PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMAN 9 KOTA CIREBON

 

Dwi Hadiyanti

SMAN 9 Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia

dwihadiyanti74@gmail.com

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

01-09-2022

10-09-2022

20-09-2022

Latar Belakang : Pembelajaran sejarah memiliki peranan penting dalam menghargai para pendahulu yang telah memperjuangkan negara Indonesia untuk memotivasi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran sejarah karena dianggap masih mengajarkan masa lalu yang belum pernah dialami, serta pembelajaran dilakukan secara ceramah dan teori saja.

Tujuan : Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman siswa pada mata pelajaran sejarah. Mendeskripsikan tingkat kemampuan kognitif tentang materi strategi pergerakan nasional, dan menerapkan keterkaitan antara materi masa sekarang sebagai bentuka kelanjutan pergerakan yang harus dilakukan oleh generasi bangsa. Untuk itu dalam penelitian ini agar peningkatan pembelajaran sejarah dengan metode pembelajaran Inquiry di kelas XI IPS 2 Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019  di SMA Negeri 9 Kota Cirebon.

Metode : Disamping  itu metode pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, pengolahan data dan dokumentasi.

Hasil : Hasil penelitian dari data studi awal yang diperoleh yaitu dari jumlah siswa 34 siswa hanya 5 siswa yang memiliki nilai tuntas dan sisanya yaitu  siswa 29 tidak mendapatkan nilai tuntas, dengan jumlah nilai siswa hanya 2140 dan rata- ratanya 62,94 serta mendapat prosentase ketuntantasan 14,71% comprehension.   

Kesimpulan : Model pembelajaran Inquiry dapat dilakukan pada semua mata pelajaran dalam menyelesaikan masalah pembelajaran serta menghasilkan peningkatan hasil belajar pada studi kasus perorangan maupun berbasis kelompok agar pembekajaran lebih aktif dan kreatif.

 

Kata Kunci : Peningkatan; Hasil Belajar; Metode Pembelajaran Inquiry

 

 

 

 

Abstract

 

Background: History learning has an important role in honoring the predecessors who have fought for the Indonesian state to motivate the younger generation to fulfill independence. Lack of student motivation in learning history because it is considered to still teach the past that has never been experienced, and learning is done in lectures and theory only. fun according to the learning objectives.

Objectives: This research was conducted with the objectives to. Describe the level of students' understanding of the subject of history. Describe the level of cognitive ability on the material of the national movement strategy, and apply the linkages between current material as a form of continuation of the movement that must be carried out by the nation's generation. For this reason, in this study, there is an increase in history learning with the Inquiry learning method in class XI IPS 2 Semester 2 of the 2018/2019 academic year at SMA Negeri 9 Cirebon City.

Methods: Besides, the data collection method in Classroom Action Research (CAR) is carried out using data collection techniques, namely observation, interviews, data processing and documentation.

Results: The results of the study from the initial study data obtained were from the number of students 34 students only 5 students who had a complete score and the rest, namely 29 students did not get a complete score, with a total student score of only 2140 and an average of 62.94 and got a percentage of completeness 14, 71%.comprehension.

Conclusion: The Inquiry learning model can be carried out on all subjects in solving learning problems and producing increased learning outcomes in individual and group-based case studies so that learning is more active and creative.

Keywords: Improvement; Learning Outcomes; Inquiry Learning Method

*Correspondent Author : Dwi Hadiyanti

Email : dwihadiyanti74@gmail.com

 

 

PENDAHULUAN

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 disebutkan bahwa Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Berangkat dari bunyi pasal ini dapat diketahui bahwa pendidikan adalah sistem yang merupakan suatu totalitas struktur yang terdiri dari komponen yang saling terkait dan secara bersama menuju kepada tercapainya tujuan. Adapun komponen-komponen dalam pendidikan nasional antara lain adalah lingkungan, sarana-prasarana, sumberdaya, dan masyarakat. Komponen-komponen tersebut bekerja secara bersama-sama, saling terkait dan mendukung dalam mencapai tujuan pendidikan (Munirah, 2015). Tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Munirah, 2015).

Pergerakan Nasional merupakan salah satu bagian dari perjalanan sejarah bangsa ini yang penting adanya. Karena pada masa ini meliputi berdirinya organisasi-organisasi modern memiliki cita-cita kemerdekaan bagi bangsa Indonesia telah melahirkan beberapa tokoh di dalamnya, yang ikut andil dalam membangun bangsa ini kearah yang lebih baik. Pergerakan Nasional memiliki sebuah arti yang luas dan besarnya aspek yang meliputinya, tidak saja pada pergerakan yang bersifat perbaikan derajat dari sisi politik, akan tetapi juga menuju perbaikan aspek-aspek lain seperti perekonomian, pendidikan, keagamaan, dan sebagainya. Masa pergerakan nasional merupakan sebuah masa dimana munculnya intelektual-intelektual pribumi yang memiliki keinginan agar dapat merubah nasib bangsa ini. Organsasi-organisasi yang muncul pada masa ini juga turut melahirkan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini, salah satunya organisasi Sarekat Islam (SI). Sarekat Islam merupakan salah satu organisasi yang menjadi wadah bagi ummat Islam pada masa itu untuk ikut serta dalam perpolitikan tanah air. Sarekat Islam bermula dari Sarekat Dagang Islam didirikan pada awalnya bertujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam (Mansoer, 1977). Setelah pendiriannya SI semakin berkembang dan memiliki anggota yang cukup banyak dan tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Karena adanya hal ini maka Pemerintah Belanda khawatir akan terusik eksistensinya sebagai bangsa yang menduduki Hindia Belanda dengan menjalankan roda pemerintahnnya, maka pada Juni 1912, pemerintah Belanda menetapkan bahwa cabang-cabang SI harus berdiri sendiri untuk daerahnya masing-masing.

Pada pembelajaran sejarah tentang strategi pergerakan nasional siswa merasa tidak bersemangat karena diajak mengenang masa lalu yang menganggap tidak sesuai dengan saat ini, apalagi pembelajaran yang dilakukan dengan metode ceramah dan penugasan saja sehingga siswa merasa ngantuk dan tidak termotivasi untuk belajar, bila dilakukan berdiskusi siswa rata-rata siswa masih pasif untuk mengungkapkan ide dan gagasan dalam mengungkapkan materi yang telah disampaikan. Dari beberapa masalah yang tersebut diatas, maka peneliti berupaya untuk mencari penyelesaian dalam pembelajaran agar mencari dan menemukan referensi materi sebelum pembelajaran agar ketika belajar sudah memiliki bahan materi untuk belajar, salah satunya dilakukan dengan metode inquiry. Rendahnya minat belajar menyebabkan tujuan akhir pembelajaran tidak dapat tercapai dengan maksimal. Pembelajaran yang demikian diperlukan suatu upaya untuk mengatasi mengatasi masalah pembelajaran. Upaya yang dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah.

Metode yang dipilih haruslah dapat mendorong munculnya minat peserta didik dalam pembelajaran, sehingga peserta didik dapat lebih giat dalam belajar. Metode yang dipilih haruslah metode yang bersifat menyenangkan dan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat meningkatkan minat dan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah. Metode yang dipilih untuk mengatasi masalah tersebut adalah metode pembelajaran Inquiry yang digabungkan dengan penilaian diri. Dengan demikian dapat ditinjau oleh peneliti jika metode pembelajaran Inquiry dapat memberikan solusi penigkatan hasil pembelajaran terutama mata pelajaran  sejarah, maka peneliti akan melakukan sebuah penelitian tidakan kelas yang berjudul Penggunaan Model Pembelajaran Inquiry  Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Strategi Pergerakan Nasional Di  Kelas Xi Ips-2 Semester 2  Sma Negeri 9 Kota Cirebon Tahun Pelajaran 2018/2019”.

 

 

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistic, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam dalamnya dengan cara mengumpulkan data yang sedalam-dalamnya pula, yang menunjukan pentingnya kedalaman dan detail suatu data yang diteilti. Pada penelitian kualitatif, semakin mendalam, teliti, dan tergali suatu data yang didapatkan, maka bisa diartikanpula bahwa semakin baik kualitas penelitian. Sedangkan penelitian kuantitatif merupakan pengolahan data angka hasil penilaian pemebalajan ditempat penelitian.

Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dimana, siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari, yang bertujuan untuk mengetahui apakah sesuatu metode, prosedur, system, proses, alat, dan bahan, serta model efektif dan efisien jika diterapkan di suatu tempat (Syaiful & Aswan, 2006). Tujuan dari penelitian eksperimen adalah untuk menyelidiki ada atau tidaknya hubungan sebab akibat dengan cara memberikan perlakuan tertentu. Penelitian ini termasuk dalam bentuk Pre-experimental, yaitu desain penelitian yang masih terdapat variabel luar yang berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. (Wiranata, Ibrahim, & ..., 2019). Data pengolahan penelitian ini dengan mengambil instrument penelitian berdasarkan lembar obesrvasi, pengolahan penilaian hasil belajar, serta dokumentasi pembelajaran. Data yang digunakan untuk mengetahui  penggunaan media pembelajaran berbasis inquiry diperoleh melalui pre-test dan post-test yang diberikan kepada peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan media inquiry dalam pembelajaran sejarah. Efektivitas media pembelajaran dapat mengacu pada teori Hake mengenai Gain ternomalisasi. Richard R. Hake memaparkan bahwa gain score adalah selisih antara nilai tes akhir (post-test) dengan tes awal (pre-test) (Sumardi, Umamaj, & Azizah, 2018).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Model Pembelajaran Inquiry

Metode pembelajaran Inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006). Metode pembelajaran inquiry dalam penyampaian bahan pelajarannya tidak dalam bentuknya yang final. Artinya, dalam penyampaian metode inquiry peserta didik sendirilah yang diberi peluang untuk mencari (menyelidiki/meneliti) dan memecahkan sendiri jawaban (permasalahan) dengan mempergunakan teknik pemecahan masalah. Sementara pendidik bertindak sebagai pengarah, mediator, dan fasilitator, yang wajib memberikan informasi yang relevan, sesuai dengan permasalahan atau materi pelajaran (Agustin & Naim, 2015). Model Inkuri pertama kali diperkenalkan oleh Richard inkuiri merupakan model yang berorientasi pada siswa (student centered). (Sitorus, 2013) “menyatakan bahwa “Inquiry is proces of investigating a problem” artinya bahwa Inkuiri adalah proses penyelidikan suatu masalah. Model ini melibatkan secara optimal seluruh kemampuan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran untuk mencari atau menyelidiki sesuatu secara sistematis, logis dan kritis. Kegiatan inkuiri biasa disebut kegiatan penemuan, karena dalam inkuiri peserta didik akan berusaha menemukan data/informasi mengenai sesuatu yang belum jelas dan ingin diketahui oleh peserta didik (Irmanita, 2018).

Metode pembelajaran inquiry adalah salah satu metode pembelajaran yang menitikberatkan proses pembelajaran pada keterlibatan siswa secara langsung dan maksimal (Sugiarta & Ratnani, 2017). Metode pembelajaran inquiry sebagai sebuah cara pendidik dalam membimbing peserta didik membangun pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai materi pelajaran, membekali dan mengarahkan peserta didik menuju pembelajaran yang bebas (Umamah, n.d.). Metode pembelajaran inquiry memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam pemecahan suatu masalah, sehingga pengalaman yang didapat peserta didik dapat bermakna (Zahro & Umamah, n.d.) (Sumardi et al., 2018). Inkuiri termasuk dalam kelompok model pengolahan informasi, dimana model pembelajaran ini lebih menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Metode inkuiri memiliki tujuan atau kegunaan tertentu di antaranya adalah; (1) mengembangkan sikap, keterampilan siswa untuk mampu memecahkan masalah serta mengambil keputusan secara objektif dan mandiri; (2) mengembangkan kemampuan berpikir para siswa yang terdiri atas serentetan keterampilan-keterampilan yang memerlukan latihan dan pembiasaan; (3) melatih kemampuan berpikir melalui proses alam situasi yang benar-benar dihayati; dan (4) mengembangkan sikap ingin tahu, berpikir objektif, mandiri, kritis, analitis, baik secara individual maupun berkelompok. Berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Namun jalannya metode inkuiri tak lepas dari peranan guru di dalamnya. Terdapat peran guru dalam pelaksanaan metode pembelajaran inkuiri yakni sebagai motivator, fasilitator, penanya, administrator, pengaruh manager, dan sebagai rewarder (pemberi penghargaan). Selain itu tujuan pembelajaran dengan menggunakan metode inkuri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian proses mental.

Sehingga, model inkuiri tidak hanya dituntut agar siswa menguasai materi pelajaran, tetapi lebih dari itu bagaimana siswa dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara optimal (Nm, 2018). Inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003). Menurut (Usman, Abdulrahman, & Usman, 2009) inkuiri adalah suatu cara penyampaian pelajaran dengan penelaahan sesuatu yang bersifat mencari secara kritis, analisis dan argumentatif (ilmiah) melalui langkah- langkah tertentu menuju suatu kesimpulan. Dalam hal ini, inkuiri dapat dilakukan secara individual atau kelompok baik di dalam maupun di luar kelas. Sedangkan menurut (Sudjana, 2001) menyatakan bahwa inkuiri merupakan strategi mengajar yang berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah. Strategi ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam pemecahan masalah sehingga siswa betul-betul menjadi subjek belajar (Nurjamaliah Ismail, 2018).

B.   Hasil Peneltian

SMA Negeri 9 Cirebon merupakan sekolah negeri yang saat ini statusnya dibawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang di diri kan pada 05 Januari 1999 dengan  memiliki  SK Izin Oprasional nomor :001a/O/1999  beralamat di jalan Pramuka Kebon Pelok Harjamukti Kota Cirebon yang sudah terakreditasi “A” dengan nomor NPSN:20222167. SMA Negeri 9 Cirebon yang di pimpin oleh seorang kepala sekolah bernama Drs.Dodi Rosnaedi,MM memiliki program IPA dan Program IPS dengan jumlah rombongan belajar sebanyak 26 rombongan belajar yang masing-masing kelas memiliki jumlah siswa minimal 34 siswa. Kelas X memiliki 10 rombongan belajar, kelas XI memiliki 8 rombongan belar, dan kelas XII memiliki 8 rombongan belajar. Pada Peneltian ini mengambil data dari Kelas XI IPS 2 sebanyak 34 siswa dengan pengolahan data hasil evaluasi pembelejaran yang dilakukan pada Pra Siklus I, Sikulus I dan Siklus II. Dengan Hasil Pengolahan Nilai Hasil Evaluasi Pembelajaran pada Pra Siklus dilaksanakan pada Kamis,21 Februari 2019. Sedangkan untuk Siklus I dengan menggunakan metode pembelajaran Inquiry dilaksanakan pada Kamis, 21 Maret 2019 untuk penilian kesatu dan Kamis,4 April 2019 untuk penilian kedua. Kemudian Pelaksanakan Siklus II dilaksanakan pada hari  Kamis, 25 April 2019 dan pada hari Kamis, 9 Mei 2019 yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini.

 

Tabel.1 Hasil Evaluasi Pembelajaran

Data Nilai Hasil Evaluasi Pembelajaran

 

Pra Siklus I

Siklus I

Siklus II

Ke-1

Ke-2

 

Ke-1

Ke-2

 

Jumlah

2140

2393

2654

2523,5

2582

2722

2652

Rerata

62,94

70,38

78,06

74,22

75.94

80.06

78.00

Prosentase

Ketuntasan

14,71%

29,41%

100 %

44,12%

61.76

100%

94.12

 

Berdasarkan tabel diatas yang telah menggunakan model pembelajaran Inquiry pada siklus II untuk penilaian secara perorangan/pribadi tertulis dengan nilai tertinggi yaitu 86 dan nilai terendahnya yaitu 70, dengan jumlah nilai 2582, rata-rata kelas 75,94 serta prosestase sebesar 61,76 %. Dari jumlah 34 siswa yang mendapat nilai tuntas sebanyak 21 siswa, dan yang belum tuntas sebanyak 13 siswa. Pada Penilaian secara kelompok pada siklus II ini dari jumlah 34 siswa yang mendapat nilai tuntas sebanyak 34 siswa, artinya tuntas semua. Pada Siklus II terdapat  penggabungan nilai perorangan dan kelompok kemudian mendapatkan nilai hasil penjumlahan sebesar 2652 dan nilai rata-rata kelas 78 serta dengan prosentase ketuntasan sebesar 94,12%. Melihat data ini terdapat kenaikan yang signifikan dimana pada Siklus I prosentase ketuntasan sebesar 44,12% sedangkan pada Siklus II prosentase ketuntasan sebesar 94,12% sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar dari Pra Siklus I, Siklus I, dan Siklus II.

Sehingga kalau ditunjukkan pada grafik dibawah ini sebagai hasil dari peningkata hasil belajar dengan menggunakan metode pembelajaran Inquiry pada mata pelajaran sejarah dengan materi strategi strategi pergerakan nasional.

C.   Kendala dan Solusi dalam pembelajaran

Kendala yang dihadapi SMA Negeri 9 Cirebon dalam pembelajaran sejarah adalah karena motivasi dan minat belajar siswa yang masih rendah sehingga guru harus memiliki strategi dan upaya dengan menggunakan berbagai model pembelajaran agar pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik oleh siswa. Banyaknya siswa dari kalangan ekonomi menengah dan permasalahan keadaan keluarga yang kurang harmonis menyebabkan siswa kurang bersemangat dalam belajar sehingga hanya memiliki target belajar hanya tuntas sebatas KKM sehingga guru harus melakukan pembinaan dan bimbingan agar dalam pembelajaran mecapai nilai yang maksimal. Keterbatasan quota internet yang dimiliki siswa bila terjadi penugasan jika mencari referensi dari internet dan sumber buku lainnya, sehingga guru hanya memfasilitasi referensi dari buku yang ada diperpustakaan sekolah.

 

KESIMPULAN

Sebagai penutup, berikut ini beberapa kesimpulan tentang penggunaan model pembelajaran inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah  di SMA Negeri 9 Cirebon adalah. Model pembelajaran Inquiry pada mata pelajaran  sejarah Indonesia tentang strategi pergerakan nasional di kelas XI IPS 2 Semester 2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon Tahun 2019 diupayakan dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, motivasi, prestasi, kreatifitas, dan pemecahan masalah pembelajaran sejarah. Model pembelajaran Inquiry dapat dilakukan pada semua mata pelajaran dalam menyelesaikan masalah pembelajaran serta menghasilkan peningkatan hasil belajar pada studi kasus perorangan maupun berbasis kelompok agar pembekajaran lebih aktif dan kreatif. Model Pembelajaran Inquiry dapat meningkatkan motivasi belajar siswa Kelas XI IPS 2 Semester 2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon tahun 2019  pada mata pelajaran Sejarah tentang Strategi Pergerakan Nasional.

 

BIBLIOGRAFI

 

Agustin, Ayu, & Naim, Mohammad. (2015). PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN INQUIRY DENGAN PENILAIAN DIRI UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS XI SOS 1 DI SMA NEGERI 2 TANGGUL TAHUN AJARAN 2014/2015. UNEJ JURNAL, 1, 1–8. Google Scholar

 

Irmanita, Widyavera. (2018). PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK. Paper Knowledge, 7(2), 107–115. Google Scholar

 

Mansoer, Mohammad Tolchah. (1977). Pembahasan beberapa aspek tentang kekuasaan-kekuasaan eksekutif dan legislatif Negara Indonesia. Universitas Gadjah Mada. Google Scholar

 

Mulyasa, Enco. (2003). Menjadi kepala sekolah profesional dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK. Google Scholar

 

Munirah. (2015). Sistem Pendidikan Di Indoensia: antara keinginan dan realita. Auladuna, 2(2), 233–245. Google Scholar

 

Nm, Siti Rahuyu. (2018). PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA MUHAMMADIYAH 1 TAMAN SIDOARJO. Alif Laam Miim, 1, 192–200. Google Scholar

 

Nurjamaliah Ismail. (2018). Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas Xi Ips-1 Sma Negeri 12 Banda Aceh Pada Pembelajaran Sejarah Melalui Penggunaan Metode Inkuiri. Visipena Journal, 9(1), 173–192. https://doi.org/10.46244/visipena.v9i1.451. Google Scholar

 

Sanjaya, Ridwan. (2006). Membuat Katalog Komersial dengan Flash 8. Elex Media Komputindo. Google Scholar

 

Sitorus, Syahril. (2013). Peningkatan Ketrampilan Berpikir Kritis Dan Hasil Belajar IPS Melalui Pendekatan Inkuiri Siswa Kelas IV SD Negeri 106816 MARINDAL II Kecamatan Patumbak. Jurnal Tematik, 3(1). Google Scholar

 

Sudjana, Grita. (2001). USULAN MODEL PENGEMBANGAN PENDIDIKAN PROFESIONAL KEPERAWATAN: Studi Kasus Praktek Klinik Keperawatan Siswa Praktikan Sekolah Perawat Kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Universitas Pendidikan Indonesia. Google Scholar

 

Sugiarta, Made Manik, & Ratnani, Dewa Ayu Sri. (2017). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dengan Media Pembelajaran Video Partisipasi Terhadap keterampilan Proses Sains SMA Negeri 7 Denpasar. Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP), 7(1). Google Scholar

 

Sumardi, Umamaj, Nurul, & Azizah. (2018). Efektifitas media pembelajaran stop motion berbasis inquiry dalam pembelajaran sejarah di era revolusi industri 4.0. Seminar Nasional Sejarah Ke 4 Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang, 216–227. Google Scholar

 

Syaiful, Bahri Djamarah, & Aswan, Zain. (2006). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Google Scholar

 

Umamah, Nurul. (n.d.). EFEKTIFITAS MEDIA PEMBELAJARAN STOPMOTION BERBASIS INQUIRY DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0. Google Scholar

 

Usman, Hamidu, Abdulrahman, Fanna Inna, & Usman, Abubakar. (2009). Qualitative phytochemical screening and in vitro antimicrobial effects of methanol stem bark extract of Ficus thonningii (Moraceae). African Journal of Traditional, Complementary and Alternative Medicines, 6(3). Google Scholar

 

Wiranata, A., Ibrahim, N., & ... (2019). Pengaruh Kemampuan Analisis dalam Model Pembelajaran Inkuiri terhadap Hasil Belajar Kognitif. Prosiding, 36–43. Google Scholar

 

Zahro, A., & Umamah, N. (n.d.). Suranto. 2014. Penerapan Metode Pembelajaran Inquiry Terbimbing ( Guided Inquiry) Untuk Meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas XI-IIS, 2. Google Scholar

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) double license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).