PERILAKU BUANG AIR  BESAR SEMBARANGAN DAN PENYAKIT KECACINGAN PADA MASYARAKAT DI DAERAH PESISIR

 

 

Windi Rahmawati Nainggolan

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia

windirahmawati@gmail.com

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

01 Juni 2022

10 Juli 2022

20 Juli 2022

Latar Belakang : Kejadian penyakit kecacingan masih sangat tinggi terutama di daerah tropis dan subtropis. Prevalensi penyakit kecacingan di Indonesia juga masih cukup tinggi dan tersebar luas di pedesaan dan perkotaan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran infeksi kecacingan, jenis cacing, intensitas infeksi kecacingan,Upaya serta pencegahan kecacingan pada anak sekolah dasar di wilayah pesisir.

Metode : Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sekunder dengan menggunakan Studi Literatur.

Hasil : Berdasarkan hasil penelitian perilaku buang air besar (BAB) sembarangan masih terjadi di Indonesia terlebih di derah Pesisir. Di sejumlah daerah, masyarakat masih BAB sembarangan yang menjadi faktor utamanya adalah tidak adanya jamban sehat.Hal ini berdampak pada kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.Dampak dari BABS ini menimbulkan beberapa penyakit salah satunya adalah penyakit cacing yang sering diderita oleh anak-anak.

Kesimpulan : Hasil penelitian yang ada bahwa perilaku BABS merupakan salah satu cara menularkan infeksi cacing.

 

Kata Kunci : BABS; Sanitasi; Pesisir; Kecacingan

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Kejadian penyakit kecacingan masih sangat tinggi terutama di daerah tropis dan subtropis. Prevalensi penyakit kecacingan di Indonesia juga masih cukup tinggi dan tersebar luas di pedesaan dan perkotaan

Objectives: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran infeksi kecacingan, jenis cacing, intensitas infeksi kecacingan,Upaya serta pencegahan kecacingan pada anak sekolah dasar di wilayah pesisir.

Methods: Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sekunder dengan menggunakan Studi Literatur.

Results: Berdasarkan hasil penelitian perilaku buang air besar (BAB) sembarangan masih terjadi di Indonesia terlebih di derah Pesisir. Di sejumlah daerah, masyarakat masih BAB sembarangan yang menjadi faktor utamanya adalah tidak adanya jamban sehat.Hal ini berdampak pada kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.Dampak dari BABS ini menimbulkan beberapa penyakit salah satunya adalah penyakit cacing yang sering diderita oleh anak-anak.

Conclusion: Hasil penelitian yang ada bahwa perilaku BABS merupakan salah satu cara menularkan infeksi cacing.

 

Keywords: BABS; Sanitasi; Pesisir; Kecacingan

*Correspondent Author : Windi Rahmawati Nainggolan

Email : windirahmawati@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang tersebar luas didaerah tropis dan subtropis, berdasarkan data WHO pada tahun 2021 lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi Soil Transmitted Helminths (STH) (Kemenkes, 2013). Infeksi kecacingan tergolong penyakit Necleted Disease yaitu infeksi yang kurang diperhatikan dan penyakitnya bersifat kronis tanpa menimbulkan gejala klinis yang jelas dan dampak yang ditimbulkannya baru terlihat dalam jangka waktu panjang seperti kekurangan gizi, gangguan tumbuh kembang dan gangguan kognitif pada anak. Kecacingan dapat menimbulkan  kerugian baik penderita maupun keluarganya, karena dapat menyebabkan anemia, lesu dan prestasi belajar menurun. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa tanda gejala yang muncul adalah diare, mual, dan sakit perut. Tanda dan gejala tersebut dapat memberikan efek lain seperti penurunan status gizi, nafsu makan, dan pendarahan usus yang berakibat pada terjadinya anemia.Parasit usus seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang.Penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa anak-anak yang terinfeksi cacing memiliki nilai skor kemampuan kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi (Winita & Mulyati, 2012).

Perilaku BABS merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pencemaran tanah dan lingkungan oleh feses yang mengandung telur cacing dan ketersediaan air bersih. Salah satu daerah yang rentan terhadap kecacingan adalah daerah Pesisir dimana wilayah tersebut tersebut lembab dan lingkungan yang kurang bersih atau kumuh. Infeksi cacing sering terjadi pada anak sekolah dasar karena aktivitas mereka yang banyak berhubungan dengan tanah dan tidak menjaga kebersihan.Anak-anak yang tinggal di daerah kumuh memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi cacing daripada anakanak yang tinggal di kota. Sebagian besar penduduk Indonesia (kurang lebih 60%) hidup di wilayah pesisir dengan pertumbuhan rata-rata 2% pertahun. Hal ini disebabkan secara administratif, sebagian besar daerah kabupaten dan kota terletak di wilayah pesisir. Berdasarkan wilayah kecamatan, dari 4.028 kecamatan yang ada terdapat 1.129 kecamatan yang dari segi topografi terletak di wilayah pesisir, dan dari 62.472 desa yang ada sekitar 5.479 desa merupakan desa-desa pesisir.

Di Indonesia penyakit cacingan tersebar luas di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan. Hasil survei infeksi kecacingan di sekolah dasar (SD) di beberapa propinsi menunjukan prevalensi sekitar 60% - 80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40% - 60%. survei di Indonesia juga menunjukkan bahwa seringkali prevalensi Ascaris lumbricoides yang tinggi disertai prevalensi Trichuris trichiura yang tinggi pula. Prevalensi Ascaris lumbricoides yang lebih tinggi dari 70% ditemukan antara lain di beberapa desa di Sumatera (78%), Kalimantan (79%), Sulawesi (88%), Nusa tenggara Barat (92%) dan Jawa Barat (90%). Prevalensi Trichuristrichiura juga tinggi untuk daerah Sumatera (83%), Kalimantan (83%), Sulawesi (83%), Nusa tenggara Barat (84%) dan Jawa Barat (91%). Sedangkan prevalensi cacing tambang (hookworm) berkisar 30 % sampai 50% di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran infeksi kecacingan, jenis cacing, intensitas infeksi kecacingan, Upaya serta pencegahan kecacingan pada anak sekolah dasar di wilayah pesisir.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sekunder dengan menggunakan Studi Literatur. metode pengumpulan literatur ini yaitu dengan mengambil data di buku,karya ilmiah, jurnal dan mengolah bahan penelitian yang ada.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perilaku buang air besar (BAB) sembarangan masih terjadi di Indonesia terlebih di derah Pesisir. Di sejumlah daerah, masyarakat masih BAB sembarangan yang menjadi faktor utamanya adalah tidak adanya jamban sehat.Hal ini berdampak pada kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut (Umar, 2008) (Budiasri, Hadju, & Sirajuddin, 2013). Dampak dari BABS ini menimbulkan beberapa penyakit salah satunya adalah penyakit cacing yang sering diderita oleh anak-anak. Infeksi Soil-Transmitted Helminth menurut WHO disebabkan oleh tiga jenis cacing, yaitu cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (hook worm) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Menurut WHO, diperkirakan sekitar 807-221 juta orang terinfeksi oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Cacing gelang hidup di usus manusia dan telurnya dikeluarkan bersama dengan feses. Apabila seseorang buang air besar di sembarang tempat, misalnya di kebun, ladang, pekarangan rumah, maka telur akan tersimpan di tanah. Telur dapat menjadi matang di tanah dan berubah menjadi fase infektif (Nuryanto & Candra, 2019).

Infeksi Cacing tambang hidup di dalam usus halus manusia. Telur cacing tambang dikeluarkan bersama feses pada saat buang air besar. Telur cacing tambang akan menjadi matang di tanah dan menetas menjadi larva infektif. Larva infektif ini akan menginfeksi manusia dengan cara menembus kulit. Infeksi cacing tambang paling banyak terjadi pada saat seseorang berjalan tanpa menggunakan alas kaki di tanah yang mengandung larva infektif. Penularan juga dapat terjadi melalui makanan, yaitu secara tidak sengaja menelan larva cacing tambang. Pada umumnya infeksi cacing tambang tidak menunjukkan gejala, hanya beberapa yang mengalami sakit perut, terutama pada orang yang baru pertama terinfeksi.

Perilaku masyarakat pesisir yang sering buang air besar sembarangan karena tidak adanya fasilitas jamban membuat banyak dampak buruk. Dampak tersebut salah satunya kepada lingkungan sekitar masyarakat dan akhirnya berpengaruh ke kesehatan manusia juga.Dengan adanya jamban sehat akan memutus rantai penularan penyakit melalui media air dan makanan dengan cara sanitasi barrier (Soedjono & Fitriani, 2016). Tidak hanya menyebabkan kali berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau tidak sedap, BAB sembarangan juga bisa membahayakan kesehatan, masalah paling nyata akibat perilaku BAB sembarangan adalah infeksi saluran pencernaan. Kotoran dari BAB yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan infeksi saluran pencernaan. Kontaminasi bisa terjadi melalui lalat yang sebelumnya hinggap di kotoran, kemudian menempel di makanan, dan makanan tersebut berakhir di meja makan. BAB Sembarangan di daerah pesisir dapat  menyebarkan penyakit cacingan dan anak yang mengidap cacingan akan mengalami kekurangan gizi, anemia (kurang darah), dan gangguan kecerdasan serta mudah terkena penyakit. Oleh karena itu, warga harus berperilaku hidup bersih dan sehat dengan cara BAB di jamban. Rendahnya kesadaran warga ini juga dipicu karena masih cukup banyak warga (sekitar 30%) yang hanya berpendidikan SD sehingga pengetahuan dan kepedulian masyarakat akan lingkungan masih sangat kurang (Daulay et al., 2021).

pemerintah telah melakukan usaha untuk merubah perilaku warga yang masih buang air besar sembarangan (BABS) ternyata memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini dikarenakan tidak semua warga di daerah pesisir memiliki pengetahuan dan paham akan risiko penyakit yang muncul jika berperilaku BABS. Kendala lain yang dialami warga selama ini adalah minimnya dana untuk membangun jamban dan keterbatasan lahan. Kebiasaan higien dan sanitasi yang sudah meningkat dimana masyarakat sudah tidak buang air besar (BAB) sembarangan merupakan faktor yang menjadi rendahnya kejadian kecacingan pada penelitian ini. Kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan merupakan cara menularkan infeksi cacing.Penelitian yang dilakukan di wilayah pesisir menyebutkan bahwa sebanyak 77,2% anak sekolah dasar sudah tidak bermain menggunakan media tanah dimana tanah yang tercemar dapat menjadi media untuk menularkan telur cacing dan wilayah pesisir tersebut telah menggunakan jamban sehat.

Untuk meminimalisir dampak dari pembuangan tinja ke laut diperlukan solusi yang efektif, mudah diimplementasikan serta mudah untuk mengelola pembuangan tinja bagi masyarakat pesisir dan mengingat kondisi kawasan pesisir yang landai, berpasir dan sangat mudah terendam, diperlukan teknik khusus dalam membuat septic tank. Karena, dengan kondisi yang mudah terendam, septic yang dibuat harus memperhatikan jarak dengan sumber air. Jangan sampai kotoran mengkontaminasi air yang akan digunakan sehari-hari. Teknologi tepat guna berupa Septik tank komunal adalah rancangan sarana pembuangan tinja yang dapat menjadi solusi bagi masyarakat pesisir daerah pasang surut air laut dalam membuang tinja yang aman. Dengan dibangunnya septic tank komunal diharapkan masyarakat desa tidak lagi buang air besar di sembarang tempat yang tidak mempunyai saluran buangan air limbah yang dapat menyebarkan penyakit. Hubungan Antara Kecacingan dengan Prestasi Belajar anak hasil penelitian didapatkan bahwa 2 subjek yang menderita kecacingan mempunyai prestasi belajar yang kurang (Kamila, Margawati, & Nuryanto, 2018) (Tapiheru, 2020). Sedangkan diantara 66 subjek yang tidak menderita kecacingan terdapat 32 subjek berprestasi kurang baik dan 34 subjek berprestasi baik dengan menggunakan indikator nilai siswa dibawah nilai rata-rata kelas. Kecacingan akan menghambat anak sekolah dasar dalam mengikuti pelajaran karena anak akan merasa capat lelah, daya konsentrasi menurun, pusing dan mengakibatkan malas belajar dan sering tidak hadir sekolah, sehingga memiliki dampak buruk terhadap prestasi belajar anak.

 

KESIMPULAN

Hasil penelitian yang ada bahwa perilaku BABS merupakan salah satu cara menularkan infeksi cacing. Stop Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS) yang merupakan salah satu kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah suatu program pemberdayaan masyarakat dalam bidang sanitasi dimana kegiatannya diarahkan pada perubahan perilaku dari Buang Air Besar Sembarangan menuju pada suatu tempat tertentu (jamban/kakus) sekalipun hanya dalam bentuk yang paling sederhana berupa lubang atau galian yang dapat mencegah terhadap bau yang tidak sedap, pencemaran terhadap sumber-sumber air bersih, serta keterjangkauan lalat yang dapat menyebabkan penyakit. Diharapkan perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa dengan pengelolahan sanitasi stop BAB di wilayah pesisir sangat berpengaruh bagi Kesehatan dan lingkungan pesisir.

 

BIBLIOGRAFI

 

Budiasri, Rosa, Hadju, Veni, & Sirajuddin, Saifuddin. (2013). Infeksi Kecacingan dan Status Gizi pada Anak Sekolah Dasar di Wilayah Pesisir Kota Makassar. Universitas Hasanuddin. Google Scholar

 

Daulay, Amelia Fitri, Rienny, Aprillia, Pertiwi, Aqila Haya, Harahap, Cindy Sefrianti, Fitri, Denisa, Rizqina, Fithri Awliya, Chania, Khaida Rafni, & Zubaidi, Lubna. (2021). Penyuluhan Sanitasi dan Cara Hidup Sehat di Kawasan Pesisir Kelurahan Nelayan Indah Medan Labuhan Sumatera Utara. Google Scholar

 

Kamila, Annida Dini, Margawati, Ani, & Nuryanto, Nuryanto. (2018). Hubungan Kecacingan Dengan Status Gizi Dan Prestasi Belajar Pada Anak Sekolah Dasar Kelas Iv Dan V Di Kelurahan Bandarharjo Semarang. Journal of Nutrition College, 7(2), 77–83. Google Scholar

 

Kemenkes, R. I. (2013). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. 25 Juli 2015. Google Scholar

 

Nuryanto, Nuryanto, & Candra, Aryu. (2019). Hubungan kejadian kecacingan terhadap anemia dan kemampuan kognitif pada anak sekolah dasar di Kelurahan Bandarharjo, Semarang. Journal Of Nutrition College, 8(2), 101–106. Google Scholar

 

Soedjono, Eddy Setiadi, & Fitriani, Nurina. (2016). Penyediaan Jamban Sehat Sederhana Untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Di Kelurahan Tambakwedi, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 8(1), 36–45. Google Scholar

 

Tapiheru, Muhammad Jabbar Rahman. (2020). Prevalensi Infeksi Soil Transmitted Helminth Pada Murid Sekolah Dasar Negeri 105296 Di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Google Scholar

 

Umar, Zaidina. (2008). Perilaku cuci tangan sebelum makan dan kecacingan pada murid SD di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 2(6), 249–254. Google Scholar

 

Winita, Rawina, & Mulyati, Astuty H. (2012). Upaya pemberantasan kecacingan di sekolah dasar. Makara Kesehatan, 16(2), 65–71. Google Scholar

 

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).