
Mia Daniar
1
, Widhyasmaramurti
2
/ JOSR: Journal of Social Research, 1(11),
327-343
Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton
Yogyakarta 332
(Mamik, 2014). Ada pengaruh nilai-nilai agama, serta perkembangan trend
fashion modern. Tiga penelitian terdahulu di atas memiliki relevansi dengan
penelitian ini, khususnya pada aspek penentuan sudut pandang dan objek
penelitian. Penelitian Alip Sugianto mengambarkan bagaimana busana dari sudut
pandang etnolinguistik (semiotika) mensimbolkan karakter dari kesadaran serta
pengatahuan pemakaiannya.
Demikian pula penelitian yang dilakukan Cipto Wardoyo dan Asep
Sulaeman di lingkungan Kraton Yogyakarta, penamaan benda-benda di sana
mengambarkan adanya proses akulturasi budaya dan agama. Penelitian tersebut
memberikan inspirasi penelitian ini untuk melihat bagaimana penamaan busana
serta nilai kultural yang dikandungnya. Penelitian Ratna Endah Santoso, dkk.
menguatkan pemahaman penulis, tentang busana kebaya yang sarat muatan
filosofis. Penulis dalam penelitian ini mengunakan pendekatan teori etnolinguistik
sebagai ilmu yang bisa mengurai hubungan antara bahasa, penggunaan bahasa dan
kebudayaan(Sumitri & Arka, 2022).
Etnolinguistik secara terminologi merupakan ilmu perihal bahasa yang
berkaitan dengan unsur dan masalah kebudayaan (Baehaqie, 2013:14).
Etnolinguistik sebagai pendekatan teori mengkaji hubungan bahasa dan budaya.
Kajian etnolinguistik sebagai bagian dari rumpun antropologi serta ilmu bahasa
memiliki objek telaah yang cukup luas. Pendekatan ini dikenal dengan istilah
linguistic anthropology atau anthropological linguistics (Duranti, 1997: 1).
Menurut Foley (dalam Rudiyanto dkk., 2020: 549) linguistik antropologi
merupakan disiplin ilmu linguistik yang bersifat interpretatif untuk mengungkap
fakta kebahasaan dan menemukan pemahaman budaya. Secara sederhana dapat
dipahami, ilmu etnolinguistik adalah kajian bahasa yang bersifat makro-linguistik
(kosakata, frasa, klausa, kalimat dan wacana) atas fakta-fakta kebudayaan serta
sosial. Ilmu linguistik didefinisikan sebagai ilmu yang menjadikan bahasa sebagai
objek kajian. Di dalam kajian linguistik atau ilmu bahasa terdapat beberapa
cabang yang di antaranya; fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik
(Wijana dan Rohmadi, 2011:3).
Artinya, ada perbedaan antara bahasa dan ilmu bahasa atau linguistik. Ilmu
linguistik menempatkan bahasa sebagai objek kajian. Sementara bahasa adalah
media komunikasi yang hadir dalam interaksi sosial atau proses kebudayaan.
Bahasa pada pengertian umum dipahami sebagai media komunikasi. Menurut
Anderson (dalam Tarigan, 2015:2-3) bahasa memiliki delapan prinsip dasar: 1)
bahasa adalah suatu sistem, 2) bahasa adalah vokal (bunyi ujaran), 3) bahasa
tersususn dari lambang-lambang mana suka (arbitary symbols), 4) setiap bahasa
bersifat unik dan bersifat khas, 5) bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan, 6)
bahasa adalah alat komunikasi, 7) bahasa berhubungan erat dengan budaya
tempatnya berada, 8) bahasa itu berubah-ubah.