GAMBARAN
PENGETAHUAN PERAWAT DALAM
PENERAPAN
ABCDEF BUNDLE DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU)
Mohamat
Mutajir, Ns. Nur Hafizhah
Widyaningtyas
Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
mmutajir1@gmail.com, zhanintyas@lecturer.undip.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01-09-2022 10-09-2022 20-09-2022 |
Latar Belakang : ABCDEF Bundle (A, Assess, prevent and manage pain; B, Both Spontaneous Awakening and Spontaneous Breathing Trials [SATs/SBTs]; C, Choise of Analgesia and Sedation; D, Delirium, Assess, Prevent and Manage; E, Early mobility and exercise; and F, Family engagement and empowerment) adalah sebuah panduan pemantauan pasien di ICU. Panduan ini digunakan untuk mengintegrasikan pengkajian, pencegahan dan penanganan nyeri, agitasi dan delirium, memfasilitasi program weaning ventilator, program mobilisasi dini dan latihan, dan melibatkan serta memberdayakan anggota keluarga dalam perawatan pasien di Intensive Care Unit (ICU). Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan gambaran pengetahuan perawat dalam penerapan ABCDEF Bundle di ICU. Metode : Desain penelitian ini adalah deskriptif survei dengan pendekatan cross-sectional. Kuesioner ABCDEF Bundle berisi 38 item pertanyaan, telah melewati tahap uji validitas dan reliabilitas dengan hasil 0,950. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan perawat dalam penerapan ABCDEF Bundle 9,8% memiliki pengetahuan baik, 18% cukup baik dan 72,2% memiliki pengetahuan kurang baik. Pengetahuan tertinggi 45,9% pada elemen A, 42,6% pada elemen E, 24,6% pada elemen B, 11,5% pada elemen C, 9,8% pada elemen F, dan 6,6% pada elemen D. Kesimpulan: Sebagian besar perawat memiliki pengetahuan yang rendah, dikarenakan belum adanya informasi dan kebijakan penerapan ABCDEF Bundle di ICU. Kesimpulan : Diperlukan peningkatan pengetahuan tentang ABCDEF Bundle, maka perawat perlu mengikuti seminar/workshop, kebijakan penerapan bundle dalam bentuk SOP, penambahan materi pada pelatihan ICU dasar dan kurikulum pendidikan, serta penyediaan sarana penunjang di Rumah Sakit. Kata Kunci : Perawat;
ABCDEF Bundle; pengetahuan; |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: ABCDEF Bundle (A, Assess, prevent and manage
pain; B, Both Spontaneous Awakening and Spontaneous Breathing Trials
[SATs/SBTs]; C, Choise of Analgesia and Sedation;
D, Delirium, Assess, Prevent and Manage; E, Early mobility and exercise; and
F, Family engagement and empowerment) is a guide to monitoring patients in
the ICU. This guide is used to integrate the assessment, prevention and
management of pain, agitation and delirium, facilitate ventilator weaning
programs, early mobilization and exercise programs, and involve and empower
family members in patient care in the Intensive Care Unit (ICU). Objectives: The purpose of this study
is to explain the picture of nurse knowledge in the application of ABCDEF
Bundle in the ICU. Methods: The design of this study
is a descriptive survey with a cross-sectional approach. The ABCDEF Bundle
questionnaire contains 38 question items, has passed the validity and
reliability test stage with a result of 0.950. Results: The results showed that nurses' knowledge in the
application of ABCDEF Bundle 9.8% had good knowledge, 18% were quite good and
72.2% had poor knowledge. The highest knowledge was 45.9% in element A, 42.6%
in element E, 24.6% in element B, 11.5% in element C, 9.8% in element F, and
6.6% in element D. Conclusion: Most nurses have low knowledge, due to the
absence of information and policies for implementing ABCDEF Bundle in the
ICU. Conclusion: It is necessary to
increase knowledge about the ABCDEF Bundle, so nurses need to take part in
seminars / workshops, policies for implementing bundles in the form of SOPs,
adding material to basic ICU training and educational curricula, as well as
providing supporting facilities in hospitals. Keywords: Nurses; ABCDEF Bundle;
knowledge; |
|
*Correspondent Author :
Mohamat Mutajir
Email : mmutajir1@gmail.com
PENDAHULUAN
Intensive Care Unit (ICU) adalah salah satu bagian mandiri dari unit
perawatan pasien di rumah sakit, dilengkapi dengan tenaga dan perlengkapan
khusus. Unit ini didirikan untuk mengobservasi, merawat dan mengobati pasien
mengalami cedera, penyakit atau penyulit yang potensial atau mengancam nyawa (Kepmenkes RI, 2010). Selama perawatan di
ICU, pasien kritis membutuhkan sarana-prasarana, peralatan dan tenaga kesehatan
dengan keterampilan khusus dalam menunjang fungsi vital. Tingkat kesembuhan
pasien kritis sangat kecil dan angka kelangsungan hidup berkurang sampai 50% (Ruggiero,
2018). Pada tahun 2016,
World Health Organization
(WHO) melansir bahwa 1,1-7,4 juta jiwa meninggal akibat penyakit kritis dan
sebesar 9,8-24,6 orang per 100.000 penduduk menjalani perawatan kritis di ICU (Garland, et al,
2013). Di Amerika pada tahun 2014
dilaporkan angka kematian pasien ICU rata-rata berkisar 8%-19%, atau sekitar
500.000 kematian setiap tahun (Mukhopadhyay et al., 2014). Rumah Sakit Pusat
Infeksi Sulianti Saroso melaporkan angka kematian per tahun rata-rata berkisar
60-70% dari total seluruh pasien ICU yang dirawat. Pasien kritis yang dirawat
di ICU tidak hanya berfokus pada keparahan penyakit
dan angka mortalitas saja, tetapi juga komplikasi paska
perawatan ruang intensif atau Post Intensive Care Syndrome (PICS).
Sebuah studi kohort yang dilakukan
oleh Brinkman pada tahun 2013 di Belanda, melaporkan
bahwa persentase angka kematian pasien paska
perawatan ICU berturut-turut pada tahun pertama, kedua dan ketiga masing-masing
12,5%, 19,3%, dan 27,5% (Brinkman et al., 2013). Pada studi kohort lainnya yang dilakukan oleh Lokhandwala
pada tahun 2018, terhadap pasien yang selamat >30 hari paska
perawatan ICU, didapatkan 11,8% tidak bertahan hidup dalam 1 tahun dan sisanya
88,2% mengalami penurunan kualitas hidup, terkait faktor resiko
yang mempengaruhinya seperti usia, durasi pemakaian ventilasi mekanik, lama
hari perawatan, pemakaian obat-obatan vasopressor
selama perawatan, sepsis dan penyakit yang dideritanya (Lokhandwala et al., 2018). Berdasarkan hal
tersebut, maka perlu adanya intervensi terstruktur untuk menurunkan angka
mortalitas, lama hari rawat dan menurunkan faktor resiko.
Intervensi yang mampu menurunkan faktor resiko,
sehingga dapat mencegah komplikasi pasien paska
perawatan ruang intensif. Bentuk intervensi direkomendasikan oleh American Association of Critical-Care Nurse (AACN) dalam
sejumlah intervensi yang dikeluarkan oleh American College
of Critical Care Medicine dan Society of Critical
Care Medicine (SCCM) adalah
ABCDEF Bundle (Colbenson, Johnson, & Wilson, 2019),(Davidson et al., 2013), (Bell, 2020).
ABCDEF Bundle (A, Assess, prevent dan manage pain; B, Both Spontaneous Awakening and Spontaneous
Breathing Trials [SATs/SBTs]; C, Choise of Analgesia
and Sedation; D, Delirium, Assess, prevent and manage; E, Early mobility and exercise;
and F, Family engagement and empowerment) adalah sebuah
panduan yang digunakan untuk mengintegrasikan pengkajian, pencegahan dan
penanganan nyeri, agitasi dan delirium, memfasilitasi program weaning ventilator, meningkatkan program mobilisasi dini
dan latihan, dan memberdayakan sekaligus melibatkan anggota keluarga dalam
perawatan pasien di intensive care
(Stollings et al., 2019). ABCDEF Bundle merupakan sejumlah intervensi terstruktur yang
dilakukan untuk mencegah faktor resiko penyebab PICS,
seperti pemakaian sedasi, delirium dan imobilitas selama perawatan di ICU (Davidson et al., 2013). Manfaat penerapan
intervensi ABCDEF Bundle bagi pasien adalah mencegah
dan menangani delirium, mencegah kelemahan fisik dan Post
Intensive Care Syndrome (PICS), sekaligus meningkatkan kelangsungan hidup
dan menurunkan beban sosial yang ditimbulkan akibat tindakan dan perawatan
selama di ICU (Balas et al., 2012). Tujuan penerapan
ABCDEF Bundle bagi tenaga kesehatan, yaitu
meningkatkan komunikasi antar tim kesehatan dan disiplin ilmu, menstandarkan
proses keperawatan dan memutuskan mata rantai over sedasi
yang berpengaruh terhadap lama pemakaian ventilator, delirium dan kelemahan
pada pasien selama perawatan di ICU (Balas et al., 2012). Menurut penelitian
yang dilakukan Collinworth, bahwa penerapan ABCDEF Bundle sebesar 60% secara signifikan dapat menurunkan angka
mortalitas pada pasien ICU (ods ratio
0,28), menurunkan biaya perawatan dan menurunkan lama hari rawat (d=0,57) (Collinsworth, Priest, & Masica, 2020). Penelitian lain oleh
Brenda T pada tahun 2019, menunjukkan bahwa penerapan ABCDEF Bundle, 72% dapat menurunkan lama pemakaian ventilator, 40%
dapat menurunkan angka kejadian delirium, 63% menurunkan lama pemakaian restrain, 46% menurunkan jumlah pasien kembali masuk ICU,
65% menurunkan lama hari status koma, 68% menurunkan angka kematian (Brenda et al., 2019).
Upaya menurunkan angka mortalitas, lama hari rawat dan
komplikasi paska perawatan ruang intensif dapat
dilakukan oleh perawat dengan penerapan ABCDEF Bundle
sejak pasien masuk ruang ICU. Untuk itu diperlukan pengetahuan perawat tentang
ABCDEF Bundle. Menurut Notoatmojo (2010),
pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku seseorang.
Jika seseorang memiliki pengetahuan yang baik tentang penerapan ABCDEF Bundle, diharapkan akan memiliki perilaku penerapan ABCDEF Bundle yang tinggi (Notoatmodjo, 2010). Menurut Hou Chunlei, bahwa pengetahuan
perawat tentang ABCDE Bundle yang rendah cenderung
memiliki perilaku penerapan yang rendah (Hou Chunlei, Zhang Die, 2019). Pada penelitian lain
yang dilakukan oleh Pinto F pada tahun 2016 di Italia, didapatkan pengetahuan
perawat yang rendah sebesar 41,6%, diperoleh sebesar 34% responden yang
menerapkan ABCDEF Bundle (Pinto & Biancofiore, 2016). Berdasarkan hasil
penelitian tersebut, semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat tentang ABCDEF Bundle, maka akan meningkatkan penerapan ABCDEF Bundle di pelayanan kritis.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan 3 dari 5 perawat ICU
mengetahui tentang ABCDEF Bundle, dan sebagian besar
perawat telah menerapkan elemen ABCDEF Bundle dalam
memberikan pelayanan di area kritis. Namun menurut hasil observasi peneliti,
ABCDEF Bundle belum dilakukan secara sistematis dan
terorganisir berdasarkan ilmu dan pengetahuan terkini, yaitu pada tindakan kolaborasi
dan mandiri. Ditemukannya pasien dalam program weaning
ventilator, masih terpasang obat sedasi dan obat vasopressor. Sebagian pasien masih rutin diberikan midazolam sebagai obat sedasi maintenance. Perawat masih menggunakan alat ukur GCS dalam
mengkaji tingkat kesadaran pasien yang terpasang sedasi,
dan belum menerapkan strategi analgo-sedasi dan
minimal sedasi. Perawat dalam menghadapi fluktuasi
perubahan status mental atau tingkat kesadaran pasien masih mengandalkan sedasi sebagai pilihan utama (prioritas secara berurutan
nyeri-agitasi-delirium) dan belum melakukan pengkajian delirium menggunakan
alat ukur yang valid dan reliabel. Hal tersebut dikarenakan belum adanya
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berbasiskan evidence
base practice dalam
penerapan ABCDEF Bundle, sehingga penelitian
pengetahuan perawat dalam penerapan ABCDEF Bundle
perlu dilakukan. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penyusunan SOP
tentang ABCDEF Bundle berbasiskan evidence
practice di ICU RSPI Sulianti Saroso, yang dapat
membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan menjadi lebih terarah dan
terorganisir pada pasien kritis. Peningkatan pengetahuan perawat tentang ABCDEF
Bundle diharapkan dapat meningkatkan penerapan ABCDEF
Bundle, yang berdampak pada peningkatan kualitas
pelayanan asuhan keperawatan pada pasien kritis, untuk menurunkan angka
kematian, lama hari rawat dan komplikasi paska
perawatan ruang intensif.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini adalah
jenis penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian ini deskriptif survei dengan
pendekatan cross sectional.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Populasi dalam
penelitian ini adalah 61 perawat di Intensive Care Unit (ICU) RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Penelitian
ini menggunakan kuesioner tentang ABCDEF Bundle yang
direkomendasikan American Association of Critical-Care Nurse (AACN) dalam sejumlah intervensi yang dikeluarkan
oleh American College of Critical Care Medicine
dan Society of Crical Care Medicine
pada tahun 2018. Kuesioner berisi 38 pernyataan pilihan ganda tentang
pengetahuan perawat dalam penerapan ABCDEF Bundle,
dengan ketentuan skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk jawaban salah.
Hasil pengukuran dibagi 3 kategori menurut Arikunto (2013), yaitu baik jika
jawaban benar 76%–100%, cukup baik apabila jawaban benar 56%–75%, kurang baik
apabila jawaban benar ≤55%. Uji validitas kuesioner dinyatakan valid
dengan uji content validity
dan construct validity.
Terdapat 7 item pertanyaan
dari 45 yang nilai validity pada rentang
-0,593–0,000, kemudian peneliti mendapatkan 38 kuesioner untuk mengukur
pengetahuan sesuai tujuan penelitian tentang ABCDEF Bundle.
Kuesioner dinyatakan reliabel dengan nilai koefisien Alpha
Cronbach 0,950. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan bentuk distribusi frekuensi. Penelitian
ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro dan RSPI Sulianti Saroso Jakarta, dengan
No.11/XXXXVIII.10/IV/2021.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Karakteristik Responden
Karakteristik
data demografi 61 responden dalam penelitian ini, mayoritas perawat ICU
berstatus sebagai PNS dengan rentang usia 36-45 tahun (dewasa akhir) sebesar 70,55%
responden, 65,6% berjenis kelamin wanita, memiliki lama kerja di ICU 1-3 tahun
sebesar 65,6%, 62,3% berpendidikan D3, dan 47,5% memiliki sertifikat pelatihan
ICU dasar (Tabel 1).
Tabel
1.
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan
Karakteristik Perawat di ICU RSPI Sulianti Saroso, Jakarta. (N=61)
|
Karakteristik |
Jumlah
|
||
|
n |
Persentase |
||
|
1 |
Usia a. 17-25
Tahun b. 26-35
tahun c. 36-45
tahun |
1 17 43 |
1,6 27,9 70,5 |
|
|
Total |
61
orang |
100 |
|
2 |
Jenis kelamin a.
Perempuan b.
Laki-laki |
40 21 |
65,6 34,4 |
|
|
Total |
61
orang |
100 |
|
3 |
Lama bekerja di ICU a. 1-3
tahun b. 4-7
tahun c. 8-12
tahun d. ≥
13 tahun |
40 5 9 7 |
65,6 8,2 14,8 11,5 |
|
|
Total |
61
orang |
|
|
4 |
Status Kepegawaian a.
PNS b. Non-PNS |
56 5 |
91,8 8,2 |
|
|
Total |
61
orang |
100 |
|
5 |
Tingkat pendidikan a.
D3 Keperawatan b.
S 1 Keperawatan c.
S1 Keperawatan+Ners d.
Magister Keperawatan |
38 1 20 2 |
62,3 1,6 32,8 3,3 |
|
|
Total |
61
orang |
100 |
|
6 |
Kepemilikan sertifikat
pelatihan ICU dasar a.
Ya b.
Tidak |
29 32 |
47,5 52,5 |
|
|
Total |
61
orang |
100 |
B.
Pengetahuan Perawat dalam Penerapan ABCDEF Bundle
Pengetahuan
perawat tentang penerapan ABCDEF Bundle berdasarkan hasil penelitian didapatkan
hanya 9,8% pengetahuan memiliki pengetahuan baik, 18% cukup baik dan 72,2%
kurang baik (Tabel 2).
Tabel
2.
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Perawat dalam
Penerapan ABCDEF Bundle di ICU RSPI Sulianti Saroso, Jakarta. (N=61)
|
Total |
||
|
Frekuensi (n) |
Persentase (%) |
|
|
Baik Cukup Baik Kurang Baik |
6 11 44 |
9,8 18,0 72,2 |
|
Total |
61 |
100 |
Tabel
3
Nilai Rerata Pengetahuan Perawat tentang Penerapan
ABCDEF Bundle Berdasarkan sub Variabel di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta (N=61)
|
Elemen ABCDEF Bundle |
Kategori Pengetahuan tentang Pengetahuan Perawat dalam Penerapan abcdef Bundle |
||||||||
|
Baik |
Cukup |
Kurang |
Total |
||||||
|
|
|
N |
% |
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
1 |
Elemen A: Assess,
prevent, and manage pain |
28
|
45,9 |
17
|
27,9 |
16
|
26,2 |
61 |
100 |
|
2 |
Elemen B: Both
Spontaneous Awakening Trials (SAT) and Spontaneous Breathing Trials (SBT) |
15
|
24,6 |
8
|
13,1 |
38
|
62,3 |
61 |
100 |
|
3 |
Elemen C: Choice
of analgesia and sedation |
7
|
11,5 |
6
|
9,8 |
48
|
78,7 |
61 |
100 |
|
4 |
Elemen D: Delirium: assess,
prevent, and manage |
4
|
6,6 |
14
|
23,0 |
43
|
70,5 |
61 |
100 |
|
5 |
Elemen E: Early mobility
and exercise |
26
|
42,6 |
13
|
21,3 |
22
|
36,1 |
61 |
100 |
|
6 |
Elemen F: Family engagement
and empowerment |
6
|
9,8 |
11
|
18,0 |
44
|
72,2 |
61 |
100 |
Peneliti
memperoleh hasil analisis data, bahwa tingkat pengetahuan tertinggi per elemen bundle secara berturut-turut yaitu, elemen A: Assess,
prevent, and manage pain sebanyak 45,9%,
diikuti elemen E: Early mobility and
exercise sebanyak 42,6%, elemen B: Both Spontaneous Awakening Trials (SAT) and Spontaneous Breathing Trials (SBT) sebanyak
24,6%, elemen C: Choice of analgesia and sedation
sebanyak 11,5%, elemen F: Family engagement and empowerment 9,8% dan elemen
D: Delirium: assess, prevent,
and manage sebanyak 6,6%
(Tabel 3).
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Sebaran
Item Jawaban Pengetahuan Perawat per Elemen Bundle di
ICU RSPI Sulianti Saroso, Jakarta. (N=61)
|
No |
Item Pengetahuan Perawat |
Jawaban
Responden |
|||||
|
Benar |
Salah |
Total |
|||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
||
|
Elemen A: Assess, Prevent, and Manage Pain
(Pengkajian, Pencegahan dan Penanganan Nyeri) |
|||||||
|
1 |
Alat ukur nyeri yang paling valid digunakan di ICU untuk
pasien yang tidak sadar |
57 |
93,4 |
4 |
6,6 |
61 |
100 |
|
2 |
Komponen perilaku yang diobservasi dalam alat ukur nyeri Critical Pain Observation Tool (CPOT)
pada pasien yang terpasang ventilator |
31 |
50,8 |
30 |
49,2 |
61 |
100 |
|
3 |
Tindakan yang paling tepat diterapkan oleh perawat dalam
pencegahan nyeri |
30 |
49,2 |
31 |
50,8 |
61 |
100 |
|
4 |
Golongan obat opioid dengan onset
paling cepat yang digunakan pada pasien agitasi dan instabilitas hemodinamik |
46 |
75,4 |
15 |
24,6 |
61 |
100 |
|
5 |
Golongan obat analgesik Non-Opioid, yang memiliki efek
halusinasi dan gangguan bersifat psikologis |
38 |
62,3 |
23 |
37,7 |
61 |
100 |
|
Elemen B: Both Spontaneous Awakening Trials (SAT) and Spontaneous Breathing Trials (SBT)
(Penilaian Titrasi-Penghentian Obat Sedasi dan Weaning Ventilasi Mekanik) |
|||||||
|
6 |
Keuntungan dari sinergi protokol SAT (Spontaneous
Awakening Trial) dan
SBT (Spontaneous Breathing
Trials) |
37 |
60,7 |
24 |
39,3 |
61 |
100 |
|
7 |
Kriteria aman pasien
menjalani protokol SAT |
48 |
78,7 |
13 |
21,3 |
61 |
100 |
|
8 |
Tindakan kolaborasi perawat jika pasien yang menjalani
protokol SAT mengalami tanda dan gejala
nyeri |
27 |
44,3 |
34 |
55,7 |
61 |
100 |
|
9 |
Tindakan kolaborasi perawat jika pasien yang menjalani
protokol SAT mengalami gelisah, pernapasan abdominal, dan skor RASS ≥ +2 selama lebih dari 5 menit |
22 |
36,1 |
39 |
63,9 |
61 |
100 |
|
10 |
Tindakan kolaborasi perawat pada pasien ICU yang terpasang
obat sedasi secara drips
tetapi tidak membutuhkan “sedasi dalam” dengan
hasil pengkajian skor RASS -4 |
23 |
37,7 |
38 |
62,3 |
61 |
100 |
|
11 |
Kriteria aman pada
pasien yang akan menjalani protokol SBT |
41 |
62,7 |
20 |
32,8 |
61 |
100 |
|
12 |
Langkah berikutnya, setelah pasien menjalani SBT selama 1
menit dengan mode ventilator CPAP, PEEP 0, PS 5-10, FiO2 50%,
RR<35 x/menit, Rapid Shallow Breathing
Index (RSBI) <105 |
26 |
42,6 |
35 |
57,4 |
61 |
100 |
|
13 |
Tindakan kolaborasi perawat ketika pasien menjalani protokol SBT selama 1 jam, pasien mengalami
dispnea, keringat dingin, dan RR > 35 x/mnt. |
43 |
70,5 |
18 |
29,5 |
61 |
100 |
|
14 |
Tindakan kolaborasi selanjutnya, setelah pasien dianggap berhasil menjalani protokol SBT |
34 |
55,7 |
27 |
44,3 |
61 |
100 |
|
Elemen
C: Choice of Analgesia and Sedation (Pemilihan Obat Analgesik dan Sedasi yang Sesuai) |
|||||||
|
15 |
Skala yang valid dan reliabel untuk mengevaluasi agitasi
terkait penggunaan obat-obatan sedatif |
9 |
14,8 |
52 |
85,2 |
61 |
100 |
|
16 |
Salah satu strategi pemberian sedasi
pada pasien kritis yang terpasang ventilasi mekanis guna membantu mengurangi Post Intensive Care Syndrome (PICS) |
44 |
72,1 |
17 |
27,9 |
61 |
100 |
|
17 |
Golongan obat yang dapat meningkatkan resiko
terjadinya delirium di ICU |
12 |
19,7 |
49 |
80,3 |
61 |
100 |
|
18 |
Salah satu keuntungan penerapan strategi analgo-sedasi |
38 |
62,3 |
23 |
37,7 |
61 |
100 |
|
19 |
Medikasi yang dapat mengatasi delirium dengan agitasi,
tetapi memiliki efek samping ekstra-piramidal (gerakan tidak terkontrol) dan
gambaran EKG-QTc interval memanjang |
27 |
44,3 |
34 |
55,7 |
61 |
100 |
|
20 |
Strategi pendekatan analgo-sedasi
pada pasien nyeri-agitasi akut yang terpasang ventilator yang paling tepat |
15 |
24,6 |
46 |
75,4 |
61 |
100 |
|
21 |
Strategi yang paling tepat bagi perawat ketika akan
memulai kembali pemberian obat sedasi |
22 |
36,1 |
39 |
63,9 |
61 |
100 |
|
Penerapan
Elemen D: Delirium: Assess, Prevent, and Manage (Pengkajian, Pencegahan dan Penanganan
Delirium) |
|||||||
|
22 |
Instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur delirium |
23 |
37,7 |
38 |
62,3 |
61 |
100 |
|
23 |
Salah satu faktor presipitasi terjadinya delirium
pada pasien di ICU |
43 |
70,5 |
18 |
29,5 |
61 |
100 |
|
24 |
Skor SAS dan RASS yang memenuhi syarat untuk mengukur
delirium menggunakan CAM-ICU |
14 |
23 |
47 |
77 |
61 |
100 |
|
25 |
Yang harus dilaporkan perawat kepada tim dokter terkait
perubahan status mental, pada pasien yang terpasang obat sedasi
secara drips |
14 |
23 |
47 |
77 |
61 |
100 |
|
26 |
Salah satu intervensi pencegahan delirium yang dapat
dilakukan oleh perawat secara mandiri |
26 |
42,6 |
35 |
57,4 |
61 |
100 |
|
27 |
Tindakan yang dilakukan oleh perawat pada pasien yang
membutuhkan “sedasi dalam” dengan status pernapasan
ketergantungan penuh terhadap ventilator, PEEP +10, FiO2 80 %, dan
skor RASS -5. |
30 |
49,2 |
31 |
50,8 |
61 |
100 |
|
28 |
Medikasi yang terbukti
secara ilmiah dapat menurunkan durasi delirium pada pasien kritis |
12 |
19,7 |
49 |
80,3 |
61 |
100 |
|
Elemen
E: Early Mobility and Exercise (Mobilisasi Dini dan Latihan) |
|||||||
|
29 |
Manfaat mobilisasi dini yang telah terbukti secara evidence base |
15 |
24,6 |
46 |
75,4 |
61 |
100 |
|
30 |
Instrumen yang dapat
mengukur kelemahan dan kekuatan otot |
50 |
82,0 |
11 |
18,0 |
61 |
100 |
|
31 |
Instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur status
mobilisasi pasien di ICU |
46 |
75,4 |
15 |
24,6 |
61 |
100 |
|
32 |
Kriteria pasien yang
aman untuk mulai dilakukan mobilisasi dini |
39 |
63,9 |
22 |
36,1 |
61 |
100 |
|
33 |
Tindakan perawat pada
pasien yang memiliki skor RASS -4 dan tidak ada
kontraindikasi menjalani mobilisasi dini di ICU |
32 |
52,5 |
29 |
47,5 |
61 |
100 |
|
34 |
Target pencapaian
aktivitas latihan pada pasien ICU yang telah mampu
melakukan aktivitas duduk
di tepi tempat tidur |
49 |
80,3 |
12 |
19,7 |
61 |
100 |
|
Elemen
F: Family Engagement and
Empowerment (Keterlibatan dan Pemberdayaan
Keluarga) |
|||||||
|
35 |
Keuntungan fleksibilitas waktu berkunjung bagi keluarga |
32 |
52,5 |
29 |
47,5 |
61 |
100 |
|
36 |
Pengaruh kehadiran anggota keluarga dalam menyaksikan tindakan resusitasi pasien |
25 |
41,0 |
36 |
59,0 |
61 |
100 |
|
37 |
Intervensi perawat yang paling tepat dalam melibatkan
anggota keluarga dalam upaya pencegahan delirium pada pasien di ICU |
47 |
77,0 |
14 |
23,0 |
61 |
100 |
|
38 |
Tiga area kunci dalam pemberdayaan anggota keluarga |
14 |
23,0 |
47 |
77,0 |
61 |
100 |
1. Pengetahuan Perawat tentang Penerapan Elemen A: Assess, Prevent, and Manage Pain
(Pengkajian, Pencegahan dan Penanganan Nyeri).
Elemen
A meneliti pengetahuan perawat tentang pengkajian nyeri, pencegahan nyeri, dan
penanganan nyeri. Berdasarkan tabel 4. diperoleh hasil analisis data
pengetahuan perawat yang menjawab benar; pengetahuan tentang pengkajian nyeri
meliputi pertanyaan nomor 1 dan 2, yaitu alat ukur nyeri yang paling valid
digunakan di ICU untuk pasien yang tidak sadar sebanyak 57 (93,4%) responden
dan komponen perilaku yang diobservasi dalam alat ukur nyeri Critical Pain Observation
Tool (CPOT) pada pasien yang terpasang ventilator
sebanyak 31 (50,8%) responden. Pengetahuan tentang pencegahan nyeri terdapat
pada nomor 3, yaitu tindakan yang paling tepat diterapkan oleh perawat dalam
pencegahan nyeri sebanyak 30 (49,2%) responden menjawab benar. Pengetahuan tentang penanganan nyeri terdapat
pada nomor 4 dan 5, yaitu golongan obat opioid dengan onset
paling cepat yang digunakan pada pasien agitasi dan instabilitas hemodinamik sebanyak 46 (75,4%) responden menjawab benar
dan golongan obat analgesik Non opioid, yang memiliki efek halusinasi dan
gangguan bersifat psikologis sebanyak 38 (62,3%) responden menjawab benar.
2. Pengetahuan Perawat tentang Penerapan Elemen B: Both Spontaneous Awakening Trials (SAT) and Spontaneous Breathing Trials (SBT) (Penilaian
Titrasi-Penghentian Obat Sedasi dan Weaning Ventilasi Mekanik).
Elemen
B meneliti pengetahuan perawat tentang sinergi titrasi-penghentian sedasi (SAT) dan program weaning
ventilator (SBT), kriteria aman sebelum menjalankan protokol SAT dan SBT,
tindakan perawat saat tindakan protokol SAT dan SBT berlangsung, dan tindakan
setelah protokol dianggap berhasil. Berdasarkan tabel 4. diperoleh hasil
analisis data pengetahuan perawat yang menjawab benar; pengetahuan perawat
tentang sinergi titrasi-penghentian sedasi/SAT dan
program weaning ventilator/SBT terdapat pada
pertanyaan nomor 6 yaitu, keuntungan dari sinergi protokol Spontaneous
Awakening Trial (SAT) dan Spontaneous Breathing Trials (SBT) sebanyak 37 (60,7%) responden. Pengetahuan
tentang kriteria aman sebelum menjalankan protokol SAT dan SBT terdapat pada
pertanyaan nomor 7 dan 11, yaitu kriteria aman pasien menjalani protokol SAT
sebanyak 48 (78,7%) responden menjawab benar, dan kriteria aman pada pasien
yang akan menjalani protokol SBT sebanyak 41 (62,7%) responden menjawab benar.
Pengetahuan
tentang tindakan perawat saat tindakan protokol SAT dan SBT berlangsung
terdapat pada pertanyaan nomor 8,9,10, 12, dan 13. Nomor 8, tindakan kolaborasi
perawat jika pasien yang menjalani protokol SAT mengalami tanda dan gejala
nyeri sebanyak 27 (44,3%) responden menjawab benar. Nomor 9, tindakan
kolaborasi perawat jika pasien yang menjalani protokol SAT mengalami gelisah,
pernapasan abdominal, dan skor RASS ≥ +2 selama lebih dari 5 menit
sebanyak sebanyak 22 (36,1%) responden menjawab
benar. Nomor 10, tindakan kolaborasi perawat pada pasien ICU yang terpasang
obat sedasi secara drips
tetapi tidak membutuhkan “sedasi dalam” dengan hasil
pengkajian skor RASS -4 sebanyak 23 (37,7%) responden menjawab benar. Nomor 12,
langkah berikutnya, setelah pasien menjalani SBT selama 1 menit dengan mode
ventilator CPAP, PEEP 0, PS 5-10, FiO2 50%, RR<35 x/menit, Rapid Shallow Breathing Index (RSBI)
<105 sebanyak 26 (42,6%) responden menjawab benar. Nomor 13, tindakan
kolaborasi perawat ketika pasien menjalani protokol SBT selama 1 jam, pasien
mengalami dispnea, keringat dingin, dan RR > 35 x/mnt sebanyak 43 (70,5%) responden menjawab benar. Pengetahuan
tentang tindakan setelah protokol dianggap berhasil terdapat pada nomor 14,
yaitu tindakan kolaborasi selanjutnya, setelah pasien dianggap berhasil
menjalani protokol SBT sebanyak 34 (55,7%) responden menjawab benar.
3. Pengetahuan Perawat tentang Penerapan Elemen C: Choice of Analgesia
and Sedation (Pemilihan
Obat Analgesik dan Sedasi yang Sesuai).
Elemen
C meneliti pengetahuan tentang skala yang digunakan dalam mengevaluasi agitasi
terkait penggunaan obat sedasi, strategi dalam
pemberian obat analgesik dan sedasi pada pasien
kritis, dan efek samping medikasi pada pasien kritis. Berdasarkan tabel 4
diperoleh hasil analisis data pengetahuan perawat yang menjawab benar;
pengetahuan tentang skala yang digunakan dalam mengevaluasi agitasi terkait
penggunaan obat sedasi terdapat pada nomor 15, yaitu
skala yang valid dan reliabel untuk mengevaluasi agitasi terkait penggunaan
obat-obatan sedatif sebanyak 9 (14,8%) responden. Pengetahuan tentang strategi
dalam pemberian obat analgesik dan sedasi pada pasien
kritis terdapat pada nomor 16,18, 20 dan 21. Nomor 16, salah satu strategi
pemberian sedasi pada pasien kritis yang terpasang
ventilasi mekanis guna membantu mengurangi Post Intensive Care Syndrome (PICS) sebanyak 44 (72,1%) responden menjawab
benar. Nomor 18, salah satu keuntungan penerapan strategi analgo-sedasi
sebanyak 38 (62,3%) responden menjawab benar. Nomor 20, strategi pendekatan analgo-sedasi pada pasien nyeri-agitasi akut yang terpasang
ventilator yang paling tepat sebanyak 15 (24,6%) responden menjawab benar.
Nomor 21, strategi yang paling tepat bagi perawat ketika akan memulai kembali
pemberian obat sedasi sebanyak 22 (36,1%) responden
menjawab benar.
4. Pengetahuan Perawat tentang Penerapan Elemen D: Delirium:
Assess, Prevent, and Manage (Pengkajian,
Pencegahan dan Penanganan Delirium).
Elemen
D membahas tentang pengkajian, pencegahan dan penanganan delirium pada pasien
kritis. Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil analisis data pengetahuan perawat
yang menjawab benar; pengetahuan tentang pengkajiian
delirium yang terdapat pada pertanyaan nomor 22,23,24 dan 25. Nomor 22,
instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur delirium sebanyak 23 (37,7%)
responden menjawab benar. Nomor 23, salah satu faktor presipitasi terjadinya delirium
pada pasien di ICU sebanyak 23 (70,5%) responden menjawab benar. Nomor 24, skor
SAS dan RASS yang memenuhi syarat untuk mengukur delirium menggunakan CAM-ICU
sebanyak 14 (23%) responden responden menjawab benar.
Nomor 25, yang harus dilaporkan perawat kepada tim dokter terkait perubahan
status mental, pada pasien yang terpasang obat sedasi
secara drips sebanyak 14 (23%) responden menjawab
benar.
5. Pengetahuan Perawat tentang Penerapan Elemen E: Early Mobility and Exercise
(Mobilisasi Dini dan Latihan).
Elemen
E meneliti tentang pengetahuan perawat dalam pengkajian kemampuan fisik pasien,
kriteria aman pasien sebelum menjalani mobilisasi dini dan latihan, dan
tindakan latihan aktivitas yang aman terhadap pasien dengan berbagai kondisi.
Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil analisis data pengetahuan perawat yang
menjawab benar; pengetahuan perawat tentang pengkajian kemampuan fisik pasien
terdapat pada pertanyaan nomor 29. 30 dan 31. Nomor 29, manfaat mobilisasi dini
yang telah terbukti secara evidence base sebanyak 15 (24,6%) responden menjawab benar. Nomor
30, instrumen yang dapat mengukur kelemahan dan kekuatan otot sebanyak 50 (82%)
responden menjawab benar. Nomor 31, instrumen yang dapat digunakan untuk
mengukur status mobilisasi pasien di ICU sebanyak 46 (75,4%) responden menjawab
benar.
6. Pengetahuan Perawat tentang Penerapan Elemen F: Family Engagement and Empowerment (Keterlibatan dan Pemberdayaan Keluarga).
Elemen
F meneliti tentang pengetahuan perawat dalam fleksibilitas waktu berkunjung,
kehadiran anggota keluarga dalam perawatan, keterlibatan anggota keluarga, dan
pemberdayaan keluarga. Berdasarkan tabel 4 diperoleh hasil analisis data
pengetahuan perawat yang menjawab benar; pengetahuan tentang dalam
fleksibilitas waktu berkunjung terdapat pada nomor 35, yaitu keuntungan
fleksibilitas waktu berkunjung bagi keluarga sebanyak 32 (52,5%) responden
menjawab benar. Pengetahuan tentang kehadiran keluarga dalam perawatan terdapat
pada nomor 36, yaitu pengaruh kehadiran anggota keluarga dalam menyaksikan tindakan
resusitasi pasien sebanyak 25 (41,0%) responden
menjawab benar. Pengetahuan tentang keterlibatan anggota keluarga terdapat pada
nomor 37, yaitu intervensi perawat yang paling tepat dalam melibatkan anggota
keluarga dalam upaya pencegahan delirium pada pasien di ICU sebanyak 47 (77,0%)
responden menjawab benar. Pengetahuan tentang pemberdayaan keluarga terdapat
pada nomor 38, yaitu tiga area kunci dalam pemberdayaan anggota keluarga
sebanyak 14 (23,0%) responden menjawab benar.
C. Karakteristik
Responden
Hasil penelitian pada
karakteristik usia 61 perawat yang berdinas ICU RSPI Sulianti Saroso,
menunjukkan bahwa 70,5% responden berada rentang usia 36-45 tahun. Usia
berpengaruh terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang, sehingga semakin
bertambahnya usia, pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Umumnya
semakin bertambah usia, seseorang memiliki pola pikir yang lebih bertanggung
jawab dan lebih teliti dibanding usia yang lebih muda (Wawan & Dewi, 2011), (Nursalam, 2008). Pada
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chunlei terhadap 282 perawat di
China, bahwa tidak ditemukan perbedaan signifikan antara usia dengan
pengetahuan perawat tentang ABCDEF Bundle (Hou Chunlei, Zhang Die, 2019). Karakteristik
jenis kelamin responden menunjukkan bahwa 65,6% responden berjenis kelamin
perempuan. Hal ini dikarenakan mayoritas perempuan lebih menaruh minatnya
dengan profesi keperawatan. Menurut Chunlei pada penelitian sebelumnya, bahwa
tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin dengan pengetahuan
perawat tentang penerapan asuhan keperawatan ABCDEF Bundle (Hou Chunlei, Zhang Die, 2019). Karakteristik lama
kerja di ICU responden menunjukkan bahwa 65,6% responden memiliki pengalaman
kerja di ICU pada kisaran 1-3 tahun. Pengalaman kerja adalah tingkat penguasaan
pengetahuan serta keterampilan seseorang dalam pekerjaannya yang dapat diukur
dari masa kerja, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Seseorang dengan rentang pengalaman tertentu akan lebih baik
pengetahuan dan kemampuan mengorganisir dalam organisasi yang kompleks
dibandingkan dengan seseorang yang tidak mempunyai pengalaman (Alias & Serang, 2018). Menurut Chunlei, bahwa lama kerja di ICU berpengaruh terhadap
tingkat pengetahuan tentang ABCDE Bundle, yaitu
perawat dengan lama kerja lebih dari 5 tahun memiliki tingkat pengetahuan yang
lebih baik (P<0.05) (Hou Chunlei, Zhang Die, 2019). Karakteristik status
kepegawaian responden menujukkan bahwa 91,8%
responden berstatus sebagai PNS. Hal tersebut dikarenakan rumah sakit dalam
kurun waktu 10 tahun terakhir tidak mengadakan rekruitmen
pegawai non-PNS dalam jumlah yang banyak. Status kepegawaian adalah kedudukan
seseorang pada posisi dan jabatan tertentu dalam suatu instansi yang mampu
menyelesaikan pekerjaan atau tugas yang diberikan oleh instansi (Singarimbun & Effendi, 2008). Karakteristik tingkat
pendidikan responden menujukkan 62,3% responden
memiliki tingkat pendidikan D3 Keperawatan. Hal tersebut dikarenakan rumah
sakit masih memberikan porsi yang cukup tinggi untuk perawat baru dengan
jenjang pendidikan D3 dalam 10 tahun terakhir. Pendidikan dapat mempengaruhi
pengetahuan dan perilaku seseorang terutama dalam memotivasi untuk berperan
serta dalam pembangunan pendidikan keperawatan. Sehingga diharapkan makin
tinggi pendidikan seseorang, makin mudah mengakses, menerima dan menganalisis
informasi (Wawan & Dewi, 2011).
D. Pengetahuan
Perawat Dalam Penerapan ABCDEF Bundle
Pengetahuan adalah
gabungan dari pengalaman, informasi dan keterampilan yang membentuk struktur
sehingga mampu mengevaluasi dan mengintegrasikan pengalaman dengan informasi
baru (Mohajan, 2016). Pengetahuan adalah hasil “tahu” dari obyek atau sesuatu yang diamati oleh
penginderaan manusia (mata, telinga dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2010). Berdasarkan hasil penelitian ini tentang pengetahuan dalam penerapan
ABCDEF Bundle, didapatkan data responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 6
(9,8%) responden, pengetahuan cukup baik sebanyak 11 (18,0%) responden, kurang
baik sebanyak 44 (72,2%) responden. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas
responden memiliki pengetahuan tentang ABCDEF Bundle yang rendah, karena
kurangnya informasi yang didapatkan baik melalui seminar/workshop atau
pelatihan, dan belum adanya kebijakan penerapan ABCDEF Bundle dalam bentuk
Standar Operasional Prosedur (SOP) di rumah sakit.
Elemen A (Assess, prevent and
manage Pain) adalah salah satu bagian dari ABCDEF Bundle yang mengidentifikasi
dan mengintegrasikan pengkajian, strategi pencegahan dan penanganan nyeri
berbasiskan evidence base dan sesuai rekomendasi para ahli dalam memberikan
asuhan keperawatan di area kritis (Puntillo, Payen, Gelinas, &
Chanques, 2012). Secara umum elemen A meneliti pengetahuan perawat tentang pengkajian
nyeri, pencegahan nyeri, dan jenis medikasi dalam penanganan nyeri. Hasil
penelitian pada pengetahuan perawat tentang elemen A didapatkan data, kategori
baik sebanyak 28 (45,9%) responden, Hasil penelitian tentang pengkajian nyeri,
didapatkan data sebanyak 57 (93,4%) responden menjawab alat ukur nyeri yang
valid untuk pasien tidak sadar adalah Critical Pain Observation Tool (CPOT).
Didapatkan data separuh atau sebanyak 31 (50,8%) responden menjawab bahwa
komponen perilaku dari alat ukur nyeri CPOT, yaitu ekspresi wajah, gerakan
tubuh, toleransi terhadap ventilator dan ketegangan otot. Pengetahuan
pencegahan nyeri hasil penelitian didapatkan sebanyak 30 (49,2%) responden
menjawab benar, yaitu melakukan intervensi non-farmakologis (seperti relaksasi,
musik-aromaterapi) sebelum melakukan tindakan keperawatan. Pengetahuan
penanganan nyeri, sebanyak 46 (75,4%) responden menjawab golongan obat opioid
dengan onset paling cepat yang digunakan pada pasien agitasi dan instabilitas
hemodinamik, yaitu Fentanyl.
Berdasarkan penelitian ini, sebagian besar responden
mengetahui CPOT sebagai alat ukur nyeri yang dapat digunakan pada pasien tidak
sadar, tetapi sebagian belum terbiasa dalam menerapkan alat ukur nyeri tersebut
pada saat memberikan pelayanan. Sebagian responden masih belum bisa membedakan
antara tindakan pengkajian dengan tindakan pencegahan nyeri. Sehingga perlu
adanya peningkatan pengetahuan melalui pemberian informasi berkelanjutan
(seminar, workshop, pelatihan tentang ABCDEF Bundle di internal RS) dan
menerapkan SOP di pelayanan, yang diharapkan perawat akan terbiasa dalam
menerapkan pengkajian nyeri saat memberikan pelayanan. Sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Morandi A, bahwa dari 57% responden yang mengetahui tentang
ABCDEF Bundle, terdapat 83% responden menerapkan penggunaan skala untuk mengevaluasi
nyeri, yaitu Visual Analogic Scale (VAS) dan Numerik Rating Scale (NRS)
sebanyak 54% responden. Sebanyak 56% responden mengetahui dan menerapkan
pemberian analgesik pra tindakan. Pengetahuan tentang analgesik untuk
penanganan nyeri, 78% responden menerapkan penggunaan morfin, 79% responden
menggunakan fentanyl, dan 69% responden menggunakan paracetamol dalam dosis
tunggal atau kombinasi (Morandi et al., 2017). Elemen B (Both Spontaneous Awakening Trials (SAT) and
Spontaneous Breathing Trials (SBT)) adalah sebuah protokol atau panduan praktik
yang mengkoordinasikan titrasi-sedasi dan penyapihan (weaning) ventilasi
mekanik pada pasien kritis terpasang obat sedasi, yang berbasiskan keselamatan
dan keamanan pasien di intensive care (Ely, Riker, Kress, & Balas,
2013). Hasil penelitian pada pengetahuan perawat tentang elemen B didapatkan
data, kategori baik sebanyak 15 (24,6%) responden, kategori cukup baik 8
(13,1%) responden dan kategori kurang baik sebanyak 38 (62,3%) responden.
Secara umum elemen B meneliti pengetahuan perawat tentang sinergi
titrasi-penghentian sedasi/SAT dan program weaning ventilator/SBT, kriteria
aman sebelum menjalankan protokol SAT dan SBT, tindakan perawat saat tindakan
protokol SAT dan SBT berlangsung, dan kriteria pasien setelah protokol dianggap
berhasil.
Elemen C (Choise of
analgesia and sedation) adalah sebuah konsep memilih rejimen pengobatan yang
aman dan efektif untuk mengatasi nyeri dan agitasi pada pasien kritis, sesuai
dengan rekomendasi Pedoman Pain, Agitation and Delirium (PAD)-ICU (Carson, Pandharipande, Riker,
& Treggiari, 2012). Elemen D (Delirium; Assess, prevent and manage) adalah salah satu bagian
dari ABCDEF Bundle yang mengidentifikasi dan mengintegrasikan pengkajian,
penerapan prinsip-prinsip farmakologis dan nonfarmakologis dalam pencegahan,
dan penanganan delirium di area kritis (Ely, Bergeron, Dubois, &
Pisani, 2013). Hasil penelitian pada pengetahuan perawat tentang elemen D didapatkan
data, kategori baik sebanyak 4 (6,6%) responden, kategori cukup baik sebanyak
14 (23%) responden, sebanyak 43 (70,5%) responden kategori kurang baik. Secara
umum elemen D membahas tentang pengkajian, pencegahan dan penanganan delirium
pada pasien kritis. Hasil penelitian tentang pengetahuan pengkajian delirium
didapatkan sebanyak 23 (37,7%) responden menjawab instrumen yang valid dan
reliabel untuk mengukur delirium yaitu Confusion Assessment Method-ICU
(CAM-ICU) dan Intensive Care Delirium Screening Checklist (ICDSC). Elemen E
(Early Mobility and Exercise) sebuah panduan dalam mengidentifikasi kemampuan
fisik, implementasi mobilisasi fisik, dan perkembangan program mobilisasi dini
dan latihan pada pasien kritis berbasiskan manfaat, keamanan dan keselamatan
pasien di intensive care (Herridge, De Jonghe, Levine,
& Puthucheary, 2014). Hasil penelitian pada pengetahuan perawat tentang elemen E didapatkan
data, kategori baik sebanyak 26 (42,6%) responden, 13 (21,3%) responden
kategori cukup baik, dan 22 (36,1%) responden kategori kurang baik. Secara umum
elemen E membahas tentang pengetahuan perawat dalam pengkajian kemampuan fisik
terhadap pasien, kriteria aman pasien sebelum menjalani mobilisasi dini dan
latihan, dan tindakan latihan aktivitas yang aman terhadap pasien dengan
berbagai kondisi. Hasil penelitan menunjukkan sebanyak 46 (75,4%) responden
menjawab penggunaan instrumen yang mengukur kemampuan otot dan status
mobilisasi fisik pasien salah satunya adalah Perme ICU Mobility Score. Elemen F (Family engagement and
empowerment) adalah sebuah konsep yang dapat menjadi panduan untuk
menghadirkan, melibatkan dan memberdayakan keluarga dalam perawatan pasien
kritis di ICU (Curtis et al., 2013).
KESIMPULAN
Alias, &
Serang, S. (2018). Pengaruh pengetahuan, sikap kerja dan pengalaman kerja
terhadap kinerja karyawan. Jurnal Ilmu Ekonomi, 1(1), 82–97. Google Scholar
Balas, M. C.,
Vasilevskis, E. E., Burke, W. J., Boehm, L., Pun, B. T., Olsen, K. M., … Ely,
W. (2012). Critical care nurses’ role in implementing the “ABCDE Bundle” into
practice. Critical Care Nurse, 32(2), 35–47. https://doi.org/10.4037/ccn2012229.
Google
Scholar
Bell, L.
(2020). Prevent Post-Intensive Care Syndrome (PICS) during COVID-19. Retrieved
December 2, 2020, from American Association of Critical-Care Nurses website:
https://www.aacn.org/prevent-post-intensive-care-syndrome-pics-during-covid-19.
Google
Scholar
Brenda, T.,
Balas, M. C., Barnes-Daly, M. A., Thompson, J. L., Aldrich, J. M., Barr, J., …
Ely, E. W. (2019). Caring for Critically Ill Patients with the ABCDEF Bundle.
Critical Care Medicine, 47(1), 3–14.
https://doi.org/10.1097/ccm.0000000000003482. Google Scholar
Brinkman, S.,
De Jonge, E., Abu-Hanna, A., Arbous, M. S., De Lange, D. W., & De Keizer,
N. F. (2013). Mortality after hospital discharge in ICU patients. Critical Care
Medicine, 41(5), 1229–1236. https://doi.org/10.1097/CCM.0b013e31827ca4e1. Google
Scholar
Carson, S.,
Pandharipande, P., Riker, R., & Treggiari, M. (2012). Choise of analgesia
and sedation. Retrieved December 2, 2020, from Society of Critical Care
Medicine website: https://www.sccm.org/LearnICU/Resources/Implementing-the-C-component-of-the-ABCDEF-Bundle.
Google
Scholar
Colbenson, G.
A., Johnson, A., & Wilson, M. E. (2019). Post-intensive care syndrome:
Impact, prevention, and management. Breathe, 15(2), 98–101. https://doi.org/10.1183/20734735.0013-2019.
Google
Scholar
Collinsworth,
A. W., Priest, E. L., & Masica, A. L. (2020). Evaluating the
Cost-Effectiveness of the ABCDE Bundle: Impact of Bundle Adherence on Inpatient
and 1-Year Mortality and Costs of Care. Critical Care Medicine, 48(12),
1752–1759. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000004609. Google Scholar
Curtis, J.,
Zier, L., Davidson, J., Cypress, B., Burchardi, H., & Jabre, P. (2013).
Family engagement and empowerment. Retrieved from Society of critical care
medicine website: https://www.sccm.org/LearnICU/Resources/Implementing-the-F-component-of-the-ABCDEF-bundle.
Google
Scholar
Davidson, J.
E., Harvey, M., Schuller, J., Black, G., Judy Davidson, Maurene Harvey, … Garry
Black. (2013). Post-intensive care syndrome: What it is and how to help prevent
it. American Nurse Today, 8(5), 32–38. Google Scholar
Ely, E.,
Bergeron, N., Dubois, M., & Pisani, M. (2013). Delirium : assess,
prevent, and managemen. Society of Critical Care Medicine. Retrieved December
2, 2020, from Society of critical care medicine website: https://www.sccm.org/LearnICU/Resources/Implementing-the D-Component-of-the-ABCDEF-Bundle.
Google
Scholar
Ely, E., Riker,
R., Kress, J. P., & Balas, M. C. (2013). Both spontaneous awakening trial
& spontaneous breathing trials. Society of Critical Care Medicine, 1–63. Google
Scholar
Garland,
Olafson, K., Ramsey, C. D., Yogendran, M., & Fransoo, R. (2013).
Epidemiology of critically ill patients in intensive care units: A
population-based observational study. Critical Care, 17(5), 1–7.
https://doi.org/10.1186/cc13026. Google Scholar
Herridge, M.,
De Jonghe, B., Levine, S., & Puthucheary, L. (2014). Early mobility and
exercise. Retrieved December 2, 2020, from Society of Critical Care Medicine
website: https://www.sccm.org/LearnICU/Resources/Implementing-the-E-component-of-the-ABCDEF-bundle.
Google
Scholar
Hou Chunlei,
Zhang Die, D. Y. (2019). Nurses’ knowledge,attitudes,and behaviors toward the
ABCDE Bundle nursing for sedation and analgesia in Intensive Care Units.
Chinese Journal of Nursing, 54(1529–1533).
https://doi.org/https://doi.org/10.3761/j.issn.0254-1769.2019.10.017. Google
Scholar
Kepmenkes RI.
(2010). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1778 Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pelayanan Pelayanan Intensive Care Unit (ICU). JAKARTA. Google Scholar
Lokhandwala,
S., McCague, N., Chahin, A., Escobar, B., Feng, M., Ghassemi, M. M., … Celi, L.
A. (2018). One-year mortality after recovery from critical illness: A
retrospective cohort study. PLoS ONE, 13(5), 1–12.
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0197226. Google Scholar
Mohajan, H. K.
(2016). Knowledge is an Essential Element at Present World. International
Journal of Publication and Social Studies, 1(1), 31–53.
https://doi.org/10.18488/journal.135/2016.1.1/135.1.31.53. Google
Scholar
Morandi, A.,
Piva, S., Ely, E. W., Myatra, S. N., Salluh, J. I. F., Amare, D., … Latronico,
N. (2017). Worldwide Survey of the “Assessing Pain, Both Spontaneous Awakening
and Breathing Trials, Choice of Drugs, Delirium Monitoring/Management, Early
Exercise/Mobility, and Family Empowerment” (ABCDEF) Bundle. Critical Care
Medicine, 45(11), e1111–e1122. https://doi.org/10.1097/CCM.0000000000002640. Google
Scholar
Mukhopadhyay,
A., Tai, B. C., See, K. C., Ng, W. Y., Lim, T. K., Onsiong, S., … Phua, J.
(2014). Risk factors for hospital and long-Term mortality of critically ill
elderly patients admitted to an intensive care unit. BioMed Research
International, 2014. https://doi.org/10.1155/2014/960575. Google Scholar
Notoatmodjo, S.
(2007a). Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta. Google
Scholar
Notoatmodjo, S.
(2007b). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. (Cetakan 1). Jakarta: Rineka
Cipta. Google Scholar
Notoatmodjo, S.
(2010). Promosi kesehatan : teori & aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta. Google
Scholar
Nursalam.
(2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrument Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Google
Scholar
Pinto, F.,
& Biancofiore, G. (2016). The ABCDE Bundle : A Survey of Nurses
Knowledge and Attitudes in the Intensive Care Units of a National Teaching
Hospital in Italy. Dimensions of Critical Care Nursing, 35(6), 309–314.
https://doi.org/10.1097/DCC.0000000000000210. Google Scholar
Puntillo, K.,
Payen, J., Gelinas, C., & Chanques, G. (2012). Assess, Prevent, Manage
Pain. Retrieved from Society of critical care medicine website:
https://www.sccm.org/LearnICU/Resources/Implementing-the-A-component-of-the-ABCDEF-bundle.
Google
Scholar
Ruggiero, R. M.
(2018). Chronic Critical Illness: The Limbo Between Life and Death. American
Journal of the Medical Sciences, 355(3), 286–292.
https://doi.org/10.1016/j.amjms.2017.07.001. Google Scholar
Singarimbun,
M., & Effendi, S. (2008). Metode Penelitian Suvei. Jakarta: LP3ES. Google
Scholar
Stollings, J.
L., Devlin, J. W., Pun, B. T., Kelly, T., Hargett, K. D., Morse, A., … Ely, E.
W. (2019). Implementing the ABCDEF Bundle: Top 8 Questions Asked During the ICU
Liberation ABCDEF Bundle Improvement Collaborative. CriticalCareNurse, 39(1),
36–46. Google Scholar
Suherlin, N.,
Keperawatan, A., Padang, B., Care, M. B., & Infections, A. (2020).
Efektifitas Pelatihan Manajemen Bundle Care Healthcare Associated Infections
(HAI) Terhadap Pengetahuan. XIV(02), 61–69. Google Scholar
Wawan, A., & Dewi,
M. (2011). Teori&pengukuran: Pengetahuan, sikap, dan perilaku mnusia
(cetakan 2). Yogyakarta: Nuha Medika. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |