JOSR: Journal of Social Research
Maret 2022, 1 (3), 736-747
p-ISSN: 2827-9832 e-ISSN: 2828-335x
Available online at http:// https://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
http://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
KONSEP ILMU DALAM ISLAM MENURUT PROF WAN MOH NOR
WAN DAUD
Sabila Akbar
1
, Salminawati
2
Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SU, Dosen Studi Filsafat dan Sains Islam
sabilrumi4@gmail.com, salminawati01@gmail.com
Abstrak (indonesia)
Received:
Revised :
Accepted:
07-03-2022
16-03-2022
25-03-2022
Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud memberikan penjelasan
bahwa dari segi linguistic, ilm berasal dari akar kata ‘ain-
lam-mim yang diambil dari kata ‘alamah, yaitu tanda,
penunjuk, atau petunjuk yang dengan sesuatu atau seseorang
diikenal; kognisi atau label; ciiri; petunjuk; tanda. Dengan
demikian, ma’lam (jamak, ma’alim) berarti tanda jalan atau
sesuatu yang dengannya seseorang membimbing dirinya atau
sesuatu yang membimbing seseorang. Seiring dengan hal itu,
maka ‘alam dapat pula diartikan sebagai petunjuk jalan, dan
bukan tanpa alasan jika penggunaan istilah ayah (jamak,
ayat) dalam al-qur’an yang secara literal berarti tanda yang
merujuk pada ayat-ayat al-qur’an dan fenomena alam.
Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud Konsep ilmu
dalam Islam mempunyai beberapa ciri utama. Ilmu itu tidak
terbatas sebab ia berpuncak daripada Allah SWT yang Maha
Mengetahui dan berakhir dengan-Nya. Oleh karena itu ilmu
adalah satu aspek daripada ketuhanan, maka mencari,
menambah dan mengajarkannya dianggap sebagian daripada
amal ibadah yang paling penting. Penggunaan ilmu dengan
tepat dan ikhlas dalam kehidupan pribadi dan kolektif kita
menjadi asas kepada takwa.
Kata kunci: Konsep, Ilmu, Islam
Abstract (English)
Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud explained that from a
linguistic point of view, 'ilm comes from the root word 'ain-
lam-mim which is taken from the word 'alamah, which is a
sign, pointer, or guide that is known by something or
someone; cognition or label; feature; instruction; sign.
Thus, ma'lam (plural, ma'alim) means a sign of the way or
something by which a person guides himself or something
that guides someone. Along with this, 'nature can also be
interpreted as a guide to the way, and it is not without
reason that the use of the term father (plural, verse) in the
Qur'an which literally means a sign that refers to the verses
of the Qur'an. and natural phenomena. According to Prof.
Wan Mohd Nor Wan Daud The concept of knowledge in
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 737
Islam has several main characteristics. Knowledge is not
limited because it culminates in Allah, the All-Knowing and
ends with Him. Therefore knowledge is an aspect of divinity,
so seeking, adding to and teaching it is considered one of
the most important acts of worship. The proper and sincere
use of knowledge in our personal and collective lives
becomes the principle of piety.
Keywords: Concept, Science, Islam.
*Correspondent Author :
Email : sabilrumi4@gmail.com
PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan
penggunaan kekuatan pemikiran, dimana pengetahuan tersebut selalu dapat diperiksa dan
ditelaah secara kritis. Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk lebih mengetahui dan
mendalami segala segi kehidupan. Ilmu pengetahuan timbul karena adanya hasrat ingin
tahu dalam diri manusia (Soekanto, 1986).
Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud memberikan penjelasan bahwa dari segi
linguistic, ‘ilm berasal dari akar kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari kata alamah, yaitu
tanda, penunjuk, atau petunjuk yang dengan sesuatu atau seseorang diikenal; kognisi atau
label; ciri; petunjuk; tanda. Dengan demikian, ma’lam (jamak, ma’alim) berarti tanda jalan
atau sesuatu yang dengannya seseorang membimbing dirinya atau sesuatu yang
membimbing seseorang. Seiring dengan hal itu, maka ‘alam dapat pula diartikan sebagai
petunjuk jalan, dan bukan tanpa alasan jika penggunaan istilah ayah (jamak, ayat) dalam
al-qur’an yang secara literal berarti tanda yang merujuk pada ayat-ayat al-qur’an dan
fenomena alam. (Husaini & Kania, 2013)
Sedangkan kata ilmu, alam, dan ‘ilm (dengan makna yakin), memiliki akar kata
yang sama, karena alam jika dipahami sebagai ayat allah, akan menghasilkan ilmu yang
mengantarkan manusia kepada keyakinannya terhadap allah. Karena itulah, allah
memperingatkan nanti diakhirat, neraka jahanam akan dijejali dengan manusia-manusia
dan jin yang mereka memiliki mata, tetapi tidak memahami ayat-ayat allah. Begitu pula
telinga dan akal mereka tidak sampai mengantarkan mereka pada pemahaman dan
keimanan kepada allah, yang mereka sendiri seperti halnya binatang ternak, bahkan lebih
sesat.
Pada hakikatnya ilmu pengetahuan bertujuan nntuk mencari kebenaran ilmiah yang
sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Dengan ilmu pengetahuan maka setiap manusia akan
bisa mendapatkan sebuah kebenaran melalui proses-proses tertentu baik dengan melakukan
penelitian ilmiah maupun dengan berbagai cara yang lainnya. Ilmu pengetahuan dipandang
sebagai kebutuhan manusia dalam mencapai kesejahteraan hidup didunia dan memberikan
kemudahan dalam mengenal tuhan.
Bahkan dalam ajaran agama Islam memandang ilmu sebagai sebuah sarana yang
sangat penting untuk mengenal dan mengetahui al-haqq yaitu Allah SWT (Al-Attas, 2010).
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 738
Kata ilmu dahulu digunakan untuk ilmu tentang allah, ayat-ayatnya; yakni nikmat-nikmat
dan perbuatan-perbuatannya pada hamba-hambanya. Inilah mengapa terdapat lebih banyak
penjelasan tentang hakikat ilmu didalam islam melebihi apa yang ada didalam agama,
kebudayaan, dan peradaban selainnya. Hal ini terbukti bahwa al-Qur’an telah memuat
berulang kali kata ilmu dan derivasinya, yang menempati posisi kedua setelah kata tauhid.
Al-Qur’an juga menjadi sumber bagi ilmu pengetahuan dan merupan inti dari ajaran agama
Islam.
M. Quraish Shihab dengan mengutip pendapat Muthahhari bahwa ilmu dapat
mempercepat manusia sampai kepada tujuan, sementara agama menentukan arah yang
dituju, ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungan, agama menyesuaikan dengan jati
dirinya, ilmu menjadi hiasan lahir, agama menjadi hiasan batin, ilmu memberikan kekuatan
dan menerangi jalan, agama memberikan harapan dan dorongan jiwa, ilmu menjawab
pertanyaan yang diawali dengan kata bagaimana, sedangkan agama menjawab pertanyaan
yang diawalai dengan kata mengapa, ilmu dapat mengeruhkan pipi pemiliknya, sedangkan
agama memberikan ketengan bagi pemeluknya.
Dengan demikian keterkaitan antara agama dan ilmu pengetahuan. Agama dan
ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak boleh dipisahkan. Ilmu
pengetahuan dalam islam merupakan bagian dari agama, dan agama dapat dikatakan agama
apabila bisa dipahami dengan ilmu (Taufiq, 2007). Dalam perspektif islam, ilmu
merupakan pengetahuan yang mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh (ijtihad) dari
para ilmuan muslim (ulama/mujtahid) atas persoalan-persoalan duniawi dan ukhrawi
dengan bersumber kepada wahyu allah.
Namun keilmuan di Barat sangat berbeda dengan keilmuan Islam. Peradaban ilmu
Barat tidak bersandar pada wahyu otentik. Mereka memisahkan agama dari ilmu. Agama
dianggap telah mengebiri semangat keilmuan. Maka tak heran jika sekarang masyarakat
Barat banyak yang tidak menjalankan agama. Di Birmingham, beberapa gereja sudah
menjadi sarang burung. Jumlah jemaat gereja kalah banyak dibanding ‘jamaah’ yang
masuk bar dan diskotik. Orang-orang geram terhadap agama. Lebih baik
berperikemanusiaan daripada beragama, kata mereka. Di Nottingham, ada hasil
penelitian bahwa semakin sekuler bahkan atheis maka ia semakin cerdas, dan semakin
religius maka semakin bodoh. Agama di Barat ditindas dengan liberalisme, pluralisme,
feminisme, hedonisme, dan demokrasi beragama. Namun, lucunya mereka juga mencari
jalan spiritualitas tanpa agama. Untuk itu maka perlunya agama untuk memeperbaiki etika
seseorang dan juga akhlak. Sehingga mereka para penuntut Ilmu tidak lupa dengan
Tuhannya. Dan juga munculnya gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang di pelopori
oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas ialah untuk menghindari pengaruh perdaban barat
yang cendrung sekuler.
Bagi seorang muslim, pengetahuan bukan merupakan tindakan atau sebuah pikiran
yang terperinci dan abstrak, melainkan merupakan bagian yang paling dasar dari kemajuan
dan pandangan hidup. Islam sebagai sebuah pandangan hidup (worldview) memiliki cara
pandang yang berbeda dengan cara pandang agama dan peradaban lain dalam melihat
sesuatu. Cara pandang ini tercermin dan terakumulasi dalam konsep-konsep kunci yang
dipahami dari sumber utama ajaran islam yakni al-Qur’an dan Sunnah. Misalnya, terkait
dengan konsep ilmu. Konsep ilmu dalam islam berbeda sekali dengan apa yang dimaksud
dengan ilmu dalam peradaban barat.
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 739
Konsep ilmu dalam islam juga berorientasi kepada ciri-ciri Ilmu didalam al-Qur’an
dan sunnah yang mana membahas kepada persoalan asal Ilmu dan hubungannya dengan
tuhan, Ilmu dan kebenarannya, dan juga ketidakterbatasan ilmu pengetahuan. Konsep ilmu
dalam islam juga berimplikasi pada orientasi tujuan pendidikan islam yang juga berbeda
dengan orientasi tujuan pendidikan model barat. Yakni mewujudkan manusia-manusia
yang beradab dan juga memiliki intelektual yang baik sehingga nantinya mampu untuk
melaksankan perintah allah yang mana sebagai khalifah dibumi dan sebagai hamba allah
seperti yang dikata Prof. Wan Mohd Nor Wan daud dalam buku Konsep Ilmu Dalam Islam.
Dengan ini, penulis akan berupaya menguraikan penjelasan mengenai konsep Ilmu
dalam islam dengan pemikiran Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud Pandangan beliau
mengenai ilmu pengetahuan dalam islam menjelaskan bahwa agama islam memberikan
perhatian yang cukup besar terhadap ilmu pengetahuan.Al-Quran merupakan sumber ilmu
dalam ajaran islam dan tuhan merupakan satu satunya sumber ilmu yang mutlak dan tidak
terbatas.
Oleh sebab itu, penulis termotivasi untuk mengkaji lebih jauh tentang Konsep Ilmu
Dalam Islam Menurut Prof Wan Mohd Nor Wan Daud.”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang berbentuk library
research (penelitian pustaka). Jenis penelitiannya adalah deskriptif verivikatif.
Penelitian ini dilaksanakan untuk menggambarkan dan menjelaskan konsep ilmu dalam
Alquran dan perwujudan ilmu yang ada di dalam Alquran dengan menggunakan pendekatan
ilmu tafsir. Pendekatan ilmu tafsir disini adalah pendekatan yang menggunakan
beberapa kitab tafsir dalam mendeskripsikan dan menganalisis data ayat. Kemudian,
metode yang digunakan adalah metode atau cara kerja tafsir mauḍū’īy (tematik).
Untuk mengkajidan meneliti makna ilmu dalam Al-Quran, diperlukan beberapa
sumber yang relevan baik sumber-sumber primer maupun sumber-sumber sekunder.
3Ali Masrur” Relasi Iman dan Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Al-Qur’an (Sebuah
Kajian Tafsir Maudhu’i) Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1,1 (Juni 2016): 35-
52. 4Jamal Fakhri,Sains dan Teknologi dalam Alquran dan Implikasinyadalam
Pembelajaran, Jur’nal Ta’dib, Vol. XV No. 01. Edisi, Juni 2010.Vol. 7, No. 1,Maret2021P-
ISSN : 2085-2487; E-ISSN : 2614-3275Risâlah,Jurnal Pendidikan dan Studi
Islamhttps://jurnal.faiunwir.ac.id/index.php/Jurnal_Risalah115Andi Baso D., A. Abu
Bakar, & M. Sadik SabryKonsep Ilmu dalam Perspektif......Sumber primer adalah sumber
utama untuk mengkaji persoalan yang akan diteliti. Alquran sebagai sumber data
primer, namun untuk keperluan analisis guna menginterpretasi data primer, maka
dibutuhkan data skunder diantaranya: Kitab-kitab tafsir dan hadis yang relevan dengan
permasalahan, buku buku yang relevan serta ensinklopedia dan kamus seperti al-
Mu’jam al-Mufahras li Alfāẓal-Qur’ān al-Karīm karya Muhammad Fuād Abd al-Bāqīdan
lainnya.
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 740
HASIL DAN PEMBAHASAN
Islam dan Ilmu Pengetahuan
Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud pandangan islam mengenai ilmu
pengetahuan meliputi yang zahir dan yang ghaib, dan juga meliputi duniawi dan ukhrawi.
Uraian ini berdasarkan al-Qur’an serta tindakan dan perkataan-perkataan Nabi Muhammad
(sunnah) yang sahih dan juga kriteria yang berharga bagi menilai prestasi Islam dalam
sejarah. Penjelasan mengenai pandangan islam terhadap ilmu pengetahuan merujuk kepada
konsep tuhan yang mana Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud menjelaskan bahwa aspek
ketuhanan yang paling penting didalam al-Qur’an adalah keesaannya. Mempersaksikan
keesaannya adalah sebuah aspek pengajaran didalam Islam yaitu ilmu tauhid.
Islam memandang ilmu sebagai sebuah sarana yang sangat penting untuk
mengenal dan mengetahui al-Haqq.Inilah mengapa terdapat lebih banyak penjelasan
tentang hakikat ilmu di dalam Islam melebihi apa yang ada dalam agama, kebudayaan, dan
peradaban selainnya (Al-Attas, 2010).
Sebagai bukti, al-Qur’an memuat berulang kali kata ilmu dan derivasinya, yang
menempati posisi kedua setelah kata tauhid. Tidak hanya itu, dalam Shahih Bukhari, bab
ilmu (kitāb al-‘ilm) juga diletakkan bersandingan dengan bab iman (Kitāb al-īman). Sebuah
penjelasan bahwa dalam al-Qur’an dan al-Sunnah konsep ilmu (‘ilm) menjadi konsep
terpenting dan komprehensif setelah iman.
Dalam ajaran agama Islam tidak ada yang namanya pemisahan antara agama
(al-din) dan ilmu (al-‘ilm). Ilmu dalam keadaan demikian adalah ilmu yang memiliki kaitan
dengan masalah-masalah dengan asal-usul, pertumbuhan dan perjalanan manusia dengan
orientasi transendental dan dengan nilai-nilai Kerohanian. Hasan ‘Abd al-Ala berpendapat
bahwa dengan cara yang memisahkan antara ilmu dan agama dari sudut pandang di atas
jelas keliru. Sebagai konsekuensi dari tidak adanya pemisahan antara ilmu dan agama,
dapat pula ditegaskan bahwa tidak ada pemisahan antara apa yang disebut dengan ilmu
agama dan ilmu umum. Seluruh ilmu adalah Islami sepanjang berada dalam batas-batas
yang digariskan Allah SWT kepada kita (Indra, 2005).
Menurut M. Quraish Shihab, bahwa membahas hubungan al-Qur’an dengan ilmu
pengetahuan bukan dengan melihat, misalnya, adakah teori relativitas atau bahasan tentang
angkasa luar atau ilmu kontemporer tercantum dalam al-Qur’an; tetapi yang lebih utama
adalah dengan melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan
atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan hasil
penemuan ilmiah yang mapan?. Dengan kata lain, meliihat hubungan al-Qur’an dengan
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 741
ilmu pengetahuan dilakukan dengan meletakannya pada sisi “social psychology(psikologi
sosial)-nya, dan bukan pada sisi history of scientific progress” (sejarah perkembangan
ilmu pengetahuan)-nya (Quraish, 1996).
Selain itu, bahwa dalam pandangan al-Qur’an, upaya mewujudkan iklim
pengetahuan adalah jauh lebih penting daripada menemukan teori ilmiah. Al-Qur’an
sebagai kitab yang memberikan petunjuk kepada manusia untuk kebahagian hidup didunia
dan akhirat, dan dalam hubunganya dengan ilmu pengetahuan adalah mendorong manusia
seluruhnya untuk menggunakan akal pikirannya serta menambah ilmu pengetahuan sebisa
mungkin dengan cara menjadikan observasi atas alam semesta sebagai alat untuk percaya
kepada setiap penemuan yang baru atau teori ilmiah untuk dicarikan dalilnya didalam al-
Qur’an untuk dibenarkan atau dibantahnya.
Dengan demikian, membicarakan pandangan al-Qur’an terhadap ilmu
pengetahuan bukan ditujukan untuk melihat tentang banyaknya atau tidak adanya teori-
teori ilmu pengetahuan di dalam al-Qur’an, melainkan untuk melihat adakah ayat-ayat al-
Qur’an bertentangan dengan berbagai temuan ilmu pengetahuan, serta dengan melihat
adakah al-qur’an memberikan dorongan (sprit), arahan, bimbingan, dan pedoman bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan kata lain, melihat hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, bukan
dilihat dari sejarah perkembanngan ilmu pengetahuan, melainkan dilihat dari adakah spirit
al-Qur’an dalam mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini penting untuk
dipahami, karena realitanya masih terdapat pandangan simpang siur tentang pandangan al-
Qur’an terhadap al-qur’an.
Selain al-Qur’an, Rasulullah saw juga memerintahkan kaum Muslimin untuk
menuntut ilmu. Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud Rasulullah SAW adalah sebagai
sumber ilmu pengetahuan. Yang mana sifat-sifat dan kewajiban sunnah Rasulullah sebagai
sumber ilmu dan petunjuk. Al-Qur’an sangat lengkap dengan mengatakan bahwa Nabi
Muhammad SAW sama halnya dengan nabi yang lain Cuma seorang manusia biasa. Selain
akhlaknya yang mulia, keutaman baginda Nabi Muhammad SAW terletak sebagai
penerima wahyu.
Rasulullah saw juga menyatakan orang yang mempelajari ilmu, maka
kedudukannya sama seperti seorang yang sedang berjihad di medan perjuangan.
Rasulullah saw bersabda:
Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud Ilmu yang dianugrahkan kepada para
nabi mencerminkan kesempurnaan dan kelengkapan ciri konsep Ilmu dan nubuwwah
dalam Islam. Nabi Muhammad SAW dikatakan semua umat Islam sebagai al-nabi al-
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 742
ummi, atau nabi yang buta huruf. Namun demikian, adapun sunnahnya lengkap dengan
aphorisme dan tindakan-tindakan yang meenguatkan konsep Ilmu dalam al-Qur’an dan
menjadi pencetus dan kekuatan untuk mendorong bagi pembangunan intelektual dan
tamadun masa depan dalam Islam.
Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa manusia terbagi kepada Ilmu (alim)
dan penuntut (Muta’alim); selainnya adalah tdiak berguna (Hamaj). Sesungguhnya Allah
dan seluruh alam termasuk semut dan ikan mendoakan kebaikan untuk para guru-guru.
Ulama adalah pewaris Nabi, tinta para ulama lebih berat dari pada para syuhada’ di hari
Akhirat. Penuntut Ilmu dianggap berjihad dijalan Allah sampai dia pulang. Allah akan
memudahkan jalan menuju syurga bagi mereka yang menuntut Ilmu.
Para sahabat juga menyatakan bahwa sangat penting bagi seluruh kaum Muslimin
memiliki ilmu pengetahuan. Seperti Ali bin Abi Talib ra., berkata : Ilmu lebih baik dari
pada harta, oleh karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang
menjagamu. Harta akan lenyap atau hilang ketika akan dibelanjakan, sementara ilmu akan
berkembang dan berguna jika diinfakkan atau diajarkan kepada setiap manusia. Ilmu adalah
sebagai penguasa, sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati mereka para penyimpan
harta padahal harta mereka masih hidup, sementara ulama atau orang alim yang berilmu
akan tetap terus hidup sepanjang masa. Jasa-jasa dan perjuangan mereka mungkin akan
hilang akan tetapi pengaruh mereka tetap ada/membekas di dalam hati.”
Mu’az bin Jabal ra. mengatakan: “Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk
mencari keridhaan Allah adalah ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya
adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan
mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan
ilmu pula Alah diagungkan dan ditauhidkan. Allah mengangkat (kedudukan) suatu kaum
dengan ilmu, dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan Imam bagi manusia, manusia
mendapat petunjuk melalui perantaraan mereka dan akan merujuk kepada pendapat
mereka.”
Bukan saja dalam ilmu-ilmu agama, ulama kita yang berwibawa telah mewariskan
kita berbagai karya yang sehingga kini masih selalu kita rasakan manfaatnya. Dalam bidang
ilmu pengetahuan umum pun, para pemikir Muslim terdahulu sangat berperan. Al-
Khawarizmi, Bapak matematika, misalnya, dengan gagasan al-jabarnya telah sangat
mempengaruhi perkembangan ilmu matematika. Tanpa pemikiran al-Khawarizmi, tanpa
sumbangan angka-angka Arab, maka sistem penulisan dalam matematika merupakan
sebuah kesulitan. Sebelum memakai angka-angka Arab, dunia Barat bersandar kepada
sistem angka Romawi.
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 743
Terbayang oleh kita betapa rumit, dan bertele-telenya sistem penulisan angka
Romawi. Dengan penggunaan angka-angka Romawi, maka akan banyak memakan waktu
dan tenaga untuk mengoperasikan sistem hitungan. Seandainya dunia Barat masih berkutat
dengan menggunakan angka Romawi, tentunya mereka masih mundur. Sebabnya, angka
Romawi tidak memiliki kesederhanaan. Namun, disebabkan sumbangan angkaangka Arab,
disebabkan sumbangan pemikiran al-Khawarizmi, maka pengerjaan hitungan yang rumit
pun menjadi lebih sederhana dan mudah. Menarik untuk dicermati, al-Khawarizmi menulis
karyanya dalam bidang matematika karena didorong oleh motivasi agama untuk
menyelesaikan persoalan hukum warisan dan hukum jual beli.
Disebabkan kehebatan kaum Muslimin dalam bidang ilmu pengetahuan, maka
sebenarnya pada zaman kegemilangan kaum Muslimin, orang-orang Barat meniru
kemajuan yang telah diraih oleh orang-orang islam. Jadi, kegemilangan Barat saat ini tidak
terlepas dari pada sumbangan pemikiran kaum Muslimin pada saat itu. Hal ini telah diakui
oleh para sarjana Barat.
Pembagian Ilmu Dalam Islam
Secara umum ilmu dalam Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok
yang meliputi; metafisika menempati posisi tertinggi, disusul kemudian oleh matematika,
dan terakhir ilmu-ilmu fisik. Melalui tiga kelompok ilmu tersebut, lahirlah berbagai disiplin
ilmu pengetahuan, misalnya; dalam ilmu-ilmu metafisika (ontologi, teologi, kosmologi, an
gelologi, dan eskatologi), dalam ilmu-ilmu matematika (geometri, aljabar, aritmatika,
musik, dan trigonometri), dan dalam ilmu-ilmu fisik (fisika, kimia, geologi, geografi,
astronomi, dan optika) (Kartanegara, 2002)
Dalam perkembangan berikutnya, seiring dengan perkembangan zaman,
kemajuan ilmu pengetahuan, dan untuk tujuan-tujuan praktis, sejumlah ulama berupaya
melakukan klasifikasi ilmu. Al-Ghazālī membagi ilmu menjadi dua bagian; ilmu fardlu
‘ain dan ilmu fardlu kifāyah. Para ulama kita juga memadukan ilmu dengan amal. Hal ini
serupa dengan yang dikatakan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, bahwasannya dalam
Islam kewajiban-kewajiban bagi Ilmu dan Amal itu dibagikan kepada fard’ain dan fard
kifayah, menurut keadaan-keadaan tertentu individu (ilm al-hal).
Ilmu fardlu ‘ain adalah ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim terkait dengan
tatacara melakukan perbuatan wajib, seperti ilmu tentang salat, berpuasa, bersuci, dan
sejenisnya. Sedangkan ilmu fardlu kifāyah adalah ilmu yang harus dikuasai demi tegaknya
urusan dunia, seperti; ilmu kedokteran, astronomi, pertanian, dan sejenisnya. Dalam ilmu
fardlu kifāyah tidak setiap muslim dituntut menguasainya. Yang penting setiap kawasan
ada yang mewakili, maka kewajiban bagi yang lain menjadi gugur.
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 744
Al-Ghazālī masih membagi ilmu menjadi dua kelompok, yaitu; ilmu syarī’ah dan
ilmu ghair syarī’ah. Semua ilmu syarī’ah adalah terpuji dan terbagi empat macam; pokok
(ushūl), cabang (furū’), pengantar (muqaddimāt), dan pelengkap (mutammimāt). Ilmu
ushūl meliputi; al-Qur’ān, Sunnah, Ijmā’ Ulamā’, dan Atsār Shahābāt. Ilmu furū’ meliputi;
Ilmu Fiqh yang berhubungan dengan kemaslahatan dunia, dan ilmu tentang hal-ihwal dan
perangai hati, baik yang terpuji maupun yang tercela.
Ilmu muqaddimāt dimaksudkan sebagai alat yang sangat dibutuhkan untuk
mempelajari ilmu-ilmu ushūl, seperti ilmu bahasa Arab (Nahw, Sharf, Balāghah). Ilmu
mutammimāt adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu al-Qur’ān seperti; Ilmu
Makhārij al-Hurūf wa al-Alfādz dan Ilmu Qirā’at. Sedangkan ilmu ghair syarī’ah oleh al-
Ghazālī dibagi tiga; ilmu-ilmu yang terpuji (al-‘ulūm al-mahmūdah), ilmu-ilmu yang
diperbolehkan (al-‘ulūm al-mubāhah), dan ilmu-ilmu yang tercela (al-‘ulūm al-
madzmūmah).
Ilmu yang terpuji adalah ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan umat
manusia seperti kedokteran, pertanian, teknologi. Ilmu yang dibolehkan adalah ilmu-ilmu
tentang kebudayaan seperti; sejarah, sastra, dan puisi yang dapat membangkitkan
keutamaan akhlak mulia. Sedangkan ilmu yang tercela adalah ilmu-ilmu yang dapat
membahayakan pemiliknya atau orang lain seperti; ilmu sihir, astrologi, dan beberapa
cabang filsafat.
Al-Farābī mengelompokkan ilmu pengetahuan ke dalam lima bagian, yaitu;
pertama, ilmu bahasa yang mencakup sastra, nahw, sharf, dan lain-lain. Kedua, ilmu logika
yang mencakup pengertian, manfaat, silogisme, dan sejenisnya. Ketiga, ilmu propadetis,
yang meliputi ilmu hitung, geometri, optika, astronomi, astrologi, musik, dan lain-lain.
Keempat, ilmu fisika dan matematika. Kelima, ilmu sosial, ilmu hukum, dan ilmu kalam.
Nurcholish Madjid, cendekiawan muslim asal Indonesia, mengelompokkan ilmu-
ilmu keislaman ke dalam empat bagian yaitu; Ilmu Fiqh, Ilmu Tasawuf, Ilmu Kalam, dan
Ilmu Falsafah.
Ilmu Fiqh membidangi segi-segi formal peribadatan dan hukum, Ilmu
Tasawuf membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan keagamaan yang lebih
bersifat pribadi, Ilmu Kalam membidangi segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai
derivasinya, sedangkan Ilmu Falsafah membidangi hal-hal yang bersifat perenungan
spekulatif tentang hidup dalam arti seluas-luasnya. Termasuk dalam lingkup Ilmu Falsafah
adalah “ilmu-ilmu umum” seperti; metafisika, kedokteran, matematika, astronomi,
kesenian.
Klasifikasi ilmu-ilmu keislaman yang dilakukan para ilmuwan muslim di atas
mempertegas bahwa cakupan ilmu dalam Islam sangat luas, meliputi urusan duniawi dan
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 745
ukhrāwi. Yang menjadi batasan ilmu dalam Islam adalah; bahwa pengembangan ilmu harus
dalam bingkai tauhid keislaman dalam kerangka pengabdian kepada Allah, dan untuk
kemaslahan umat manusia. Dengan demikian, ilmu bukan sekedar ilmu, tapi ilmu untuk
diamalkan. Dan ilmu bukan tujuan, melainkan sekedar sarana untuk mengabdi kepada
Allah dan kemaslahatan umat.
Ilmu dalam Islam Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud
Secara dasar pandangan islam diasaskan atas empat idea pokok dan diresapi
olehnya. Idea satu Tuhan yang hidup, Mahakuasa, Maha Melihat, Maha Pengasih
lagi Maha Adil; idea tempat akhir insan sebagai hamba-Nya dan khalifah-Nya
dibumi yang dianugrahkan dengan kebebasan dan tanggung jawab ke atasnya; idea
kenabian yang raison d’etrenya adalah membimbing manusia ke arah
merealisasikan sebaik mungkin matlamat akhirnya; idea hakikat (reality) yang
berbagai sisi dan keberbagaian kehidupan yang merupakan manifestasi dari (ayat)
Tuhan Allah SWT, yang berfungsi sebagai bantuan dan kemudahan bagi faedah
insan dalam usahanya mencari suatu kewujudan yang bermakna; dan idea
pengadilan di akhirat yang nantinya akan membawa kita kepada ganjaran baik atau
siksaan yang teramat pedih.
Konsep ilmu dalam Islam mempunyai beberapa ciri utama. Ilmu itu tidak
terbatas sebab ia berpuncak daripada Allah SWT yang Maha Mengetahui dan
berakhir dengan-Nya. Oleh karena itu ilmu adalah satu aspek daripada ketuhanan,
maka mencari, menambah dan mengajarkannya dianggap sebagian daripada amal
ibadah yang paling penting. Penggunaan ilmu dengan tepat dan ikhlas dalam
kehidupan pribadi dan kolektif kita menjadi asas kepada takwa.
Oleh karena itu konsep ilmu adalah satu konsep yang bersepadu; sama ada
dalam sumbernya yang mana sumber wahyu dan sumber utama yaitu al-Qur’an dan
al-Hadist yang normatif diperlukan disamping sumber-sumber yang didapati dalam
alam sejagat, sejarah dan pengalaman dalam insan maupun dalam kesannya yang
melahirkan ketenangan kerohanian dan amal shalih yang menghasilkan pula
keadilan yang sebenarnya.
Pengajaran yang didapat dari dua sumber asas epistemologi Islam ini
memberi kestabilan dan panduan untuk menangani segala perubahan dalam
kehidupan dan sekitar insan. Pada waktu yang sama, penemuan-penemuan baru
yang kukuh dalam pengalaman dalam insan, sejarah dan fenomena tabii akan
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 746
menyediakan saluran bagi pentafsiran semasa akan ajaran-ajaran daripada sumber
sumber Islam yang asas. Cabaran terbesar yang masih dihadapi oleh umat Islam
adalah pemahaman yang jitu akan roh al-Qur’an dan al-Hadist yang shahih secara
umum dan makna-makna bagi penguraian fenomena tabii, sejarah dan psikologi
yang berterusan. Ini memerlukan konsep pendidikan seumur hidup, bukan sahaja
sebagai kewajiban profesional tetapi lebih penting lagi sebagai tuntutan keagamaan.
Seorang Muttaqi (yang bertakwa) ialah seseorang yang memiliki semua ciri
hamba yang berilmu dan khalifah Allah SWT dibumi yang bertanggung jawab dan
adil, justru itu memenuhi tujuan penciptaan insan. Proses ini Cuma dapat dicapai
melalui konsep dan amalan pendidikan yang dianggap bersifat sepanjang hayat dan
komprehensif.
Oleh karena itu tanggung jawab terhadap pendidikan adalah kewajiban
semua umat Islam dan peluang bagi pendidikan secara teori dan amali terbuka
kepada semua, maka Islam akan mendapat manfaat terbesar daripada
pendemokrasian pendidikan dan akan menjadi yang paling mudah disesuaikan
dengan kemodrenan
KESIMPULAN
Maka dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa konsep ilmu dalam
islam menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud adalah sebuah konsep yang
berlandaskan atas empat idea pokok yang harus diresapi:
1. Idea tentang konsep Tuhan merupakan puncak dari segala sumber ilmu dan
tak terbatas, ini dilihat daripada arti kata Ilmu itu sendiri yang menunjukan
Maha Mengetahui, dialah Allah SWT yang mengetahui seluruh isi langit
dan bumi.
2. Idea tentang Al-Qur’an dan Hadist Nabi sebagai sumber utama berbagai
ilmu pengetahuan.
3. Idea tentang islamisasi ilmu merupakan sebuah gagasan yang melahirkan
manusia yang berakhlak mulia dan sempurna adabnya.
Idea tentang manusia sebagai hamba Allah dan khalifah dimuka bumi yang
merupakan tujuan dari pendidikan.
Sabila Akbar, Salminawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(3), 736-747
Konsep Ilmu Dalam Islam Menurut Prof Wan Moh Nor Wan Daud 747
BIBLIOGRAFI
Al-Attas, Syed M. Naquib. (2010). Islam dan Sekularisme, terj: Khalif Muammar.
Percetakan Pimpin, Bandung.
Husaini, Adian, & Kania, Dinar Dewi. (2013). Filsafat ilmu perspektif barat dan
Islam. Jakarta: Gema Insani.
Indra, Hasbi. (2005). Pendidikan Islam Melawan Globalisasi. Ridamulia.
Kartanegara, R. Mulyadhi. (2002). Menembus batas waktu: panorama filsafat
Islam. Mizan.
Quraish, Shihab M. (1996). Wawasan al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Soekanto, Soerjono. (1986). Sosiologi: suatu pengantar.
Taufiq, M. Izuddin. (2007). Panduan lengkap dan praktis psikologi Islam. Gema
Insani.
.
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the
terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA)
license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).