Fitri Rahmanisa1, Ainun Mardhiyah2
1, 2Ilmu
Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara
e-mail: fitrirahmanisa49@gmail.com,
2mardhiyahainun26@yahoo.co.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
|
Pandemi COVID-19 tidak mempengaruhi produk
fashion untuk terus berkembang dan menghasilkan
produk-produk yang baru yang menarik perhatian konsumen. Namun pada saat
pandemi seperti sekarang ini beberapa toko/mall
tutup dan beralih ke marketplace seperti shopee untuk membantu penjualan produknya. Pembelian
melalui marketplace Shopee
membutuhkan persepsi kualitas yang baik dari konsumen, hal ini bergantung
pada seller dalam menggambarkan produknya.
Diketahui pada QII/2020 jumlah transaksi pada marketplace
Shopee naik 130% dibandingkan QII/2019 sebelum
pandemi. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan
pendekatan asosiatif. Pengambilan sampel yang diambil sebanyak 96 responden
dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah metode
analisis kuantitatif yang meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji
asumsi klasik, analisi regresi linier berganda, pengujian
hipotesis melalui uji T, uji F, dan uji koefisien determinasi (uji R2).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel gaya hidup berpengaruh secara
positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai thitung sebesar 5,323 > ttabel
1,661 dan nilai sig. sebesar 0,000 < 0,05.
Variabel persepsi kualitas berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap
keputusan pembelian dengan nilai thitung sebesar
6,887 > ttabel 1,661 dan nilai sig. sebesar 0,000 < 0,05. Berdasarkan pengujian
koefisien determinasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang cukup erat
antara gaya hidup dan persepsi kualitas terhadap keputusan pembelian dengan
nilai R sebesar 0,873. Melalui nilai dari R square
diketahui bahwa variabel gaya hidup dan persepsi kualitas berkontribusi
sebesar 76,2% terhadap variabel
keputusan pembelian Kata Kunci :
Gaya Hidup, Persepsi Kualitas, Keputusan Pembelian. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
The COVID-19 pandemic does not
affect fashion products to continue to develop and produce new products that
attract consumers' attention. However, during a pandemic like now, some
shops/malls close and turn to marketplaces such as shopee
to help sell their products. Purchasing through the Shopee marketplace
requires a good perception of quality from consumers, this depends on the
seller in describing the product. It is known that in QII/2020 the number of
transactions on the Shopee marketplace increased by 130% compared to QII/2019
before the pandemic.The
research method used is quantitative research with an associative approach.
sampling as many as 96 respondents using purposive sampling technique. The
data analysis method used is quantitative analysis method which includes
validity test, reliability test, classical assumption test, multiple linear
regression analysis, hypothesis testing through t-test, F test, and
coefficient of determination test (R2 test). The results showed that the
lifestyle variabel had a positive and significant
effect on purchasing decisions with a Tcount of
5.323 > Ttable of 1.661 and a sig. of 0.000
<0.05, the perceived quality variabel has a
positive and significant effect on purchasing decisions with a T value of
6,887 > T table 1,661 and sig. of 0.000 < 0.05. based on the
coefficient of determination test shows that there is a fairly
close relationship between lifestyle and perceived quality of purchasing
decisions with an R value of 0.873. Through the value of R square, it is
known that the lifestyle variabel and perceived
quality contribute 76.2% to the purchasing decision variable. Keywords: Lifestyle, Perceived Quality, Purchase Decision |
|
*Correspondent Author : Fitri
Rahmanisa
Email :
fitrirahmanisa49@gmail.com
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Marketplace
adalah suatu website yang menghubungkan penjual dan
pembeli melalui internet. Marketplace termasuk kedalam
salah satu bidang bisnis Start-Up yang paling sukses diantara bisnis Start-Up di
berbagai bidang. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa Marketplace besar yang
digunakan masyarakat diantaranya Zalora,
Lazada, OLX, Bukalapak,
Tokopedia, dan Shopee. Berdasarkan data Tempo Co dari
stastik.tempo.co, marketplace yang paling banyak
digunakan di Indonesia pada Kuartal I/2020 ialah Shopee,
dengan rerata 71.53 juta kali klik per bulan pada kuartal I/2020.
Shopee adalah
sebuah perusahaan start-up e-commerce
yang bergerak dibidang situs elektronik komersial. Shopee
merupakan tempat berbelanja online yang berfokus pada
platform mobile berbentuk aplikasi yang dapat diunduh
dari pasar aplikasi (playstore/Appstore).
Karena berbentuk aplikasi, Shopee sangat mudah dalam
penggunaannya untuk mencari, berbelanja, dan berjualan langsung melalui telepon
genggam. Dalam artikel, “Sengitnya Perebutan Takhta Penguasa E-commerce di Tanah Air” oleh Iip M. Aditiya untuk
goodnewsfromindonesia.id, penyebab Shopee dapat
menjadi peringkat pertama, karena Shopee menjadi
aplikasi yang memberikan promo gratis ongkir seluruh
Indonesia serta adanya penawaran cashback di setiap
transaksi. Tak hanya itu Shopee juga kini menyediakan
fitur ShopeePayLater yang memberikan pinjaman seperi kartu kredit dengan memberikan jumlah limit mulai
dari Rp. 1-15 Juta. Layanan aplikasi yang dinilai ramah terhadap konsumennya
membuat aplikasi Shopee menjadi penguasa e-commerce di Indonesia.
Dalam
artikel, “Transaksi Shopee Naik 130%, Raja E-Commerce Indonesia?” oleh Iim Fathimah Timoria untuk
Bisnis.com, Handika Jahja Direktur Shopee Indoneisa menyatakan
selama kuartal II/2020, jumlah transaksi di Shopee
mencapai 260 juta transaksi dengan rerata harian yaitu 2,8 juta transaksi.
Jumlah transaksi naik hingga 130% dibandingkan jumlah transaksi pada kuartal II/2019.
Menurutnya adanya indikasi positif e-commerce bagi
ekonomi digital Indonesia karena dinilai dapat menjadi penyokong pemenuhan
kebutuhan masyarakat dan penggerak ekonomi selama pandemi. Artikel, “Riset:
Penjualan E-Commerce Selama Pandemi Didominasi Produk
Fashion” oleh Tira Santia untuk Liputan6, memaparkan hasil riset yang dilakukan
oleh MarkPlus mengenai e-commerce
di Indonesia di masa pandemi COVID-19. Riset tersebut menyatakan bahwa produk
terlaris yang paling banyak dibeli oleh konsumen selama kuartal III/2020 adalah
produk fashion/pakaian.
Produk fashion pada marketplace Shopee sangat laris dibeli masyarakat meskipun dalam masa
pandemi. Hal ini dikarenakan produk fashion (pakaian)
merupakan kebutuhan primer bagi setiap makhluk hidup. Kebutuhan ini selaras
dengan fungsinya yaitu untuk pelindung/penutup tubuh manusia namun kini fashion mengalami perkembangan yang signifikan. Saat ini
fungsi pakaian yang sebagai penutup tubuh sudah naik level menjadi sarana bagi
manusia untuk mengekspresikan dirinya serta menjadi penilaian pertama orang
lain (first impression).
Hingga kini produsen fashion hingga desainer
berlomba-lomba menciptakan kreasi dan inovasi pada produk fashion
yang mereka hasilkan yang tentunya mengikuti tren yang terus berkembang.
Gaya hidup
adalah suatu cara hidup seseorang yang ditampilkan melalui aktivitas, minat,
dan pandangannya akan suatu hal. Gaya hidup menampilkan keseluruhan diri
seseorang yang terus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Gaya hidup
merupakan kebutuhan sekunder yang terus mengalami perubahan seiring
perkembangan zaman seperti produk fashion. Masyarakat
yang terus mengikuti perkembangan zaman cenderung memenuhi gaya hidupnya dengan
produk fashion yang terbaru ditambah lagi kini
promosi sudah berkembang ke sosial media yang sangat dekat dengan kehidupan
saat ini. Kebutuhan akan gaya hidup membuat seseorang mengambil keputusan
pembelian suatu produk. Kebutuhan gaya hidup dalam berbusana membuat seseorang
harus terus berkembang mengikuti tren fashion agar
dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengekspresikan diri mereka sesuai
dengan nilai yang ada dalam diri manusia.
Saat
berselancar di platform Marketplace mereka hanya dapat mengandalkan persepsi
mereka akan kualitas produk online tersebut. Persepsi
menciptakan motivasi untuk mengambil keputusan pembelian ketika dipengaruhi
oleh pandangan konsumen pada saat membaca deskripsi maupun ulasan mengenai
produk online di platform Marketplace. Untuk
membangun minat beli konsumen terhadap produk yang dijual, seller
akan menggambarkan produknya sebaik mungkin yang kemudian akan menciptakan
persepsi konsumen yang mengharapkan kualitas dan keunggulan suatu produk yang
bagus sesuai dengan deskripsi produk dan ulasan dari orang-orang yang telah
membeli terlebih dahulu.
Berdasarkan
data riset Snapcart selama bulan Ramadhan dan Hari
Raya Idul Fitri 2020 yang berlangsung di tengah Pandemi COVID-19, ditemukan
bahwa dari 1.000 responden survei dari seluruh Indonesia bahwa Shopee menjadi situs belanja online
yang paling diingat (top of mind).
Riset berdasarkan kelompok umur dan gender, berbelanja di Shopee
paling disukai oleh kelompok umur 19-24 tahun sebesar 72%, kurang dari 19 tahun
sebesar 69%, 25-30 tahun sebesar 69%, 31-35 tahun sebesar 63%, dan 35 tahun keatas sebesar 53%.
Mahasiswa
biasanya sudah memiliki kebutuhan akan gaya hidup khususnya produk fashion, karena terlihat menarik dan modis akan membangun
rasa percaya diri serta semangat dalam diri mahasiswa, serta mahasiswa akan
lebih teliti dalam menemukan produk yang menurut persepsi kualitas mereka
produk tersebut tepat seperti yang mereka butuhkan.
Sehingga ketika mahasiswa melihat produk fashion yang
sesuai dengan gaya hidup dan persepsi kualitasnya, mereka akhirnya tertarik
untuk melakukan pembelian pada aplikasi belanja online.
Maka
dari pemaparan penjelasan diatas, penulis tertarik
untuk mengetahui apakah gaya hidup dan persepsi kualitas memiliki pengaruh
terhadap keputusan pembelian produk fashion pada
Marketplace Shopee oleh mahasiswa. Pada masa
digitalisasi ini para konsumen lebih memilih membeli produk fashion
dengan pembelian online daripada pembelian langsung,
selain memudahkan pembelian online memberikan banyak
pilihan dan penawaran. Terdapatnya banyak pilihan koleksi fashion
pada Marketplace Shopee inilah yang menarik minat
mahasiswa untuk melakukan pembelian karena berbagai pilihan produk tersebut
akan memenuhi kebutuhan gaya hidup mahasiswa dalam beraktivitas sehari-hari.
Namun, konsumen hanya mengetahui kualitas barang tersebut berdasarkan deskripsi
dan gambar produk yang telah disediakan penjual. Konsumen dapat berasumsi bahwa
barang itu bagus atau tidak melalui ulasan pembeli terdahulu berdasarkan
persepsi mereka serta rating yang diberikan oleh
konsumen. Berdasarkan analisis dan uraian yang telah dijelaskan penulis, maka
penulis membuat penelitian dengan judul “Pengaruh Gaya Hidup dan Persepsi
Kualitas Terhadap Keputusan Pembelian Pada Marketplace Shopee
(Studi Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyah
Mahmudiyah Tanjung Pura)”.
Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui pengaruh gaya hidup terhadap
keputusan pembelian produk fashion pada Marketplace Shopee.
2.
Untuk mengetahui pengaruh persepsi kualitas
terhadap keputusan pembelian produk fashion pada
Marketplace Shopee.
3.
Untuk mengetahui pengaruh gaya hidup dan
persepsi kualitas terhadap keputusan pembelian produk fashion
pada Marketplace Shopee.
Kerangka Teori
Gaya Hidup
Kotler (2009) dalam penelitian Saputri (Saputri,
2018), gaya hidup (lifestyle) adalah pola hidup
seseorang di dunia yang terlihat dalam kegiatan, minat, dan pendapat. Menurut Firmansyah (2018:249), Gaya hidup dimaknai sebagai
sebuah pola hidup seseorang yang terlihat dalam aktivitas, minat dan opininya
yang terbentuk melalui sebuah kelas sosial, dan pekerjaan. Gaya hidup menurut Priansa (2020:185), gaya
hidup konsumen merupakan gamabaran perilaku konsumen
yang terkait dengan bagaimana ia hidup, menggunakan uangnya, dan memanfaatkan
waktu yang dimilikinya.
Priansa (2020:189), Psiko grafik merupakan suatu ilmu mengenai pengukuran dan pengelompokkan gaya hidup konsumen. Psiko
grafik merupakan suatu instrument untuk mengukur gaya
hidup, yang memberikan pengukuran kuantitatif dan biasa digunakan untuk
menganalisis data yang sangat besar. Psiko grafis
sering diartikan sebagai pengukuran activity, interest, dan opinion (AIO),
yaitu pengukuran kegiatan, minat dan pendapat konsumen.
1.
Kegiatan (activities),
berkaitan dengan penyataan apa yang dikerjakan
konsumen, produk apa yang dibeli atau dipakai, kegiatan apa yang mereka
kerjakan dan lain sebagainya.
2.
Minat (interest),
minat berhubungan dengan kesukaan, kegemaran dan prioritas dalam hidup
konsumen. Minat juga berkaitan dengan obyek, peristiwa, atau topik tertentu
yang menjadi perhatian khusus konsumen.
3.
Pendapat (opinion),
pandangan atau perasaan konsumen dalam menanggapi isu-isu tertentu.
Persepsi Kualitas
Menurut David A.Aaker (2017) dalam
penelitian Pakpak (Pakpak, 2021) Persepsi kualitas
adalah persepsi atas keseluruhan keunggulan atau kualitas sebuah produk atau
jasa layanan yang sama dengan tujuan yang diharapkan oleh konsumen. Mullins,dkk (2005) dalam
Indrasari (2019:34) persepsi kualitas adalah hasil dari pengukuran yang
dilaksanakan secara tidak langsung karena adanya kemungkinan bahwa konsumen
tidak paham atau kurangnya informasi terhadap produk.
Adapun
indikator persepsi kualitas menurut Jaafar
et.al (2012) dalam (Jaafar, 2012) terbagi menjadi
tiga, yakni:
1.
Kesamaan antara kualitas dan manfaat yang
didapatkan yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kem ampuan produk dalam melakukan fungsi/manfaatnya.
2.
Informasi mengenai produk yaitu kemampuan atau
fungsi dari produk yang sama dengan informasi yang didapatkan mengenai produk.
3.
Kualitas dalam bersaing yaitu hal-hal yang
berhubungan dengan keunggulan produk yang kemudian diadu dengan produk atau
merek lainnya.
Keputusan Pembelian
Menurut
Peter dan Olson dalam buku Indrasari
(2019:69), keputusan pembelian adalah proses integresi
yang digunakan untuk mengkombinasikan pengetahuan
untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih satu diantaranya. Ebert dan Griffin (2015:373) keputusan pembelian didasarkan pada
motif rasional, motif emosional, atau keduanya. Motif rasional mencakup
evaluasi logis atas sejumlah atribut produk, biaya, kualitas, dan kegunaannya.
Motif emosional mencakup faktor-faktor nonobjektif
dan juga kemampuan sosialisasi, meniru orang lain, dan estetika.
Menurut Kotler dan Amstrong
(2008) dalam penelitian Devi (Devi, 2019),
adapun indikator variabel keputusan pembelian sebagai berikut:
a.
Pengenalan Kebutuhan, calon pembeli mengenali
masalah atau kebutuhannya maka itu adalah awal dari proses pembelian dimulai.
b.
Pencarian Informasi, semakin besar faktor
pendorong kebutuhan semakin banyak pula jumlah informasi yang dibutuhkan,
banyaknya informasi yang diketahui, kemudahan dalam mendapatkan informasi
tambahan, penilaian terhadap informasi dan kepuasan yang diperoleh dalam
mencari informasi. Konsumen mempelajari mengenai merek dan fitur dari produk
melalui pengumpulan informasi.
c.
Penilaian Alternatif, penilaian calon pembeli
berdasarkan informasi yang telah diperoleh, menyeleksi berbagai merek
alternatif yang terdapat pada sekumpulan pilihan yang ada.
d.
Keputusan Pembelian, dalam melakukan keputusan
pembelian, pembeli dapat mengambil lima keputusan, yakni penyalur, merek,
kuantitas, waktu, dan metode pembayaran. Terdapat dua faktor dalam keputusan
pembelian, faktor internal yaitu opini pembeli tentang merek yang dipilih
sedangkan faktor eksternal yaitu sikap orang lain dan kondisi yang tak diduga.
e.
Perilaku Pasca Pembelian, komunikasi dalam
pemasaran sebaiknya mampu menyalurkan keyakinan dan evaluasi yang menguatkan
pilihan pembeli agar nyaman ketika menggunakan merek tersebut.
METODE PENELITIAN
Metode analisis
data yang digunakan adalah metode analisis
kuantitatif yang meliputi uji validitas,
uji reliabilitas, uji asumsi klasik,
analisi regresi linier berganda, pengujian hipotesis melalui uji T, uji F, dan uji
koefisien determinasi (uji R2).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Penelitian
1. Uji Validitas
Berdasarkan hasil uji validitas
dapat dilihat bahwa dari 6 item kuesioner untuk indikator Variabel Gaya Hidup
(X1), 6 item kuesioner untuk indikator Variabel Persepsi Kualitas (X2), dan 10
item kuesioner untuk indikator Variabel Keputusan Pembelian (Y) yang diuji
validitasnya, semua item pernyataan kuesioner dinyatakan valid karena rhitung lebih besar dari rtabel
yaitu 0,207. Berkaitan dengan teori Gaya Hidup (X1) dan Persepsi Kualitas (X2),
dapat ditarik kesimpulan bahwa semua item pernyataan valid dalam dalam mempengaruhi konsumen sebelum melakukan Keputusan
Pembelian.
2. Uji Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji
reliabilitas bahwa pengujian reliabilitas terhadap 6 item pernyataan kuesioner
variabel Gaya Hidup (X1), 6 item
pernyataan kuesioner variabel Persepsi Kualitas (X2), dan 10 item pernyataan
kuesioner variabel Keputusan Pembelian (Y) didapatkan hasil Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,6 sehingga
dapat disimpulkan bahwa semua pernyataan kuesioner variabel Gaya Hidup (X1),
Persepsi Kualitas (X2), dan Keputusan Pembelian (Y) dalam penelitian ini reliable.
3. Uji Asumsi Klasik
Uji
Normalitas
Berdasarkan
gambar di atas bahwa data dapat dinyatakan normal, hal ini dapat dilihat dari
bentuk histogram dengan kurva berbentuk lonceng.
Uji Multikolinearitas
|
Coefficientsa |
|
||||||||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
Collinearity Statistics |
|
|||||||
|
B |
Std. Error |
Beta |
Tolerance |
VIF |
|||||||||
|
1 |
(Constant) |
6,622 |
1,868 |
|
3,544 |
,001 |
|
|
|||||
|
Gaya Hidup |
,554 |
,104 |
,406 |
5,323 |
,000 |
,439 |
2,277 |
||||||
|
Persepsi Kualitas |
,834 |
,121 |
,526 |
6,887 |
,000 |
,439 |
2,277 |
||||||
|
a. Dependent Variabel:
Keputusan Pembelian |
|
||||||||||||
Hasil
uji multrikolinearitas menunjukkan nilai VIF < 5 dibawah 10,00 sebesar 2,277 dan nilai tolerance
> 0,10, yaitu sebesar 0,439. Hal ini berarti diantara
variabel independen dalam penelitian ini terjadi hubungan dan memiliki
keterkaitan satu sama lainnya, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa model
regresi menunjukkan tidak terjadi gejala multikolinearitas.
Uji Heteroskedastisitas
Hasil pada gambar di atas
menunjukkan bahwa titik-titik yang ada menyebar secara acak serta tersebar baik
di atas maupun dibawah nol pada sumbu Y. Berdasarkan
hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas
pada model regresi dalam penelitian ini.
4.Uji Parsial (Uji T)
Coefficientsa
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
|
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
|
||||
|
1 |
(Constant) |
6,622 |
1,868 |
|
3,544 |
,001 |
|
|
Gaya Hidup |
,554 |
,104 |
,406 |
5,323 |
,000 |
|
|
|
Persepsi Kualitas |
,834 |
,121 |
,526 |
6,887 |
,000 |
|
|
|
a.
Dependent Variabel: Keputusan Pembelian |
|||||||
Be
rdasarkan uji parsial (Uji T) pengaruh dari setiap
variabel secara parsial adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan
pengujian software statistic parameter individual, diperoleh hasil
pengujian dan berkaitan dengan teori variabel gaya hidup berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian, hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan
variabel gaya hidup yaitu sig. 0,000 < 0,05 dan
nilai thitung sebesar 5,323 > ttabel
1,661 maka Ha1 diterima. Maka disimpulkan bahwa variabel gaya hidup (X1)
berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y).
2. Berdasarkan
pengujian software statistic parameter individual, diperoleh hasil pengujian
dan berkaitan dengan teori variabel persepsi kualitas berpengaruh signifikan
terhadap keputusan pembelian, hal ini dapat dilihat dari nilai signifikan
variabel persepsi kualitas yaitu sig. 0,000 < 0,05
dan nilai thitung sebesar 6,887 > ttabel
1,661 maka Ha2 diterima. Maka disimpulkan bahwa variabel persepsi kualitas (X2)
berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y).
5.Uji
Simultan (Uji F)
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum
of Squares |
Df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
2587,295 |
2 |
1293,648 |
148,776 |
.000b |
|
Residual |
808,663 |
93 |
8,695 |
|
|
|
|
Total |
3395,958 |
95 |
|
|
|
|
|
a.
Dependent Variabel: Keputusan Pembelian |
||||||
|
b.
Predictors: (Constant),
Persepsi Kualitas, Gaya Hidup |
||||||
Berdasarkan hasil uji simultan (uji F) dapat dilihat pengaruh dari setiap variabel
secara simultan dapat dilihat bahwa nilai Fhitung
148,776 > Ftabel
3,09 atau sig. sebesar 0,000 < 0,05. Dikaitkan
dengan teori yang ada, hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yang
terdiri dari gaya hidup (X1) dan persepsi kualitas (X2), secara simultan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel dependen yaitu keputusan pembeliaan (Y).
6.Uji
Koefisien Determinasi (R2)
|
Model Summaryb |
||||
|
Model |
R |
R
Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.873a |
,762 |
,757 |
2,949 |
|
a.
Predictors: (Constant),
Persepsi Kualitas, Gaya Hidup |
||||
|
b.
Dependent Variabel: Keputusan Pembelian |
||||
Berdasarkan
hasil Uji Koefisien Determinasi dapat dilihat bahwa nilai R yaitu sebesar 0,873
(87,3%). Dimana nilai koefisien korelasi ini
menunjukkan bahwa hubungan antara gaya hidup dan persepsi kualitas terhadap
keputusan pembelian adalah cukup erat. Nilai R square
atau nilai koefisien determinasi diatas menunjukkan
bahwa variabel keputusan pembelian 76,2% dapat dijelaskan oleh variabel gaya
hidup dan persepsi kualitas, sedangakan sisanya
sebesar 23,8% dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak terdapat di dalam
penelitian ini seperti promosi, harga, dan variabel-variabel lainnya
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil analisis dan pembahasan hasil analisis data penelitian yang telah
dijelaskan pada Bab IV, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1.
Variabel Work Motivation memiliki pengaruh positif dan signifikan
terhadap Employee Performance pada PT. Perkebunan
Nusantara III unit PKS Aek Torop, artinya semakin
baik Work Motivation dalam
suatu perusahaan maka akan semakin baik pula Employee
Performance dalam perusahaan tersebut.
2.
Variabel Work Environment memiliki pengaruh positif dan signifikan
terhadap Employee Performance pada PT Perkebunan
Nusantara III unit PKS Aek Torop, artinya semakin
baik Work Environment dalam
suatu perusahaan maka akan semakin baik pula Employee
Performance dalam perusahaan tersebut.
3.
Variabel Work Motivation dan Work Environment memiliki pengaruh positif dan signifikan
secara simultan terhadap Employee Performance..
A, A, Anwar Prabu Mangkunegara.
2013. Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Google Scholar
Heizer, Jay Render Barry. 2015. Manajemen
Operasi: Manajemen Keberlangsungan dan Rantai Pasokan, edisi 2, Salemba
Empat. Jakarta. Google Scholar
Hasibuan, Malayu S., P., 2004. Organisasi
dan Motivasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Google Scholar
Khalil, dalam Lijan Poltak, Sarton Sinambela.
2019. Manajemen Kinerja, edisi 1 hal.
596. Depok: Rajawali Press. Google
Scholar
Kisworo, Bagus.
2012. Hubungan Antara Motivasi,Disiplin
dan Lingkungan Kerja dengan Kinerja Pendidik dan Tenaga Kependidikan Sanggar
Kegiatan Belajar Eks Karesidenan Semarang Jawa Tengah. Tesis. UNY. Google Scholar
Nawawi, Hadari.
2012. Metode Penelitian Bidang Sosial.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Google Scholar
Sedarmayanti. 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung :
Refika Aditama. Google Scholar
Sinambela, Lijan Poltak. 2019. Manajemen
Kinerja, edisi 1 hal. 582. Depok: Rajawali Press.
Google Scholar
Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung : Alfabeta. Google Scholar
|
|
© 2021 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |