SAKRALITAS RITUAL NYEKAR RADEN ADIPATI ARYO
PADA MASYARAKAT KOTA BLITAR
R. Bhameswara Putra Kencana
Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Agustus 2022 10 Agustus 2022 20 Agustus 2022 |
Latar Belakang : Nyekar atau ziarah kubur adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat beragama Islam khusus dalam beberapa waktu tertentu yang sudah menjadi sebuah tradisi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses sakralitas ritual nyekar Raden Adipati Aryo Blitar. Melalui bentuk analisis sakralitas Mirca Rllade, maka diketahui cara - cara masyarakat melakukan pemaknaan kepada ritual, dipengaruhi oleh fakta sosial dominasi budaya Jawa, Pra Islam dan Hindu Budha. Metode : Metode observasi kualitatif adalah metode yang digunakan dalam pencatatan aktivitas sakralitas ini. Hasil : Hasil penelitian ini, dalam proses ritual Nyekar Raden Aryo di kota Blitar Selatan, kegiatan mengunjugi dan berdoa ke makam adipati Aryo Blitar adalah suatu kegiatan sakral dan wajib bagi para masyarakat Blitar, khususnya bagi mereka yang ingin melakukan kegiatan khusus seperti menari jaranan dan barongan khas kota Blitar, hingga keinginan untuk menjadi pejabat setempat. Kesimpulan : Kajian ini dilakukan pada data data wawancara empirik dan disajikan secara deskriptif dan gambar sebagai pelengkap. Sakralitas ritual Nyekar Raden Adipati Aryo Blitar telah menjadi bagian dari siklus peristiwa budaya sebagai wujud ekspresi syukur kepada leluhur kota Blitar terdaluhu. Kata
Kunci : Ritual; Sakral; Nyekar;
Raden Aryo |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: Nyekar or grave pilgrimage is one of the
activities carried out by most special Muslim religious communities in a
certain period of time which has become a tradition. Objectives: This study aims to explain
the sacred process of the ritual serendipity of raden
Adipati Aryo Blitar. Through the form of analysis of the sacredness of
Mirca Rllade, it is known
the ways in which people interpret the meaning of rituals, influenced by the
fact of the social dominance of jawi culture, Pre -
Islam and Hinduism - Buddhism. Methods: Qualitative observation
methods are methods used in the recording of this sacrality activity. Results: Hasil
penelitian ini, dalam proses ritual Nyekar Raden
Aryo di kota Blitar Selatan, kegiatan mengunjugi
dan berdoa ke makam adipati Aryo Blitar adalah suatu kegiatan sakral dan
wajib bagi para masyarakat Blitar, khususnya bagi mereka yang ingin melakukan
kegiatan khusus seperti menari jaranan dan barongan khas kota Blitar, hingga
keinginan untuk menjadi pejabat setempat. Conclusion: Kajian ini dilakukan pada data data wawancara empirik dan disajikan secara deskriptif dan gambar
sebagai pelengkap. Sakralitas ritual Nyekar Raden Adipati Aryo Blitar telah menjadi bagian
dari siklus peristiwa budaya sebagai wujud ekspresi syukur kepada leluhur
kota Blitar terdaluhu. Keywords: Ritual; Sakral; Nyekar; Raden Aryo |
|
*Correspondent Author :
R.Bhameswara Putra Kencana
Email : radenkencana26@gmail.com
PENDAHULUAN
Makam keramat/ leluhur memiliki substansi penting peranannya bagi
masyarakat khususnya di kota Blitar. Fenomena Sosial seperti kegiatan ritual,
di dalamnya memiliki unsur sakralitas. Di lokasi
lokasi yang dipercaya menjadi unsur
penting yang melekat pada kegiatan ini. (Ichsan & Hanafiah, 2020)
mengatakan bahwa Ziarah Kubur adalah kata kerja yang menjelaskan aktivitas
untuk mengenang jasa para leluhur, tokoh atau figur tertentu hingga anggota
keluar dan orang orang terdekat yang telah meninggal. Aktifitas
ziarah ke makam, sudah pasti diiringi dengan mengirimkan doa dan harapan
terbaik bagi orang yang telah mendahului. Beberapa perlengkapan doa seperti air
dan bunga adalah pelengkap doa pengantar agar terasa spiritual yang
dilakukannya. Secara praktis ziarah kubur/ nyekar
umumnya dapat dilakukan oleh siapa saja namun, makam para leluhur atau nenek
moyang dan tokoh tokoh dianggap memiliki pengaruh serta posisi yang istimewa
dalam strata sosial. (Rohimi,
n.d.) mengatakan
keistimewaan tersebut menjadikan makam mereka istimewa dan menjadi daya tarik
sakral bagi kalangan biasa (masyarakat awam). Anggapan ini kemudian membuat
makam orang orang tersebut menuntun mereka pada aktifitas
ziarah kubur. Mengacu
pada kata ritual pada konteks sakralitas sebagai
kebutuhan publik dan individu, proses sakralitas
memberi ruang waktu khusus dari segala aktifitas
bekerja, untuk masuk ke dalam ruang ekspresi situasi tertentu. Waktu sakral
(khusus) untuk tujuan sakral tempat manusia mengeluarkan ekspresi diri, mengevaluasi
dan mengingat (eling) leluhur. Ritual sebagai sebuah aktifitas
dari tindakan simbolik yang bersifat sakral bertujuan untuk memaknai kata dan
konteks peristiwa yang pernah terjadi. Sebagai kegiatan simbolik, keberadaan ritual dalam bentuk atau
proses, merupakan sebuah peristiwa budaya tradisi, khususnya kegiatan ritual nyekar /ziarah kubur. Bagi Victor (Turner
& Turner, 1970) ritus
mempunyai peranan penting dalam
kehidupan masyarakat sebagai menyatukan prinsip yang bertentangan dalam
masyarakat. Sejalan dengan pendapat di atas
bahwa ritual sakral adalah salah satu kegiatan yang bisa mempersatukan ideologi
di masyarakat setempat.
Pesanggrahan/ Patilasan
(makam) dari Raden Adipati Aryo Blitar adalah salah satu makam leluhur
pendahulu pertama dari sang juru babad alas di kota Blitar. Menurut situs resmi
pemerintah kota Blitar menyatakan bahwa Nilasuwarna
atau Gusti Sudomo, anak dari Adipati Wilatika Tuban,
adalah orang kepercayaan kerajaan Majapahit, yang
diyakini sebagai tokoh mbabat alas. Sesuai
dengan sejarahnya, Blitar dahulu adalah hamparan hutan yang masih belum
terjamah manusia. Nilasuwarna, ketika itu, mengemban
tugas dari Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar
yang bersembunyi di dalam hutan selatan (Blitar dan sekitarnya). Dari cerita
yang diwariskan secara mulut ke mulut (Oral Histori) ini, Masyarakat percaya
bahwa pendahulu Raden Adipati Aryo Blitar adalah sosok pendahulu yang sangat
berjasa pada masyarakat, sehingga cara untuk menghormati dan tidak melupakan
jasa leluhur pendahulu dengan melakukan suatu kegiatan sakral yang dilakukan
tepat di kompleks makam Raden Adipati Aryo Blitar di kota Blitar. Kegiatan
sakral ini diwariskan secara turun temurun yang dilakukan secara sakral.
Walaupun pada praktisnya setiap individu berbeda beda dalam setiap
rangkaiannya, tetapi ada satu benang merah kesamaan yang dilakukan oleh masyarakat.
Prosesi nyekar ini wajib dilakukan dengan
berbagai hajat keinginan yang dihantarkan oleh para penziarahnya. Salah satu
yang berkaitan adalah izin untuk menjadi pejabat sekitar kota Blitar hingga
kepada izin menjadi penabuh musik karawitan dan
penari jaranan atau barongan, khususnya penari barongan kucingan yang sudah menjadi identitas budaya di
masyarakat Blitar.
Menurut salah satu kesaksian narasumber Anggi
(wawancara: 18 Maret 2020) mengatakan bahwa Pernah terjadi ketika ada
suatu pertunjukan seni jaranan di luar daerah Blitar, Para penari dan pemusik
yang berangkat dari Blitar secara tidak sengaja lupa untuk melakukan ritus
ziarah kubur kepada Raden Adipati Aryo Blitar, sehingga ketika pertunjukan mau
dimulai, para pemusik dan penari jaranan mengalami kesurupan/ trance di belakang panggung. Hingga solusi yang
dilakukan oleh ketua rombongan seniman dari Blitar adalah menelpon
juru kunci dari makam Aryo Blitar untuk melakukan ziarah kubur untuk mewakilkan
berdoa izin atas aktifitas seni di luar kota Blitar.
Sesudah dari juru kunci mendoakan dari jauh, secara ajaib para pemusik dan
penari jaranan sembuh kembali dan bisa tampil secara maksimal dan lancar pada
acara yang diselenggarakan. Melalui cerita kesaksian narasumber bisa
disimpulkan bahwa sakralitas pada nyekar
Raden Adipati Aryo Blitar adalah suatu kegiatan wajib untuk dilaksanakan dengan
tujuan untuk meminta izin atas aktifitas yang
dilakukan. Melalui pemaparan sebuah fenomena sosial diatas,
makan tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan proses sakralitas
yang terjadi di makam Raden Adipati Aryo
Blitar berdasarkan teori Sacred and Profan Mircea (Eliade,
2002). Ruang
lingkup dalam jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Maka
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif.
Teori yang digunakan dalam kajian penelitian
ini adalah teori analisis proses ritual Mircea Eliade. Sumbangan dari Mircae Eliade terletak kepada usaha pemahaman ekspresi agama yang
berupa konsep serta pembedahan analisis antara ruang sakral dan profan yang
terjadi pada proses dalam sebuah upacara ritual. Mircae
(Eliade,
2002) menjelaskan
bahwa yang sakral adalah wilayah yang supranatural, sesuatu yang ekstraordinary, tidak mudah dilupakan dan teramat penting,
kepercayaan kepada yang sakral inilah yang dimiliki semua agama. Jika profan
itu mudah hilang atau terlupakan, hanya bayangan, sebaliknya yang sakral itu
abadi, penuh substansi dan realitas. Sakral (Sacred)
selalu memanifestasikan dirinya sebagai sebuah realitas yang secara keseluruhan
berbeda lingkungannya dari realitas realitas alami (Eliade,
2002). Lebih
jauh lagi (Eliade,
2002) Menjelaskan
bahwa Ketika yang sakral memanifestasikan dirinya dalam hierofani,
yang terjadi bukan hanya bengkahan dalam homogenitas ruang, tetapi juga
penyingkapan rahasia realitas absolut, yang dilawankan dengan non realitas yang
melingkupi. Hierofani adalah penunjuk bagi
titik absolut yang ditetapkan bagi manusia religius.
Kajian terhadap sakralitas
ritual nyekar Raden Adipati Aryo pada masyarakat kota Blitar merupakan topik
penelitian yang menarik untuk dikaji dan sesuai dengan sumbangan teori dari (Eliade,
2002).
Melalui rujukan pada pandangan (Eliade,
2002), maka
jawaban teoritis terhadap fenomena sakralitas ritual Nyekar Raden Adipati Aryo, merupakan perwujudan
nyata dari sesuatu yang sakral, karena simbolis dari sebuah ritual khusus
seperti air, mantra atau doa tertentu dinilai sebagai manifestasi dari izin dan
syukur kepada yang supernatural. Penyembuhan dan persembahan terhadap makam
suci, bukan karena hanya sebagai tempat makam yang sengaja disucikan, melainkan
kaitan historis turun temurun dan daya supernatural yang dinilai agung, dahsyat
dan luar biasa. Mempertahankan pemberlakuan larangan berarti menjaga
keberlangsungan simbol suci tersebut dan menjaga keberlangsungan simbol tradisi
ziarah kubur itu sendiri. Dengan begitu, pemujaan dan pensakralan
terhadap leluhur masyarakat Blitar, pada dasarnya merupakan pernyataan
kesetiaan kepada objeknya (Raden Aryo Blitar), yang
tidak lain adalah leluhur mereka itu sendiri.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian kualitatif, (Creswell, 2014) memaparkan bahwa penelitian
kualitatif dimulai dengan asumsi dan penggunaan kerangka penafsiran atau
teoritis yang membentuk atau mempengaruhi studi tentang riset yang terkait
dengan makna yang dikenakan oleh
individu atau kelompok pada suatu permasalahan sosial atau manusia. Analisis
data berupa induktif dan deduktif.
Presentasi didapat dari partisipan masyarakat beserta deskripsi dan
kontribusinya. Menurut (Creswell, 2014) penelitian kualitatif adalah
sebuah proses penyelidikan, pembahasan didasarkan pada perbedaan tradisi
tradisi metodologis pada penelitian yang menjelaskan permasalahan sosial atau
manusia. Peneliti menjelaskan sebuah tempat, gambaran holistik, analisis kata
kata, laporan secara detail menurut sudut pandang informan dan perilaku. Metode
observasi kualitatif (Qualitative Observation) menurut (Creswell, 2014) menjelaskan ketika peneliti
langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu
individu di lokasi penelitian. Dalam pendapat teori ini, peneliti akan
melakukan perekaman dan mencatat aktifitas masyarakat
saat dilokasi penelitian di kompleks makam Raden
Adipati Aryo Blitar. Peneliti juga akan bertindak sebagai orang orang yang
ziarah, sama seperti yang masyarakat lakukan pada aktifitasnya.
Analisis data dilakukan secara
kualitatif dengan teknik elektik. Elektik
menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah bersifat memilih yang terbaik dari
berbagai sumber (tentang orang, gaya, metode). Sedangkan menurut laman
persamaan kata dijelaskan pengertian elektik adalah
memiliki persamaan kata (sinonim) dengan kata pilih pilih atau selektif.
Menurut (Creswell, 2014) langkah ini meliputi
pembuatan kategori atas informasi yang diperoleh (Open Coding),
memilih salah satu kategori dan menempatkannya dalam satu model teoritis (Axial Coding), lalu
merangkai sebuah cerita dari hubungan antar kategori ini (Selective
Coding). Hasil analisis data disajikan secara
informatif dan deskriptif, yakni melalui kata kata, kalimat dan bentuk
bentuk narasi lainnya. Selain itu juga penyajian secara formal dilakukan
melalui diagram dan tabel bersifat sebagai pelengkap.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Nyekar ke makam makam suci selalu dikaitkannya dengan sebuah
jalan spiritual yang diwariskan secara turun temurun dipercaya memberikan
berkah. Melalui pengetahuan jalan berfikir ini, ada suatu konseptual trikotomi yang melahirkan
suatu kerangka berfikir dari salah satu praktek ritual ini.
Gambar 1
Trikotomi Pola Hubungan Tuhan Mansia
Sumber: (Falah, 2012)
Pada proses pelaksanaan sebuah ritual ke makam suci yang
dilakukan oleh masyarakat Blitar, konsep
konsep sebuah pola ritual dilakukan dengan adanya cara akulturasi antar Islam
dengan Hindu Budha hingga kepada konsep kejawi.
Hal ini ditekankan oleh sebuah konsep di atas yang menjelaskan bahwa
leluhur/tokoh suci yang dijadikan objek sebagai perantara antar manusia kepada
tuhan, dengan segala niat/keinginan yang diutarakan. Mengutip pendapat Analisis
(Falah, 2012) memaparkan bahwa sistem
klasifikasi simbolik yang dipakai untuk menjelaskan tingkat atau bentuk
hubungan tuhan manusia dalam perwujudan ini, menuntun mereka untuk
menciptakan moderasi (penengah) yang mengantarai.
Dalam pendapat ini, konsep trikotomi ini menjelaskan adanya seorang perantara
yang menjadikan keabsahan dari sebuah
ritual, Lebih jauh lagi (Balagangadhara, 2018) menjelaskan bahwa
manakala anda menganggap agama sebagai sebagai tradisi, yakni seperangkat praktik yang diajarkan
dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka istilah ini terlihat sebagai
satu jenis konsep intuitif kebudayaan. Toleransi/komporomi
terhadap tradisi tradisi yang berlainan atau penghormatan terhadap tradisi.
Oleh karena itu, pendapat ini menjelaskan bahwa perlu adanya sebuah toleransi
terhadap sebuah praktik tradisi yang terjadi, dan masyarakat Blitar sudah mempraktekan dalam
ritual nyekar
Raden Adipati Aryo.
Daerah Blitar terletak di provinsi Jawa Timur, Indonesia
salah satu daerah kelahiran bapa pendiri bangsa yakni Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno,
memiliki beberapa kearifan lokal budaya di dalamnya. Masyarakat Blitar umumnya
menggunakan bahasa Jawa dialek Blitar dalam berkomunikasi. Julukan Blitar
sebagai kota Patria dikenal karena para raja raja agung dan pejuang bangsa
lahir di sini. Masyarakat Blitar masih terdapat hidup di beberapa kota dan
kabupaten yang masih kecil, namun kepemilikan ikatan perasaan batin yang kuat
antar sesama anggota warga kota maupun kabupaten. Sikap rela berkorban, tanpa
pamrih, saling menghormati, serta mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam
menjaga hubungan bermasyarakat. Wujud tercipta sebuah persatuan antar
masyarakat di Blitar, terlihat dari prinsip orang Jawa Blitar yang menjalankan
dan memahami dari ajaran leluhur mereka. Seperti Tepa Sarira di mana seseorang
mau dan mampu merasakan perasaan orang lain (Jatman, 2008) adalah salah satu prinsip
yang diterapkan ke dalam kehidupan sehari hari. Ajaran ini mereka dapatkan
secara turun temurun yang di mana mereka masih melakukan sebuah ritual tertentu
yakni salah satunya nyekar ke makam suci Raden Adipati Aryo. Terlepas dari akulturasi
sebuah ajaran jawi dengan agama Islam, namun hal itu tidak dapat memudarkan
kebersamaan yang di satukan oleh leluhur mereka yang sama. Proses ritual nyekar Raden Adipati Aryo dilaksanakan tepatnya komplek pemakaman Raden Adipati Aryo di jalan pamungkur No. 24, Blitar Selatan, Kec. Sukorejo,
kota Blitar, Jawa Timur. Kompleks pemakaman ini langsung bersebelahan dengan
perumahan warga setempat.
Gambar 2
Pintu depan kompleks Pemakaman Raden Adipati Aryo Blitar
Sumber: (R.Bhameswara Putra Kencana:
2022)
Lokasi pemakaman ini terbagi menjadi beberapa bagian,
yakni diisi oleh para pemuka babad alas daerah Blitar dan ada sebuah sanggar Guyubing Budaya yang sudah berdiri sejak tahun 80an (1906
tahun tercatat) dan perpustakaan yang difasilitasi untuk masyarakat.
Gambar 3
Denah pemakaman Raden Adipati Aryo Blitar beserta Sanggar
dan Perpustakaan
Ilustrasi: (R.Bhameswara Putra Kencana:
2022)
Keterangan:
1. Makam Raden Adipati Aryo
Blitar
2. Sanggar Seni Guyubing Budaya
3. Perpustakaan
4. Makam pengikut dan
keturunan
Lokasi ini dipercaya masyarakat sebagai arti dari memulai
segala aktifitas. Bila kita berkunjung ke sana
terdapat juru kunci/ kuncen yang akan mengantarkan kita untuk bisa mengakses
masuk ke dalam makam. Dalam pelaksanaan proses ritual, sang juru kunci selalu
mengingatkan kepada para pengunjung untuk selalu menjaga perkataan dan niat
yang baik dalam melakukan prosesi nyekar. Hal
ini agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Pada pelaksanaan
ritual, pengunjung selalu tidak lepas dari suatu benda perantara ritual ziarah
makam suci yang selalu dibawa oleh pengunjung barang itu yakni meliputi 1. Dupa
atau menyan, 2. Air
dan 3. Bunga Sedap malam, kantil, melati, kenangan, mawar merah, mawar
putih dan melati gambir. Menurut tutur sang juru kunci, tiga benda ini
melambangkan wangi atau harum dari bunga dan dupa mengartikan pada leluhur permuka kota babad alas Blitar yang harum atas perjuangan
beliau. Air mengartikan suatu keberkahan yang telah dilakukan atau minta izin
kepada sang leluhur yang kelak sesudah dilakukan proses ritual, air itu akan
dipakai mandi dengan tujuan mendapatkan kelancaran atas segala aktifitasnya Unis (wawancara: 3 April
2022).
Gambar 1.3
Prosesi ritual Nyekar
oleh masyarakat
Sumber: (R.Bhameswara Putra Kencana:
2022)
Dalam gambar di atas, dua makam suci yakni makam Eyang
putri dan Eyang Kakung selaku sebutan/gelar yang diberikan oleh masyarakat
Blitar sebagai tanda penghormatan.
Gambar 1.4
Prosesi ritual Nyekar
oleh Pejabat Bupati Kabupaten Blitar
Sumber: Jatim News
Adapun bacaan yang dilakukan ketika ritual dilakukan.
Bacaan ritual yakni seperti berikut: Unis (wawancara: 3 April
2022).
Salam Rahayu
Sallahum Allaihisallam
Sunasto Daono
semedi (disaut oleh pengunjung Rahayu)
Wong ilaheng
Anncar atmanataya
Kawih genan
Mastu maman sidhem waswasiwa dohem sesembaheun manisungkem
mugiyo arima yang kang murdi. Sallahu alaihi sallam semedi
kponang ngumbul
tahbiat sangkung roso
ratune keblak
ingsu rahayu umat ingsun keno
benduning allah
iwaku ya allah kang kuoso urip ruh
rahayu sajati kabeh
Izin ratu agung mataram
Izin ratu agung Raden Adipati Aryo Blitar (sebutkan niat berkunjung
dalam hati)
Rahayuuu
Catatan: ditutup dengan bacaan Al Fatihah atau disaut dengan bacaan Rahayu Sagung Dumadi
Pemahaman tentang fakta sejarah dalam struktur
kepercayaan masyarakat di Blitar merupakan wilayah yang didukung dengan kondisi
alamnya yang banyak meninggalkan artefak peninggalan ajaran masa lalunya
sebagai benang merah. Jejak peninggalan candi pada zaman Majapahit
disekitar Blitar seperti candi Penataran, Candi
Simping dan candi lainnya menjadi pendukung bahwa adanya fakta artefak sejarah.
Kepercayaan pada suatu wilayah merupakan bentuk kekuatan pada sebuah bentuk
ritual atau pemahaman yang dapat dilakuka oleh
pribadi atau pihak komunal dalam melakukan berbagai pemahaman atas kepercayaan. Masyarakat Blitar
merupakan salah satu profil masyarakat yang menunjukan
berbagai pengaruh yang saling mempunyai kekuatan ikatan, baik dalam memahami
kepercayaan dalam sebuah kehidupan. Mayoritas pemeluk agama Islam yang berada
di Blitar masih banyak melakukan berbagai kegiatan budaya tradisi yang dipahami
sebagai keberlangsungan pada kepercayaan masa lalu dari para leluhurnya untuk
melanjutkan berbagai kegiatan. Mircea Eliade dalam bukunya Sakral dan Profan, mengatakan bahwa:
Agama adalah solusi paradigmatis bagi setiap krisis eksistensi.
Agama merupakan solusi paradigmatis bukan hanya karena agama dapat diulang
dalam jangka waktu yang tidak terbatas, tetapi juga agama dipercayai memiliki
asal usul yang transendental dan karenanya dipercayai sebagai wahyu yang
diterima dari yang lain, dunia trans manusia. Solusi religius tidak hanya
memecahkan krisis, namun pada saat yang sama membuat eksistensi terbuka untuk
nilai nilai yang tidak lagi merupakan konsekuensi dan partikularitas,
sehingga memungkinkan manusia untuk menransendenkan situasi personal dan
akhirnya, memperoleh jalan ke dunia ruh (2002:221). Melalu pendapat di atas,
bisa disimpulkan bahwa kebutuhan sebuah krisis psikologis bisa dipenuhi dengan
adanya agama. Agama adalah solusi dari sebuah jalan dari dirinya yakni manusia
kepada Tuhan YME atas karunia melalui perantaranya. Solusi religius ini yang
akhirnya membuka sebuah nilai ajaran kepada pribadi maupun pihak komunal. Nilai
yang didapatkan dari sebuah proses ritual, dilakuguna
pada praktik sosial sehari hari.
1 2 3 4
KESIMPULAN
Balagangadhara,
S. N. (2018). The Heathen in his Blindness...: Asia, the West and the
Dynamic of Religion. Brill. Google Scholar
Creswell, John W.
(2014). RESEARCH DESIGN, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches
atau RESEARCH DESIGN: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran.
Terjemahan Achmad Fawaid & Rianayati Kusmini. Google
Scholar
Eliade, Mircea.
(2002). Sakral dan Profan Menyingkap Hakikat agama.(penerjemah Nuwanto)
Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Google Scholar
Falah, Ahmad. (2012).
Spiritualitas Muria: Akomodasi tradisi dan wisata. Walisongo: Jurnal
Penelitian Sosial Keagamaan, 20(2), 429452. Google
Scholar
Ichsan, Yazida, &
Hanafiah, Yusuf. (2020). Mistisisme dan transendensi sosio-kultural islam di
masyarakat Pesisir Pantai Parangkusumo Yogyakarta. Fikri: Jurnal Kajian
Agama, Sosial Dan Budaya, 5(1), 2136. Google
Scholar
Jatman, Sudarmanto.
(2008). Ilmu Jiwa Kaum Pribumi. Google
Scholar
Rohimi, Rohimi.
(n.d.). Sejarah dan Prosesi Tradisi Ziarah Makam Keleang. Sosial Budaya,
17(1), 1219. Google Scholar
Turner, Victor, &
Turner, Victor Witter. (1970). The forest of symbols: Aspects of Ndembu
ritual (Vol. 101). Cornell University Press. Google
Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |