SAKRALITAS RITUAL NYEKAR RADEN ADIPATI ARYO

PADA MASYARAKAT KOTA BLITAR

 

 

R. Bhameswara Putra Kencana

Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Indonesia

radenkencana26@gmail.com

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

01 Agustus 2022

10 Agustus 2022

20 Agustus 2022

Latar Belakang : Nyekar atau ziarah kubur adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat beragama Islam khusus dalam beberapa waktu tertentu yang sudah menjadi sebuah tradisi.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses sakralitas ritual nyekar Raden Adipati Aryo Blitar. Melalui bentuk analisis sakralitas Mirca Rllade, maka diketahui cara  - cara masyarakat melakukan pemaknaan kepada ritual, dipengaruhi oleh fakta sosial dominasi budaya Jawa, Pra – Islam dan Hindu – Budha.

Metode : Metode observasi kualitatif adalah metode yang digunakan dalam pencatatan aktivitas sakralitas ini.

Hasil : Hasil penelitian ini, dalam proses ritual Nyekar Raden Aryo di kota Blitar Selatan, kegiatan mengunjugi dan berdoa ke makam adipati Aryo Blitar adalah suatu kegiatan sakral dan wajib bagi para masyarakat Blitar, khususnya bagi mereka yang ingin melakukan kegiatan khusus seperti menari jaranan dan barongan khas kota Blitar, hingga keinginan untuk menjadi pejabat setempat.  

Kesimpulan : Kajian ini dilakukan pada data – data wawancara empirik dan disajikan secara deskriptif dan gambar sebagai pelengkap. Sakralitas ritual Nyekar Raden Adipati Aryo Blitar telah menjadi bagian dari siklus peristiwa budaya sebagai wujud ekspresi syukur kepada leluhur kota Blitar terdaluhu.

 

Kata Kunci : Ritual; Sakral; Nyekar; Raden Aryo

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Nyekar or grave pilgrimage is one of the activities carried out by most special Muslim religious communities in a certain period of time which has become a tradition.

Objectives: This study aims to explain the sacred process of the ritual serendipity of raden Adipati Aryo Blitar. Through the form of analysis of the sacredness of Mirca Rllade, it is known the ways in which people interpret the meaning of rituals, influenced by the fact of the social dominance of jawi culture, Pre - Islam and Hinduism - Buddhism.

Methods: Qualitative observation methods are methods used in the recording of this sacrality activity.

Results: Hasil penelitian ini, dalam proses ritual Nyekar Raden Aryo di kota Blitar Selatan, kegiatan mengunjugi dan berdoa ke makam adipati Aryo Blitar adalah suatu kegiatan sakral dan wajib bagi para masyarakat Blitar, khususnya bagi mereka yang ingin melakukan kegiatan khusus seperti menari jaranan dan barongan khas kota Blitar, hingga keinginan untuk menjadi pejabat setempat.

Conclusion: Kajian ini dilakukan pada data – data wawancara empirik dan disajikan secara deskriptif dan gambar sebagai pelengkap. Sakralitas ritual Nyekar Raden Adipati Aryo Blitar telah menjadi bagian dari siklus peristiwa budaya sebagai wujud ekspresi syukur kepada leluhur kota Blitar terdaluhu.

 

Keywords: Ritual; Sakral; Nyekar; Raden Aryo

*Correspondent Author : R.Bhameswara Putra Kencana

Email : radenkencana26@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Makam keramat/ leluhur  memiliki substansi penting peranannya bagi masyarakat khususnya di kota Blitar. Fenomena Sosial seperti kegiatan ritual, di dalamnya memiliki unsur sakralitas. Di lokasi – lokasi yang dipercaya  menjadi unsur penting yang melekat pada kegiatan ini. (Ichsan & Hanafiah, 2020) mengatakan bahwa “Ziarah Kubur adalah kata kerja yang menjelaskan aktivitas untuk mengenang jasa para leluhur, tokoh atau figur tertentu hingga anggota keluar dan orang – orang terdekat yang telah meninggal”. Aktifitas ziarah ke makam, sudah pasti diiringi dengan mengirimkan doa dan harapan terbaik bagi orang yang telah mendahului. Beberapa perlengkapan doa seperti air dan bunga adalah pelengkap doa pengantar agar terasa spiritual yang dilakukannya. Secara praktis ziarah kubur/ nyekar umumnya dapat dilakukan oleh siapa saja namun, makam para leluhur atau nenek moyang dan tokoh – tokoh dianggap memiliki pengaruh serta posisi yang istimewa dalam strata sosial. (Rohimi, n.d.) mengatakan “keistimewaan tersebut menjadikan makam mereka istimewa dan menjadi daya tarik sakral bagi kalangan biasa (masyarakat awam). Anggapan ini kemudian membuat makam orang – orang tersebut menuntun mereka pada aktifitas ziarah kubur”. Mengacu pada kata ritual pada konteks sakralitas sebagai kebutuhan publik dan individu, proses sakralitas memberi ruang waktu khusus dari segala aktifitas bekerja, untuk masuk ke dalam ruang ekspresi situasi tertentu. Waktu sakral (khusus) untuk tujuan sakral tempat manusia mengeluarkan ekspresi diri, mengevaluasi dan mengingat (eling) leluhur. Ritual sebagai sebuah aktifitas dari tindakan simbolik yang bersifat sakral bertujuan untuk memaknai kata dan konteks peristiwa yang pernah terjadi. Sebagai kegiatan  simbolik, keberadaan ritual dalam bentuk atau proses, merupakan sebuah peristiwa budaya tradisi, khususnya kegiatan ritual nyekar /ziarah kubur. Bagi Victor (Turner & Turner, 1970) “ritus mempunyai peranan penting  dalam kehidupan masyarakat sebagai menyatukan prinsip yang bertentangan dalam masyarakat. Sejalan dengan  pendapat di atas bahwa ritual sakral adalah salah satu kegiatan yang bisa mempersatukan ideologi di masyarakat setempat”.

Pesanggrahan/ Patilasan (makam) dari Raden Adipati Aryo Blitar adalah salah satu makam leluhur pendahulu pertama dari sang juru babad alas di kota Blitar. Menurut situs resmi pemerintah kota Blitar menyatakan bahwa “Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, anak dari Adipati Wilatika Tuban, adalah orang kepercayaan kerajaan Majapahit, yang diyakini sebagai tokoh mbabat alas. Sesuai dengan sejarahnya, Blitar dahulu adalah hamparan hutan yang masih belum terjamah manusia. Nilasuwarna, ketika itu, mengemban tugas dari Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di dalam hutan selatan (Blitar dan sekitarnya)”. Dari cerita yang diwariskan secara mulut ke mulut (Oral Histori) ini, Masyarakat percaya bahwa pendahulu Raden Adipati Aryo Blitar adalah sosok pendahulu yang sangat berjasa pada masyarakat, sehingga cara untuk menghormati dan tidak melupakan jasa leluhur pendahulu dengan melakukan suatu kegiatan sakral yang dilakukan tepat di kompleks makam Raden Adipati Aryo Blitar di kota Blitar. Kegiatan sakral ini diwariskan secara turun – temurun yang dilakukan secara sakral. Walaupun pada praktisnya setiap individu berbeda – beda dalam setiap rangkaiannya, tetapi ada satu benang merah kesamaan yang dilakukan oleh masyarakat. Prosesi nyekar ini wajib dilakukan dengan berbagai hajat keinginan yang dihantarkan oleh para penziarahnya. Salah satu yang berkaitan adalah izin untuk menjadi pejabat sekitar kota Blitar hingga kepada izin menjadi penabuh musik karawitan dan  penari jaranan atau barongan, khususnya penari barongan kucingan yang sudah menjadi identitas budaya di masyarakat Blitar.

Menurut salah satu kesaksian narasumber Anggi (wawancara: 18 Maret 2020) mengatakan bahwa “Pernah terjadi ketika ada suatu pertunjukan seni jaranan di luar daerah Blitar, Para penari dan pemusik yang berangkat dari Blitar secara tidak sengaja lupa untuk melakukan ritus ziarah kubur kepada Raden Adipati Aryo Blitar, sehingga ketika pertunjukan mau dimulai, para pemusik dan penari jaranan mengalami kesurupan/ trance di belakang panggung. Hingga solusi yang dilakukan oleh ketua rombongan seniman dari Blitar adalah menelpon juru kunci dari makam Aryo Blitar untuk melakukan ziarah kubur untuk mewakilkan berdoa izin atas aktifitas seni di luar kota Blitar. Sesudah dari juru kunci mendoakan dari jauh, secara ajaib para pemusik dan penari jaranan sembuh kembali dan bisa tampil secara maksimal dan lancar pada acara yang diselenggarakan”. Melalui cerita kesaksian narasumber bisa disimpulkan bahwa sakralitas pada nyekar Raden Adipati Aryo Blitar adalah suatu kegiatan wajib untuk dilaksanakan dengan tujuan untuk meminta izin atas aktifitas yang dilakukan. Melalui pemaparan sebuah fenomena sosial diatas, makan tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan proses sakralitas yang terjadi di makam  Raden Adipati Aryo Blitar berdasarkan teori Sacred and Profan Mircea (Eliade, 2002). Ruang lingkup dalam jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Maka analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif.

Teori yang digunakan dalam kajian penelitian ini adalah teori analisis proses ritual Mircea Eliade. Sumbangan dari Mircae Eliade terletak kepada usaha pemahaman ekspresi agama yang berupa konsep serta pembedahan analisis antara ruang sakral dan profan yang terjadi pada proses dalam sebuah upacara ritual. Mircae (Eliade, 2002) menjelaskan bahwa “yang sakral adalah wilayah yang supranatural, sesuatu yang ekstraordinary, tidak mudah dilupakan dan teramat penting, kepercayaan kepada yang sakral inilah yang dimiliki semua agama. Jika profan itu mudah hilang atau terlupakan, hanya bayangan, sebaliknya yang sakral itu abadi, penuh substansi dan realitas”. “Sakral (Sacred) selalu memanifestasikan dirinya sebagai sebuah realitas yang secara keseluruhan berbeda lingkungannya dari realitas – realitas alami (Eliade, 2002). Lebih jauh lagi   (Eliade, 2002) Menjelaskan bahwa “Ketika yang sakral memanifestasikan dirinya dalam hierofani, yang terjadi bukan hanya bengkahan dalam homogenitas ruang, tetapi juga penyingkapan rahasia realitas absolut, yang dilawankan dengan non realitas yang melingkupi. Hierofani adalah penunjuk bagi titik absolut yang ditetapkan bagi manusia religius.

Kajian terhadap sakralitas ritual nyekar Raden Adipati Aryo  pada masyarakat kota Blitar merupakan topik penelitian yang menarik untuk dikaji dan sesuai dengan sumbangan teori dari (Eliade, 2002). Melalui rujukan pada pandangan (Eliade, 2002), maka jawaban teoritis terhadap fenomena sakralitas ritual Nyekar Raden Adipati Aryo, merupakan perwujudan nyata dari sesuatu yang sakral, karena simbolis dari sebuah ritual khusus seperti air, mantra atau doa tertentu dinilai sebagai manifestasi dari izin dan syukur kepada yang supernatural. Penyembuhan dan persembahan terhadap makam suci, bukan karena hanya sebagai tempat makam yang sengaja disucikan, melainkan kaitan historis turun temurun dan daya supernatural yang dinilai agung, dahsyat dan luar biasa. Mempertahankan pemberlakuan larangan berarti menjaga keberlangsungan simbol suci tersebut dan menjaga keberlangsungan simbol tradisi ziarah kubur itu sendiri. Dengan begitu, pemujaan dan pensakralan terhadap leluhur masyarakat Blitar, pada dasarnya merupakan pernyataan kesetiaan kepada objeknya (Raden Aryo Blitar), yang tidak lain adalah leluhur mereka itu sendiri.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, (Creswell, 2014) memaparkan bahwa “penelitian kualitatif dimulai dengan asumsi dan penggunaan kerangka penafsiran atau teoritis yang membentuk atau mempengaruhi studi tentang riset yang terkait dengan makna  yang dikenakan oleh individu atau kelompok pada suatu permasalahan sosial atau manusia. Analisis data berupa induktif dan deduktif”.  Presentasi didapat dari partisipan masyarakat beserta deskripsi dan kontribusinya. Menurut (Creswell, 2014) penelitian kualitatif adalah sebuah proses penyelidikan, pembahasan didasarkan pada perbedaan tradisi – tradisi metodologis pada penelitian yang menjelaskan permasalahan sosial atau manusia. Peneliti menjelaskan sebuah tempat, gambaran holistik, analisis kata – kata, laporan secara detail menurut sudut pandang informan dan perilaku. Metode observasi kualitatif (Qualitative Observation) menurut (Creswell, 2014) menjelaskan ketika peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu – individu di lokasi penelitian. Dalam pendapat teori ini, peneliti akan melakukan perekaman dan mencatat aktifitas masyarakat saat dilokasi penelitian di kompleks makam Raden Adipati Aryo Blitar. Peneliti juga akan bertindak sebagai orang – orang yang ziarah, sama seperti yang masyarakat lakukan pada aktifitasnya.

Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan teknik elektik. Elektik menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah bersifat memilih yang terbaik dari berbagai sumber (tentang orang, gaya, metode). Sedangkan menurut laman persamaan kata dijelaskan pengertian elektik adalah memiliki persamaan kata (sinonim) dengan kata pilih – pilih atau selektif. Menurut (Creswell, 2014) langkah ini meliputi pembuatan kategori atas informasi yang diperoleh (Open Coding), memilih salah satu kategori dan menempatkannya dalam satu model teoritis (Axial Coding), lalu merangkai sebuah cerita dari hubungan antar kategori ini (Selective Coding). Hasil analisis data disajikan secara informatif dan deskriptif, yakni melalui kata – kata, kalimat dan bentuk – bentuk narasi lainnya. Selain itu juga penyajian secara formal dilakukan melalui diagram dan tabel bersifat sebagai pelengkap.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nyekar ke makam – makam suci selalu dikaitkannya dengan sebuah jalan spiritual yang diwariskan secara turun – temurun dipercaya memberikan berkah. Melalui pengetahuan jalan berfikir ini,  ada suatu konseptual trikotomi yang melahirkan suatu kerangka berfikir dari salah satu praktek ritual ini.

Gambar 1

Trikotomi Pola Hubungan Tuhan – Mansia

Sumber: (Falah, 2012)

 

Pada proses pelaksanaan sebuah ritual ke makam suci yang dilakukan oleh masyarakat Blitar,  konsep – konsep sebuah pola ritual dilakukan dengan adanya cara akulturasi antar Islam dengan Hindu – Budha hingga kepada konsep kejawi. Hal ini ditekankan oleh sebuah konsep di atas yang menjelaskan bahwa leluhur/tokoh suci yang dijadikan objek sebagai perantara antar manusia kepada tuhan, dengan segala niat/keinginan yang diutarakan. Mengutip pendapat Analisis (Falah, 2012) memaparkan bahwa “sistem klasifikasi simbolik yang dipakai untuk menjelaskan tingkat atau bentuk hubungan tuhan – manusia dalam perwujudan ini, menuntun mereka untuk menciptakan moderasi (penengah) yang mengantarai”. Dalam pendapat ini, konsep trikotomi ini menjelaskan adanya seorang perantara yang  menjadikan keabsahan dari sebuah ritual, Lebih jauh lagi (Balagangadhara, 2018) menjelaskan bahwa “manakala anda menganggap agama sebagai sebagai tradisi, yakni seperangkat praktik yang diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka istilah ini terlihat sebagai satu jenis konsep intuitif kebudayaan. Toleransi/komporomi terhadap tradisi – tradisi yang berlainan atau penghormatan terhadap tradisi”. Oleh karena itu, pendapat ini menjelaskan bahwa perlu adanya sebuah toleransi terhadap sebuah praktik tradisi yang terjadi, dan masyarakat Blitar sudah mempraktekan dalam  ritual  nyekar Raden Adipati Aryo.

Daerah Blitar terletak di provinsi Jawa Timur, Indonesia salah satu daerah kelahiran bapa pendiri bangsa yakni  Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, memiliki beberapa kearifan lokal budaya di dalamnya. Masyarakat Blitar umumnya menggunakan bahasa Jawa dialek Blitar dalam berkomunikasi. Julukan Blitar sebagai kota Patria dikenal karena para raja – raja agung dan pejuang bangsa lahir di sini. Masyarakat Blitar masih terdapat hidup di beberapa kota dan kabupaten yang masih kecil, namun kepemilikan ikatan perasaan batin yang kuat antar sesama anggota warga kota maupun kabupaten. Sikap rela berkorban, tanpa pamrih, saling menghormati, serta mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam menjaga hubungan bermasyarakat. Wujud tercipta sebuah persatuan antar masyarakat di Blitar, terlihat dari prinsip orang Jawa Blitar yang menjalankan dan memahami dari ajaran leluhur mereka. Seperti Tepa Sarira “di mana seseorang mau dan mampu merasakan perasaan orang lain” (Jatman, 2008) adalah salah satu prinsip yang diterapkan ke dalam kehidupan sehari – hari. Ajaran ini mereka dapatkan secara turun temurun yang di mana mereka masih melakukan sebuah ritual tertentu yakni salah satunya nyekar ke makam suci  Raden Adipati Aryo. Terlepas dari akulturasi sebuah ajaran jawi dengan agama Islam, namun hal itu tidak dapat memudarkan kebersamaan yang di satukan oleh leluhur mereka yang sama. Proses ritual nyekar Raden Adipati Aryo dilaksanakan tepatnya komplek pemakaman Raden Adipati Aryo di jalan pamungkur No. 24, Blitar Selatan, Kec. Sukorejo, kota Blitar, Jawa Timur. Kompleks pemakaman ini langsung bersebelahan dengan perumahan warga setempat.

Gambar 2

Pintu depan kompleks Pemakaman Raden Adipati Aryo Blitar

Sumber: (R.Bhameswara Putra Kencana: 2022)

 

Lokasi pemakaman ini terbagi menjadi beberapa bagian, yakni diisi oleh para pemuka babad alas daerah Blitar dan ada sebuah sanggar Guyubing Budaya yang sudah berdiri sejak tahun 80an (1906 tahun tercatat) dan perpustakaan yang difasilitasi untuk masyarakat.

Gambar 3

Denah pemakaman Raden Adipati Aryo Blitar beserta Sanggar dan Perpustakaan

Ilustrasi: (R.Bhameswara Putra Kencana: 2022)

Keterangan:

1.    Makam Raden Adipati Aryo Blitar

2.    Sanggar Seni Guyubing Budaya

3.    Perpustakaan

4.    Makam pengikut dan keturunan

 

Lokasi ini dipercaya masyarakat sebagai arti dari memulai segala aktifitas. Bila kita berkunjung ke sana terdapat juru kunci/ kuncen yang akan mengantarkan kita untuk bisa mengakses masuk ke dalam makam. Dalam pelaksanaan proses ritual, sang juru kunci selalu mengingatkan kepada para pengunjung untuk selalu menjaga perkataan dan niat yang baik dalam melakukan prosesi nyekar. Hal ini agar tidak terjadi hal – hal yang tidak di inginkan. Pada pelaksanaan ritual, pengunjung selalu tidak lepas dari suatu benda perantara ritual ziarah makam suci yang selalu dibawa oleh pengunjung barang itu yakni meliputi 1. Dupa atau menyan, 2. Air  dan 3. Bunga Sedap malam, kantil, melati, kenangan, mawar merah, mawar putih dan melati gambir. Menurut tutur sang juru kunci, tiga benda ini melambangkan “wangi atau harum dari bunga dan dupa mengartikan pada leluhur permuka kota babad alas Blitar yang harum atas perjuangan beliau. Air mengartikan suatu keberkahan yang telah dilakukan atau minta izin kepada sang leluhur yang kelak sesudah dilakukan proses ritual, air itu akan dipakai mandi dengan tujuan mendapatkan kelancaran atas segala aktifitasnya” Unis (wawancara: 3 April 2022).

Gambar 1.3

Prosesi ritual Nyekar oleh masyarakat

Sumber: (R.Bhameswara Putra Kencana: 2022)

 

Dalam gambar di atas, dua makam suci yakni makam Eyang putri dan Eyang Kakung selaku sebutan/gelar yang diberikan oleh masyarakat Blitar sebagai tanda penghormatan.

Gambar 1.4

Prosesi ritual Nyekar oleh Pejabat Bupati Kabupaten Blitar

Sumber: Jatim News

 

Adapun bacaan yang dilakukan ketika ritual dilakukan. Bacaan ritual yakni seperti berikut: Unis (wawancara: 3 April 2022).

Salam Rahayu

Sallahum Allaihisallam

Sunasto Daono semedi (disaut oleh pengunjung Rahayu)

Wong ilaheng

Anncar atmanataya

Kawih genan

Mastu maman sidhem waswasiwa dohem sesembaheun manisungkem

mugiyo arima  yang kang murdi. Sallahu alaihi sallam semedi

kponang ngumbul tahbiat sangkung roso

ratune keblak ingsu rahayu umat ingsun keno

benduning allah iwaku ya allah  kang kuoso urip ruh rahayu sajati kabeh

Izin ratu agung mataram

Izin ratu agung Raden Adipati Aryo Blitar (sebutkan niat berkunjung dalam hati)

Rahayuuu

Catatan: ditutup dengan bacaan Al – Fatihah atau disaut dengan bacaan Rahayu Sagung Dumadi

Pemahaman tentang fakta sejarah dalam struktur kepercayaan masyarakat di Blitar merupakan wilayah yang didukung dengan kondisi alamnya yang banyak meninggalkan artefak peninggalan ajaran masa lalunya sebagai benang merah. Jejak peninggalan candi pada zaman Majapahit disekitar Blitar seperti candi Penataran, Candi Simping dan candi lainnya menjadi pendukung bahwa adanya fakta artefak sejarah. Kepercayaan pada suatu wilayah merupakan bentuk kekuatan pada sebuah bentuk ritual atau pemahaman yang dapat dilakuka oleh pribadi atau pihak komunal dalam melakukan berbagai  pemahaman atas kepercayaan. Masyarakat Blitar merupakan salah satu profil masyarakat yang menunjukan berbagai pengaruh yang saling mempunyai kekuatan ikatan, baik dalam memahami kepercayaan dalam sebuah kehidupan. Mayoritas pemeluk agama Islam yang berada di Blitar masih banyak melakukan berbagai kegiatan budaya tradisi yang dipahami sebagai keberlangsungan pada kepercayaan masa lalu dari para leluhurnya untuk melanjutkan berbagai kegiatan. Mircea Eliade dalam bukunya Sakral dan Profan, mengatakan bahwa:

Agama adalah solusi paradigmatis bagi setiap krisis eksistensi. Agama merupakan solusi paradigmatis bukan hanya karena agama dapat diulang dalam jangka waktu yang tidak terbatas, tetapi juga agama dipercayai memiliki asal usul yang transendental dan karenanya dipercayai sebagai wahyu yang diterima dari yang lain, dunia trans – manusia. Solusi religius tidak hanya memecahkan krisis, namun pada saat yang sama membuat eksistensi “terbuka” untuk nilai – nilai yang tidak lagi merupakan konsekuensi dan partikularitas, sehingga memungkinkan manusia untuk menransendenkan situasi personal dan akhirnya, memperoleh jalan ke dunia ruh (2002:221). Melalu pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa kebutuhan sebuah krisis psikologis bisa dipenuhi dengan adanya agama. Agama adalah solusi dari sebuah jalan dari dirinya yakni manusia kepada Tuhan YME atas karunia melalui perantaranya. Solusi religius ini yang akhirnya membuka sebuah nilai ajaran kepada pribadi maupun pihak komunal. Nilai yang didapatkan dari sebuah proses ritual, dilakuguna pada praktik sosial sehari – hari.

 

1

2

3

 

4

 

 

 


KESIMPULAN

Penelitian ini memperlihatkan persoalan proses sakralitas ke dalam dua dimensi, yaitu sakral sebagai sesuatu yang supernatural dan sosial. Sebagai sesuatu yang supernatural,  hal – hal sakralitas yang telah menjadi bagian penting dari sebuah keyakinan (faith) dari masyarakat, sedangkan sebagai sesuatu yang sosial yakni telah menjadi pengikat antar kebersamaan dan kerukunan hidup antar relasi masyarakat yang terjadi. Wujud nyata dari sebuah sakralitas seperti pembahasan yang telah dipaparkan secara jelas dalam praktik pensakralan nyekar Raden Adipati Aryo Blitar dalam kehidupan tradisi masyarakat Blitar. Masyarakat Blitar mempercayai bila simbol makam suci leluhur bertujuan untuk guna melaksanakan izin dalam rangkaian kehidupan sehari – hari maupun kegiatan khusus seperti berkesenian, menjabat pemerintah daerah dan berbagai kegiatan lainnya. Kekuatan ini membuat simbol makam suci dijadikan objek sesembahan dan persembahan sakral bagi warga masyarakat Blitar dan seluruh masyarakat umum yang mempercayainya. Persembahan sakral ini, tidak hanya dijadikan sebagai penegasan supernatural saja, melainkan untuk mengikat kebersamaan dalam masyarakatnya di sekitar.

Berbagai jadwal ritual nyekar dalam pelaksanaan sakral diselenggarakan seperti acara malam satu suro dan berbagai hari baik yang ditentukan dengan kalender Jawi  untuk mencapai  maksud dan keinginan terebut. Puncak penyakralan dalam proses nyekar Raden Adipati Aryo Blitar adalah adanya interaksi sosial yang terjadi secara bersama yakni diteguhkannya sarana ritual yang dibagikan kepada masyarakat secara seremonial, dengan tujuan pentingnya kebersamaan dan kerukunan dalam cara hidup masyarakat Blitar. Era Global dan modern telah membuat arti dan fungsi kesakralannya mengalami penyesuaian – penyesuaian sesuai dengan lingkup ruang waktu. Selain sebagai simbol sakral yang supernatural,  juga sebagai simbol sosial yang mempertegas identitas dirinya sebagai Cah Blitar.

 

BIBLIOGRAFI

 

Balagangadhara, S. N. (2018). “The Heathen in his Blindness...”: Asia, the West and the Dynamic of Religion. Brill. Google Scholar

 

Creswell, John W. (2014). RESEARCH DESIGN, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches atau RESEARCH DESIGN: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Terjemahan Achmad Fawaid & Rianayati Kusmini. Google Scholar

 

Eliade, Mircea. (2002). Sakral dan Profan Menyingkap Hakikat agama.(penerjemah Nuwanto) Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. Google Scholar

 

Falah, Ahmad. (2012). Spiritualitas Muria: Akomodasi tradisi dan wisata. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 20(2), 429–452. Google Scholar

 

Ichsan, Yazida, & Hanafiah, Yusuf. (2020). Mistisisme dan transendensi sosio-kultural islam di masyarakat Pesisir Pantai Parangkusumo Yogyakarta. Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial Dan Budaya, 5(1), 21–36. Google Scholar

 

Jatman, Sudarmanto. (2008). Ilmu Jiwa Kaum Pribumi. Google Scholar

 

Rohimi, Rohimi. (n.d.). Sejarah dan Prosesi Tradisi Ziarah Makam Keleang. Sosial Budaya, 17(1), 12–19. Google Scholar

 

Turner, Victor, & Turner, Victor Witter. (1970). The forest of symbols: Aspects of Ndembu ritual (Vol. 101). Cornell University Press. Google Scholar

 

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).