PENGARUH ADVERTISING
EXPOSURE DAN PACKAGING DESIGN TERHADAP MINAT BELI PRODUK ROKOK SAMPOERNA A
MILD
Artha Aprilia Tambunan1,
Nicholas Marpaung2
1, 2Ilmu Administrasi
Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara
e-mail: 1arthatambunan19@gmail.com,
2nicholas@gmail.com
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01-09-2022 10-09-2022 20-09-2022 |
Advertising exposure
dan packaging design
menjadi salah satu sarana komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh PT.
Sampoerna A Mild dalam memperkenalkan produknya.
Peraturan pemerintah yang membatasi penayangan iklan dan mewajibkan adanya
larangan merokok serta gambar dampak negatif pada packaging
design menuntut PT. HM Sampoerna A Mild menciptakan iklan dengan berbagai advertising exposure yang
semakin menarik dan berkualitas. Selain iklan, inovasi terhadap packaging design tanpa
menghilangkan icon A yang menjadi ciri khas dari
produk Sampoerna A Mild untuk mempengaruhi minat
beli konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh advertising exposure dan packaging design terhadap minat
beli produk rokok Sampoerna A Mild pada mahasiswa
Perguruan Tinggi Negeri di Kota Medan. Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kuantitatif. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dari
100 orang responden sebagai sampel dengan menggunakan purposive
sampling sebagai teknik pengambilan sampelnya. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa advertising exposure
dan packaging design
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli. Berdasarkan hasil uji
determinasi diperoleh hasil nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,688
(68,8%), dimana nilai ini menunjukkan hubungan
antara advertising exposure
dan packaging design
terhadap minat beli cukup kuat. Nilai R Square atau
nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel minat beli dapat
dipengaruhi oleh advertising exposure
dan packaging design
sebesar 46,2% sedangkan sisanya sebesar 53,8% dipengaruhi oleh variabel lain
yang tidak terdapat dalam penelitian ini. Kata Kunci :
Advertising Exposure, Packaging Design, Minat Beli. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Advertising exposure and packaging
design are one of the concept of marketing
communication PT. Sampoerna A Mild in introducing
their products. Government regulations that limit the display of
advertisements and require a smoking ban as well as negative impact images on
packaging design sue PT. HM Sampoerna A Mild
creates advertisements with various advertising exposures that are
increasingly attractive and of high quality. In addition to advertising,
innovation in packaging design without removing the "A" icon which
is the hallmark of Sampoerna A
Mild products to influence consumer purchase intention. This study aims to
determine the effect of advertising exposure and packaging design on purchase
intention of Sampoerna A
Mild cigarette products at public universities students in Medan city. The
type of research used in this research is quantitative. The data in this
study were collected from 100 respondents as a sample using purposive
sampling as the sampling technique. The results showed that advertising exposure
and packaging design had a positive and significant effect on purchase
intention. Based on the results of the determination test, the correlation
coefficient value (R) is 0,688 (68,8%), where this value shows the
relationship between advertising exposure and packaging design to buying
interest is strong enough. The value of R Square or the value of the
coefficient of determination shows that the buying interest variable can be
influenced by advertising exposure and packaging design by 46,2% while the
remaining 53,8% is influenced by other variables not included in this study. Keywords: Advertising Exposure, Packaging Design, and Purchase Intention |
|
*Correspondent Author : arthatambunan19@gmail.com
Email : arthatambunan19@gmail.com
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Industri
rokok terus mengalami perkembangan diantara berbagai
industri lainnya. Hal ini terlihat melalui perusahaan rokok multinasional yang
terus berusaha untuk mendominasi perusahaan rokok nasional di berbagai negara
berkembang untuk memperluas pasarnya. Menurut laporan Southest
Asia Tobacco Control Alliance
(Seatca) Indonesia merupakan anak emas bagi industri
tembakau dunia karena memiliki jumlah perokok aktif sebanyak 65 juta jiwa (databoks.co.id). Hal
ini juga didukung oleh laporan World Health Organization (WHO) untuk Indonesia, bahwa konsumsi tembakau
orang dewasa di Indonesia yang tetap tinggi menyebabkan Indonesia memiliki 60,8
juta perokok laki laki dewasa dan 3,7 juta perokok perempuan dewasa.
(www.who.int).
Pada
tahun 2020, penerimaan cukai hasil tembakau mencapai 170,24 triliun, meski pada
tahun 2020 menjadi awal masa pandemi di Indonesia. Sedangkan penerimaan cukai
hasil tembakau tahun 2021 yang tercatat masih hingga bulan September, dimana jumlah tersebut belum menjadi hasil akhir. Selain
itu, berdasarkan laporan kementrian perindustrian,
industri rokok juga menjadi sumber penghidupan bagi 5,98 juta orang yang
bekerja di sektor industri rokok. Meskipun jumlah pekerja rokok yang ada saat
ini telah mengalami penuruan akibat berbagai
tantangan terhadap industri rokok (
kemenperin.go.id).
Kenaikan
cukai yang dikenakan terhadap rokok yang beredar di masyarakat menekan
perusahaan yang bergerak dalam industri rokok mau tidak mau harus menaikkan
harga dari produknya. Dilansir dari bisnis.com, cukai rokok telah naik sebesar
12.5% di Indonesia yang mengakibatkan perusahaan yang bergerak dalam industri
rokok kembali menaikkan harga rokoknya di tahun 2021.
Masalah
selanjutnya adalah larangan iklan rokok di media elektronik Televisi di jam
tertentu, berlaku di jam tayang TV di Indonesia (iklan rokok hanya boleh
ditayangkan di jam 21.30 WIB 05.00) sesuai Permenkes
No 28 Tahun 2013 yang dapat menyulitkan produsen
rokok untuk mengekspresikan iklannya agar masyarakat dapat mengenal produknya.
Kendatipun iklan rokok boleh ditayangkan namun tidak dapat menayangkan langsung
bentuk rokok yang diiklankan. Produsen rokok harus melakukan inovasi dengan kreatifitas tinggi untuk mengemas iklan rokok tanpa
menunjukkan bentuk asli rokok tersebut yang akan diedarkan di pasar.
Tantangan
akan persaingan pasar dalam industri rokok juga sangat tinggi, dimana perkembangan produk-produk baru penantang produk
yang sudah sangat terkenal di pasar bisa saja menyalip tren penjualan rokok
terkenal yang sudah beredar. Peneliti memperhatikan bahwa bagaimana meyakinkan
pasar tentang produknya sangat penting ditengah
gempuran pesaing-pesaing rokok tersebut. Dengan keterbatasan ruang iklan yang
bisa diedarkan baik media elektronik maupun media non elektronik, perusahaan
harus dapat menyampaikan maksud iklan yang diusung melalui kata-kata atau diksi
yang tepat guna menarik perhatian konsumen yang diharapkan mampu mempengaruhi
minat belinya.
Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi minat beli konsumen terhadap rokok, beberapa diantaranya adalah advertising exposure dan packaging design. Advertising exposure menjadi salah satu hal yang mempengaruhi sikap dan
perasaan tertarik pada suatu barang dan menggerakkan khalayak untuk
menggunakan/ mengonsumsi produk tertentu. Pengertian dasar dari exposure atau terpaan ialah interaksi yang terjadi antara
konsumen dengan pesan dari pemasar. Exposure atau
terpaan merupakan tahap awal yang penting menuju tahap-tahap selanjutnya dari
proses informasi. Exposure atau terpaan terjadi
apabila stimulus datang dengan jarak yang dapat diterima sensor kita. Berdasarkan
teori advertising exposure
dikatakan bahwa apabila konsumen terkena terpaan iklan makaakan
tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakan konsumen untuk membeli produk.
Selain
gigih menghasilkan produk tembakau berupa rokok yang berkualitas, PT. HM
Sampoerna selalu menciptakan inovasi iklan terbaik. Selain menjadi pendobrak,
iklan-iklan yang disampaikan oleh PT. HM Sampoerna pun memiliki ciri khas
tersendiri, dan berbeda dengan iklan-iklan rokok lainnya.
Tidak
dapat dipungkiri, peredaran rokok sangat banyak di kalangan akademis, termasuk
mahasiswa. Data Riskesdas 2018 menunjukkan jumlah
perokok diatas 15 tahun sebanyak 33,8 %. Dari jumlah
tersebut 62,9 % merupakanperokok laki-laki dan 4,8%
perokok permpuan. Mahasiswa sebagai agent of changes
merupakan pioner dan tonggak dari sebuah perubahan
dan merupakan kaum intelektual yang memegang peran strategis dalam kehidupan
berbangsa yaitu sebagai penerus cita-cita pembangunan. Namun dalam
kenyataannya, peraturan pemerintah melalui pembatasan iklan dan kemasan rokok
belum mampu mengubah pola pikir mahasiswa secara umum untuk berhenti dari
kebiasaan merokok. Hal ini mendorong peneliti ingin mengetahui apakah advertising exposure dan packaging design mempengaruhi
minat beli mahasiswa terhadap produk rokok, khususnya produk rokok Sampoerna A Mild.
Berdasarkan
latar belakang di atas, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai Pengaruh Advertising Exposure dan Packaging Terhadap Minat Beli Produk Rokok Sampoerna A Mild (Studi Pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Kota
Medan)..
Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh advertising exposure
dan packaging terhadap minat beli produk rokok
Sampoerna A Mild pada mahasiswa Perguruan Tinggi
Negeri di Kota Medan.
Kerangka
Teori
Komunikasi
Pemasaran
Melalui perkembangan yang ada
komunikasi muncul sebagai suatu bentuk yang
lebih kompleks. Menurut Panuju (2019:8) komunikasi pemasaran
adalah segala sesuatu yang dilakukan
seluruh organisasi yang dapat mempengaruhi perilaku atau persepsi
pelanggan. Proses komunikasi pemasaran merupakan percakapan antara pihak oganisasi dan pelanggan tentang
apa yang mereka katakan sebagaimana pihak organisasi mendengarkan keluhan pelanggan berdasarkan keluhan itu jugalah pihak organisasi mengirim
pesan kepada pelanggan. Menurut Egan (2019: 19) komunikasi pemasaran
merupakan sarana dimana
pemasok barang, jasa, nilai dan atau ide mewakili dirinya sendiri kepada targetnya dengan tujuan membuat sebuah
dialog yang dapat memoengaruhi target, yang mengarah ke hubungan komersial
atau hubungan lain yang lebih baik. Menurut
Eagle et al (2020: 37) komunikasi pemasaran
adalah industri yang dinamis, yang terus berubah
dan beradaptasi dengan teknologi baru, pola konsumsi
media dan antarmuka
komunikasi antara pemasar
dan target pasar mereka. Pada saat yang sama, proses komunikasi
mendasar dan teori serta model yang mapan sangat dapat diterapkan dalam lingkungan yang dinamis
ini.
Lingkungan Kerja
Menurut Armstrong (Bagus
Kisworo 2012:75) Lingkungan kerja terdiri dari sistem kerja,
desain pekerjaan, kondisi kerja, dan cara-cara dimana
orang diperlakukan di tempat kerja dengan manajer dan rekan kerja mereka.
Lingkungan kerja merupakan suatu tempat yang terdapat sejumlah kelompok dimana didalamnya terdapat
beberapa fasilitas pendukung untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai dengan
visi dan misi perusahaan (Sedarmayanti 2013:23).
Menurut Mangkunegara
(2013:105) lingkungan kerja adalah semua aspek fisik
kerja, psikologis kerja, dan peraturan kerja yang dapat mempengaruhi kepuasan
kerja dan pencapaian produktivitas. Heizer dan Render (2015:457)
menjelaskan lingkungan kerja sebagai lingkungan fisik dimana
para karyawan bekerja dapat mempengaruhi kinerja, keselamatan, dan kualitas
kehidupan pekerjaan mereka.
Berdasarkan
berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
lingkungan kerja adalah suatu kondisi dimana para
karyawan bekerja dalam suatu perusahaan yang dapat mempengaruhi kondisi fisik
dan psikologi karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga
lingkungan kerja dapat dikatakan baik apabila karyawan dapat bekerja dengan
optimal, tenang, dan produktivitasnya tinggi.
Perilaku
Konsumen
Perilaku
konsumen adalah studi individual, kelompok, atau organisasi dalam proses
memilih, mengamankan, menggunakan, menghabiskan suatu produk, pelayanan,
pengalaman atau ide ide untuk kebutuhan kepuasan dan dampak proses proses
ini pada konsumen dan masyarakat (Effendi,
2016: 29). Secara sederhana perilaku konsumen adalah
studi tentang kapan, mengapa, dan bagaimana, dimana
orang orang membeli suatu produk.
Perilaku
konsumen mempelajari berbagai karakter perilaku individu seperti demografik dan variabel variabel perilaku. Hal ini
dilakukan sebagai uji coba untuk mengerti keinginan konsumen juga mencoba
mengukur pengaruh kelompok seperti keluarga terhadap perilaku dalam pembelian
produk.
Minat Beli
Minat beli merupakan sebuah perilaku konsumen
yang menunjukkan seseorang mempunyai keinginan dalam membeli atau memilih suatu
produk, Menurut Kotler & Keller (2013:137) minat
beli adalah perilaku konsumen yang muncul sebagai respon
terhadap objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian.
Minat yang muncul dalam melakukan pembelian menciptakan suatu motivasi yang
terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu kegiatan yang sangat kuat dan
yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya, maka
konsumen akan mengaktualisasi apa yang ada dalam benaknya tersebut (Ferdinand,
2014:189).
Menurut
Martono dan Iriani (2014: 690) minat beli adalah tahapan dimana
konsumen mencari informasi, membandingkan, dan memikirkan tentang kemungkinan
bahwa produk itu mampu memenuhi kebutuhannya. Minat beli konsumen selalu
terselubung dalam tiap diri individu yang mana tak seorang pun bisa tahu apa
yang diingkan dan diharapkan konsumen. Menurut Nulufi & Murwatiningsih
(2015) konsumen yang telah memiliki sikap positif
terhadap suatu produk atau merek, akan menimbulkan minat pembelian terhadap
produk atau merek tersebut
Advertising Exposure
Menurut Shimp dalam Sudibyo (2018: 12) advertising exposure (terpaan)
secara sederhana merupakan interaksi konsumen dengan pesan dari pemasar. Advertising exposure terjadi
ketika sebuah iklan ditempatkan sehingga pembeli prospektif dapat melihat (see), mendengar (hear) atau
membaca (read) iklan tersebut. Mereka dapat melihat
iklan melalui majalah, mendengar iklan radio, menonton iklan televisi, dan
lain-lain. Exposure adalah peluang individu menangkap
pesan iklan dari media tertentu. Oleh karena itu kuantitas dan kualitas exposure sama-sama penting bagi pengiklan (Tjiptono dalam Sudibyo (2018:
13). Exposure ditentukan
dari frekuensi (seberapa sering iklan dilihat dan dibaca), intensitas (seberapa
jauh khalayak mengerti pesan iklan), dan durasi (seberapa lama khalayak
memperhatikan iklan) suatu iklan dilihat atau dibaca. Sesering dan selama apapun seseorang melihat suatu iklan, belum tentu ia
melihat iklan tersebut secara seksama (dari awal sampai akhir), bisa saja hanya
sekilas atau sebagian (Sudibyo, 2018: 13).
Packaging Design
Packaging dalam
Kamus Besar Oxford adalah materials used to wrap
or protect goods that are sold in shops yang berarti bahan
yang digunakan untuk membungkus atau melindungi barang yang dijual di toko. Rahman (2017: 261)
mengatakan. packaging is the outer appearance
of a product. It also serves
the basic function of containment
and protection. It also dresses
up the way
visually appears to customers eyes.
If the first impression is really
important, packaging design must have
an impact on customers minds.
Kemasan adalah tampilan luar suatu produk. Ini juga melayani fungsi dasar
penahanan dan perlindungan. Kemasan juga tampak secara visual di mata
pelanggan. Jika kesan pertama sangat penting, desain kemasan harus memiliki
dampak besar pada pikiran pelanggan. Klimchuk dan Krasovec (2013: 86) mengatakan, packaging
design is the connection of form, structure,
materials, color, imagery, typography, and regulatory information with ancillary design elements to make
a product suitable for marketing. Desain kemasan
merupakan hubungan antara bentuk, struktur, bahan, warna, citra, tipografi, dan
informasi peraturan dengan elemen design tambahan
untuk membuat produk yang cocok untuk pemasaran. Tujuan utamanya adalah untuk
menciptakan kendaraan yang berfungsi untuk menampung, melindungi, mengangkut,
mengeluarkan, menyimpan, mengidentifikasi, dan membedakan suatu produk di
pasar. Pada akhirnya, tujuan dari desain kemasan adalah untuk memenuhi tujuan
pemasaran dengan mengkomunikasikan secara khas kepribadian atau fungsi produk
konsumen dan menghasilkan penjualan.
METODE PENELITIAN
Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan adalah
penelitian asosiatif dengan pendekatan
kuantitatif. Menurut Sugiyono (2017:14) metode penelitian kuantitatif dapat
diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random,
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Lokasi pada penelitian ini dilakukan di PKS Aek Torop,
Kec. Torgamba, Kab. Labuhan Batu Selatan, Sumatera
Utara dan aplikasi zoom yang dilaksanakan pada bulan
Mei 2021 sampai Agustus 2021.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Kota Medan.
Adapun kriteria yang dijadikan sebagai sampel penelitian untuk mengisi
kuesioner, yaitu:
1. Mahasiswa di salah satu
Perguruan Tinggi Negeri di kota Medan yang merupakan konsumen Sampoerna A Mild.
2. Pernah melakukan
pembelian produk Sampoerna A Mild minimal 4 bungkus
dalam sebulan.
3.
Pernah
terkena advertising exposure (terpaan
iklan) produk Sampoerna A Mild.
Peneliti
memilih 5 Perguruan Tinggi Negeri di Kota Medan, yaitu Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Medan, Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara, Politeknik Negeri Medan, dan Politeknik Negeri Media Kreatif
Medan.
Pada
penelitian ini karena jumlah populasi tidak diketahui maka penentuan sampel
dalam penelitian ini menggunakan rumus Purba dalam Ghozali (2011:89), yaitu :
𝑍2
Keterangan:
n = Ukuran sampel
Z = 1,96 score pada signifikan
tertentu (derajat keyakinan ditentukan 95%)
Moe = Margin of Error, tingkat kesalahan
maksimum adalah 10%
Maka ukuran sampel
yang diperoleh,yaitu:
1,962
𝑛 = 96,04
Berdasarkan rumus diatas, maka jumlah sampel yang akan digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 96 responden. Namun peneliti memutuskan
untuk membulatkan menjadi 100 responden agar lebih memudahkan
perhitungan
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengambilan sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik non-probabilty
sampling, yaitu teknik yang tidak memberikan peluang atau kesempatan sama bagi
setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini digunakan karena jumlah populasi
tidak diketahui dengan pasti (infinity) oleh peneliti
sehingga tidak terdapat sampling frame.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Uji Parsial (Uji T)
Coefficientsa
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
|||
|
B |
Std. Error |
Beta |
|||||
|
1 |
(Constant) |
-3.750 |
4.192 |
.320 |
-.895 |
.373 |
|
|
Advertising Exposure (X1) |
.489 |
.143 |
3.416 |
.001 |
|||
|
Packaging Design (X2) |
.598 |
.127 |
.442 |
4.719 |
.000 |
||
a. Dependent Variable: Minat Beli
Sumber: Hasil Pengolahan Data (2021)
Berdasarkan hasil
uji T pada tabel 1.1 dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil pengujian
program software statistic untuk
variabel advertising exposure (X1) terhadap peningkatan minat beli (Y) diperoleh nilai thitung sebesar 3,416 yang berarti lebih besar daripada
nilai ttabel sebesar 1,984 (3,146 > 1,984) dengan nilai
signifikansi yang lebih kecil dari
0,05 (0,001 < 0,05) dan
koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,489. Hal ini menunjukkan bahwa variabel
advertising exposure (X1), berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli (Y). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimbulkan bahwa Ha1 diterima.
2. Hasil pengujian program software statistic untuk
variabel packaging design (X2) terhadap peningkatan minat beli (Y)
diperoleh nilai thitung sebesar 4,719 yang berarti lebih besar daripada nilai ttabel sebesar 1,984 (4,719 > 1,984) dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) dan koefisien
regresi bernilai positif sebesar 0,598. Hal
ini menunjukkan bahwa variabel packaging design (X2), berpengaruh secara
signifikan terhadap minat beli (Y). Berdasarkan
hasil tersebut dapat disimbulkan bahwa Ha2 diterima.
3.
Hasil
yang didapat sesuai dengan penggunaan teori yang berlaku, maka dapat disimpulkan bahwa variabel advertising exposure (X1) dan packaging design (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli (Y).
Uji Simultan (Uji F)
|
Model |
Sum of Squares |
Df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regressio N |
2564.327 |
2 |
1282.163 |
43.476 |
.000b |
|
|
Residual |
2860.663 |
97 |
29.491 |
||
|
|
Total |
5424.990 |
99 |
|
||
a. Dependent Variable: Minat Beli (Y)
b. Predictors: (Constant), Advertising Exposure (X1), Packaging Design (X2)
Sumber: Hasil Pengolahan Data (2021)
Berdasarkan
tabel 1.2 dapat dilihat bahwa nilai Fhitung sebesar 43,476 > Ftabel 3,09 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Dari hasil uji simultan ini dapat disimpulkan bahwa variabel advertising exposure (X1) dan packaging design (X2) secara bersama sama (simultan) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
variabel terikat minat beli (Y).
Koefisien Determinasi (Uji R2)
Tabel 1.3 Uji Koefisien
Determinasi (Uji R2)
Model Summary
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.688a |
.473 |
.462 |
5.43060 |
a.
Predictors: (Constant), Advertising Exposure (X1), Packaging
Design (X2)
b.
Dependent Variabel: Minat Beli (Y)
Sumber: Hasil Pengolahan Data (2021)
Berdasarkan
tabel 1.3 dapat dilihat bahwa nilai R adalah sebesar 0,688, yang berarti antara variabel advertising exposure (X1)
dan packaging design (X2) saling berhubungan terhadap
minat beli (Y) sebesar 68,8%.
Artinya ada hubungan yang kuat antar variabel. Nilai adjusted square atau nilai koefisien determinasi adalah sebesar 0,462, hal ini menunjukkan bahwa
46,2% minat beli konsumen Sampoerna A
Mild pada mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Kota Medan dapat dipengaruhi oleh Advertising Exposure (X1)
dan Packaging Design (X2).
Sedangkan sisanya sebesar 53,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk
pada penelitian ini.
B. Pembahasan
1.
H1: Advertising Exposure
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli
Berdasarkan
hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh hasil thitung 3,416 > ttabel 1,984,
dengan taraf sig 0,001 < 0,05. Hal ini menunjukkan
bahwa variable advertising exposure (X1) berpengaruh positif dan signfikan
terhadap minat beli (Y) pada mahasiswa universitas negeri Medan yang menjadi
konsumen Sampoerna A Mild, sehingga H01 ditolak dan
Ha1 diterima.
Pada indikator yang pertama responden dominan
menjawab sangat setuju dan setuju terhadap indikator frekuensi sbesar, 77%. Jika dideskripsikan lebih lanjut, responden
dalam penelitian ini mayoritas terkena advertising exposure (terpaan iklan) melalui media televisi dan media
cetak. Pada indikator kedua, yaitu intensitas, menunjukkan bahwa 66% memahami
makna dari iklan Sampoerna A Mild baik yang ada di
televisi maupun di media cetak. Seperti yang telah ditentukan bahwa iklan rokok
tidak boleh mencantumkan produknya dan harus menyertakan himbauan dilarang
merokok. Pada indikator ketiga, yaitu durasi menunjukkan bahwa responden
cenderung memperhatikan iklan dari awal hingga akhir, jika iklan tersebut
ditayangkan melalui televisi.
Pernyataan dan hasil penelitian ini berbanding
lurus dengan penelitian terdahulu oleh Paragitha
Kusuma dan M. Gunawan Alif (2019) yang
berjudul The Effect of Advertising Exposure on Attitude Toward
the Advertising and the Brand and
Purchase Intention, dimana hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa variable advertising exposure memiliki pengaruh positif dan signifikan, sehingga
penelitian yang saat ini peneliti lakukan didukung dengan hasil yang sama dan
bukti yang valid yang berasal dari penelitian terdahulu. Oleh karena itu dapat
dinyatakan bahwa variable advertising
exposure berpengaruh secara positif dan signifikan
terhadap minat beli
.
2.
H2: Packaging Design berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Beli
Berdasarkan
hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh thitung
4,719 > ttabel 1,984, dengan taraf sig 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variable packaging design (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap
minat beli (Y) Sampoerna A Mild pada mahasiswa
universitas negeri di kota Medan, sehingga H02 ditolak dan Ha2 diterima. Hal
ini terlihat dari jawaban positif yang diberikan responden terhadap kuesioner
yang terdiri dari 10 pernyataan mengenai variable packaging design yang diukur
melalui 5 indikator, yaitu bahan, logo, warna, ukuran, dan daya tarik desain.
Pada
indikator pertama yaitu bahan, 72% responden menjawab sangat setuju dan setuju
bahwa bahan yang digunakan oleh Sampoerna A Mild
sebagai packaging tidak mudah rusak dan mampu
melindungi isi yang ada didalamnya. Hal ini
menunjukkan bahwa Sampoerna A Mild telah mencapai
standar packaging
yang aman.
Indikator
kedua yaitu logo, 76% responden menjawab sangat setuju dan setuju bahwa logo
pada packaging Sampoerna A Mild
mudah untuk diingat dan menarik perhatian konsumen, hal ini sejalan dengan
indikator ketiga yaitu warna, 79% responden menjawab sangat setuju dan setuju
bahwa warna dari packaging Sampoerna A Mild terlihat cerah dan melambangkan isi yang ada didalamnya.
Indikator
keempat yaitu ukuran, 79,5% responden menjawab sangat setuju dan setuju bahwa
ukuran packaging Sampoerna A Mild
sesuai dengan isi dari kemasan dan mudah untuk dibawa karena sesuai dengan
ukuran kantong. Indikator kelima yaitu daya tarik design,
56% responden menjawab sangat setuju dan setuju bahwa packaging
design Sampoerna A Mild
tidak menarik karena adanya tulisan peringatan bahaya merokok dan gambar dari
dampak negatif merokok.
Pernyataan dan hasil penelitian ini berbanding
lurus dengan penelitian terdahulu oleh Sidi, Benallal, dan Zahia (2018) yang
berjudul The Effect of Packaging Elements on Purchase Intention,
dimana hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa variable packaging design memiliki pengaruh positif dan signifikan, sehingga
penelitian yang saat ini peneliti lakukan didukung dengan hasil yang sama dan
bukti yang valid yang berasal dari penelitian terdahulu. Oleh karena itu dapat
dinyatakan bahwa variable packaging
design berpengaruh secara positif dan signifikan
terhadap minat beli.
3.
H3: Advertising Exposure dan Packaging Design berpengaruh terhadap Minat
Beli
Berdasarkan
hasil uji pada tabel yang telah disajikan, diketahui bahwa variabel Advertising Exposure (X1) dan Packaging Design (X2) berpengaruh signifikan secara
simultan terhadap variabel Minat Beli (Y), diketahui bahwa nilai fhitung adalah sebesar 43,476. Jika dibandingkan dengan ftabel maka fhitung 43,476 > ftabel 3,09 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Dari hasil
ini dapat disimpulkan bahwa variabel bebas Advertising
Exposure (X1) dan Packaging
Design (X2) secara bersama sama (simultan) memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap variabel terikat Minat Beli (Y). Dari hasil uji korelasi (R) sebesar
0,688, menunjukkan bahwa variabel Advertising Exposure (X1) dan Packaging
Design (X2) secara simultan memiliki pengaruh sebesar 68,8% terhadap minat
beli, dimana nilai koefisien ini menunjukkan hubungan
antara Advertising Exposure
dan Packaging Design terhadap Minat Beli yang cukup
erat. Sedangkan R Square menunjukkan bahwa Advertising Exposure dan Packaging Design berkontribusi secara bersama sama
sebesar 47,3% dalam mempengaruhi variabel Minat Beli. Hal ini menunjukkan bahwa
advertising exposure dan packaging design mempengaruhi
minat beli produk sebesar 47,3% sedangkan sisanya sebesar 57,3% dipengaruhi
oleh variabel lain yang tidak terdapat di dalam penelitian ini. Dapat
disimpulkan bahwa variabel advertising exposure dan packaging design berpengaruh positif terhadap minat beli produk
Sampoerna A Mild.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Advertising Exposure berpengaruh terhadap minat beli produk rokok
Sampoerna A Mild pada mahasiswa Perguruan Tinggi
Negeri di Kota Medan. Semakin menarik dan baik kualitas advertising
exposure maka akan semakin mempengaruhi minat beli
konsumen terhadap produk yang dipromosikan.
2.
Packaging Design
berpengaruh terhadap minat beli produk rokok Sampoerna A Mild
pada mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Kota Medan. Variabel packaging design berpengaruh
positif dan signifikan terhadap variabel minat beli. Semakin baik packaging design sebuah produk
maka akan semakin baik pula dalam mempengaruhi minat beli konsumen.
3.
Advertising Exposure dan Packaging Design
berpengaruh terhadap Minat Beli produk rokok Sampoerna A Mild
pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Kota Medan.
Eagle et al.
2020. Marketing Communications: Edition 2. London: Routledge.
Effendi, Usman. 2016. Psikologi Konsumen.
Jakarta: Rajawali. Google Scholar
Egan, John. 2019. Marketing Communications: Edition
3. United Kingdom: SAGE. Google Scholar
Ferdinand, Augusty. 2014.
Metode Penelitian Manajemen. Edisi 5. Semarang : Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. Google Scholar
Ghozali, Imam. 2012. Aplikasi
Analisis Multivariate dengan
Program SPSS Edisi
Ketujuh. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Google Scholar
Klimchuk dan Krasovec. 2013. Packaging Design:Succesful Product Branding From Concept to Shelf, Edition . Inc: Canada. Google Scholar
Kotler dan Keller. 2007. Manajemen Pemasaran, Jilid I, Edisi 12. Jakarta: PT. Indeks. Google Scholar
Martono, N. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif:
Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Google
Scholar
Panuju, Redi. 2016. Psikologi
Konsumen. Jakarta: Prenada Media. Google Scholar
Shimp, Terence. 2003. Periklanan Promosi Aspek Tambahan
Komunikasi Pemasaran Terpadu.
Jakarta: Erlangga. Google
Scholar
Kusuma dan Alif. 2019. The Effect of Advertising Exposure on Attitude Toward the Advertising and the Brand and Purchase Intention in Instagram. Proceedings of the 3rd Asia-Pacific Research in Social Sciences and Humanities Universitas Indonesia Conference. Google
Scholar
Nulufi, K., & Murwatiningsih.
(2015). Minat Beli sebagai Mediasi Pengaruh Brand Image
danSikap Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Batik
di Pekalongan. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Management
Analysis Journal, 4(2),
129141. Google Scholar
Rahman,
Khandoker. 2017. Strategic Marketing Management
in Asia. Journal of Management University College of London. Google Scholar
Sidi, Benallal, dan Zahia 2018. The effect of packaging
elements on purchase intention: case study of Algerian customers. Journal of Management University Tlemcen, Algeria. Google Scholar
Sudibyo, Ridhwan H. 2018. Pengaruh Terpaan Iklan Rokok Terhadap Minat Beli Konsumen Rokok. Skripsi
Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia. Google Scholar
World Health Organization. 2020. Menaikkan Cukai dan Harga Produk Tembakau
Untuk Indonesia Sehat dan Sejahtera. Jurnal WHO Indonesia. Google
Scholar
Kemenperin.go.id. 2019. Industri
Hasil Tembakau Tercatat
Serap 5,98 Juta Tenaga Kerja. https://kemenperin.go.id/artikel/20475/Industri-Hasil-
Tembakau-Tercatat-Serap-5,98-Juta-Tenaga-Kerja
(Di Akses pada 20 September 2021). Google Scholar
Peraturan.bpk.go.id. 2012. Peraturan
Pemerintah (PP) No. 109
Tahun 2012 https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/5324/pp-no-109
tahun2012#:~:text=PP%20No.%20109%20Tahun%202012,Bagi%20Kesehatan%20%5
JDIH%20BPK%20RI%5D (Diakses pada 26 April 2021). Google
Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |