PREDIKSI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN ASURANSI  JIWA  DENGAN MEMPERGUNAKAN MULTIPLE DISCRIMINANT ANALYSIS  STEP WISE

 

 

Titiek  Irewati

Universitas  Gunadarma, Jakarta, Indonesia

titiekirewati2@gmail.com

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

01 Agustus 2022

10 Agustus 2022

20 Agustus 2022

Latar Belakang : Penilaian kesehatan keuangan perusahaan asuransi jiwa  mempermudah masyarakat untuk memilih perusahaan yang dapat dipercaya.

Tujuan : Pada penelitian ini,  peneliti  ingin mengetahui  model fungsi yang dapat dipergunakan untuk  melakukan pengelompokan perusahaan perusahaan asuransi jiwa di  Indonesia berdasarkan kondisi kesehatan keuangannya  dengan tolok ukur  rasio rasio  keuangan yang dianalisis  mempergunakan Multiple  Discriminant Analysis  (MDA).  

Metode : Penelitian ini menggunakan metode Multiple Discriminant Analysis (MDA) stepwise membuat suatu model prediksi yang menggabungkan beberapa rasio keuangan  sehingga lebih memudahkan interpretasi.

Hasil : Pada penelitian ini,  diperoleh rasio rasio keuangan yang berperan signifikan untuk membedakan kondisi keuangan perusahaan perusahaan asuransi  adalah  Rasio Asset,  RBC  dan Rasio Beban.   

Kesimpulan : Dalam hal ini diharapkan perusahaan asuransi jiwa harus mengelola operasionalnya sehingga dapat memberikan kepercayaan kepada konsumen.

 

Kata Kunci : Multiple Discriminant Analysis; Perusahaan Asuransi jiwa; Risk Based Capital;

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Assessment of the financial health of life insurance companies makes it easier for people to choose a trustworthy company.

Objectives: In this study, the researcher wanted to know a function model that can be used to group life insurance companies in Indonesia based on their financial health condition with a financial ratio ratio benchmark that is analyzed using Multiple Discriminant Analysis (MDA).

Methods: This study uses the Multiple Discriminant Analysis (MDA) method to create a prediction model that combines several financial ratios to make it easier to interpret.

Results: In this study, financial ratio ratios that play a significant role in distinguishing the financial condition of insurance companies are asset ratios, RBC and expense ratios.

Conclusion: In this case, it is expected that life insurance companies must manage their operations so that they can provide confidence to consumers.

 

Keywords: Multiple Discriminant Analysis; Life Insurance Company; Risk Based Capital;

*Correspondent Author : Titiek  Irewati

Email : titiekirewati2@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Upaya perencanaan strategis yang baik membuat analisis  rasio menjadi penting karena rasio keuangan menjadi tolok ukur penilaian kesehatan perusahaan dan berkaitan juga dengan pengambilan keputusan keputusan tertentu, seperti yang berkaitan dengan hukum, merger, pengembangan dan investasi oleh perusahaan. Perusahaan  asuransi  jiwa  sebagai  suatu usaha  yang bergerak di bidang jasa keuangan harus mampu mencapai tolok ukur nilai nilai rasio keuangan tertentu. Asuransi jiwa merupakan perusahaan yang memberikan janji di masa depan sehingga para nasabah perusahaan asuransi sebenarnya merupakan para investor yang kepercayaannya terhadap perusahaan asuransi dipengaruhi oleh kondisi keuangan  perusahaan. Pendirian dan operasional  perusahaan asuransi  jiwa  diatur dengan syarat syarat khusus yang penting untuk menjaga likuiditas dan  solvabilitas asuransi  jiwa. Penilaian kinerja dan kesehatan keuangan perusahaan  asuransi  jiwa di Indonesia berdasarkan PMK (Peraturan Menteri Keuangan) no 53 /PMK.010/2012 mempunyai acuan baku dengan orientasi kesehatan keuangan yaitu pendekatan  kemungkinan likuidasi. Penilaian ini terutama untuk kepentingan pemegang polis  supaya tidak  dirugikan oleh  kinerja  perusahaan  yang  buruk.  Para  nasabah pun  harus  berhati hati  memahami  gambaran kesehatan keuangan perusahaan asuransi  karena  panjangnya waktu periode kepentingan nasabah  dengan perusahaan asuransi.

Penilaian kondisi  keuangan perusahaan  asuransi  dengan mempergunakan rasio rasio  keuangan yang lazim dipakai selama ini  (konvensional)  mempunyai  beberapa  kelemahan.  Yaitu  : 

1.    Adanya perbedaan aspek waktu yang dipergunakan dalam perbandingan rasio bila mempergunakan dasar  neraca dan laba rugi.  Perbedaan pencatatan yang terjadi pada akhir tahun akan berpotensi menyesatkan karena  tidak memperlihatkan apa yang terjadi  pada bulan bulan sebelumnya.

2.    Rasio rasio untuk  analisis  Likuiditas, Solvabilitas dan  Rentabilitas  ditafsirkan terpisah per rasio sehingga sulit untuk membuat kesimpulan  mengenai kondisi  suatu perusahaan secara umum (Shim, 2000).

Pemakaian metode Multiple Discriminant Analysis atau Analisis Diskriminan dalam analisis kesehatan keuangan perusahaan merupakan suatu metode yang berusaha  menggabungkan rasio rasio  keuangan kedalam  suatu sistem sehingga memudahkan  mengidentifikasi  kondisi  perusahaan.  Multiple Discriminant Analysis (MDA) dapat dipergunakan untuk membuat pengelompokan terhadap perusahaan perusahaan  sehingga kelompok kelompok tersebut  secara kualitatif  dan  statistika  dapat dibedakan dengan jelas. Pengelompokan ini biasanya merupakan upaya  pembuatan kelompok perusahaan yang mempunyai kondisi  kesehatan  keuangan  tergolong  baik  versus  kelompok perusahaan dengan kesehatan keuangan tergolong kurang baik.  Model yang  dibuat berdasarkan pengelompokan tersebut  menjadi sarana untuk menduga  kondisi  kesehatan suatu perusahaan, di Indonesia, pemakaian MDA  untuk  penilaian keuangan perusahaan dimasa depan telah dipakai oleh para peneliti manajemen dan keuangan, seperti yang dilakukan oleh (Pane & Topowijono, 2015), Topowijono dan Husaini (2015) yang memakai MDA untuk prediksi kebangkrutan  perusahaan perusahaan manufaktur. Predksi untuk perusahaan tekstil dan garment pada penelitian (Afgani, Rivanda, & Purbayati, 2021). Beberapa  penelitian untuk penilaian keuangan perusahaan  asuransi juga telah dilakukan , seperti  penelitian oleh (Cahyandari, Awalluddin, & Hartati, 2021), Awaludin dan (Purwanto, Asbari, Hartuti, Setiana, & Fahmi, 2021) yang memakai  rasio rasio keuangan untuk menggolongkan kondisi perusahaan asuransi jiwa berdasarkan laporan keuangan tahun 2017 / 2018. 

Dinamika  yang selalu  terjadi  sejalan  dengan  perubahan waktu  dan  kondisi  perekonomian nasional maupun global  membuat  penilaian kinerja  keuangan perusahaan harus berkelanjutan untuk  dapat mengantisipasi  kemungkinan kemungkinan yang terjadi pada perusahaan di masa depan. Selain berkaitan dengan kesinambungan evaluasi kesehatan keuangan tersebut, penelitian ini juga berusaha  mempertajam hasil dan analisis  dengan memakai 3 klasifikasi dibandingkan 2 klasifikasi yang dipakai penelitian penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui model fungsi yang dapat dipergunakan untuk melakukan pengelompokan perusahaan perusahaan asuransi  jiwa di Indonesia berdasarkan kondisi kesehatan keuangannya dengan tolok ukur rasio rasio  keuangan yang dianalisis mempergunakan Multiple Discriminant Analysis  (MDA).

A.   Kegiatan Perusahaan Asuransi Jiwa

Perusahaan asuransi jiwa adalah perusahaan yang melakukan peliputan pertanggungan secara personal terhadap risiko kehilangan kehidupan seseorang atau  kemampuan memperoleh pendapatan karena terjadinya kecelakaan, usia tua  atau sakit.  Peliputan pertanggungan adalah upaya penyebaran risiko tersebut dari satu orang menjadi banyak orang,  yang dinyatakan dengan suatu nilai iuran atau  premi tertentu (Greene, 1992). Kegiatan asuransi jiwa sebagai jasa keuangan yang menyangkut periode waktu yang panjang di masa depan   sehingga  sangat diperlukan suatu sistem pengawasan perusahaan.

