KONSEP DAN KARAKTERISTIK FILSAFAT
Silvi Rewita*, Salminawati
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia
|
|
Abstrak (indonesia) |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
10-03-2022 15-03-2022 25-03-2022 |
Filsafat merupakan induk dari segala ilmu yang ada. Oleh karena itu, pengkhususannya pada ilmu ilmu tertentu, misalnya: Filsafat agama, filsafat sejarah dll. Tidak akan terlepas dari ciri khasnya yaitu untuk mencari kebenaran secara mendalam. Dalam mencari kedalaman suatu kebenaran itu, perlu adanya kronologis dari suatu peristiwa. Dalam menelaah peristiwa masa lampau atau disebut sejarah, diperlukan ilmu yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menganalisis kevalidan (kebenaran) dari suatu kejadian. Adapun pengertian sejarah dalam ilmu pengetahuan tentang rangkaian episode pribadi dan individual sehingga kata merupakan suatu telaah atas riwayat riwayat dan tradisi tradisi bukan disiplin rasional. Kata kunci: Filsafat, Konsep, Karakteristik |
|
|
|
|
|
|
Abstract (English) |
|
|
|
Philosophy is the mother of all
existing sciences. Therefore, he specializes in certain sciences, for
example: philosophy of religion, philosophy of history, etc. It will not be
separated from its characteristic, namely to seek
the truth in depth. In seeking the depth of a truth, it is necessary to have
a chronology of events. In studying past events or what is called history,
knowledge is needed that can be used as a means to
analyze the validity (truth) of an event. The meaning of history in science
is about a series of personal and individual episodes so that the word is a
study of history and traditions, not a rational discipline. Keywords: Philosophy, Concepts, Characteristics |
|
*Correspondent Author : Silvi Rewita
Email : silvirewit@gmail.com
PENDAHULUAN
Meskipun
kata filsafat merupakan bagian dari transmisi ilmu dari Yunani (Greek) yang menyebar ke berbagai pelosok dunia sejak dari
500 tahun Sebelum Masehi, akan tetapi berfilsafat dan Pemikiran Islam bukanlah
hak monopoli mereka saja. Orang India, Mesir, dan Irak justru telah
mengembangkan suatu peradaban yang jauh lebih maju dan tinggi dari sebelum
Yunani. Hal ini terlihat dari adanya pengaruh al-Hikmah
Mesir Kuno terhadap dasar-dasar pemikiran Yunani. Umpamanya saja, Plato banyak
sekali mengambil dasar hikmah Pendeta-Pendeta Mesir, demikian pula Aristoteles,
sehingga ia mengatakan bahwa pendeta Mesir Purba adalah para filosuf pertama di dunia.
Chia Luen dalam artikelnya, General Characteristics
of Chinese Thought, juga mengemukakan hal yang senada, yaitu bahwa
jauh sebelum Yunani, pengembangan filsafat di dataran Cina sudah mulai sejak Confusius, sekitar abad ke VI Sebelum Masehi. Sedangkan di India, telah berkembang dalam empat tahap, yaitu
apa yang disebut dengan The Vedic Period (1500-600 SM), The Epic Period (600
SM s/d 200 M), The Sutra Period (200 M) dan dilanjutkan
The Scholastic Period (Abad II M). Dengan demikian, bukanlah Yunani saja yang pantas disebut sebagai perintis filsafat, hanya saja, barang
kali, karena yang lainnya tidak menyebut sebagai kata-kata filsafat, namun substansinya adalah filsafat juga, seperti kata hikmah tersebut.
T.G.S Mulia dan K.A.H. Hidding, dalam Encylopedi Indonesia, menengarai bahwa pada mulanya istilah filsafat dicampur adukkan dengan ilmu
pengetahuan. Akan tetapi, dengan bertambahnya masalah yang dipecahkan dalam berbagai lapangan, menyebabkan setiap lapangan menjadi suatu ilmu
pengetahuan, yang melepaskan
diri dari filsafat. Namun demikian, bila suatu waktu ilmu
pengetahuan tidak lagi bisa menjawab
sesuatu persoalan meskipun nilai kebenaran yang dicapai bersifat positif tetapi selalu relative maka, diserahkan kembali pemecahannya kepada filsafat. Agaknya letak pencampuradukannnya
antara ilmu pengetahuan dengan filsafat berada di sini. Ketika itulah ruang filsafat terlihat sempit, akan tetapi harus
diingat bahwa semua ilmu yang berkembang terlahir dari “rahim” filsafat.
Maka tidak heran jika para filosuf kuno di samping sebagai filosuf mereka juga ahli ilmu pengetahuan,
dalam arti filosuf yang cendikiawan dan cendikiawan yang filosuf.
Akselerasi
ilmu pengetahuan tidak terbendung, oleh karena itu fenomena yang terjadi adalah
satu demi satu ilmu pengetahuan meninggalkan induknya (filsafat), akan tetapi
setiap ilmu yang berkembang memiliki fisafatnya
sendiri
METODE PENELITIAN
Pada
penelitian ini kami menggunakan metode berupa Library
Research, Studi ini merupakan suatu studi yang
digunakan dalam mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam
material yang ada didalam perpustakaan seperti buku,
makalah, artikel dan juga jurnal. Adapun proses library
research yaitu Pada bagian kajian pustaka dipaparkan
dengan tujuan untuk mencari tahu lebih dalam tentang penelitian yang menjadi
fokus kita dengan literatur-literatur yang ada.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a) Pengertian
Filsafat
Istilah Filsafat merupakan serapan dari bahasa
Yunani “Philoshopia” yang berasal dari kata kerja “Filosofien” yang berarti mencintai kebijaksanaan. Philoshopia berasal dari gabungan kata “Phien”
yang berarti cinta dan “Shopia” yang berarti kebijaksanaan
Pengertian Filsafat secara terminologi sangat
beragam dan bersifat subjektif atau bergantung seorang berfikir
berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Para filsuf merumuskan pengertian
filsafat sesui dengan kecenderungan pemikiran
kefilsafatan yang dimilikinya.
Filsafat dari segi bahasa ialah penggunaan
rasio (berpikir). Akan tetapi, tidak semua proses berpikir disebut filsafat.
Manusia yang berpikir, dapat diketahui dalam kehidupan sehari-hari. Jika
pemikiran manusia dapat dipelajari, maka ada empat golongan pemikiran, yaitu pemikiran
pseudo-ilmiah, pemikiran awam, pemikiran ilmiah, dan pemikiran filsofis
Secara umum Filsafat adalah studi tentang
seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan
dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak
diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Pemikiran Filsafat
sebenarnya merupakan konsep dasar mengenai
kehidupan dan visi kedepan manusia.
Dalam suatu himpunan/komunitas, pemikiran filsafat dapat tumbuh dan
berkembang sesuai dengan kebudayaan masing-masing.
Untuk lebih memahami
lebih mendalam, berikut pengertian filsafat menurut para ahli yaitu
1)
Harold H. Titus (1979
M)
a)
Filsafat adalah kumpulan
masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan Aristoteles: Filsafat adalah ilmu (pengetahuan)
yang meliputi kebenaran
yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
b)
Filsafat adalah sekumpulan
sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat
adalah suatu proses kritik atau pemikiran
terhadap kepercayaan dan sikap yg dijunjung
tinggi.
c)
Filsafat adalah
suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan.
d)
Filsafat adalah
analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian (konsep).
2)
Plato (427-342
SM): Filsafat adalah pengetahuan yg berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
3)
Al-Kindi
(796-474 M)
Al-Kindi
memberikan pengertian filsafat dikalangan umat Islam dalam tiga lapangan, yaitu sebagai berikut:
a)
Ilmu Fisika,
meliputi tingkatan alam nyata, terdiri
atas benda-benda konkret yang dapat ditangkap oleh pancaindra.
b)
Ilmu Matematika,
berhubungan dengan benda, tetapi mempunyai
wujud tersendiri yang dapat dipastikan dengan angka-angka.
c)
Ilmu Ketuhanan,
tidak berhubungan dengan benda sama sekali yaitu soal
ketuhanan
4)
Ibnu Sina
(980-1037 M): Membagi filsafat dalam dua bagian yaitu
teori dan praktik. Keduanya dihubungkan dengan agama. Dasarnya terdapat pada syariat,
penjelasan dan kelengkapannya yang diperoleh dengan akal manusia.
5)
Imanuel Kant: Filsafat
adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan
pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan, yaitu metafisika (Apakah yang dapat kita kerjakan), etika (Apakah yang seharusnya
kita kerjakan), agama (Sampai dimanakah harapan kita), dan antropologi (Apakah yang dinamakan manusia)
Dari beberapa ungkapan dari filsuf tersebut,
dapat dirumuskan bahwa filsafat ialah upaya manusia dengan akal budinya untuk
memahami, mendalami, dan meyelami secara radikal,
integral, sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia. Sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan tentang hakikatnya yang dapat dicapai akal
manusia dan bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan
yang diinginkan
b) Tujuan Filsafat
Kalaulah ilmu dapat memberikan manusia
pengetahuan, maka filsafat dapat memberikan hikmah, sehingga memberikan
kepuasan kepada manusia dengan pengetahuan yang teratur rapi dan benar. Plato
sendiri merasakan berpikir itu suatu nikmat luar biasa, sehingga filsafat
dinamakan dengan ”keinginan yang sangat berharga, sebab tujuan tunggal filsafat
adalah menemukan kebenaran. Disanalah terletak
kebesaran. Kemuliaan dan ketinggian derajat filsafat
Filsafat dapat membantu membangun keyakinan manusia
secara intelektual, asalkan saja konsepsi agama tersebut tidak bergantung pada pra-ilmiah usang sempit dan dogmatis. Sebab masalah agama
berkisar, pada harmonis, pengaturan, ikatan, pembebasan, dan Tuhan.
Memang ada orang yang mempelajari filsafat, hanya
sekedar ingin tahu hasratnya tercapai atau untuk mepertajam
pikiran. Sebenarnya lebih dari itu, filsafat tersebut di samping punya arti
teoritis juga punya arti praktis. Orang yang berfilsafat tidak hanya untuk
mengetahui, tetapi juga mempraktekan dalam hidupnya.
Filsafat akan memberikan kepada manusia dasar-dasar pengetahuan untuk dapat
hidup dengan baik sehingga ia akan menjadi manusia yang baik dan bahagia
Jan Hendrik Rapar merumuskan filsafat ke dalam
tiga peranan yang dapat diakses oleh semua manusia yang mencintai hikmah, yaitu
sebagai pendobrak, pembebas dan pembimbing. Dalam sejarah menunjukkan betapa
filsafat telah mendobrak pintu-pintu dan tembok-tembok tradisi yang begitu
sakral dan tidak boleh diganggu-gugat karena percaya pada tahayul
dan khurafat serta kepercayaan pada animisme dan dinamisme, dirobohkan dan
dihancurkan dengan rasionalitas filsafat
Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan
dan kebodohannya. Demikian pula, filsafat membebaskan manusia dari belenggu
cara berpikir yang mistis dan mitis itu. Lebih dari
itu, filsafat membimbing manusia untuk berpikir secara logis dan sistematis,
secara integral dan koheren, sehingga manusia menemukan kebenaran yang hakiki
yang menjadi persoalan yang dihadapi semua manusia.
c) Objek Filsafat
Objek material merupakan segala sesuatu yang
menjadi problem filsafat atau yang dipermasalahkan oleh dan dalam filsafat.
Material filsafat yang sangat luas itu meliputi segala pengetahuan manusia dan
apa saja yang ingin diketahuinya. karena filsafat itu berpangkal pada pikiran
manusia secra radikal dan sistematik terhadap seluruh
alam, maka materi filsafat juga termasuk alam dan pemikiran itu sendiri
Objek forma filsafat
adalah mencari keterangan yang membahas secara mendalam tentang segala objek
material filsafat. Dengan demikian jelaslah bahwa objek filsafat itu ada dua
bentuk, yakni materia dan forma.
Objek materia meliputi hakekat
Tuhan, alam dan manusia. Ataupun sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.
Sedangkan objek forma meliputi pencaharian keterangan
secara radikal tentang objek materia filsafat yang
ada. Hal inilah yang membedakan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan
lainnya. Pada objek materianya sama sedang objek formanya berbeda. Namun demikian, aspek materianya
sedikit berbeda. Objek ilmu hanya manusia dan alam, sedang filsafat mencakup
juga masalah Tuhan (metafisika)
d) Susunan Ilmu Filsafat
Plato telah memulai mengurai susunan filsafat
menjadi tiga, yaitu dialektika, yang mengandung persoalan idea-idea
atau pengertian-pengertian umum; fisika, yang mengandung persoalan dunia materi
dan etika yang mengandung persoalan baik dan buruk. Kemudian disempurnakan
secara lebih konkrit dan sistematik oleh Aristoteles
menjadi Logika, yang dianggapnya sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat,
kemudian Teori (nazhari) yang mencakup di dalamnya
ilmu alam, matematika dan metafisika, dan Praktis (‘amali), termasuk ilmu
pelaksanaan perbuatan manusia seperti akhlak, dan politik, serta estetika, yang
mengupas masalah teori keindahan atau seni
Dalam bentuk yang agak berbeda dikemukakan oleh
Kulpe, seorang filosuf
Jerman, bahwa filsafat itu terbagi dua, yaitu:
1)
Filsafat umum, yang mencakup metafisika, ma’rifat (epistemologi) dan logika; dan
2)
Filsafat khusus yang mencakup akhlak, keindahan
(axiologi), ilmu jiwa, filsafat alam, filsafat hukum,
filsafat agama, filsafat sejarah, dan sosiologi.
Pembidangan dan pembagian filsafat, sejalan dengan
akselerasi ilmu pengetahuan, selalu berkembang. Namun demikian, secara umum,
tetap berkutat pada pembagian yang dapat dikatakan merupakan bidang pokok dari
filsafat, yaitu:
1)
Ontologi (Perancis dan Jerman: eime be dan logos, kata atau pengetahuan), yakni ilmu yang
berkaitan dengan esensi dari benda atau makhluk secara abstrak, atau studi
tentang hakekat tertinggi dari yang ada atau
realitas.
2)
Epistemologi (Greek: episteme, pengetahuan dan logos),
yakni teori tentang metode atau dasar dari pengetahuan, atau studi tentang hakekat tertinggi, kebenaran dan batasan ilmu manusia.
Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha
untuk memperoleh pengetahuan
3)
Axiologi (Greek: axio, menarik
faedah dari sesuatu). Atau studi tentang hakekat
tertinggi, realitas dan arti dari nilai-nilai (kebaikan, keindahan, dan
kebenaran)
Ontologi dan epistemologi dikelompokkan bersama
dan disebut metafisika. Sedangkan axiologi di bagi ke
dalam:
1)
Filsafat etika atau moral, adalah studi
mengenai idealisme yang tertinggi atau norma-norma tingkah laku;dan
2)
Estetika atau filsafat keindahan, adalah studi
tentang idealisme yang tertinggi atau norma-norma seni
e) Karakteristik Filsafat
Karakteristik dasar filsafat oleh Jan Hendrik
Rapar diungkapkan setidaknya ada lima hal, yaitu berpikir radikal, mencari
asas, memburu kebenaran, mencari kejelasan dan berpikir rasional
1)
Berpikir Radikal; Berpikir
secara radikal adalah karakter utama filsafat, karena filosuf berpikir secara
radikal, maka ia tidak akan pernah terpaku hanya pada fenomena suatu entitas
tertentu. Ia tidak akan pernah berhenti hanya pada suatu wujud realitas
tertentu.
2)
Mencari Asas: Karakter
filsafat berikutnya adalah mencari asas yang paling hakiki dari keseluruhan
realitas, yaitu berupaya menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas. Dengan
menemukan esensi suatu realitas, maka akan diketahui dengan pasti dan menjadi
jelas keadaan realitas tersebut, oleh karena itu, mencari asas adalah salah
satu sifaty dasar atau karakteristik filsafat.
3)
Memburu Kebenaran;
Berfilsafat berarti memburu kebenaran tentang segala sesuatu. Kebenaran yang
hendak dicapai adalah kebenaran yang tidak meragukan, oleh sebab itu ia selalu
terbuka untuk dipersoalkan kembali dan diuji demi meraih kebenaran yang lebih
hakiki. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kebenaran filsafat tidak pernah
bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju
kebenaran baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ini pun masih bersifat
terbuka untuk diuji dan dikaji lagi sampai menemukan kebenaran yang lebih
meyakinkan. Dengan demikian, terlihat bahwa salah satu karakteristik filsafat
adalah senantiasa memburu kebenaran.
4)
Mencari Kejelasan;
Berfilsafat berarti berupaya mendapatkan kejelasan mengenai seluruh realitas.
Geisler dan Feinberg mengatakan bahwa ciri khas penelitian filsafat ialah
adanya usaha keras demi meraih kejelasan intelektual. Mengejar kejelasan
berarti harus berjuang dengan gigih untuk mengeliminasi segala sesuatu yang
tidak jelas, yang kabur dan yang gelap, bahkan juga yang serba rahasia dan
berupa teka-teki.
5)
Berpikir Rasional:
Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan
tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional.
Berpikir secara rasional berarti berpikir logis, sistematis dan kritis.
Berpikir logis itu bukan hanya sekedar mengapai pengertian-pengertian yang
dapat diterima oleh akal sehat, melainkan agar sanggup menarik kesimpulan dan
mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan.
Berpikir logis juga menuntut pemikiran yang sistematis, di mana rangkaian
pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling berkaitan secara logis.
Tanpa berpikir yang logis-sistematis dan koheren, maka satu hal yang tak
mungkin dicapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Berpikir kritis
ialah terus menerus mengegevaluasi dan memverifikasi argument-argumen yang
mengklaim diri benar. Berpikir logis sistematis-kritis adalah ciri utama
berpikir rasional, dan berpikir rasional adalah salah satu karakteristik
filsafat
Di samping berpikir radikal, mencari asas,
memburu kebenaran, mencari kejelasan dan berpikir rasional. Masih ada lagi
beberapa hal yang menjadi karakteristik atau ciri khas filsafat; yaitu
memikirkan sifat-sifat umum, hidup dalam kesadaran, bersifat toleran dan
bersifat subjektif.
1) Memikirkan Sifat-Sifat Umum, sebagai diketahui, bahwa
ojek kajian filsafat selalu memilih hal-hal yang umum.
2) Hidup Dalam Kesadaran, meminjam istilah Rene Descartes
(1596-1650) ‘cogito ergo sum’ saya berpikir maka saya ada. Kalimat ini
menegaskan bahwa filsfat itu memiliki ciri selalu hidup dalam kesadaran.
Aristoteles menengarai bahwa keheranan adalah sumber yang melahirkan filsafat.
3) Bersifat Toleran, orang yang hidup tanpa kesadaran
(berpikir filosofis), yang selalu sibuk dengan aktivitas rutin dan disibukkan
oleh pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, ia tidak punya waktu untuk berpikir
secara filosofis. Pemikiran filosofis menerima kritikan dari luar, bahkan
secara internal melakukan self critic, kritik internal. Maka menjadi ciri khas
pemikiran filsafat Mengenal Filsafat dan Karakteristiknya adalah bersifat
terbuka dan toleran terhadap perbedaan pandangan atau pemikiran yang berbeda.
4)
Bersifat Subjektif,
pemikiran filsafat itu menjadi milik filosuf itu sendiri. Berpikir manusia
pasti bersifat subjektif. Perbedaan ini lumrah terjadi dalam menjawab teka-teki
yang tidak habis- habisnya karena bersifat metafisis. Walaupun jawabannya
saling berlawanan, namun dengan pengalaman apa pun tidak dapat memvonis mana
yang benar dan mana yang salah. Karena konsepsi filsafat benar-benar asli tidak
bisa digugat. Konsepsi itu bisa diserang dengan konsepsi lain, tetapi tidak
dapat dikalahkan
KESIMPULAN
Filsafat
berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim
diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos
(philia, cinta) dan sophia
(kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu
filsafat berarti cinta kearifan. Menurut beberapa ahli, filsafat dapat dikatakan
sebagai induk ilmu, karena dari sinilah ilmu pengetahuan lainnya muncul.
Filsafat kerap disandingkan dengan kata “heran” dan “penasaran”. Mulailah
seseorang berfikir bebas maka akan ditemukan hal
baru, berkembang pertanyaan, dan muncul hal-hal baru lainnya. Hasilnya, muncul ilmu-ilmu
pengetahuan baru; mempelajari sosial, ilmu pasti,dsb
Alisjahbana,
A. (1957). Filsafat I : Metafisika. Dian Rakyat.
Anwar,
M. (2015). Filsafat pendidikan. Kencana.
Bagus,
L. (2000). Kamus Filsafat. Gramedia.
Bakry, H. (1981). Sistematik
filsafat. Widjaya.
Beerling, E. F. (1966). Filsafat
dewasa ini (H. Amin, Ed.; Terj.). PN Balai
Pustaka.
Burhanuddin,
N. (2018). Filsafat ilmu. Kencana.
Epping, A. (1983). Filsafat
ENSIE. Jemmars.
Hoesin, O. A. (1975). Filsafat
Islam. Bulan Bintang.
Langeveld, M. J. (1955). Menuju
ke Pemikiran Filsafat (Terj). GJ Claesson.
Rapar,
J. H. (2020). Pengantar Filsafat. Kanisius.
Ritaudin, M. S. (2015).
Mengenal Filsafat dan Karakteristiknya. Kalam, 9(1), 127–144.
Sarwar, H. G. (1990). Filsafat
Al-Quran (Z. M. Mursyid, Ed.; Terj.). Rajawali
Pers.
Suriasumantri, J. S. (1985). Ilmu
dalam perspektif: Sebuah kumpulan karangan tentang hakekat
ilmu. Gramedia.
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |