PENGERTIAN ONTOLOGI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

 

 

Abdul Hafizh Azizi Batubara1, Salminawati2

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

ha8591052@gmail.com salminawati@uinsu.ac.id

 

 

 

Abstrak

Received :

Revised   :

Accepted :

01 Mar 2022

10 Mar 2022

15 Mar 2022

 

 

Latar Belakang: Islam merupakan agama yang dapat klasifikasikan sebagai agama terbesar dan dianut banyak umat manusia di dunia yang tersebar di berbagai kepingan dunia.

Tujuan: Tujuan yang ingin dicapai dalam proses pemutakhiran normatif dan nilai Al-Qur'an dalam pendidikan mengandung tiga aspek harus diperhatikan,dibesarkan oleh pendidikan. Pertama adalah tingkat spiritual, kedua dimensi budaya dan ketiga dimensi kecerdasan yang membawa perkembangan.

Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua sumber,  yaitu  data primer dan data sekunder, dimana data dan informasi berasal dari artikel-artikel hasil penelitian dari peneliti-peneliti sebelumnya. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Pustaka, dengan membaca literatur terkait pembahasan yang diangkat.

Hasil: Keberadaan Kurikulum Pendidikan Islam sebagai alat untuk mencerdaskan generasi muda, untuk menemukan dan mengembangkan berbagai macam kemampuan, bakat, kekuatan dan keterampilan, serta mempersiapkan mereka dengan baik untuk melaksanakan haknya. Kewajiban bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga,  masyarakat dan negara serta berperan aktif dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Kesimpulan: Ketika merancang kerangka pendidikan Islam ditinjau dari ontologi, ranah kehidupan keagamaan, ranah kehidupan keluarga, ranah kehidupan bermasyarakat, ranah kehidupan politik,  dan ranah kehidupan budaya.

 

 

Kata kunci: Pendidikan Islam; Ontologi; Ilmu Pengetahuan.

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Islam is a religion that can be classified as the largest religion and is embraced by many people in the world scattered in various parts of the world.

Objectives: The objectives to be achieved in the process of updating the normative and values ​​of the Qur'an in education contain three aspects that must be considered, raised by education. The first is the spiritual level, the second is the cultural dimension and the third is the intelligence dimension that brings development.

Methods: This research uses descriptive qualitative research. The data used in this study includes two sources, namely primary data and secondary data, where data and information come from research articles from previous researchers. The data collection technique used in this research is library research, by reading the literature related to the discussion raised.

Result: The existence of the Islamic Education Curriculum as a tool to educate the younger generation, to discover and develop various kinds of abilities, talents, strengths and skills, and prepare them well to exercise their rights. The obligation to be responsible for oneself, family, community and country and play an active role in the development of society and the state.

Conclusion: When designing the framework of Islamic education in terms of ontology, the realm of religious life, the realm of family life, the realm of social life, the realm of political life, and the realm of cultural life.

 

 

Keywords: Islamic Education; Ontology; Science.

*Correspondent Author : Abdul Hafizh Azizi Batubara

Email : ha8591052@gmail.com

 

 

PENDAHULUAN

 

Islam merupakan agama yang dapat klasifikasikan sebagai agama terbesar dan dianut banyak umat manusia di dunia yang tersebar di berbagai kepingan dunia (Hakim & Mubarok, 2017). Keberadaan umat Islam dulu, kini dan seterusnya tidak terlepas dari sebuah pedoman hidup yang memiliki keautentikan yang selalu terjaga hingga hari kiamat, diagungkan dengan kekuasaan Allah SWT, kitab suci yang tidak pernah tercampur dengan kebohongan, dari mana pun asalnya (Anggoro & Muhyiddin, 2019). Serta menyandarkan hidup kepada pedoman tersebut adalah sebuah keharusan untuk menggapai ridho Illahi dan mempermudah jalan bagi yang mempedomaninya ke dalam surga.  Oleh karena itu dengan turunnya Al-Qur’an bertujuan membimbing dan memberikan pegangan kehidupan yang tidak terbantahkan, Al-Qur’an memberikan berbagai prinsip yang sistematis serta ajaran terintegral kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad Saw.

Ilmu pengetahuan sebagai instrumen pembantu dalam menjelaskan isi kandungan                   Al-Qur’an memperoleh tempat yang fundamental, dialog Al-Quran menggunakan konsep universal seperti sains (Zainiyati, 2014). Islam terutama dalam hal sains dan teknologi Ini adalah agama yang selalu mendorong menjadi manusia berpengetahuan, kemudian Al-Qur’an melihat dengan jelas pendidikan merupakan masalah terpenting dalam membangun, memperbaiki situasi umat manusia dikehidupan ini (Lubis & Anggraeni, 2019). Pendidikan Islam dengan titik tekanan yang berbeda dari pendidikan umum lainnya, untuk memahami konsepnya perlu mengambil perspektif yang berbeda. Maka dengan itu sepenuhnya dapat dipahami, terutama oleh semua  pendidik dan siswa. Pendidikan umum tertuju pada rasionalitas dan kepraktisan, sedangkan pendidikan menumbuhkan sikap yang diciptakan oleh Iman dan taqwa lebih didahulukan (Sulasmi, Akrim, & Gunawan, 2019). Tujuan yang ingin dicapai dalam proses pemutakhiran normatif dan nilai Al-Qur'an dalam pendidikan mengandung tiga aspek harus diperhatikan,dibesarkan oleh pendidikan. Pertama adalah tingkat spiritual, kedua dimensi budaya dan ketiga dimensi kecerdasan yang membawa perkembangan.  Oleh karena itu, disebutkan bahwa nilai-nilai Al-Qur'an yang terkandung adalah realitas, nilai kebenaran (ahli metafisika dan ilmuwan) dan nilai moral yang sangat besar. Nilai-nilai dari keduanya akan membimbing dirinya dan orang banyak dalam kehidupan.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Dasar yang menjadi pertimbangan adalah Pertama, metode penelitian kualitatif lebih mudah disesuaikan dengan realitas yang sedang diteliti. Kedua, metode ini memberikan ruang bertemu langsung bagi peneliti untuk berinteraksi langsung dengan objek penelitian. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih bisa menyesuaikan pola-pola perkembangan nilai yang terjadi pada objek penelitian. Setelah itu, objek penelitian dijelaskan (dideskripsikan) sesuai dengan keadaan yang ada di lapangan (Anggito & Setiawan, 2018).

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua sumber,  yaitu  data primer dan data sekunder, dimana data dan informasi berasal dari artikel-artikel hasil penelitian dari peneliti-peneliti sebelumnya (Simarmata et al., 2021). Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Pustaka, dengan membaca literatur terkait pembahasan yang diangkat (Rahardjo, 2017)

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

The theory of being qua being yaitu ilmu yang mengakui akan keberadaan, secara etimologi ontologi dapat dimaknai sebagai sesuatu yang ada.  Ontologi adalah bagian paling umum dari filsafat sedangkan metafisika adalah salah satu bab kajian dari filsafat. Secara universal istilah ontologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mengeksplorasi tentang esensi dari segalanya, inti dari penelitian ontologi yaitu menjelaskan keadaan sebenarnya, bukan keadaan sementara yang terus mengalami perubah (Zaqiah & Rusdiana, 2014). Sesudah mengeksplorasi terutama pada bagian primer terhadap kajian ilmu filsafat, misalnya pengetahuan, moral dan sosial, kehutanan, manusia serta dunia dan alam semesta, lalu adanya eksplanasi terkait ontologi. Ontololgi akan sangat sulit untuk dipahami jika terjadi pemisahan dari urutan-urutan bagian filsafat lainnya.  Ontologi membahas terkait objek yang dikaji, bagaimana wujud fundamental dan hubungannya dengan menggunakan daya pikir. Secara ontologis, ilmu membatasi lingkup ulasan keilmuannya hanya dalam wilayah yang berada dalam jangkauan pengetahuan manusia (Nasution, 2016). Dengan demikian, objek penganalisisian yang berada pada wilayah pra pengalaman (misalnya proses penciptaan manusia) atau pasca pengalaman (misalnya hidup setelah kematian) tidak meliputi pembahasan dalam kajian ontologi.  Adapun yang menjadi dasar ontologi ilmu yaitu analisis objek material dari ilmu tertentu yang merupakan hal-hal yang berkaitan dengan objek empiris (berdasarkan pengalaman). Analisis  proses terbentuknya ilmu adalah landasan epistimologi ilmu.

 

فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَۙؕ وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَۙ  

“Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat.” ( Q.S Al-Haqqah: 38-39)

 

Berkaitan dengan Firman Allah Swt Q.S Al-Al-haqqah ayat 38-39 tersebut M. Quraish Shihab mengungkap bahwa ada keabsahan yang tidak mampu dicapai oleh indera manusia, sehingga dengannya tidak bisa dilakukan pengamatan serta percobaan.  Jika melihat persepsi ideologi dari sudut pandang Islam adalah sistem kepercayaan yang penuh dengan nilai-nilai ketuhanan yang intisarinya adalah nilai kebenaran mutlak yang berfungsi sebagai panduan sikap dan menentukan wawasan setiap Muslim (Inayah, 2018). Mengimani sebuah sistem kepercayaan dengan inti ilahi memandu setiap insan ke dalam wawasan yang benar tentang kehidupan dunia dan akhirat. Setiap dogma wawasannya bersumber dari wahyu Tuhan maka setiap kebenaran yang terdapat tidak bisa diragukan, sebab itu bukanlah hasil opini dan manipulasi manusia, tetapi melainkan sebuah keyakinan yang berisi wahyu dari Tuhan. Wawasan ketuhanan merupakan dasar dari pendidikan Islam. Semua kegiatan pendidikan Islam diilhami dan difokuskan pada keyakinan akan keesaan Tuhan dan membentuk apersepsi manusia akan kedudukannya sebagai hamba (Samho, 2019). Instruksi dalam membaca dari Al-Qur'an, terutama ayat pertama membumi (Iqra’) adalah sebuah kewajiban dan keharusan dimulai dengan menyebut nama Allah Swt. Dapat dipahami bahwa ayat tersebut memberikan aksentuasi bahwa setiap keaktifan menganalisis kelimuan seharusnya berpedoman dengan fondasi ketuhanan. Karena hakikat dasar ilmu adalah asas pengkuhan keimanan kepada sang maha pencipta Allah Swt serta adanya interpretasi Yang Maha Suci merupakan sentral teori ilmu pengetahuan Islam. Memiliki pola pikir Islam sebuah keyakinan yang absolut  bahwa segala sesuatu bersumber dari yang satu yaitu Allah Swt (AKRIM, 2022).

Al-Qur`an mempersembahkan wawasan dan motivasi kepada manusia untuk memperhatikan dan menganalisis alam sebagai pengejewantahan kekuasaan Allah Swt. Dari hasil riset dan penelitian fenomena alam kemudian membuahkan ilmu pengetahuan. Disinilah hadir sebuah motivator dan inspirator bagi para pembaca, pengkaji dan pengamalnya. Sehingga tumbuh keyakinan bahwa Al-Qur`an merupakan konsep pendidikan (Sulasmi et al., 2019). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bidang pendidikan Islam bersifat tauhid dalam segala dimensi dan relasi vertikal kehidupan manusia. Hubungan antara manusia dengan Tuhan, aspek horizontal; Hubungan manusia dengan orang lain dan lingkungan, termasuk kursus pendidikan.  Kalimat tauhid yang tertanam dalam memiliki makna yang sangat dalam (filosofis), yaitu pernyataan bahwa Islam itu mutlak, yang membacakan kalimat-kalimat tauhid dan menerapkan maknanya secara konsisten pada segala perbuatan termasuk pendidikan. Ketika seseorang berjanji untuk beriman iman, dia mengungkapkan kebebasan yang sebenarnya kebebasan manusia tidak boleh terikat oleh keinginan duniawi. Karena prerogatif yang dicita-citakan oleh pendidikan Islam adalah ketaatan dan pengabdian sepenuhnya kepada Allah Swt, itulah sejatinya kebebasan yang seharusnya dimiliki setiap manusia yang berkomitmen serta yakin terhadap tauhid dan mengamalkan dalam kehidupannya. Dengan demikian, kesadaran akan keesaan Tuhan itu sendiri menyangkut sempuranya keimanan kepada Allah Swt dari dua aspek: dari sudut rububiah (ciptaan, pendidikan,) dan dari sudut uluhiyah (ibadah).  Demikianlah tujuan dari pendidikan Islam sendiri dalam membangun insan manusia beriman yang mengenali dan merawat komponen-komponen fitrahnya tanpa mengorbankan sebagian untuk kemajuan sebagian yang lain. Ada banyak referensi tentang orang-orang dalam Al-Qur'an, dan menyebutkan mereka memiliki efek pendidikan (pendidikan). Menurut Nasir Budiman, setidaknya ada empat pengaruh pendidikan (Alimuddin, 2019). 

1.    Dengan berbagai anugerah potensi dan berbagai kelebihan yang diamanahkan Allah Swt kepada manusia seperti hati, akal, etika (adab), pendengaran, penglihatan, organ untuk merasa dan bergerak :

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur”. (Q.S An-Nahl:78)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sesungguhnya kami akan mengisi Neraka dengan perkemahan dan manusia yang tak terhitung banyaknya. Mereka memiliki hati (Firman Allah), tetapi tidak menggunakannya untuk memahami, memiliki mata (tanda kekuasaan Allah), tetapi tidak menggunakannya untuk melihat  dan memiliki telinga), tetapi tidak menggunakannya untuk mendengar (Aduh dari Allah). Mereka seperti  ternak, dan mereka semakin tersesat. Orang-orang ini tenang”. (Q.S 179)

2.    Kebebasan berpikir diberikan kepada orang-orang. Pikirkan tentang segalanya. Sehingga mereka dapat menemukan, menggali, mendalami, menganalisis atau melanjutkan pergulatan pikirannya, terutama yang berkaitan dengan kejadian-kejadian mereka sendiri. Tuhan berkata:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

“Dan dia mengajari Adam nama-nama segala sesuatu (benda) dan kemudian menunjukkannya kepada para malaikat. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau , kami tidak tahu apa-apa selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Anda mahakuasa dan mahakuasa.”

3.    Orang bertanggung jawab atas segala upaya dan akibat dari proses berpikir. Tanggung jawab ini mendidik kita untuk sadar, selalu tanggap,  tidak tersandung, tidak menyerah pada  nafsu,  adil, tidak kejam dan tegas dalam segala tindakan dan tindakan kita. Maka, Allah mengingatkan kita dengan firman berikut:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Dan jangan ikuti apa yang tidak kamu ketahui. Melalui pendengaran, penglihatan dan hati nurani, mereka semua  akan dimintai pertanggungjawaban.”

 

4.    Pendidikan Islam mengambil pendekatan  rasional, berbasis keyakinan, emosional dan fungsional untuk mengidentifikasi diri sendiri, yang pada akhirnya mengarah pada mengenal Tuhan.

 

Oleh karena itu, hakekat konsep pendidikan menurut Al-Qur'an selalu merupakan tauhid/proses perkembangan dan pembentukan pribadi yang  berlandaskan pada Tuhan yang menandaskan, memuja dan meninggikan nama-Nya. Alasan Tuhan menciptakan manusia hanyalah untuk menyembah Tuhan. Pendidikan  Islam membantu manusia untuk mengembangkan potensi keimanan, potensi  amanah dan tanggung jawab, kecerdasan, kemampuan fisik. Karena  potensi tersebut, manusia dapat berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan orang lain atau pendidik dengan sengaja  menjadi khalifah dan muslim yang dapat mengabdi kepada Allah Swt (Hannase & Arifah, 2019).  Untuk menanggulangi kekurangan pendidikan Islam, kita melakukan reformasi keseluruhan untuk mewujudkan pendidikan Islam idealis yang mencakup berbagai dimensi. Hal ini karena perkembangan pendidikan Barat yang semakin merambah telah menghasilkan berbagai hasil yang merugikan. Ada persepsi bahwa cita-cita mewujudkan pendidikan Islam yang ideal dari tingkat perkembangan hanya dapat dicapai melalui upaya rekonstruksi epistemologis, yang dapat berarti rekonstruksi metodologi. Salah satu perdebatan mendasar dalam sejarah kehidupan manusia adalah perdebatan tentang asal usul pengetahuan (Adhim, 2018).  Selain menjadikan al-Qur'an sebagai sumber epistemologi, filsafat pendidikan Islam juga membahas aspek-aspek lain dari realitas dan fakta pengetahuan. Seperti yang dikatakan Muzayin Arifin, filosofi ini adalah pendidikan Islam mengacu pada nilai-nilai inti Islam yang menjadi sumbernya.  Selain sumber-sumber keislaman yang khas, filsafat pendidikan Islam menggunakan metode filsafat sebagai sumber ilmunya metodologis, semacam rasionalisme, empirisme dan kritik (Dalimunth, 2018).

Metode pengajaran Islam yang dirumuskan oleh para pemikir Islam berbeda dengan metode ilmiah yang berkembang di Barat. Pemikir Islam menggunakan tiga  metode yang cocok untuk hierarki objek (Nuansa, 2020), yaitu:

1.    Metode pengamatan yang digunakan di Barat, atau disebut Bayni,

2.    Metode logis atau eksponensial (Bayani),

3.    Metode Intutif (‘irfani). yang bersumber padaindra, akal, dan hati.

 

 Agar pendidikan Islam berkembang menjadi suatu disiplin ilmu atas dasar eksistensial tersebut, maka harus ada bidang kajian tertentu yang membedakannya dengan disiplin ilmu lainnya. Mendefinisikan batas-batas bidang penelitian pendidikan Islam tidaklah mudah, karena bidang pendidikan Islam  seluas ajaran Islam itu sendiri. Menurut Hasan Langgulung, mata pelajaran pendidikan Islam dapat mencakup hampir semua jenis pengetahuan dan kebudayaan manusia serta segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan kebudayaan namun bisa juga sempit karena mencakup  pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu, cabang ilmu yang mencakup alam manusia (Mahmudi, 2019). Namun demikian, bukan berarti tidak mungkin untuk menentukan batas-batas wilayah kegiatan. Dalam beberapa literatur, kajian pendidikan Islam sebagai ilmu mencakup manusia, fungsi pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum, peserta didik, pendidik, metode dan pendekatan pengajaran, penilaian (Julaeha, 2019). Dalam penjelasannya Nur Uhbiyati memaparkan bahwa bidang penelitian pendidikan Islam adalah proses pembelajaran, peserta didik, dasar dan tujuan  pendidikan Islam, guru, materi pendidikan Islam, metode pengajaran Islam, penilaian pendidikan Islam, perangkat pengajaran Islam, lingkungan pengajaran Islam.  Arifin membahas bidang pendidikan Islam yang juga merupakan mata pelajaran pendidikan Islam, yaitu: ranah kehidupan keagamaan, ranah kehidupan keluarga, ranah kehidupan masyarakat, ranah kehidupan politik, ranah seni budaya dan ranah ilmu pengetahuan (Arifin, Junaidi, & Muhammad, 2021).

Seseorang memiliki kemungkinan besar akan melakukan, kekuatan dan wewenang  untuk melakukan pelatihan sendiri. Oleh karena itu, pendidikan merupakan tanggung jawab individu, dan untuk dapat mendidik dirinya sendiri, ia harus memahami dirinya sendiri. Dimensi ontologis mengarahkan kurikulum untuk memberikan siswa lebih banyak pelajaran yang melibatkan kontak langsung dengan objek fisik serta manipulasi objek dan bahan kerja. Ukuran ini menghasilkan verbal learning yaitu  kemampuan menerima data dan informasi untuk dipelajari dan diingat. Perspektif ini diambil dari fase pelatihan yang dilakukan  Allah Swt kepada Nabi Adam AS dengan mengajarkan nama-nama benda (BAB, n.d.). Arti dari aspek ontologi  kurikulum adalah sebuah pengalaman yang diberikan kepada siswa itu bukan hanya tersentral pada alam fisik,tetapi juga alam yang tidak memiliki batas. Rohani atau spiritual yang mengantarkan manusia pada ketetapan inilah dinamai dengan alam tidak memiliki keterbatasan, Dalam hal lain perlu adanya penanaman akan pengetahuan tentang hukum serta pola kesemestaan yang mengemukakan manifestasi keseimbangan dalam alam semesta yang membuktikan kehidupan manusia di masa depan (Saragih et al., 2021). Kurikulum  pendidikan Islam, yakni kata manhaj, mengacu pada jalan terang yang dilalui  manusia dalam ranah kehidupan. Dengan demikian, kurikulum yang dimaksud merupakan jalan terang bagi pendidik atau guru untuk pergi bersama mereka yang dididik atau dilatih untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap.  Keberadaan Kurikulum Pendidikan Islam sebagai alat untuk mencerdaskan generasi muda, untuk menemukan dan mengembangkan berbagai macam kemampuan, bakat, kekuatan dan keterampilan, serta mempersiapkan mereka dengan baik untuk melaksanakan haknya. Kewajiban bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga,  masyarakat dan negara serta berperan aktif dalam pembangunan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, kurikulum hanyalah sarana mendidik generasi muda dari segala potensi yang harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara. Seperti yang dikatakan Ramadhan al-Bouti dalam bukunya Al-Manhajut Tarbawi Farid Fil Quran, ada tiga jenis prinsip/landasan yang digunakan Al-Quran dalam implementasi kurikulum (Daud, 2020).

1.    Sentuhan akal pikiran untuk menyelesaikan semuanya. Pada tahap ini, Al-Qur'an membangunkan semua pikiran manusia untuk berpikir tentang asal-usulnya sejak awal. Oleh karena itu, perkembangan fisik  dan intelektual dan pengetahuan mental atau spiritualitas. Allah menyebut akal 29 Kali, Pikiran 18 kali,  zikir hingga 267 kali, fiqh hingga 800 kali (khususnya termasuk kata-kata ilmu 105 kali), sehingga total menjadi 1.154. Allah Swt telah memerintahkan manusia untuk menilai menggunakan akal dan pengetahuan mereka hal ini disebut Muhkamah Aqliyah.

2.   Menggunakan pengetahuan mendongeng dan  sejarah.  Allah Swt mengajak orang untuk berpikir tentang fakta dan data dari masa lalu untuk melihat diri mereka sendiri dengan menghadirkan cerita/peristiwa yang berbeda dan halaman awal dari masa lalu. Berbagai cerita dan kisah Al Quran menghidupkan kisah-kisah sejarah kuno, memberi pikiran manusia masa depan dan mengambil pelajaran/kebijaksanaan Ibrah dari peristiwa masa lalu untuk menyambut masa depan yang gemilang ini disebut Al-Qashash wat Tarikh

3.   Menstimulus indra Menciptakan insentif adalah cara tersingkat untuk menanamkan  karakter pada setiap orang dan reaksi dibagi menjadi tiga jenis.

a.       Respon motivasi, yaitu kegembiraan, keinginan besar

b.       Respon emosi, seperti ketakutan (melakukan kejahatan), kesedihan  (melakukan ketidakadilan)

c.       Respon Kerinduan, yaitu rasa hormat, kekaguman,cinta,dedikasi dan  sebagainya.

 

Kurikulum memegang peranan penting dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Apalagi ini adalah tujuan pendidikan Islam, yang  tidak hanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk emosional, kognitif dan psikomotorik, tetapi harus memiliki pandangan dunia dan karakter kemanusiaan, selalu berlandaskan tauhid/kesan Tuhan, ibadah kepada Tuhan. Pengembangan filsafat pendidikan Islam diperlukan karena dua alasan. Pertama, sebagian besar umat Islam tertinggal dalam  pendidikan Islam dalam segala hal, sehingga diperlukan revolusi paradigma. Kedua, adanya tuntutan agama akan pentingnya pengembangan ilmu  yang tersirat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pendidikan Islam adalah  pendidikan yang mengembangkan rasa hidup pada diri peserta didik  berdasarkan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam bukan sekedar transfer ilmu atau pengajaran, tetapi  suatu sistem yang dibangun berdasarkan iman dan taqwa yang berhubungan langsung dengan Tuhan.

 

KESIMPULAN

 

Ketika merancang kerangka pendidikan Islam ditinjau dari ontologi, ranah kehidupan keagamaan, ranah kehidupan keluarga, ranah kehidupan bermasyarakat, ranah kehidupan politik,  dan ranah kehidupan budaya. Bidang kehidupan ilmiah yang dilandasi semangat Islam sebagai paradigma pendidikan Islam. Agar ilmu pendidikan Islam tidak kehilangan daya tariknya dari segi kelembagaan dan aspek fungsional, maka paradigma, struktur, dan kerangka berpikir yang tepat harus diubah dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Hal ini membutuhkan posisi dari perspektif orang, masyarakat dan dunia. Manusia diciptakan ke dunia atas penunjukan Allah sebagai khalifah. Orang-orang diberdayakan dan diberdayakan untuk mendidik diri mereka sendiri. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab individu itu sendiri untuk  mendidik dirinya sendiri dan untuk memahami sifat manusia, sifat kehidupan dan kehidupan, serta tujuan dan sasaran hidup, yang  dikenal sebagai ontologi.

 

BIBLIOGRAFI

 

Adhim, Fauzan. (2018). Filsafat Islam Sebuah Wacana Kefilsafatan Klasik Hingga Kontemporer. Literasi Nusantara.

AKRIM, AKRIM. (2022). PENDIDIKAN HUMANIS DALAM PENGELOLAAN PENDIDIKAN DI INDONESIA. Aksaqila Jabfung.

Alimuddin, Alimuddin. (2019). Ilmu dan Agama (Kajian Pemikiran Pendidikan Prof. Dr. M. Nasir Budiman, MA). JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE, 5(1).

Anggito, Albi, & Setiawan, Johan. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. CV Jejak (Jejak Publisher).

Anggoro, Muhammad B., & Muhyiddin, Muh. (2019). Aktivasi Energi Istighfar. LAKSANA.

Arifin, Wahyu, Junaidi, Muhammad, & Muhammad, Habib. (2021). PERAN GURU DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SWASTA PONDOK PESANTREN DARUL ‘ULUM RASAU KECAMATAN PEMAYUNG KABUPATEN BATANG HARI. UIN sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

BAB, I. (n.d.). Draf Buku Pembelajaran Akademik Fungsional dalam Konteks Pendidikan Khusus Berorientasi Budaya: Oleh Mumpuniarti& Pujaningsih.

Dalimunth, Sehat Sultoni. (2018). Filsafat Pendidikan Islam Sebuah Bangunan Ilmu Islamic Studies. Deepublish.

Daud, Ridhwan M. (2020). PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH. PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN, 9(1).

Hakim, Atang Abd, & Mubarok, Jaih. (2017). Metodologi Studi Islam. Rosda.

Hannase, Mulawarman, & Arifah, Fatwa. (2019). PENANAMAN NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM. Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin Dan Filsafat, 15(2), 219–244.

Inayah, Firda. (2018). Tauhid Sebagai Prinsip Ilmu Pengetahuan (Studi Analisis Ismail Raji Al Faruqi). Tasfiyah, 2(1), 97–122.

Julaeha, Siti. (2019). Problematika Kurikulum Dan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 7(2), 157.

Lubis, Zulkifli, & Anggraeni, Dewi. (2019). Paradigma Pendidikan Agama Islam di Era Globalisasi Menuju Pendidik Profesional. Jurnal Studi Al-Qur’an, 15(1), 133–153.

Mahmudi, Iman Nur. (2019). Child Abuse Kekerasan Pada Anak Dalam Perspektif Pendidikan Islam. UIN Raden Intan Lampung.

Nasution, Ahmad Taufik. (2016). Filsafat ilmu: Hakikat mencari pengetahuan. Deepublish.

Nuansa, Rama. (2020). Revitalisasi Filsafat Sains dengan Islam dalam Menghadapi Tantangan Era 5.0 Civil Society. Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam Dan Sains, 2, 233–244.

Rahardjo, Mudjia. (2017). Studi kasus dalam penelitian kualitatif: konsep dan prosedurnya.

Samho, Bartolomeus. (2019). Agama dan Kesadaran Kontemporer. PT Kanisius.

Saragih, Hisarma, Hutagalung, Stimson, Mawati, Arin Tentrem, Chamidah, Dina, Khalik, Muh Fihris, Sahri, Sahri, Wula, Paulina, Purba, Bonaraja, Purba, Sri Rezeki Fransiska, & Kato, Iskandar. (2021). Filsafat Pendidikan. Yayasan Kita Menulis.

Simarmata, Nenny Ika Putri, Hasibuan, Abdurrozzaq, Rofiki, Imam, Purba, Sukarman, Tasnim, Tasnim, Sitorus, Efbertias, Silitonga, Hery Pandapotan, Sutrisno, Eko, Purba, Bonaraja, & Makbul, Ritnawati. (2021). Metode Penelitian Untuk Perguruan Tinggi. Yayasan Kita Menulis.

Sulasmi, Emilda, Akrim, A., & Gunawan, G. (2019). Konsep Pendidikan Humanis Dalam Pengelolaan Pendidikan Di Indonesia. Kumpulan Buku Dosen, 1(1).

Zainiyati, Husniyatus Salamah. (2014). Model Kurikulum Integratif Pesantren Mahasiswa dan UIN Maliki Malang. Ulumuna Journal of Islamic Studies, 18(1), 134–158.

Zaqiah, Qiqi Yuliati, & Rusdiana, A. (2014). Pendidikan Nilai: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Pustaka Setia.

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).