FILSAFAT DAN SAINS
ISLAM TENTANG FENOMENA ALAM
Nur Atika1*, Salminawati2
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara,
Indonesia
nur.atika@uinsu.ac.id, salminawati@uinsu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
05 April 2022 15 April 2022 18 April 2022 |
Latar Belakang: Alam
raya yang telah diciptakan menunjukkan adanya kinerja yang prosesnya dapat
kita saksikan. Aktivitas yang terjadi pada alam raya, memperlihatkan adanya
fenomena-fenomena yang selalu muncul dalam kehidupan ini. Dengan selalu
bergeraknya matahari, bumi, bulan, dan bintang-bintang, tentu ada hal-hal
yang terjadi sebagai akibat dari perputaran masing-masing benda langit itu. Tujuan: Menunjukkan
adanya keserasian dan keseimbangan dalam hukum-hukum alam smesta
merupakan adalah sebuah bentuk keberadaan Allah Swt
yang mengauasai seluruh alam semesta yang berada
dalam kendali-Nya Metode: Penelitian
ini dirancang dalam bentuk penelitian pustaka atau penelitian pustaka
menggunakan berbagai sumber literatur sebagai sumber data penelitian. Hasil: Perenungan
fenomena alam semestinya membimbing ke arah penyucian jiwa dan menyadari
kenisbian manusia. Sifat dan sikap takabur merupakan pengotor jiwa yang bisa
muncul dalam bentuk sikap otoriter, deskriminatif,
dan menindas. Kesimpulan: Dari pemaparan tersebut maka dapat kita ambil pelajaran pergantian
malam dan siang merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah. Dalam pergantian
itu ditemukan banyak manfaat bagi semua makhluk-Nya. Kata kunci: Sains Islam;
Fenomena Alam. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: The universe that
has been created shows a performance, the process of
which we can see. Activities
that occur in the universe show the existence
of phenomena that always appear
in this life. With the constant
movement of the sun, earth, moon, and stars,
of course there are things that happen as a result of the
rotation of each of the
celestial bodies. Purpose: Showing the existence of harmony and
balance in the laws of the
universe is a form of the
existence of Allah SWT who controls the entire universe
which is under His control. Methods: This research was designed in the form of
library research or library research
using various literature sources as research data sources. Result: Contemplation of natural phenomena
should lead to the purification
of the soul and the
realization of human relativity. The nature and attitude of arrogance is an impurity
of the soul that can
appear in the form of authoritarian,
discriminatory, and oppressive attitudes. Conclusion: From this explanation, we can take
lessons that the alternation of night and
day is one proof of
God's power. In this change, many benefits are found for all
His creatures. Keywords: Islamic Science; Natural phenomena. |
|
*Correspondent Author : Nur
Atika
Email : nur.atika@uinsu.ac.id
PENDAHULUAN
Alam
raya yang telah diciptakan menunjukkan adanya kinerja yang prosesnya dapat kita
saksikan. Aktivitas yang terjadi pada alam raya, memperlihatkan adanya
fenomena-fenomena yang selalu muncul dalam kehidupan ini (Dayana & Marbun, 2019). Dengan
selalu bergeraknya matahari, bumi, bulan, dan bintang-bintang, tentu ada
hal-hal yang terjadi sebagai akibat dari perputaran masing-masing benda langit
itu. Semua yang terjadi merupakan fenomena alam yang daoat
dilihat dan dirasakan secara nyata (Harefa, 2020).
Karenanya kajian tentang hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang layak
dilakukan.
Pada
bagian lalu telah dibahas hal-hal yang terkait dengan hakikat langit yang
berimbas pada alam semesta. Selanjutnya, pada bagian ini akan dikaji hal-hal
yang berhubungan dengan fenomena alam yang terjadi sebagai akibat logis dari
gerak. Di antara masalah-masalah tersebut adalah terjadinya pergantian malam
dan siang, perjalanan waktu yang menjadi penanda bagi makhluk, dan kemungkinan
adanya makhluk hidup di luar bumi atau tata surya yang diketahui saat ini.
Keberadaan
akal pada manusia tidak disangsikan lagi.namun
istilah akal tidak ditemukan sebagai kata dasar didalam
al-Qur’an , kecuali kata turunannya (Salahudin, 2021).
Anugerah akal bagi manusia merupakan kekuatan terbesar untuk memahami mekanisme
kerja alam semesta dan kemudian dipergunakan untuk mengkonstruksi
asal muasal alam semesta, planet, dan sistem tata surya. Akal manusia
dipergunakan untuk memahami dan menginterpretasi fakta-fakta kauniyah dan juga ayat-ayat Qur’aniyah.
Ada sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perantaraan akal.
Penggunaan akal juga berarti menghindari kemarahan Allah (Susanto, 2021).
Alam
semesta merupakan laboratorium tempat eksperimen dalam skala yang sangat besar,
diluar kapasitas kemapuan
manusia di planet bumi. Pendek kata ukuran ruang alam semesta seolah tidak
terbatas bila dibandingkan dengan ukuran-ukuran benda-benda yang pernah dilihat
manusia (Hasan, 2021).
Para
intelektual muslim yang memiliki perhatian besar terhadap pembangunan dan
pengembangan Sains Islam telah menunjukkan dedikasi yang tinggi melalui
karya-karyanya dan lembaga-lembaga yang dirintisnya (Aeny, Sholikhah, Sari, Amaliyah, & Hidayatullah,
2020).
Sebagian di antara mereka adalah Seyyed Hossein Nasr, yang dikenal
sebagai penjaga taman spiritualitas Islam. Ia menekankan membangun kembali
sains Islam dengan memasukkan kembali pandangan dunia Islam sebagai dasar
sains, yaitu pandangan dunia yang bertumpu pada sakralisasi
alam semesta (Khoirudin, 2017).
Seyyed Naquib Al-Attas merancang sains
Islam. Menurut intelektual muslim kelahiran Indonesia dan asal Malaysia ini,
epistemologi Islam tidak berangkat dari keraguan, melainkan berangkat dari
keyakinan akan adanya kebenaran itu sendiri (Garwan, 2019).
Kebenaran yang secara inheren telah terkandung dalam al-Qur’an
sebagai petunjuk Tuhan. Program islamisasi menjadi satu bagian kecil dari upaya
besar pemecahan masalah epistemologi ilmu pengetahuan.
Jika
dalam pembahasan ini menunjukkan adanya keserasian dan keseimbangan dalam
hukum-hukum alam smesta merupakan adalah sebuah
bentuk keberadaan Allah Swt yang mengauasai
seluruh alam semesta yang berada dalam kendali-Nya
METODE
PENELITIAN
Penelitian
ini dirancang dalam bentuk penelitian pustaka atau penelitian pustaka
menggunakan berbagai sumber literatur sebagai sumber data penelitian (Firdaus, 2020).
Penelitian Perpustakaan atau riset Perpustakaan adalah sebuah studi yang
berkaitan dengan pemikiran seorang tokoh yang dalam waktu tertentu, kondisi
budaya, masyarakat pada waktu itu, bersama dengan dokumen, secara metodologis
pendekatan yang digunakan adalah pendekatan interpretasi (Afifah, Ayub, & Sahidu, 2020). Atas
dasar analisis kebutuhan yang dilakukan, teridentifikasi bahwa diperlukan
bentuk intervensi dalam perkuliahan yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum
terutama berkaitan dengan penciptaan alam semesta.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Alam
merupakan lapangan tujuan dimana segala sesuatu
memenuhi suatu tujuan dan dengan cara demikian memberikan sumbangan bagi
kesejahteraan dan keseimbangan segalanya (Syamsuddin & Ag, 2016). Dari
sebutir batu kerikil yang bernyawa dilembah, dan bima sakti dan mataharinya, pohon-pohon raksasa, ikan paus
dan gajah dan segala sesuatu yangsudah ada, melalui
kelahiran dan pertumbuhannya (Eraslan, 2015).
Kehidupan dan kematian memenuhi satu tujuan yang telah ditetapkan untuknya oleh
tuhan, yang perlu bagi makhluk-makhluk lainnya. Semua makhluk saling bergantung
dan semua ciptaan berjalan lancar karena adanya keselarasan yang sempurna untuk
bagian-bagiannya untuk segala sesuatu (Elhady, 2018).
Ayat-ayat
yang mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat Tuhan kepada ciptaan-Nya,
banyak ayat yang mengandung pernyataan yang baik sekali untuk dihadapkan sains
modern. Dari segi pandangan ini ayat-ayat tersebut malah lebih penting karena
tidak menyebutkan kepercayaan-kepercayaan yang bermacam-macam mengenai fenomena
alam (MARIFATULLAH, 2021).
Di
antara kekuasaan Allah yang berlangsung dapat dirasakan dan disaksikan adalah
terjadinya pergantian malam dan siang. Informasi tentang hal ini dapat dilacak
pada ayat-ayat yang tersebar dalam Surah Ali ‘Imran/3:190 sebagai berikut yang
artinya ; Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian
malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang berakal.
(Hayani & Ilmiah, 2020).
Di
antara fenomena alam yang paling sering kita rasakan saksikan adalah terjadinya
malam dan siang. Pengertian keduanya disebabkan oleh perputaran bumi pada
porosnya dan perjalanan matahari pada orbitnya. Akibat dari perputaran (rotasi)
bumi ini, sebagian dari wilayah bumi akan menghadap matahari sehingga terkena
sinar yang dipancarkannya. Bagian ini pun menjadi terang dan inilah yang
disebut siang. Sebaliknya, bagian yang membelakangi matahari gelap, dan saat
itu daerah tersebut disebut malam. Fenomena seperti ini berlangsung secara
terus menerus, sesuai dengan perputaran dan pergerakan bumi dalam mengelilingi
matahari.
Di atas
telah dipaparkan bahwa terjadinya malam dan siang merupakan akibat dari
perputaran bumi pada porosnya dan perjalanan bumi pada porosnya dan perjalanan
matahari pada orbitnya. Perputaran bumi menyebabkan terjadinya malam dan siang,
sedang pergerakan bumi pada orbitnya untuk mengelilingi matahari menyebabkan
perbedaan rentang waktu malam dan siang yang tidak sama pada waktu-waktu
tertentu. Seperti diketahui bahwa bumi mengelilingi matahari telah menyebabkan
perubahan letak dan jaraknya dari matahari. Kadang-kadang benda ini berada di
tengah belahan bumi (katulistiwa), kadang-kadang di
selatan atau di utaranya. Bila matahari dibagian
utara, maka belahan bumi di wilayah itu akan terkena sinar yang lebih banyak,
sehingga siang hari terasa lebih panjang dari malamnya. Pada puncaknya siang
dapat terjadi selama 16 jam dan malam hanya 8 jam. Sedang dibelahan
selatan terjadi sebaliknya, yaitu malam lebih panjang dari siangnya.
Sebaliknya, bila matahari.
Sementara
itu, selain berpengaruh pada panjang pendeknya waktu, peredaran bumi
mengelilingi matahari ini juga akan menyebakan
pergantian musim di beberapa bagian bumi. Ketika matahari di bagian utara, maka
daerah ini berada pada musim panas, dan selatan berada dalam musim dingin (Azizah, 2018).
Demikian sebaliknya yang terjadi. Bekaitan dengan
pergantian musim ini, sebagian manusia memanfaatkannya untuk menetapkan waktu
bepergian seperti yang dilakukan masyarakat Quraisy di Jazirah Arab pada masa
lalu. Pada musim panas, mereka bepergian ke utara untuk berdagang. Pemilihan
ini sebabkan cuaca di daerah tujuan berada dalam keadaan panas, sehingga
perjalanan tidak tergangu oleh cuaca dingin.
Sedangkan pada musim dingin, mereka memilih untuk berdagang ke arah selatan,
yang cuacanya lebih hangat.
Jika
melihat alam semesta secara keseluruhan, mendapati ruang suhu yang sangat
sempit untuk menunjang sebuah kehidupan ini merupakan hal yang sangat sulit
karena suhu diseluruh kehidupan ini merupakan hal
yang sangat sulit karena suhu diseluruh alam semesta
ini bervariasi dari beberapa juta derajat pada bintang terpanas hingga nol
derajat mutlak (-273ºC) dalam selang suhu yang begitu lebar, toleransi suhu
yang memungkinkan adanya kehidupan sangatlah sempit,
namun bumi memilikinya (Rustam & Haris, 2018).
Keagungan
Allah Swt itu terlihat pada ciptaan langit dan bumi.
Bagi orang yang beriman dan menggunakan akal pikirannya, semua ciptaan Allah
mengandung Hikmah, dan tidak dijadikan percuma saja. Dengan demikian
dijadikannya langit dan bumi, malam dan siang memungkin untuk manusia untuk
menambah cakrawala pengetahuannya.
Segala
sesuatu yang dicipta Allah pasti ada manfaatnya dan tidak ada yang sia-sia.
Demikian juga halnya dalam pergantian malam dan siang. Di antara manfaatnya,
diciptakannya malam adalah untuk istirahat dan siang untuk beraktivitas,
mencari rezeki untuk memenuhi hajat hidup. Untuk keperluan dirinya, manusia
perlu bekerja dalam rangka mendapatkan rezeki, dan ini dilaksanakan pada siang
hari, ketika suasana terang benderang. Namun demikian manusia juga memerlukan
istirahat, dan waktu terbaik untuk ini adalam malam
hari, ketika suasana gelap. Istirahat ini diperlukan agar hari berikutnya
mereka merasa segar kembali, sehingga dapat menghadapi hari dan melaksanakan
tugas dengan semangat baru.
Manfaat
lain dari pergantian malam dan siang adalah munculnya kehidupan di bumi secara
merata. Bila bumi tidak berputar pada porosnya, maka bagian yang menghadap
matahari akan terus berada dalam keadaan terang. Hal seperti ini tentu akan
berdampak negatif terhadap kawasan tersebut. Daerah yang terkana
sinar matahari secara terus-menerus, lama kelamaan akan menjadi kering, karena
semua cairan akan manguap (Bashori, 2015). Pada
akhirnya, daerah ini menjadi tandus, gersang tanpa air, dan mungkin saja akan
mudah terbakar. Akibat lain, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan di daerah
seperti ini. Sebaliknya, daerah yang membelakangi matahari, karena bumi tidak
berputar, akan terus-menerus berada dalam kegelapan. Cuaca menjadi dingin dan
semakin dingin. Air akan membeku dan tidak dapat dimanfaatkan oleh makhluk
hidup. Akibat lebih jauh, kehidupan akan musnah. Karena itu, dengan berputarnya
bumi pada porosnya, yang mengakibatkan terjadinya pergantian malam dan siang,
mempunyai pengaruh positif bagi kehidupan makhluk.
Pengertian
malam dan siang yang secara terus menerus ini, merupakan karunia Allah bagi
semua makhluk. Dia Mahatahu akan keadaan makhluk-Nya, karena Dia yang
menciptakan. Dengan ilmu-Nya itu, Allah mengetahui jika bumi berhenti berputar,
akibatnya adalah tidak ada pergantian malam dan siang, maka dipastikan makhluk
akan punah. Karena itulah, Allah menegaskan bahwa penetapan pergantian malam
dan siang adalah benar-benar untuk kepentingan makhluk, termasuk di antaranya
manusia (Maulida, 2017).
Pada
waktu siang, cahaya matahari sangat terang sehingga bintang-bintang tidak
terlihat. Yang terlihat hanya matahari. Pada pagi hari, bulan bisa nampak, tetapi terlihat pucat, tidak bercahaya. Denagn terbenamnya matahari, hari mulai gelap.
Bintang-bintang sedikit demi sedikit mulai terlihat. Makin malam bintang yang
dapat dilihat semkain banyak dan tampak semakin terang.
Bulanpun makin bercahaya. Allah yang menjadikan bumi
berotasi sehingga malam dan siang datang silih berganti. Matahari, bulan, dan
bintang-bintang tampak terbit dan terbenam disebabkan karena perputaran bumi
pada sumbunya.
Orang-orang
sejak zaman dahulu kala menjadikan maam dan siang
sebagai ukuran waktu, karena jam belum dikenal pada saat itu. Hanya tanda-tanda
di alam yang bisa dijadikan sebagai penanda waktu. Malam dan siang jelas
bedanya, gelap dan terang. Jadi, bisa dijadikan ukuran. Dalam kehidupan
sehari-hari kinipu ukuran itu masih digunakan yang
seri kita sebut denga “sehari” atau “semalam”, atau
“sehari-semalam”, dan sebagainya (Syam, 2014).
Dalam
hadis pun Nabi memberikan petunjuk tentang waktu shalt
dengan memberikan tanda-tanda dari alam. Waktu shalat
subuh itu dimuali dari munculnya cahaya fajar di ufuk
timur, dan berakhir pada waktu matahari terbit. Waktu salat zuhur dimulai
ketika matahari lingsir, yaitu mulai condong ke barat (II & SALAT, n.d.). Bila
panjang bayangan suatu benda misalnya tongkat, ditegakkan ditanah
sama dengan panjang tongkatnya itu, maka berartitelah
masuk waktu salat ashar. Waktu shalat
magrib bila matahari telah terbenam. Bila cahaya merah di ufuk barat mulai
hilang, itulah tandanya awal waktu shalat isya. Semau
tanda-tanda petunjuk waktu shalat itu sebenarnya
berdasarkan posisi matahari di langit.
Keberulangan
penampakan matahari dijadikan alat penentuan waktu. Satu hari adalah waktu dari
saat matahari terbit sampai matahri terbit
berikutnya. Pada waktu orang mulai mengenal jam sebagai penda waktu, maka
ditentukan bahwa satu hari adalah 24 jam. Satu jam sama dengan 60 menit,
sedangkan dalam satu menit adalah 60 detik, dalam hal ini ada 3600 detik dalam
1 jam, jika dikalikan maka ada 86400 detik dalam satu hari. Dalam kenyataannya
jangka waktu seja matahari terbit sampai terbit
berikutnya tidak selalu tepat 24 jam. Kadanf-kadang
lebih dari 24 jam, dan kadang-kadang kurang dari 24 jam. Tetapi jika diambil
rata-ratanya dalam satu tahun akan didapatkan akngka
24 jam itu.
Itulah “psiko-astronomis” dari fenomena matahari. Memang fenomena
alam dengan proses spesifik yang disebut di dalam surah asy-Syam
diatas, kaya akan pelajaran untuk direnungkan.
Matahari memberikan sinar pada bulan yang mengiringinya sehingga manusia bisa
menentukan penaggalan Qamariyah.
Matahari memberikan cahaya terang dan kehangatan pada siang hari sehingga
manusia bisa beraktivitas. Matahari bersembunyi di balik horizon pada malam
hari agar manusia bisa beristirahat dengan tenang (Aziz, 2007).
Perenungan
fenomena alam semestinya membimbing ke arah penyucian jiwa dan menyadari
kenisbian manusia. Sifat dan sikap takabur merupakan pengotor jiwa yang bisa
muncul dalam bentuk sikap otoriter, deskriminatif,
dan menindas. Imam al-gazali pernah berpesan,
“jadilah Muslim seperti matahari. Ia bersinar karena kualitas pribadinya. Ia
mampu menerangi dan menghangatkan sekitarnya, mampu memberi manfaat bagi masyarakatnya.
KESIMPULAN
Dari
pemaparan diatas maka dapat kita ambil pelajaran
bahwa pergantian malam dan siang merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah.
Dalam pergantian itu ditemukan banyak manfaat bagi semua makhluk-Nya. Dengan memperhartikan bukti-bukti itu, sudah selayaknya manusia
beribadah hanya kepadanya yang mahakuasa, dan bukan kepada yang lain-Nya.
Aeny, Nur, Sholikhah, Maratus, Sari, Wahyu Intan, Amaliyah,
Ifaf, & Hidayatullah, Ahmad Fauzan. (2020). FENOMENA SAINS DALAM AL-QUR’AN
PERSPEKTIF IAN G. BARBOUR DAN ISMAIL RAJI AL-FARUQI SCIENCE PHENOMENA IN THE
QUR’AN OF IAN G. BARBOUR AND ISMAIL RAJI AL-FARUQI. Jurnal Yaqzhan, 6(1).
Afifah, Gusti, Ayub, Syahrial, & Sahidu, Hairunnisa.
(2020). Konsep Alam Semesta Dalam Perspektif Al-Quran dan Sains. Jurnal
Pendidikan, Sains, Geologi, Dan Geofisika (GeoScienceEd Journal), 1(1).
Aziz, Abdul. (2007). Bumi sholat secara matematika.
UIN-Maliki Press.
Azizah, Maulidatun Nur. (2018). Analisis hisab awal waktu
salat dalam kitab Asy-Syahru. Skripsi Fakultas Syariah UIN Walisongo.
Bashori, Muhammad Hadi. (2015). Pengantar Ilmu Falak:
Pedoman Lengkap Tentang Teori dan Praktik Hisab, Arah Kiblat, Waktu Salat, Awal
Bulan Qamariah & Gerhana. Pustaka Al Kautsar.
Dayana, Indri, & Marbun, Juliaster. (2019). Tips dan
Trik Membimbing Olimpiade dan Riset untuk Tingkat SMA dan Perguruan Tinggi.
Guepedia.
Elhady, Aminullah. (2018). Averroisme dimensi-dimensi
pemikiran Ibn Rusyd. Bildung.
Eraslan, Sibel. (2015). AISYAH, wanita yang hadir dalam
mimpi Rasulullah. Puspa Swara.
Firdaus, Firdaus. (2020). Implementasi Dan Hambatan Pada
Pembelajaran Daring Di Masa Pandemi Covid 19. Utile: Jurnal Kependidikan,
6(2), 220–225.
Garwan, Muhammad Sakti. (2019). Urgensi Islamisasi Ilmu Syed
Naquib Al-Attas Dalam Upaya Deskonstruksi Ilmu Hermeneutika Al-Qur’an. Substantia:
Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 21(2), 125.
Harefa, Darmawan. (2020). Teori Ilmu Kealaman Dasar Kajian
Untuk Mahasiswa Pendidikan Guru dan Akademis. Deepublish.
Hasan, Johan. (2021). Mempertimbangkan Pendekatan
Prinsiplisme dalam Entrepreneurship1. Refleksi 30 Tahun HIDESI, 205.
Hayani, Ratu Amalia, & Ilmiah, Wardatul. (2020). Inovasi
Pembelajaran Di Masa Pandemi COVID-19: Kontekstualisasi Materi Pendidikan Agama
Islam. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP, 3(1), 254–266.
II, B. A. B., & SALAT, TINJAUAN UMUM TENTANG WAKTU.
(n.d.). ًﺎﺗﻮُﻗْﻮ
ﻣ ًﺎﺑﺎَﺘِﻛ َﲔِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟا
ﻰَﻠَﻋ ْﺖَﻧﺎَﻛ
َةَﻼ ﺼا نإ.
Khoirudin, Azaki. (2017). Sains Islam berbasis nalar
ayat-ayat semesta. At-Ta’dib, 12(1), 195–217.
MARIFATULLAH, NUZUL ABDI. (2021). MUATAN I’JAZ ‘ILMI DALAM
PENAFSIRAN SURAH AR-RUM AYAT 20-25 (Kajian Tafsir Tahlili). UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.
Maulida, Ali. (2017). Konsep dan Desain Pendidikan Akhlak
dalam Islamisasi Pribadi dan Masyarakat. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan
Islam, 2(04).
Rustam, Rusyja, & Haris, Zainal A. (2018). Buku Ajar
Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Deepublish.
Salahudin, Asep. (2021). Filsafat Ilmu: Menelusuri Jejak
Integrasi Filsafat, Sains, dan Sufisme-Rajawali Pers. PT. RajaGrafindo
Persada.
Susanto, Ahmad. (2021). Filsafat ilmu: Suatu kajian dalam
dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bumi Aksara.
Syam, Junaidi. (2014). Struktur Waktu Religius dalam
Kebudayaan Melayu Sungai Rokan. Jurnal Sosiologi Agama, 6(1).
Syamsuddin, A. B., & Ag, S. (2016). Pengantar
Sosiologi Dakwah. Kencana.
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |