SEJARAH FILSAFAT DI TANAH YUNANI

 

 

Lidra Agustina Tanjung1, Salminawati2

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

lidraagustina29@gmail.com

 

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

01 Mar 2022

10 Mar 2022

15 Mar 2022

Latar Belakang: Filsafat pada masa Yunani kuno terjadi pada abad ke-6 SM sampai dengan sekitar Sejarah dapat dikatakan sebagai masa lalu yang memiliki manfaat bagi masa yang akan datang dan memiliki bukti-bukti. Pengertian paling banyak di ungkapkan oleh para peneliti adalah bahwa filsafat berasal dari bahasa Yunani Philos yang memiliki arti cinta atau mencintai dan Sophia yang memiliki arti kebenaran atau kebijaksanaan.

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini merupakan peneliti melalui kebebasan berfikir para ahli fikir masyarakat Yunani untuk mendalami sejarah ditanah nya.

Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua sumber,  yaitu  data primer dan data sekunder, dimana data dan informasi berasal dari artikel-artikel hasil penelitian dari peneliti-peneliti sebelumnya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Pustaka, dengan membaca literatur terkait pembahasan yang diangkat.

Hasil:  Hasil dari penelitian ini menyatakan sejarah di tanah yunani yang sudah beredar menjadi sistem kepercayaan masyarakat.

Kesimpulan: Filsafat diawali pada abad ke-6 Sebelum Masehi. Filsafat muncul menggantikan mitos-mitos dan dongeng-dongeng yang beredar dan menjadi sistem kepercayaan masyarakat Yunani saat itu.

 

 

Kata kunci: Sejarah; Filsafat; Yunani.

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Philosophy in ancient Greece occurred in the 6th century BC until around History can be said as the past that has benefits for the future and has evidence. The most widely expressed understanding by researchers is that philosophy comes from the Greek Philos which means love or love and Sophia which means truth or wisdom.

Purpose: The purpose of this research is to provide researchers through the freedom of thought of the Greek thinkers to explore the history of their land.

Methods: This research uses descriptive qualitative research. The data used in this study includes two sources, namely primary data and secondary data, where data and information come from research articles from previous researchers. The data collection technique used in this research is library research, by reading the literature related to the discussion raised.

Results: The results of this study state that the history in Greece that has been circulating has become a community belief system.

Conclusion: Philosophy begins in the 6th century BC. Philosophy emerged to replace the myths and fairy tales that circulated and became the belief system of the Greek people at that time

 

 

Keywords: History; Philosophy; Greece

*Correspondent Author : Lidra Agustina Tanjung

Email : lidraagustina29@gmail.com

 

 

PENDAHULUAN

 

Dewasa ini, filsafat bukan hal yang tabu dalam pendengaran masyarakat terutama mahasiswa. Filsafat dalam perkembangan saat ini sudah menjadi matakuliah yang selalu ada dalam pembelajar dewasa saat ini terutama di bidang pendidikan. Lahirnya filsafat sejalan dengan lahirnya ilmu pengetahuan. Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana filsafat ini muncul. Filsafat muncul pertama kali di negeri Yunani (Zulkarnaini, 2018). Filsafat terlahir karena masyarakat Yunani saat itu memiliki kebebasan dalam berpikir dan tidak terkekang oleh doktrin masyarakat (AKRIM, 2022).

Masyarakat kala itu mencari kebenaran melalui akal pikiran. Mereka mencari kebenaran dari yang paling dasar dalam kehidupan yaitu bagaimana alam ini terbentuk. Mereka merasa tidak puas dengan pemikiran atau doktrin sebuah dongeng yang tidak dapat dijelaskan melalui akal. Maka melalui kebebasan berpikir inilah para ahli pikir masyarakat Yunani mencoba untuk mendalami hal tersebut. Filsafat Yunani ini menjadi pangkal dari pemikiran dunia barat.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Dasar yang menjadi pertimbangan adalah Pertama, metode penelitian kualitatif lebih mudah disesuaikan dengan realitas yang sedang diteliti. Kedua, metode ini memberikan ruang bertemu langsung bagi peneliti untuk berinteraksi langsung dengan objek penelitian. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih bisa menyesuaikan pola-pola perkembangan nilai yang terjadi pada objek penelitian. Setelah itu, objek penelitian dijelaskan (dideskripsikan) sesuai dengan keadaan yang ada di lapangan (Anggito & Setiawan, 2018).

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua sumber,  yaitu  data primer dan data sekunder, dimana data dan informasi berasal dari artikel-artikel hasil penelitian dari peneliti-peneliti sebelumnya (Simarmata et al., 2021). Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Pustaka, dengan membaca literatur terkait pembahasan yang diangkat (Rahardjo, 2017).

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Filsafat sering disebut sebagai ibu dari ilmu pengetahuan karena dasar dari ilmu pengetahuan adalah filsafat dan filsafat merupakan kebijaksanaan dalam berpikir sebagai jalan untuk mencari kebenaran (Yasin, Zarlis, & Nasution, 2018). Pengertian paling banyak di ungkapkan oleh para penulis adalah bahwa filsafat berasal dari bahasa Yunani Philos yang memiliki arti cinta atau mencintai dan Sophia yang memiliki arti kebenaran atau kebijaksanaan (Sakiaddat, 2021).

Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa filsafat artinya mencintai kebenaran atau kebijaksanaan. Berfilsafat artinya adalah bagaimana seseorang melakukan pemikiran mendalam mengenai suatu hal atau sebuah pertanyaan yang membutuhkan akal untuk menjawabnya (Susanto, 2021).  Berfilsafat merupakan cara mencari makna atau jawaban paling dasar dan mendalam tentang hakekat segala sesuatu melalui akal (Anshori, 2018).

Melalui akal inilah masyarakat atau para pemikir Yunani kuno menjawab melalui akal yang logis. Akal itu menghasilkan pengetahuan logis yang disebut filsafat. Filsafat merupakan rasionalisme, dimana hal itu merupakan puncak dari proses berpikir masyarakat ketika itu.

Sedangkan menurut Bertran Russel, Filsafat adala sebuah theologi yang berisi berbagai pemikiran tentang masalah-masalah pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak dapat dipastikan (Nurgiansah, 2021).  Dengan filsafat, manusia tidak akan terikat dengan wahyu atau terikat oleh tradisi atau kepercayaan masyarakat yang yang telah ada sejak zaman nenek moyang mereka, sehingga otoritas tradisi saat itu tidak dapat menahan kebebasan berpikir masyarakat ketika itu (Maryanto, Dwi Wahyu Candra, & Syahlan, 2020).

Jhon Dewey mengungkapkan bahwa manusia secara terus-terusan melakukan perjuangan untuk mengungkapkan mengenai sesuatu hal, hal ini dilakukan dalam rangka melakukan penyesuaian terhadap traidisi yang membentuk budi pekerti manusia terhadap kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru dan tidak sejalan dengan wewenang yanng diakui (Kahwash, 2020).  Sedangkan menurut M. J Langeveld, filsafat adalah kesatuan dari beberapa lingkup masalah.  Lingkup masalah ini terdiri dari lingkup masalah lingkungan, pengetahuan dan nilai-nilai ( teori nilai etika, estetika, dan nilai berdasarkan religi (Nurgiansah, 2021).

Pada abad ke-6 SM, filsafat masih berupa mitologi atau dongeng-dongeng yang di percayai oleh bangsa Yunani. Masyarakat Yunani memiliki sistem kepercayaan bahwa semuanya harus diterima sebagai segala sesuatu yang bersumber dari dongeng-dongeng atau dengan kata lain tidak mengandalkan akal pikiran (Vedanti & Unyi, 2017). Kemudian hingga pada suatu ketika Thales menanyakan pertanyaan yang berbobot dan berbeda tidak hanya pertanyaan yang biasa atau hanya bertanya mengenai dari mana kopi berasal. Thales bertanya sebenarnya apa bahan pembuat dari alam ini. Pertayaan Thales ini bahkan membuat sains dan mitologi terdiam tak dapat menjawab pertanyaan aneh Thales (Nurgiansah, 2021). Thales kemudian menyatakan bahwa bahan alam semesta adalah air. Karena air dapat berubah bentuk.

Filsafat pada masa Yunani kuno terjadi pada abad ke-6 SM sampai dengan sekitar abad ke-6 masehi. Masyarakat kala itu bersikap kritis terhadap sebuah pengetahuan atau dalam mencari jawaban dari sebuah pertanyaan dan  masyarakat Yunani kala itu menolak sikap menerima begitu saja jawaban atau pengetahuan yang tidak berdasar dari akal  dan tidak dapat dijelaskan melalui akal pikiran manusia (Hamdi, Muslimah, Musthofa, & Sardimi, 2021). Yunani kuno berada pada masa jayanya ketika berada di bawah kepemimpinan Iskandar Agung pada 356-323 SM dan di sebut sebagai zaman Hellenisme (Darusman & Wiyono, 2019).

Di Yunani tidak seperti di daerah lain, saat itu Yunani tidak terikat kasta, tidak terikat oleh paham agama atau terpaku terhadap pemikiran yang disebarkan oleh pendeta, sehingga secara intelektual mereka lebih bebas dalam kehidupannya. Pada awal kemunculannya, telah penulis sebutkan di atas bahwa fokus utama dari filsafat masa itu adalah berupa penngetahuan mengenai alam semesta, baik mengenai bagaimana alam ini terbentuk, dari mana alam dibentuk. Setelah masa filsafat alam berakhir, filsafat mengalami transisi tidak lagi pada alam tetapi pada manusia. Masyarakat Yunani mulai menganggap manusia sebagai ukuran kebenaran setelah mengkaji dan mendalami manusia.  Para filsuf melahirkan zaman keemasan dan membawa berbagai perubahan hingga melahirkan keemasanya.

Perkembangan filsafat manusia lahir karena filsafat mengenai alam tidak memberikan kepuasan berarti bagi para pemikir. Mereka merasa , filsafat mengenai alam tidak mampu menjawab dan memberikan penjelasan yang memuaskan tentang manusia.  Pada masa itu, para pemikir yang terkenal adalah Socrates, Plato dan Aristoteles. Menurut Socrates pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri. Plato mengatakan bahwa realitas kenbenaran buan ada di dalam idea melainkan di alam empiris.

Pasca Aristoteles kira-kira lima abad kemudian muncul lagi pemikiran jenius seperti plotinus (284-269 SM). Zaman ini adalah zaman Hellenisme di mana perkembangan ilmu tidak mengalami kemajuan yang pesat hingga abad pertengahan. Pada masa ini pemikiran filsafat yang teoritis menjadi praktis dan hanya menjadi hidup saja (Tadjuddin, Sani, & Yeyeng, 2016). Ada beberapa faktor lahirnya filsafat di Yunani yaitu sebagai berikut :

1.    Bangsa Yunani kaya akan mitos,

2.    Karya sastra Yunani, dan

3.    Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan.

 

Bangsa Yunani kaya akan mitos dan dongeng. Mitos dan dongeng digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui. Karya sastra Yunani juga dianggap sebagai faktor lahirnya filsafat (Marzuki et al., 2021). Seperti karya Homerous memberikan pesan atau nilai-nilai edukatif sebagai pedoman hidup masyarakat Yunani. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan dari Mesir yang tidak hanya dikembangkan berdasarkan aspek praktis saja karena berkat kecakapan dan kemampuan mereka mampu menerapkannya menjadi teoritis praktis (Darusman & Wiyono, 2019). Ada 3 pembagian pemikiran filsafat yang terdapat di masa Yunani kuno. Filsafat Yunani secara umum mengkaji 3 objek yaitu:

1.    Cosmosentries

Kajian cosmosentries adalah kajian yang mencatat tentang alam, yaitu asal muasal alam dan perkembangannya yang meliputi ruang wkatu, gerak, jarak, gaya, materi, interaksi, bilangan, kualitas, kwantitas, kaulitas.

2.    Theosntris

Kajian ini adalah kajian yang membahas tentang Tuhan yang meliputi keberadaanya, kekuasaan, peran Tuhan  dan karakter-Nya.

3.    Antrophosentries

Kajian ini adalah kajian yang membicarakan tentang manusia yang membicarakan tentang asal usul, kedudukan dari objek, termasuk masalah agama dan moral.

 

Berdasarkan tiga kajian di atas, adapun pembagian kajian filosof Yunani yang membicarakan tentang alam adalah (Nasr, 2006):

1.    Thales

Ia mengatakan bahwa asal alam adalah air, menurut ahli penetapan air sebagai alam karena air dapat berapung di udara. Pemikiran Thales itu diikuti oleh pemikiran-pemikiran yang berkembang pada saat itu. jika diermati, terdapat titik singgung dengan ajaran sebagai yang dimaksud (Anda Juanda, 2016).

2.    Anaximandros

Menurutnya asal alam adalah apairon. Yiatu suatu zat yang tak terbatas dan memiliki sifat keilahian yang abadi. Adapun terjadinya alam karena proses antagonis (perlawanan antara dua unsur yang berlawanan, yaitu panas dan dingin kemudian terjadi kristalisasi sehingga menjadi unsur masing-masing dan selanjutnya unsur panas membalut unsur dingin yang mengakibatkan terjadinya perputaran, pergesekan, sehingga unsur yang dingin terbagi dua yaitu, yang mengering menjadi daratan dan yang tetap dingin menjadi lautan (Ramli, 2000). Sebagai unsur yang panas menjadi cincin matahari, bulan dan bintang.

3.    Anaximenes

Menurut beliau, benda yang tak terbatas dari segi kualitas dan kuatitas adalah udara. Pemikiran ini setara dengan dua pemikir sebelumnya.

4.    Democritos

Menurutnya asal alam, bukan air, udara melainkan dari atom yaitu benda yang palig kecil yang tidak bisa dipisah, atom-atom itu saling bergerak yang mengakibatkan tabrakan atom selajutnya membentuk kelompok-kelompok yang akhirnya menyatu dalam bentuk kosmos.

5.    Phytagoras

Bahwa segala-galanya adalah bilangan.

6.    Heracritus

Pemikiran tersebut tetap abadi sampai sekarang adalah mengenai perubahan, menurutnya segala sesuatu itu berubah, tiada yang tetap seperti air mengalir bagaikan sungai. Ia mengatakan engkau tidak bisa turun dua kali kedalam sungai yang sama.

7.    Empedokles

Unsur alam terdiri dari 4 yaitu api, air, udara dan tanah. Tapi dikaitkan dengan panas, udara dikaitkan dengan dingin, tanah dikaitkan dengan kering, dan air dikaitkan dengan basah.

 

Adapun pembagian kajian filosof Yunani yang membicarakan tentang Tuhan adalah (Husaini, 2020):

1.    Xenophanes: Tuhan itu hanya 1 yang besar di antara dewa dan manusia, ia tidak sama dengan makhluk dan tidak berpikir seperti manusia. Tuhan tidak dijadikan dan ia mengisi seluruh alam.

2.    Plato: menurutnya kebenerana itu bersumber dari ide yaitu suatu pandangan bahwa terdapat suatu dunia dibalik alam kenyataanya. Itulah hakikat dari segala yang ada. Artinya sesuatu yang kita amati sehari-hari adalah bayangan atau gambaran dari alam ide sebagai segala sumber yang ada, kebaikan keburukan. Oleh, karena itu, ide-ide itu tidak bergantung kepada pemikiran. Tetpi pemikirannya yang bergantung kepada ide. Dengan demikian ide tersebut bersifat objektif bukan obejktif. Puncak ide di jadikan sebagai kebaikan tertinggi yang disebut Idea of god yang di formulasikan.

3.    Aristoteles: menurutnya keberadaan Tuhan itu kita ketahui berdasarkan gerakan alam, karena setiap gerakan yang ada di alam ini digerakkan oleh sesuatu yang tidak bergerak, yaitu Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan adalah, sebagai peggerak utama dan sebagai tujuan gerak. Jadi sesuatu yang bergerak mustilah digerakkan oleh yang tidak bergerak dan sesuatu yang tidak bergerak itu hanya mungkin berTuhan karena ia terlepas dari materi.

 

Berdasarkan tiga kajian di atas, adapun pembagian kajian filosof Yunani yang membicarakan tentang manusia adalah (Sirait, 2021):

1.    Protogoras

Menurutnya manusia adalah ukuran segalanya, baik dan buruk, benar dan salah, semuanya di tentukan oleh manusia. Oleh karena itu, terdapat berbagai ragam kebenaran sesuai dengan apa yang diajukan setiap manusia. Akibatnya kebenaran itu relatif. Karena masing-masing memiliki standar kebenaran yang berbeda, sehingga pada akhirnya tidak ada lagi kebenaran, termasuk kebenaran agama dan moral.

2.    Gorgias

Gorgias melanjutkan ajaran Protogoras, menurutnya bukan saja kebenaran yang relatif, tetapi manusia ini pun relatif karena manusia ini tidak mampu memperoleh kebenaran. Ada tiga rumusan raltif kebenaran menurutnya, 1. Tidak ada sesuatupun, jika ada maka ia akan mengada selamanya. 2. Jikapun sesuatu itu ada, ia tak mungkin diketahui karena ia tak terhingga. 3. Jikapun kita tau sesuatu, kita tak bisa menggambarkannya kepada orang lain. Kalaupun digambarkan sesuatu yang tidak utuh.

3.    Socrates

Selain membicarakan tentang Tuhan, beliau juga membicarakan manusia. Menurutnya manusia terdiri dari dua unsur yaitu, unsur materi/badan dan non materi/jiwa. Keduanya saling berkaitan sehingga, kehilangan sesuatu akan kehilangan makna secara keseluruhan.

 

 

KESIMPULAN

 

Filsafat diawali pada abad ke-6 Sebelum Masehi. Filsafat muncul menggantikan mitos-mitos dan dongeng-dongeng yang beredar dan menjadi sistem kepercayaan masyarakat Yunani saat itu. orang-orang Yunani patuh dan menjalankan hidup dengan menjadikan mitos dan dongeng sebagai pegangan hidup dan menjadi jawaban atas pertanyaan dan masalah kehidupan. Filsafat muncul karena para pemikir tidak puas dengan jawaban dari pertanyaan yang tidak dapat dibuktikan dengan akal manusia. Para ahli pikir tersebut kemudian mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut melalui akal pikir mereka sehingga mendapatkan jawaban yang dapat diterima oleh akal.

 

BIBLIOGRAFI

 

AKRIM, AKRIM. (2022). PENDIDIKAN HUMANIS DALAM PENGELOLAAN PENDIDIKAN DI INDONESIA. Aksaqila Jabfung.

Anda Juanda, A. J. (2016). Aliran-Aliran Filsafat Landasan Kurikulum dan Pembelajaran (Dari Yunani Kuno Hingga Postmodern). CV. Confident.

Anggito, Albi, & Setiawan, Johan. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. CV Jejak (Jejak Publisher).

Anshori, Abdul Ghofur. (2018). Filsafat hukum. Ugm Press.

Darusman, Yoyon M., & Wiyono, Bambang. (2019). Teori dan Sejarah Perkembangan Hukum.

Hamdi, Sabiatul, Muslimah, Muslimah, Musthofa, Khabib, & Sardimi, Sardimi. (2021). Mengelaborasi Sejarah Filsafat Barat dan Sumbangsih Pemikiran Para Tokohnya. Jurnal Pemikiran Islam, 1(2), 151–166.

Husaini, Adian. (2020). Filsafat Ilmu: Perspektif Barat & Islam. Gema Insani.

Kahwash, Mourssi Abbas Mourssi Hassan. (2020). Penanaman Akhlak Menurut Ibnu Miskawayh (932-1030) Dan Al-Ghazali (1058-111). Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Maryanto, Maryanto, Dwi Wahyu Candra, Dewi, & Syahlan, Mattiro. (2020). Tinjauan Etnomusikologi Musik Kuriding Suku Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Marzuki, Ismail, Johra, S. Pd, Arwansyah, S. T., Asrudin, S. T., ST Zaenal, Ir, ST Harimuswarah, Muhammad Riadi, Muhammad Syahrir, S. S., Ramli, Muhammad, & ST Hadi, Akbar. (2021). Filsafat Ilmu di Era Milenial. Fakultas Teknik UNIFA.

Nasr, Seyyed Hossein. (2006). Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam. IRCiSoD.

Nurgiansah, Heru. (2021). Filsafat Pendidikan.

Rahardjo, Mudjia. (2017). Studi kasus dalam penelitian kualitatif: konsep dan prosedurnya.

Ramli, Andi Muawiyah. (2000). Peta Pemikiran Karl Marx (Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis). LKIS PELANGI AKSARA.

Sakiaddat, Irana Dewi. (2021). Filsafat.

Simarmata, Nenny Ika Putri, Hasibuan, Abdurrozzaq, Rofiki, Imam, Purba, Sukarman, Tasnim, Tasnim, Sitorus, Efbertias, Silitonga, Hery Pandapotan, Sutrisno, Eko, Purba, Bonaraja, & Makbul, Ritnawati. (2021). Metode Penelitian Untuk Perguruan Tinggi. Yayasan Kita Menulis.

Sirait, Robin. (2021). KONSEP METAFISIKA PERSPEKTIF IBNU SINA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM. HIKMAH: Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 105–119.

Susanto, Ahmad. (2021). Filsafat ilmu: Suatu kajian dalam dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bumi Aksara.

Tadjuddin, Muhammad Saleh, Sani, Mohd Azizuddin Mohd, & Yeyeng, Andi Tenri. (2016). Dunia Islam dalam Lintasan Sejarah dan Realitasnya di Era Kontemporer. Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam, 20(2), 345–358.

Vedanti, Kunti Ayu, & Unyi, Unyi. (2017). KONSEP TEOLOGI FEMINISME NYAI ENDAS BULAU LISAN TINGANG. Widya Katambung, 8(1).

Yasin, Verdi, Zarlis, Muhammad, & Nasution, Mahyuddin K. M. (2018). Filsafat Logika Dan Ontologi Ilmu Komputer. Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research, 2(2), 68–75.

Zulkarnaini, Zulkarnaini. (2018). FILSAFAT ISLAM (Kajian Filosof Klasik). Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak (JIPA), 3(4).

.

 

© 2021 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).