dari sumbangsih mereka. Namun sayangnya, tidak semua umat muslim mau bahkan
tertarik dengan filsafat. Padahal dengan mengetahui sejarah diatas,
cukup miris dengan keadaan saat ini. Disaat umat
Islam di era sekarang lebih banyak disepelekan, membatasi diri dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan membedakan ilmu itu sendiri, negara Barat
dan Eropa semakin berkuasa dan menguasi zaman. Yang
mana ilmu yang mereka kembangkan saat ini, bersumber dari para filosof muslim.
Semoga setelah mempelajari makalah ini, meningkatkan semangat kita juga minat
kita untuk mempelajari filsafat, dan menjadikan kita mahasiswa yang berfikir kritis, serta menjadi produk Islam yang
berkualitas.
B. Pembahasan
1.
Sejarah Lahirnya Filsafat Islam
Menurut
pemakalah, secara sederhananya yang dimaksud dengan filsafat Islam yaitu
filsafat dalam perspektif pemikiran orang Islam. Sama halnya dengan pendidikan
Islam, yang artinya pendidikan dalam perspektif orang Islam. Dikarenakan
berasal dari perspektif manusia, tentunya ada perbedaan dan pertentangan
pendapat adalah hal yang wajar. Dalam bahasa Yunani, filsafat berasal dari kata
‘philo’ yang berarti cinta dan ‘sophia’
yang berarti kebijaksanaan atau kebenaran.
Sedangkan itu menurut istilah, filsafat adalah upaya manusia untuk
memahami secara radikal dan integral serta sistematik mengenai Tuhan, alam
semesta dan manusia, sehingga menghasilkan pengetahuan tentang sejauh mana akal
manusia dalam memahami dan bagaimana sikap manusia setelah mencapai pengetahuan
tersebut (Aryati, 2018).
Sementara itu orang Arab menyesuaikan kata filsafat atau falsafah yang berasal
dari kata falsafa dengan timbangan fa’lala fa’lalah dan fi’lal. Kata tersebut adalah kata benda, yang mana dalam
bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kata filsafat. Al farabi
menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Tahshil as-Sa’adah bahwa filsafat datang dari Keldania,
lalu pindah ke Mesir, Yunani, Suryani, hingga sampai di Arab. Hadirnya filsafat di Arab yaitu saat datangnya
Islam ke negeri Arab (Masang, 2020). Karena
itulah, filsafat yang lahir di Arab inilah disebut dengan Filsafat Islam. Islam
berpandangan bahwa filsafat adalah bentuk dari upaya manusia untuk menjelaskan cara Allah
menyampaikan kebenaran dengan cara rasional, agar dapat diterima dan dipahami
oleh manusia yang Allah berikan potensi akal untuk berfikir
akan sebuah kebenaran.
Seperti
yang kita ketahui bahwa adanya ilmu pengetahuan Islam
yang terdapat dalam Al-qur’an menjelaskan bahwa
seluruh fenomena yang terjadi pada alam semesta merupakan petunjuk dari Allah
dan membuktikan kebenaran kalam-Nya serta membuktikan keterbatasan akal manusia
untuk memahami Allah sepenuhnya meskipun wahyu-Nya tidak bertentangan dengan
akal. Hal ini membuktikan statement bahwa Sang
Pencipta tidak mungkin sama dengan apa yang diciptakannya. Meskipun objek
filsafat Islam sama dengan filsafat pada umumnya, perbedaannya terletak
batasannya yang sesuai dengan norma-norma Islam.
Faktor
timbulnya filsafat dalam dunia Islam dapat kita lihat dari beberapa faktor
sebagai berikut (Masang, 2020):
1.
Adanya faktor dorongan ajaran Islam.
2.
Terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam.
3.
Dakwah Islam
4.
Menghadapi tantangan zaman
5.
Adanya pengaruh budaya lain
Semakin
meluasnya daerah kekuasaan Islam, tentunya tidak bisa dihindari akan sentuhan
budaya lain di dalamnya. Baik itu kebudayaan, ke ilmuan bahkan cara berfikirnya, dalam mempengaruhi perkembangan umat Islam.
Misalnya saja teori penciptaan yang dikemukan Al farabi, dimana ia menggabungkan
teori penciptaan alam semesta menurut Plontinus dan Aritoteles dalam konsep penciptaan dalam Islam. Adanya perkembangan zaman dari waktu ke waktu,
membuat terjadinya sentuhan budaya antara bangsa yang satu dengan bangsa yang
lain. Yangmana hal ini menyebabkan bahwa tidak ada satupun budaya yang murni di dunia ini, dan biasanya hanya
negara besar yang memiliki pengaruh dan dominasi kepemimpinan. Namun hal ini tidak sama dengan Islam.
“Walaupun Islam bersinggungan dengan negara lain seperti Yunani juga Persi, maka tidak otomatis islam
di Yunanikan ataupun di Persikan.
Islam tetap konstan dengan originalitasnya. Jika ada
yang beropini Islam mengikuti zaman, menurut pemakalah bukan berarti Islam
berubah-ubah karena berkembangnya zaman, namun cara pemahaman manusianya yang
membuat ajaran dalam Islam, bisa menjadi jawaban atas setiap permasalahan yang
ada. Misalnya saja seperti fiqih kontemporer. Islam
hadir pada permulaan abad ke 7 M, lalu berkembang hingga ke seluruh Timur Tengah,
Afrika Utara dan Spanyol pada akhir abad 7 M. Dimasa ini, peradaban yang sudah
ada pada setiap negara tidak dihilangkan, namun semakin dikembangkan dengan
memasukkan nilai-nilai Islam di dalamnya.
Islam
tidak melarang pemeluknya untuk mempelajari ilmu-ilmu lain dari banyak sumber.
Adanya interaksi ini yang membuat umat Islam dapat mempelajari ilmu-ilmu baru,
yang kemudian dikembangkan dan dijadikan paradigma baru yang di integrasikan
dengan Wahyu Allah, sehingga akhirnya bisa menjadi bagian dari peradaban Islam.
Sebagian besar dari warisan Yunani yaitu
mengenai pandangan-pandangan kuno di sekitar laut tengah yang telah disusun
secara sistematis dalam bahasa yunani. Kemudian dari
Alexandria dibawa ke Antioch, dan dibantu melalui penterjemahan berpindah ke Nisibis
dan Edessa yang dibawa oleh orang Kristen Monofisit dan Nestorian hingga
sampai di Persia. Lembaga ilmu pengetahuan yang populer saat itu berada di kota
Baghdad, yaitu Bait al—Hikmah yang menjadi pusatnya
ilmu pengetahuan.“Awalnya berpusat di Yunani kemudian
ke Iskandariyah, Antioch
dan berakhir di kota Haran dan berpindah di kota Baghdad pada zaman Khalifah al-Must’dhid. Dari sinilah bermunculan para filosof Muslim
seperti Al-kindi hingga Al-ghazali
dst”. Dari
masa Jahiliyah, bangsa Arab sudah terbiasa hidup
berinteraksi dan berdampingan dengan bangsa-bangsalain.
Yang secara tidak langsung membuat bangsa Arab terutama kaum muslimin
mempelajari ilmu-ilmu asing dari bangsa-bangsa tersebut. Misalnya saja kisah tentang dokter/tabib yang
hidup dimasa Rasulullah, ia bernama al-Harits ibn Kaldah ats-Saqafi
yang merupakan orang Arab non muslim. Ia juga dijuluki dokternya orang-orang
Arab.
Hal ini
dikuatkan dengan buktinya hadis yang diriwayatkan oleh Sa’ad
Ibn Abi Waqas yang menjelaskan bahwa saat itu ia
sedang sakit, lalu Rasulullah datang dan menjengukku dan mengatakan “datanglah
engkau kepada al-Harits ibn
Kildah ast-tsaqi dan
hendaknya ia mengambil 7 buah kurma ajwah, yang
ditumbuk dengan bijinya, lalu meminumkannya padamu. (Jannah, 2017). Padahal
saat itu kemampuan atau pengetahuan al-Harits dalam
bidang kedokteran masih sedikit. Hal ini dikarenakan untuk mempelajari ilmu kedokteran saat itu,
diperlukan penguasaan bahasa Suryani. Al-harits
menimba ilmu pada masa Jahiliyah hingga ke Jundisapur, Persia. Setelah dibangunnya Iskandariyah
yang merupakan pusat peradaban Yunani, buku-buku mengenai ilmu kedokteran pun
mulai dipindahkan dan diterjemahkan kedalam bahasa
Suryani. Beberapa ilmuwan yang mansyur di masa
kejayaan Iskandariyah pada abad ke 6 M seperti
Archimedes, Ptolemy, Galen dan Euclid.
Yang telah menciptakan dasar-dasar ilmu pengetahuan seperti ilmu geometri,
kedokteran dan Astronomi”. Saat Iskandariyah menjadi pusatnya ilmu pengetahuan, bangsa arab
mulai mengalami ketertarikan mereka pada ilmu pengetahuan, dan mulai menterjemahkan buku-buku dari bahasa Yunani bahkan Suryani
dalam bahasa Arab. Awalnya bangsa Arab tidak mendalami ilmu filsafat, namun
karena buku-buku yang mereka terjemahkan adalah karya para filosof Yunani yang
menggabungkan antara filsafat dan ilmu pengetahuan membuat mereka tertarik juga
untuk mempelajari filsafat, aliran-alirannya, para filosofnya serta pandangan
mereka terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan”.
KESIMPULAN
Filsafat
ilmu dan agama memiliki hubungan yang saling terhubung satu sama lain. Hubungan
yang saling terhubung ini terdapat pada tiga potensi utama manusia yaitu akal,
budi serta keyakinan. Sejarah munculnya filsafat ilmu sendiri berasal dari Keldania, Mesir Yunani, Suryani hingga tiba di Arab. Hadirnya
filsafat di tengah bangsa Arab, bersamaan dengan masuknya Islam disana. Dari jaman Jahiliyah,
bangsa Arab sudah memiliki ketertarikan akan ilmu pengetahuan, lalu dengan
hadirnya Islam yang mana selain disebabkan beberapa faktor yang salah satunya
adalah penyebaran dakwah Islam, saat itu banyak buku-buku para filosof seperti Aritoteles yang telah diterjemahkan. Sehingga secara tidak
langsung bangsa Arab pun mempelajari filsafat. Bangsa Arab yang semakin
tertarik dengan filsafat dan ilmu pengetahuan pun akhirnya membuat filsafat
Islam. Yang secara sederhana nya berarti Filsafat
menurut perspekftif orang Islam, yang tentunya
berbeda dengan filsafat pada umumnya. Menurut pemakalah, perbedaan yang
menonjol dari filsafat Islamdengan filsafat pada
umumnya adalah jika filsafat ilmu atau umum yang dicetuskan oleh Aritoteles mencari jawaban akan sebuah kebenaran, maka
filsafat Islam bukan mencari, namun membuktikan akan kebenaran yang sudah
dituliskan dalam Al-qur’an dan Sunnah.
Aryati, Azizah. (2018). Memahami Manusia Melalui Dimensi
Filsafat (Upaya Memahami Eksistensi Manusia). El-Afkar: Jurnal Pemikiran
Keislaman Dan Tafsir Hadis, 7(2), 79–94.
AZHAR, SYAMSUL. (n.d.). Idealisme Plato pada teori
Wahdatul Wujud Ibnu Arabi.
Babchuk, Wayne A. (2017). Book review: Qualitative
research: A guide to design and implementation , by SB Merriam and EJ Tisdell.
SAGE Publications Sage CA: Los Angeles, CA.
Dirwan, Dirwan, Bunyamin, Bunyamin, & Umrah, St. (2018).
Perintah Membaca dalam Al-Qur’an Perspektif Pendidikan (Surah Al-Alaq). AL-FIKR:
Jurnal Pendidikan Islam, 4(2), 34–47.
Faslah, Roni. (2021). TASAWUF AKHLAKI: TAREKAT DAN
PERKEMBANGANNYA PADA ABAD 18 DI NUSANTARA. Arus Baru Pemikiran Islam:
Catatan Kritis Dari Gang Buni Ciputat, 127.
Hanifah, Umi. (2018). Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer
(Konsep Integrasi Keilmuan di Universitas-Universitas Islam Indonesia. TADRIS:
Jurnal Pendidikan Islam, 13(2), 273–294.
Hidayat, Rahmat, & Wijaya, Candra. (2016). Ilmu
pendidikan Islam: menuntun arah pendidikan Islam di Indonesia.
Jannah, Darrotul. (2017). Kritik dan Syarah Hadits. Al-Tarbawi
Al-Haditsah: Jurnal Pendidikan Islam, 2(1).
Kurnianto, Deo Rizky, & Kusumalestari, Ratri Rizki.
(2016). Studi kasus mengenai penerapan jurnalisme lingkungan dalam akun Youtube
GreenpeaceIndonesia sebagai media kampanye penyelamatan hutan di Indonesia. SProsiding
Jurnalistik, 2(1), 7–14.
Madjid, Nurcholish. (2019). Khazanah Intelektual Islam.
Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Masang, Azis. (2020). Kedudukan Filsafat Dalam Islam. PILAR,
11(1).
Mawaddahni, Sari. (2017). Filosofi Hidup sebagai Wujud
Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kasepuhan Sinar Resmi. Local Wisdom, 9(1),
90–102.
Napitupulu, Dedi Sahputra. (2019). Romantika Sejarah Kejayaan
Islam di Spanyol. Mukadimah: Jurnal Pendidikan, Sejarah, Dan Ilmu-Ilmu
Sosial, 3(1), 7–18.
Nurjaman, Asep Rudi. (2020). Pendidikan Agama Islam.
Bumi Aksara.
Nursalim, Eko, & Khojir, Khojir. (2021). ALIRAN
PERENIALISME DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM. Cross-Border, 4(2),
673–684.
Pulungan, H. J. Suyuthi. (2022). Sejarah Peradaban Islam.
Amzah.
Rajab, La. (2016). KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD NATSIR
(SuatuKajianAnalisisKritis). Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1),
64–80.
Sholeh, Amalun, & Irawan, Septian Eri. (n.d.). PEMBERDAYAAN
PENDIDIKAN DALAM BENTUK KARAKTER.
Sholikhah, Maunatus. (2018). Sejarah perkembangan filsafat
Islam di Andalusia: abad ke 11-12 M. UIN Sunan Ampel Surabaya.
Siddiq, Akhmad. (2022). Mengenal tema-tema pokok agama
Kristen. Academia Publication.
Susanto, Ahmad. (2021). Filsafat ilmu: Suatu kajian dalam dimensi
ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bumi Aksara.
Wahab, Abdul. (2019). Melacak Embrio Nation-State Dalam
Sistem Khilafah. AL-AHWAL, 10(1).
Wahid, Abdurrahman. (1999). Tuhan tidak perlu dibela.
LKIS PELANGI AKSARA.
Wahidin, Unang. (2012). Budaya gemar membaca sejak usia dini.
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 1(01).
.id.
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |