POLA
KONSUMSI MAKANAN LAUT TERHADAP TIMBULNYA KEJADIAN HIPERTENSI DI WILAYAH PESISIR
Ridmahsyah Widiya Sari, Susilawati
Universitas Islam Negeri
Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia
ridmasyahsyahwidyasari10@gmail.com, susilawati@uinsu.co.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Juni 2022 10 Juli 2022 20 Juli 2022 |
Latar Belakang : Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Salah satunya pola konsumsi makanan. Pola konsumsi merupakan susunan jenis dan jumlah asupan makanan yang dikonsumsi pada waktu tertentu. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola konsumsi makanan laut terhadap timbulnya kejadian hipertensi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan metode naratif yang diambil dari jurnal nasional. Hasil : Berdasarkan hasil telaah didapatkan hasil bahwa mengonsumsi makanan laut dengan porsi banyak (>400 gr/minggu) lebih banyak menderita hipertensi (100%) dibandingkan responden yang mengonsumsi makanan laut dengan porsi sedang (1-400 gr/minggu). Kesimpulan : Kesimpulannya, Pola konsumsi makanan tinggi natrium danstatus gizi berhubungan dengan tekanan darah jika dikonsumsi dalam kadar yang berlebih dan kategori sering. Kata Kunci : Pola
Konsumsi; Makanan Laut; Hipertensi; o |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: Many factors can lead to
the occurrence of hypertension. One of them is food consumption patterns.
Consumption patterns are an arrangement of the type and amount of food intake
consumed at a certain time. Objectives: The purpose of this study
was to determine the pattern of seafood consumption against the onset of
hypertension. Methods: This research uses the
systematic literature review method with a narrative method taken from
national journals. Results: Based on the results of
the study, it was found that eating seafood with large portions (>400 gr /
week) suffered more from hypertension (100%) than respondents who consumed
seafood with moderate portions (1-400 gr / week). Conclusion: In conclusion, the pattern
of consumption of foods high in sodium and nutritional status is related to
blood pressure if consumed in excess levels and frequent categories. Keywords: Consumption Patterns;
Seafood; Hypertension; Shore |
|
*Correspondent Author :
Ridmahsyah Widiya Sari
Email : ridmasyahsyahwidyasari10@gmail.com
PENDAHULUAN
Hipertensi
adalah penyakit yang sering dikenal dikalangan
masyarakat dengan sebutuan darah tinggi. Tidak semua
penderita hipertensi menyadari penyakit yang dideritanya. Hal ini yang membuat
hipertensi kerap disebut sebagai “silent killer”atau “pembunuh senyap” (Aidha & Tarigan, 2019). Berdasarkan penelitian
Yekti, 2011. Hipertensi berarti tekanan
darah di dalam
pembuluh-pembuluh darah sangat tinggi. Pembuluh darah-pembuluh darah
yang mengangkut darah dari jantung yang memompa
darah ke seluruh
jaringan dan organ-organ
tubuh. Hipertensi bukan berarti
tegangan emosi yang
berlebihan walaupun tegangan
emosi dan stres
dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara (Angelina, Yulyani, & Efriyani, 2021).
Berdasarkan laporan WHO
2018, seseorang terdiagnosis hipertensi ketika tekanan darahnya 130-139 sistol atau 80-89 mm Hg diastol (hipertensi tipe 1) dan ≥140 sistol atau ≥90 mm Hg
diastole (hipertensi tipe 2) (Flack & Adekola, 2020). Sekitar 1,13 miliar orang di
dunia mengidap hipertensi dan paling banyak berada di negara ekonomi menengah
dan ekonomi bawah. 1 dari 4 pria atau 1 dari 5 wanita menderita hipertensi dan
1 dari 5 orang dengan hipertensi memiliki hipertensi tidak terkontrol. Salah
satu target global untuk penyakit tidak menular adalah mengurangi prevalensi
hipertensi sebanyak 25% pada tahun 2025 (Rachmawati, Puspita, & Suryatma, 2021).
Hipertensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena potensinya yang mampu
mengakibatkan kondisi komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan
gagal ginjal. Berdasarkan laporan WHO, dari 50% penderita hipertensi yang
diketahui 25% diantaranya mendapat pengobatan, tetapi
hanya 12,5% diantaranya diobati dengan baik (WH, 2020).
Jumlah penderita Hipertensi di Indonesia sebanyak 70 juta orang (28%), tetapi
hanya 24% diantaranya merupakan Hipertensi
terkontrol. Prevalensi hipertensi pada populasi dewasa di Negara maju sebesar
35% dan di Negara berkembang sebesar 40%. Prevalensi hipertensi pada orang
dewasa adalah 6-15% (Departemen Kesehatan RI, 2019). Berdasarkan
data dari Riskesdas tahun 2013 diketahui bahwa
prevalensi hipertensi ditemukan lebih tinggi di daerah perkotaan dari pada di
daerah perdesaan, yaitu di perkotaan sebesar 26,1%, sedangkan di pedesaan
sebesar 25,5% (Sapitri, Suyanto, & Butar-butar, 2016).
Prevalensi hipertensi di
Propinsi Sumatera Utara mencapai 6.7% dari jumlah
penduduk di Sumatera Utara, berdasarkan data Badan Litbangkes
Kementerian Kesehatan. artinya jumlah penduduk Sumatera Utara yang menderita
hipertensi mencapai 12,42 juta jiwa tersebar di beberapa Kabupaten (Kementrian Kesehatan RI, 2014). Faktor-faktor
yang menyebabkan hipertensi dapat dibagi dua yaitu faktor yang dapat diubah dan
yang tidak dapat diubah. Faktor yang dapat diubah seperti konsumsi makanan yang
tidak sehat, kurangnya aktifitas fisik, konsumsi
tembakau dan alkohol serta berat badan berlebih; sedangkan faktor yang tidak
dapat diubah antara lain riwayat keluarga dengan hipertensi, umur diatas 65 tahun dan penyakit penyerta (WH, 2020).
Berdasarkan penelitian Fadhilah, dkk, 2018, banyak
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Salah satunya pola
konsumsi makanan. Pola konsumsi merupakan susunan jenis dan jumlah asupan
makanan yang dikonsumsi pada waktu tertentu. Setiap kelompok masyarakat
tertentu memiliki pola konsumsi yang berbeda, hal ini dikarenakan terdapat
faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi suatu masyarakat atau suatu
kelompok tertentu. Tiga faktor terpenting yang mempengaruhi kebiasaan makan
adalah ketersediaan pangan, pola sosial budaya dan faktor-faktor pribadi (Susanti, Siregar, & Falefi, 2020).
Penelitian yang dilakukan
(Rusliafa, dkk 2014) menunjukkan bahwa hipertensi lebih banyak diderita oleh masyarakat pesisir. Hal ini disebabkan oleh tingginya konsumsi natrium pada makanan olahan
laut yang diasinkan. Tingginya konsumsi natrium merupakan salah satu faktor risiko
terhadap penyakit hipertensi di Indonesia. Prevalensi hipertensi tertinggi di daerah pesisir
Kota Semarang, yaitu di wilayah
kerja Puskesmas Mangkang sebesar 5,33% sedangkan wilayah kerja Puskesmas Genuk 2,5% dan wilayah kerja Puskesmas
Bandarharjo 0,27%. Diperkirakan
jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup (Cahyani, Saraswati, & Ginandjar, 2019).
Prevalensi penyakit
hipertensi di Aceh pada tahun 2018 yaitu 9,7% diketahui dari data (Riskesdas,2018).
Prevalensi hipertensi menurut karakteristik pada tahun 2018 terdapat 39,7% pada
masyarakat yang tidak bekerja, 36,9% PNS / TNI / Polri / BUMN / BUMD ,pada
pekerja petani / buruh tani 36,1%. Wiraswasta 34,0%, Buruh / supir 30,2%, nelayan 27,8%, pekerjaswasta
24,4% dan lainnya 34,8%. Data hipertensi di Kota Banda Aceh pada tahun 2017
berjumlah 6507 orang dan pada tahun 2018 data dari bulan Januari – Mei 2018
berjumlah 4682 orang (Putri, Abdullah, & Hermansyah, 2021).
Penelitian (Reinpal, dkk 2019)
menyebutkan bahwasanya hipertensi di kawasan pesisir kecmatan
Medan Belawan mencapai 30%, hal ini diakibatkan oleh pemberian garam pada lauk
dan sayur yang melebihi standar optimal serta kurangnya konsumsi sayur oleh
masyarakat.
Tingginya prevalensi hipertensi pada populasi penduduk di daerah pesisir
tersebut secara teori tidak lepas
dari tingginya asupan
natrium harian dari penduduknya, baik
melalui produk makanan dari
hasil laut, misalnya
ikan laut, yang mengandung garam
dengan kadar yang
tinggi maupun melalui penggunaan garam
dalam pengolahan makanan untuk
kebutuhan sehari-hari (Harahap et al., 2022).
Di daerah Percut, medan sumatera
utara merupakan daerah pesisir yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai
pedagang ikan/nelayan. Selain itu, masyarakat pesisir percut
bermata pencaharian usaha tambak ikan, udang, dan garam, bekerja pada industri
kecil, jasa angkutan dan sebagai pegawai negeri (BPS, 2010). Hal
ini dikarenakan Kecamatan Percut Sei
Tuan sebagian daerahnya memiliki pesisir pantai. Pola konsumsi masyarakat yang
dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga masyarakat pesisir cenderung mengkonsumsi hanya hasil laut yang menyebabkan
ketidakseimbangan gizi. Penelitian (Fazria, 2021)
menyebutkan bahwasanya hipertensi di kawasan pesisir kecmatan
Medan Belawan mencapai 30%, hal ini diakibatkan oleh pemberian garam pada lauk
dan sayur yang melebihi standar optimal serta kurangnya konsumsi sayur oleh
masyarakat. Berdasarkan uraian data dan informasi di atas, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui Pola Konsumsi terhadap
Timbulnya Kejadian Hipertensi di Wilayah Medan
Sumatera Utara. Metode yang di pakai pada penelitian ini menggunakan systematic literature review. Penelusuran
literatur dilakukan dengan cara mengakses database
elektronik secara online dari Google Scholar.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
metode yang di pakai pada penelitian ini menggunakan systematic
literature review dengan
metode naratif. Penelusuran literatur
dilakukan dengan cara mengakses database elektronik
secara online dari Google Scholar.
kriteria inklusi yaitu 10 jurnal yang meneliti tentang hubungan konsumsi dengan
kejadian hipertens pada masyarakat pesisir. Kemudian
menggunakan kriteria eksklusi
dengan melihat waktu publikasi dengan rentang tahun 2018 - 2022. Pada tahap
akhir dilakukan penilaian dengan menghapus jurnal yang mempunyai judul dan
penulis yang sama, teks yang tidak lengkap dan memverifikasi hasil penelitian
seperti kecukupan sampel, antisipasi bias, kelompok pembanding, serta
kesesuaian uji statistik dari daftar literatur.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelusuran literatur dengan systematic
literature review
didapatkan 10 jurnal dengan kata kunci
hipertensi, masyarakat pesisir, pola makan. Pada tahap akhir dilakukan
penilaian dengan menghapus jurnal yang mempunyai judul dan penulis yang sama,
teks yang tidak lengkap dan memverifikasi hasil penelitian seperti kecukupan sampel,
antisipasi bias, kelompok pembanding, serta kesesuaian uji statistik dari
daftar literatur. Penulis memperoleh 3 literatur dengan teks lengkap dan sesuai
dengan kriteria yang ditetapkan.
Tabel 1
Hasil Temuan Literatur
|
No |
Nama Peneliti (Tahun) |
Judul Penelitian (Asal Daerah) |
Tempat Penelitian, Metode, Besar Sampel, Instrumen |
Hasil |
|
1. |
Sri, et.al., (2021) |
Pola konsumsi makanan tinggi natrium, status gizi, dan
tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Mantok,
Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah |
·
Puskesmas Mantok,
Kabupaten Banggai. ·
Observasional
dengan desain cross sectional ·
48 pasien yang baru didiagnosis hipertensi ·
teknik purposive
sampling |
Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi
makanan tinggi natrium dengan tekanan darah (p=0,033), dan ada hubungan antara status gizi dengan tekanan darah (p=0,025). |
|
2. |
Aktivitas Fisik, Konsumsi
Makanan Asin dan Kejadian Hipertensi Masyarakat Pesisir Kota Medan |
·
Kelurahan Belawan II ·
studi cross-sectional. ·
90 orang ·
Kuesioner Riskesdas
2018. |
mayoritas subjek dalam penelitian ini mengalami hipertensi
adalah usia dewasa (25-59 tahun) sebanyak
66 orang, subjek penelitian yang melakukan aktivitas fisik sedang
sebanyak 67orang, konsumsi makanan asin sering (≥1 kali sehari)
sebanyak 40 orang. Mayoritas subjek dalam penelitian ini mengalami hipertensi jarang mengonsumsi makanan asin dan melakukan aktivitas fisik sedang (20,9%). |
|
|
3. |
Hubungan Makanan Laut
dengan Kejadian Hipertensi pada Masyrakat Pesisir Di Wilayah Kerja Puskesmas Mangkang Kota
Semarang |
·
Semarang ·
The design of this study was analytic with cross sectional
approach ·
The sample of this research
is 100 people ·
the instrument used was a questionnaire |
The results of
the study there is a very significant
relationship between seafood consumption with the incidence
of hypertension (p =
0.002) |
Hasil
kajian pustaka dari 3 jurnal tersebut menunjukkan bahwa pada hasil penelitian retno, hubungan yang sangat signifikan antara konsumsi seafood dengan kejadian hipertensi (p=0,002). sebagian besar responden memiliki tingkat
konsumsi makanan laut yaitu sebanyak 200 gram. Kesimpulannya, mengonsumsi
makanan laut dengan porsi banyak (>400 gr/minggu)
lebih banyak menderita hipertensi (100%) dibandingkan responden yang
mengonsumsi makanan laut dengan porsi sedang (1-400 gr/minggu)
dan kurang (<100 gr/minggu). Sejalan dengan pada
penelitian (Arto, 2022),
pada 37 subjek yang di jadikan sebagai
sampel, mengkonsumsi makanan asin dalam kategori
jarang (1-10 kali perbulan) ternyata, subjek memiliki
status tekanan darah dalam kategori normal sebanyak 21 (56,8%) orang, kategori
hipertensi sebanyak 12 (32,4%) orang dan kategori hipotensi sebanyak 4 (10,8%)
orang. Dari 40 subjek yang mengkonsumsi makanan asin dalam kategori sering ((≥1
kali sehari perbulan), ternyata subjek memiliki
status tekanan darah dalam kategori normal sebanyak 30 (75,0%) orang, kategori
hipertensi sebanyak 9 (22,5%) orang dan kategori hipotensi sebanyak 1 (2,5%)
orang.
Sedangkan
pada penelitian sri, Sebanyak 64,6% subjek mengonsumsi makanan tinggi natrium
dengan kategori asupan lebih, sebagian besar subjek berstatus gizi lebih (58%)
dan mengalami hipertensi grade II (67%). Analisis
statistik menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi makanan tinggi
natrium dengan tekanan darah (p=0,033), dan ada hubungan antara status gizi
dengan tekanan darah (p=0,025). Disimpulkan kejadian hipertensi terjadi karena
mengonsumsi makanan tinggi natrium dengan subjek yang memiliki status gizi
lebih.
KESIMPULAN
Aidha, Zuhrina, & Tarigan, Azhari
Akmal. (2019). Survey Hipertensi Dan Pencegahan Komplikasinya Di Wilayah
Pesisir Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun2018. JUMANTIK (Jurnal Ilmiah
Penelitian Kesehatan), 4(1), 101–112. Google Scholar
Angelina, Christin, Yulyani, Vera, & Efriyani, Evi.
(2021). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BIHA
PESISIR BARAT TAHUN 2020. Indonesian Journal of Health and Medical, 1(3),
404–416. Google Scholar
Arto, Jeki. (2022). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TARUTUNG KECAMATAN BATANG
MERANGIN KABUPATEN KERINCI TAHUN 2021. Universitas Jambi. Google
Scholar
Cahyani, Retno, Saraswati, Lintang Dian, & Ginandjar,
Praba. (2019). Hubungan Konsumsi Makanan Laut Dengan Kejadian Hipertensi Pada
Masyarakat Pesisir Di Wilayah Kerja Puskesmas Mangkang Kota Semarang. Jurnal
Kesehatan Masyarakat (Undip), 7(4), 743–748. Google Scholar
Fazria, Fadilla. (2021). LITERATUR REVIEW: FAKTOR–FAKTOR
YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANJUT USIA. Google
Scholar
Harahap, Herpan Syafii, Hunaifi, Ilsa, Gunawan, Stephanie
Elizabeth, Putri, Setyawati Asih, Susilawati, Ni Nyoman Ayu, & Kholida,
Baiq Hilya. (2022). Hipertensi Sebagai Determinan Utama untuk Peningkatan
Risiko Stroke pada Populasi Penduduk di Daerah Pesisir. Jurnal Kedokteran,
11(1), 789–795. Google Scholar
Putri, Ranti Mairiza, Abdullah, Asnawi, & Hermansyah,
Hermansyah. (2021). Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Pesisir di Kota
Banda Aceh. Jurnal Aceh Medika, 5(2), 12–24. Google
Scholar
Rachmawati, Faika, Puspita, Tities, & Suryatma, Anton. (2021). Rokok Dan Hipertensi. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 24(3), 170–181. Google Scholar
Sapitri, Nelli, Suyanto, Suyanto, & Butar-butar, Wasinton
Ristua. (2016). Analisis faktor risiko kejadian hipertensi pada masyarakat
di pesisir sungai siak kecamatan rumbai kota pekanbaru. Riau University. Google
Scholar
Susanti, Nofi, Siregar, Putra Apriadi, & Falefi, Reinpal.
(2020). Determinan kejadian hipertensi masyarakat pesisir berdasarkan kondisi
sosio demografi dan konsumsi makan. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 2(1),
43–52. Google Scholar
WH, Organization. (2020). Coronavirus disease (COVID-2019)
situation reports. Geneva: WHO. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |