Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 738
Kata ilmu dahulu digunakan untuk ilmu tentang allah, ayat-ayatnya; yakni nikmat-nikmat
dan perbuatan-perbuatannya pada hamba-hambanya. Inilah mengapa terdapat lebih banyak
penjelasan tentang hakikat ilmu didalam islam melebihi apa yang ada didalam agama,
kebudayaan, dan peradaban selainnya. Hal ini terbukti bahwa al-Qur’an telah memuat
berulang kali kata ilmu dan derivasinya, yang menempati posisi kedua setelah kata tauhid.
Al-Qur’an juga menjadi sumber bagi ilmu pengetahuan dan merupan inti dari ajaran agama
Islam.
M. Quraish Shihab dengan mengutip pendapat Muthahhari bahwa ilmu dapat
mempercepat manusia sampai kepada tujuan, sementara agama menentukan arah yang
dituju, ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungan, agama menyesuaikan dengan jati
dirinya, ilmu menjadi hiasan lahir, agama menjadi hiasan batin, ilmu memberikan kekuatan
dan menerangi jalan, agama memberikan harapan dan dorongan jiwa, ilmu menjawab
pertanyaan yang diawali dengan kata bagaimana, sedangkan agama menjawab pertanyaan
yang diawalai dengan kata mengapa, ilmu dapat mengeruhkan pipi pemiliknya, sedangkan
agama memberikan ketengan bagi pemeluknya.
Dengan demikian keterkaitan antara agama dan ilmu pengetahuan. Agama dan
ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak boleh dipisahkan. Ilmu
pengetahuan dalam islam merupakan bagian dari agama, dan agama dapat dikatakan agama
apabila bisa dipahami dengan ilmu (Taufiq, 2007). Dalam perspektif islam, ilmu
merupakan pengetahuan yang mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh (ijtihad) dari
para ilmuan muslim (ulama/mujtahid) atas persoalan-persoalan duniawi dan ukhrawi
dengan bersumber kepada wahyu allah.
Namun keilmuan di Barat sangat berbeda dengan keilmuan Islam. Peradaban ilmu
Barat tidak bersandar pada wahyu otentik. Mereka memisahkan agama dari ilmu. Agama
dianggap telah mengebiri semangat keilmuan. Maka tak heran jika sekarang masyarakat
Barat banyak yang tidak menjalankan agama. Di Birmingham, beberapa gereja sudah
menjadi sarang burung. Jumlah jemaat gereja kalah banyak dibanding ‘jamaah’ yang
masuk bar dan diskotik. Orang-orang geram terhadap agama. “Lebih baik
berperikemanusiaan daripada beragama”, kata mereka. Di Nottingham, ada hasil
penelitian bahwa semakin sekuler bahkan atheis maka ia semakin cerdas, dan semakin
religius maka semakin bodoh. Agama di Barat ditindas dengan liberalisme, pluralisme,
feminisme, hedonisme, dan demokrasi beragama. Namun, lucunya mereka juga mencari
jalan spiritualitas tanpa agama. Untuk itu maka perlunya agama untuk memeperbaiki etika
seseorang dan juga akhlak. Sehingga mereka para penuntut Ilmu tidak lupa dengan
Tuhannya. Dan juga munculnya gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang di pelopori
oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas ialah untuk menghindari pengaruh perdaban barat
yang cendrung sekuler.
Bagi seorang muslim, pengetahuan bukan merupakan tindakan atau sebuah pikiran
yang terperinci dan abstrak, melainkan merupakan bagian yang paling dasar dari kemajuan
dan pandangan hidup. Islam sebagai sebuah pandangan hidup (worldview) memiliki cara
pandang yang berbeda dengan cara pandang agama dan peradaban lain dalam melihat
sesuatu. Cara pandang ini tercermin dan terakumulasi dalam konsep-konsep kunci yang
dipahami dari sumber utama ajaran islam yakni al-Qur’an dan Sunnah. Misalnya, terkait
dengan konsep ilmu. Konsep ilmu dalam islam berbeda sekali dengan apa yang dimaksud
dengan ilmu dalam peradaban barat.