KONSEP DAN KARAKTERISTIK FILSAFAT

 

 

Silvi Rewita*, Salminawati

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia

* silvirewit@gmail.com

 

 

 

Abstrak (indonesia)

Received:

Revised  :

Accepted:

10-03-2022

15-03-2022

25-03-2022

Filsafat merupakan induk dari segala ilmu yang ada. Oleh karena itu, pengkhususannya pada ilmu ilmu tertentu, misalnya: Filsafat agama, filsafat sejarah dll. Tidak akan terlepas dari ciri khasnya yaitu untuk mencari kebenaran secara mendalam. Dalam mencari kedalaman suatu kebenaran itu, perlu adanya kronologis dari suatu peristiwa. Dalam menelaah peristiwa masa lampau atau disebut sejarah, diperlukan ilmu yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menganalisis kevalidan (kebenaran) dari suatu kejadian. Adapun pengertian sejarah dalam ilmu pengetahuan tentang rangkaian episode pribadi dan individual sehingga kata merupakan suatu telaah atas riwayat riwayat dan tradisi tradisi bukan disiplin rasional.

 

Kata kunci: Filsafat, Konsep, Karakteristik

 

 

 

 

Abstract (English)

 

Philosophy is the mother of all existing sciences. Therefore, he specializes in certain sciences, for example: philosophy of religion, philosophy of history, etc. It will not be separated from its characteristic, namely to seek the truth in depth. In seeking the depth of a truth, it is necessary to have a chronology of events. In studying past events or what is called history, knowledge is needed that can be used as a means to analyze the validity (truth) of an event. The meaning of history in science is about a series of personal and individual episodes so that the word is a study of history and traditions, not a rational discipline.

Keywords: Philosophy, Concepts, Characteristics

*Correspondent Author : Silvi Rewita

Email : silvirewit@gmail.com

 

 

PENDAHULUAN

 

Meskipun kata filsafat merupakan bagian dari transmisi ilmu dari Yunani (Greek) yang menyebar ke berbagai pelosok dunia sejak dari 500 tahun Sebelum Masehi, akan tetapi berfilsafat dan Pemikiran Islam bukanlah hak monopoli mereka saja. Orang India, Mesir, dan Irak justru telah mengembangkan suatu peradaban yang jauh lebih maju dan tinggi dari sebelum Yunani. Hal ini terlihat dari adanya pengaruh al-Hikmah Mesir Kuno terhadap dasar-dasar pemikiran Yunani. Umpamanya saja, Plato banyak sekali mengambil dasar hikmah Pendeta-Pendeta Mesir, demikian pula Aristoteles, sehingga ia mengatakan bahwa pendeta Mesir Purba adalah para filosuf pertama di dunia.

Chia Luen dalam artikelnya, General Characteristics of Chinese Thought, juga mengemukakan hal yang senada, yaitu bahwa jauh sebelum Yunani, pengembangan filsafat di dataran Cina sudah mulai sejak Confusius, sekitar abad ke VI Sebelum Masehi. Sedangkan di India, telah berkembang dalam empat tahap, yaitu apa yang disebut dengan The Vedic Period (1500-600 SM), The Epic Period (600 SM s/d 200 M), The Sutra Period (200 M) dan dilanjutkan The Scholastic Period (Abad II M). Dengan demikian, bukanlah Yunani saja yang pantas disebut sebagai perintis filsafat, hanya saja, barang kali, karena yang lainnya tidak menyebut sebagai kata-kata filsafat, namun substansinya adalah filsafat juga, seperti kata hikmah tersebut.

T.G.S Mulia dan K.A.H. Hidding, dalam Encylopedi Indonesia, menengarai bahwa pada mulanya istilah filsafat dicampur adukkan dengan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, dengan bertambahnya masalah yang dipecahkan dalam berbagai lapangan, menyebabkan setiap lapangan menjadi suatu ilmu pengetahuan, yang melepaskan diri dari filsafat. Namun demikian, bila suatu waktu ilmu pengetahuan tidak lagi bisa menjawab sesuatu persoalan meskipun nilai kebenaran yang dicapai bersifat positif tetapi selalu relative maka, diserahkan kembali pemecahannya kepada filsafat. Agaknya letak pencampuradukannnya antara ilmu pengetahuan dengan filsafat berada di sini. Ketika itulah ruang filsafat terlihat sempit, akan tetapi harus diingat bahwa semua ilmu yang berkembang terlahir darirahimfilsafat. Maka tidak heran jika para filosuf kuno di samping sebagai filosuf mereka juga ahli ilmu pengetahuan, dalam arti filosuf yang cendikiawan dan cendikiawan yang filosuf.

Akselerasi ilmu pengetahuan tidak terbendung, oleh karena itu fenomena yang terjadi adalah satu demi satu ilmu pengetahuan meninggalkan induknya (filsafat), akan tetapi setiap ilmu yang berkembang memiliki fisafatnya sendiri (Ritaudin, 2015). Filsafat agaknya tidak pernah stagnan, melainkan tetap berkembang dengan status baru, yaitu menjawab semua data tentang berbagai persoalan yang tidak dapat lagi dijawab oleh ilmu pengetahuan, karena berada di luar jangkauan pengetahuan biasa (Burhanuddin, 2018). Oleh sebab itulah maka filsafat merupakan muara pemecahan dari segala persoalan, yang dikupas tuntas hingga ke akar-akarnya.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Pada penelitian ini kami menggunakan metode berupa Library Research, Studi ini merupakan suatu studi yang digunakan dalam mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada didalam perpustakaan seperti buku, makalah, artikel dan juga jurnal. Adapun proses library research yaitu Pada bagian kajian pustaka dipaparkan dengan tujuan untuk mencari tahu lebih dalam tentang penelitian yang menjadi fokus kita dengan literatur-literatur yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

a)       Pengertian Filsafat

Istilah Filsafat merupakan serapan dari bahasa Yunani “Philoshopia” yang berasal dari kata kerja “Filosofien” yang berarti mencintai kebijaksanaan. Philoshopia berasal dari gabungan kata “Phien” yang berarti cinta dan “Shopia” yang berarti kebijaksanaan (Bagus, 2000).

Pengertian Filsafat secara terminologi sangat beragam dan bersifat subjektif atau bergantung seorang berfikir berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesui dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya.

Filsafat dari segi bahasa ialah penggunaan rasio (berpikir). Akan tetapi, tidak semua proses berpikir disebut filsafat. Manusia yang berpikir, dapat diketahui dalam kehidupan sehari-hari. Jika pemikiran manusia dapat dipelajari, maka ada empat golongan pemikiran, yaitu pemikiran pseudo-ilmiah, pemikiran awam, pemikiran ilmiah, dan pemikiran filsofis (Anwar, 2015).

Secara umum Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Pemikiran Filsafat sebenarnya merupakan konsep dasar mengenai kehidupan dan visi kedepan manusia. Dalam suatu himpunan/komunitas, pemikiran filsafat dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebudayaan masing-masing.

Untuk lebih memahami lebih mendalam, berikut pengertian filsafat menurut para ahli yaitu (Anwar, 2015):

1)      Harold H. Titus (1979 M)

a)      Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan Aristoteles: Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

b)      Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yg dijunjung tinggi.

c)      Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan.

d)      Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian (konsep).

2)      Plato (427-342 SM): Filsafat adalah pengetahuan yg berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.

3)      Al-Kindi (796-474 M)

Al-Kindi memberikan pengertian filsafat dikalangan umat Islam dalam tiga lapangan, yaitu sebagai berikut:

a)      Ilmu Fisika, meliputi tingkatan alam nyata, terdiri atas benda-benda konkret yang dapat ditangkap oleh pancaindra.

b)      Ilmu Matematika, berhubungan dengan benda, tetapi mempunyai wujud tersendiri yang dapat dipastikan dengan angka-angka.

c)      Ilmu Ketuhanan, tidak berhubungan dengan benda sama sekali yaitu soal ketuhanan

4)      Ibnu Sina (980-1037 M): Membagi filsafat dalam dua bagian yaitu teori dan praktik. Keduanya dihubungkan dengan agama. Dasarnya terdapat pada syariat, penjelasan dan kelengkapannya yang diperoleh dengan akal manusia.

5)      Imanuel Kant: Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan, yaitu metafisika (Apakah yang dapat kita kerjakan), etika (Apakah yang seharusnya kita kerjakan), agama (Sampai dimanakah harapan kita), dan antropologi (Apakah yang dinamakan manusia)

Dari beberapa ungkapan dari filsuf tersebut, dapat dirumuskan bahwa filsafat ialah upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami, mendalami, dan meyelami secara radikal, integral, sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia. Sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang hakikatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan yang diinginkan (Anwar, 2015).

 

b)      Tujuan Filsafat

Kalaulah ilmu dapat memberikan manusia pengetahuan, maka filsafat dapat memberikan hikmah, sehingga memberikan kepuasan kepada manusia dengan pengetahuan yang teratur rapi dan benar. Plato sendiri merasakan berpikir itu suatu nikmat luar biasa, sehingga filsafat dinamakan dengan ”keinginan yang sangat berharga, sebab tujuan tunggal filsafat adalah menemukan kebenaran. Disanalah terletak kebesaran. Kemuliaan dan ketinggian derajat filsafat (Alisjahbana, 1957).

Filsafat dapat membantu membangun keyakinan manusia secara intelektual, asalkan saja konsepsi agama tersebut tidak bergantung pada pra-ilmiah usang sempit dan dogmatis. Sebab masalah agama berkisar, pada harmonis, pengaturan, ikatan, pembebasan, dan Tuhan.

Memang ada orang yang mempelajari filsafat, hanya sekedar ingin tahu hasratnya tercapai atau untuk mepertajam pikiran. Sebenarnya lebih dari itu, filsafat tersebut di samping punya arti teoritis juga punya arti praktis. Orang yang berfilsafat tidak hanya untuk mengetahui, tetapi juga mempraktekan dalam hidupnya. Filsafat akan memberikan kepada manusia dasar-dasar pengetahuan untuk dapat hidup dengan baik sehingga ia akan menjadi manusia yang baik dan bahagia (Epping, 1983).

Jan Hendrik Rapar merumuskan filsafat ke dalam tiga peranan yang dapat diakses oleh semua manusia yang mencintai hikmah, yaitu sebagai pendobrak, pembebas dan pembimbing. Dalam sejarah menunjukkan betapa filsafat telah mendobrak pintu-pintu dan tembok-tembok tradisi yang begitu sakral dan tidak boleh diganggu-gugat karena percaya pada tahayul dan khurafat serta kepercayaan pada animisme dan dinamisme, dirobohkan dan dihancurkan dengan rasionalitas filsafat (Rapar, 2020).

Filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan kebodohannya. Demikian pula, filsafat membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis dan mitis itu. Lebih dari itu, filsafat membimbing manusia untuk berpikir secara logis dan sistematis, secara integral dan koheren, sehingga manusia menemukan kebenaran yang hakiki yang menjadi persoalan yang dihadapi semua manusia.

 

c)       Objek Filsafat

Objek material merupakan segala sesuatu yang menjadi problem filsafat atau yang dipermasalahkan oleh dan dalam filsafat. Material filsafat yang sangat luas itu meliputi segala pengetahuan manusia dan apa saja yang ingin diketahuinya. karena filsafat itu berpangkal pada pikiran manusia secra radikal dan sistematik terhadap seluruh alam, maka materi filsafat juga termasuk alam dan pemikiran itu sendiri (Langeveld, 1955).

Objek forma filsafat adalah mencari keterangan yang membahas secara mendalam tentang segala objek material filsafat. Dengan demikian jelaslah bahwa objek filsafat itu ada dua bentuk, yakni materia dan forma. Objek materia meliputi hakekat Tuhan, alam dan manusia. Ataupun sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan objek forma meliputi pencaharian keterangan secara radikal tentang objek materia filsafat yang ada. Hal inilah yang membedakan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan lainnya. Pada objek materianya sama sedang objek formanya berbeda. Namun demikian, aspek materianya sedikit berbeda. Objek ilmu hanya manusia dan alam, sedang filsafat mencakup juga masalah Tuhan (metafisika) (Hoesin, 1975).

 

d)      Susunan Ilmu Filsafat

Plato telah memulai mengurai susunan filsafat menjadi tiga, yaitu dialektika, yang mengandung persoalan idea-idea atau pengertian-pengertian umum; fisika, yang mengandung persoalan dunia materi dan etika yang mengandung persoalan baik dan buruk. Kemudian disempurnakan secara lebih konkrit dan sistematik oleh Aristoteles menjadi Logika, yang dianggapnya sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat, kemudian Teori (nazhari) yang mencakup di dalamnya ilmu alam, matematika dan metafisika, dan Praktis (‘amali), termasuk ilmu pelaksanaan perbuatan manusia seperti akhlak, dan politik, serta estetika, yang mengupas masalah teori keindahan atau seni (Bakry, 1981).

Dalam bentuk yang agak berbeda dikemukakan oleh Kulpe, seorang filosuf Jerman, bahwa filsafat itu terbagi dua, yaitu:

1)      Filsafat umum, yang mencakup metafisika, ma’rifat (epistemologi) dan logika; dan

2)      Filsafat khusus yang mencakup akhlak, keindahan (axiologi), ilmu jiwa, filsafat alam, filsafat hukum, filsafat agama, filsafat sejarah, dan sosiologi.

Pembidangan dan pembagian filsafat, sejalan dengan akselerasi ilmu pengetahuan, selalu berkembang. Namun demikian, secara umum, tetap berkutat pada pembagian yang dapat dikatakan merupakan bidang pokok dari filsafat, yaitu:

1)      Ontologi (Perancis dan Jerman: eime be dan logos, kata atau pengetahuan), yakni ilmu yang berkaitan dengan esensi dari benda atau makhluk secara abstrak, atau studi tentang hakekat tertinggi dari yang ada atau realitas.

2)      Epistemologi (Greek: episteme, pengetahuan dan logos), yakni teori tentang metode atau dasar dari pengetahuan, atau studi tentang hakekat tertinggi, kebenaran dan batasan ilmu manusia. Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan (Suriasumantri, 1985).

3)      Axiologi (Greek: axio, menarik faedah dari sesuatu). Atau studi tentang hakekat tertinggi, realitas dan arti dari nilai-nilai (kebaikan, keindahan, dan kebenaran) (Suriasumantri, 1985).

Ontologi dan epistemologi dikelompokkan bersama dan disebut metafisika. Sedangkan axiologi di bagi ke dalam:

1)      Filsafat etika atau moral, adalah studi mengenai idealisme yang tertinggi atau norma-norma tingkah laku;dan

2)      Estetika atau filsafat keindahan, adalah studi tentang idealisme yang tertinggi atau norma-norma seni (Sarwar, 1990).

 

e)       Karakteristik Filsafat

Karakteristik dasar filsafat oleh Jan Hendrik Rapar diungkapkan setidaknya ada lima hal, yaitu berpikir radikal, mencari asas, memburu kebenaran, mencari kejelasan dan berpikir rasional (Suriasumantri, 1985).

1)      Berpikir Radikal; Berpikir secara radikal adalah karakter utama filsafat, karena filosuf berpikir secara radikal, maka ia tidak akan pernah terpaku hanya pada fenomena suatu entitas tertentu. Ia tidak akan pernah berhenti hanya pada suatu wujud realitas tertentu.

2)      Mencari Asas: Karakter filsafat berikutnya adalah mencari asas yang paling hakiki dari keseluruhan realitas, yaitu berupaya menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas. Dengan menemukan esensi suatu realitas, maka akan diketahui dengan pasti dan menjadi jelas keadaan realitas tersebut, oleh karena itu, mencari asas adalah salah satu sifaty dasar atau karakteristik filsafat.

3)      Memburu Kebenaran; Berfilsafat berarti memburu kebenaran tentang segala sesuatu. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran yang tidak meragukan, oleh sebab itu ia selalu terbuka untuk dipersoalkan kembali dan diuji demi meraih kebenaran yang lebih hakiki. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kebenaran filsafat tidak pernah bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ini pun masih bersifat terbuka untuk diuji dan dikaji lagi sampai menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan. Dengan demikian, terlihat bahwa salah satu karakteristik filsafat adalah senantiasa memburu kebenaran.

4)      Mencari Kejelasan; Berfilsafat berarti berupaya mendapatkan kejelasan mengenai seluruh realitas. Geisler dan Feinberg mengatakan bahwa ciri khas penelitian filsafat ialah adanya usaha keras demi meraih kejelasan intelektual. Mengejar kejelasan berarti harus berjuang dengan gigih untuk mengeliminasi segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur dan yang gelap, bahkan juga yang serba rahasia dan berupa teka-teki.

5)      Berpikir Rasional: Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional berarti berpikir logis, sistematis dan kritis. Berpikir logis itu bukan hanya sekedar mengapai pengertian-pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, melainkan agar sanggup menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan. Berpikir logis juga menuntut pemikiran yang sistematis, di mana rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling berkaitan secara logis. Tanpa berpikir yang logis-sistematis dan koheren, maka satu hal yang tak mungkin dicapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Berpikir kritis ialah terus menerus mengegevaluasi dan memverifikasi argument-argumen yang mengklaim diri benar. Berpikir logis sistematis-kritis adalah ciri utama berpikir rasional, dan berpikir rasional adalah salah satu karakteristik filsafat (Rapar, 2020).

Di samping berpikir radikal, mencari asas, memburu kebenaran, mencari kejelasan dan berpikir rasional. Masih ada lagi beberapa hal yang menjadi karakteristik atau ciri khas filsafat; yaitu memikirkan sifat-sifat umum, hidup dalam kesadaran, bersifat toleran dan bersifat subjektif.

1)      Memikirkan Sifat-Sifat Umum, sebagai diketahui, bahwa ojek kajian filsafat selalu memilih hal-hal yang umum.

2)      Hidup Dalam Kesadaran, meminjam istilah Rene Descartes (1596-1650) ‘cogito ergo sum’ saya berpikir maka saya ada. Kalimat ini menegaskan bahwa filsfat itu memiliki ciri selalu hidup dalam kesadaran. Aristoteles menengarai bahwa keheranan adalah sumber yang melahirkan filsafat.

3)      Bersifat Toleran, orang yang hidup tanpa kesadaran (berpikir filosofis), yang selalu sibuk dengan aktivitas rutin dan disibukkan oleh pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, ia tidak punya waktu untuk berpikir secara filosofis. Pemikiran filosofis menerima kritikan dari luar, bahkan secara internal melakukan self critic, kritik internal. Maka menjadi ciri khas pemikiran filsafat Mengenal Filsafat dan Karakteristiknya adalah bersifat terbuka dan toleran terhadap perbedaan pandangan atau pemikiran yang berbeda.

4)      Bersifat Subjektif, pemikiran filsafat itu menjadi milik filosuf itu sendiri. Berpikir manusia pasti bersifat subjektif. Perbedaan ini lumrah terjadi dalam menjawab teka-teki yang tidak habis- habisnya karena bersifat metafisis. Walaupun jawabannya saling berlawanan, namun dengan pengalaman apa pun tidak dapat memvonis mana yang benar dan mana yang salah. Karena konsepsi filsafat benar-benar asli tidak bisa digugat. Konsepsi itu bisa diserang dengan konsepsi lain, tetapi tidak dapat dikalahkan (Beerling, 1966).

 

 

KESIMPULAN

 

Filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Menurut beberapa ahli, filsafat dapat dikatakan sebagai induk ilmu, karena dari sinilah ilmu pengetahuan lainnya muncul. Filsafat kerap disandingkan dengan kata “heran” dan “penasaran”. Mulailah seseorang berfikir bebas maka akan ditemukan hal baru, berkembang pertanyaan, dan muncul hal-hal baru lainnya. Hasilnya, muncul ilmu-ilmu pengetahuan baru; mempelajari sosial, ilmu pasti,dsb

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Alisjahbana, A. (1957). Filsafat I : Metafisika. Dian Rakyat.

Anwar, M. (2015). Filsafat pendidikan. Kencana.

Bagus, L. (2000). Kamus Filsafat. Gramedia.

Bakry, H. (1981). Sistematik filsafat. Widjaya.

Beerling, E. F. (1966). Filsafat dewasa ini (H. Amin, Ed.; Terj.). PN Balai Pustaka.

Burhanuddin, N. (2018). Filsafat ilmu. Kencana.

Epping, A. (1983). Filsafat ENSIE. Jemmars.

Hoesin, O. A. (1975). Filsafat Islam. Bulan Bintang.

Langeveld, M. J. (1955). Menuju ke Pemikiran Filsafat (Terj). GJ Claesson.

Rapar, J. H. (2020). Pengantar Filsafat. Kanisius.

Ritaudin, M. S. (2015). Mengenal Filsafat dan Karakteristiknya. Kalam, 9(1), 127–144.

Sarwar, H. G. (1990). Filsafat Al-Quran (Z. M. Mursyid, Ed.; Terj.). Rajawali Pers.

Suriasumantri, J. S. (1985). Ilmu dalam perspektif: Sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu. Gramedia.

 

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).