
Nanang Faisol Hadi/ JOSR: Journal of Social Research, 1(2), 69-84
Nalar Kritis Pendidikan Agama Islam dan Tantangan Demokrasi Kebangsaan di
Negara Pluralis 72
Barat dan sejauh mana mereka berhasil mempersiapkan siswa muslim untuk
kehidupan yang demokratis dan pluralistik. Misalnya, banyak sekolah di AS yang
menerapkan kurikulum Islam, yang diadopsi dari negara mayoritas Muslim. Yang
dipaksakan relevansinya dengan kehidupan multikultural, beragam, dan
demokratis di mana mereka tinggal saat ini. Kurikulum ini tidak mampu
mendorong siswa untuk berpikir kritis, menuangkan ide, dan terlibat dalam debat
sebuah kajian. Mereka fokus pada pembelajaran hafalan seperti membaca dan
menghafal bab-bab dari Quran dan tradisi nabi. Pendidikan agama model Salafi
ini, mendominasi dunia Islam (masjid, madrasah, dan sekolah Islam) saat ini. Ia
membatasi pengembangan identitas keagamaan dan kewarganegaraan siswa
muslim karena terlalu bergantung pada pendekatan agama yang berorientasi pada
transmisi dan berpusat pada guru. Efek lainnya ialah menumbuhkan monopoli
atas pengetahuan agama dan pendekatan yang tidak kritis terhadap kontribusi para
ahli hukum islam terdahulu. Pendidikan Islam di AS yang bertumpu pada ideologi
islam salafi tidak sesuai dengan kehidupan yang demokratis dan multikultural
masyarakat karena percaya bahwa hanya ada satu mazhab penafsiran kitab suci,
agama, dan hukum yang benar. Salafisme berkaitan dengan gerakan Wahabisme
yang menolak ambiguitas, relativisme, atau inovasi teologis dan menekankan
kekakuan, stabilitas dan keteraturan kognitif dalam menghadapi tantangan dan
dinamisme kehidupan modern. Pendidikan berdasarkan salafisme dapat mengarah
pada ide-ide ekstremisme, konflik dan intoleransi terhadap non-muslim dalam
masyarakat yang lebih luas
7
Tidak ada sekolah Islam di Amerika Serikat yang akan mengidentifikasi
dirinya dengan filsafat pedagogis progresif. Sebagian besar tulisan tentang Islam
liberal dan progresif dikembangkan dari perspektif politik atau teologis dan tidak
ada hubungan langsung dengan kebijakan, praktik, progresif dan pedagogik
pendidikan Islam untuk mengkonseptualisasi pendidikan yang lebih sesuai
dengan kehidupan masyarakat yang demokratis dan pluralistik
8
. Islam liberal dan
progresif begitu menghargai pemikiran rasional yang dikenal dengan ijtihad dan
teologis inovasi mendorong tumbuhnya intelektualisme Islam. Memfasilitasi
siswa muslim dengan pemahaman kritis tentang agama, sejarah, dan politik.
Artikel ini diarahkan kepada pendidikan Islam di AS karena masyarakat
Amerika sangat beragam dalam hal agama, budaya, dan pandangan dunia.
Adanya kontroversi tentang kemungkinan dan batasan pendidikan Islam di negeri
ini. Mengupas apakah pendidikan itu mengisolasi atau mengintegrasikan siswa
muslim dalam masyarakat yang lebih luas. Misalnya, kritikus sekolah Islam
berpendapat bahwa kurangnya pluralisme agama di sekolah-sekolah mencegah
semangat diskusi dan toleransi sebagai ciri utama dalam demokrasi liberal.
Diperkirakan ada 250 sekolah Islam dan 3200 siswa muslim di AS.
Sebagian besar sekolah Islam di AS adalah sekolah dasar dan menengah dan
mereka mengajarkan mata pelajaran dasar (matematika, sains, dan sastra) serta