POLA
ASUH ORANG TUA DI KAWASAN KAMPUNG ACEH, KOTA BATAM
Rut
Natalia Sihombing, Emmy Solina, Marisa Elsera
Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Riau, Indonesia
rutnatalia1808@gmail.com, emmysolina@umrah.ac.id, marisaelsera@umrah.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Juni 2022 10 Juli 2022 20 Juli 2022 |
Latar Belakang : Dikampung aceh ini adanya pergaulan yang tidak baik untuk perkembangan remaja disana, pergaulannya seperti merokok, berpacaran, berdua-duan, kumpul sampai malam, minuman keras, narkoba, pembunuhan, pengeroyokan dan curanmor. Tujuan : Adapun Tujuan dan kegunaan penelitian ialah untuk mengetahui bagaimana orang tua dalam mendidik anaknya dan bagaimana orang tua dalam menjaga anaknya dari dunia pertemanan dan pergaulan di lingkungannya. Metode : Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi atau pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil : Hasil dari analisa dalam penelitian ini yaitu dari 8 informan dalam mendidik anak remajanya dengan berbagai bentuk pola asuh yaitu 3 informan dengan pola asuh otoriter, 2 informan dengan pola asuh permisif, dan 3 informan dengan pola asuh demokrasi yang diberikan dengan tindakan-tindakan yang orang tua berikan. Kesimpulan : Kesimpulannya, Berdasarkan temuan yang diperoleh dilapangan, terhadap bentuk pola asuh permisif, otoriter dan demokrasi dan ada juga pola asuh yang digabungkan yaitu demokrasi dan permisif dalam mengasuh anak mereka ada yang menerapkan aturan tetapi aturan yang diterapkan itu tidak pernah dijalankan. Kata
Kunci : Pola Asuh; Tindakan sosial; Kampung
Aceh. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: In this village, there are associations that are
not good for the development of teenagers there, their associations such as smoking,
dating, two-duan, gatherings until the night, liquor, drugs, murder, mobbing
and stealing. Objectives: The purpose and usefulness
of the research is to find out how parents educate their children and how
parents in protecting their children from the world of friendship and
association in their environment. Methods: The data collection
technique in this study uses observation or observation data collection
techniques, interviews, and documentation. Results: The results of the analysis in this study were
from 8 informants in educating their adolescent children with various forms
of parenting, namely 3 informants with authoritarian parenting, 2 informants
with permissive parenting, and 3 informants with democratic parenting
patterns given by the actions that parents gave. Conclusion: In conclusion, Based on
the findings obtained in the field, against the forms of permissive,
authoritarian and democratic parenting and there are also parenting styles
that are combined, namely democracy and permissiveness in parenting their
children, some apply the rules but the rules applied are never implemented. Keywords: Parenting; Social action;
Kampung Aceh. |
|
*Correspondent Author :
Rut
Natalia Sihombing
Email : rutnatalia1808@gmail.com
PENDAHULUAN
Masa remaja bisa dibilang masa yang
menyenangkan tetapi juga masa-masa yang sulit untuk dilupakan, di masa remaja
berlangsung dimana sudah mengenal dunia luar dan
hubungannya bukan lagi keluarganya melainkan teman sebayanya. Pada dasarnya
masa remaja disatu sisi ingin bebas, mandiri dan
ingin lepas dari pengaruh orang tua tetapi juga pada sisi lain remaja masih
sangat membutuhkan bantuan dan dukungan, perlindungan dari kedua orang tuanya (Saputra, Suhaimi, & Mulyasari, 2010).
Individu yang sedang berada pada proses perkembangan menuju arah kemandirian
dan kematangan pengertian dari remaja. WHO menyebutkan tahap transisi antara
masa kanak-kanak dan dewasa dan batasan usia remaja menurut WHO antara 12- 24
tahun, dan menurut peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja
dalam rentang usia 10 sampai dengan 18 tahun, menurut badan kependudukan dan
keluarga berencana nasional (BKKBN) remaja dalam usia rentang 10-24 tahun dan
belum menikah. Secara global masa remaja berlangsung diantara
umur 12-21 tahun, dengan pembagian: remaja awal rentang usia 15-18 tahun, masa
pertengahan rentang usia remaja 18-21 tahun, dan masa remaja akhir 21 tahun keatas. (Sarwono,
2000) mengatakan
perkembangan remaja ada tiga tahap yaitu remaja awal rentang usia (11-14
tahun), remaja pertengahan rentang usia (15-17 tahun), remaja akhir rentang
usia (18-21) tahun.
Masa
remaja dimana rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang
baru di masyarakat, rasa ingin tahu inilah yang tanpa pengarahan dari pihak-phak lain maka akan dapat membuat remaja terpengaruh dan
melakukan hal-hal yang negatif, karena remaja mendapatkan informasi tanpa
memikirkan atau menyaringnya terlebih dahulu. Pendidikan yang baik sebenarnya
memiliki tujuan untuk memberikan pengetahuan seluas-luasnya dan memberikan
informasi yang factual dan benar mengenai dunia
remaja sehingga remaja data dibekali pengetahuan yang luas dan lengkap.
Pendidikan bukan hanya didapat dari sekolah melainkan juga dilingkungan
keluarga, dimana orang tua dapat mengajak anak remajanya
untuk berdiskusi mengenai pilihan-pilihan dari perilaku tersebut dengan
berdasarkan pengetahuan yang diberikan dari perilaku tersebut, sehingga
keputusan yang diambil remaja lebih kepada pemikiran yang mantap, matang dan
bukan dibawah tekanan. Pada masa remaja ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhinya, salah satunya ialah faktor lingkungan dan
orang tua, walaupun pada tahap ini remaja sudah berada di tahap kognitif yang dimana remaja tahu untuk menentukan tindakannya sendiri,
namun itu menjadi masalah ketika keadaan remaja tersebut berada pada tekanan
pergaulan dilingkungan yang tidak mendukung menuju perkembangan yang baik, dan
lingkungan yang tidak sehat serta hubungan yang erat dengan teman sebayanya
akan mempermudah remaja terjerumus kedalamnya.
Sedangkan lingkungan yang tidak baik dimana tidak
sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat, maka itu perlu
adanya peranan orang tua yang lebih intens terhadap anak remajanya, bagaimana
orang tua lebih memperhatikan didikan atau pola asuh serta penerapannya kepada
anak remajanya.
Orang tua
hendaknya mempersiapkan dengan pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat
dalam mendidik anak remajanya, Suatu kesuluruhan
interaksi orang tua kepada anak remajanya dalam memberikan dorongan untuk anak remajnya dengan cara mengubah tingkah laku, pengetahuan dan
nialai yang dianggap orang tua paling tepat bertujuan
agar anak remajanya dapat mandiri, memiliki sifat rasa ingin tahu, bersahabat
dan beriorentasi untuk sukses pengertian dari pola asuh
itu sendiri. Dalam pandangan terkait baumrind dimana orang tua dalam memberikan pola asuh harus adanya
dimensi kontrol dan kehangatan, dalam pengawasan orang tua mengharapkan dan menuntuk untuk anak remajanya dapat matang dalam
berperilaku yang penuh dengan tanggung jawab. Dalam pengontrolan orang tua
meliputi aspek pembatasan, dimana orang tua
memberikan tindakan yang ingin dilakukan anak remajanya berupa banyaknya
larangan yang dikenakan pada remaja. Dalam hal tuntutan, setiap orang tua juga
mengharapkan dan berusaha keras agar anak remajanya dapat memenuhi standar
tingkah laku, tanggung jawab dan sikap sosial yang tinggi. Sikap tegas dan
ketat juga orang tua dalam menjaga agar remaja dapat selalu mematuhi aturan dan
tuntutan yang diberikan tanpa membantah atau tidak setuju karena keberatanterhadap suatu peraturan tersebut. campur tangan, dimana orang tua selalu turut campur dalam kegiatan anak
remajanya. dan kekuasaan yang sewenang-wenangnya, dimana
orang tua memberikan kontrol yang tinggi dalam menegakkan aturan dan batasan.
Selain dimensi pengawasan (kontrol) orang tua dalam memberikan didikan atau
pola pengasuhan dapat memberikan dimensi kehangatan dalam menciptakan suasana
yang nyaman dan aman dalam keluarga. Orang tua juga melakukan pengawasan terhadap
aktifitas remaja, dalam pengawasannya remaja
diberikan kebebasan tetapi disertai dengan tanggung jawab dalam melakukan
sesuatu kegiatan dan dalam dunia pertemanan dengan teman sebaya ataupun
sebaliknya. Tuntutan dan penugasan ini diberikan kepada anak remaja dilakukan
dengan wajar.
Orang tua juga berupaya menawarkan berbagai
kehangatan dan menerima tingkah laku asertif remaja
mengenai peraturan, norma, dan nilai-nilai yang dianut dan mau bernegosiasi
dengannya, dengan aturan yang jelas dan konsisten. Dimana
pola asuh dapat mempengaruhi kepribadian dan karakter anak dimasa mendatang,
ini dilihat dari beberapa penelitian, seperti : (Asnanik,
n.d.), Dampak
Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Anak (Studi di Desa Amberi
Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe). Dalam
permasalahan penelitian ini adalah bagaimana dampak pola asuh orang tua
terhadap perilaku anak remaja serta faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pola
asuh orang tua. Dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pola
asuh orang tua terhadap suatu perilaku anak remaja dan juga dapat mengetahui
faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua didesa amberi,
Kecamatan Lambuya, Kabupaten Konawe.
Dari hasil penelitian ini kecenderungan orang
tua di wilayah ini mayoritas pada pola asuh demokrasi untuk mendidik anaknya
agar anaknya tidak terjerumus pada hal yang negatif maka dari itu orang tua
mengasuh anaknya bersifat hangat dan rasional. Dalam hal ini pola asuh
demokrasi dapat mempengaruhi remaja dalam bertindak di dalam masyarakat tetapi
harus dengan pengawasan yang tepat, bukan hanya pola asuh demokrasi saja
melainkan ada juga pola asuh yang otoriter dan pola asuh permisif, ketiga macam
pola asuh dapat mempengaruhi perkembangan remaja, begitu pula dengan objek dan
lokasi yang akan peneliti teliti yaitu dimana kampung
aceh yang dimana warga aceh menetap dan mendirikan bangunan diarea
muka kuning, Kota Batam sehingga menjadi perkampungan dan kampung itu sudah
dihuni oleh pendatang yang berasal dari kampung aceh
karena hal itu daerah itu disebut dengan nama kampung aceh.
Didaerah Muka Kuning memiliki jumlah 44 RT, yang dimana
untuk wilayah Simpang Dam terbagi menjadi 6 RT yaitu: RT 1 Simpang Dam, RT 2
Kampung Aceh, RT 3 Kampung Tower, RT 4 Otorita, RT 5
Gotong Royong, dan RT 6 Kampung Nusantara. Dikampung aceh
Rt 03/Rw 14 bahwa jumlah
keluarga disana yang bertempat tinggal disana sebanyak 150 kk dengan 200
anak. Dikampung aceh peneliti melakukan penelitian
dengan turun kelapangan langsung dan pengakuan dari Bapak RT setempat. Peneliti
melihat bahwa dikampung aceh pergaulan remaja tidak
sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam
masyarakat, seperti anak dibawah umur berkata tidak
sopan dan merokok, putus sekolah, mewarnai rambut, tindik telinga bagi lelaki,
berpacaran dan mojok di bangunan rumah setengah jadi.
Berikut ini peneliti memaparkan data jumlah kasus diwilayah simpang dam muka
kuning kecamatan Sei Beduk Kota Batam dalam kurun
waktu 3 tahun terakhir.
Tabel 1
Jumlah Jenis Kasus Kejahatan Di Wilayah Muka
Kuning
|
Tahun |
Jenis Kejahatan |
Jumlah |
Keterangan |
|
|
Laporan |
Selesai |
|||
|
2019 |
Penganiayaan |
3 |
3 |
Berkas
lengkap/P-21 |
|
Pengeroyokan |
3 |
3 |
||
|
Curanmor |
1 |
1 |
||
|
2020 |
Penganiayaan |
3 |
3 |
Berkas lengkap/P-21 |
|
Pengeroyokan |
2 |
2 |
||
|
Pencurian |
1 |
1 |
||
|
Peredaran
Uang Palsu |
1 |
1 |
Limpahkan Polresta |
|
|
2021 |
Pengrusakan |
1 |
1 |
Berkas
lengkap/P-21 |
|
Penganiayaan |
4 |
4 |
||
|
Pengeroyokan |
1 |
1 |
||
|
Pembakaran
Ruli |
1 |
1 |
||
|
Pencurian
Dengan Pemberatan |
1 |
1 |
||
|
Penggelapan |
2 |
2 |
||
|
Penipuan Dan
Penggelapan |
1 |
1 |
||
|
Pencurian |
1 |
1 |
||
Sumber:
Polsek Sei Beduk Kota Batam 2021
Tabel 2
Kasus
Kejahatan Di Kampung Aceh Berdasarkan Dari Sumber Online
|
NO |
Tanggal/hari |
Kasus |
Sumber |
|
1. |
02April 2015 |
Penggerebekan
yang dilakukan oleh Kepala Polda Kepri Brigjen berhasil menangkap 52 orang
dengan sejumlah barang bukti berbagai jenis seperti : sabu, ganja, dan heroin,lapak judi dadu, serta uang tunai |
TribunBata m.com |
|
2. |
16 Februari 2016 |
Satuan Polisi mendapati barang bukti berupa narkoba, ganja dan senjata tajam |
Batamnews. co.id |
|
3. |
7Agustus
2016 |
Unit I satreskim Polresta Barelang menangkap 2 pelaku dengan
dugaan tindak pidana
perjudian, 1 orang
pengurus serta barang
bukti 2 unit mesin gelper di kampung aceh |
Swarakepri. Com |
|
4. |
17 Januari 2017 |
Kota Batam yang berhasil dilakukan Jatanras
Direktorat Kriminal Umum Polda Kepri Penangkapan buronan pelaku pembunuhan di
kawasan ruli di kawasan kampung aceh. |
batamnews. co.id |
|
5. |
22 April 2018 |
Puluhan
anggota dari unit Jatanras Satreskrim Polresta Barelang menggerebek gelandang permainan (gelper) hasilnya Polisi mengamankan tiga pelaku perjudian yakni Ade Arfiansyah (34) sebagai pemain, Murni
(30) sebagai wasit gelper 3, dan Nurbaya
Sianipar (33) wasit Gelper |
batamnews. co.id |
|
6. |
6 september 2019 |
Razia di
kampung aceh yang dilakukan personel kepolisian bersenjata lengkap pada malam
hari sekitar dari 13
orang dan 3 diantaranya positif
narkoba dan dibawa langsung oleh polisi |
batam.tribu nnews.com |
|
7. |
13 April 2020 |
Kapolresta Barelang AKBP Purwadi
Wahyu Anggoro mengatakan melakukan pengejaran terhadap
2 pelaku pengeroyokan hingga menyebabkan kematian |
batam.tribu nnews.com |
|
8. |
25 Maret
2021 |
Anggota polsek
sei beduk menangkap seorang yang diduga
kasus curanmor di kampung aceh |
batam.tribu nnews.com |
|
9. |
14 April
2021 |
Sidang
kasus narkoba di PN Batam para terdakwa
Benny Nurismanto (18 tahun) mengaku membeli barang narkoba jenis sabu seberat 0,10 gram yang hendak
dipakai sendiri dikampung aceh setelah ditangkapoleh kepolisian satnarkoba
Batam |
Rasio.com |
Namun yang menjadi hal yang menarik yang
ditemukan oleh informan yaitu pernyataan dari salah satu orang tua yang berada
di kampung aceh sebagai informan 1 yaitu Amse berusia 56 Tahun dan Jamres
yang berusia 58 Tahun. Pekerjaan sehari-hari adalah Buruh salah satu di Pt Mc Dermot
Batam, Pendidikan terakhir ialah SMA. Mereka sangat mengerti dan paham betapa
pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, ini dibuktikan dengan anak kedua
remajanya saat ini masih duduk dibangku SMP dan anak pertama sudah sukses dan
sudah menjadi angkatan. Dan ada juga dari penelitian setelah peneliti turun
kelapangan mendapati juga ada orang tua refandi yang dimana berhasil dan memiliki pekerjaan yang bagus di
perusahaan dibatam dan adiknya renaldi
yang saat ini masih duduk di bangku SMA walaupun berada di lingkungan dengan
pergaulan yang tidak baik tetapi anak remajanya dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik. Salah satu anaknya dapat sukses karena ada nilai-nilai yang
diajarkan mereka kepada remajanya. -Jalin komunikasi dua arah adalah cara yang
terbaik kesempatan untuk remaja cenderung suka bercerita dibandingkan
mendengar, orang tualah sebagai pendengar sejati dan baik dan juga bisa lewat
cerita bisa memberikan masukan dan saran kepada anak remajanya.
Dalam hal bekerja sama, dalam pendidikan orang
tua dan guru harus bisa bekerja sama untuk bisa berkomunikasi yang baik dan
intensif, disaat guru menjadi solusi bagi anak, maka
orang tua juga harus bisa memberikan otoritas bagi sekolah untuk dapat mendidik
dan mengarahkan dengan kesepakatan yang tealah
ditentukan antara orang tua dan guru, maka dengan begitu keduanya akan lebih
leluasa dalam mengontrol dan mengatur perilaku anak remaja. Dan menurut
klasifikasi usia remaja yang sudah dipaparkan Sehingga peneliti mengambil
penelitian dikampung aceh ini tepatnya lokasi kampung
aceh tepatnya warga disana
yang mempunyai anak remaja yang rentang usianya 14-17 tahun, dimana dalam usia ini remaja sedang dalam aktif-aktifnya
berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan teman sebanyanya
dengan pergaulan yang ada didalam kampung aceh maka adanya rasa kekhawatiran orang tua terhadap anak
remajanya sehingga mereka berusaha untuk mengambil tindakan ataupun cara dalam
mendidik untuk menjaga anak remajanya dari pergaulan yang tidak baik. Adapun
tujuan dan kegunaan penelitian yang akan dicapai dalam penelitian ini ialah
untuk mengetahui bagaimana orang tua dalam mendidik dan mengajar anak remaja di
kawasan kampung aceh.
METODE PENELITIAN
Secara umum penelitian
kualitatif merupakan sebuah pengetahuan sosial yang bergantung terhadap
pengamatan pada manusia dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif karena dalam penelitian ini membahas tentang realita
yang ada di masyarakat di kampung aceh yaitu pola
asuh anak. Sehingga pendekatan
kualitatif dapat menghasilkan data deskriptif yang bertujuan untuk
menggambarkan secara tepat bagaimana pelaksanaan Pola Asuh Orang Tua dalam
menjaga Anak oleh masyarakat di kawasan kampung aceh
di Kota Batam. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengambilan data
dengan melalui observasi dan wawancara. Adapun fokus penelitian ialah adalah
tentang pola asuh orang tua terhadap anak remajanya yang dimana
lokasinya tepat di kawasan kampung aceh. Peneliti
memfokuskan penelitian ini pada pelaksanaan pola asuh orang tua terhadap
remajanya yang tinggal di dalam lingkungan yang tidak mendukung dari segi
pergaulan di kampung aceh.
Data Primer, Sumber data yang
didapat secara langsung memberikan data kepada pengumpul data. Dan dalam
penelitian ini data didapat dari wawancara informan secara langsung yaitu orang
tua dari anak remaja di kawasan kampung aceh, Kota
Batam. Data Sekunder Bersumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data, seperti dokumen pendukung penelitian. Dalam penelitian ini
sumber data yang akan dicari yaitu data berupa dokumen, buku-buku, jurnal
ilmiah, (Sugiyono, 2013). Berkaitan dengan pola asuh
anak oleh masyarakat Kawasan Kampung Aceh di Kota Batam diperoleh melalui
proses dengan langkah diatas maka langkah yang
dilakukan selanjutnya yaitu analisis data. Peneliti melakukan beberapa upaya
untuk mempermudah pemahaman reduksi data yaitu proses-proses seleksi,
pemfokusan, penyederhanaan, dan transformasi data-data yang ditemukan dilapangan. Penyajian data yaitu suatu kegiatan dalam
laporan pembuatan hasil penelitian yang telah dilakukan agar data yang telah
dikumpulkan dapat dipahami dan juga dapat dianalisis sesuai dengan tujuan yang
diinginkan. Penarikan kesimpulan yaitu suatu hasil analisis yang dapat
digunakan dalam mengambil tindakan, sebelum menarik kesimpulan maka perlu
dilakukan verifikasi terlebuh dahulu dengan melihat dan mempertanyakan kembali
sambil melihat hasil lapangan agar memperoleh pemahaman yang tepat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Kota Batam
Kota Batam yang sebelumnya menjadi daerah otonom, Kotamadya Batam juga merupakan Kota Madya ke dua di
provinsi riau yang pertama kotamadya
Batam pada awalnya merupakan suatu wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Batam
yang termasuk dalam Wilayah Administrasi Kabupaten Tingkat II Kepulaauan Riau. Batam adalah nama dari sebuah ulau yang terbesar didaerah ini, tetapi tidak jelas
diketahui dari mana literatr sejarah masa lampau
waktu Johor dan Riau masih Merupakan Kerajaan Melayu. Kota Batam disebut
sebagai wilayah administrasi yang baru yang juga merupakan daerah otonom yang
dibentuk bersama 7 kabupaten lainnya di Provinsi Riau berdasarkan UU No 53 Tahun 1999 Berdasarkan uu
tersebut wilayah Kota Batam dimekarkan dengan mamasukkan
sebagian wilayah dari dari Kec. Galang dan Kec.
Bintan Utara, Kabupaten Kepulauan Riau, dan kemudian di tata kembali wilayah
administrasi Kecamatan. Kota Batam memiliki delapan wilayah kecamatan yang
terdiri dari pulau-pulau besar di Kota Batam yaitu meliputi P. Rempang, P.
Batam, P. Galang, P. Galang Baru, dan sejumlah pulau- pulai kecil diatasnya. Hasil Sensus Penduduk 2020, Penduduk Kota Batam
berjumlah 1.196.396 Jiwa beserta dengan 12 Kecamatan dan 64 Kelurahan (daritotal 70 kecamatan, 141 kelurahan dan 275 desa diseluruh kepulauan riau).
B. Kondisi Sosial Kampung
Aceh Kota Batam
Sumber: Data Hasil Peneliti 2021
Pada tahun 80-an
sejarah dari kampung aceh ini dimana
terjadi konflik yang terjadi di aceh, ini dikarenakan Batam sebagai daerah transit bagi
warga aceh yang sebelumnya menyeberang kemalaysia. Ada juga penduduk aceh
yang melakukan pengungsian kemalaysia dengan ingin
hidup nyaman dan tentram akan tetapi mengalami
kesulitan luar biasa dimalaysia karena adanya
pemerasan dan deskriminasi. Dan karena hal itu
penduduk Aceh melakukan hijrah kebatam, tepatnya di
Kampung Aceh yang tetapi seiring dengan berjalannya waktu penduduk disana bukan lagi hanya penduduk aceh
melainkan juga ditinggali oleh beberapa suku dan agama. Tahun 2021 berdasarkan
catatan Data tahun 2021 jumlah penduduk di kampung aceh
sebanyak 796 jiwa dengan 221 kk (sumber : Data
Sekunder Kelurahan Muka Kuning). Kampung Aceh tepatnya berada di Kecamatan Sei Beduk Kelurahan Muka Kuning.
Dikarenakan
dahulunya kampung aceh dominan dihuni oleh masyarakat
suku aceh sehingga karakteristik masyarakat di
kampung aceh akan sangat dominan dengan suku aceh yaitu Masyarakat suku aceh
memiliki karakteristik yang dimana mereka sangat kuat
dalam kepercayaannya yaitu agama islam dan juga para
wanita diwajibkan memakai kerudung, memperjuangkan harga diri atau
eksistensinya, dan juga memiliki sikap awas diri yang keberadaanya
dipertaruhkan dalam konstelasi sosial budaya, dan juga mereka tidak suka
diusik, dan sikap dan pendirian yang tidak plin-plan,
tegas, dan taat. Apalagi jika berkaitan dengan harga diri dan kebenaran.
Kondisi Sosial kampung aceh yang dahulunya di huni
oleh penduduk yang mayoritas suku aceh tetapi setelah
berkembangnya zaman mayoritas dari masyarakat Kampung Aceh penduduk berasal
dari perantauan yang bersifat heterogen yang terdiri dari percampuran suku
bangsa dan golongan etnis yang telah turun-temurun bermukim didaerah ini
seperti suku Batak, Jawa, Tionghoa, Bugis, dan juga
melayu serta berbagai suku lainnya. Bukan hanya suku saja melainkan juga agama yang berbeda-beda.
C. Pendidikan
Di
Kampung Aceh dengan pendidikan
disana yang kurang diperhatikan terkhususnyaanak remaja disana ada
yang hanya lulusan SD dan
juga SMP paling banyak namun
ada juga yang lulusan SMA
dan SMK, dari pengamatan hasil turun lapangan
yang dilakukan peneliti
yang memang sering didapati yaitu merokok, dan berkumpul di suatu rumah yang tidak dihuni atau
setengah bangunan yang selayaknya pada hari itu kesekolah, mengecat rambut dengan berbagai gaya potongan rambut. Pendidikan di sekolah juga
memliki pengaruh yang sangat besar dalam memberantas
kebodohan, karena ketidaktahuan dan sempitnya wawasan yang kita miliki,
tentunya jika tidak ingin menjadi bangsa yang tertinggal maka kita harus
mengenyam pendidikan juga. Dengan mengenyam pendidikan disekolah maka anak
remaja yang mulanya tidak tahu akan membantu menciptakan generasi yang ahli
dalam berbagai bidang. Dengan adanya pendidikan dikampung aceh
maka kampung aceh akan lebih maju terutama pola pikir
anak remaja sehingga tidak ada lagi kasus-kasus kriminalitas atauun pergaulan yang salah dikampung aceh
dikarenakan pendidikan dapat memberikan
bekal pengetahuan dan keahlian sehingga anak remaja di kampung aceh dapat bersaing di tengah masyarakat apalagi peluang
dalam bertahan hidup dikampung aceh sangat mendukung
karena tempatnya yang sangat strategis yang dekat dengan bidang industry seperti perusahaan-perusahaan besar.
Tabel 1
Jumlah Sekolah di
Kecamatan Sei Beduk Swasta dan Negri Tahun 2020 Kota
Batam
|
KECAMATAN |
TK |
SD/MI |
SLTP/MTs |
SLTA/SMK/MA |
||||
|
Negeri |
Swasta |
Negeri |
Swasta |
Negeri |
Swasta |
Negeri |
Swasta |
|
|
Sei Beduk |
1 |
29 |
9 |
13 |
3 |
2 |
1 |
0 |
Sumber: Statistik
Sektoral Pemerintah Kota Batam Tahun 2020
Tabel 2
Data Jumlah Sekolah Menurut Kelurahan Muka Kuning Dan Jenis Sekolah (Negeri dan Swasta
Tahun 2020)
|
Kelurahan |
TK |
SD |
SMP |
SMA |
||||
|
Negeri |
Swasta |
Negeri |
Swasta |
Negeri |
Swasta |
Negeri |
Swasta |
|
|
Muka Kuning |
- |
1 |
1 |
1 |
- |
- |
- |
- |
|
Jumlah Murid |
- |
61 |
502 |
- |
- |
- |
- |
|
Sumber: Kecamatan
Sei Beduk Dalam Angka 2020
Berdasarkan table 4.1 bahwa pemerintah sudah lebih baik dalam
melakukan pembangunan di Kecamatan Sei Beduk dengan sekolah yang lengkap Negeri maupun Swasta akan tetapi
berdasarkan table 4.2 kondisi pendidikan yang kurang memadai sehingga jarak dari untuk
menempuh kesekolah tidak bisa dengan
jalan kaki melainkan harus menggunakam transportasi pribadi ataupun transpotasi umum dikarenakan jarak yang cukup jauh dari tempat
tinggal remaja di kampung aceh.
D. Agama
Tabel 3
Jumlah Agama di Kampung Aceh
RT 03
|
NO |
Agama |
Jumlah |
Keterangan |
|
1. |
Islam |
95 |
Jiwa |
|
2. |
Kristen |
30 |
Jiwa |
|
3. |
Katholik |
5 |
Jiwa |
|
4. |
Kong Hucu |
5 |
Jiwa |
|
5. |
Budha |
11 |
Jiwa |
|
6. |
Hindu |
4 |
Jiwa |
|
Jumlah |
150 |
Jiwa |
|
Kondisi
kampung aceh yang dahulunya dihuni oleh masyarakat
yang mayoritas suku aceh tetapi setelah perkembangan
zaman mayoritas dari masyarakat kampung aceh menjadi
heterogen yang dimana terdiri dari percampuran suku
dan golongan etnis yang telah turun-temurun, melihat dari segi agama khususnya
di rt 03 menjelaskan bahwa jumlah agama islam 95 orang, Kristen 30 orang, Katholik
5 orang, Kong Hucu 5 orang, Budha 11 orang, Hindu 4
orang. Berdasarkan data diatas mencoba menjelaskan
bahwa masyarakat kampung aceh kota batam mayoritas beragama islam,
akan tetapi tidak adanya dinding penghalang didalam
masyarakat Kampung Aceh Kota Batam. Berdasarkan data diatas
dilihat jumlah yang beragama islam lebih banyak dibandingkandengan agama lainnya, sehingga hal tersebut
juga menjadi bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai kepada anak remajanya,
pemberian pemahaman tentang agama juga menjadi salah satu cara orang tua untuk
mengasuh remaja tidak melakukan perilaku yang tidak baik.
Pada
tahap Pembahasan ini tentang hasil dari analisis Data dan informasi yang didapatkan
peneliti yang juga telah melakukan wawancara dan observasi langsung dilapangan terkait dengan judul peneliti yaitu Pola Asuh
Orang Tua Dalam Menjaga Anak Remajnya dari pergaulan
Kawasan Kampung Aceh dilaksanakan di kelurahan Muka Kuning Kecamatan Sei Beduk. Para informan penelitian ini ialah masyarakat
yang bermukim di Kampung Aceh yang berada disekitar
Kecamatan Sei Beduk Kelurahan Muka Kuning khususnya
di Rt 02 yang sudah cuku lama tinggal di Kampung Aceh
dengan jumlah keseluruhan 8 informan dalam penelitian ini. Dengan Purposive sampling sebagai cara peneliti dalam menentukan
informan sesuai dengan kriteria terpilih yang tepat dengan masalah penelitian
dan data memberikan peneliti inginkan. Adapun pembagian kriteria informan lebih
spesifik berdasarkan kriteria ini.
Objek
penelitian ini yaitu anak remaja yang usianya 14-17 yang bertempat tinggal
dikampung aceh dengan jumlah 8 orang anak remaja dan
bagaimana pola asuh orang tua masing-masing anak remaja. Dan juga orang tua aceh yang mempunyai anak 14-17 tahun yang bertempat tinggal
di kawasan kampung aceh dikarenakan latar belakang
kampung aceh yang masyarakatnya dahulu ialah
masyarakat aceh. Berdasrkan
temuan yang diperoleh dilapangan, terhadap bentuk
pola asuh permisif, otoriter dan demokrasi dan ada juga pola asuh yang
digabungkan yaitu demokrasi dan permisif dalam mengasuh anak mereka ada yang
menerapkan aturan tetapi aturan yang diterapkan itu tidak pernah dijalankan,
setiap ada keinginan selalu dipenuhi dan saat anak melakukan kesalahan dianggap
biasa karena anak belum mengerti karena mereka menganggap usia anak masih
terlalu kecil,dan ada juga yang sangat keras dalam
mendidik anak mereka dengan segala peraturan dan arahan yang orang tua berikan.
Berikut ini Data anak dari 8 informan Penliti.
Tabel 4
Data Anak Remaja Informan
|
NO |
INFORMAN |
NAMA ANAK |
USIA |
JENJANG SEKOLAH |
|
1. |
Informan 1 |
M. Firman |
14 tahun |
SMP |
|
2. |
Informan 2 |
Bagas |
14 tahun |
SMP |
|
3. |
Informan 3 |
M. Sutrisno |
14 tahun |
SMP |
|
4. |
Informan 4 |
M. Andi |
14 tahun |
SMP |
|
5. |
Informan 5 |
Jimmy |
17 tahun |
SMP |
|
6. |
Informan 6 |
Putri |
16 tahun |
SMA |
|
7. |
Informan 7 |
Rudi |
17 tahun |
SMK |
|
8. |
Informan 8 |
Renaldi |
17 tahun |
SMA |
Sumber: Data Hasil Peneliti
Dapatkan
Dalam
hal ini orangtua yang lebih diutamakan ialah
membentuk anak dengan cara menetapkam standar mutlak
yang harus dituruti biasanya dengan ancaman- ancaman, seorang remaja harus
tunduk dan patuh pada aturan-aturan yang sudah orang tua tetapkan dengan pengontrolan
orang tua terhadap perilaku anak remaja yang sangat ketat, didalam
pola asuh ini orang tua tidak mengenal kompromi sehingga komunikasi bersifat
satu arah saja. Seperti halnya informan yang sudah diwawancara oleh peneliti
bahwa delapan informan orang tua, tiga diantaranya
yang menganut pola asuh yang ketat didalam
keluarganya, orang tuanya ikut andil dalam pengambilan sekolah anak remajanya
yang menurut orang tua menurut orang tua dari rudi alasan memasukkan anaknya
masuk SMK agar lebih banyak ikut kegiatan disekolahnya dikarenakan dengan praktek-prakteknya disekolah sehingga ia untuk keluar dan
berteman di lingkungannya akan berkurang ataupun jarang.
“Iyaa waktu anak saya masuk sekolah saya memasukkannya ke
SMK agar anak saya punya keahlian dan mudah mencari pekerjaan diluar sana.” (Lasmi,
2022)
Senin, 07 februari 2022. Begitu juga salah satu
informan orang tua yang memaksakan anaknya mengikuti les bahasa inggris dengan
alasan dengan belajar bahasa inggris selain untuk masa depannya nanti tetapi disini orang tua mendatangkan guru les dirumah
karena takut dan khawatir anak remajanya jika keluar apalagi berteman dengan
lingkungan disekitar rumahnya. “Saya bolehin anak saya masuk sma
tetapi saya juga mengharuskan dia untuk mengikuti les bahasa inggris yang bagus
itu, dengan mendatangkan guru bahasa inggris kerumah
saya karena saya khawatir jika ia keluar dari rumah. (Dien:Putri,
2022).
Senin, 07 februari 2022.” Dari informan yang ketiga
dikarenakan orang tua tersebut hanya mempunyai anak semata wayang alias anak
satu-satunya, perlakuan orang tua tersebut agak ketat dengan anak remajanya,
dengan tidak memperbolehkan keluar sendiri apapun itu
jika ada tugas kelompok maka harus diantarkan oleh orang tuanya sampai ke rumah
temannya dan terus dipantau dengan sering meneleponnya jika orangtuanya
merasa sudah sangat lama dan tak jarang orang tua remaja ini sering menelepon
wali kelasnya dan juuga teman sekelasnya yang dekat
dengan anak remajanya. Faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua menurut Hurlock Pengaruh lingkungan Orang tua muda atau baru
memiliki anak- anak cenderung belajar dari orang-orang di sekitarnya baik
keluarga ataupun teman-temannya yang sudah memiliki pengalaman. Baik atau buruk
pendapat yang dia dengar, akan dia pertimbangkan untuk praktekkan
ke anak-anaknya
“Iyaa dek saya hanya punya anak satu saja dan saya harus
selalu memperhatikan dan menjaganya lebih ketat lagi saya takut anak saya
terpengaruh dengan lingkungan nya apapun
kegiatan anak saya disekolah maupun diluar sekolah
saya harus tau dek. Jika dalam sekolah saya sering
dan selalu menghubungi guru wali kelasnya dan juga teman-teman sekolahyang dekat dengan anak remaja saya”
(Jimmy,
2022)
senin, 14 Februari 2022. Dengan sikap orang tua yang
keras dan mengambil ahli dalam semua keputusan yang akan anak remajanya lakukan
dengan begitu hubungan anak dan orang tuanya menjadi dingin maka dapat membuat
remaja berperilaku agresif, perilaku agresif ini juga akan mempengaruhi
perkembangan remaja sampai pada tahap dewasa sehingga Orang tua dimana dalam pola asuh orang tua pada anak dalam hal
membentuk seorang anak remaja dengan cara memberikan pengawasan yang sangat
longgar dan memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa
pengawasan yang cukup darinya, begitu juga dengan hasil wawancara yang didapati
peneliti dengan 2 informan dengan pola asuh yang masuk dengan orang tua
memberikan kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan atau keinginannya
dan kehendaknya sendiri dan juga orang tua kurang menerapkan hukuman pada anak,
bahkan hampir tidak menggunakan hukuman “Kalau saya dek yah
kalau mau kesekolah yah
sekolah, kalaupun ia tidak mau sekolah lagi tapi tetap saya usahakan harus
lulus SMA tetapi terkadang dia tidak masuk sekolah yah
saya marahin tetapi jarang sih dek saya pukul atau ngebentak” (Lina:Bagas,
2022)
Senin, 14 Februari 2022.
Dari
informan ketika anak remajanya yang dimana orang
tuanya sudah menyuruh anaknya dengan mengikuti les didekat
rumahnya agar tidak keluar rumah dan ia selalu bisa memperhatikan anaknya,
informan tersebut menyediakan fasilitas tetapi dengan anaknya tidak mau maka ia
tidak akan memaksa kehendaknya. “Saya dek sudah menyuruh anak saya untuk
mengikuti les tetapi dengan tetangga yang anaknya lulusan pendidikan tetapi
anak saya tidak mau, yah saya tidak mau memaksa atauu dengan memukul karena orang tua saya dulu tidak
memukul saya buk.” (Sutrisno,
2022)
Senin, 14 Februari 2022. Orang tua anak dalam didikan ini tidak menggunakan
kekerasan dikarenakan orangtuanya dulu tidak pernah mengajrkan dengan menggunakan didikan yang keras, dan suara
keraspun juga jarang melainkan hanya dengan teguran
saja. Orang tua dimana dalam pola asuh orang tua pada
anak dalam hal membentuk seorang anak remaja dengan cara memberikan pengawasan
yang sangat longgar dan memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan
sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya, begitu juga dengan hasil wawancara
yang didapati peneliti dengan 2 informan dengan pola asuh yang masuk dengan
orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan atau
keinginannya dan kehendaknya sendiri dan juga orang tua kurang menerapkan
hukuman pada anak, bahkan hampir tidak menggunakan hukuman.
“Kalau
anak saya salah saya kadang hanya menasehati saja itu
juga dengan suara yang pelan tidak keras, dan jarang memukul anak saya jika ia
salah.” (Lina:Bagas,
2022)
Senin, 14 Februari 2022. Dari informan ketika anak remajanya sering tidak absen
kesekolah orang tua tersebut hanya menasehati saja tidak ada menggunakan hukuman fisik, dengan
hanya menasehatinya maka anak remaja tersebut akan
sering membuat keputusan dengan berbicara terlebih dulu kepada orang tuanya. “Saya
dk karna saya dari dulu ibu saya tidak pernah memukul
saya jadi saya pun begitu de.”, (Sutrisno,
2022)
Senin, 14 februari 2022. Orang tua anak dalam didikan
ini tidak menggunakan kekerasan dikarenakan orang tuanya dulu tidak pernah mengajrkan dengan menggunakan didikan yang keras, dan suara
keraspun juga jarang melainkan hanya dengan teguran
saja. Dalam (Shochib,
1998)
menyatakan dimana pada pola pertemuan antara orang
tua sebagai pendidik dan anak sebagai terdidik dengan maksud bahwa orang tua
mengarahkan anaknya sesuai dengan tujuan yaitu membantu anak dengan memiliki
dan mengembangkan dasar-dasar perilaku moral. Dalam hal ini orang tua harus
dapat menanamkan perilaku moral dan mengembangkan segala aspek pada anak sesuai
dengan tempat, situasi dan kondisi yang bersangkutan. Dalam rangka membentuk
kepribadian anak dengan cara memrioritaskan kepentingan anak remajanya dengan
bersikap rasional. Dari hasil pengamatan yang didapatkan peneliti dimana dari dua informan orang tua kepada anaknya mereka
lebih memperhatikan dan menghargai kebebasan anak remaja namun juga kebebasan
itu juga bukan hal yang mutlak dengan adanya bimbingan yang penuh pengertian
kepada anaknya, ini dibuktikan dengan wawancara dari beberapa orang tua yang
menjadi informan, salah satu informan orang tua ada 3 informan orang tua yang dimana orang tua memberikan ruang untuk anak remajanya ini
dilihat dari hasil wawancara yang didapati dilapangan
dengan narasumber.
“Anak
saya suka sekali main bola saya bolehkan kok, asalkan ada lomba sepak bola ia
selalu beratih dengan teman-teman sekolahannya tetapi
saya juga bilang bahwa saya memperbolehkan ia mengikutinya tetapi kaka harus ingat nilai didalam
sekolah jangan turun ya.” (Andi,
2022)
Selasa, 15 Maret 2022. Didikan yang diberikan orang tua yang menganut pola asuh
demokrasi ini ditandai dengan anak yang dapat kebebasan untuk keputusannya
dalam mengikuti sepak bola namun tidak begitu saja dilepas oleh orang tuanya mealainkan juga orang tua tetap mengingatkan bahwa
nilai-nilai dalam sekolahnya tidak boleh terganggu, dengan begitu tetap adanya
peraturan-peraturan yang telah disetujui melalui komunikasi yang baik antara
orang tua dan anak. Begitupun salah satu dari orang
tua informan selanjutnya yang dimana cara didik yang
diberikannya kepada anak-anaknya dengan memberikan perhatiaan,
kasih sayang dan juga kebebasan dengan menaati peraturan yang telah disepakati,
sehingga apa saja yang akan dilakukan anaknya dan keputusan remaja akan
dibicarakan dengan mendengarkan pendaat dari anak
remaja dan juga orang tua remaja. “Anak saya yang pertama kan sudah menjadi
angkatan dek, sehingga dia pun ingin juga seperti kakaknya, karena dia masih smp maka saya bilangin untuk jaga
kesehatan tubuh dan juga saya berusaha untuk melarang dia untuk keluar malam
alasan saya kalau mau seperti abanya maka tidak boleh karena udara malam kurang
bagus untuk kesehatan badan itu saya buat dek karena saya takut.” Ibu Amse: M. Firman) Selasa, 15 Maret 2022.
Seperti
halnya juga orang tua refandi yang juga mengajarkan
hal yang sama menurut orang tua sebagai informan anak bisa mengganggap
bukan hanya orang tua mereka saja melainkan seperti teman atau bahkan sahabat
mereka sehingga mereka diperbolehkan menceritakan apa saja yang ingin anak
remaja mereka bicarakan, adanya peraturan yang sepakati bersama antara anak
remaja dan orang tua. “Saya dek berusaha mengajak anak saya untuk mengobrol
bareng setiap dia pulang sekolah atau pulang dari bermain, karena saya tahu
juga kondisi dari tempat dimana saya tinggalin meskipun sampai sekarang Alhamdulilah
dek tidak ada yang ditutupi dari anak remaja saya.” (Ibu Nurti :Renaldi)
Selasa, 15 Maret 2022. Menurut steinberg, dalam pola
pengasuhan orang tua memiliki dua komponen yaitu gaya pengasuhan (parenting style) dan praktek pengasuhan (parenting practices). Dimana dalam gaya
pengasuhan ini sebagai suatu sekumulan sikap yang
dikomunikasikan kepada anak dimana perilaku orang tua
diekspresikan sehingga menciptakan suasana emosional dan kemudian suasana emosional ini ditangkap dan direspon anak untuk diolah dalam memorinya.Dalam
pola pengasuhan dan prakteknya orang tua ketika anak
remajanya sudah mengenal dunia luar dan juga melakukan beberapa aktivitas
kegiatannya diluar rumah seperti disekolah ataupun di
lingkungan sepermainnanya tetap mengawasi tanpa
melepas pengawasan dengan menganggap mereka sudah dewasa. Menurut hasil dari
wawancara orang tua renaldi bahwa dalam memberikan
pola asuh dengan melalui komunikasi yang sering kepada anak remajanya agar
lebih dekat dengan anak remajanya, orang tua renaldi
selalu sabar mendengarkan cerita anak remajanya dan saling memberikan saran dan
pendapat satu sama lain, saling menghargai pendapat ataupun masukan merupakan
suatu kunci bagi mereka dalam menyelesaikan masalah maka dengan begitu anak akan
rileks dan tidak takut untuk menceritakan apapun itu
dan juga tidak ada yang ditutupinya, dengan gaya dan praktek
pola asuh yang seperti itu maka sebagai orang tua dapat melepas sepenuhnya anak
remajanya untuk berinteraksi dengan lingkungannya selain lingkungan
keluarganya.
Tabel 5
Hasil Dari Analisis
Peneliti
|
Pengelompokkan Pola
Asuh |
|||
|
No |
Pola
Asuh |
Orang
Tua |
Anak |
|
1. |
Pola
Asuh Otoriter |
Ibu
Lasmi |
Rudi |
|
Ibu Diean |
Putri |
||
|
Ibu
Cahya |
Jimmy |
||
|
2. |
Pola
Asuh Permisif |
Ibu
Lina |
Bagas |
|
Ibu Maia |
M.Sutrisno |
||
|
3. |
Pola
Asuh Demokrasi |
Ibu
Endang |
M.Andi |
|
Ibu Amse |
M.Firman |
||
|
Ibu
Nurti |
Renaldi |
||
Sumber: Hasil Dari Analisis
Peneliti
Pada
pola diatas menjelaskan pengelompokan pola asuh yang
diberikan orang tua sebagai informan kepada anak remajanya. Sikap orang tua ini
dikelompokkan kedalam ciri-ciri ketiga pola asuh
orang tua yaitu otoriter, permisif dan demokrasi memiliki sikap yang
berbeda-beda satu sama lain ada yang keras, bebas, dan ada juga yang demokrasi.
Tindakan
sosial menurut max adalah suatu tindakan individu
yang dimana sepanjang tindakan itu mempunyai makna
atau arti subjektif bagi dirinya sendiri dan diarahkan keadaan tindakan orang
lain. Tindakan suatu individu ini diarahkan kepada benda mati tidak termaksud kedalam kategori tindakan sosial, dan suatu tindakan akan
dikatakan sebagai suatu tindakan sosial ketika tindakan tersebut benar-benar
diarahkan kepada orang lain (individu lainnya). Dan tindakan sosial dianggap
tindakan sosial ketika tindakan itu dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku
orang lain dan beriorentasi pada perilaku orang lain,
meskiun tak jarang juga tindakan sosial dapat berupa
tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subjektif yang mungkin terjadi
karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Dari fenomena yang terjadi
dikampung aceh para orang tua mengambil tindakan
mereka terhadap anak remaja mereka, para orang tua mengambil keputusan ataupun
langkah bagaimana pola asuh yang mereka ajarkan kepada anak remaja mereka.
KESIMPULAN
Andi, Ibu
Endang: M. (2022). Wawancara. Aceh. Google
Scholar
Asnanik, Anik Andri.
(n.d.). KEMAMPUAN SISWA DALAM BERMAIN DRAMA LAKON MALIN KUNDANG PADA SISWA
KELAS VIII A SMP NEGERI 1 MOJOSARI MOJOKERTO TAHUN PELAJARAN 2012/2013.
State University of Surabaya. Google Scholar
Bogdan, Robert,
Taylor, Steven J., & Taylor, Steven S. (1975). Introduction to qualitative
research methods: A phenomenological approach to the social sciences.
Wiley-Interscience. Google Scholar
Dien:Putri, Ibu.
(2022). Saya bolehin anak saya masuk sma tetapi saya juga mengharuskan dia
untuk mengikuti les bahasa inggris yang bagus. Aceh. Google
Scholar
Jimmy, Ibu Cahya:
(2022). Wawancara. Aceh. Google Scholar
Lasmi, Ibu. (2022). Salah
satu informan orang tua yang memaksakan anaknya mengikuti les bahasa inggris.
Aceh. Google Scholar
Lina:Bagas, Ibu.
(2022). Wawancara. Aceh. Google Scholar
Saputra, Sukahar Eka,
Suhaimi, A., & Mulyasari, F. (2010). Makrozonasi dan Mikrozonasi Kerentanan
Bencana Gempa Bumi di Wilayah Ende sebagai Data dasar Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah. Indonesian Journal on Geoscience, 5(3),
171–186. Google Scholar
Sarwono, Sarlito
Wirawan. (2000). Pengantar umum psikologi. Google
Scholar
Shochib, Moh. (1998). Pola
asuh orang tua: untuk membantu anak mengembangkan disiplin diri. Rineka
Cipta. Google Scholar
Sugiyono, Dr. (2013). Metode
penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D. Google Scholar
Sutrisno, Ibu Maia: M.
(2022). Wawancara. Aceh. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |