JOSR: Journal of Social Research
Oktober 2022, 1 (11), 298-309
p-ISSN: 2827-9832 e-ISSN: xxxx-xxxx
Available online at http:// https://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
http://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
ANALISIS DISTRIBUSI IKAN PADA CAHAYA
LAMPU GAS DAN LAMPU CELUP BAWAH AIR
DI RUMPON PERAIRAN HITU
Sudaryo
1,
Mesenu
2
Universitas Pattimura
sudaryoura993@gmail.com
Abstrak (indonesia)
Received:29
September
2022
Revised :11
Oktober
2022
Accepted:15
Oktober
2022
Latar Belakang: distribusi intensitas cahaya di
bawah air, distribusi ikan, dan perbedaan jumlah dan
komposisi hasil tangkapan pada rumpon dengan
menggunakan lampu petromaks dan lampu bawah air.
Tujuan: bertujuan untuk menganalisis distribusi
intensitas cahaya di bawah air, distribusi ikan, dan
perbedaan jumlah dan komposisi hasil tangkapan pada
rumpon dengan menggunakan lampu petromaks dan
lampu bawah air.
Metode: pengumpulan data dan analisis data.
Fishing base di Desa Hitu dan fishing ground
bertempat di perairan Desa Hitu Kecamatan Leihitu
Kabupaten Maluku Tengah terletak pada posisi
geografis antara 3°30’50’’ LS dan 128°10’50’’ BT.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan distribusi
intensitas cahaya bawah air di tengah sumber cahaya
di perairan rumpon Hitu dengan menggunakan lampu
petromaks adalah 120 lux di perairan permukaan
menjadi 0,1 lux pada kedalaman 12 meter dan
distribusi cahaya bawah air dengan penerangan
cahaya adalah 30,1 lux dan 40,8 lux dan di perairan
permukaan 1 meter hingga 0,1 lux pada kedalaman 18
meter, sedangkan di perairan permukaan 1 meter
hingga 0,1 lux pada kedalaman 18 meter.
Kesimpulan: Distribusi intensitas cahaya bawah air
di tengah sumber cahaya pada rumpon di Perairan
Hitu dengan menggunakan lampu gas adalah 120
lux di permukaan perairan sampai 0,1 lux pada
kedalaman 12 meter dan pada Lampu Celub bawah
air distribusi iluminasi cahaya adalah 30,1 lux dan
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 299
40,8 lux dipermukaan perairan dan 1 meter sampai
0,1 lux pada kedalaman 18 meter, sedangkan pada
pusat lampu celub yang di set pada kedalaman 2
meter nilai iluminasi cahayanya 70 lux.
Kata kunci: Distribusi Ikan; Lampu Bawah Air;
Perangkat Agregasi Ikan
Abstract (English)
Background: distribution of light intensity under
water, distribution of fish, and differences in the
number and composition of catches in FADs using
petromax lamps and underwater lights.
Objective: aims to analyze the distribution of light
intensity under water, distribution of fish, and
differences in the number and composition of catches
caught in FADs using petromax lamps and
underwater lights.
Methods: : data collection and data analysis. The
fishing base in Hitu Village and the fishing ground
located in the waters of Hitu Village, Leihitu District,
Central Maluku Regency are located in a
geographical position between 3°30'50'' latitude and
128°10'50'' east longitude.
Results: The results showed the distribution of
underwater light intensity in the middle of the light
source in Hitu FAD waters using a petromax lamp
was 120 lux in surface waters to 0.1 lux at a depth of
12 meters and the distribution of underwater light
with light illumination was 30.1 lux and 40 .8 lux and
in surface waters 1 meter to 0.1 lux at a depth of 18
meters, while in surface waters 1 meter to 0.1 lux at
a depth of 18 meters.
Conslusion: The distribution of underwater light
intensity in the middle of the light source on FADs in
Hitu waters using gas lamps is 120 lux at the surface
of the waters to 0.1 lux at a depth of 12 meters and in
the underwater Celub Lamp the distribution of light
illumination is 30.1 lux and 40, 8 lux on the surface
of the water and 1 meter to 0.1 lux at a depth of 18
meters, while at the center of the celub lamp which is
set at a depth of 2 meters, the illumination value is 70
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 300
lux.
Keywords: Fish Distribution; Underwater Lights;
Fish Agregated Device
*Correspondent Author : Sudaryo
Email : sudaryoura993@gmail.com
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kabupaten Maluku Tengah memiliki luas wilayah 147.480,66 Km² terdiri
dari wilayah daratan seluas 11.364,52 K (7,7%) dan wilayah lautan seluas
136.116,14 Km² (92,3%) dengan potensi sumberdaya ikan yang dimiliki sebesar
484.532 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar
387.342 ton/tahun, potensi yang baru dimanfaatkan sebesar 65.141,2 ton/tahun
(DKP Maluku Tengah, 2007). Pemanfaatan daerah (Arakawa 1998) penangkapan
ikan di Perairan Hitu dan sekitarnya dengan aktivitas usaha perikanan oleh
nelayan yang mendiami kawasan pesisir umumnya menggunakan alat tangkap gill
net, purse seine dan bagan perahu untuk tujuan penangkapan ikan pelagis kecil
antara lain teri, layang, tembang, ikan terbang, selar, dan kembung (Arimoto,
1999).
Salah satu teknologi penangkapan purse seine dengan menggunakan alat
bantu rumpon dan cahaya pada malam hari (light fishing). Umumnya lampu yang
digunakan yaitu lampu gas dimana posisi penempatannya berada di atas
pemukaan air(Pesisir, n.d.). Salah satu pengetahuan yang diharapkan dapat
mengoptimalkan pengoperasian alat tangkap purse seine adalah pengetahuan
tentang distibusi ikan dengan menggunakan alat bantu rumpon dan pencahayaan
lampu. Pemanfaatan rumpon cukup besar karena daerah penangkapan (fishing
ground) akan menjadi pasti di suatu tempat sehingga nelayan dapat menghemat
pemakaian bahan bakar dan tidak lagi mencari serta mengejar gerombolan ikan
(Baskoro & Arimoto, 2001).
Penggunaan cahaya dimaksudkan untuk menarik dan mengkonsentrasikan
kawanan ikan pada areal pencahayaan selain itu intensitas cahaya sangat
menentukan terhadap illuminasi cahaya yang masuk kedalam air. Menurut
Baskoro dan Suherman (2007) bahwa faktor yang cukup krusial dalam kegiatan
light fishing adalah kekuatan dari cahaya lampu yang digunakan karena
keberadaan cahaya lampu sendiri yang masuk menembus perairan akan
dipengaruhi kondisi cuaca. Angin dan arus yang kuat mengakibatkan terjadinya
gelombang yang cukup besar (Baskoro & Arimoto, 2001), perubahan gelombang
akan mempengaruhi kedudukan lampu di atas permukaan perairan sehingga
perubahan sinar lampu menjadi berubah-ubah yang dapat membuat ikan menjadi
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 301
takut (flickering light), untuk itu diperlukan modifikasi terhadap penggunaan
lampu dengan meletakan lampu pada posisi di bawah permukaan air (underwater
lamp). Hal ini sejalan dengan penelitian Haruna (Utami, 2009), (2008)
mengatakan bahwa illuminasi cahaya pada penangkapan light fishing bagan
perahu di Perairan Maluku Tengah dipengaruhi oleh kondisi arus maupun
gelombang. Menurut Ayodhya (Putra, 2018), (1981) bahwa fungsi penggunaan
lampu bawah air antara lain; cahaya dapat lebih efisien, waktu yang diperlukan
untuk mengumpulkan ikan lebih sedikit, dan ikan yang terkumpul disekitar lampu
relatif lebih tenang. Hasil penelitian tentang distribusi dan tingkah laku ikan
hubungannya dengan besarnya intensitas cahaya maupun menggunakan lampu
bawah air pada rumpon di Maluku Tengah dengan pengamatan bawah air sampai
saat ini belum banyak diketahui (Harefa, 2013). Oleh karena itu penelitian ini
mencoba mengkaji informasi-informasi yang berhubungan dengan tingkah laku
ikan dibawah cahaya lampu melalui pendekatan akustik (LAKU, n.d.).
Tertariknya ikan pada sumber cahaya disebut fototaksis positif dimana
tingkah laku ikan yang mendatangi sumber cahaya dapat dibedakan yaitu
tertariknya ikan secara langsung oleh cahaya dan tertarik mendekati cahaya
karena mencari makan (Parrish, 1999). Tingkah laku yang demikian inilah yang
dimanfaatkan nelayan dimalam hari dengan berbagai alat penangkapan ikan
seperti bagan (Knudsen, Fosseidengen, Oppedal, Karlsen, & Ona, 2004), purse
seine dan pancing. Selama ini keberadaan ikan banyak diduga oleh nelayan
dengan adanya gelembung-gelembung udara yang dikeluarkan ikan tetapi posisi
ikan pada catchable area belum banyak diketahui. Oleh karena itu pengamatan
bawah air (underwater observation) merupakan salah satu aspek yang disarankan
dalam pengamatan tingkah laku ikan (Nadir, 2000).
Pengetahuan tingkah laku ikan dalam proses penangkapan ikan yang
menggunakan cahaya dan rumpon sebagai alat bantu penting diketahui khususnya
tingkah laku di sekitar pencahayaan dengan melakukan pengamatan akustik untuk
mengetahui antara lain; waktu kedatangan ikan (Nicol, 1963), distribusi
kedalaman renang ikan di sekitar areal pencahayaan sebelum dan sesudah tengah
malam pada tingkat intensitas tertentu, banyak tidaknya ikan yang terbaca pada
echogram dan pola pergerakan ikan di sekitar pencahayaan pada catchable area
rumpon (Nikonorov & Nikonorov, 1975).
Menurut Nybakken (1988), Sudirman, (2003), Tupamahu (2003), dan
Sulaiman (2006) bahwa illuminasi cahaya dipengaruhi oleh absorbsi cahaya dan
partikel-partikel air (Subani & Barus, 1989), kecerahan dan pemantulan cahaya
oleh permukaan laut. Nilai iluminasi (lux) suatu sumber cahaya akan menurun
dengan semakin meningkatnya jarak dari sumber cahaya tersebut dan nilainya
akan berkurang apabila cahaya tersebut masuk ke dalam air karena mengalami
pemudaran (Monintja, Baskoro, Purbayanto, & Arimoto, n.d.). Nicol (1963)
melakukan review mengenai penglihatan dan penerimaan cahaya oleh ikan dan
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 302
menyimpulkan bahwa mayoritas mata ikan laut sangat tinggi sensitivitas ikan
terhadap cahaya belum diketahui namun sensitivitas mata ikan terhadap cahaya
sangat tinggi. Ikan mempunyai repon terhadap rangsangan yang disebabkan oleh
cahaya yang besarnya 0,01 0,001 lux, sangat bergantung pada kemampuan jenis
ikan beradaptasi (Sulaiman, Jaya, & Baskoro, 2006)A. Diketahuinya tingkah laku
ikan di sekitar areal pencahayaan dapat dijadikan suatu pedoman untuk membuat
taktik penangkapan dan dapat dijadikan landasan untuk memodifikasi alat
tangkap maupun alat bantu penangkapan yang lebih efektif dalam melakukan
operasi penangkapan (Tupamahu, Baskoro, Jaya, & Monintja, 2001). Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan, maka pokok
permasalahan yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah : Bagaimana
distribusi intensitas cahaya bawah air pada rumpon dengan menggunakan lampu
gas dan LACUBA ?, Bagaimana distribusi ikan pada areal pencahayaan sebelum
dan sesudah tengah malam dengan menggunakan lampu gas dan LACUBA di
rumpon?, Bagaimana Jumlah dan komposisi hasil tangkapan dengan
menggunakan lampu gas dan LACUBA di rumpon ?
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Peneltian
Penelitian ini dilakukan selama 4 (empat) bulan yakni dari bulan Maret
hingga Juni 2009, yang meliputi persiapan peralatan, pengamatan, pengukuran,
pengumpulan data dan analisis data (Natalia, 2010). Fishing base di Desa Hitu
dan fishing ground bertempat di perairan Desa Hitu Kecamatan Leihitu
Kabupaten Maluku Tengah terletak pada posisi geografis antara 3°30’50’’ LS dan
128°10’50’’ BT.
B. Bahan dan Alat
Beberapa bahan dan alat yang digunakan untuk pengambilan data dalam
penelitian ini sebagai berikut :
Tabel 1. Alat dan spesifikasi yang digunakan selama penelitian
No
Alat dan Spesifikasi
Jumlah
Kegunaan
1
Purseseine
(KM.Dewaruci&
KM. Uliputi)
2 Unit
Proses
Penangkapan
2
Rumpon (7 m x 5 m)
2 unit
Alat Bantu
pengumpul ikan
3
Lampu Gas
3 Unit
Alat Bantu
cahaya
4
Lampu celup bawah air
1 unit
Alat Bantu
cahaya
5
Fish finder ff. 340C+
GPS
2 Unit
Pengamatan
bawah air+
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 303
P
elamp
ung
Pelepah
sagu (Gaba-
Atrakto
r (daun
j
ang
T
ali
Penentuan Posisi
+ suhu air laut
6
Sechi disk
2 Unit
Pengukuran
kecerahan air
laut
7
Digital Underwater lux
meter Inpo 1540
1 Unit
Pengukuran
intensitas cahaya
8
Timbangan
1 Unit
Pengukuran berat
ikan
9
Genset
1 unit
Pembangkit
listrik
10
Kamera digital
2 Unit
Dokumentasi
tiap pengamatan
10
Kamera digital
Unit
Dokumentasi tiap
pengamatan
11
Topdal
Unit
Mengukur
Kecepetan arus
a. Rumpon; Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan yang
umumnya digunakan oleh nelayan di perairan Hitu dan sekitarnya dan dikenal
dengan nama sero dengan panjang 7 m dan lebar 5 m. Rumpon diset dan
dibiarkan menetap sampai adanya indicator ikan telah berkumpul dan
memungkinkan untuk dilakukan penangkapan ikan. Konstruksi rumpon dapat
dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Konstruksi Rumpon dan bagian-bagiannya
b. Lampu; Ada 2 tipe lampu yang digunakan dalam penelitian ini yakni lampu
Gas dan Lampu Celup Bawah Air (LACUBA). Jumlah lampu Gas yang
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 304
digunakan mengikuti jumlah umum digunakan oleh nelayan di lokasi penelitian
yakni sebanyak 3 unit untuk mengumpulkan ikan dari jarak jauh dan 1 unit
sebagai lampu fokus yakni lampu gas yang dipasang tudung dari ember planstik
dan dibungkus dengan kain warna merah. Diskripsi dari lampu petromaks yang
digunakan dapat dilihat pada Gambar 2. Lampu gas dipasang di tengah-tengah
rumah rompon dengan jarak ± 1 meter di atas permukaan air.
Gambar 3. Diskripsi lampu gas yang digunakan pada rumpon (sumber :
Puspito, 2008)
Untuk LACUBA digunakan satu lampu warna kuning dengan intensitas
500 watt dan digunakan untuk mengumpulkan ikan dari jarak yang jauh sehingga
mendekati sumber cahaya. Selain itu dapat difungsikan sebagai lampu fokus
untuk mengkonsentrasikan ikan di catchable area dengan mengatur intensitas
LACUBA. Spesifikasi dari LACUBA ini dapat dilihat pada Tabel 2 dan
Gambar 4. LACUBA ini di pasang di dalam air pada kedalaman 2 meter.
Tabel 2. Spesifikasi LACUBA yang digunakan dalam penelitian ini
Komponen
Spesifikasi
Jenis Lampu
Balon pijar 500 Watt/buah
Tegangan
220V
Panjang Kabel
12 meter
Dudukan
lampu
Resin BQTN
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 305
Kerangka
Stain less steel Ǿ 5 mm
Sistim kedap
air
Seal silikon ruber
Stabilisator
(pemberat)
Besi tebal 10 mm dilapisi chrom
Dimer
Kapasitas 600 watt
Tali
penggantung
PE Ǿ 6 mm; 10 meter
Gambar 4. Lampu Celup Bawah Air (LACUBA) yang digunakan dalam
penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Daerah Penangkapan Ikan dan Sebaran Rumpon
Usaha Perikanan purse seine oleh masyarakat yang mendiami wilayah
pesisir Kecamatan Leihitu khususnya oleh nelayan Desa Hitu sudah berlangsung
turun temurun. Penentuan daerah penangkapan lebih berdasarkan pada potensi
sumberdaya ikan yang kaya dengan jenis ikan pelagis yang senang hidup
berkelompok (shoaling) di permukaan dalam jumlah yang cukup besar, arus
perairan deras dan terarah, kedalaman perairan lebih dalam, selain itu posisi
perairan ini membentuk selat yang diapit oleh Pulau Seram dan Pulau Ambon
sehingga terbentuk pola arus yang melintasi perairan tersebut. Menurut Gunarso
(1985) menyatakan terbentuknya beberapa daerah penangkapan ikan, yakni pada
perbatasan atau pertemuan arus panas dan arus dingin yang disebut dengan front,
terjadi pembalikan lapisan air (upwelling), terjadinya arus pengisian (divergensi)
dan lain sebagainya. Faktor musim dan perubahan suhu tahunan serta berbagai
keadaan lain akan mempengaruhi penyebaran ikan serta kelimpahan suatu daerah
penangkapan ikan (fishing ground).
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 306
Sebaran alat tangkap purse seine yang memanfaatkan daerah penangkapan
di Perairan Kecamatan Leihitu ini adalah 28 unit dengan jumlah rumpon 34 unit.
Penempatan rumpon lebih berdasarkan pada pengalaman nelayan bahwa lokasi
tersebut terdapat banyak ikan, selanjutnya dipasang rumpon yang diikatkan pada
pelampung tanda. Peta sebaran rumpon dapat dilihat pada Gambar 8. Jarak antara
fishing base dan fishing ground 5,52 mil laut. Lama waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai daerah fishing ground sekitar 45 menit. Posisi rumpon yang
digunakan adalah 3°29’41,30’’S dan 128°10’34,70’’T rumpon milik Amin Slamat
dan 3°30’10,40’’S dan 128° 9’34,40’’T rumpon milik Ibrahim Slamat, jarak
kedua rumpon adalah 2,02 km. Jumlah Rumpon yang yang ditempatkan sangat
bergantung pada musim, Musim Timur pada bulan Pebruari Juli dan musim
Barat (ombak) bulan Agustus Januari ketika musim ombak sebahagian rumpon
ditarik ke fishing base untuk dilakukan perbaikan seperlunya.
Pembentukan daerah penangkapan ikan di daerah rumpon pada
penangkapan purse seine sangat efisien karena dapat menghemat waktu dan bahan
bakar sehingga tidak perlu mencari atau mengejar gerombolan ikan. Keberadaan
ikan disekitar area rumpon menurut Jamal (2003), Yusfiandayani (2004), dan
Monintja (2008) bahwa ikan berkumpul disekitar rumpon sebagai tempat
berlindung dan pola jaringan makan yang dimulai dengan tumbuhnya bakteri dan
microalgae ketika rumpon dipasang selain itu terdapat sekitar 26 genus perifiton
alga yang teramati dan 9 genus perifiton avertebrata, selain itu keberadaan ikan
karena ketertarikan terhadap intensitas cahaya yang disenangi.
B.Distribusi Iluminasi Cahaya Bawah Air
Distribusi vertikal maupun horisontal cahaya lampu gas yang digunakan
oleh nelayan di rumpon yang diukur pada posisi pengukuran dari pusat cahaya
dengan jarak antar pengukuran masing-masing 1 meter. Posisi pengukuran
iluminasi cahaya lampu gas dapat dilihat pada Gambar 7. ada kedalaman 2 meter
nilai iluminasi cahayanya 70 lux. Intensitas cahaya di permukaan perairan pada
posisi pengukuran 14 meter yang terletak paling jauh dari pusat cahaya nilai
iluminasinya sama yaitu 0,1 lux pada strata kedalaman 2-4 meter. Nilai iluminasi
cahaya pada permukaan perairan 0,1 lux berada pada posisi pengukuran 11 meter
dari sumber cahaya. Distribusi cahaya bawah air pada pusat sumber cahaya pada
lampu CELUB mengikuti persamaan I = 78,35 e
-0,35x
, dengan koefisien
determinasi (r
2
) sebesar 0,974 (Gambar 13).
Hasil analisis regresi antara sebaran iluminasi cahaya didalam air dengan
kedalaman perairan menunjukkan hubungan yang berpola eksponensial dengan
semakin bertambahnya kedalaman. Pola iluminasi cahaya tergantung dari
intensitas awal cahaya yang masuk ke dalam perairan, jarak sumber cahaya, sudut
dan keadaan gelombang, dimana koefisien pemudaran dan determinasi lampu gas
0,57 lux/m dan 0,99, LACUBA 0,35 lux/m dan 0,97. Hal ini menunjukkan bahwa
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 307
perubahan illuminasi dari Lampu gas dan Lacuba 99% dan 97% terjadi
disebabkan oleh perubahan kedalaman perairan. Perbedaan nilai koefisien
pemudaran pada lampu gas dan Lacuba mungkin disebabkan oleh sifat optik
perairan yang dipengaruhi oleh posisi lampu dan daya lampu. Kontur dan bentuk
distribusi cahaya lampu celub dalam penelitian ini ditunjukkan dengan garis iso-
lux adalah seperti oval. Perbedaan distribusi intensitas cahaya pada lampu celub
bawah air dengan lampu gas disebabkan besarnya kekuatan lampu, tidak
dipengaruhi oleh adanya pemantulan cahaya refraction, penyerapan ( absorption)
penyebaran (scattering), extinction oleh permukaan laut.
KESIMPULAN
Distribusi intensitas cahaya bawah air di tengah sumber cahaya pada
rumpon di Perairan Hitu dengan menggunakan lampu gas adalah 120 lux di
permukaan perairan sampai 0,1 lux pada kedalaman 12 meter dan pada Lampu
Celub bawah air distribusi iluminasi cahaya adalah 30,1 lux dan 40,8 lux
dipermukaan perairan dan 1 meter sampai 0,1 lux pada kedalaman 18 meter,
sedangkan pada pusat lampu celub yang di set pada kedalaman 2 meter nilai
iluminasi cahayanya 70 lux. Pada Pengamatan sebelum dan sesudah tengah
malam dengan Lampu gas konsentrasi ikan berada di zona iluminasi cahaya 0,1
lux pada kedalaman 11 - 20 meter. Pada pengamatan lampu Bawah air sebelum
tengah malam konsentrasi ikan tertinggi berada pada kedalaman 21-30 meter atau
berada pada zona daerah bayangan cahaya. Perbedaan jumlah hasil tangkapan
pada rumpon dengan menggunakan lampu celub bawah air lebih besar daripada
lampu gas.
BIBLIOGRAFI
Arimoto, T. (1999). Light fishing. Paper in International Fisheries Training Centre
(Unpublished), JICA, Tokyo. P, 15.
Baskoro, M. S., & Arimoto, T. (2001). Capture Process of Liftnet Monitored by Echo
Sounder and Sonar. Fishing Technologi Manual Series 1 Light Fishing in Japan ad
Indonesia. TUF JSPS International Vol. 11. Dept. Of Fisheries Resources
Utilization, IPB.
Harefa, Darno. (2013). VISIBILITY OF MONOFILAMENT AND MULTIFILAMENT AS
FISHING GEAR MATERIALS IN WATERS.
Knudsen, F. R., Fosseidengen, J. E., Oppedal, F., Karlsen, Ø., & Ona, E. (2004).
Hydroacoustic monitoring of fish in sea cages: target strength (TS) measurements
on Atlantic salmon (Salmo salar). Fisheries Research, 69(2), 205209.
LAKU, DISTRIBUSI CAHAYA LAMPU D. A. N. TINGKAH. (n.d.). PENANGKAPAN
BAGAN PERAHU DI PERAIRAN MALUKU TENGAH Haruna.
Monintja, Daniel R., Baskoro, Mulyono S., Purbayanto, Ari, & Arimoto, Takafumi.
(n.d.). Analisis tingkah laku ikan untuk mewujudkan teknologi ramah lingkungan
dalam proses penangkapan pada bagan rambo.
Nadir, Muhammad. (2000). Teknologi Light Fishing di Perairan Barru Selat Makassar:
Sudaryo
1,
Mesenu
2
JOSR: Journal of Social Research, 1(11), 298-309
Analisis Distribusi Ikan Pada Cahaya Lampu Gas Dan Lampu Celup Bawah
Air Di Rumpon Perairan Hitu 308
Deskripsi, Sebaran Cahaya dan Hasil Tangkapan.
Natalia, Lia. (2010). Analisis faktor persepsi yang mempengaruhi minat konsumen untuk
berbelanja pada giant hypermarket bekasi. Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen
Universitas Gunadarma. Jakarta.
Nicol, J. A. C. (1963). Some aspects of photoreception and vision in fishes. Advances in
Marine Biology, 1, 171208.
Nikonorov, Ivan Vasilʹevich, & Nikonorov, Ivan Vasil’evich. (1975). Interaction of
fishing gear with fish aggregations= Vzaimodeistvie orudii lova so skopleniyami
ryb.
Parrish, Julia K. (1999). Using behavior and ecology to exploit schooling fishes.
Environmental Biology of Fishes, 55(1), 157181.
Pesisir, Wilayah. (n.d.). Ayodhyoa, AU 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi
Sri. 97 hlm: Bogor. Ayodhyoa, AU 2001. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dwi
Sri.: Bogor. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan [BBPPI]. 2007.
Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Jakarta. Jurnal Ilmu Pengetahuan
Dan Teknologi (PENA), 26(2), 119133.
Putra, Rizky Ramadhan. (2018). Upaya World Wildlife Fund for Nature Indonesia dalam
Mengurangi Permasalahan Overfishing Tuna di Indonesia Melalui Skema Seafood
Savers pada Tahun 2015-2017. Skripsi. Program Studi Ilmu Hubungan
Internasional. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Katolik
Parahyangan. 100p.
Subani, Wahyo, & Barus, H. R. (1989). Alat penangkapan ikan dan udang laut di
Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut, 50, 248.
Sulaiman, Muhammad, Jaya, Indra, & Baskoro, Mulyono S. (2006). Studi tingkah laku
ikan pada proses penangkapan dengan alat bantu cahaya: suatu pendekatan akustik.
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences, 11(1), 3136.
Tupamahu, A., Baskoro, M. S., Jaya, I., & Monintja, D. R. (2001). Komparas adaptasi
retina ikan tembang (Sardinella fimbriata) dan ikan selar (Selar crumenopthalmus)
yang tertarik dengan cahaya lampu. Bulletin PSP, 10(1), 6574.
Utami, Eva. (2009). Analisis respons tingkah laku ikan pepetek (Secutor insidiator)
terhadap intensitas cahaya berwarna. Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan, 3(2).
Yeh, Naichia, Yeh, Pulin, Shih, Naichien, Byadgi, Omkar, & Cheng, Ta Chih. (2014).
Applications of light-emitting diodes in researches conducted in aquatic
environment. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 32, 611618.
© 2021 by the authors. Submitted for possible open access publication under
the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA)
license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).