INTEGRASI ILMU AGAMA DAN SAINS TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MODERN

 

 

Aidil Ridwan Daulay1, Salminawati2

Universitas Islam Negeri Sumatera, Indonesia

airiddaulay11@gamil.com

 

 

 

Abstrak (indonesia)

Received:

Revised  :

Accepted:

10-03-2022

15-03-2022

25-03-2022

Ilmu pengetahuan dan Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam terbentuknya integrasi keilmuan yang mumpuni. Di zaman modern ini, sangat dibutuhkan, apalagi pada pendidikan Islam penggabungan antara pelajaran berbasis agama dan umum. Lembaga pendidikan yang mumpuni dan mampu menampung integrasi kelimuan itupun harus diperhatikan serta dapat diwujudkan melalui penerapan Integrasi Ilmu Agama dan Sains Terhadap Pendidikan Islam di Era Modern ini. Beberapa konsep telah dihadirkan para ahli demi terwujudnya integrasi keilmuan ini yaitu adanya konsep Filosofis, Materi, Metodologi dan Strategi. Implikasinyapun dapat dilihat dari beberapa segi diantaranya dilihat dari Kurikulum, Proses Belajar Mengajar dan Aspek Pendidikan Sosial. Dari sinilah dapat melahirkan lembaga pendidikan yang mumpuni yang dapat menampung kebutuhan yang menggabungkan antara Ilmu Agama dan Sains, bukan dikotomi keilmuan

 

Kata kunci: Integrasi Ilmu; Agama, Sains; Pendidikan Islam

 

 

 

 

Abstract (English)

 

Science and Education have a very important role in the formation of a capable scientific integration. In this modern era, it is very much needed, especially in Islamic education, combining religion-based and general lessons. Educational institutions that are qualified and able to accommodate the integration of science and even then must be considered and can be realized through the application of the Integration of Religion and Science to Islamic Education in this Modern Era. Several concepts have been presented by experts for the realization of this scientific integration, namely the existence of Philosophy, Material, Methodology and Strategy. The implications can be seen from several aspects including the curriculum, teaching and learning process and aspects of social education. From here, it can give birth to a qualified educational institution that can accommodate the need that combines Religion and Science, not a scientific dichotomy

Keywords: Integration of Science; Religion, Science; Islamic Education

*Correspondent Author : Aidil Ridwan Daulay

Email : airiddaulay11@gamil.com

 

 

PENDAHULUAN

 

Ilmu dan pendidikan pada dasarnya tidak bisa untuk dipisahkan, konsep ilmu diperoleh melalui jalur pendidikan dan dengan pendidikan itu ilmu akan berkembang apalagi pada ilmu yang membahas tentang agama dan sains. Secara bahasa, Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan (Inggris: science; Arab: العِلْـمُ) adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia (Yahya, n.d.).

Ilmu pengetahuan merupakan produk kegiatan berfikir manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupannya dengan jalan menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh. ilmu pengetahuan akan melahirkan pendekatan baru dalam berbagai penyelidikan. Hal ini menunjukkan studi tentang keilmuan tidak akan berhenti untuk dikaji bahkan berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Harus pula diakui bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari sejarah perkembangan filsafat ilmu, sehingga muncullah ilmuan yang digolongkan sebagai filosof dimana mereka meyakini adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu.

Filsafat ilmu yang dimaksud disini adalah sistem kebenaran ilmu sebagai hasil dari berfikir radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu, filsafat ilmu hadir sebagai upaya menata kembali peran dan fungsi ilmu pengetahua dan teknologi sesuai dengan tujuannya, yakni mengfokuskan diri terhadap kebahagiaan umat manusia. Dengan demikian kemajuan ilmu pengetahuan selama satu setengah abad terakhir ini, lebih banyak dari pada selama berabad-abad sebelumnya. Hal ini dikarenakan semakin berkembanya zaman, semakin berkembang pula sains dan teknologi (Titus & Filsafat, 1984).

Sedangkan jika membahas tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan, para ahli memiliki pengertiannya masing-masing, namun sebelum mengarah kepada pendapat para ahli, Secara bahasa pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar oleh seorang pelayan.Pelayan yang emngantar dan menjemput dinamakan Paedagogos. Dlam bahasa Romawi pendidikan diistilahkan sebagai educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (Muhajir, 2000:20). Banyak pendapat yang berlainan tentang pendidikan.Walaupun demikian, pendidikan berjalan terus tanpa menunggu keseragaman arti (Titus & Filsafat, 1984).

Menurut Crow and crow, seperti yang dikutip oleh Fuad Ihsan dalam bukunya “Dasar-dasar Kependidikan”, mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang berisikan berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan social dari generasi ke generasi (Titus & Filsafat, 1984).

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Paulo Freire ia mengatakan, pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, damana melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan (Asbar, 2018).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan sangat berperan dalam memperoleh sebuah ilmu pengetahuan. Hasil dari pendidikan ialah tertanamnya sikap budi pekerti dan diperolehnya ilmu yang bermanfaat.

dari sini kita dapat melihat bahwa ilmu dan pendidikan merupakan ikatan yang berkesinambungan. Penulis mencoba menggali lebih dalam lagi tentang peranan integrasi ilmu, setelah itu baru dikaji aktualisasinya pada pendidikan Islam di era modern sekarang ini. Dari pengertian integrasi yaitu Secara etimologis, integrasi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris –integrate; integration- yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi integrasi yang berarti menyatu-padukan; penggabungan (Mukhlasin, 2019).

Adapun secara terminologis, integrasi ilmu adalah pemaduan antara ilmu-ilmu yang terpisah menjadi satu kepaduan ilmu, dalam hal ini penyatuan antara ilmu-ilmu yang bercorak agama dengan ilmu-ilmu yang bersifat umum.

Integrasi ilmu agama dan ilmu umum ini adalah upaya untuk meleburkan polarisme antara agama dan ilmu yang diakibatkan pola pikir pengkutupan antara agama sebagai sumber kebenaran yang independen dan ilmu sebagai sumber kebenaran yang independen pula. Hal ini karena –sebagaimana dijelaskan diawal pendahuluan- keberadaannya yang saling membutuhkan dan melengkapi. Seperti yang dirasakan oleh negara-negara di belahan dunia sebelah Barat yang terkenal canggih dan maju di bidang keilmuan dan teknologi, mereka tergugah dan mulai menyadari akan perlunya peninjauan ulang mengenai dikotomisme ilmu yang terlepas dari nilai-nilai yang di awal telah mereka kembangkan, terlebih nilai religi. Agama sangat bijak dalam menata pergaulan dengan alam yang merupakan ekosistem tempat tinggal manusia.

Meninjau begitu urgennya kapasitas agama dalam kehidupan manusia, maka sepatutnya agama dikembangkan sebagai basic nilai pengembangan ilmu. Karena perkembangan ilmu yang tanpa dibarengi dengan kemajuan nilai religinya, menyebabkan terjadinya gap, jurang. Akibat meninggalkan agama, ilmu secara arogan mengeksploitasi alam sehingga terjadi berbagai kerusakan ekosistem (Roswantoro, 2007).

Beberapa penjelasan diatas merupakan dasar penulis untuk lebih mengungkap bagaimana sebenarnya Integrasi Ilmu Agama dan Sains Terhadap Pendidikan Islam di Era Modern. Dari sini kita nantinya akan mendapatkan perihal konsep dan aplikasi dari integrasi ilmu itu sendiri dalam hal ini ditujuan kepada pendidikan islam.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Adapun metode yang penulis gunakan dalam membahas Integrasi Ilmu Agama dan Sains Terhadap Pendidikan Islam di Era Modern ini ialah dengan menggunakan metodologi Library Research atau Kajian Perpustakaan. Kajian pustaka dalam sebuah penelitian ilmiah berarti menempatkan dan menyimpulkan teori-teori dan konsep-konsep yang nantinya dapat memberikan kerangka kerja dalam menjelaskan suatu topik dalam sebuah penelitian.

Adapun proses library research yaitu Pada bagian kajian pustaka dipaparkan dengan tujuan untuk mencari tahu lebih dalam tentang penelitian yang menjadi fokus kita dengan literatur-literatur yang ada.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Integrasi Ilmu Agama dan Sains

Secara etimologi kata integrasi berasal dari bahasa inggris “integration”, yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. Dalam bahasa Arab, istilah integrasi sepadan dengan kata takâmul (تكامل .(Kata tersebut berasal dari kata kami-la (كمل (yang berarti lengkap, penuh, utuh, keseluruhan, total, sempurna, dan tuntas.15 Dengan demikian kata integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat. Integrasi juga bisa diartikan penyesuaian atau penyatuan antara satu unsur dengan unsur yang lain (Agus, 2016).

Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa integrasi ilmu dengan sains adalah membaurkan, atau menyesuaikan pandangan ilmu agama dan sains pada satu masalah tertentu sehingga terjadi kesatupaduan konsep yang utuh. Dalam Islam secara filosofis tidak dikenal istilah ilmu agama dan ilmu umum atau lainnya. Alasannya, semua ilmu berasal dari Allah SWT. Bentuk dan sifat ilmu Allah itu kullî (كلي ,(yaitu menyeluruh dan utuh, sehingga menjadi satu kesatuan. Ketika ilmu Allah beremanasi pada manusia, ilmu tersebut menjadi juz-î (جزئي ,(yaitu parsial dan terpisah, sehingga menjadi bagian-bagian tertentu. Kendati menjadi bagian-bagian pelbagai disiplin ilmu, secara ontologis masing-masing tetap bersifat suci, sakral, integral dalam kehidupan dunia dan akhirat, serta bermakna bagi kehidupan.

Integrasi adalah konsep yang menegaskan bahwa integrasi keilmuan yang disasar bukanlah model melting-pot integration, di mana integrasi hanya difahami hanya dari perspektif ruang tanpa subtansi. Integrasi yang dimaksud adalah model penyatuan yang antara satu dengan lainnya memiliki keterkaitan yang kuat sehingga tampil dalam satu kesatuan yang utuh. Hal ini perlu karena perkembangan ilmu pengetahuan yang dipelopori Barat sejak lima ratus tahun terakhir, dengan semangat modernisme dan sekulerisme telah menimbulkan pengkotak-kotakan (comparmentalization) ilmu dan mereduksi ilmu pada bagian tertentu saja. Dampak lebih lanjut adalah terjadinya proses dehumanisasi dan pendangkalan iman manusia.

Untuk menyatukan ilmu pengetahuan, harus berangkat dari pemahaman yang benar tentang sebab terjadinya dikotomi ilmu dibarat dan bagaimana paradigma yang diberikan Islam tentang ilmu pengetahuan. Pendidikan yang berlangsung dizaman modern ini lebih menekankan pada pengembangan disiplin ilmu dengan spesialisasi secara ketat, sehingga integrasi dan interkoneksi antar disiplin keilmuan menjadi hilang dan melahirkan dikotomi ilmu-ilmu agama di satu pihak dan kelompok ilmu-ilmu umum dipihak lain.

Dikotomi ini menyebabkan terbentuknya perbedaan sikap dikalangan masyarakat. Ilmu agama disikapi dan diperlakukan sebagai ilmu Allah yang bersifat sakral dan wajib untuk dipelajari namun kurang integratif dengan ilmu- 2 ilmu kealaman atau bisa dibilang adanya jarak pemisah antara ayat-ayat kauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Padahal keduanya saling berhubungan erat. Hal ini berakibat pada pendangkalan ilmu-ilmu umum, karena ilmu umum dipelajari secara terpisah dengan ilmu agama. Ilmu agama menjadi tidak menarik karena terlepas dari kehidupan nyata, sementara ilmu umum berkembang tanpa sentuhan etika dan spiritualitas agama, sehingga disamping kehilangan makna juga bersifat detruktif (Aminuddin, 2010).

Integrasi ilmu agama dan ilmu umum ini adalah upaya untuk meleburkan polarisme antara agama dan ilmu yang diakibatkan pola pikir pengkutupan antara agama sebagai sumber kebenaran yang independen dan ilmu sebagai sumber kebenaran yang independen pula. Hal ini karena –sebagaimana dijelaskan diawal pendahuluan- keberadaannya yang saling membutuhkan dan melengkapi. Seperti yang dirasakan oleh negara-negara di belahan dunia sebelah Barat yang terkenal canggih dan maju di bidang keilmuan dan teknologi, mereka tergugah dan mulai menyadari akan perlunya peninjauan ulang mengenai dikotomisme ilmu yang terlepas dari nilai-nilai yang di awal telah mereka kembangkan, terlebih nilai religi. Agama sangat bijak dalam menata pergaulan dengan alam yang merupakan ekosistem tempat tinggal manusia.

Meninjau begitu urgennya kapasitas agama dalam kehidupan manusia, maka sepatutnya agama dikembangkan sebagai basic nilai pengembangan ilmu. Karena perkembangan ilmu yang tanpa dibarengi dengan kemajuan nilai religinya, menyebabkan terjadinya gap, jurang. Akibat meninggalkan agama, ilmu secara arogan mengeksploitasi alam sehingga terjadi berbagai kerusakan ekosistem (Roswantoro, 2007).

1.       Konsep Integrasi Ilmu Agama dan Sains (Umum)

a.       Filosofis

Integritas dan interkoneksitas pada level filosofis dalam wacana keilmuan bahwa di dalamnya harus diberikan nilai fundamental eksistensial dalam kaitannya dengan disiplin keilmuan lain dan dalam hubungannya dengan nilai-nilai humanistik. Ilmu fiqh misalnya, di samping makna fundamentalnya sebagai filosofi membangun hubungan antara manusia, alam dan Tuhan dalam ajaran Islam, dalam pengkajian fiqh harus disinggung pula bahwa eksistensi fiqh tidaklah berdiri sendiri atau bersifat self-sufficient, melainkan berkembang bersama sikap akomodatifnya terhadap dislipin keilmuan lainnya seperti filsafat, sosiologi, psikologi dan lain sebagainya.

Demikian juga dalam hal pengkajian ilmu umum seperti sosiologi. Sosiologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji interaksi sosial antar manusia akan menjadi terberdayakan dengan baik apabila pengajar sosiologi –sebagai salah satu unsur dari proses transferisasi ilmu-  juga mengajak peserta didik untuk mereview teori-teori interaksi sosial yang sudah ada dalam tradisi budaya dan agama. Interkoneksitas seperti ini akan saling memberdayakan antara sosiologi di satu pihak dan  tradisi budaya atau keagamaan di pihak lain.

b.       Materi

Implementasi integrasi dan interkoneksi pada bagian materi bisa dilakukan dengan tiga model pengejawantahan interkoneksitas keilmuan antar disiplin keilmuan, yaitu :

1)      Model pengintegrasian ke dalam paket kurikulum, karena hal ini terkait dengan lembaga penyelenggara pendidikan.

2)      Model penamaan disiplin ilmu yang menunjukkan hubungan antara  disiplin ilmu umum dan keislaman. Model ini menuntut setiap nama disiplin ilmu mencantumkan kata Islam, seperti ekonomi Islam, politik Islam, sosiologi Islam, antropologi Islam, sastra Islam, pendidikan Islam, filsafat Islam dan lain sebagainya sebagai refleksi dari suatu integrasi keilmuan yang dilakukan.

3)      Model pengintegrasian ke dalam pengajaran disiplin ilmu. Model ini menuntut dalam setiap pengajaran disiplin ilmu keislaman dan keagamaan harus diinjeksikan teori-teori keilmuan umum terkait sebagai wujud interkoneksitas antara keduanya, dan begitupun sebaliknya.

c.       Metodologi

Dalam konteks struktur keilmuan Lembaga pendidikan yang bersifat integratif-interkonektif menyentuh pula level metodologis. Ketika sebuah disiplin ilmu diintegrasikan atau  diinterkoneksikan dengan disiplin ilmu lain, misalnya psikologi dengan nilai-nilai Islam, maka secara metodologis ilmu interkonektif tersebut harus menggunakan pendekatan dan metode yang aman bagi ilmu tersebut. Sebagai contoh pendekatan fenomenologis yang memberi apresiasi empatik dari orang yang mengalami pengalaman, dianggap lebih aman ketimbang pendekatan lain yang mengandung bias anti agama seperti psikoanalisis.

Dari segi metode penelitian tampaknya tidak menjadi masalah karena  ketika suatu penelitian dilakukan secara obyektif baik dengan menggunakan metode kuesioner, wawancara atau yang lainnya, maka hasilnya kebenaran objektif. Kebenaran seperti ini justru akan mendukung kebenaran agama itu sendiri.

d.       Strategi

Yang dimaksud level strategi di sini adalah level pelaksanaan atau praksis dari proses pembelajaran keilmuan integratif-interkonektif. Dalam konteks ini, setidaknya kualitas keilmuan serta keterampilan pengajar menjadi kunci keberhasilan pembelajaran berbasis paradigma interkoneksitas. Di samping kualitas-kualitas ini, pengajar harus difasilitasi dengan baik menyangkut pengadaan sumber bacaan yang harus beragam serta bahan-bahan pengajaran (teaching resources) di kelas. Demikian pula pembelajaran dengan model pembelajaran active learning dengan berbagai strategi dan metodenya menjadi keharusan.

2.       Integrasi Ilmu Agama dan Sains Terhadap Pendidikan Islam di Era Modern

Hubungan antara pendidikan Islam yang ada, baik dalam ranah hadharat an-nash, hadharat al-ilm, maupun hadharat al-falsafah, perlu dilihat dari perpektif dialog atau bahkan integrasi. Oleh karena itu, pendidikan Islam sebagaimana yang ditegaskan oleh M. Amin Abdullah, harus memiliki kaitan erat dengan dimensi praksis-sosial, karena senantiasa memiliki dampak sosial dan dituntut untuk responsif terhadap realitas sosial sehingga ia tidak terbatas pada lingkup pemikiran teoretis-konseptual seperti yang dipahami selama ini. Selain itu pendidikan semestinya digunakan untuk mengenalkan peserta didik pada tradisi, budaya, sosial dan kondisi budaya, yang dalam waktu yang sama telah direduksi oleh sains modern, teknologi dan industrialisasi. Sehingga pendidikan sekarang harus diarahkan pada kekuatan positif untuk membangun kultur budaya baru dan mengeliminasi patologi sosial. George S. Counts menegaskan bahwa pendidikan harus memiliki visi dan prospek untuk perubahan sosial secara radikal dan mengimplementasikan proyek tersebut (Samiha, n.d.).

Paradigma integratif, akan mampu menjembatani kesenjangan yang tajam antara pendidikan umum dan pendidikan agama, karena madrasah sebagai salah satu bentuk pembaruan sistem pendidikan Islam (pesantren) di kurun modern masih saja menghadapi problematika institusional-keilmuan dan metodologis. Akibatnya, institusi ini belum mampu secara tuntas menyelesaikan problem dualisme dikotomis keilmuan, problem fungsional “cagar budaya”, dan dominasi metodologi justifikatifindoktrinatif dalam kegiatan akademik (Arifudin, 2016a). Selain itu paradigma pendidikan Islam yang integratif, akan melahirkan sikap inklusif, sehingga tidak merespon perkembangan hanya dengan cara-cara reaksioner, apalagi menjadikannya dirinya sebagai the living ground of radicalism (Arifudin, 2016a).

Implikasi dalam hal kurikulum, bisa dalam bentuk penyusunan silabus di sekitar dua isu fundamental, yakni epistemologi, dan etika. Topik-topik yang termasuk ke dalam epistemologi terutama berbicara tentang status epistemologis sains-sains terapan dan rekayasa, hubungan konseptualnya dengan prinsip-prinsip tauhid (yaitu, pengetahuan metafisika dan kosmologi) yang mengatur dunia fisik (natural), dengan metodologi ilmiah dan pemikiran kreatif (termasuk inspirasi matematika) dan dengan implikasi-implikasi epistemologis aspek-aspek tertentu dari kreativitas manusia dalam sains terapan dan rekayasa kontemporer, khususnya dalam rekayasa genetika (Yavas, Karatepe, & Babakus, 2018). Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kurikulum yang ada, akan mengantarkan peserta didik agar memiliki hasrat dan kemampuan untuk melakukan penelitian (riset) pada bidang-bidang sains untuk kemudian menemukan “titik sambungnya” dengan realitas objektif yang terjadi pada wilayah keagamaan.

Sedangkan implikasi di dalam proses belajar mengajar, di mana salah satu gagasan menarik dari Ian G. Barbour, mengenai peranan penting imajinasi kreatif sebagai metode alternatif selain metode deduktif dan induktif, karena dalam perumusan teori, imajinasi kreatif melampaui proses penalaran yang sangat logis (Arifudin, 2016b).

Sementara itu implikasinya dalam aspek pendidikan sosial keagamaan, dengan paradigma integratif, para peserta didik akan diajak untuk berfikir holistik dan tidak parsial dalam menghayati majemuknya keyakinan dan keberagamaan. Misalnya, dengan melakukan kunjungan secara rutin ke tempat ibadah dari agama yang berbeda, dan mendapatkan penjelasan tentang prinsip-prinsip etik yang dimiliki oleh semua agama. Dengan itu juga siswa diberikan pemahaman, bahwa ada satu hal yang menyatukan semua agama dalam suatu ikatan yang disebut dengan “pengalaman ke-Esa-an” yang mana setiap agama punya tafsir berbeda sesuai dengan perspektif kitab suci masing-masing. Selain itu diajarkan bahwa perdamaian di dunia dapat dicapai dengan pengalaman ke-Esa-an oleh setiap individu.

Kemudian jika dilihat dari segi kelembagaan, hasil dari Integrasi Ilmu Agama dan Sains Terhadap Pendidikan Islam di Era Modern ini ialah terdapatnya lembaga perguruan tinggi Islam yang menampung minat dan kemampuan mahasiswa dibidang umum, namun tetap mempelajari pendidikan agama sebagai pondasi dasar sebelum mempelajari pelajaran umum.

Peralihan status perguruan tinggi Islam dari yang dulu bernama Institut menjadi Universitas menunjukkan bahwa ilmu itu telah terintegrasi bukan dikotomi. Ditingkat pendidikan SD, SMP dan SMA pun sudah dibentuk pendidikan Islam modern, diantaranya yaitu adanya sekolah Islam Terpadu, pesantren yang sudah berbasis modern dari yang dahulunya salafy.

 

 

KESIMPULAN

 

Integrasi ilmu agama dan ilmu umum ini adalah upaya untuk meleburkan polarisme antara agama dan ilmu yang diakibatkan pola pikir pengkutupan antara agama sebagai sumber kebenaran yang independen dan ilmu sebagai sumber kebenaran yang independen pula. Hal ini karena –sebagaimana dijelaskan diawal pendahuluan- keberadaannya yang saling membutuhkan dan melengkapi. Seperti yang dirasakan oleh negara-negara di belahan dunia sebelah Barat yang terkenal canggih dan maju di bidang keilmuan dan teknologi, mereka tergugah dan mulai menyadari akan perlunya peninjauan ulang mengenai dikotomisme ilmu yang terlepas dari nilai-nilai yang di awal telah mereka kembangkan, terlebih nilai religi. Agama sangat bijak dalam menata pergaulan dengan alam yang merupakan ekosistem tempat tinggal manusia.

Penerapan Integrasi Ilmu Agama dan Sains Terhadap Pendidikan Islam di Era Modern ini ialah diantaranya sudah adanya peralihan status perguruan tinggi Islam dari yang dulu bernama Institut menjadi Universitas menunjukkan bahwa ilmu itu telah terintegrasi bukan dikotomi. Ditingkat pendidikan SD, SMP dan SMA pun sudah dibentuk pendidikan Islam modern, diantaranya yaitu adanya sekolah Islam Terpadu, pesantren yang sudah berbasis modern dari yang dahulunya salafy.

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Agus, Andi Aco. (2016). Integrasi Nasional Sebagai Salah Satu Parameter Persatuan Dan Kesatuan Bangsa Negara Republik Indonesia. Jurnal Sosialisasi, 3(3), 19–27.

Aminuddin, Luthfi Hadi. (2010). Integrasi ilmu dan agama: studi atas paradigma integratif interkonektif UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam, 4(1), 1–34.

Arifudin, Iis. (2016a). Barbour, Ian G., Isu dalam Sains dan Agama, terj. Damayanti dan Ridwan, (Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga Press, 2006), hal. 197. Edukasia Islamika, 161–180.

Arifudin, Iis. (2016b). Integrasi Sains dan Agama serta Implikasinya terhadap Pendidikan Islam. Edukasia Islamika, 161–180.

Asbar, Andi Muhammad. (2018). Strategi guru dalam pengelolaan kelas pada pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 39 Bulukumba. Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan, 89–112.

Mukhlasin, Ahmad. (2019). PENDIDIKAN KARAKTER PEMIMPIN MELALUI TEMBANG DOLANAN (Analisis Tembang Lir-ilir Karya Sunan Kali Jaga). Jurnal Warna, 3(1), 41–49.

Roswantoro, Alim. (2007). Mengukir Prestasi di Jalur Khusus. Penerbit Pendi Pontren Depag RI.

Samiha, Yulia Tri. (n.d.). COMMUNITY-BASED CRITICAL EDUCATION EDUCATION VIEWS OF AN EDUCATIONAL SOCIOLOGY. PROCEEDING PGMI INTERNASIONAL CONFERENCE 2018 “Strategies And Innovation For The PGMI’s Academia To Face The Challenges Of The Industrial Revolution 4.0,” 203.

Titus, Harold H., & Filsafat, Persoalan Persoalan. (1984). trans. by HM Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang.

Yahya, Harun. (n.d.). Posts from the ‘JALINAN ILMU, FILSAFAT & AGAMA’Category.

Yavas, Ugur, Karatepe, Osman M., & Babakus, Emin. (2018). Does positive affectivity moderate the effect of burnout on job outcomes? An empirical investigation among hotel employees. Journal of Human Resources in Hospitality & Tourism, 17(3), 360–374. https://doi.org/10.1080/15332845.2018.1449548

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).