B.   Penilaian Kinerja Perusahaan Asuransi Jiwa

Kekuatan modal menggambarkan kemampuan perusahaan asuransi untuk melakukan retensi risiko.  Perusahaan harus mampu mengembangkan  modal dan premi  yang dipunyai dalam bentuk  investasi  yang tepat berkaitan  dengan pemenuhan perjanjian pada polis.  Nilai  Risk Based Capital (RBC)  merupakan faktor kecukupan modal perusahaan asuransi,  menunjukkan taraf  kebutuhan  kapital  atau modal  finansial  yang didasarkan pada  nilai  asuransi  yang  ditanggung  perusahaan  dan  risiko  investasi  untuk menyangga pembayaran  klaim (WILLIAMS Jr, Smith, & Young, 1964). Secara praktis  nilai  RBC dapat diartikan sebagai  jumlah  kapital atau  modal finansial yang dibutuhkan untuk memperlihatkan pada pihak terkait,  kemungkinan perusahaan mengalami  insolvent atau laba negatif. Besaran RBC  mengandung  empat  komponen risiko  yaitu  :  risiko  aset,  risiko  reasuransi,  risiko  underwriting, dan risiko  pertumbuhan  perusahaan (Ng, 2003).  Penelitian mengenai  nilai  RBC  dan  kondisi  solvabilitas  oleh (Ng, 2003) menyatakan bahwa  nilai  RBC  yang tinggi belum pasti dapat menjamin kondisi solvabilitas perusahaan. Batasan minimum di Indonesia untuk perusahaan asuransi jiwa adalah 120%. Perusahaan dapat  mengalami  likuidasi  bila  nilai  RBC  tidak mencapai  120%. Suatu perusahaan asuransi  jiwa yang mempunyai nilai RBC di bawah 150 %  wajib  melakukan analisis  terhadap  kegiatan operasionalnya. Bila posisi  RBC di antara 150 sampai 200 % maka perusahaan perlu mengajukan laporan rencana keuangan kepada regulator. Apabila suatu perusahaan telah mencapai nilai  RBC sebesar  200 %  pun  tetap  diperlukan uji  kecenderungan  data  untuk menilai  prospek  di masa depan (Nissim, 2010).

Beberapa penelitian pada perusahaan asuransi jiwa memakai analisis rasio  keuangan konvensional menyatakan atribut atribut keuangan yang berpengaruh nyata seperti besar proporsi asset dan investasi (Febriyanti, Choliq, & Mukti, 2021), Perusahaan juga harus memperhatikan besar peningkatan premi  dan biaya operasional. Pertumbuhan premi yang cepat justru harus diwaspadai karena bisa berkorelasi dengan insolvency perusahaan. Diketahui juga ada hubungan negatif  antara  leverage dan  kinerja  perusahaan (Browne & Hoyt, 1995).

C.   Multiple Discriminant Analysis  untuk  Early  Warning System

Rasio rasio keuangan perusahaan selain dapat dianalisis  dan diuji dengan  analisis  konvensional  per rasio,  dapat  juga  dianalisis  dengan  Multiple Discriminan Analysis (MDA) atau analisis diskriminan.  Analisis  ini dapat menentukan rasio rasio terpenting dalam upaya  Early Warning System (EWS) sebagai peringatan dini tentang kesehatan perusahaan, yaitu  rasio  yang  paling  efektif  dan  konsisten  dalam menilai  kesehatan  keuangan perusahaan, sebagai sistem deteksi dini kebangkrutan perusahaan (Shim, 2000). Multiple Discriminant Analysis (MDA) menghasilkan suatu indeks yang memungkinkan dibuatnya suatu penggolongandari suatu observasi ke dalam salah satu dari beberapa  kelompok  yang  telah dibuat sebelumnya. Analisis  ini  bermula  dari keinginan untuk membedakan secara statistik antara dua kelompok  atau lebih. Tujuan matematis dari analisis diskriminan ini adalah untuk memberi  bobot dan menggabungkan secara linier variabel variabel diskriminan sedemikian rupa sehingga kelompok kelompok itu dapat  dibedakan  secara  statistika (Rencher & Christensen, 2002).

D.   Operasionalisasi  Multiple Discriminant Analysis

Menurut (Satria, 1994), dalam pengerjaan analisis  diskriminan,  beberapa langkah penting yang harus dilaksanakan meliputi  :

1.    Pemilihan  sampel  :  penentuan jumlah sampel  untuk  menilai kondisi  populasi 

2.    Penentuan variabel  bebas khususnya  variabel  pembeda :  variabel pembeda  adalah variabel  bebas yang dapat dipergunakan sebagai  dasar penggolongan sampel.

3.    Penentuan fungsi  diskriminan  :  jumlah  fungsi  diskriminan yang terbentuk dapat  lebih dari satu  berdasarkan  sistem klasifikasi kualitatif  yang dipergunakan

4.    Pengujian fungsi  Diskriminan : untuk mengukur  fungsi  apakah sudah mempunyai kemampuan pembeda yang cukup kuat, digunakan  indikator :  Eiigen value,  Canonical Correlation, nilai Wilks lambda.

5.    Penentuan  Cut off  

Point Pengetahuan akan nilai kritis atau cut off point membuat kita dapat menduga kemampuan fungsi diskriminan dalam melakukan penggolongan yaitu  dengan mengaplikasikan fungsi tersebut pada sampel  yang sama. Selain itu juga dapat diketahui karakterstik perusahaan perusahaan yang menjadi bahan observasi                                                                                     (Satria, 1994). Pada bidang  bisnis manajemen dan keuangan , penelitian mempergunakan  MDA sebagai dasar penggolongan perusahaan telah dilakukan pada perusahaan perusahaan manufaktur  seperti yang dilakukan oleh (Pane & Topowijono, 2015), (Pane & Topowijono, 2015), (Afgani et al., 2021) untuk memperkirakan perusahaan perusahaan yang dapat mengalami kebangkrutan dalam waktu dekat. Analisis  Diskriminan juga dipergunakan oleh (Cahyandari et al., 2021), Awaludin dan (Purwanto et al., 2021) untuk menggolongkan kinerja perusahaan asuransi jiwa  dengan dasar rasio solvabilitas, investasi, likuiditas dan beban.

 

METODE PENELITIAN

Perusahaan perusahaan  asuransi  jiwa  di  Indonesia  yang  sampai  akhir tahun  2020  sejumlah  59  perusahaan (Fachmi & Setiawan, 2020) menjadi obyek pengamatan.  Sampai akhir tahun 2020 di Indonesia  terdapat  59  perusahaan  asuransi jiwa  yang  terdiri  atas  perusahaan asuransi  jiwa  pemerintah, swasta nasional  dan  joint  venture. Perusahaan  perusahaan ini  mempunyai  kondisi  yang  bervariasi  ditinjau  dari  besar permodalan,  aset  dan perolehan premi  perusahaan  asuransi. Pada  penelitian  ini  dipergunakan  data  sekunder  berupa  besaran atribut  rasio  keuangan  masing masing perusahaan yang  menjadi sampel  pengamatan.   Data  yang dipergunakan  untuk perhitungan adalah data berdasarkan laporan keuangan masing masing perusahaan  sampel pada tahun 2020. Pada penelitian ini diambil sebanyak 23 perusahaan sebagai  sampel data untuk dianalisis. Pengambilan sampel secara random acak untuk seluruh  jenis kepemilikan perusahaan asuransi jiwa  konvensional (bukan syariah)  yang  terdaftar  sebagai anggota Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) (Fachmi & Setiawan, 2020). Kondisi perusahaan berdasarkan kepemilikan  terlihat  pada  tabel  1.

Variabel   Penelitian   :

Atribut  keuangan perusahaan asuransi jiwa yang menjadi tolok ukur  adalah  : 

1.    Rasio  Asset (A) =  rasio aset yang diperkenankan dengan total aset. 

2.    Rasio  Investasi (I)  =  rasio hasil investasi dengan pendapatan premi

3.    Rasio  Profitabilitas (P)   =  rasio laba (rugi) sebelum pajak dengan rata rata modal sendiri

4.    Rasio Solvabilitas (RBC) = rasio pencapaian solvabilitas minimum

5.    Rasio  Likuiditas (L)  = kemampuan likuiditas perusahaan dalam operasional sehari hari tanpa harus mencairkan investasi.

6.    Rasio Beban (B)  = rasio perbandingan kumulatif beban dan komisi dengan pendapatan premi

Variabel    Dependen :

Pada  penelitian  ini  variabel yang bersifat  dipengaruhi  adalah  Kondisi  kualitatif  perusahaan  berdasarkan  kodifikasi penggolongan oleh AAJI tahun 2019/2020, yaitu

Yaitu    :      Klasifikasi / Group  (1).  Cukup

                    Klasifikasi / Group   (2).  Baik

                    Klasifikasi / Group   (3).  Sangat  Baik

Oleh karena terdapat 3 klasifikasi  yang diinginkan maka fungsi yang terbentuk ada dua, yaitu fungsi 1  sebagai  pembeda group 1 dan 2, serta  fungsi  2  sebagai  pembeda  group  2  dan 3.

Tabel 1.

  Perusahaan  Sampel

No.

Perusahaan

Jenis Kepemilikan

Klasifikasi

AAJI

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

BRILife

Reliance

Adisarana Wanartha

Taspen

Heksa

Capital

In Health

Tugu Mandiri

Mega

BNI

Chubb

Panin

AXAFin

Alianz

Commonwealth

Generali

AIA

Manulife

AXA Mandiri

Great Eastern

BCA Life

Lippo Life

MNC  Life

 

SN

SN

SN

SN

SN

SN

SN

SN

SN

SN

JV

JV

JV

JV

JV

JV

JV

JV

JV

JV

SN

SN

SN

3

3

3

3

3

2

3

3

3

2

1

2

2

2

3

1

2

2

2

1

1

1

1

( Laporan Kinerja Industri Asuransi Jiwa, 2020)

 

Keterangan : SN : Swasta Nasional     JV : Joint Venture

   1 : Cukup     2 : Baik      3 :  Sangat Baik

Pada penelitian ini dipergunakan alat  analisis  MDA  atau  Multiple  Discriminant Analysis step wise  yang  dapat  membuat secara  signifikan  pengelompokan  perusahaan  berdasarkan rasio rasio keuangan yang dipergunakan secara bersama sama. Data yang dipergunakan adalah data sekunder yaitu laporan keuangan perusahaan asuransi jiwa sampel  pada  tahun  laporan 2020.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penilaian  kesehatan keuangan perusahaan asuransi jiwa  dengan  interpretasi  rasio rasio secara  terpadu  pada pengamatan  ini  dengan  memakai  data  sebagai berikut :

Tabel 2

Data Atribut Keuangan Perusahaan Asuransi Jiwa Sampel

Perusahaan

Asset

(%)

Investasi

(%)

Profitabilitas

(%)

RBC

(%)

Likuiditas

(%)

 Beban

(%)

Bri

Reliance

Aswa

Taspen

Heksa

Capital

Inhealth

Tugu Man

Mega

Bni Life

Chubbs

Panin

Axa

Alianz

Commonw

Generali

Aia

Manulife

Axa Mand

Greateast

Bca Life

Lippo Life

Mnc Life

88

94

96

98

89

59

94

89

43

57

92

74

40

33

48

31

33

58

20

98

88

91

59

 

14

9

6

5

6

9

9

19

5

19

26

21

31

17

32

11

50

38

15

25

253

491

104

29

16

30

25

15

12

13

30

35

9

27

9

11

12

34

12

20

27

48

1

-12

-27

-33

342

332

159

242

172

248

905

170

3344

778

1256

1491

336

380

1063

317

675

585

270

1974

1180

1436

177

339

132

119

393

395

137

254

850

498

807

439

480

133

283

518

185

359

325

323

123

125

439

131

16

19

26

15

18

6

15

18

35

6

26

8

11

6

32

10

21

7

8

-10

116

131

144

(Laporan Kinerja Industri Asuransi Jiwa, 2020)

 

Pengujian  data  terhadap  kecenderungan  variansi  data  dengan perhitungan  nilai Wilks Lambda sebagai berikut :

Tabel  3

Hasil uji data dengan Wilks Lambda

Atribut/Rasio

Wilks Lambda

F score

Prob. Signifikan

Aset

.796

2.558

0.102

Investasi

.695

4.385

0.027*

Profitabilitas

.749

3.353

0.055

RBC

.818

 

2.230

0.134

Likuiditas

.867

1.529

0.241

Beban

.540

8.516

0.002*

 

Uji kesamaan dengan melihat nilai  Wilks Lambda (semakin mendekati 1, semakin homogen atau tidak ada perbedaan). Variabel Investasi dan Beban  karena nilainya paling rendah, berpeluang menjadi pembeda antar grup. Pada usaha  klasifikasi  perusahaan  asuransi  jiwa  ini, dipakai  3  penggolongan  perusahaan  yaitu pengelompokan untuk kondisi kesehatan keuangan   (1) Cukup   (2)  Baik  dan  (3)  Sangat  Baik.   Ketentuan  ini  menyebabkan  ada  dua  fungsi  pembeda yang  terbentuk  yaitu  Fungsi F1  untuk membedakan Grup Cukup (1) dan Baik (2) serta Fungsi F2 untuk membedakan Grup Baik (2)  dan Grup Sangat Baik (3).

Tabel 4

 Proses Step Wise

Step

Jumlah Variabel

Lambda

Fhitung

Prob Sign.

1

1

0,540

8,516

0,002

2

2

0,352

6,523

0,000

3

3

0,243

6,178

0,000

 

Penambahan jumlah variabel yang dimasukkan untuk membentuk fungsi diskriminan menimbulkan penurunan nilai Wilks Lambda, yang berarti semakin kecil juga jumlah varians yang tidak bisa dijelaskan oleh fungsi. Hubungan  antara  variabel  dan  fungsi  diskriminan  terlihat  pada   matriks    tabel 5.

Tabel 5.

Hubungan Variabel dan Fungsi Diskriminan

 

Fungsi 1 (F1)

Fungsi 2  (F2)

Rasio Likuiditas

 

- 0,104

-0,026

Rasio Beban

 

  0,540

0,841

Rasio Asset

 

-0,252

0.714

Rasio Investasi

 

 0,271

0.028

Rasio Profitabilitas

 - 0.450

- 0.618

Rasio Solvabilitas(RBC)

 

   0,285

-0,358

 

Tabel  5  memperlihatkan  rasio  yang  berperan  pada masing masing  fungsi.  Probabilitas  hubungan  yang tinggi  antara  rasio  dan fungsi menyatakan  kemungkinan  kekuatan pengaruh. Rasio  Beban dan Profitabilitas  berperan  pada  fungsi  1    yang  membedakan  kelompok perusahaan   1   dan  2 .   Pada  fungsi  2  yang  berperan  adalah  rasio  Beban, Aset dan Profitabilitas. Uji  nilai  Cannonical Corelation (CC)  dan WilksLambda  (WL)  diperlukan  untuk  menilai  kesesuaian  variabel dengan fungsi.

Tabel 6

Penilaian Fungsi Diskriminan

No.

Eigen Value

% Variansi

CC

WL

Prob. Signi

F1

2,441

92,5

0,842

0,243

0,000

F2

0,197

  7,5

0,406

0,839

0,181

 

Pada  tabel  6   terlihat  nilai  CC  yang  menyatakan  asosiasi  hubungan  antara  skor  diskriminan  dengan  group.  Nilai  yang  lebih  mendekati  satu  (CC  Fungsi 1  =  0,842) menunjukkan  kecenderungan hubungan  yang lebih  erat.  Fungsi  1  terlihat mempunyai  hubungan  yang kuat  antar  variabel, terdapat  perbedaan nyata  antara  Grup  Cukup  dan  Baik.   Pada  Fungsi  2,  nilai  Probabilitas  signfikan  sebesar 0,181 yang tidak signifikan, artinya  apabila  fungsi  2  ini  berdiri  sendiri,  justru  tidak  ada  perbedaan  antara  rasio  Grup 2 dan  3.   Fungsi 1  dan  Fungsi  2  harus  dipakai  secara  bersama  sama.

Tabel 7

Koefisien Fungsi Diskriminan

 

F1

F2

Rasio Asset

-0,037

0.024

Rasio Solvabilitas

0.001

0.0001

Rasio Beban/Premi

0,033

0,016

Constant

0.805

-1,620

 

Tabel 7 memperlihatkan koefisien-koefisien yang menjadi komponen fungsi  diskriminan.  Pada penelitian ini, perusahaan asuransi jiwa dikelompokkan menjadi 3 group sehingga : 

1.    F1  =   0,805  - 0,037 Asset +  0,001 RBC + 0,033 Beban

Fungsi F1  ini  menjadi  pembeda  untuk Grup 1  dan 2

2.    F2 =   -1,682  + 0,024 Asset +0,0001 RBC + 0,016 Beban

Fungsi  ini  menjadi  pembeda  untuk  Grup  2  dan  3

Ada tiga group perusahaan asuransi sehingga juga terdapat 3 centroid (Tabel 8). Nilai centroid menunjukkan rata rata Z skor dari setiap obyek yang ada dalam kelompok tersebut. Kegunaan centroid adalah untuk mengetahui bagaimana penyebaran data dari  tiap kelompok.

Tabel 8.

Nilai Centroid Masing Masing Kelompok Perusahaan

Kelompok

F 1

 F 2

 Cukup (1)

2, 236

0,221

Baik (2)

 

-0,372

-0,460

Sangat  Baik (3)

-1,462

0,468

 

Nilai nilai centroid antara fungsi 1 dan 2, memperlihatkan adanya jarak yang  cukup jauh antara kedua titik pusat fungsi. Artinya untuk pengelompokan antar fungsi 1 dan fungsi 2 memang menimbulkan kelompok perusahaan perusahaan yang berbeda dengan demikian kedua fungsi tersebut memang dapat membedakan antara kelompok    perusahaan kategori Cukup, Baik dan Sangat Baik.

Nilai Cut Off

Pada MDA dengan variabel dependen tiga kategori, nilai cut off yang menjadi pembeda / batas antar  kelompok,  ditinjau berdasarkan peta data  dan nilai centroid.  Berdasarkan  peta  data, posisi  sebaran sbb :

Z skor                                                                        Z skor

-3 -----Grup 3 ----Grup 2 --Z=0 -----Grup 3--- Grup 1-----------3

Grup 1 berada pada wilayah di kanan Z= 0 , Grup 2 berada di kiri Z = 0  dan Grup 3  menyebar dari kiri sampai kanan dari Z = 0.

Contohnya  apabila  kita  pakai  data untuk  obyek  BRI Life  :

Kita masukkan nilai nilai  pada  fungsi  pembeda /fungsi diskriminan  :

Fungsi 1 :

Z = 0,805 - 0,037Asset + 0,001RBC + 0,033 Beban

Z = 0,805 + (-0,037x88) + (0,001x339) + (0,033 x 17)  = -1,551

Fungsi  2

Z =  - 1,682 +(0,024 x Asset) +(0,0001 x RBC)+(0,016 Beban) 

Z  = - 1,682 + (0,024x88) + (0,0001x339) + (0,016 x 17 )= 0,736

Nilai  Z skor tersebut menunjukkan posisi BRIlife pada peta data.

Posisi (-1,551 ; 0,736) lebih dekat ke  kelompok 3  yang  mempunyai  centroid  (-1,462; 0,468).  Jadi  BRI Life  tergolong pada kelompok 3  yaitu  kesehatan keuangan sangat bagus.

Kelayakan Fungsi Diskriminan

Tabel 9

Hasil  Klasifikasi Perusahaan dengan MDA

 

        Prediksi klasifikasi

Original

           Cukup

Bagus

Sangat Bagus

Cukup         Bagus        Sangat Bagus

 

4 (66,7%)     2(33,3%)   0

0                  9 (90%)       1  (10%)

0                  1 (14,3%)    6 (85,7%)             

Validasi

Cukup

Bagus

Sangat Bagus

 

4 (66,7%)     2(33.3%)   0

1 (10%)       6 (60%)      3 (30%)

0                  1(14,3%)    6 (85,7%)

 

Tabel 9 memperlihatkan sebaran klasifikasi 23 perusahaan pada sebelum  (original) dan sesudah  memakai MDA (validasi). Pada penelitian ini, 82,6 % data telah terklasifikasi dengan benar, sedangkan dari perhitungan validasi, 69,0% data telah terklasifikasi dengan benar.  Nilai nilai persentase ini tergolong tinggi karena menyatakan lebih dari 50 % data. Semakin tinggi nilai persentase, semakin tepat fungsi fungsi diskriminan yang membedakan untuk ketiga group klasifikasi perusahaan asuransi.

Pada penelitian ini,  diperoleh rasio rasio keuangan yang berperan signifikan untuk membedakan kondisi keuangan perusahaan perusahaan asuransi  adalah  Rasio Asset,  RBC  dan Rasio Beban. Modal dan asset pada perusahaan asuransi jiwa sangat berperan menjaga kelangsungan operasional perusahaan. Tingkat RBC yang menggambarkan kemampuan perusahaan menjamin risiko risiko harus senantiasa dijaga pada standar minimal 120%. Jumlah asset yang diperkenankan sebaiknya lebih besar dari kewajiban hal ini tentunya untuk menjaga kemampuan perusahaan membayar klaim dan kewajiban lainnya. Jika RBC menurun, pemilik perusahaan harus segera menambah modal.  Rasio beban menunjukkan efisiensi  aktivitas perusahaan asuransi jiwa. Tingginya biaya, beban dan komisi akan mengurangi arti pendapatan premi yang besar. Pada saat ini, sistem digitalisasi dan penerapan teknologi informasi dapat mengurangi tingginya nilai biaya dan beban yang harus ditanggung perusahaan. Di Indonesia, kondisi penetrasi industri asuransi jiwa masih tergolong minim / kecil bila dibandingkan negara negara ASEAN lain. Rasio pendapatan premi dengan GDP masih sekitar 3 %. Perusahaan harus  berupaya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi. Penilaian kondisi keuangan perusahaan menjadi sangat bermanfaat untuk melakukan prediksi kondisi perusahaan di masa depan  dan  membantu konsumen memilih  perusahaan asuransi yang dianggap  dapat membantu menghadapi risiko kehidupannya.

 

KESIMPULAN

Pada pemakaian metode MDA stepwise untuk menilai kesehatan keuangan  23 perusahaan asuransi  jiwa  di Indonesia  sebagai sampel,2 rasio asset (A),  rasio solvabilitas (RBC) dan rasio  beban (B)   berperan  penting  dalam  pembentukan  model  yang dapat menggolongkan perusahaan  asuransi  jiwa   tergolong  kondisi  (keuangannya)  cukup, baik  atau sangat  baik. Perusahaan asuransi jiwa harus mengelola operasionalnya sehingga dapat memberikan kepercayaan kepada konsumen.   Fungsi  yang  diperoleh    membedakan perusahaan perusahaan asuransi jiwa  adalah  sebagai berikut  :

F1  untuk membedakan kelompok kesehatan cukup  dan baik  :

F1  = >     0,805 – 0,037A + 0,001 RBC + 0,033 B 

F2  untuk  membedakan kelompok yang baik  dan sangat  baik   :

F2  = >    -1,682 + 0,024 A + 0,0001 RBC + 0,016 B

Nilai Z dari kedua fungsi menjadi posisi obyek untuk bisa dialokasikan di group cukup, baik atau sangat baik. Hasil validasi yang 69% menunjukkan kemampuan fungsi fungsi diskriminan ini  untuk klasifikasi perusahaan asuransi jiwa berdasarkan kondisi keuangannya.

 

BIBLIOGRAFI

 

Afgani, Kurnia Fajar, Rivanda, Agil Krisna, & Purbayati, Radia. (2021). PREDICTING CORPORATE BANKRUPTCY: BASED ON MDA TEXTILE AND GARMENT ON INDONESIA STOCK EXCHANGE. Jurnal Ilmiah MEA (Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi), 5(2), 1918–1932. Google Scholar

 

Browne, Mark J., & Hoyt, Robert E. (1995). Economic and market predictors of insolvencies in the property-liability insurance industry. Journal of Risk and Insurance, 309–327. Google Scholar

 

Cahyandari, Rini, Awalluddin, Asep Solih, & Hartati, Ai Sri. (2021). Klasifikasi Kinerja Perusahaan Asuransi Jiwa menggunakan Analisis Diskriminan. Prosiding-Seminar Nasional Teknik Elektro UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 333–339. Google Scholar

 

Fachmi, Muhammad, & Setiawan, Ikrar Putra. (2020). Strategi Meningkatkan Kepuasan Nasabah Analisis Kasus melalui Riset di Industri Asuransi Jiwa. CV. Pustaka Learning Center. Google Scholar

 

Febriyanti, Noer, Choliq, Maulivia Idham, & Mukti, Asri Wido. (2021). Hubungan tingkat pengetahuan dan kesediaan vaksinasi covid-19 pada warga kelurahan dukuh menanggal kota surabaya. SNHRP, 36–42. Google Scholar

 

Greene, Mark R. (1992). An International Comparison of Workers’ Compensation. Journal of Risk and Insurance, 59(2), 351–353. Google Scholar

 

Ng, Eka Purnama Witono. (2003). Analisis Kinerja Perusahaan-perusahaan Asuransi di Indonesia dengan Metode Risk Based Capital. Jurnal Akuntansi. Google Scholar

 

Nissim, Doron. (2010). Analysis and valuation of insurance companies. CE| ASA (Center for Excellence in Accounting and Security Analysis) Industry Study, (2). Google Scholar

 

Pane, Rosmadewi Ayuningtyas, & Topowijono, Achmad Husaini. (2015). Analisis diskriminan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2013). Jurnal Administrasi Bisnis, 27(2). Google Scholar

 

Purwanto, Agus, Asbari, Masduki, Hartuti, Hartuti, Setiana, Yuni Nuraeni, & Fahmi, Khaerul. (2021). Effect of psychological capital and authentic leadership on innovation work behavior. International Journal of Social and Management Studies, 2(1), 1–13. Google Scholar

 

Rencher, Alvin C., & Christensen, W. F. (2002). Méthods of multivariate analysis. a john wiley & sons. Inc. Publication, 727. Google Scholar

 

Satria, Salusra. (1994). Pengukuran kinerja keuangan perusahaan asuransi kerugian di Indonesia: dengan analisis rasio keuangan" early warning system". Kerjasama Lembaga Penerbit, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia dengan …. Google Scholar

Shim, Jae K. (2000). Strategic business forecasting: the complete guide to forecasting real world company performance. CRC Press. Google Scholar

 

WILLIAMS Jr, C. Arthur C., Smith, Michael L., & Young, Peter C. (1964). Risk management and insurance. Google Scholar

 

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).