PENGARUH
WAKTU MASERASI DAN JENIS BAHAN ZAT WARNA TERHADAP PEWARNAAN KAIN
Naimatur Rizqiani1, Haryanto A.R2
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Email : d500170139@student.ums.ac.id,
haryanto@ums.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01-02-2022 10-02-2022 15-02-2022 |
Latar Belakang: Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai modal dalam pengembangan sumber daya manusia, salah satunya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang diolah menjadi zat pewarna alami tekstil. Tumbuh-tumbuhan merupakan bahan utama untuk menghasilkan pewarna yang mudah terdegradasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pewarnaan tekstil. Metode: Penelitian yang dilakukan adalah menggunakan kuantitatif yang dianalisis melalui uji kadar tanin dan uji statistik two way anova. Hasil: Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa ada 5 jenis sampel sebagai faktor pertama yaitu daun alpukat, ketapang kering, ketapang segar, daun sirsak, dan sabut kelapa masing-masing dengan 5 ulangan dan 5 jenis variasi waktu sebagai faktor kedua yaitu 2, 4, 6, 8, dan 10. Hasil uji interaksi p_value (0,000) < α (0,05) maka ada interaksi antara faktor sampel dan variasi waktu. Hasil uji efek faktor sampel p_value (0,000) < α (0,05) maka ada interaksi antara faktor sampel. Hasil uji efek faktor variasi waktu p_value (0,000) < α (0,05) maka ada interaksi antara faktor variasi waktu. Kesimpulan: Pewarna alami dari daun alpukat, daun ketapang kering atau segar, daun sirsak dan sabut kelapa dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan dari pewarna tekstil. Kata kunci: Ekstraksi; Tanin;
Daun Alpukat; Daun Ketapang; Daun Sirsak; Sabut Kelapa; Pewarna Alami |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: Indonesia is a country
that has the potential of abundant natural resources so that it
can be used as capital in the development of human resources, one of which
is by utilizing
natural resources that
are processed into
natural textile dyes. Plants are the main ingredient to produce dyes that are easily degraded. Objective: This study aims to reduce
environmental pollution due to textile
dyeing Methods: The research was
carried out using a quantitative analysis that was analyzed by means of
a tannin level test and a two way
ANOVA statistical test Results: The results of
data processing showed that there were 5 types of samples
as the first factor, namely avocado leaves, dried ketapang, fresh ketapang,
soursop leaves, and coconut husks
each with 5 replications and 5 types of time
variation as the second factor, namely 2, 4, 6, 8 , and 10. The
results of the interaction test p_value (0.000) <
(0.05) then there is an interaction
between sample factors and time
variations. The results of the sample
factor effect test p_value (0.000) <
(0.05) then there is an interaction
between the sample factors. The test results of the effect
of the time variation factor p_value (0.000) <
(0.05) then there is an interaction
between the time variation factor Conslusion: Natural dyes from
avocado leaves, dried or fresh
ketapang leaves, soursop leaves and coconut
fiber can be used as alternatives to reduce the
use of textile dyes. Keywords: Extraction; Tannins; Avocado Leaf; Ketapang leaves; Soursop leaf;
Coconut Coir; Natural Dyes |
|
*Correspondent Author : Naimatur Rizqiani
Email : d500170139@student.ums.ac.id
PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah sehingga
dapat dimanfaatkan sebagai modal dalam pengembangan sumber daya manusia, salah
satunya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang diolah menjadi zat pewarna
alami tekstil (Fendy & Haryanto, 2021).
Tumbuh-tumbuhan merupakan bahan utama untuk menghasilkan pewarna yang mudah
terdegradasi. Tanin yang merupakan salah satu zat pewarna alami yang terkandung
dalam sebagian besar tumbuh-tumbuhan dengan pigmen yang memberikan warna kuning
(Bahri, Jalaluddin, & Rosnita, 2018).
Daun
alpukat (Persea americana Mill.) menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid,
tanin, kuinon, saponin dan steroid. Secara spesifik,
kandungan senyawa kimia tersebut tentunya memiliki karakteristik yang
berbeda-beda, salah satunya kandungan tanin (Hamboroputro & Yuniwati, 2017).
Daun
ketapang mengandung total 122 senyawa tanin yang dapat terhidrolisis. Selain
itu, daun ketapang mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, kuinon,
fenolik dan terpenoid serta
steroid (Putri, 2017).
Penelitian dengan menggunakan metode identifikasi kualitatif secara fitokimia
kandungan senyawa yang terdapat pada daun ketapang yaitu tanin, saponin,
flavonoid, alkaloid dan fenol banyak ditemukan pada daun yang masih muda.
Senyawa yang terdapat dalam daun ketapang dapat diperoleh dengan melalui proses
ekstraksi (Ningsih, Henri, Roanisca, & Mahardika, 2020).
Berdasarkan
penelitian skrining fitokimia ekstrak daun sirsak yang telah dilakukan oleh
Wisdom, et al. (Rahman, Haniastuti, & Utami, 2017),
diketahui bahwa daun sirsak mengandung tannin. Oleh
karena itu daun sirsak dapat digunakan untuk bahan dasar pewarna alami tekstil
yang ramah lingkungan. Zat pewarna alami tannin akan
menghasilkan warna kuning hingga coklat tua pada kain. Pengambilan tannin dari daun sirsak dilakukan dengan cara ekstraksi (Chintya & Utami, 2017)
Sabut
kelapa mengandung senyawa tanin pada partikel sabutnya. Senyawa tanin dapat
mengikat enzim yang dihasilkan oleh mikroba sehingga mikroba menjadi tidak
aktif. Tanin dapat didefinisikan dengan kromatografi dan senyawa fenol dari
tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptik dan
pemberi warna (Rohaeni, 2016).
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut.
Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa
melarutkan material lainnya. Metode ekstraksi terbagi 2 yaitu maserasi dan soxhletasi (JUWITA, 2017). Pada
penelitian ini digunkan metode maserasi karena
maserasi merupakan metode yang paling sederhana, dimana
bahan dihaluskan berupa serbuk kasar ataupun ukuran yang lebih kecil kemudian
dilarutkan dengan pelarut dengan cara direndam. Untuk mendapatkan hasil ekstrak
yang maksimal perlu digunakan pengekstrak yang cocok
dengan sifat zat yang akan diekstrak (Eriani & Purnama, 2017).
METODE PENELITIAN
Penelitian
yang dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh waktu maserasi terhadap
pewarnaan kain yang didapat dari banyaknya kadar tanin pada daun alpukat segar,
daun ketapang kering, daun ketapang segar, daun sirsak segar dan sabut kelapa
segar. Penelitian ini menggunakan kuantitatif yang
dianalisis melalui uji kadar tanin dan uji statistik two
way anova untuk
membandingkan perbedaan rata-rata antar sampel dengan waktu maserasi yang sama (Kemit, Widarta, & Nocianitri, 2017). Maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut
organik pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi
senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan (Hasrianti, Nururrahmah, & Nurasia, 2017).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Larutan
sampel yang telah ditambahkan FeCl3 menunjukkan perubahan warna dari kuning kecoklatan menjadi hijau kehitaman. Perubahan warna
tersebut menandakan adanya tanin di dalam sampel. Pembuatan sampel untuk
perhitungan kurva standar yaitu dengan menimbang asam tanat,
kemudian diencerkan menggunakan aquades. Larutan
sampel dibuat dalam beberapa konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm dan 10 ppm,
kemudian diukur absorbansinya. Pengukuran absorbansi bertujuan untuk mengetahui respon
pigmen di sekitar spektrum UV hingga visible.
Pengukuran setiap bahan sampel dibedakan panjang gelombangnya untuk mendapat
nilai absorbansi tertinggi
A.
Daun Alpukat Segar
Dari hasil pengukuran didapatkan panjang
gelombang maksimum sebesar 751nm.
Gambar 1. kurva kalibrasi asam tanat
Dari kurva standart asam
tanat di atas diperoleh persamaan y=0.0491×+0.1046
Tabel 1. Data hasil uji spektrofotometri UV-Vis daun alpukat
|
No. |
Waktu Maserasi |
Absorbansi |
Kadar Tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1 |
2 |
0.194 |
6.0815 |
200 |
|
2 |
4 |
0.213 |
6.4684 |
200 |
|
3 |
6 |
0.271 |
7.6497 |
200 |
|
4 |
8 |
0.229 |
6.7943 |
200 |
|
5 |
10 |
0.185 |
5.8982 |
200 |
B. Daun Ketapang Kering
Dari hasil pengukuran
panjang gelombang maksimum untuk daun ketapang kering adalah 709 nm.
Gambar 2. kurva kalibrasi asam tanat
Dari kurva standart asam
tanat di atas diperoleh persamaan y=0.0475×+0.1276.
Tabel 2. Data hasil uji spektrofotometri UV-Vis daun ketapang kering
|
No. |
Waktu Maserasi (hari) |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.386 |
10.8126 |
200 |
|
2. |
4 |
0.530 |
13.8442 |
200 |
|
3. |
6 |
0.490 |
13.0021 |
200 |
|
4. |
8 |
0.645 |
16.2653 |
200 |
C. Daun Ketapang Segar
Dari
hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk daun ketapang kering adalah
709 nm.
Gambar
2. kurva kalibrasi asam tanat
Dari
kurva standart asam tanat di atas diperoleh
persamaan y=0.0475×+0.1276.
|
No. |
Waktu Maserasi |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.448 |
12.1179 |
200 |
|
2. |
4 |
0.598 |
15.2758 |
200 |
|
3. |
6 |
0.745 |
18.3705 |
200 |
|
4. |
8 |
0.587 |
15.0442 |
200 |
|
5. |
10 |
0.402 |
11.1495 |
200 |
D. Daun Sirsak
Dari hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk daun sirsak
adalah 712 nm.
Gambar
4. kurva kalibrasi asam tanat
Dari kurva kalibrasi
asam tanat di atas diperoleh persamaan y=0.0249×+0.2786.
Tabel 4. Data hasil uji spektrofotometri
UV-Vis daun sirsak
|
No. |
Waktu Maserasi (hari) |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.525 |
32.2731 |
200 |
|
2. |
4 |
0.664 |
37.8554 |
200 |
|
3. |
6 |
0.489 |
30.8273 |
200 |
|
4. |
8 |
0.467 |
29.9438 |
200 |
|
5. |
10 |
0.404 |
27.4137 |
200 |
E. Sabut Kelapa
Dari
hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk sabut kelapa adalah 740 nm.
Gambar
4. kurva kalibrasi asam tanat
Dari kurva kalibrasi
asam tanat di atas diperoleh persamaan y=0.0486×+0.1302.
Tabel 4. Data hasil uji spektrofotometri
UV-Vis sabut kelapa
|
No. |
Waktu Maserasi (hari) |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.465 |
12.2469 |
200 |
|
2. |
4 |
0.512 |
13.2140 |
200 |
|
3. |
6 |
0.481 |
12.5761 |
200 |
|
4. |
8 |
0.215 |
7.1029 |
200 |
|
5. |
10 |
0.379 |
10.4774 |
200 |
B. Pembahasan
Untuk
setiap sampel memiliki waktu ideal tersendiri untuk mencapai nilai absorbansi maksimum. Semakin tinggi kadar tanin maka
semakin tinggi pula nilai absorbansinya (RISMAWATI, 2019). Kadar
tanin yang tinggi di dapat dari hasil ekstraksi yang cukup lama, hasil ini
menunjukkan semakin lama waktu ekstraksi, maka absorbansi
juga akan semakin tinggi (Eriani & Purnama, 2017). Tetapi
tanin dapat rusak jika waktu perendaman terlalu lama. Semakin lama waktu
ekstraksi maka semakin lama pula waktu kontak antara pelarut dengan zat, dan
masing-masing komponen memiliki batas optimal. Jika waktu melebihi waktu
optimum, maka ekstraksi tidak akan berpengaruh karena senyawa akan terurai (Fendy & Haryanto, 2021).
Sehingga didapat kadar tanin maksimum untuk sampel daun alpukat pada hari ke-6,
daun ketapang kering hari ke-8, daun ketapang segar hari ke-6, daun sirsak hari
ke-4 dan sabut kelapa hari ke-4.
Maserasi
dilakukan dengan pelarut ethanol-air dengan rasio
1:1. Pemilihan etanol-air sebagai pelarut karena sama-sama bersifat polar (Chintya & Utami, 2017). Hasil
maserasi optimum didapatkan dari daun sirsak dengan kadar tanin paling banyak.
Sedangkan daun alpukat memiliki kadar tanin paling sedikit dibandingkan dengan
sampel lainnya.
Hasil
pengolahan data menunjukkan bahwa ada 5 jenis sampel sebagai faktor pertama
yaitu daun alpukat, ketapang kering, ketapang segar, daun sirsak, dan sabut
kelapa masing-masing dengan 5 ulangan dan 5 jenis variasi waktu sebagai faktor
kedua yaitu 2, 4, 6, 8, dan 10. Hasil uji interaksi p_value
(0,000) < α (0,05) maka ada interaksi antara faktor sampel dan variasi
waktu. Hasil uji efek faktor sampel p_value (0,000)
< α (0,05) maka ada interaksi antara faktor sampel. Hasil uji efek
faktor variasi waktu p_value
(0,000) < α (0,05) maka ada interaksi antara faktor variasi waktu.
KESIMPULAN
Pewarna
alami dari daun alpukat, daun ketapang kering atau segar, daun sirsak dan sabut
kelapa dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan dari
pewarna tekstil. Semakin lama waktu ekstraksi maka semakin tinggi kandungan
tanin yang dihasilkan, karena laju difusi antara permukaan padat dan pelarut
cair mencapai kesetimbangan. Ekstraksi daun sirsak menghasilkan kadar tanin
paling banyak. Rentang waktu maserasi terbaik adalah hari ke-4 sampai hari
ke-8, tergantung sampel yang terekstraksi. Diharapkan
penelitian ini dapat dikembangkan oleh peneliti lain, guna memperoleh hasil
yang maksimal dengan menggunakan metode ekstraksi yang lain, hasil ekstraksi
berupa tanin dapat dikembangkan menjadi suatu produk, penggunaan pelarut yang
lebih polar dari etanol.
Bahri, Syamsul, Jalaluddin, Jalaluddin, & Rosnita,
Rosnita. (2018). Pembuatan zat warna alami dari kulit batang jamblang (syzygium
cumini) sebagai bahan dasar pewarna tekstil. Jurnal Teknologi Kimia Unimal,
6(1), 10–19.
Chintya, Nana, & Utami, Budi. (2017). Ekstraksi tannin
dari daun sirsak (Annona muricata L.) sebagai pewarna alami tekstil. JC-T
(Journal Cis-Trans): Jurnal Kimia Dan Terapannya, 1(1).
Eriani, Winya, & Purnama, Ir Herry. (2017). Pengaruh
Waktu Maserasi, Perlakuan Bahan Dan Zat Fiksasi Pada Pembuatan Warna Alami Daun
Ketapang (Terminalia catappa Linn). Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Fendy, Tyan Prasetyo, & Haryanto, H. (2021). Pengaruh
Waktu Maserasi dan Konsentrasi Pelarut pada Proses Perendaman Daun Ketapang
(Terminalia Catappa Linn) terhadap Pewarnaan Kain. Rekayasa Aplikasi
Perancangan Dan Industri, 251–255.
Hamboroputro, Lintang P., & Yuniwati, Murni. (2017).
Pengambilan Zat Tanin dari Daun Alpukat (Persea americana Mill.) melalui Proses
Ekstraksi dengan Pelarut Etanol (Variabel Suhu Ekstraksi). Jurnal Inovasi
Proses, 2(1), 18–24.
Hasrianti, Hasrianti, Nururrahmah, Nururrahmah, &
Nurasia, Nurasia. (2017). PEMANFAATAN EKSTRAK BAWANG MERAH DAN ASAM ASETAT
SEBAGAI PENGAWET ALAMI BAKSO. Dinamika, 7(1), 9–30.
JUWITA, DINDA. (2017). Optimalisasi Ekstraksi Silika Dari
Abu Sekam Padi Pada Pembuatan Silika Gel (Variasi Waktu Ekstraksi Dan Suhu
Pengeringan). Politeknik Negeri Sriwijaya.
Kemit, Nico, Widarta, I. Wayan Rai, & Nocianitri, Komang
Ayu. (2017). Pengaruh jenis pelarut dan waktu maserasi terhadap kandungan
senyawa flavonoid dan aktivitas antioksidan ekstrak daun alpukat (Persea
Americana Mill). Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian
Universitas Udayana, 130–141.
Ningsih, Dewi Septia, Henri, Henri, Roanisca, Occa, &
Mahardika, Robby Gus. (2020). Skrining Fitokimia dan Penetapan Kandungan Total
Fenolik Ekstrak Daun Tumbuhan Sapu-Sapu (Baeckea frutescens L.). Biotropika:
Journal of Tropical Biology, 8(3), 178–185.
Putri, Kurnia Arini. (2017). Ekstraksi Zat Warna Daun
Ketapang (Terminalia Catappa l.) dan Aplikasinya pada Dye Sensitized Solar Cell
(DSSC). Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Rahman, Friska Ani, Haniastuti, Tetiana, & Utami, Trianna
Wahyu. (2017). Skrining fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun
sirsak (Annona muricata L.) pada Streptococcus mutans ATCC 35668. Majalah
Kedokteran Gigi Indonesia, 3(1), 1–7.
RISMAWATI, Shelly. (2019). Identifikasi Kandungan Kafein
dan Warna RGB pada Kopi dengan Variasi Sangrai.
Rohaeni, Nine Siti. (2016). Kajian Konsentrasi Pelarut
Terhadap Ekstrak Pigmen dari Sabut Kelapa (Cocos Nucifera L) Sebagai Pewarna
Alami. Fakultas Teknik Unpas.
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |