UIN SATU Tulungagung, indonesia
andreandimasanggaraputra07@gmail.com
|
Received: 01-09-2022 Revised : 10-09-2022 Accepted: 20-09-2022 |
Abstrak Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, pemerintah daerah Tulungagung membangun Pujasera yang dinamai dengan Wisata Kuliner Ngrowo Water Front. Pembangunan Pujasera Pinggir Kali Ngrowo Water Front ini memberikan peran yang baik terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sejarah terbentuknya pujasera di kawasan kali ngrowo ini, dampak dari segi perekonomian yang dirasakan pedagang dari pembangunan pujasera ini, permasalahan apa yang kerap dihadapi setelah pindah ke pujasera dari sebelumnya berdagang pinggir jalan dan solusi yang pedagang tawarkan dari permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peran dari adanya pembangunan pujasera pinggir kali Ngrowo Water Front terhadap pemberdayaan perekonomian masyarakat di desa Kutoanyar. Pembangunan wisata menambah wirausaha baru, mengurangi pengangguran, menciptakan lapangan pekerjaan khususnya bagi warga bantaran sungai Ngrowo yang memanfaatkan kios yang telah disediakan oleh pemerintah. Kata Kunci: Perekonomian; Pembangunan; Pujasera; Masyarakat |
|
|
|
|
|
|
|
Abstract (English) |
|
|
|
Tourism is an inseparable part of human life, especially regarding social and economic activities. In moving the community's economy, the local government of Tulungagung built a food court called
the Ngrowo Water Front Culinary Tourism. The development
of the Pujasera on the
edge of the Ngrowo Water Front provides a good role in empowering the community's economy. The purpose of this study is to find
out the history of the
establishment of food courts in the Kali Ngrowo area, the economic impact felt by
traders from the development of this food
court, what problems are often faced after moving
to the food court from
previously trading on the roadside
and the solutions that traders offer from the problems
they have faced. faced. This research uses a qualitative approach. The results of the study show that there is
a role for the development of a food court
on the edge of the
Ngrowo Water Front to empower the economy
of the community in Kutoanyar village. Tourism development adds new entrepreneurs,
reduces unemployment, creates jobs, especially for residents along the Ngrowo river
who take advantage of kiosks that have
been provided by the government. Keywords: Economy; Development; Pujaser;, Society |
|
*Correspondent Author : Andrean
Dimas Anggara Putra
Email :
andreandimasanggaraputra07@gmail.com
PENDAHULUAN
Pariwisata merupakan berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta pelayanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah (Pasal 1 ayat 3 UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisata). Dalam UU tersebut wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. 1 Dengan demikian, pariwisata merupakan serangkaian kegiatan perjalanan yang dilakukan baik perorangan atau berkelompok dari tempat tinggal asalnya ke berbagai tempat lain dengan tujuan melakukan kunjungan wisata dan bukan untuk bekerja atau mencari penghasilan di tempat tujuan. (Damanik, 2013) Sektor pariwisata yang pada saat ini telah berkembang menjadi salah satu industri terbesar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia (Saifullah, 2012) (Al-Arif & Hamidawati, 2011), ini dapat dilihat dari meningkatnya perkembangan jumlah kunjungan wisatawan. Pengunjung yang dimaksud dengan pengunjung (visitors) adalah orang-orang yang datang pada suatu negara tetapi bukan untuk tujuan menetap dan hanya tinggal untuk sementara waktu (temporary stay) tanpa mencari nafkah di negara yang ia kunjungi.
Kontribusi sektor pariwisata melalui sektor perdagangan dan cafe-cafe juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Keberadaan Kali Ngrowo di Desa Kutoanyar membuat masyarakat setempat memanfaatkan sebagai tempat Wisata serta dengan dibangunnya Wisata Pujasera menjadi menjadikan Kali Ngrowo sebagai destinasi wajib dikunjungi wisatawan saat berada di Tulungagung. Dengan hal itu ekonomi masyarakat Desa Kutoanyar meningkat sejak adanya Wisata Pujasera yang dibangun oleh pemerintah setempat serta dikembangkan dan diberdayakan oleh pemerintahan Kutoanyar sejak tahun 2014 sampai sekarang. Optimalisasi pemanfaatan SDA Wisata Pujasera Kali Ngrowo Desa Kutoanyar, dengan mengembangkan dan memperkenalkan kekayaan alamnya yaitu Kali Ngrowo sebagai objek untuk para pengunjung menikmati keindahan Kali Ngrowo. Antusias masyarakat dan pemerintah dalam pengembangan wisata tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap jumlah pengunjung yang semakin hari semakin meningkat. Di sinilah peran pemerintah desa membuat wisata tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sehingga Prospek lapangan pekerjaan bagi masyarakat Desa Kutoanyar sangat meningkat.
Pada survei awal peneliti melakukan wawancara dengan beberapa masyarakat diantaranya Bapak Junaidi, sebagai masyarakat yang bertempat tinggal dan pedagang di Wisata Pujasera yang berjualan bakso bakar, Sebelum adanya Wisata Pujasera masyarakat bekerja sebagai buruh pabrik yang berpenghasilan rendah. Setelah adanya Wisata Pujasera pendapatan masyarakat menjadi meningkat sebagai pedagang di Wisata Pujasera. Peneliti juga wawancara dengan Ibu Liana, sebagai masyarakat yang berdagang di Wisata Pujasera, dulunya sebagai ibu rumah tangga setelah adanya Wisata Pujasera, hingga saat ini telah mampu menambah pendapatan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan juga membiayai anak sekolah, yang berjualan jenis makanan dan minuman. Wisata Pujasera telah mampu mengubah kehidupan masyarakat sekitar Kali Ngrowo Desa Kutoanyar. Berdasarkan latar belakang di atas, pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam menggerakkan perekonomian global (Muhammad, 2017). Selain itu, pengembangan pariwisata juga dinilai mampu berpengaruh positif mengatasi permasalahan negara, seperti kemiskinan dan pengangguran. Melihat hubungan dan pengaruh positif tersebut, berbagai daerah di Indonesia termotivasi untuk mengembangkan potensi pariwisatanya.
Idealnya,
pembangunan pariwisata sebagai suatu industri hendaknya selain dapat
meningkatkan perolehan devisa, tetapi juga dapat memberikan kemakmuran (Kuncoro, 2018),
dapat meningkatkan kesejahteraan orang banyak. Semua itu hanya akan dicapai
bila industri pariwisata dikembangkan secara terencana, dikelola secara professional, ber keseimbangan
dan berkelanjutan (sustainable tourism development),
dilakukan secara ketat, sehingga dampak negative
dapat diminimalisir. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui sejarah terbentuknya pujasera
di kawasan kali ngrowo ini, dampak dari segi perekonomian yang dirasakan
pedagang dari pembangunan pujasera ini, permasalahan
apa yang kerap dihadapi setelah pindah ke pujasera
dari sebelumnya berdagang pinggir jalan dan solusi yang pedagang tawarkan dari
permasalahan yang dihadapi.
METODE PENELITIAN
Metode
penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Jenis penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif yaitu memberikan gambaran tentang perekonomian masyarakat
pasca pembangunan pujasera di Kali Ngrowo. Dalam penelitian ini data primer diperoleh langsung
dari pemerintah desa yang dilakukan melalui observasi dan wawancara. Adapun
sumber data yang dipakai oleh peneliti untuk melengkapi data tersebut adalah
informan dengan jumlah informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 4 orang,
dengan rincian; perangkat desa 1 orang, pedagang
sekitar 2 orang dan masyarakat sekitar sebanyak 1 orang. Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dan studi lapangan (observasi
dan wawancara). Langkah-langkah analisis data adalah pengumpulan data,
reduksi data, penyajian data (data display) dan
Penarikan kesimpulan (conclusion drawing/verifikasi)
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Sejarah Terbentuknya
Pujasera Di Kawasan Kali Ngrowo
Upaya mencapai kesejahteraan masyarakat diperlukan suatu upaya yang dinamakan pembangunan (Mufidah & Adi, 2018). pembangunan fisik dipandang sebagai pembangunan yang jarang menyentuh aspek pembangunan manusia. Berbeda dengan upaya yang ditempuh Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung. Pembangunan fisik dilakukan untuk mendukung adanya pembangunan manusianya. Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung, tidak semata hanya menciptakan sarana rekreasi atau wisata bagi masyarakat. Tujuan utamanya adalah meningkatkan perekonomian masyarakat dengan melaksanakan pembangunan tersebut, oleh karenanya didirikanlah wisata kuliner berupa pujasera di bantaran Sungai Ngrowo. Pujasera ini kemudian dinamai dengan sebutan “Wisata Kuliner Ngrowo Water Front” (Fitria, n.d.).
Area Pujasera kuliner Ngrowo Water Front ini, berdiri kios-kios kaki lima memanjang di bantaran Sungai Ngrowo sepanjang sekitar 1 KM. Wisata kuliner Ngrowo Water Front ini tepatnya terletak di Desa Kutoanyar Kabupaten Tulungagung. Berbeda dengan wisata kuliner pada umumnya yang mengelompok dalam satu area indoor, wisata kuliner Ngrowo Water Front dibangun outdoor dengan pemandangan sungai, Ruang Terbuka Hijau (RTH), dan lampu hias. Sasaran utama dari pembangunan wisata kuliner Ngrowo Water Front ini merupakan masyarakat sekitar bantaran Sungai Ngrowo. Meskipun pemerintah daerah tidak menutup kesempatan bagi siapa pun masyarakat yang berminat untuk memanfaatkan wisata kuliner Ngrowo Water Front. Menurut penuturan ketua paguyuban pedagang wisata kuliner Ngrowo Water Front, dari keseluruhan pedagang di wisata kuliner Ngrowo Water Front sekitar 75 persen adalah dari penduduk sekitar Sungai Ngrowo, sedangkan 25 persen sisanya adalah masyarakat dari luar kawasan bantaran Sungai Ngrowo.
Pembangunan dilaksanakan bagi masyarakat yang berminat terhadap wisata kuliner Ngrowo Water Front, kemudian masyarakat dikumpulkan untuk melakukan musyawarah mempersiapkan pembangunan wisata kuliner. Proses perencanaan dan persiapan pembangunan dilaksanakan dengan memberikan pengarahan bagi calon penerima manfaat. Calon penerima manfaat mendaftar dengan menggunakan KTP serta mendaftar jenis makanan yang akan dijualnya. Pemerintah juga membentuk paguyuban pedagang untuk mengelola dan mewadahi aspirasi dari pedagang yang ada di wisata kuliner Ngrowo Water Front. Selanjutnya, pembukaan secara resmi dilakukan pada tanggal 31 Desember 2014 pada malam pergantian tahun baru berikut dengan penyerahan kios secara resmi. Fasilitas yang diberikan berupa kios, tenda, gerobak dagangan, meja dan kursi, gerabah (piring, gelas, sendok), listrik dan pengairan diberikan gratis kepada pedagang yang telah menempati kios. beragam makanan kuliner dijual oleh pedagang disepanjang pujasera Ngrowo Water Front. Untuk memperkuat kemampuan pedagang dalam berwirausaha, pendampingan dilakukan dalam bentuk pelatihan, pembinaan, dan kontrol, dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Program pelatihan dilakukan untuk mengembangkan skill pedagang, seperti pelatihan memasak, penyajian dan menejemen penjualan yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tulungagung. Pelatihan dilaksanakan dua kali yang bertempat di Hotel Narita serta di aula kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
2.
Dampak Dari Segi Perekonomian yang dirasakan
Pedagang dari Pembangunan Pujasera di Kali Ngrowo
Dampak diartikan sebagai adanya suatu benturan antara dua kepentingan, yaitu kepentingan pembangunan proyek dengan kepentingan usaha melestarikan kualitas lingkungan yang baik. (Gunawan,2014) Sebagai sumber devisa yang diperhitungkan pariwisata hendaknya mampu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam rangka mencapai kesejahteraan yang diinginkan, pendapat ini dikemukakan mengingat dalam kehidupan didominasi oleh pandangan yang berorientasi pada pembangunan semata (development oriented), sehingga tidak jarang pembangunan yang lebih menekankan pada kepentingan masyarakat menjadi terlewatkan dan nilai-nilai kemanusiaan (humanism) menjadi terabaikan. Pembangunan Pujasera Pinggir Kali Ngrowo Water Front memberikan dampak terhadap perkembangan ekonomi masyarakat sekitar bantaran sungai Ngrowo, hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Bapak Miswan selaku perangkat desa, beliau menuturkan bahwa dampak adanya pembangunan adalah sangat membantu pemerintah desa Kutoanyar karena menambah pendapatan masyarakat khususnya warga yang ber kediaman di sekitar bantaran sungai Ngrowo. Menambah semangat masyarakat untuk belajar berwirausaha dan mengurangi pengangguran yang ada di desa Kutoanyar. Bukti dari adanya dampak positif tersebut adalah banyaknya Ibu rumah tangga yang memulai usaha baru dengan berdagang di kios yang telah disediakan.
Hasil penelitian terkait dampak dari adanya pembangunan wisata kuliner pinggir kali Ngrowo Water front juga diperoleh dari Ibu Liana selaku salah satu pedagang di wisata kuliner pinggir kali. Dampak dari pembangunan wisata kuliner terdiri dari dua aspek, yakni dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat adalah akses jalan yang saat ini jauh lebih bagus dari sebelum adanya pembangunan, harga tanah mengalami kenaikan karena termasuk pinggir jalan raya yang dilalui pengunjung, pendapatan masyarakat bantaran sungai Ngrowo mengalami peningkatan dan perubahan ekonomi, serta mengurangi pengangguran sekaligus menambah kegiatan Ibu rumah tangga yang dapat meningkatkan pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari.
Dampak negatif dari adanya pembangunan wisata kuliner Pinggir Kali adalah apabila kios tidak dimanfaatkan dengan maksimal oleh warga sekitar sungai Ngrowo dan masyarakat yang berhak menempati maka justru membuang anggaran daerah yang telah digunakan untuk membangun wisata kuliner, selain itu kios yang tidak terpakai mengganggu keindahan di lingkungan wisata kuliner pinggir kali Ngrowo Water Front. Pembangunan sektor pariwisata di berbagai belahan dunia ini telah berdampak pada berbagai dimensi kehidupan manusia, tidak hanya berdampak pada dimensi sosial ekonomi semata (Fauzia, 2015). (Freudenthal, 2006) Namun juga menyentuh dimensi sosial, budaya, bahkan lingkungan fisik. Dampak terhadap berbagai dimensi tersebut, bukan hanya bersifat positif, tetapi juga berdampak negatif. Dampak dari pembangunan terhadap pemberdayaan masyarakat sesuai dengan teori dari Michael Todaro (Madya, 2011) yang menyatakan bahwa pembangunan diartikan sebagai proses dimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap-sikap mental yang terbiasa, dan lembaga nasional termasuk pula percepatan atau akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangan, dan pemberantasan kemiskinan absolut, teori sesuai dengan hasil penelitian peneliti bahwa dampak pembangunan dari Pujasera Kali Ngrowo memberikan perubahan terhadap masyarakat dari segi ekonomi dan pengurangan pengangguran (Sholahuddin, 2007).
3. Permasalahan Serta Solusi yang dihadapi pedagang setelah pindah ke pujasera dari sebelumnya berdagang pinggir jalan
Pembangunan Pujasera kuliner Pinggir Kali Ngrowo Water Front memberikan peran yang baik kepada masyarakat bantaran sungai Ngrowo. Peran yang sangat menonjol adalah dari segi ekonomi yang mengalami perubahan cukup signifikan. Pembangunan wisata yang telah dilakukan selain memberikan peran kepada masyarakat juga masih memiliki banyak permasalahan yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah daerah khususnya. Kendala yang dihadapi sesuai hasil wawancara peneliti dengan Bapak Miswan selaku perangkat desa adalah kurangnya lahan parkir dikarenakan lokasi yang berdekatan langsung dengan jalan raya yang dilalui pengunjung, hal tersebut menyebabkan sebagian pengunjung enggan untuk berhenti sekedar membeli makanan atau mengobrol karena jalan yang sangat ramai dan padat. Lahan parkir yang kurang memadai bukan menjadi masalah utama dari adanya wisata kuliner pinggir kali, karena masih ada kendala lain yaitu sungai yang kumuh, sungai Ngrowo menjadi salah satu sungai andalan di Kabupaten Tulungagung, namun karena berdekatan dengan pabrik atau industri yang beroperasi di desa Gedang sewu sering menyebabkan sungai ini kotor dan berbau tidak enak karena menjadi salah satu tempat pembuangan limbah pabrik. Sungai yang tidak bersih ini juga menjadi salah satu kendala bagi pedagang di wisata kuliner Ngrowo karena mengganggu kenyamanan pengunjung.
Bapak Miswan juga menuturkan kendala lain berupa fasilitas tempat sampah yang kurang memadai, tempat sampah yang sebagian besar sudah rusak menyebabkan banyak sampah berserakan di sekitar sungai Ngrowo. Kendala lain yang dihadapi adalah belum adanya jembatan penghubung di daerah bagian selatan, hal ini menyebabkan sepi dari pengunjung karena wisata kuliner bagian utara bisa langsung menuju pusat kota, dan strategis dari berbagai arah, namun bagian selatan kurang ramai dikunjungi karena tidak ada jembatan penghubung menuju daerah kota, menurut hasil paparan dari Bapak Miswan bahwa beberapa tahun ke depan akan dibangun jembatan permanen di daerah selatan yang bisa langsung menuju daerah kota yaitu lurus ke barat menuju SMPN 5 Tulungagung. Hasil wawancara peneliti berlanjut dengan Bapak Junaidi selaku pedagang di wisata kuliner pinggir kali menuturkan bahwa kendala yang dihadapi selama ini adalah kurangnya area parkir, karena lokasi kios yang langsung berhadapan dengan jalan raya, selain itu penempatan tempat sampah yang berdekatan dengan lokasi kiosnya berjualan sangat mengganggu kenyamanan, beliau menuturkan bahwa seharusnya penempatan lokasi tempat sampah jauh dari area jual beli para pedagang. Pedagang membutuhkan lokasi yang nyaman dan strategis untuk berdagang wisata kuliner, selain lokasi parkir dan tempat sampah, pedagang menuturkan bahwa terkadang timbul rasa tidak nyaman karena kios yang sekarang ditempati adalah milik pedagang lain yang tidak berasal dari wilayah Kutoanyar, karena didirikannya wisata ini adalah selain untuk warga Kutoanyar bantaran sungai juga untuk pedagang yang berasal dari pujasera (pusat jajan selera rakyat) pasar Ngemplak.
Keluh kesah pedagang adalah tidak seperti kesepakatan awal, bahwa ketika tidak dipakai selama 3 bulan, maka kios tersebut kembali diambil alih pemerintah, namun kenyataannya banyak warga dari daerah lain yang awalnya menjadi pemilik kios, karena wisata kuliner belum ramai pengunjung maka kios tersebut dibiarkan selama ber bulan-bulan, dan saat wisata kuliner ramai, kios tersebut ingin diambil alih oleh pemilik awal, hal itu tentu tidak sesuai kesepakatan di awal. Warga bantaran yang bukan pemilik kios merasa ada ke tidak adilan karena tidak ada hitam di atas putih atau bukti kepemilikan kios, hal tersebut dapat menjadi perselisihan berbuntut panjang apabila wisata kuliner telah ramai pengunjung. Hasil pemaparan narasumber yang merupakan salah satu masyarakat sekitar sungai Ngrowo menuturkan bahwa permasalahan yang dihadapi adalah setelah dibangunnya Pujasera Pinggir Kali Ngrowo Water Front banyak anak muda yang berkeliaran tengah malam di sekitar kediaman penduduk, perilaku anak-anak muda tersebut sering mengganggu kenyamanan warga sekitar, selain berkeliaran tengah malam, anak-anak muda juga banyak yang naik kendaraan dengan kecepatan tinggi, bahkan tidak jarang area jalan pinggir kali dipakai untuk balap motor oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Pembangunan Pujasera Ngrowo Water Front telah memberikan banyak perubahan bagi ekonomi masyarakat dan wilayah yang mengalami pertambahan tingkat keramaian. Perubahan yang ada tentunya belum sepenuhnya sempurna masih ada yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, pembangunan membutuhkan beberapa tahap sampai mencapai titik sempurna seperti yang diinginkan, hal ini sesuai dengan teori pembangunan bahwa pembangunan membutuhkan beberapa tahap sampai mencapai tujuan yang diinginkan. Permasalahan dari pembangunan sesuai dengan teori dari Kinanti Geminastiti bahwa Pembangunan Ekonomi merupakan pekerjaan rumah yang begitu besar bagi pemerintah. Dalam prosesnya, hal itu membutuhkan sebuah perencanaan yang matang agar pembangunan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
KESIMPULAN
Pembukaan Pujasera secara resmi dilakukan pada tanggal 31 Desember 2014 pada malam pergantian tahun baru berikut dengan penyerahan kios secara resmi. Fasilitas yang diberikan berupa kios, tenda, gerobak dagangan, meja dan kursi, gerabah (piring, gelas, sendok), listrik dan pengairan diberikan gratis kepada pedagang yang telah menempati kios. beragam makanan kuliner dijual oleh pedagang di sepanjang pujasera Ngrowo. Wisata kuliner berupa pujasera di bantaran Sungai Ngrowo. Pujasera ini kemudian dinamai dengan sebutan “Wisata Kuliner Ngrowo Water Front”. Area Pujasera kuliner Ngrowo Water Front ini, berdiri kios-kios kaki lima memanjang di bantaran Sungai Ngrowo sepanjang sekitar 1 KM. Wisata kuliner Ngrowo Water Front ini tepatnya terletak di Desa Kutoanyar Kabupaten Tulungagung. Dampak dari pembangunan wisata kuliner terdiri dari dua aspek, yakni dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat adalah akses jalan yang saat ini jauh lebih bagus dari sebelum adanya pembangunan, harga tanah mengalami kenaikan karena termasuk pinggir jalan raya yang dilalui pengunjung, pendapatan masyarakat bantaran sungai Ngrowo mengalami peningkatan dan perubahan ekonomi, serta mengurangi pengangguran sekaligus menambah kegiatan Ibu rumah tangga yang dapat meningkatkan pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari. Dampak negatif dari adanya pembangunan wisata kuliner Pinggir Kali adalah apabila kios tidak dimanfaatkan dengan maksimal oleh warga sekitar sungai Ngrowo dan masyarakat yang berhak menempati maka justru membuang anggaran daerah yang telah digunakan untuk membangun wisata kuliner, selain itu kios yang tidak terpakai mengganggu keindahan di lingkungan wisata kuliner pinggir kali Ngrowo Water Front.
Permasalahan yang dihadapi dari pembangunan Pujasera pinggir kali Ngrowo water front terhadap perekonomian ekonomi masyarakat di bantaran Sungai Ngrowo Desa Kutoanyar Tulungagung adalah fasilitas yang kurang memadai seperti belum ada tempat parkir yang cukup untuk menjaga keamanan pengunjung, rusaknya sebagian tempat sampah menyebabkan sebagian lokasi menjadi kumuh, sungai yang sering mengeluarkan bau tidak enak menyebabkan ke tidak nyamanan pengunjung, belum ada jembatan penghubung untuk wilayah selatan menyebabkan wisata bagian selatan jarang dikunjungi karena tidak ada akses menuju ke kota. Kendala lain yang dihadapi oleh para pedagang khususnya adalah kios yang tidak ada hitam di atas putih, hanya pendataan oleh dinas terkait, beberapa kios tidak digunakan karena pemilik kios kurang produktif dan tidak berasal asli dari wilayah desa Kutoanyar, sehingga enggan untuk berjualan, dan rasa keamanan masyarakat yang sedikit terganggu karena banyak anak muda yang berkeliaran hingga larut malam untuk menghabiskan malam dengan melakukan balap motor dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Kendala dari adanya pembangunan wisata kuliner pinggir kali masih cukup banyak, antara lain area parkir yang kurang, belum adanya jembatan permanen di daerah selatan, kurangnya fasilitas, kurangnya kebersihan sungai, dan hak kepemilikan kios yang harus tertulis dan tertata dengan baik.
Al-Arif, M. Nur Rianto, & Hamidawati, Rachmi N. (2011). Dasar-dasar
ekonomi Islam. Era Adicitra Intermedia. Google
Scholar
Damanik, Janianton.
(2013). Pariwisata Indonesia; antara peluang dan tantangan. Google Scholar
Fauzia, Ika Yunia.
(2015). Membangun Ekonomi Pedesaan Dengan Financial Inclusion Melalui Lembaga
Keuangan Shariah. Jurnal Al-Nisbah, 1(2). Google
Scholar
Fitria, Elva. (n.d.). FAKTOR
PENDUKUNG DAN FAKTOR PENGHAMBAT PEDAGANG DALAM PEMANFAATAN KIOS WISATA KULINER
NGROWO WATER FRONT. Google Scholar
Freudenthal, Hans.
(2006). Revisiting mathematics education: China lectures (Vol. 9).
Springer Science & Business Media. Google
Scholar
Kuncoro, Mudrajad.
(2018). Perencanaan Pembangunan. Gramedia Pustaka Utama. Google Scholar
Madya, Suwarsih.
(2011). Penelitian Tindakan (Action Research) Teori dan Praktik Bandung:
Alfabeta. Google Scholar
Mufidah, Atiek Difa,
& Adi, Isbandi Rukminto. (2018). Pemberdayaan masyarakat oleh PT Nestle
Indonesia melalui kelompok sapi perah Budi Luhur. Jurnal Ilmu Kesejahteraan
Sosial (Journal of Social Welfare), 19(2), 109–131. Google Scholar
Muhammad, Fahmi.
(2017). Pesona Kearifan Lokal Sebagai Wahana Peningkatan Produktifitas Ekonomi
Masyarakat. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran Dan Dakwah Pembangunan,
1(2), 275–294. Google Scholar
Saifullah, Edyson.
(2012). Ekonomi Pembangunan Islam. Bandung: Gunungdjati Press. Google Scholar
Sholahuddin, Muhammad.
(2007). Asas-asas ekonomi Islam. PT Raja Grafindo Persada. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |