JOSR: Journal of Social Research
Oktober 2022, 1 (11), 327-343
p-ISSN: 2827-9832 e-ISSN: xxxx-xxxx
Available online at http:// https://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
http://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
KAJIAN ETNOLINGUISTIK BUSANA KEBAYA JANGGAN
HITAM KHAS KRATON YOGYAKARTA
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
University of Indonesia
1,2
miadaniar5@gmail.com
1
, widhyasmaramurti.s@ui.ac.id
2
Abstrak (indonesia)
Received:29
September
2022
Revised :09
Oktober
2022
Accepted:14
Oktober
2022
Latar Belakang: Busana merupakan kata serapan dari
bahasa sanskerta, bhusana. Di dalam bahasa Jawa kata
busana disebut busono.
Tujuan: menemukan gambaran normatif tentang
penamaan serta konteks makna secara budaya.
Metode: kualitatif. Menurut Bogdan san Taylor
(dalam Mamik, 2015: 4), penelitian kualitatif
menghasilkan data-data deskriptif berupa kata tertulis
maupun verba dari manusia atau tingkah laku yang
diamati.
Hasil: Kebaya janggan merupakan busana abdi dalem
perempuan (estri) Kraton Yogyakarta yang bentuknya
menyerupai surjan (busana abdi dalem laki-laki di
lingkungan Kraton Yogyakarta).
Kesimpulan: Dalam penelitian ini ditemukan dua
kata yang kategorinya sama, yakni janggan dan
wiron. Jenis kata yang proses morfologinya
mengalami afiksasi jenis sufikasi (-an). Dalam
bahasa Jawa, sufikasi (-an) saat bertemu huruf vokal
pada akhir kata asalnya sering membentuk
penghilangan satu fonem saat dituturkan. Kata
janggan semestinya jangga-an. Kata wiron
semestinya wiruan. Perubahan fonetik adalah hal
yang jamak ditemukan dalam bahasa Jawa. Itu
karena faktor kebutuhan yang bersifat efisiensi dan
estetika. Sehingga kata jangga yang mendapat
imbuhan (-an) dibaca janggan. Demikian juga
dengan kata wiru yang mendapat imbuhan (-an)
dibaca wiron.
Sementara kata jarik nama dari bawahan busana
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 328
janggan hitam tergolong jenis monomorfemis.
Satuan kata yang tergolong sebagai asal kata.
Sehingga tidak bisa dipecah untuk dilacak
muasalnya. Jarik adalah kata dasar yang punya arti
tanpa bergantung pada pengimbuhan kata atau
leksem lainnya. Jenis kata jarik dalam bahasa Jawa
sama dengan kata hitam.
Kebaya janggan hitam adalah simbol busana yang
memuat tata nilai yang kompleks. Mencerminkan
adanya proses akulturasi nilai-nilai Islam pada
budaya berpakaian di lingkungan Kraton
Yogykarta. Busana Kraton Yogyakarta dibuat tidak
sekedar memenuhi kebutuhan estetis. Tetapi sebagai
media komunikasi seperangkat nilai yang
berhubungan dengan moral, spiritual, dan sosial.
Kata kunci: Janggan Hitam; Etnolinguistik
Abstract (English)
Background: Clothing is an absorption word from
the Sanskrit language, Bhusana. In Javanese the
word fashion is called busono.
Objective: find a normative picture of naming and
the context of cultural meaning.
Methods: qualitative. According to Bogdan and
Taylor (in Mamik, 2015: 4), qualitative research
produces descriptive data in the form of written
words and verbs from humans or observed behavior.
Results: Kebaya janggan is a female courtiers dress
(estri) of the Yogyakarta Palace which looks like a
surjan (male courtiers dress in the Yogyakarta
Palace environment).
Conslusion: In this study, two words with the same
category were found, namely janggan and wiron. The
type of word whose morphological process is affixed
by the type of suffix (-an). In Javanese, the suffix (-
an) when it meets a vowel at the end of the original
word often results in the omission of one phoneme
when spoken. The word janggan should be jangga-
an. The word wiron should be fake. Phonetic
changes are common in Javanese. That's because of
the need for efficiency and aesthetics. So that the
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 329
word jangga that gets the affix (-an) is read janggan.
Likewise, the word wiru which gets the affix (-an) is
read as wiron. While the word jarik, the name of the
subordinate of the black clothes, is classified as a
monomorphemic type. Units of words belonging to
the origin of the word. So it cannot be broken down
to trace its origin. Jarik is a basic word that has
meaning without depending on the affixation of other
words or lexemes. The type of the word jarik in
Javanese is the same as the word black. The black
kebaya janggan is a symbol of clothing that contains
complex values. Reflecting the process of
acculturation of Islamic values in the dress culture in
the Yogykarta Palace. The clothes of the Yogyakarta
Palace were made not only to fulfill aesthetic needs.
But as a medium of communication a set of values
related to moral, spiritual, and social.
Keywords: Janggan Hitam; Ethnolinguistics
*Correspondent Author : Mia Daniar
Email : miadaniar5@gmail.com
PENDAHULUAN
Busana merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta, bhusana. Di dalam
bahasa Jawa kata busana disebut busono. Pengertian bhusana atau busono pada
mulanya punya arti perhiasan. Di dalam bahasa Indonesia kata busana sering
dipadankan pengertiannya dengan kata pakaian. Pakaian dan busana sebenarnya
dua hal yang berbeda (Abdullah, 2014).Menurut Shinta Fitria Dewi (2019:13)
bhusana atau busono adalah pakaian yang enak di pandang, serasi, selaras,
harmonis dengan pemakai dan kesempatan pemakaian. Sehingga pakaian itu
membentuk karakter keindahan saat dikenakan. Kata perhiasan memiliki makna
yang indah, bagus atau bernilai seni. Pengertian lain dari busana diurai oleh
Ernawati dkk (2008:24) bahwa busana merupakan segala sesuatu yang kita pakai
mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Busana ini mencakup busana
pokok, pelengkap (milineris dan aksesories) dan tata riasnya.Indonesia yang
terdiri dari berbagai etnis, suku, serta komunitas masyarakat memiliki ragam
pakaian atau busana adat resmi yang menjadi identitas. Busana adat Sunda
berbeda dengan busana adat Jawa atau Betawi. Bahkan di Jawa seperti Jawa
Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur memiliki perbedaan busana adat resmi.
Meskipun kita mengenal kebaya sebagai busana resmi nasional. Setiap daerah di
Indonesia memiliki kekhasannya masing-masing (Baehaqie, 2013).
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 330
Dengan demikian, pengertian lebih luas tentang pakaian atau busana bisa
dipahami sebagai khazanah kebudayaan (Bagiya, 2018). Menurut Suciati
(2019:19) busana sebagai identitas adalah media komunikasi. Komunikasi yang
dimaksud tidak semata ekspresi perasaan atau suasana hati. Namun memiliki
pesan nilai, harapan, serta keyakinan tertentu (Barnard, 2011). Di dalamnya
terdapat nilai historis dan ide di balik yang tampak indah sebagai perhiasan.
Busana adalah bentuk komunikasi nonverbal, tidak termedia dengan kata-kata
atau tertulis. Tetapi style atau gaya desain serta pemilihan warna punya maksud
yang bisa ditangkap pesannya. Menurut Lurie (dalam Malcolm Barnard, 2011:39-
40) pada busana ada analogi yang bisa dipahami. Ragam busana memiliki
kosakata dan tata bahasanya masing-masing. Busana dapat mengkomunikasikan
identitas seseorang. Cara seseorang mengenakan busana tertentu, sebenarnya
menunjukkan identitas diri mereka (Gani, 2019).
Masyarakat Indonesia mengenal busana kebaya sudah cukup lama.
Terlebih ketika Presiden Soekarno di tahun 1940-an menjadikan kebaya sebagai
pakaian resmi kenegaraan atau busana nasional. Kebaya yang umum dikenakan
dalam acara resmi biasanya berbentuk blus tradisional berbahan brokat, dipadu
dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya. Tapi saat ini kita
bisa menemukan model kebaya modern berbagai macam dari hasil dari kreasi atau
adaptasi para perancang busana (Condronegoro, 2010).
Pengertian kebaya menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008:700) adalah
baju perempuan bagian atas, berlengan panjang, dan dipakai dengan kain panjang.
Kata kebaya tergolong sebagai kata benda (noun). Dari ragam kebaya di
Indonesia, Kraton Yogyakarta memiliki salah satu jenis kebaya yang secara
khusus dijadikan sebagai busana abdi dalem, yakni busana kebaya janggan.
Kebaya janggan ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan janggan hitam.
Penamaan itu mendapat tambahan hitam karena merujuk pada warnanya. Di
lingkungan Kraton Yogyakarta, menurut Mari Condronegoro (2021) warna
pakaian yang dibolehkan untuk dikenakan adalah warga gelap. Warna gelap itu
bisa hitam atau cokelat. Demikian pula dengan motif yang diperbolehkan, untuk
kebaya abdi dalem hanya diijinkan polos atau motif kembang batu (Dewi &
Wening, 2019).
Sementara abdi dalem yang boleh memakai janggan hitam adalah abdi
dalem keparak, wiyaga putri, pesinden, atau abdi dalem punakawan perempuan
pada saat bertugas. Khusus Hajad Dalem Ngabekten, abdi dalem Keparak
berpangkat magang dan jajar belum boleh mengenakan janggan. Kebaya di
lingkungan Kraton Yogyakarta menjadi simbol status pemakainya. Busana kebaya
janggan hitam menarik perhatian sebagai objek kajian pada aspek kebahasaan
atau penamaannya (makna leksikal) serta makna atau pesan budaya yang dimiliki
(makna kultural) (Duranti, 2011).
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 331
Berdasarkan uraian di atas, peneliti membuat rumusan masalah berikut:
Bagaimana terbentuknya istilah atau nama janggan hitam? Bagaimana morfologi
kata janggan hitam? Bagaimana makna kultural yang melekat pada busana
tersebut? Hasil penelitian ini mendeskripsikan makna leksikal dan makna
kultural. Secara spesifik belum ada yang melihat janggan hitam sebagai objek
penelitian atau kajian. Namun penelitian tentang pakaian adat yang dilihat dari
sudut pandang etnolinguistik sebelumnya telah banyak dilakukan oleh peneliti
lain. Berbagai penelitian itu yang menginspirasi penulis untuk melihat janggan
hitam dari sudut pandang etnolinguistik (Busana, n.d.).
Di antaranya dilakukan oleh Alip Sugianto (2015) yang berjudul, Kajian
Etnolinguistik Terhadap Pakaian Adat Warok Ponorogo”. Alip melihat pakaian
khas Warok Ponorogo sebagai objek penelitian. Alip secara spesifik mengunakan
telaah semiotika mengungkap makna-makna filosofis dari pakaian khas Warok
Ponorogo. Hasil penelitian yang dilakukan Alif Sugianto menggambarkan pakaian
adat panaragan atau Warok memiliki kharakter jiwa masyarakat Ponorogo itu
sendiri. Tersimpan nilai-nilai yang merupakan karakter masyarakat di dalam
pakaian adat. Nilai tersebut antara lain ketenangan, keberanian, dan kesabaran
(Hamdi & Bahruddin, 2015).
Penelitian lain yang bersinggungan dengan Kraton Yogyakarta
menggunakan pendekatan etnolinguistik dilakukan oleh Cipto Wardoyo dan Asep
Sulaeman (2017) berjudul, “Etnolinguistik Pada Penamaan Nama-Nama
Bangunan di Keraton Yogyakarta”. Penelitian tersebut menelisik penamaan
bangunan yang berada di lingkungan Kraton Yogyakarta terkait filosofi,
keimanan, dan mitologi. Hasil penelitian Cipto Wardoyo dan Asep Sulaeman
mengungkap adanya akulturasi budaya yang cukup kuat dan nilai-nilai agama.
Akulturasi budaya antara kebudayaan Jawa, Hindu, Budha, dan Islam tergambar
dalam penamaan bangunan dan tradisi di keraton Yogyakarta (Harimurti, 2007).
Di antara contohnya, adanya pohon gayam yang berjumalah enam
melambangkan rukun iman agama Islam. Selain itu ada ukiran-ukiran di tiang
bangsal keraton yang memadukan kebudayaan hindu, budha, dan Islam.
Pendekatan etnolinguistik yang dilakukan Cipto Wardoyo dan Asep Sulaeman
mengungkap penamaan benda-benda serta kaitannya dengan konsep nilai yang
terkandung. Penelitian tentang kebaya pernah dilakukan oleh Ratna Endah
Santoso, dkk. (2019) dengan judul, “Perubahan Nilai dan Filosofis Busana
Kebaya di Jawa Tengah”. Penelitian tersebut mengambarkan dengan tegas bahwa
kebaya masa lalu yang terlihat sederhana mencerminkan kesederhanaan. Dalam
filosofi Jawa, kesederhanaan juga berkaitan dengan sifat kesabaran (Hadi, 2017).
Ratna Endah Santoso, dkk. menunjukkan perubahan desain dan
penambahan kelengkapan kebaya yang tumbuh di masyarakat, khususnya di Jawa
Tengah, tidak terlepas dari pengaruh budaya modern, politik, dan agama.
Misalnya ketika kebaya di masyarakat Jawa dipadu dengan penggunaan jilbab
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 332
(Mamik, 2014). Ada pengaruh nilai-nilai agama, serta perkembangan trend
fashion modern. Tiga penelitian terdahulu di atas memiliki relevansi dengan
penelitian ini, khususnya pada aspek penentuan sudut pandang dan objek
penelitian. Penelitian Alip Sugianto mengambarkan bagaimana busana dari sudut
pandang etnolinguistik (semiotika) mensimbolkan karakter dari kesadaran serta
pengatahuan pemakaiannya.
Demikian pula penelitian yang dilakukan Cipto Wardoyo dan Asep
Sulaeman di lingkungan Kraton Yogyakarta, penamaan benda-benda di sana
mengambarkan adanya proses akulturasi budaya dan agama. Penelitian tersebut
memberikan inspirasi penelitian ini untuk melihat bagaimana penamaan busana
serta nilai kultural yang dikandungnya. Penelitian Ratna Endah Santoso, dkk.
menguatkan pemahaman penulis, tentang busana kebaya yang sarat muatan
filosofis. Penulis dalam penelitian ini mengunakan pendekatan teori etnolinguistik
sebagai ilmu yang bisa mengurai hubungan antara bahasa, penggunaan bahasa dan
kebudayaan(Sumitri & Arka, 2022).
Etnolinguistik secara terminologi merupakan ilmu perihal bahasa yang
berkaitan dengan unsur dan masalah kebudayaan (Baehaqie, 2013:14).
Etnolinguistik sebagai pendekatan teori mengkaji hubungan bahasa dan budaya.
Kajian etnolinguistik sebagai bagian dari rumpun antropologi serta ilmu bahasa
memiliki objek telaah yang cukup luas. Pendekatan ini dikenal dengan istilah
linguistic anthropology atau anthropological linguistics (Duranti, 1997: 1).
Menurut Foley (dalam Rudiyanto dkk., 2020: 549) linguistik antropologi
merupakan disiplin ilmu linguistik yang bersifat interpretatif untuk mengungkap
fakta kebahasaan dan menemukan pemahaman budaya. Secara sederhana dapat
dipahami, ilmu etnolinguistik adalah kajian bahasa yang bersifat makro-linguistik
(kosakata, frasa, klausa, kalimat dan wacana) atas fakta-fakta kebudayaan serta
sosial. Ilmu linguistik didefinisikan sebagai ilmu yang menjadikan bahasa sebagai
objek kajian. Di dalam kajian linguistik atau ilmu bahasa terdapat beberapa
cabang yang di antaranya; fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik
(Wijana dan Rohmadi, 2011:3).
Artinya, ada perbedaan antara bahasa dan ilmu bahasa atau linguistik. Ilmu
linguistik menempatkan bahasa sebagai objek kajian. Sementara bahasa adalah
media komunikasi yang hadir dalam interaksi sosial atau proses kebudayaan.
Bahasa pada pengertian umum dipahami sebagai media komunikasi. Menurut
Anderson (dalam Tarigan, 2015:2-3) bahasa memiliki delapan prinsip dasar: 1)
bahasa adalah suatu sistem, 2) bahasa adalah vokal (bunyi ujaran), 3) bahasa
tersususn dari lambang-lambang mana suka (arbitary symbols), 4) setiap bahasa
bersifat unik dan bersifat khas, 5) bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan, 6)
bahasa adalah alat komunikasi, 7) bahasa berhubungan erat dengan budaya
tempatnya berada, 8) bahasa itu berubah-ubah.
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 333
Sementara budaya atau kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan
dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat, 2003:
72). Proses kebudayaan nihil tanpa proses komunikasi dengan media bahasa.
Bahasa dan kebudayaan memiliki pertalian intens yang memungkinkan produk
kebudayaan tercipta. Keduanya berpengaruh terhadap cara manusia atau
masyarakat berfikir, merasa, mempercayai, hingga bertindak. Pendekatan telaah
kebahasaan pada dimensi budaya atau sosial untuk mengambarkan makna yang
lebih utuh dalam sebuah konteks, baik muatan nilai maupun aspek historis, serta
sosiologis pada fakta budaya (seperti upacara adat, khazanah seni, artefak, serta
aspek lain pada fakta budaya).
Memotret konteks bahasa berarti juga memotret kebudayaannya serta fakta
sosialnya. Mengungkap kosakata-kosakata yang khas dari komunitas sosial atau
suku bangsa akan mudah mengenali berbagai dimensi aspek kebudayaan.
Berdasar pada uraian konseptual di atas, secara teoritis dapat dipahami bahwa
teori etnolinguistik adalah pendakatan saintifik (scientific approach) untuk
menjelaskan adanya hubungan antara pemakaian bahasa dalam konteks budaya.
Di mana bahasa dapat mempertahankan, menghubungkan, dan mengembangkan
berbagai aspek kebudayaan di dalam sebuah sistem sosial atau komunitas
masyarakat. Bahasa yang dimaksudkan merupakan kata-kata atau istilah-istilah
serta simbol yang digunakan dalam aktivitas budaya suatu masyarakat.
Dalam pendekatan etnolinguistik, secara spesifik penulis melakukan
analisis morfologi. Morfologi adalah salah satu cabang dalam ilmu linguistik.
Secara etimologi, morfologi berasal dari kata morf yang berarti bentuk. Kata logi
berarti ilmu. Artinya, morfologi adalah ilmu yang mengkaji bentuk dan
pembentukan kata (Chaer, 2008:3). Sementara kata menurut Ramlan (2005:138)
kata adalah satuan paling kecil dalam bentuk kata. Setiap satu satuan kata yang
bebas dari bentuk kata lain itu adalah kata. Bisa dipahami sebagai satuan kata
paling mendasar yang belum mengalami perubahan bentuk. Selain kata, dalam
kajian linguistik mengenal istilah leksem. Leksem berbeda dengan kata. Jika kata
adalah bagian terkecil dalam suatu bahasa yang memiliki makna dan dapat berdiri
sendiri. Sedangkan leksem adalah bagian terkecil dalam suatu bahasa yang
mendasari berbagai bentuk kata. Satuan leksikal dasar yang abstrak yang
mendasari pelbagai bentuk kata. Dapat disimpulkan bahwa semua leksem sudah
pasti sebuah kata, tetapi sebuah kata belum tentu sebuah leksem dasar.
Dalam ilmu morfologi terdapat pembagian jenis kata berdasarkan
distribusinya, yakni monomorfemis dan polimorfemis. Menurut Kridalaksana
(2008:157) monomorfemis (monomorphemic) kata yang terdiri dari satu morfem.
Morfem (morpheme) merupakan satuan bahasa terkecil yang maknanya secara
relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil.
Polimorfemis istilah yang mengambarkan terjadinya proses morfologis yang
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 334
berupa rangkaian morfem. Bentuk polimorfermis dibagi tiga; afiksasi atau
pengimbuhan, reduplikasi, dan komposisi. Contoh dari polimorfemis dapat dilihat
dari berubahnya bentuk menjadi morfem baru. Proses morfologisnya terjadi
karena adanya afiksasi atau imbuhan.
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk
dasar yang disebut kata. Menurut Kridalaksana (1992:12), afiksasi merupakan
proses leksem yang berubah menjadi kata kompleks. Reduplikasi merupakan
proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara
sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer, 2007:182). Bentuk
afiksasi bisa kategorikan dalam empat jenis. Afiksasi atau imbuhan di awal kata
disebut prefiks, imbuhan di tengah kata adalah infiks, imbuhan di akhir kata
disebut sufiks, imbuhan di awal dan akhir kata adalah konfiks. Menurut Bagiya
(2017:33-34) afiksasi terdiri dari dua jenis, derivasi dan infleksi. Afiks derivasi
mengakibatkan perubahan kelas kata. Afiks infleksi tidak mengubah bentuk kata
dasarnya.
Menurut Laurie Bauer (1988) dalam Bagiya (2017:34) derivasi adalah
proses morfologis yang menghasilkan morfem baru; sedangkan infleksi adalah
proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari
sebuah leksem yang sama. Ciri utamanya, pembentukan infleksi dapat
diramalkan, pembentukan derivasi tidak dapat diramalkan. Dari uraian tersebut,
afiksasi pada kata dasar atau pun leksem ada yang menghasilkan turunan kelas
kata baru, baik bentuknya atau maknanya. Secara spesifik kajian ini mengurai
perubahan kelas kata serta perubahan makna. Di dalamnya juga mengungkap
perubahan itu sebagai bentuk monomorfemis atau polimorfemis.
Makna secara harfiah memiliki hubungan antara nama dan pengertian.
Makna adalah apa yang kita artikan atau apa yang kita maksudkan. Makna adalah
arti yang terkandung di dalam lambang tertentu. Namun memahami makna tidak
tunggal hanya pada apa yang terlambangkan secara indrawi. Tetapi ada aspek
terdalam yang tidak terlihat yang pengertiannya bergantung pada konteks sistem
pengatahuan masyarakat tertentu. Dalam studi etnolinguistik, penelitian
kebahasaan pada fakta budaya bisa meliputi dua hal. Pertama, pengungkapan
pada makna leksikal. Makna leksikal adalah makna yang ada pada leksem.
Pendekatan atau kajian leksikal untuk membedah bagaimana proses pembentukan
serta arti kata, strukturisasi kosakata, penggunaan dan penyimpanan kata,
pembelajaran kata, sejarah dan evolusi kata (etimologi), serta hubungan antar
kata.
Menurut Abdul Chaer (2007: 289) makna leksikal adalah makna yang
sebenarnya, makna yang sesuai dengan makna observasi indra kita, atau makna
apa adanya. Kemudian maknanya bisa berubah atau tidak jelas bergantung pada
distribusi kata lain yang mengikat. Sehingga dalam kajian etnolinguistik kita
mengenal istilah morfologi. Kedua, makna kultural. Makna yang terkandung atau
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 335
terdapat dalam pemahaman masyarakat. Makna yang memiliki konteks pada
sistem pengatahuan masyarakat berdasarkan preferensi yang dimilikinya. Menurut
Wakit Abdullah (2014:3) pengertian makna kultural adalah makna bahasa yang
dimiliki oleh masyarakat yang hubungan dengan budaya tertentu. Pemaknaannya
dipengaruhi oleh sistem pengetahuan (cognition system) terkait pola pikir,
pandangan hidup (way of life), serta pendangan terhadap dunianya (world view).
Penggunaan teori etnolinguistik untuk mengungkap makna leksikal dan makna
kultural pada busana kebaya janggan yang ada di lingkungan Kraton Yogyakarta.
Jenis kebaya tersebut hanya dikenakan oleh abdi dalem perempuan. Dengan
tujuan menemukan gambaran normatif tentang penamaan serta konteks makna
secara budaya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Bogdan san Taylor
(dalam Mamik, 2015: 4), penelitian kualitatif menghasilkan data-data deskriptif
berupa kata tertulis maupun verba dari manusia atau tingkah laku yang diamati.
Metode deskriptif mengurai fenomena berdasar fakta tanpa adanya manipulasi
(Hamdi dan Bahruddin, 2014: 6). Alur proses penelitian ini dilakukan melalui tiga
tahapan yang dilakukan secara terencana dan beruntun. Di mulai dengan riset
pustaka untuk tahap perumusan desain penelitian. Dilanjutkan dengan tahap
penyediaan atau penggalian data, baik secara literatur atau wawancara berupa
observasi, metode simak, dan metode cakap. Dilanjutkan dengan analisis data dan
penulisan akhir penelitian. Tahap akhir atau penyajian hasil analisis data
menggunakan metode penyajian informal dan formal. Metode penyajian informal
adalah perumusan dengan kata-kata biasa, walaupun dengan terminologi yang
teknis sifatnya. Metode penyajian formal adalah perumusan dengan apa yang
umum dikenal sebagai tanda dan lambang-lambang. (Sudaryanto, 2015:241).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Janggan Hitam, Kebaya janggan merupakan busana abdi dalem perempuan
(estri) Kraton Yogyakarta yang bentuknya menyerupai surjan (busana abdi dalem
laki-laki di lingkungan Kraton Yogyakarta). Pakaian yang dilengkapi kancing
hingga menutup leher. Khusus kebaya janggan warna kain yang digunakan harus
hitam. Boleh polos ataupun bermotif kembang batu, namun tidak diperkenankan
berbahan brokat. Demikian aturan bahan, motif, dan warna yang diperbolehkan
untuk kebaya janggan. Sehingga sekarang dikenal dengan sebutan janggan hitam.
Istilah dasar atau nama dari jenis kebaya ini adalah janggan. Dikomposisikan
dengan kata hitam merujuk pada warna yang diperbolehkan menurut aturan di
lingkungan Kraton Yogyakarta.
Ketentuan warna tidak hanya berlaku pada kebaya janggan. Semua abdi
dalem Kraton Yogyakarta hanya boleh mengenakan busana yang warna dasarnya
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 336
gelap atau warna hitam. Artinya, warna hitam atau warna gelap lainnya sebagai
penanda atau identitas untuk bagi abdi dalem di lingkungan Kraton Yogyakarta.
Sementara motif yang boleh digunakan tergantung pada status atau pangkat yang
diembannya. Pakem warna itu sudah terbentuk panjang dalam sejarah Kraton
Yogyakarta.Dalam bahasa Jawa sebenarnya terdapat kata ireng yang
pengertiannya sama dengan kata hitam dalam bahasa Indonesia. Tapi website
resmi Kraton Yogyakarta menamainya janggan hitam. Demikian juga dalam buku
yang ditulis Mari Condronegoro (2010) disebut istilah janggan hitam. Penulis
tidak menemukan informasi yang cukup terkait distribusi kata hitam pada kata
janggan.
Hipotesis penulis, tentang distribusi hitam pada kata janggan sangat
mungkin terjadi setelah kemerdekaan. Ketika bahasa Indonesia sudah diserap
sempurna sebagai bahasa sehari-hari. Sementara nama asal dari jenis kebaya ini
pada mulanya hanya janggan. Penamaan janggan yang dikomposisikan dengan
kata hitam mencerminkan pola bahasa yang terus berkembang mengikuti
kebiasaan dan pemahaman masyarakat penggunanya. Secara historis, kebaya
janggan ini diinspirasi oleh baju kurung para santri perempuan di daerah Banten
ketika Sultan Habengku Buwana V berkunjung ke Banten (Mari Condronegoro,
2010: 83). Bisa dipahami bahwa kebaya janggan yang dikenakan abdi dalem
Kraton Yogyakarta tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai Islam atau budaya
kebaya santri.
Abdi dalem perempuan yang boleh memakai janggan hitam adalah abdi
dalem keparak, wiyaga putri, pesinden, atau abdi dalem punakawan perempuan
saat bertugas. Bahkan saat ada Hajad Dalem Ngabekten sekali pun, abdi dalem
Keparak berpangkat magang dan jajar belum boleh mengenakan janggan. Kebaya
di lingkungan Kraton Yogyakarta menjadi simbol status pemakainya. Gambaran
bentuk kebaya janggan hitam adalah tertutup penuh dari sisi atas hingga sisi
bawah. Pada bagian bawah tertutup hingga menutupi pinggang. Sisi atas tertutup
hingga menutupi bagian leher. Sementara bagian depan atau belakang tertutup
penuh, tidak terdapat sisi terbuka sedikit pun, berbeda dengan jenis kebaya
tangkeban atau pun model kutubaru.
Secara keseluruhan kebaya janggan hitam memiliki 21 kancing.
Rinciannya, ada 6 kancing terlihat pada ujung atas atau bagian leher dengan pola
sejajar tiga kancing dalam dua baris. Pada bagian dada atas terdapat 2 kancing
yang posisinya juga terlihat. Ada 3 kancing di bagian depan sebagaimana baju
pada umumnya, mengaitkan dua sisi, tapi posisinya tersembunyi. Selain itu, pada
bagian pergelangan tangan terdapat 5 kancing di masing-masing lengan kanan dan
kiri. Posisinya dipasang terbuka. Secara fungsi lebih terlihat sebagai asesoris.
Namun secara simbolis punya makna tersendiri. Demikian juga pada kancing-
kancing yang lain, memiliki makna filosofis.
B. Busana Pelengkap; Pemakaian kebaya janggan hitam didahului mengenakan
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 337
semekan di bagian dalam. Istilah lain dari semekan adalah ubet-ubet atau kain
yang menutupi bagian perut hingga dada. Dililitkan mengelilingi badan dari arah
kiri ke kanan, di bawah ketiak hingga di atas pinggul. Bagian pinggang ditata
membentuk garis lurus rapi tanpa sisa kain. Kebaya janggan hitam dikenakan
setelah mengenakan semekan. Kebaya janggan hitam pemakaiannya dipadukan
dengan jarik. Dalam pengertian umum, jarik dikenal sebentuk kain batik yang
biasa digunakan sebagai busana bawahan serupa sarung. Namun bentuknya
berbeda dengan sarung. Pada aujungnya tidak tersambung. Jarik cara memakainya
pun berbeda dengan sarung, dililitkan.
Pemakaian jarik saat dipadukan dengan janggan hitam punya aturan.
Aturannya harus dililitkan dari kiri ke kanan atau bagian kanan di dalam dan kiri
di luar. Jarik pada ujungnya akan di wiru dengan ketentuan wiron ganjil.
Jumlahnya menyesuaikan ukuran tubuh, misalnya 5, 7, atau 9 lipatan disesuaikan
dengan besar kecil badan yang memakainya. Jarik kemudian diikat dan dikuatkan
dengan pemakaian stagen. Stagen merupakan alat untuk mengikat jarik ke badan,
agar tidak melorot atau lepas saat dikenakan. Umumnya bahan stagen dibuat dari
kain tenun tebal dengan panjang 2-4 meter yang panjangnya juga disesuaikan
dengan kebutuhan besar atau kecil badan yang memakai. Stagen posisinya akan
tertutup saat mengenakan janggan hitam sama seperti semekan. Fungsinya serupa
ikat pinggang.
B. Pembahasan
Pembahasan hasil penelitian ini dibagi dalam dua bagian. Pertama,
analisis kebahasaan (leksikal) atas kata janggan hitam, jarik, wiru dan wiron.
Kedua, uraian tentang makna simbolisasi (makna budaya) dari kebaya janggan
hitam serta pakain yang melengkapinya.
A. Morfologi Janggan Hitam; Kebaya janggan hitam adalah busana yang
dikenakan oleh abdi dalem perempuan Kraton Yogyakarta. Dinamai kebaya
janggan merujuk pada bentuk busana tersebut yang tertutup hingga bagian leher.
Sementara kata hitam merujuk pada warna yang diperbolehkan sebagai aturan
untuk dikenakan. Dalam bahasa Jawa, leher adalah jangga atau bisa disebut
jonggo. Jangga terdiri dari 6 karakter yang diawali huruf (j) dan diakhiri huruf (a)
dengan 2 huruf vokal. Kata jangga tergolong sebagai morfem bebas (free
morpheme). Morfem bebas adalah morfem yang berdiri sendiri untuk berfungsi
sebagai kata dan memiliki arti tanpa bergantung pada kata lain.
Merujuk pada penjelasan Hadiwijana (dalam Mulyana, 2011:42) kata
dalam bahasa Jawa dibagi dalam 10 jenis berikut; tembung aran, tembung kriya,
tembung tambahan, tembung geganti, tembung prenah, tembung lok, tembung
pangandheng, tembung cacah, tembung kaanan, dan tembung panyilah. Dalam
bahasa Jawa arti tembung adalah kata. Kata jangga termasuk dalam kategori
tembung aran atau jenis kata benda atau nomina. Ciri utama jenis kata tembung
aran adalah kata yang mandiri, tidak bergantung pada kata lain untuk terbentuk
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 338
artinya sebagaimana pembagian kata yang diurai Hadiwijana (Mulyana, 2011).
Jangga adalah kata asal yang tidak bergantung dengan kata lain untuk memiliki
makna. Seperti kata meja, bangku, serta kata sejenis lainnya.
Kata jangga menjadi janggan adalah kata asal yang mengalami afiksasi
atau pengimbuhan jenis sufikasi. Sufikasi adalah jenis afiksasi atau pengimbuhan
pada akhir kata. Dalam bahasa Jawa banyak ditemukan bentuk afiksasi, di
antaranya model prefikasi, infikasi, dan sufikasi. Jenis sufikasi pada bahasa Jawa
banyak ditemukan seperti berikut; (-e/-ne), (-an), (-en), (-i), (-ake), (-a), (-ana),
dan (-na). Kata jangga mendapat sufikasi (-an) menjadi janggan. Sufikasi (-an)
ketika mengenai kata tertentu akan mengubah arti asanya menjadi punya makna
sebagai; alat untuk melakukan perbuatan, satuan, dan beberapa. Seperti kata
janggan mulanya adalah nama benda (jangga/leher), saat mendapat sufikasi (-an)
menjadi nama benda yang punya keterangan atau sifat menutupi jangga. Kebaya
yang menutupi leher.
Dalam proses morfologinya terjadi penghilangan fenom (a). Proses hilangnya
fonem (a) sering terjadi pada penggabungan sufiks (-an), prefiks (sa-) dan prefiks
(pa-). Hilangnya fonem (a) pada (-an) terjadi jika (-an) bergabung dengan bentuk
dasar yang berakhir vokal. Jangga adalah kata yang akhirannya huruf vokal dan
mendapat sufikasi (-an) sehingga terbaca atau terucap janggan. Menurut
Kridalaksana (2007:162) pemendekan kata dalam bahasa Indonesia dibagi ke
dalam lima bentuk. Yakni, singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan
lambang huruf. Bentuk penggalan disubklasifikasikan oleh Kridalaksana dalam:
1) Penggalan suku kata pertama dari suku kata. 2) Penggalan suku kata terakhir
suatu kata. 3) Pengekalan tiga huruf pertama dari suatu kata. 4) Pengekalan empat
huruf pertama dari suku kata. 5) Pengekalan kata terakhir dari suatu frase. 6)
Pelepasan sebagai kata.
Pelepasan sebagaian kata bisa terjadi pada pengalan yang bentuk dasarnya
terdiri dari dua kata atau bentuk kata jenis polimorfemis. Dalam bahasa Indonesia
seperti kata (kenapa). Kata (kenapa) proses morfologinya terbentuk dari dua
morfem (kena-apa). Dilihat dari bentuknya, secara teoritis ini sama dengan
perubahan fonetik pada kata (jangga-an) di daam bahasa Jawa. Dalam bahasa
Jawa perubahan fonetik adalah hal yang jamak ditemukan. Menurut Mulyana
(2011:88) penghilangan fonem lebih karena faktor kebutuhan yang bersifat
efisiensi dan estetika. Didorong oleh faktor internal yang betujuan untuk
memudahkan pengucapan atau penggunaan kata tersebut dalam komunikasi
verbal. Sehingga afiksasi yang memungkinkan hilanganya sebagian dari kata
asalnya adalah hal lazim dalam bahasa Jawa. Sifat hakiki bahasa Jawa bisa
disebut kreatif, produktif, dan inovatif.
Jangga Jangga(-an) Janggan
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 339
Penghilangan huruf vokal sangat besar dipengaruhi oleh faktor budaya
tutur atau ucap. Artinya, perubahan fonetik umum ditemukan dalam percakapan
sehari-hari seperti, kata endi (mana) ditutur ndi, engko (nanti) ditutur ngko.
Contoh seperti itu memang tidak sepenuhnya sama dengan penghilangan pada
kata janggan. Tetapi memberi sebuah pemahaman, penghilangan huruf vokal di
akhir kata janggan setelah mendapat sufiks (-an) sangat besar dipengaruhi
kebutuhan mempermudah penuturnya. Terjadinya afiksasi jenis sufikasi pada kata
jangga mengubah bentuk, bunyi (fonem), serta perubahan arti yang jauh berbeda
dengan kata asalnya. Jangga menjadi janggan (jenis kebaya). Terdapat proses
morfologi pada kata jangga menjadi janggan sebagai sesuatu yang menutupi
jangga (leher). Afiksasi atau pengimbuhan huruf (-an) pada akhir kata jangga
mengubah arti dasarnya, menjadi sesuatu yang menutupi bagian leher. Seperti
terlihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Morfologis janggan (polimorfemis) dan hitam (monomorfemis)
Proses
Afiksasi
Perubahan
Arti
Jangga
Janggan
(-an)
Jenis kebaya yang
tertutup hingga
bagian leher.
Hitam
Hitam
Warna dasar yang
tergolong dalam
kategori warna
gelap
Janggan
(jenis
kebaya)
Janggan
Hitam
Kebaya
perempuan abdi
dalem Kraton
Yogyakarta yang
berpangkat
keparak, wiyaga
putri, pesinden,
atau abdi dalem
punakawan
perempuan.
Dalam bahasa Jawa ada beberapa kata yang tidak bisa dipisahkan dalam
satuan gramatikal morfemis. Misal, radhio (radio), tuku (beli), linggih (duduk),
dan sejenis kata tersebut. Satuan atau bentuk kata seperti yang dicontohkan itu
dipahami sebagai satu morfem atau monomorfemis. Morfologis pada umumnya
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 340
dalam bahasa Jawa hanya terdiri atas tiga bentuk afiksasi, reduplikasi, dan
komposisi. Menurut Mulyana (2011:10) hasil pemisahan bentuk monomorfemis
dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah wandaning tembung atau satuan silabik
kata. Berdasar penjelasan tersebut, kata hitam yang dikomposisikan pada
penamaan kebaya janggan hitam adalah jenis satuan gramatikal morfemis, kata
asal tunggal yang tidak bisa dibagi dengan menjadi hi- dan -tam atau disebut
terdiri dari dua morfem. Artinya kata hitam dalam bahasa Jawa tergolong sebagai
kata monomorfemis. Seperti kata linggih yang juga disebut sebagai kata
monomorfemis. Di temukan bahwa penamaan janggan hitam ini di derivasi dari
kata jangga yang artinya leher. Penamaan itu dipengaruhi oleh bentuk kebaya
tersebut yang seluruh bagian atasnya menutupi hingga leher. Sementara di
kompsisikan dengan kata hitam menjadi janggan hitam, merujuk pada ketentuan
warna yang digunakan dan diperbolehkan di lingkungan Kraton Yogyakarta.
A. Morfologi Jarik dan Wiron; Kelengkapan pakaian janggan hitam adalah
jarik. Dalam pengertian umum, jarik dikenal sebentuk kain batik yang biasa
digunakan sebagai busana bawahan serupa sarung. Namun bentuknya berbeda
dengan sarung. Pada ujungnya tidak tersambung. Jarik cara memakainya pun
berbeda dengan sarung, dililitkan.
Ketentuan pemakaian jarik saat dipadukan dengan janggan hitam harus dililitkan
dari kiri ke kanan atau bagian kanan di dalam dan kiri di luar. Jarik pada ujungnya
akan di wiru dengan ketentuan wiron berjumlah ganjil dengan menyesuaikan
ukuran tubuh, misalnya 5, 7, atau 9 lipatan disesuaikan dengan besar kecil badan
yang memakainya. Jarik kemudian diikat dan dikuatkan dengan
pemakaian stagen. Stagen merupakan alat untuk mengikat jarik ke badan, agar
tidak melorot atau lepas saat dikenakan. Umumnya bahan stagen dibuat dari kain
tenun tebal dengan panjang 2-4 meter yang panjangnya juga disesuaikan dengan
kebutuhan besar atau kecil badan yang memakai.
Dalam kajian morfologi bahasa Jawa, kata jarik sejenis dengan kata hitam.
Kata jarik tergolong monomorfemis atau bentuk satuan gramatikal morfem yang
tidak bisa dibagi dalam satuan yang lebih kecil. Sementara kata wiron pada tata
cara pemakaian jarik terdapat adanya proses perubahan dari kata asalnya. Wiron
punya kata dasar wiru. Wiru mendapat afiksasi jenis sufikasi, pengimbuhan di
akhir katanya berupa (-an). Wiru punya arti melipat, sementara wiron adalah hasil
atau jumlah lipatan hias pada ujung jarik saat dikenakan di bagian depan.
Perubahan dari wiru ke wiron adalah perubahan bentuk yang dipengaruhi
oleh sufikasi (-an). Sufikasi (-an) yang bertemu huruf vokal (u) menyebabkan
penghilangan satu huruf di akhir kata wiru. Dalam pengucapan terjadi perubahan
menjadi wiron karena dalam bahasa Jawa pergantian huruf (a) ke huruf (o) adalah
Wiru Wiru(-an) Wiran/Wiron
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 341
hal lazim banyak ditemukan. Seperti pengucapan kata Jowo kata asalnya adalah
Jawa. Tetapi dalam pengucapan bisa menjadi Jowo.
Contoh lain bisa kita temukan pada kata dawa dalam bahasa Jawa yang
merupakan kata dasar dari kata kedawan (terlalu panjang), pengucapannya adalah
dowo. Pada contoh itu juga terjadi penghilangan huruf (a) di akhir kata dawa saat
mendapat afiksasi (ke-an). Perubahan dalam pengucapan atau penulisan sangat
pengaruhi oleh faktor penyederhanaan guna mendapat fonem yang lebih mudah
diucapkan dan estetika bahasa. Bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri,
perubahan-perubahan fonemik tidak selalu dipengaruhi oleh syarat fonologis dan
morfologis (phonologically dan morphologically conditioned). Ada faktor fungsi
estetika, kemudahan pengucapan atau dialek, serta undha usuk. Perbedaan
fonemik itu turut mempengaruhi perubahan bentuk-bentuk dasar morfom. Seperti
kata wiru ketika mendapat sufikasi (-an) fonemnya berubah menjadi wiron.
Perubahan arti wiru menjadi wiron dipengaruhi oleh adanya tindakan atau
perbuatan yang menentukan secara spesifik terkait jumlah serta ukuran pada
tindakan tersebut. Seperti telah diurai pada penjelasan sebelumnya, sufikasi (-an)
punya makna sebagai alat untuk melakukan perbuatan, satuan, dan beberapa. Pada
kata janggan punya arti benda yang menutupi jangga. Keterangan benda
melakukan sesuatu. Sementara wiron yang mengandung makna melakukan ketika
mendapat distribusi (-an) menjadi perbuatan yang mengenai satu benda yang juga
mengandung makna satuan jumlah. Kata wiru ditemukan juga dalam bahasa tutur
dengan penambahan (di-) pada awal katanya menjadi diwiru. Pengunaan (di-)
tersebut lebih dipengaruhi oleh struktur bahasa Indonesia. Pengimbuhan (di-) ini
punya arti sama dengan sufikasi (-an) dalam morfologi Jawa. Wiru kata dasarnya
merupakan tindakan melipat. Perubahan arti pada kata wiru seperti digambarkan
pada tabel berikut:
Tabel 2. Morfologis jarik (monomorfemis) dan wiron (polimorfemis)
Proses
Afiksasi
Perubahan
Jarik
-
Wiru
-
Wiru
Wiron (-an)
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 342
KESIMPULAN
Dalam penelitian ini ditemukan dua kata yang kategorinya sama, yakni
janggan dan wiron. Jenis kata yang proses morfologinya mengalami afiksasi jenis
sufikasi (-an). Dalam bahasa Jawa, sufikasi (-an) saat bertemu huruf vokal pada
akhir kata asalnya sering membentuk penghilangan satu fonem saat dituturkan.
Kata janggan semestinya jangga-an. Kata wiron semestinya wiruan. Perubahan
fonetik adalah hal yang jamak ditemukan dalam bahasa Jawa. Itu karena faktor
kebutuhan yang bersifat efisiensi dan estetika. Sehingga kata jangga yang
mendapat imbuhan (-an) dibaca janggan. Demikian juga dengan kata wiru yang
mendapat imbuhan (-an) dibaca wiron.
Sementara kata jarik nama dari bawahan busana janggan hitam tergolong
jenis monomorfemis. Satuan kata yang tergolong sebagai asal kata. Sehingga tidak
bisa dipecah untuk dilacak muasalnya. Jarik adalah kata dasar yang punya arti
tanpa bergantung pada pengimbuhan kata atau leksem lainnya. Jenis kata jarik
dalam bahasa Jawa sama dengan kata hitam. Kebaya janggan hitam adalah simbol
busana yang memuat tata nilai yang kompleks. Mencerminkan adanya proses
akulturasi nilai-nilai Islam pada budaya berpakaian di lingkungan Kraton
Yogykarta. Busana Kraton Yogyakarta dibuat tidak sekedar memenuhi kebutuhan
estetis. Tetapi sebagai media komunikasi seperangkat nilai yang berhubungan
dengan moral, spiritual, dan sosial.
BIBLIOGRAFI
Abdullah, Wakit. (2014). Buku ajar etnolinguistik: Teori, metode, dan aplikasinya.
Fakultas Ilmu Budaya: Universitas Sebelas Maret.
Baehaqie, Imam. (2013). Etnolinguistik Telaah Teoritis dan Praktis. Surakarta:
Cakrawala Media.
Bagiya, Bagiya. (2018). Infleksi dan Derivasi dalam Bahasa Indonesia. Journal of
Language Learning and Research, 1(1), 3240.
Barnard, Malcolm. (2011). Fashion sebagai komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
Busana, Jurnal Tata. (n.d.). VIDEO TUTORIAL BERBASIS YOUTUBE SEBAGAI MEDIA
BELAJAR PEMBUATAN HIASAN BUSANA.
Condronegoro, Mari S. (2010). Memahami busana adat Kraton Yogyakarta: warisan
penuh makna. Yayasan Pustaka Nusantara.
Dewi, Shinta Fitria, & Wening, Sri. (2019). PENGARUH PENGETAHUAN BUSANA
TERHADAP PERILAKU KONSUMSI BUSANA PADA SISWA JURUSAN
TATA BUSANA SMK N 3 KLATEN. Jurnal Fesyen: Pendidikan Dan Teknologi,
8(3).
Duranti, Alessandro. (2011). Linguistic anthropology: Language as a non-neutral
medium. The Cambridge Handbook of Sociolinguistics, 2846.
Gani, Saida. (2019). Kajian teoritis struktur internal bahasa (fonologi, morfologi,
sintaksis, dan semantik). A Jamiy: Jurnal Bahasa Dan Sastra Arab, 7(1), 120.
Hadi, Muhammad Shulhan. (2017). Pola Pewarisan Budaya Syair Melayu di Lombok
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 343
Timur (Kajian Sejarah Budaya). Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah Dan
Pendidikan, 1(1), 6678.
Hamdi, Asep Saepul, & Bahruddin, E. (2015). Metode penelitian kuantitatif aplikasi
dalam pendidikan. Deepublish.
Harimurti, Kridalaksana. (2007). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Mamik, Mamik. (2014). Metodologi Kualitatif. Zifatama PUBLISHER. Zifatama
Publisher.
Sumitri, Ni Wayan, & Arka, I. Wayan. (2022). Kekuasaan dan Kekuatan Bhuta dalam
Teks Lontar Roga Sanghara Bhumi dan Covid-19 di Bali: Analisis Etnolinguistik.
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 11(1), 112.
© 2021 by the authors. Submitted for possible open access publication under
the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA)
license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).