IMPLEMENTASI
PARADIGMA WAHDATUL ‘ULUM DENGAN PENDEKATAN TRANSDISIPLINER UNTUK MENGHASILKAN
ULUL ALBAB PADA LULUSAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
Maharani Sartika Ritonga, Salminawati
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara,
Indonesia
maharanisartika85@gmail.com, salminawati@uinsu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Februari 2022 10 Maret 2022 20 Maret 2022 |
Wahdatul' Ulum dan transdisipliner
adalah dua konsep utama tentang filsafat ilmu di UIN Sumut yang pada akhirnya
melebur menjadi kristal dan kerangka luas Vahdatul
Ulum, dan transdisipliner masih menjadi motor
penggerak di balik filsafat abstrak. Wahdatul Ulum dapat digunakan untuk
membuat konsep menjadi lebih nyata dan
memecahkan masalah manusia. Implementasi Wahdatul `Ulum melalui pendekatan
interdisipliner meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dalam paradigma Wahdatul`
Ulum dapat dinanti ke depan. Lulusan Universitas Islam Sumatera Utara Medan yang berkarakter Ulul al-Baba, memiliki
sembilan karakteristik. , Kepribadian hamba, wawasan etnis, tanggung
jawab, rasa bahagia. Kata kunci: Paradigma Wahdatul ‘Ulum; Ulul
Albab; |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Wahdatul' Ulum and
transdisciplinary are the two main concepts about the philosophy of science
at UIN Sumut that eventually melted into the
crystal and broad framework of Vahdatul Ulum, and transdisciplinary is still the driving force
behind abstract philosophy. Wahdatul Ulum can be used to make concepts more real and solve
human problems. The implementation of Wahdatul 'Ulum through an interdisciplinary approach includes
education, research and community service, so that the goals that have been
set in the Wahdatul' Ulum
paradigm can be anticipated in the future. Graduates of the Islamic
University of North Sumatra Medan with the character of Ulul
al-Baba, have nine characteristics. , The
personality of the servant, ethnic insight, responsibility, sense of
happiness. Keywords: Paradigm Wahdatul 'Ulum; Ulul Albab; |
|
*Correspondent Author :
Maharani
Sartika Ritonga
Email : maharanisartika85@gmail.com
PENDAHULUAN
Pemisahan
antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum sudah lama terjadi. Bahkan sebagian masyarakat
Islam masih beranggapan bahwa agama dan sains memiliki wilayah sendiri-sendiri
yang terpisah antara satu dan lainnya sehingga tidak dapat dipertemukan. Mereka
beranggapan keduanya memiliki wilayah yang berbeda, baik dari segi objek formal
dan materialnya, metode penelitian, kriteria kebenaran dan status teori
masing-masing bahkan isampai ike
iinstitusi ipenyelenggaranya.
Wahdatul Ulum dan Transdisipliner adalah dua konsep
utama filsafat ilmu UIN Sumut, yang akhirnya menyatu menjadi kristal Wahdatul
Ulum dan landasan yang baik, sedangkan Transdisipliner
masih menjadi pendorong di balik filsafat abstrak. Konsep transformasi dapat
menjadi lebih realistis dan memberikan solusi atas permasalahan manusia.
Wahdatul Ulum Penciptaan paradigma itu untuk menghilangkan dikotomi ilmu.
Dikotomi ilmu yang ada di universitas-universitas Islam dan menimbulkan banyak
masalah kemanusiaan. Dikotomi ilmu di sini merepresentasikan pemisahan yang
sudah berlangsung lama antara ilmu agama dan ilmu umum. Sains. Bahkan, sebagian
komunitas Muslim masih percaya bahwa agama dan sains tidak dapat digabungkan
bersama karena keduanya memiliki domain sendiri-sendiri. Dengan pendekatan transdisipliner, Wahdatul `Ulum sangat cocok di era tidak pastian saat ini dimana kemajuan
teknologi digital menjadi faktor utama. Oleh karena itu, UIN di Sumut harus
memiliki sikap beradaptasi dengan segala macam perubahan, khususnya UIN Sumut.
Sebagai
universitas berbasis Islam, mengikuti konsep paradigma Wahdatul Ulum melalui
pendekatan interdisipliner, mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dalam
berbagai artikel tentang penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pekerjaan
umum Universitas Agama Islam Sumatera Utara Universitas Islam Negeri. Medan
menawarkan lulusan yang berilmu dan mampu berperan dalam pembangunan manusia,
bangsa, peradaban dan kesejahteraan manusia, yaitu yang disebut karakter Ulul albab. Oleh karena itu, artikel ini menjelaskan tentang implementasi
paradigma. Dengan demikian, artikel ini akan memaparkan mengenai implementasi
paradigma Wahdatul ‘Ulum yang ikhas milik Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara Medan dengan pendekatan Transdisipliner
yang selanjutnya akan menghasilkan karakter ulul albab
pada lulusan-lulusan terbaiknya serta dapat memberikan kejutan-kejutan pada
tiap perubahan.
METODE PENELITIAN
Untuk menghasilakan
sesuatu yang benar, diperlukan metode atau prosedur yang benar pula. Metode
ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi
ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Namun tidak
semua pengetahuan disebut ilmu, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara
mendapatkan harus memenuhi syarat-syarat tertentu (dalam
Sugiyono, 2017). Syarat syarat yang harus di penuhi agar suatu pengetahuan dapat di
sebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan metode ilmiah. Metode ilmiah
ialah suatu prosedur atau urutan langkah yang harus dilakukan untuk melakukan
suatu proyek ilmiah. Metode ilmiah juga dapat diartikan sebagai cara menerapkan
prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur (urutan langkah) yang harus dilakukan
untuk melakukan suatu proyek ilmiah (science project) (Marlina,
2021). Metode ilmiah adalah
sebuah prosedur yang digunakan ilmuan dalam pencarian kebenaran baru. Dilakukan
dengan cara kerja sistematis terhadap pengetahuan baru dan melakukan peninjauan
kembali kepada pengetahuan yang telah ada. Metode berpikir ilmiah adalah
prosedur, cara dan teknik memperoleh pengetahuan.
Metode berasal dari kata
Meta yang artinya melalui, dan hodos yang artinya
jalan. Metode adalah cara sesuatu di peroleh, di
kerjakan, dan di gunakan. Scientific Method adalah cara kerja ilmiah. Menurut Jujun S.Suria sumantri, Metode ilmiah
merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang di sebut dengan ilmu (
sains ). Jadi ilmu ( sains ) merupakan pengetahuan yang di dapatkan melalui
metode ilmiah (Marlina,
2021).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengertian Paradigma Wahdatul ‘Ulum
Secara etimologi, wahdat al-‘ulum
berasalidariilafadz wahdatiyang
berarti satu dan ‘ulum adalah bentuk jamak dari kata
‘ilmu yang berarti ilmu-ilmu. Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu adalah mengetahui
sesuatu sesuai dengan sesuatu itu sendiri. Maksudnya ialah ilmu merupakan
pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang objek (pengetahuan itu sendiri)
secara benar. Sementara menurut Parluhutan, bahwa Wahdatul ‘Ulum adalah
keseluruhan pengetahuan yang sudah bergabung dalam satu jaringan harmonis dalam
satu kesatuan yang terkait dan saling melengkapi. Pengetahuan yang sudah
menyatu itu tidak saja antara sains dengan pengetahuan agama, tetapi meliputi
segenap pengetahuan, mulai dari pengetahuan spiritual, agama, etika, sosial,
budaya, humaniora, sains, filsafat, sampai pada pengetahuan terapan. Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu adalah
mengetahui sesuatu sesuai dengan sesuatu itu sendiri. Maksudnya ialah ilmu
merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang objek (pengetahuan itu
sendiri) secara benar. Sementara menurut Parluhutan, bahwa Wahdatul ‘Ulum
adalah keseluruhan pengetahuan yang sudah bergabung dalam satu jaringan
harmonis dalam satu kesatuan yang terkait dan saling melengkapi.
Pengetahuan yang sudah
menyatu itu tidak saja antara sains dengan pengetahuan agama, tetapi meliputi
segenap pengetahuan, mulai dari pengetahuan spiritual, agama, etika, sosial,
budaya, humaniora, sains, filsafat, sampai pada pengetahuan terapan. Mewujudkan
sistem pengetahuan holistik adalah sasaran Wahdatul ‘Ulum. Penjelasan
Parluhutan bahwa dalam pengetahuan. Biologi ada unsur etika, dalam pengetahuan
alam fisik ada unsur pengetahuan spiritual, dan seterusnya. Kalau pun ada
pembedaan pengetahuan tidak dalam arti keterpisahan,
melainkan suatu penjenisan. Penjenisan muncul karena adanya perhatian khusus
pada segmen atau objek tertentu. Untuk memperoleh pengetahuan holistik, maka
diperlukan filsafat tersendiri tanpa takluk kepada filsafat sains Barat. Kalau
dalam filsafat sains sangat ditekankan pendekatan reduksionis,
maka falsafah Wahdatul ‘Ulum lebih menekankan pada penyatu paduan. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa Wahdatul ‘Ulum merupakan ilmu yang sesungguhnya berasal
dari Allah Swt dimana
manusia diberi kesempatan untuk mengharap cinta-Nya, dan ini memang dalam
rangka ketakwaan kepada Allah SWT. Jadi, bagaimana menerapkan sains nyata ke
sains nyata seperti perbankan Islam, busana Islami dan ekonomi Islam sudah duduk
di kalangan umat Islam. Salah satu formula penggunaan Wahdatul Ulum adalah di
Universitas Islam Sumatera Utara, yaitu Universitas Islam Nasional Sumatera di Medan
Utara yang pada awalnya masih dijalankan oleh Institut Agama Islam Nasional
(IAIN). Universitas Islam Sumatera Utara untuk pengembangan peradaban sekaligus
ilmu pengetahuan dengan berkembang menjadi universitas Islam yang mengembangkan
ilmu dari kajian Islam maupun kajian Islam, perwujudan integrasi keilmuan yang
dirumuskan dalam istilah wahdatul `Ulum diformalkan
dan ditetapkan.
Wahdatul `Ulum adalah visi,
konsep dan paradigma ilmu yang dimaksud dalamhalini,dikembangkandiiberbagaiibidangikeilmuanidalamibentukikursiiatauifakultas,ikurikulumidanimataikuliah,itetapiidianggapisebagaiianugerah.iDenganidemikian,iontologi,
epistemologi dan aksiomatiknya mengabdikan diri untuk
melayani Tuhan dan untuk pengembangan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Wahdatul Ulum adalah suatu visi, konsep
dan paradigma keilmuan yang memiliki kesatuan atau keberadaan seluruh ilmu.
Kehadiran integrasi tidak menghilangkan ciri-ciri elemen yang ada. Integrasi
Indonesia, misalnya, tidak menghilangkan kearifan lokal. Terhadap dikotomi Vahdatul Ulum, kontradiksi antara adanya pembagian dan
ilmu.
B. Paradigma Wahdatul ‘Ulum
dengan Pendekatan Transdisipliner
1. Pengertian Pendekatan Transdisipliner
Parluhutan dalam (Fridiyanto, 2021) mejelaskan bahwa transdisipliner adalah Refleksi, integrasi, dan metode yang
melampaui prinsip ilmiah dengan tujuan menemukan solusi dari masalah sosial,
yang diperoleh dari pemaduan ilmu-ilmu terkait dengan cara yang membedakan dan
mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai teori-teori. Pendekatan transdisipliner menyiratkan interaksi penuh antara, diantara, dan diluar disiplin
ilmu dari perspektif atau berbasis pada masalah kehidupan nyata. Jadi, transdisipliner dapat dipandang sebagai usaha teoritis
untuk melampaui disiplin, dan melalui ini dapat menjawab permasalahan sosial
dengan cara spesifik. Terdapat sejumlah definisi yang dikedepankan para ahli
mengenai transdisipliner, diantaranya:
1)
Transdisipliner adalah mengintegrasikan
dan mentransformasikan bidang-bidang pengetahuan dari berbagai perspektif
terkait untuk memahami, mendefenisikan, dan
memecahkan masalah yang kompleks.
2)
Pendekatan transdisipliner
adalah mengintegrasikan dan mentransformasikan bidang-bidang pengetahuan dari
berbagai perspektif untuk meningkatkan kualitas pemecahan masalah, agar
memperoleh keputusan dan pilihan yang lebih baik
Maka dapat dipahami bahwa transdisipliner adalah suatu pendekatan dalam penelitian
dan pembahasan, bukan hanya menggunakan satu atau beberapa perspektif,
melainkan menggunakan banyak perspektif keilmuan yang melintasi tapal batas
disiplin keilmuan, untuk menciptakan pendekatan yang holistik. Diberi
perspektif yang beragam sejak awal hingga pengambilan kesimpulan dan keputusan.
Dari ruang lingkup tersebut perlu dipahami dua hal, yakni sebagai berikut:
1)
Transdisipliner bukanlah disiplin ilmu
tetapi merupakan pendekatan keilmuan. Seperti disebutkan Massimiliano
Tattanzi, bahwa transdisipliner
bukanlah suatu disiplin, tetapi suatu pendekatan, suatu proses untuk
meningkatkan pengetahuan dengan mengintegrasikan dan mentransformasikan beragam
perspektif yang berbeda-beda untuk dapat dilakukan pendekatan holistik demi
memperoleh kesimpulan yang komprehensif.
2)
Dalam pendekatan transdisipliner,
seorang scholar atau peneliti yang memiliki keahlian
dalam bidang tertentu dalam penelitian dan pembahasan melibatkan perspektif
lain sejak rencana penelitian dan pembahasan hingga pengambilan keputusan. Jika hal ini sudah diterapkan di Fakultas
Syariah dan Hukum, maka sudah menerapkan Transdisipliner.
Penerapan
Transdisipliner dapat dilihat di bidang kedokteran,
mulai dari mendeteksi penyakit, banyak yang harus diperiksa, karena dokter
menyodorkan organ yang perlu didiagnosis. Tapi kemudian, para dokter duduk
bersama untuk mencari jalan keluar bagi kesembuhan pasien. Pendekatan Transdisipliner dalam Paradigma Wahdatul ‘Ulum tidak akan
menghilangkan dan melebur keahlian profesional. Kehadiran Transdisipliner
untuk mengajak para ahli dan ilmuwan bekerjasama
untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Sehingga dengan Transdisipliner para dokter tetap bekerja mengobati pasien,
ahli fiqih tetap menjawab persoalan fiqih, ahli filsafat tetap merumuskan pertanyaan dan
berkontemplasi.
Namun
Transdisipliner mensyaratkan satu hal penting harus
dilakukan yaitu keharusan para ahli, profesional, dan ilmuwan dari berbagai
disiplin untuk terus berusaha memahami dalam pikiran, cara kerja mitra yang
berbeda disiplin dan keahlian. Melalui kesaling mengertian dan keinginan mempelajari apa yang dikerjakan
ahli lain akan dapat memecah permasalahan masyarakat.
A. Transdisipliner Integratif Dan Kolaboratif
Berdasarkan
ruang lingkup yang dijelaskan di atas maka pendekatan transdisipliner
dapat bersifat integratif dan dapat pula bersifat kolaboratif.
1) Transdisipliner Integratif
Transdisipliner
Integratif adalah pendekatan dengan melibatkan berbagai perspektif, namun
diintegrasikan dan direkat oleh bidang peneliti serta hasilnya pun masuk dalam
kategori rumpun ilmu yang menjadi basis pembahas atau peneliti.
2) Transdisipliner iKolaboratif
Transdisipliner
Kolaboratif, penelitian atau pembahasan terhadap suatu masalah atau problem
dengan menggunakan perspektif berbagai bidang ilmu. Transdisipliner
disini berfungsi sebagai framework
untuk menghimpun tim peneliti atau pembahas yang bersedia menyumbangkan pengetahuan
dan keterampilan, berkolaborasi dengan anggota lain, serta secara kolektif
mengambil kesimpulan untuk keperluan pengembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat
serta peradaban. Disini para anggota tim berbagi
peran dan secara sistematis melintasi batas-batas disiplin ilmu yang mereka
miliki.
3) Dasar-Dasar Pengembangan Pengetahuan
Ciri
penting pendekatan transdisipliner yaitu selalu
bertolak dari masalah kehidupan nyata. Sekecil apapun
masalah, sesuai asumsi dasar diatas, selalu bersifat
kompleks, terkait banyak hal, peristiwa atau benda lain. Karena itu, pendekatan
transdisipliner meniscayakan keterlibatan banyak
pihak dalam upaya mendefenisikan dan menemukan
asal-usul masalah, sampai pada pencarian solusi dan cara mengatasinya. Orang
yang terlibat terdiri dari para ahli dari berbagai disiplin ilmu, para praktisi
dan masyarakat yang menghadapi problema.
4) Urgensi iPendekatan iTransdisipliner
Pendekatan
transdisipliner tampak sangat penting terutama dalam pengembangan
ilmu-ilmu keislaman dikarenakan departemen-departemen ilmu-ilmu tersebut tidak
boleh mengisolasi diri dari ilmu pengetahuan Islam yang juga mempengaruhi dan
menjadi rujukan serta acuan oleh masyarakat.
Namun
sebaliknya, pengembangan ilmu pengetahuan Islam tidak boleh mengisolasi diri dari
ilmu-ilmu keislaman, karena ilmu-ilmu keislaman merupakan pengetahuan yang
sangat mempengaruhi perkembangan masyarakat terkait pemahaman dalam memedomani
serta menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
5) Implementasi Wahdatul ‘Ulum dengan Pendekatan Transdisipliner
Sebagai
telah dirumuskan dalam Paradigma Wahdatul ‘Ulűm bahwa
filosofi yang dipedomani dalam memandang ilmu pengetahuan adalah kesatuan ilmu
(Wahdatul ‘Ulűm). Oleh karenanya pada
departemen/fakultas mana pun seorang student belajar
di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan pada hakekatnya
ia sedang menuntut (belajar) ilmu-ilmu keislaman (Islamic iStudies)
atau ilmu pengetahuan Islam (Islamic Science). Selama
mengikuti studinya seorang student memperdalam ilmu,
memperluas wawasan, dan melakukan pengembangan masyarakat (community
development) secara integral, dengan pendekatan transdisipliner, pendekatan integratif-holistik, dan
menghilangkan tapal batas berbagai perspektif. Namun tetap mengutamakan
perspektif bidang keilmuannya sendiri, sehingga kegiatan pembelajaran,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tetap dalam lingkup kerja bidang
utamanya, serta hasilnya pun dapat dikategorikan sebagai bidang keahliannya.
KESIMPULAN
dalam Sugiyono, Suriasumantri. (2017). Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, CV.
Fridiyanto, M. Pd I.
(2021). Paradigma Wahdatul ‘Ulum UIN Sumatera Utara Strategi Bersaing menuju
Perguruan Tinggi Islam Kompetitif. CV Literasi Nusantara Abadi.
Marlina, Marlina.
(2021). Bahan Ajar Metode Penelitian Pendidikan Khusus.
Abdullah, M. Amin. 2012. Islamic Studies di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fridiyanto. 2020. Paradigma Wahdatul ‘Ulum UIN Sumatera Utara
“Strategi Bersaing Menuju Perguruan Tinggi Islam Kompetitif. Malang: CV. Literasi
Nusantara Abadi.
Fridiyanto. 2019. Paradigma Wahdatul ‘Ulum Universitas Islam
Negeri Sumatera Utara Sebuah Upaya Filosofis Menghadapi Era Disrupsi. Jurnal:
Analytica Islamica. Vol. 21. No. 2.
Harahap, Syahrin. dkk. 2019. Wahdatul ‘Ulűm Paradigma Integrasi
Keilmuan Dan Karakter Lulusan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan.
Cet. III. Medan: Perdana Publishing
Muhaya, Abdul. 2014. Wahdat Al-‘Ulum Menurut Imam Al-Ghazali
(W.1111 M). Thesis: Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo
Semarang.
Muksin Abd, dkk. 2021.
Tingkat Partisipasi Masyarakat Kampung Jawa Desa Tebing Linggahara Baru Dalam
Gerakan “Rumah Belajar” Mahasiswa/I KKN Kelompok 185 UINSU Perspektif Wahdatul
Ulum. Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya
Islam: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Vol. 4 No. 2
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |