PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENGEMBANGAN  KARAKTER PESERTA DIDIK  PADA MASA PANDEMI COVID 19 DI SMA NEGERI  SIWALIMA AMBON TAHUN PELAJARAN 2020/2021

 

 

Mesenu

Institut Agama Islam Negeri Ambon, Maluku, Indonesia

mesenusag@gmail.com

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

01-09-2022

10-09-2022

20-09-2022

Latar Belakang : Pendidikan yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakarat, bangsa dan Negara.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru PAI dalam pengembangan karakter peserta didik pada masa pandemi Covid-19 di SMA Negeri Siwalima Ambon yang berkaitan dengan 5 (lima) nilai karakter.

Metode : Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif subyek penelitian adalah  Kepala Sekolah, Guru Pendidikan Agama Islam,  peserta didik  dan orangtua wali. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.

Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa  Guru Pendidikan Agama Islam menerapkan pendidikan formal dan informal. Pembentukan karakter didukung oleh peran orang tua dan perkembangan Teknologi Informasi. Sedangkan penghambat  pengembangan karakter peserta didik pada masa pandemi adalah lemahnya pengawasan orang tua terhadap perilaku siswa selama di rumah,  materi pembelajaran  dikaitkan dengan nilai-nilai karakter dan pelaksanaan kegiatan ibadah siswa.

Kesimpulan : Metode belajar yang digunakan adalah dengan cara diskusi interaktif dan memberikan tugas mandiri. Sedang media yang digunakan adalah gadget yang dihubungkan dengan aplikasi Microsoft Teams,WhatApp dan lain-lain. Dalam memberikan nasehat guru Pendidikan Agama Islam menggunakan flyer-flyer yang disebarkan ke peserta didik.Bagi siswa yang lalai mendapat sanksi teguran. Dalam kehidupan sehari-hari Guru memberikan suri tauladan untuk mematuhi protokol kesehatan, rajin beribadah, belajar dan membantu orangtua dirumah.

 

Kata Kunci : Guru Pendidikan Agama Islam; Karakter Peserta Didik; Pengembangan

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Education is stated in Law No. 20 of 2003 concerning the National Education System that Education is a conscious and planned effort to create a learning atmosphere and learning process so that students actively develop their potential to have religious spiritual strength, self-control, personality, intelligence, noble character, as well as the skills needed for themselves, society, nation and State.

Objectives: This study aims to determine the role of PAI teachers in developing the character of students during the Covid-19 pandemic at Siwalima Ambon State High School which is related to 5 (five) character values.

Methods: This research uses a qualitative descriptive method, the research subjects are the Principal, Islamic Religious Education Teachers, students and guardian parents. This study used data collection techniques through interviews, observations and documentation.

Results: The results showed that Islamic Religious Education Teachers applied formal and informal education. Character building is supported by the role of parents and the development of Information Technology. Meanwhile, the obstacle to the character development of students during the pandemic is the weak parental supervision of student behavior while at home, learning materials are associated with character values and the implementation of student worship activities.

Conclusion: The learning method used is by means of interactive discussions and providing independent tasks. While the media used are gadgets that are connected to the Microsoft Teams application, WhatApp and others. In providing advice, Islamic Religious Education teachers use flyers that are distributed to students. For students who neglect to be sanctioned a reprimand. In daily life, teachers provide suri tauladan to comply with health protocols, diligently worship, study and help parents at home.

 

Keywords: Islamic Religious Education Teacher; Learner Character; Development

*Correspondent Author : Mesenu

Email : mesenusag@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Pendidikan yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakarat, bangsa dan Negara. Pendidikan merupakan salah satu jalan membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Namun, dalam proses pendidikan tersebut menghadapi banyak pemasalahan dalam mencapai tujuannya. yakni permasalahan karakter generasi bangsa. Seperti yang telah kita ketahui bagaimana kondisi moral generasi sekarang. Dari maraknya kasus seks bebas di kalangan remaja, tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, bullying, peredaran foto dan video porno, hingga fenomena terbaru yakni kekerasan yang dilakukan seorang siswa terhadap gurunya. Hal tersebut tidak lepas dari muatan nilai-nilai pendidikan karakter yang terambil dari pendidikan agama. Hal ini disebabkan semangat yang diusung dari pendidikan agama dan karakter sebenarnya menuju kepada titik yang sama, yaitu mewujudkan pembentukan dan peningkatan kemampuan spiritual agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. (Halim, 2002) Athiyah al-Abrasyi dalam Nata mengatakan, bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti adalah inti dan jiwa pendidikan Islam. Mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan (Arief, 2005) (Daradjat, 2017).

Pendidikan budi pekerti disebut dengan pendidikan Islam seperti yang sudah termaktub dalam UU No.20 Tahun 2003 bahwa pendidikan memiliki suatu tujuan. Tujuan pendidikan dalam melakukan proses pembelajaran salah satunya membuat perubahan diri pada peserta didik (Abdullah & Rahman, 1991). Peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar mengalami perubahan diri dengan peran seorang pendidik yaitu guru. Guru adalah individu yang berhadapan langsung dengan peserta didik di kelas dalam pembelajaran. Guru memiliki peran penting untuk membuat peserta didik berkualitas baik akademis, keahlian, kematangan emosional, moral serta spiritual. Untuk menunjang semua itu, diperlukan sosok guru yang memiliki kualifikasi, kompetensi, serta dedikasi yang tinggi dalam menyelenggarakan tugasnya. Guru merupakan salah satu elemen kunci dalam system pendidikan, bahkan komponen-komponen lain tidak akan berarti banyak apabila guru dalam proses pembelajaran tidak mampu berinteraksi dengan peserta didik dengan baik dan sempurna. Tugas dan fungsi guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan peserta didik atas hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pendidikan, sehingga dalam proses tersebut terkandung multi fungsi dari guru. Guru sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing memiliki berbagai peranan pada diri guru. Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru, maupun dengan staff yang lain. Kegiatan interaksi berlajar mengajar, dapat dipadang sebagai sentral bagi peranannya. Peranan baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya. Peranan guru pada teori Prey Katz dalam Sadirman menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, sahabat pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan. Peran guru sebagai komunikator untuk menyampaikan informasi, sebagai motivator untuk memberikan nasihat/ semangat belajar peserta didik dan sebagai pembimbing untuk mengarahkan peserta didik. Terutama peran guru pendidikan agama Islam mengajar dan mendidik dengan membimbing, menuntun, memberi tauladan dan membantu mengantarkan anak didiknya ke arah kedewasaan jasmani dan rohani. Agar peserta didik menjadi muslim yang berakhlak mulia yang dapat berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi. (Salahudin & Alkrienciehie, 2013) Pendidikan karakter membentuk dan mengembangkan potensi siswa agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku sesuai dengan falsafah Pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan. (Azzet, 2011) Pendidikan karakter memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaring. Pendidikan karakter memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa dan karakter bangsa yang bermartabat. Dengan demikian pembentukan karakter bangsa ini harus melibatkan sinergitas ketiga komponen pendidikan anatara lain pendidikan informal, formal dan non formal.Ahmad Tafsir mengemukakan bahwasanya guru ialah orang yang punya tanggung jawab pada keberlangsungan proses pertumbuhan dan juga perkembangan potensi pelajar, baik potensi kognitif ataupun psikomotoriknya. Disamping itu dalam menghadapi tantangan zaman yang saat ini memasuki era revolusi industri 4.0 yang sarat akan kemajuan teknologi digitalisasi, penanaman dan penguatan karakter bangsa sangat vital dan mendesak. Berkembanganya nilai-nilai individualistis, hedonis, materialistis dan sebagainya merupakan dampak buruk dari arus globalisasi dan revolusi industri 4.0 tersebut. Apabila ini dibiarkan maka akan memberikan pengaruh buruk bagi kelangsuangan kehidupan berbangsa yang tidak lagi mencerminkan nilai-nilai kepribadian bangsa.Gejala kemerosotan akhlak, dewasa ini bukan saja menimpa kalangan dewasa, melainkan juga telah minimpa kalangan pelajar tunas-tunas muda. Orang tua, para pendidik, dan mereka yang berkecimpung dalam bidang Agama dan sosial, banyak mengeluhkan terhadap perilaku sebagian pelajar yang berperilaku nakal, keras kepala, mabuk-mabukan, tawuran, pesta obat-obatan terlarang.   Berdasarkan KB 4 Menteri, Sekretaris Jendral kementrian pendidikan dan kebudayaan mengeluarakan surat edaran no 15 tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran corona virus disase (covid-19) yang tujuannya adalah memastikan pemenuhan hak anak untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, dan mencegah serta melindungi warga satuan pendidikan dari dampak Covid-19 tersebut. Konsep belajar dari rumah ini direalisasikan dengan istilah belajar moda daring yang memungkinkan tetap adanya interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pembelajaran daring menggunakan kemajuan teknologi informasi dan akses internet.  Pembelajaran daring dilaksanakan sebagai langkah tepat untuk dapat mencegah dan menekan penularan virus Covid-19, peserta didik tidak akan ketinggalan pelajaran sebagaimana yang telah direncanakan dalam kurikulum selama satu tahun ajaran. Oleh karena itu pembelajaran yang dilakukan saat ini bersifat daring yang sifatnya jarak jauh. Kebijakan pembatasan sosial akibat wabah Covid-19, sistem pendidikan online dinilai kurang efektif karena banyak kendala dalam proses pelaksanaannya. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan jaringan koneksi internet di sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini juga berdampak pada proses pemantauan karakter peserta didik, karena kurangnya bertatap muka antara guru dan peserta didik, hingga seorang guru sulit untuk memantau karakter siswa nya (Anggraini, 2015). Peran guru sebagai komunikator memberikan informasi agar dapat memberikan pengarahan berupa motivator maupun bimbingan dalam melaksanakan pembelajaran. Karena dengan pihak sekolah terutama pelaku pendidikan yaitu pendidik dan peserta didik ilmu pengetahuan dan teknologi beriringan melalui proses pembelajaran daring berjalan. Dampak penggunaan gadget untuk proses pembelajaran pasti ada karena peran guru disini untuk membimbing dari kejauhan melalui online dan laporan dari orangtua sebagai pengawas serta pendampingan.

Guru diharapkan mampu memberikan dan menjalankan proses pembelajaran daring sesuai lajunya teknologi informasi terutama sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk melaksan akan pembelajaran online.Sebagai langkah untuk mengoptimalkan penyelenggaraan pendidikan Agama Islam di sekolah utamanya di SMA Negeri Siwalima Ambon, perlu dipertajam visi dan misi pendidikan agama Islam itu sendiri, yaitu “Terbentuknya peserta didik yang memiliki karakter, watak dan kepribadian dengan landasan iman, ketaqwaan serta nilai-nilai ahlak atau budi pekerti yang kokoh tercermin dalam keseluruhan sikap dan prilaku sehari-hari, untuk selanjutnya memberi corak bagi pembentukan watak bangsa”. Berdasar standar mutu dan pedoman implementasi pembelajaran di masa Pandemi Covid-19 yang disusun oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku yang harus dicapai dalam proses pembelajaran terdapat 5 karakter utama yang diwajibkan pada setiap sekolah yaitu nilai karakter religius, mandiri, kreativitas, tanggung jawab dan disiplin. Dalam rangka membangun karakter yang baik dalam diri peserta didik, sekolah seharusnya menerapkan kebiasakan karakter yang akan dibentuk. Budaya sekolah dalam pembentukan karakter ini harus terus-menerus dibangun dan dilakukan oleh semua yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah. Pendidik hendaknya dapat menjadi suri teladan dalam mengembangkan karakter tersebut. Sungguh, sebagus apa pun karakter yang dibangun dalam lembaga pendidikan jika tidak ada suri teladan dari para pendidiknya, maka sulit dapat dicapai apa yang telah diharapkan. Atas dasar pemikiran inilah peneliti bermaksud untuk meneliti permasalahan Bagaimana Peran Guru PAI dalam Pengembangan Karakter peserta didik Pada Masa Pandemi di SMA Negeri Siwalima Ambon.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan di atas, dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah sebagia berikut:                                    

1.    Bagaimana peran guru PAI dalam  pengembangan karakter   pada masa pandemi Covid 19  di SMA Negeri Siwalima Ambon?                                 

2.    Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran pada masa pandemi Covid 19  di  Negeri Siwalima Ambon?

3.    Bagaimana  dukungan orang tua  dalam proses  pembelajaran  pada masa pandemi Covid 19 yang dilaksanakan di rumah?

4.    Bagaimana Faktor pendukung dan penghambat  proses pembelajaran   pada masa pandemi covid 19 di SMA Negeri Siwalima Ambon?

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu mendiskripsikan peran guru PAI dalam  pengembangan karakter   pada masa pandemi Covid 19 di SMA Negeri Siwalima Ambon. Mendiskripsikan pelaksanaan proses pembelajaran  pada masa pandemi covid 19  di SMA Negeri Siwalima Ambon. Mendiskripsikan dukungan orang tua  dalam proses  pembelajaran pada masa pandemi covid 19  yang dilaksanakan di rumah. Mendiskripsikan faktor-pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran  pada masa pandemi Covid 19 di SMA Negeri Siwalima Ambon. Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya serta menambah keilmuan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam bidang pemikiran Islam. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber atau bahan bagi peneliti lainnya dalam melakukan penelitian yang sejenis. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dalam pengembangan karakter peserta didik. Bagi sekolah, hasil dari penelitian ini akan disumbangankan yang nantinya dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik di sekolah.

A.   Peran Guru Pendidikan Agama Islam

Peran memiliki makna yaitu seperangkat tingkat diharapkan yang dimiliki oleh seseorang yang berkedudukan di lingkungannya. Peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.  Guru pendidikan agama Islam merupakan seseorang yang mengupayakan perkembangan seluruh potensi/aspek anak didik, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik Peran guru pendidikan agama Islam merupakan tugas seorang guru yang dilaksanakan dalam mengajarkan pelajaran agama Islam dan membimbing peserta didiknya kearah membentuk peserta didik yang mengalami perubahan diri melalui pembelajaran yang disampaikan maupun aktivitas harian.

B.   Pembelajaran Daring

Moda dalam Jejaring (Daring) adalah program guru pembelajaran yang dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi jaringan komputer dan internet.

C.   Pengembangan Karakter

Istilah karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi “positif” bukan netral.  Yang dimaksud dengan karakter adalah kebiasaan, nilai hidup dan moralitas/kecakapan hidup yang dipraktikkan atau dialami dalam hidup bersama antara peserta didik dengan guru dan terutama dengan orangua di rumah  selama masa Pandemi Covid-19 sehingga termanifestasi dalam sikap dan perilaku peserta didik. Pengembangan atau pembentukan karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah dan stakeholders-nya untuk menjadi pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil) (Mustoip, 2018). Tumbuh dan berkembangnya karakter yang baik akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup. Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit).

D.   Pandemi Covid-19

Penyakit Corona virus 2019 (Covid 19) merupakan penyakit menular yang disebabkan akibat sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei China, dan saat itu menyerang secara global, mengakibatkan pandemi corona virus 2019-2020 yang sedang berlangsung. COVID-19 merupakan penyakit baru yang telah menjadi pandemi.Penyakit ini harus diwaspadai karena penularan yang relatif cepat, memiliki tingkat mortalitas yang tidak dapat diabaikan, dan belum adanya terapi definitif. Masih banyak knowledge gap dalam bidang ini sehingga diperlukan studi-studi lebih lanjut.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian fenomenologi, yang mendeskripsikan segala bentuk tindakan dan juga fenomena yang dilakukan oleh subjek yang diteliti dalam pelaksanaan pembelajaran daring, Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pendekatan penelitian ini menggunakan Penelitian kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata, gambar, bukan angka-angka.  Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan kualitatif yang digunakan oleh peneliti bertujuan untuk memahami fenomena-fenomena yang dialami oleh subjek penelitian dan menafsirkannya dengan cara melibatkan metode-metode yang ada (Fathoni, 2006).

Sumber data primer, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugasnya) dari sumber pertamanya.  Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru PAI dan siswa di SMA Negeri Siwalima   Ambon. Sumber data skunder, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang dari sumber pertama. Dapat juga dikatakan data yang tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen. Dalam penelitian ini, dokumentasi dan angket merupakan sumber data sekunder. Sumber data dalam penelitian ini adalah waka urusan. kurikulum,  waka. urusan Kesiswaan, Guru PAI dan  Perwakilan dari peserta didik. (Arikunto, 2013) Wawancara yang ditanyakan oleh peneliti yaitu mengenai kegiatan-kegiatan  yang berkaitan dengan  pengembangan  karakter  di SMA Negeri Siwalima Ambon.Fokus penelitian ini ialah bagaimana peran guru PAI dalam mengembangkan karakter peserta didik pada masa pandemi di SMAN Siwalima Ambon, dengan menggunakan pendekatan diskritif kualitatif.

Teknik analisa data yang disajikan oleh peneliti adalah teknik analisa data kualitatif seperti yang digambarkan pada gambar di bawah ini:

 

Gambar 1

 Proses Analisa Data

 

Analisis data merupakan proses mengurutkan dan mengorganisasikan data kedalam suatu pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat dirumuskan menjadi hipotesis yang berdasarkan data  Pendekatan analisis data dalam penelitian ini yaitu dengan deskriptif analisis, yaitu suatu metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul. Pemeriksaan keabsahan data bertujuan untuk menjaga kualitas data agar tetap valid. Pada tahap ini kesimpulan awal yang didapatkan masih bersifat sementara dan bisa jadi berubah jika tidak ditemukan bukti-bukti yang mendukung pada tahap selanjutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang didapatkan diawal terdapat bukti yang mendukung maka kesimpulan tersebut merupakan yang kredibel.

Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami orang lain. Instrumen  penelitian kualitatif merupakan alat penelitian yang melibatkan peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrumen harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

SMA Negeri Siwalima Ambon atau biasanya disingkat dengan Smansiel didirikan pada tanggal 1 Agustus 2006. Smansiel diresmikan Gubernur Maluku Karel A. Ralahalu didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Maluku, Drs. Ismail Titapele, M.Pd., Walikota Ambon Drs M J. Papillaya, dan Bupati Kepulauan Aru Tedy Tengko. Saat peresmian bernama SMA Unggulan Siwalima. Dalam perjalanan waktu, maka sekolah ini memperoleh izin operasional sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Ambon nomor 1180 tahun 2007 tertanggal 5 April 2007 dengan nama SMA Negeri Siwalima sehingga sekolah beroperasi sebagai salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Ambon.Pada tanggal 01 Agustus Tahun 2009 Sekolah ini statusnya kembali ditingkatkan secara resmi Oleh Ibu .Ros Farfar selaku SEKDA Propinsi Maluku yaitu dari Sekolah Kategori Mandiri (SKM) menjadi Rintisan Sekolah bertaraf Internasional (RSBI).

A.   Faktor Pendukung Dan Penghambat  Proses Pembelajaran   Pada Saat Pandemi Covid 19 Di SMA Negeri Siwalima Ambon.

Berdasarkan standar baku mutu dan pedoman implementasi pembelajaran di masa Pandemi Covid-19 yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku terdapat tujuh point penting sebagai faktor  pendukung dalam proses pembelajaran daring diantaranya adalah :Standar keberhasilan siswa; (1) Siswa bisa belajar; (2) Capaian pembelajaran pengetahuan dan ketarampilan aksentuasi pada kompetensi: literasi, numerasi dan pendidikan karakter, (tidak ada target capaian pengetahuan dan keterampilan) secara absolut;3) Karakter prioritas : religiusitas, disiplin, kemandirian, tanggung jawab, dan kreativitas. Kurikulum disederhanakan; (1) tersedia acuan kurikulum yang sederhana;(2) tidak membebani guru dan siswa (jam belajar online 45 menit per tatap muka per mata pelajaran dengan durasi waktu belajar efektif 4 jam tatap muka per hari); (3) konten kurikulum esensial dan kontekstual dengan persentase 50% K13 dengan rincian: 40% Kurnas dan 10% muatan lokal);  4) memberi akses merdeka belajar (dimungkinkannya siswa memilih materi untuk belajar secara mandiri 30%, home visit 50% dan virtual 20%); 5) mempermudah orangtua mendampingi anak di rumah;(6) meningkatkan kesejahteraan psikososial guru dan siswa; (7) penyederhanaan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran; (8) orientasi konten materi pada kompetensi literasi, numerasi, pendidikan karakter/kecakapan hidup” .Berkembangnya teknologi informasi. Penggunaan(Information technology) IT di era 4.0 adalah hal yang tak dapat dielakkan. IT telah memberikan manfaat kemudahan dalam semua lini kehidupan manusia. Oleh karena itu di era millennial guru harus berubah dan mengikuti perkembangan zaman, banyak kemudahan yang akan diperoleh oleh guru dengan mampu mengunakan IT. Guru bukan hanya sebagai penonton saja namun guru harus menguasai literasi data dan literasi teknologi.

Faktor Penghambat Pembelajaran daring diantaranya adalah guru  menjelaskan  materi ajar kurang maksimal karena perubahan cara dan sistem pembelajaran. Butuh waktu untuk beradaptasi bagi guru, orang tua, maupun peserta didik. Guru, orang tua, dan peserta didik sendiri, terbiasa dengan budaya interaksi secara langsung seperti bercanda dengan teman dan melakukan metode pembelajaran yang bervariasi, maka peserta didik harus beradaptasi dan menerima perubahan baru yang secara langsung akan berpengaruh terhadap kemampuan dan daya serap peserta didik. Meskipun peserta didik sudah diberikan fasilitas oleh orang tua terkadang mereka malas untuk mengerjakannya namun jika di dukung dan mendapat motivasi dari orang tua maupun guru itu akan sangat membantu peserta didik. (Rusn & Kamdani, 1998) Orang tua yang berpendidikan tinggi tentu besar kemungkinan dapat membimbing anaknya belajar. Itupun tidak pada semua mata pelajaran, pada mata pelajaran tertentu tetap saja orang tua tidak mudah mempelajari dan membimbing anaknya. Faktor yang  ketiga, adalah faktor ekonomi dalam hal membeli kuota (paket data internet). Ini menjadi alasan orang tua merasa keberatan karena mereka harus menyisihkan uang untuk pembelian kuota internet disamping itu harus membayar kebutuhan pokok.

Peneliti akan menyajikan uraian pembahasan sesuai dengan temuan peneliti, sehingga dalam pembahasan ini akan menggabungkan temuan dan teori yang ada. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam teknik analisis kualitatif deskriptif, dari data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan dari hasil diatas akan dikaitkan dengan teori yang ada, dibawah ini penulis rangkum sebagai berikut:

1.    Peran guru PAI dalam pengembangan karakter peserta didik pada masa pandemi Covid 19  di SMA Negeri Siwalima Ambon

Peranan Guru PAI sangat penting dalam pembentukan dan pengembangan nilai-nilai karakter di SMA Negeri Siwalima Ambon. Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan berakhlak mulia, akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan.

2.    Karakter Religius

Karakter Religius berasal dari  kata religi yang berasal dari bahasa asing religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia. Sedangkan religius berarti sifat religi yang melekat pada diri seseorang. Pendidikan karakter religius merupakan usaha aktif untuk membentuk suatu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Nilai-nilai karakter religius dan karakter kebangsaan yang dilaksanakan di SMA Siwalima Ambon  diimplementasikan melalui kegiatan pembiasaan keagamaan yang dilaksanakan di sekolah. Kegiatan pembiasaan keagamaan tersebut meliputi kegiatan utama dan kegiatan penunjang. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh peseta didik dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini peserta didik diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Agama memiliki posisi dan peranan yang sangat penting dalam menjalani kehidupan di dunia. Agama dapat berfungsi sebagai faktor pendorong untuk bertindak yang benar, baik, etis, bermanfaat, kritik (menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar), kreatif (mengarahkan amal atau tindakan yang menghasilkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain), intergratif (menyatukan elemen-elemen yang rusak dalam diri manusia dan masyarakat untuk menjadi lebih baik), sublimatif (memberikan proses penyucian diri dalam kehidupan), dan liberatif (membebaskan manusia dari berbagai masalah kehidupan).

3.    Karakter Mandiri

       Pendidikan karakter mandiri adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk watak, akhlak, budi pekerti, dan mental seorang individu, agar hidupnya tidak bergantung pada bantuan orang lain dalam menyelesaikan setiap tugas-tugasnya.   Sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas, maupun persoalan, serta tidak melemparkan tugas dan tanggung jawab kepada orang lain. Siswa-siswi SMA Negeri Siwalima sudah terbiasa hidup mandiri,  karena mereka tinggal di Asrama. Tatkala masa pandemi Covid 19  mereka berkumpul bersama keluarga dan mengembangkan sikap kemandiriannya bersama keluarga. Membantu pekerjaan orangtua di rumah tanpa diperintah karena sudah terbiasa hidup mandiri di Asrama.

4.    Karakter Kreatifitas

Kreatif berasal dari bahasa Inggris create yang artinya mencipta, sedang creative mengandung pengertia memiliki daya cipta, mampu merealisasikan ide- ide dan perasaannya sehingga tercipta sebuah komposisi dengan warna dan nuansa baru. Dalam situasi pendidikan, proses belajar mengajar merupakan salah satu dari bentuk kegiatan kreatif. Melalui proses belajar mengajar, kreativitas siswa dapat dipupuk dan dikembangkan. Kreativitas siswa dapat muncul sewaktu- waktu pada sembarang tempat, oleh karena itu perlu dilatih agar kemunculannya tidak sewaktu-waktu pada sembarang tempat, tetapi kreativitas ini muncul pada waktu menghadapi permasalahan.

5.    Karakter Tanggung Jawab

Tanggung jawab menunjuk kepada sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. .Tanggung jawab merupakan nilai moral penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanggung jawab ialah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan manusia. Tanggung jawab sudah menjadi kodrat manusia, artinya sudah menjadi bagian hidup manusia.

6.    Karakter Disiplin

Pengertian karakter disiplin menurut Kemendiknas, “disiplin adalah tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan”. Indikator disiplin menurut Masluqman  adalah sebagai berikut: Datang ke sekolah dan pulang dari sekolah tepat waktu, Patuh pada tata tertib atau aturan sekolah, Mengerjakan setiap tugas yang diberikan, Mengumpulkan tugas tepat waktu, Mengikuti kaidah berbahasa yang baik dan benar, Memakai seragam sesuai ketentuan yang berlaku, Membawa perlengkapan belajar sesuai dengan mata pelajaran. Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

B.   Pelaksanaan Proses Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid 19  di SMA Negeri Siwalima Ambon

Dasar Hukum dalam pembelajaran daring selama pandemic Covid 19 adalah sebagai berikut: (1). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan; (2). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Sekolah Aman Bencana; (3).Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam .Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19); (4). SKB 4 menteri. SKB Nomor: 04/KB/2020, Nomor 737 tahun 2020,Nomor HK.0108/MENKES/7093/2020 dan Nomor:420-3987 tahun 2020. Tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun akademik 2020/2021. (5). Kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nomor: ..Tentang Implementasi Pembelajaran Blended Learning dan Home visit.  

 

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai Proses pembelajaran pada masa pandemi di SMA Negeri Siwalima Ambon, maka dapat disimpulkan yaitu disamping sebagai guru Profesional,  yang berperan  sebagai pengajar, pembimbing dan pelatih, pada masa pandemi guru dituntut  harus memiliki  ketrampilan yang mumpuni dibidang IT sehingga dalam proses belajar mengajar melalui daring guru tidak merasa kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran secara daring. SMA Negeri Siwalima Ambon pada masa pandemi yaitu dengan menggunakan metode Pembelajaran daring. Terdapat lima peran orang tua ketika peserta didik belajar di rumah yaitu (1) sebagai pendidik; (2) Sebagai fasilitator; (3) Sebagai pengawas dan pendamping; (4) Sebagai motivator dan (5) Sebagai contoh figur yang baik. Motivasi dapat diberikan dengan cara orang tua berperan sebagai guru di rumah. Faktor pendukung dari pembelajaran daring  di masa pandemi diantaranya.; (1) sekolah memfasilitasi wifi untuk para  guru dan pembimbing  untuk menunjang proses pembelajaran daring selama guru dan pembimbing berada di sekolah; (1) program dari pemerintah  memberikan kuota internet gratis setiap bulannya kepada seluruh pelajar di Indonesia; (3) dengan pembelajaran daring ini dapat menjelaskan materi pembelajaran yang sulit dan rumit menjadi mudah dan sederhana; (4) pembelajaran daring ini memberikan pengalaman yang menarik dan bermakna karena dapat berinteraksi langsung, sehingga pemahaman terhadap suatu materi akan lebih bermakna, mudah dipahami, diingat dan mudah pula untuk diungkapkan.

Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat dikemukakan saran yaitu Guru harus diberikan pemahaman bagaimana teknik dan startegi dalam pendidikan karakter pada pembelajaran daring yang diaplikasikan pada peserta didik  belajar dari rumah. Guru harus berusaha kreatif dalam menggali informasi dan karakteristik peserta didik dalam menentukan model-model pembelajaran dengan hasil belajar yang diharapkan pada pembelejaran daring. Guru harus aktif dalam mengemban perannya sebagai pewaris para Nabi dan Rasul untuk mengajak pada peserta didik agar senantiasa ta’muruna bilma’ruf watanhauna’anilmunkar. Keberhasilan pendidikan karakter bangsa pada masa Covid-19 membutuhkan peran utama orang tua siswa dan lingkungan rumah sebagai mitra sekolah dalam usaha membangun karakter anak bangsa. Disamping itu guru hendaknya berperan sebagai uswatun hasanah dan senantiasa. Memberikan motivasi,  bimbingan, dan contoh yang baik terhadap peserta didik agar tetap semangat dalam menuntut ilmu dan beramal ibadah.

 

BIBLIOGRAFI

 

Abdullah, Abdurrahman Shaleh, & Rahman, Abdur. (1991). Landasan dan Tujuan Pendidikan menurut al-Qur’an serta Implementasinya. Bandung: CV Dipenogor. Google Scholar

 

Anggraini, Rezita. (2015). Strategi guru dalam pembentukan karakter siswa menurut kurikulum 2013 di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Ngadirejo Kota Blitar. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Google Scholar

 

Arief, Armai. (2005). Reformulasi Pendidikan Islam. CRSD Press. Google Scholar

 

Arikunto, Suharsimi. (2013). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Google Scholar

 

Azzet, Muhaimin. (2011). Akhmad, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia: Revitalisasi Pendidikan Karakter terhadap Keberhasilan Belajar dan Kemajuan Bangsa. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Google Scholar

 

Daradjat, Zakiah. (2017). Ilmu pendidikan islam. Google Scholar

 

Fathoni, Abdurrahmat. (2006). Metodologi penelitian dan teknik penyusunan skripsi. Jakarta: Rineka Cipta. Google Scholar

 

Halim, Abdul. (2002). Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoris dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers. Google Scholar

 

Mustoip, Sofyan. (2018). Implementasi Pendidikan Karakter. Google Scholar

 

Rusn, Abidin Ibnu, & Kamdani. (1998). Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Pustaka Pelajar. Google Scholar

 

Salahudin, Anas, & Alkrienciehie, Irwanto. (2013). Pendidikan karakter: pendidikan berbasis agama & budaya bangsa. Pustaka Setia. Google Scholar

 

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).