GAMBARAN SANITASI LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI PANDAN SIBOLGA

 

 

Anggi Sahara

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia

anggisahara2208@gmail.com

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

01 Juni 2022

10 Juli 2022

20 Juli 2022

Latar Belakang : Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kualitas kehidupan manusia, meningkatkn kesejahteraan manusia serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat yang bebas dari penyakit. Salah satu wilayah yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam pengelolaan wilayahnya adalah wilayah pesisir. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif observasional yaitu penelitian yang diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam suatu komunitas atau masyarakat dan jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 40 responden.

Hasil : Hasil dari penelitian ini Sanitasi Rumah Sehat di Pantai Pandan Sibolga yaitu sebanyak 21 responden dengan persentase 52,5% berada pada katagori memenuhi syarat sedangkan 19 responden dengan presentase 47,5% berada dalam tidak memenuhi syarat.

Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat di tarik kesimpulan yaitu sebanyak 24 responden memiliki jamban memenuhi syarat dengan persentase 60% berada sedangkan 16 responden dengan presentase 28% memiliki jamban tidak memenuhi syarat.

 

Kata Kunci : Sanitasi; Masyarakat Pesisir; Lingkungan Sehat

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Health development is directed at improving the quality of human resources, the quality of human life, improving human welfare and to increase public awareness of the importance of healthy living.

Objectives: This study aims to create a healthy environment that is free from disease. One of the areas that has a fairly high level of difficulty in managing its territory is the coastal area

Methods: The type of research used is observational descriptive research, which is research directed at describing or describing a situation in a community or society and the number of samples in this study is 40 respondents.

Results: The results of this study are Sanitation of Healthy Houses at Pandan Sibolga Beach, namely as many as 21 respondents with a percentage of 52.5% are in the qualified category while 19 respondents with a percentage of 47.5% are in ineligible.

Conclusion: Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that as many as 24 respondents have qualified latrines with a percentage of 60% located while 16 respondents with a percentage of 28% have latrines that are not eligible.

 

Keywords: Sanitation; Coastal Communities; Healthy Environment

*Correspondent Author : Anggi Sahara

Email : anggisahara2208@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kualitas kehidupan manusia, meningkatkan kesejahteraan manusia serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Sarana dan kebijakan pembangunan perumahan dewasa ini dirasakan pada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah, daerah kumuh, perkotaan, daerah pedesaan dan daerah terpencil (Gomaa & Fahmy, 2013) (Imroatus, Mulyadi, & Lihi, 2015). (Fanjari, 1993) mendefinisikan sanitasi lingkungan adalah usaha menciptakan lingkungan yang sehat yang bebas dari penyakit. Dalam kamus lengkap biologi (Kashiko, 2002) sanitasi lingkungan adalah cara menyehatkan lingkungan hidup manusia terutama lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara. Berdasarkan kedua definisi tersebut, maka sanitasi lingkungan bisa juga diartikan usaha untuk menghilangkan faktor lingkungan yang dapat menimbulkan penyakit atau paling tidak mengurangi faktor lingkungan tersebut (Gani, 2013).

Indonesia menduduki peringkat ke-2 di dunia sebagai Negara dengan sanitasi terburuk setelah India. Hal ini sangat ironis dibandingkan dengan negara-negara dikawasan Asia Tenggara seperti Singapura & Malaysia yang cakupan layanan sanitasinya diatas 90 persen. Sanitasi yang buruk dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Secara global, permasalahan sanitasi menjadi masalah di seluruh dunia. Buruknya akses terhadap fasilitas sanitasi berkaitan erat dengan penularan berbagai macam penyakit menular seperti kolera, diare, disentri, hepatitis A, tipus dan polio. Sanitasi yang tidak memadai diperkirakan menyebabkan kematian 280.000 jiwa akibat diare setiap tahunnya dan merupakan factor utama dalam merebaknya beberapa penyakit tropis, seperti cacingan, schistosomiasis dan trachoma (Panel et al., 2015). Permasalahan sanitasi yang ada di negara berkembang disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah minimnya perhatian dan prioritas yang diberikan oleh pemerintah atau dinas terkait pada sektor sanitasi, minimnya ketersediaan air bersih dan sanitasi, minimnya ketersedian ruang, perilaku kebersihan yang masih minim, serta sanitasi yang tidak memadai di tempat-tempat umum seperti sekolah, rumah sakit, puskesmas, masjid, tempat rekreasi, restoran dan lain-lain (Itchon & Gensch, 2013).

Salah satu wilayah yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam pengelolaan wilayahnya adalah wilayah pesisir. Menurut Kusnadi dalam Kasim wilayah pesisir merupakan wilayah yang berada diantara wilayah daratan dan lautan dimana lingkungannya dipengaruhi kondisi yang ada di daratan maupun di lautan. Wilayah pesisir memiliki kompleksitas isu, permasalahan, peluang, dan tantangan tersendiri yang berbeda dengan wilayah lainnya. Masalah utama dalam kesehatan lingkungan pada masyarakat Indonesia pada umumnya masih berfokus pada perumahan yang layak, pengadaan air bersih, jamban keluarga, pembuangan sampah dan pembuangan limbahrumah tangga. Menurut data World Bank Watre Sanitation Program (WSP) terungkap bahwa Indonesia berada diurutan kedua di dunia sebagai negara dengan sanitasi buruk. Menurut Dieladalam Imroatus menurut data yang dipublikasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebanyak63 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih buang air besar (BAB) sembarangan di laut, sungai, maupun permukaan tanah (Misdayanti, 2021).

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif observasional yaitu penelitian yang diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan di dalam suatu komunitas atau masyarakat dan jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 40 Responden. Penelitian ini dilakukan di Pantai Pandan Sibolga. Pantai Pandan terletak di pesisir Sibolga, secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Pandan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pantai Pandan ini merupakan salah satu pantai yang paling populer di Sumatera Utara dan menjadi destinasi favorit bagi masyarakat dan wisatawan (Admin, 2018).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pantai pandan adalah salah satu pantai yang paling populer di Sumatera Utara dan menjadi destinasi favorit bagi keluarga yang ingin menghabiskan waktu liburan di pantai. Pantai Pandan terletak di pesisir Sibolga. Secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Pandan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Kelebihan pantainya memiliki air biru yang jernih dan pepohonan rindang. Selain itu pantai ini juga memiliki pasir yang sangat halus sehingga sangat nyaman mengelilingi pantai ini dengan telanjang kaki. Di sekitar pantai ini juga banyak pedagang yang menjajakan dagangannya dengan berkeliling atau warung-warung yang ada di sekitar pantai, dan sudah tersedia penginapan bertaraf internasional.

Rumah mempunyai pengaruh penting dalam kehidupan ini salah satunya adalah pengaruh kondisi kesehatan rumah terhadap kesehatan manusia (penghuni rumah). Beberapa komponen rumah yang mempengaruhi kesehatan manusia adalah kontruksi dari banguanan rumah, sarana sanitasi yang ada di rumah serta tidak ketinggalan perilaku penghuni rumah sendiri. (Rudi Balaka, 2019) Masyarakat pesisir memilki komunitas kecil dengan beberapa ciri-ciri diantaranya yaitu : 1. Mempunyai identitas yang khas; 2. Terdiri dari jumlah penduduk dengan jumlah yang cukup terbatas sehingga masih saling mengenal sebagai individu yang berkepribadian; 3. Bersifat seragam dengan diferensiasi terbatas; 4. Kebutuhan hidup penduduknya sangat terbatas sehingga semua dapat dipenuhi sendiri tanpa tergantung pada pasar di luar. (Hermin Poedjiastoeti, n.d.) Keseluruhan responden dalam penelitian ini yang berjumlah 40 responden dan dapat diketahui bahwa jamban sehat yang dimiliki oleh responden yaitu sebanyak 24 responden memiliki jamban memenuhi syarat dengan persentase 60% berada sedangkan 16 responden dengan perentase 28% memiliki jamban tidak memenuhi syarat.

(Musfiana, 2011) dalam penelitiannya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kepemilikan jamban di Kelurahan Koto Panjang dalam Kecamatan Lampasi Tigo Nagori Kota Payakumbuh tahun 2011 menggambarkan bahwa dari 180 sampel didapatkan 115 rumah (63,9%) memiliki jamban dan 65 (36,1%) tidak memiliki jamban. Yang dimaksud kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Hal-hal yang harus dikeluarkan dari tubuh ini terbentuk tinja (fecces), air seni (urine) dan CO2 sebagai hasil dari proses pernapasan. Untuk mencegah sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran harus di suatu tempat yang tertentu atau jamban yang sehat. Dilihat dari segi kesehatan masyarakat, masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. Karena kotoran (tinja) manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. (Andre Stif Tolondang, Woodford B.S. Joseph, 2021) Keseluruhan responden dalam penelitian ini yang berjumlah 40 responden dapat diketahui bahwa penyediaan air bersih di Pantai Pandan Sibolga yaitu sebanyak 34 responden dengan persentase 85% berada pada katagori memenuhi syarat sedangkan 6 responden dengan presentase 15% berada dalam katagori tidak memenuhi syarat. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sumber air bagi penghuni rumah yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya.

Menurut perhitungan WHO dinegara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter perhari. Sedangkan dinegara-negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30 – 60 liter per hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di Pantai Pandan Sibolga rumah-rumah pada kelurahan ini memperoleh air bersih dari perlindungan mata air yang dialirkan kerumah-rumah, dan ada juga yang menggunakan sumur gali. Pada musim kemarau daerah ini akan kekurangan air bersih baik yang memperoleh air dari perlindungan mata air maupun sumur gali. Upaya yang dapat dilakukan oleh pemilik rumah agar ketersediaan air bersih tercukupi adalah menggunakan air secukupnya, yaitu minimal 60 liter per orang. Untuk yang memperoleh air dari perlindungan mata air maka tempat penampungan air lebih baik ditambah, sehingga persediaan air tercukupi (Andre Stif Tolondang, Woodford B.S. Joseph, 2021).

Keseluruhan responden dalam penelitian ini yang berjumlah 40 responden dapat diketahui bahwa Sanitasi Rumah Sehat di Pantai Pandan Sibolga yaitu sebanyak 21 responden dengan persentase 52,5% berada pada katagori memenuhi syarat sedangkan 19 responden dengan presetase 47,5% berada dalam tidak memenuhi syarat. Hasil upaya penyehatan rumah diperoleh dari upaya yang telah dilakukan untuk penyehatan kondisi fisik rumah dan sarana sanitasi dasar rumah. Upaya penyehatan kondisi fisik rumah yang dapat dilakukan adalah memperbaiki luas ventilasi agar ukuran ventilasi lebih dari 10% daril uas lantai, luas ventilasi sangat penting untuk rumah yang sehat, karena dengan adanya ventilasi akan menjaga suhu dan kelembaban udara dalam rumah menjadi optimum dan juga pencahayaan yang baik. Untuk pencahayaan juga bisa menambahkan atap dari bahan kaca agar cahaya alami dapat memasuki rumah. Kepadatan hunian juga seharusnya diperhatikan, minimal 8mē/orang. Jika kurang lebih baik memperlebar rumah sehingga memebuhi persyaratan, untuk suhu dan kelembaban bisa menggunakan kipas angin agar suhu optimum dan membuka jendela rumah setiap hari agar kelembaban optimum. Upaya penyehatan sanitasi dasar seperti penyediaan air bersih dengan menambahkan tempat penampungan air untuk air yang ditampung dari perlindungan mata air, menggunakan air secukupnya minimal 60 liter per orang. Saluran pembuangan air limbah yang kedap dan tertutup lebih di anjurkan agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Upaya yang dapat dilakukan untuk jamban adalah dengan membuat jamban jenis leher angsa dengan septik tank. Untuk upaya pengelolaan sampah harus menggunakan tempat pembuangan sampah dari bahan yang kedap dan tertutup.

 

KESIMPULAN

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kualitas kehidupan manusia, meningkatkan kesejahteraan manusia serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Sanitasi lingkungan adalah usaha menciptakan lingkungan yang sehat yang bebas dari penyakit. Salah satu wilayah yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam pengelolaan wilayahnya adalah wilayah pesisir. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat di tarik kesimpulan yaitu sebanyak 24 responden memiliki jamban memenuhi syarat dengan persentase 60% berada sedangkan 16 responden dengan presentase 28% memiliki jamban tidak memenuhi syarat. Penyediaan air bersih di Pantai Pandan Sibolga yaitu sebanyak 34 responden dengan persentase 85% berada pada katagori memenuhi syarat sedangkan 6 responden dengan presentase 15% berada dalam katagori tidak memenuhi syarat. Sanitasi Rumah Sehat di Pantai Pandan Sibolga yaitu sebanyak 21 responden dengan persentase 52,5% berada pada katagori memenuhi syarat sedangkan 19 responden dengan presentase 47,5% berada dalam tidak memenuhi syarat. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor-faktor lainnya yang menggambarkan sarana sanitasi pada masyarakat kawasan pesisir pantai dengan dampak akibat lingkungan kawasan pesisir.

 

BIBLIOGRAFI

 

Admin, By. (2018). Sudah Pernah Dengar Pantai Pandan? Ini Dia 5 Hal Unik dari Pantai Pandan dan Cara Mencapai Pantai Pandan. Retrieved from https://www.deliserdangmall.com/majalah/sudah-pernah-dengar-pantai-pandan-ini-dia-5-hal-unik-dari-pantai-pandan-dan-cara-mencapai-pantai-pandan. Google Scholar

 

Andre Stif Tolondang, Woodford B.S. Joseph, Oksifriani J. Sumampouw. (2021). GAMBARAN SANITASI LINGKUNGAN PESISIR DI DESA WATULINEY KECAMATAN BELANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA TAHUN 2021. Retrieved from https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/kesmas/article/view/33630. Google Scholar

 

Fanjari, Muhammad Shawqi. (1993). Dhatiyah al-siyasiyah al-iqtisadiyah al-Islamiyah wa-ahammiyat al-iqtisad al-Islami. Google Scholar

 

Gani, Husni Abdul. (2013). GAMBARAN SANITASI LINGKUNGAN DI KAWASAN WISATA BUDAYA OSING (STUDI DI LIMA KECAMATAN DI KABUPATEN BANYUWANGI). Google Scholar

 

Gomaa, Wael H., & Fahmy, Aly A. (2013). A survey of text similarity approaches. International Journal of Computer Applications, 68(13), 13–18. Google Scholar

 

Hermin Poedjiastoeti, Mila Karmilah. (n.d.). KARAKTERISTIK KONDISI SANITASI LINGKUNGAN DI KAWASAN PEMUKIMAN NELAYAN BANDENGAN KABUPATEN KENDAL (ENVIRONMENTAL SANITATION CHARACTERISTICS OF BANDENGAN FISHERMAN SETLEMENT SUB PROVINCE OF KENDAL). Retrieved from http://cyber.unissula.ac.id/journal/dosen/publikasi/210299028/7996Makalah_PONDASI_07.pdf. Google Scholar

 

Imroatus, Sholehah, Mulyadi, Mulyadi, & Lihi, Maryam. (2015). Gambaran Sarana Sanitasi Masyarakat Kawasan Pesisir Pantai Dusun Talaga Desa Kairatu Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2014. HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan, 1(2), 75–83. Google Scholar

 

Itchon, Gina S., & Gensch, R. (2013). Water, Sanitation, Health. Sustainable Sanitation Water Managemet, Xavier University. Google Scholar

 

Kashiko, Tim. (2002). Kamus Lengkap Biologi, cet. Ke-1, Surabaya: Kashiko. Google Scholar

 

Misdayanti, Suwanti. (2021). Gambaran Sanitasi Lingkungan pada Masyarakat Pesisir Desa Bajo Indah. Afiasi: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(1), 19–29. Google Scholar

 

Musfiana, Indah. (2011). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepemilikan Jamban di Kelurahan Koto Panjang dalam Kecamatan Lampasi Tigo Nagori Kota Payakumbuh. Padang. Google Scholar

 

Panel, American Geriatrics Society 2015 Beers Criteria Update Expert, Fick, Donna M., Semla, Todd P., Beizer, Judith, Brandt, Nicole, Dombrowski, Robert, DuBeau, Catherine E., Eisenberg, Woody, Epplin, Jerome J., & Flanagan, Nina. (2015). American Geriatrics Society 2015 updated beers criteria for potentially inappropriate medication use in older adults. Journal of the American Geriatrics Society, 63(11), 2227–2246. Google Scholar

 

Rudi Balaka, Tryantini Sundi Putri. (2019). GAMBARAN SANITASI PEMUKIMAN DI DAERAH PESISIR (Studi Kasus : Pemukiman Pesisir di Kelurahan Petoaha, Kota Kendari). Retrieved from http://ojs.uho.ac.id/index.php/stabilita_jtsuho/article/view/8197. Google Scholar

 

 

 

Đ 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).