Dwi Hadiyanti
SMAN 9 Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised
: Accepted: |
01-09-2022 10-09-2022 20-09-2022 |
Latar Belakang : Pembelajaran sejarah memiliki peranan penting
dalam menghargai para pendahulu yang telah memperjuangkan negara Indonesia untuk
memotivasi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. Kurangnya motivasi
siswa dalam pembelajaran
sejarah karena dianggap masih mengajarkan masa lalu yang belum pernah
dialami, serta pembelajaran dilakukan secara ceramah dan teori saja. Tujuan : Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman siswa pada mata pelajaran sejarah. Mendeskripsikan tingkat kemampuan kognitif tentang materi strategi pergerakan nasional, dan menerapkan keterkaitan antara materi masa sekarang sebagai bentuka
kelanjutan pergerakan yang harus dilakukan oleh generasi bangsa. Untuk itu dalam penelitian ini agar peningkatan pembelajaran sejarah
dengan metode pembelajaran Inquiry di kelas XI IPS
2 Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019
di SMA Negeri 9 Kota Cirebon. Metode : Disamping itu metode pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan dengan menggunakan
teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, pengolahan data dan dokumentasi. Hasil : Hasil penelitian dari
data studi awal yang diperoleh yaitu dari jumlah siswa 34 siswa hanya 5 siswa yang memiliki nilai tuntas dan sisanya
yaitu siswa 29 tidak mendapatkan nilai tuntas, dengan jumlah
nilai siswa hanya 2140 dan rata- ratanya 62,94 serta mendapat prosentase ketuntantasan 14,71% comprehension. Kesimpulan : Model pembelajaran Inquiry dapat dilakukan pada semua mata pelajaran dalam menyelesaikan masalah pembelajaran serta menghasilkan peningkatan hasil belajar pada studi kasus perorangan maupun berbasis kelompok agar pembekajaran lebih aktif dan kreatif. Kata
Kunci : Peningkatan; Hasil Belajar; Metode Pembelajaran Inquiry |
|
|
|
|
|
|
Abstract
|
|
|
|
Background: History
learning has an important role in honoring the predecessors who have fought for
the Indonesian state to motivate the
younger generation to fulfill independence.
Lack of student motivation in learning history because it is
considered to still teach the
past that has never been experienced,
and learning is done in lectures
and theory only. fun according
to the learning objectives. Objectives: This research was
conducted with the objectives to. Describe the level of students' understanding of the subject
of history. Describe the level of cognitive ability on the
material of the national movement strategy, and apply the linkages
between current material
as a form of continuation of the movement that must be
carried out by the nation's
generation. For this reason, in this study, there is an
increase in history learning with the Inquiry learning
method in class XI IPS 2
Semester 2 of the
2018/2019 academic year at SMA Negeri 9 Cirebon City. Methods: Besides, the data collection
method in Classroom Action Research (CAR) is carried out
using data collection techniques, namely observation, interviews, data processing and documentation. Results: The results of
the study from the initial study data obtained were from the number of
students 34 students only 5 students who had a complete score and the
rest, namely 29 students did not get a complete score, with a total student score of only 2140 and an average
of 62.94 and got a percentage of completeness 14, 71%.comprehension. Conclusion: The Inquiry learning
model can be carried out on
all subjects in solving learning problems and producing increased learning outcomes in individual
and group-based case studies so that learning
is more active and creative. Keywords: Improvement; Learning Outcomes; Inquiry Learning Method |
|
*Correspondent Author : Dwi
Hadiyanti
Email : dwihadiyanti74@gmail.com
PENDAHULUAN
Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional No.20 tahun 2003 disebutkan bahwa Sistem Pendidikan Nasional adalah
keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional. Berangkat dari bunyi pasal ini dapat
diketahui bahwa pendidikan adalah sistem yang merupakan suatu totalitas
struktur yang terdiri dari komponen yang saling terkait dan secara bersama
menuju kepada tercapainya tujuan. Adapun komponen-komponen dalam pendidikan
nasional antara lain adalah lingkungan, sarana-prasarana, sumberdaya,
dan masyarakat. Komponen-komponen tersebut bekerja secara bersama-sama, saling
terkait dan mendukung dalam mencapai tujuan pendidikan (Munirah,
2015). Tujuan pendidikan nasional yang
dirumuskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional adalah untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis
serta bertanggung jawab (Munirah, 2015).
Pergerakan Nasional merupakan
salah satu bagian dari perjalanan sejarah bangsa ini yang penting
adanya. Karena pada masa ini meliputi berdirinya organisasi-organisasi modern memiliki
cita-cita kemerdekaan bagi bangsa Indonesia telah melahirkan beberapa tokoh
di dalamnya, yang ikut andil dalam membangun
bangsa ini kearah yang lebih baik. Pergerakan
Nasional memiliki sebuah arti yang luas dan besarnya
aspek yang meliputinya, tidak saja pada pergerakan yang bersifat perbaikan
derajat dari sisi politik, akan tetapi juga menuju perbaikan
aspek-aspek lain seperti
perekonomian, pendidikan, keagamaan, dan sebagainya. Masa
pergerakan nasional merupakan sebuah masa dimana
munculnya intelektual-intelektual pribumi yang memiliki keinginan agar dapat merubah nasib bangsa ini. Organsasi-organisasi
yang muncul pada masa ini juga turut melahirkan tokoh-tokoh yang berperan
penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini, salah satunya organisasi Sarekat Islam (SI). Sarekat Islam
merupakan salah satu organisasi yang menjadi wadah bagi ummat
Islam pada masa itu untuk ikut serta dalam perpolitikan tanah air. Sarekat Islam bermula dari Sarekat
Dagang Islam didirikan pada awalnya bertujuan memajukan perdagangan Indonesia
di bawah panji-panji Islam (Mansoer, 1977). Setelah pendiriannya SI semakin berkembang
dan memiliki anggota yang cukup banyak dan tersebar ke berbagai daerah di
Indonesia. Karena adanya hal ini maka Pemerintah Belanda khawatir akan terusik
eksistensinya sebagai bangsa yang menduduki Hindia Belanda dengan menjalankan roda
pemerintahnnya, maka pada Juni 1912, pemerintah
Belanda menetapkan bahwa cabang-cabang SI harus berdiri sendiri untuk daerahnya
masing-masing.
Pada pembelajaran sejarah
tentang strategi pergerakan nasional siswa merasa tidak bersemangat karena
diajak mengenang masa lalu yang menganggap tidak sesuai dengan saat ini,
apalagi pembelajaran yang dilakukan dengan metode ceramah dan penugasan saja
sehingga siswa merasa ngantuk dan tidak termotivasi
untuk belajar, bila dilakukan berdiskusi siswa rata-rata siswa masih pasif
untuk mengungkapkan ide dan gagasan dalam mengungkapkan materi yang telah
disampaikan. Dari beberapa masalah yang tersebut diatas,
maka peneliti berupaya untuk mencari penyelesaian dalam pembelajaran agar
mencari dan menemukan referensi materi sebelum pembelajaran agar ketika belajar
sudah memiliki bahan materi untuk belajar, salah satunya dilakukan dengan
metode inquiry. Rendahnya minat belajar menyebabkan tujuan akhir pembelajaran
tidak dapat tercapai dengan maksimal. Pembelajaran yang demikian diperlukan
suatu upaya untuk mengatasi mengatasi masalah
pembelajaran. Upaya yang dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran
alternatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah.
Metode yang dipilih haruslah
dapat mendorong munculnya minat peserta didik dalam pembelajaran, sehingga
peserta didik dapat lebih giat dalam belajar. Metode yang dipilih haruslah
metode yang bersifat menyenangkan dan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran,
sehingga peserta didik dapat meningkatkan minat dan hasil belajar pada mata
pelajaran sejarah. Metode yang dipilih untuk mengatasi masalah tersebut adalah
metode pembelajaran Inquiry yang digabungkan dengan
penilaian diri. Dengan demikian dapat ditinjau oleh
peneliti jika metode pembelajaran Inquiry dapat
memberikan solusi penigkatan hasil pembelajaran
terutama mata pelajaran sejarah, maka
peneliti akan melakukan sebuah penelitian tidakan
kelas yang berjudul “Penggunaan Model Pembelajaran Inquiry Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Strategi Pergerakan Nasional
Di Kelas Xi
Ips-2 Semester 2 Sma
Negeri 9 Kota Cirebon Tahun Pelajaran 2018/2019”.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian Kualitatif
adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan
dan lain-lain secara holistic, dengan cara deskripsi
dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah
dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Tujuan penelitian kualitatif adalah
untuk menjelaskan suatu fenomena dengan sedalam dalamnya dengan cara
mengumpulkan data yang sedalam-dalamnya pula, yang menunjukan
pentingnya kedalaman dan detail suatu data yang diteilti.
Pada penelitian kualitatif, semakin mendalam, teliti, dan tergali suatu data
yang didapatkan, maka bisa diartikanpula bahwa
semakin baik kualitas penelitian. Sedangkan penelitian kuantitatif merupakan
pengolahan data angka hasil penilaian pemebalajan ditempat penelitian.
Metode eksperimen adalah cara
penyajian pelajaran dimana, siswa melakukan percobaan
dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari, yang
bertujuan untuk mengetahui apakah sesuatu metode, prosedur, system,
proses, alat, dan bahan, serta model efektif dan efisien jika diterapkan di
suatu tempat (Syaiful & Aswan, 2006). Tujuan dari penelitian
eksperimen adalah untuk menyelidiki ada atau tidaknya hubungan sebab akibat
dengan cara memberikan perlakuan tertentu. Penelitian ini termasuk dalam bentuk
Pre-experimental, yaitu desain penelitian yang masih
terdapat variabel luar yang berpengaruh terhadap terbentuknya variabel
dependen. (Wiranata, Ibrahim, & ..., 2019). Data pengolahan
penelitian ini dengan mengambil instrument penelitian
berdasarkan lembar obesrvasi, pengolahan penilaian
hasil belajar, serta dokumentasi pembelajaran. Data yang digunakan untuk
mengetahui penggunaan media pembelajaran
berbasis inquiry diperoleh melalui pre-test dan post-test yang
diberikan kepada peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan media inquiry dalam pembelajaran sejarah. Efektivitas media
pembelajaran dapat mengacu pada teori Hake mengenai
Gain ternomalisasi. Richard R. Hake
memaparkan bahwa gain score adalah selisih antara
nilai tes akhir (post-test) dengan tes awal (pre-test) (Sumardi, Umamaj, & Azizah, 2018).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Model Pembelajaran Inquiry
Metode pembelajaran Inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006). Metode pembelajaran inquiry
dalam penyampaian bahan pelajarannya tidak dalam bentuknya yang final. Artinya,
dalam penyampaian metode inquiry peserta didik
sendirilah yang diberi peluang untuk mencari (menyelidiki/meneliti) dan
memecahkan sendiri jawaban (permasalahan) dengan mempergunakan teknik pemecahan
masalah. Sementara pendidik bertindak sebagai pengarah, mediator, dan
fasilitator, yang wajib memberikan informasi yang relevan, sesuai dengan
permasalahan atau materi pelajaran (Agustin & Naim, 2015). Model Inkuri pertama kali
diperkenalkan oleh Richard inkuiri merupakan model yang berorientasi pada siswa
(student centered). (Sitorus, 2013) “menyatakan bahwa “Inquiry
is proces of investigating a problem”
artinya bahwa Inkuiri adalah proses penyelidikan suatu masalah. Model ini
melibatkan secara optimal seluruh kemampuan peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran untuk mencari atau menyelidiki sesuatu secara sistematis, logis
dan kritis. Kegiatan inkuiri biasa disebut kegiatan penemuan, karena dalam
inkuiri peserta didik akan berusaha menemukan data/informasi mengenai sesuatu
yang belum jelas dan ingin diketahui oleh peserta didik (Irmanita, 2018).
Metode pembelajaran inquiry adalah salah satu
metode pembelajaran yang menitikberatkan proses pembelajaran pada keterlibatan
siswa secara langsung dan maksimal (Sugiarta & Ratnani, 2017). Metode pembelajaran inquiry sebagai sebuah cara pendidik dalam membimbing
peserta didik membangun pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai materi
pelajaran, membekali dan mengarahkan peserta didik menuju pembelajaran yang
bebas (Umamah, n.d.).
Metode pembelajaran inquiry memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam pemecahan suatu masalah,
sehingga pengalaman yang didapat peserta didik dapat bermakna (Zahro & Umamah, n.d.) (Sumardi et al., 2018). Inkuiri
termasuk dalam kelompok model pengolahan informasi, dimana
model pembelajaran ini lebih menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang
terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan
kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Metode inkuiri memiliki tujuan
atau kegunaan tertentu di antaranya adalah; (1) mengembangkan sikap,
keterampilan siswa untuk mampu memecahkan masalah serta mengambil keputusan
secara objektif dan mandiri; (2) mengembangkan kemampuan berpikir para siswa
yang terdiri atas serentetan keterampilan-keterampilan yang memerlukan latihan
dan pembiasaan; (3) melatih kemampuan berpikir melalui proses alam situasi yang
benar-benar dihayati; dan (4) mengembangkan sikap ingin tahu, berpikir
objektif, mandiri, kritis, analitis, baik secara individual maupun berkelompok.
Berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya,
menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Namun jalannya metode
inkuiri tak lepas dari peranan guru di dalamnya. Terdapat peran guru dalam
pelaksanaan metode pembelajaran inkuiri yakni sebagai motivator, fasilitator,
penanya, administrator,
pengaruh manager, dan sebagai rewarder (pemberi penghargaan). Selain itu tujuan
pembelajaran dengan menggunakan metode inkuri adalah
untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis
atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian proses mental.
Sehingga, model inkuiri tidak hanya dituntut
agar siswa menguasai materi pelajaran, tetapi lebih dari itu bagaimana siswa
dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara optimal (Nm, 2018). Inkuiri menempatkan peserta
didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003). Menurut (Usman, Abdulrahman, & Usman, 2009) inkuiri adalah suatu cara
penyampaian pelajaran dengan penelaahan sesuatu yang bersifat mencari secara
kritis, analisis dan argumentatif (ilmiah) melalui langkah- langkah tertentu
menuju suatu kesimpulan. Dalam hal ini, inkuiri dapat dilakukan secara
individual atau kelompok baik di dalam maupun di luar kelas. Sedangkan menurut (Sudjana, 2001) menyatakan bahwa inkuiri merupakan strategi
mengajar yang berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah. Strategi
ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan
dalam pemecahan masalah sehingga siswa betul-betul menjadi subjek belajar (Nurjamaliah Ismail, 2018).
B.
Hasil Peneltian
SMA Negeri 9 Cirebon merupakan sekolah negeri yang
saat ini statusnya dibawah naungan Pemerintah
Provinsi Jawa Barat yang di diri kan pada
05 Januari 1999 dengan memiliki SK Izin Oprasional nomor :001a/O/1999 beralamat
di jalan Pramuka Kebon Pelok Harjamukti
Kota Cirebon yang sudah
terakreditasi “A” dengan nomor NPSN:20222167. SMA Negeri 9 Cirebon yang di pimpin oleh seorang kepala
sekolah bernama Drs.Dodi Rosnaedi,MM
memiliki program IPA dan Program IPS dengan jumlah rombongan belajar sebanyak
26 rombongan belajar yang masing-masing kelas memiliki jumlah siswa minimal 34
siswa. Kelas X memiliki 10 rombongan belajar, kelas XI memiliki 8 rombongan
belar, dan kelas XII memiliki 8 rombongan belajar. Pada Peneltian
ini mengambil data dari Kelas XI IPS 2 sebanyak 34 siswa dengan pengolahan data
hasil evaluasi pembelejaran yang dilakukan pada Pra
Siklus I, Sikulus I dan Siklus II. Dengan Hasil
Pengolahan Nilai Hasil Evaluasi Pembelajaran pada Pra Siklus dilaksanakan pada
Kamis,21 Februari 2019. Sedangkan untuk Siklus I dengan menggunakan metode
pembelajaran Inquiry dilaksanakan pada Kamis, 21
Maret 2019 untuk penilian kesatu dan Kamis,4 April
2019 untuk penilian kedua. Kemudian Pelaksanakan Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis, 25 April 2019 dan pada hari Kamis, 9
Mei 2019 yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel.1 Hasil Evaluasi Pembelajaran
|
Data Nilai
Hasil Evaluasi Pembelajaran |
|||||||
|
|
Pra Siklus I |
Siklus I |
Siklus II |
||||
|
Ke-1 |
Ke-2 |
|
Ke-1 |
Ke-2 |
|
||
|
Jumlah |
2140 |
2393 |
2654 |
2523,5 |
2582 |
2722 |
2652 |
|
Rerata |
62,94 |
70,38 |
78,06 |
74,22 |
75.94 |
80.06 |
78.00 |
|
Prosentase Ketuntasan |
14,71% |
29,41% |
100 % |
44,12% |
61.76 |
100% |
94.12 |
Berdasarkan tabel diatas yang telah menggunakan model pembelajaran Inquiry pada siklus
II untuk penilaian secara perorangan/pribadi tertulis dengan nilai tertinggi
yaitu 86 dan nilai terendahnya yaitu 70, dengan jumlah nilai
2582, rata-rata kelas 75,94 serta prosestase
sebesar 61,76 %. Dari jumlah
34 siswa yang mendapat nilai tuntas sebanyak
21 siswa, dan yang belum tuntas sebanyak 13 siswa. Pada Penilaian
secara kelompok pada siklus II ini dari jumlah 34 siswa yang mendapat nilai tuntas sebanyak 34 siswa, artinya tuntas semua. Pada
Siklus II terdapat penggabungan
nilai perorangan dan kelompok kemudian mendapatkan nilai hasil penjumlahan sebesar 2652 dan nilai rata-rata
kelas 78 serta dengan prosentase ketuntasan sebesar 94,12%. Melihat data ini terdapat kenaikan yang signifikan dimana pada Siklus I prosentase
ketuntasan sebesar 44,12% sedangkan pada Siklus II prosentase ketuntasan sebesar 94,12% sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar dari Pra Siklus I, Siklus I, dan Siklus II.
Sehingga kalau ditunjukkan pada grafik dibawah ini sebagai hasil dari peningkata hasil belajar dengan menggunakan metode pembelajaran Inquiry pada mata pelajaran sejarah dengan materi
strategi strategi pergerakan
nasional.
C.
Kendala dan Solusi dalam pembelajaran
Kendala
yang dihadapi SMA Negeri 9 Cirebon dalam pembelajaran sejarah adalah karena
motivasi dan minat belajar siswa yang masih rendah sehingga guru harus memiliki
strategi dan upaya dengan menggunakan berbagai model pembelajaran agar
pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik oleh siswa. Banyaknya
siswa dari kalangan ekonomi menengah dan permasalahan keadaan keluarga yang
kurang harmonis menyebabkan siswa kurang bersemangat dalam belajar sehingga
hanya memiliki target
belajar hanya tuntas sebatas KKM sehingga guru harus melakukan pembinaan dan
bimbingan agar dalam pembelajaran mecapai nilai yang
maksimal. Keterbatasan
quota internet yang dimiliki siswa bila terjadi
penugasan jika mencari referensi dari internet dan sumber buku lainnya,
sehingga guru hanya memfasilitasi referensi dari buku yang ada diperpustakaan sekolah.
KESIMPULAN
Agustin, Ayu, & Naim, Mohammad. (2015). PENERAPAN METODE
PEMBELAJARAN INQUIRY DENGAN PENILAIAN DIRI UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL
BELAJAR SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS XI SOS 1 DI SMA NEGERI 2 TANGGUL TAHUN AJARAN
2014/2015. UNEJ JURNAL, 1, 1–8. Google Scholar
Irmanita, Widyavera.
(2018). PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK. Paper Knowledge, 7(2),
107–115. Google Scholar
Mansoer, Mohammad Tolchah. (1977). Pembahasan beberapa aspek tentang kekuasaan-kekuasaan eksekutif dan legislatif Negara Indonesia. Universitas Gadjah Mada. Google Scholar
Mulyasa, Enco. (2003).
Menjadi kepala sekolah profesional dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK.
Google
Scholar
Munirah. (2015).
Sistem Pendidikan Di Indoensia: antara keinginan dan realita. Auladuna, 2(2),
233–245. Google Scholar
Nm, Siti Rahuyu.
(2018). PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA DALAM
PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA MUHAMMADIYAH 1 TAMAN SIDOARJO. Alif Laam Miim,
1, 192–200. Google Scholar
Nurjamaliah Ismail.
(2018). Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas Xi Ips-1 Sma
Negeri 12 Banda Aceh Pada Pembelajaran Sejarah Melalui Penggunaan Metode
Inkuiri. Visipena Journal, 9(1), 173–192.
https://doi.org/10.46244/visipena.v9i1.451. Google Scholar
Sanjaya, Ridwan.
(2006). Membuat Katalog Komersial dengan Flash 8. Elex Media Komputindo.
Google
Scholar
Sitorus, Syahril.
(2013). Peningkatan Ketrampilan Berpikir Kritis Dan Hasil Belajar IPS Melalui
Pendekatan Inkuiri Siswa Kelas IV SD Negeri 106816 MARINDAL II Kecamatan
Patumbak. Jurnal Tematik, 3(1). Google Scholar
Sudjana, Grita.
(2001). USULAN MODEL PENGEMBANGAN PENDIDIKAN PROFESIONAL KEPERAWATAN: Studi
Kasus Praktek Klinik Keperawatan Siswa Praktikan Sekolah Perawat Kesehatan di
RSUP Dr. Hasan Sadikin. Universitas Pendidikan Indonesia. Google
Scholar
Sugiarta, Made Manik,
& Ratnani, Dewa Ayu Sri. (2017). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri
dengan Media Pembelajaran Video Partisipasi Terhadap keterampilan Proses Sains
SMA Negeri 7 Denpasar. Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP), 7(1). Google
Scholar
Sumardi, Umamaj,
Nurul, & Azizah. (2018). Efektifitas media pembelajaran stop motion
berbasis inquiry dalam pembelajaran sejarah di era revolusi industri 4.0. Seminar
Nasional Sejarah Ke 4 Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang,
216–227. Google Scholar
Syaiful, Bahri
Djamarah, & Aswan, Zain. (2006). Strategi belajar mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta. Google Scholar
Umamah, Nurul. (n.d.).
EFEKTIFITAS MEDIA PEMBELAJARAN STOPMOTION BERBASIS INQUIRY DALAM
PEMBELAJARAN SEJARAH DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0. Google Scholar
Usman, Hamidu,
Abdulrahman, Fanna Inna, & Usman, Abubakar. (2009). Qualitative
phytochemical screening and in vitro antimicrobial effects of methanol stem
bark extract of Ficus thonningii (Moraceae). African Journal of Traditional,
Complementary and Alternative Medicines, 6(3). Google Scholar
Wiranata, A., Ibrahim,
N., & ... (2019). Pengaruh Kemampuan Analisis dalam Model Pembelajaran
Inkuiri terhadap Hasil Belajar Kognitif. Prosiding, 36–43. Google
Scholar
Zahro, A., &
Umamah, N. (n.d.). Suranto. 2014. Penerapan Metode Pembelajaran Inquiry
Terbimbing ( Guided Inquiry) Untuk Meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar
Sejarah Peserta Didik Kelas XI-IIS, 2. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted
for possible open access publication under the terms and conditions of the
Creative Commons Attribution (CC BY SA) double license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |