PENGELOLAAN SANITASI STOP BAB (BUANG AIR BESAR) PADA WILAYAH PESISIR
PANTAI PANDAN SIBOLGA
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara,
Indonesia
khopifahandriani123@gmail.com, susilawati@uinsu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Juni 2022 10 Juli 2022 20 Juli 2022 |
Latar Belakang : Indonesia adalah salah satu negara yang saat ini masih mengahadapi masalah sanitasi dan perilaku untuk hidup bersih dan sehat. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan mengenai persoalan sanitasi misalnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Tujuan : Penelitian ini bertujuan yang mendeskripsikan pengelolaan program stop buang air besar sembarangan di Wilayah Pesisir Pantai Pandan Sibolga. Metode : Sumber data sekunder yang didapat peneliti berupa artikel atau jurnal yang relevan dengan topik dilakukan dengan data base melalui google scholar. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa kader kesehatan menilai pengetahuan yang dimilikinya masih kurang. Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukan aspek standar
dan sasaran kebijakan sudah optimal. Aspek yang belum optimal adalah sumber
daya, komunikasi antar organisasi, karakteristik agen pelaksana, kondisi
lingkungan dan sikap pelaksana. Kata
Kunci : Pengelolaan Sanitasi; Stop BAB;
Pesisir Pantai; Kesehatan |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: Indonesia is one of the countries that currently
still faces sanitation and behavioral problems to live a clean and healthy
life. To overcome this problem, the Indonesian government has made policies
regarding sanitation issues, for example the Minister of Health Regulation
Number 3 of 2014 concerning Community-Based Total Sanitation (STBM). Objectives: This study aims to
describe the management of the open defecation stop program in the Pandan Sibolga Coastal Area. Methods: Secondary data sources
obtained by researchers in the form of articles or journals that are relevant
to the topic are carried out with a data base through Google Scholar. Results: Based on the results of
the study, it was found that health cadres assessed that the knowledge they
had was still lacking. Conclusion: The results showed that
the standard aspects and policy targets were optimal. Aspects that are not
yet optimal are resources, communication between organizations,
characteristics of implementing agents, environmental conditions
and attitudes of implementers. Keywords: Sanitation Management;
Stop BAB; Coastline; Health |
|
*Correspondent Author :
Khopifah Andriani
Email : khopifahandriani123@gmail.com
PENDAHULUAN
Sanitasi
menjadi salah satu isu dunia yang masih memerlukan perhatian khusus. Menurut (Group,
2013), diperkirakan
2,5 miliar penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap jamban layak atau
sarana pembuangan limbah manusia, termasuk 1 milliar
penduduk dunia yang melakukan Buang Air Besar Sembarangan di sungai dan ladang,
menyebarkan virus, kuman melalui air dan makanan dan hanya sekitar 64% dari
populasi dunia yang memiliki akses sanitasi. Menurut (Group,
2013),
masalah sanitasi pada tingkat global tetap menjadi salah satu target tujuan
pembangunan milenium (Organization,
2015). Salah
satu negara di dunia yang berkomitmen untuk mencapai tujuan pembangunan
milenium tersebut adalah Indonesia. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen
bahwa salah satu target tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)
tahun 2015 adalah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar secara
berkesinambungan kepada separuh penduduk yang belum mendapatkan akses, sehingga
diharapkan nantinya tidak ada lagi masayarakat
Indonesia yang tidak memilki akses memperoleh
sanitasi yang baik. Komitmen pemerintah terhadap persoalan sanitasi tersebut
merupakan suatu tujuan yang memerlukan perhatian khusus.
Indonesia
adalah salah satu negara yang saat ini masih mengahadapi
masalah sanitasi dan perilaku untuk hidup bersih dan sehat. Menurut (Group,
2013),
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam sanitasi dasar dimana
setengah dari populasi masyarakat perdesaan tidak memiliki akses sanitasi
layak, dan dari 57 juta orang yang melakukan Buang Air Besar Sembarangan, 40
juta diantaranya tinggal di perdesaan. Untuk
mengatasi masalah tersebut pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan
mengenai persoalan sanitasi. Keputusan Menteri Kesehatan No.
852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM), namun pada tahun 2014 kebijakan ini diperbaharui dengan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM). Menurut Permenkes No 3 Tahun 2014, STBM adalah pendekatan untuk mengubah
perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Program STBM ini mengajak masyarakat untuk sadar
akan kondisi sanitasi mereka.
Untuk
menciptakan suatu kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi yang sehat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor pencetus, faktor pendorong dan
faktor pendukung sehingga kemudian masyarakat dapat berpikir, kemudian sadar
dan meninggalkan kebiasaan Buang Air Besar sembarangan (Open Defecation). Permenkes No 3 Tahun 2014 tentang STBM juga dijelaskan bahwa
pemerintah telah merubah pendekatan sektoral dengan
penyediaan subsidi perangkat keras menjadi pendekatan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat. Latar belakang perubahan tersebut karena pendekatan sektoral dengan
penyediaan subsidi perangkat keras tidak memberi daya ungkit terjadinya
perubahan perilaku higienis dan peningkatan akses sanitasi. Pendekatan STBM
tersebut mengacu pada prinsip-prinsip dasar STBM yaitu tanpa subsidi kepada
masyarakat, tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban,
masyarakat sebagai pemimpin, totalitas, seluruh komponen masyarakat terlibat
dalam analisa permasalahan perencanaan–pelaksanaan serta pemanfaatan dan
pemeliharaan (Pelaksanaan STBM dalam program Pamsimas
tahun 2009).
Prinsip
yang digunakan dalam metode STBM adalah target bukan pada membangun sarana,
tetapi menghilangkan open defecation, aspek-aspek
utama yang ditonjolkan dalam metode STBM adalah pemberdayaan dengan cara
menimbulkan spirit dan semangat kemandirian. Dalam penyelenggaraan STBM ini
berpedoman pada lima Pilar STBM yaitu pilar stop buang air besar sembarangan,
pilar cuci tangan pakai sabun, pilar pengelolaan air minum dan makanan rumah
tangga, pilar pengamanan sampah rumah tangga, dan pilar pengamanan limbah cair rumah
tangga. Penyelenggaraan STBM ini lebih memfokuskan terlebih dahulu pada pilar
pertama yaitu stop buang air besar sembarangan mengingat masih banyaknya masyarakatyang melakukan aktivitas BAB sembarangan.Pendekatan
melalui STBM ini dapat menyadarkan masyarakat bahwa perilaku buang air besar
sembarangan adalah masalah bersama karena dapat berakibat kepada semua
masyarakat sehingga penyelesaian masalah BAB sembarangan ini harus diselesaikan
dengan sinergi dan partisipasi dari berbagai pihak. Di era otonomi daerah
sekarang ini, pemerintah daerah juga mempunyai kewenangan dan tanggung jawab
untuk menangani persoalan sanitasi khususnya pemerintah daerah kabupaten
Bojonegoro.
Pemerintah
daerah kabupaten Bojonegoro telah berkomitmen untuk mengimplementasikan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro. Komitmen tersebut diwujudkan oleh
Pemkab Bojonegoro dengan membuat kebijakan teknis pendukung yang terkait dengan
kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) ini khususnya pada pilar
stop buang air besar sembarangan yaitu Perbub No 58 tahun 2010 tentang Pedoman Pengawasan dan sanksi
Buang Air Besar Sembarangan. Pada wilayah pesisir pantai pada Sibolga masih
mempunyai kebiasaan BAB sembarangan. Permasalahan yang terjadi dalam
pelaksanaan STBM terkait dengan program stop buang air antara lain kurangnya
komitmen dari pelaksana program, budaya masyarakat yang merasa nyaman buang air
besar sembarangan di wilayah pesisir pantai, kesadaran masyarakat mengenai
kepemilikan jamban/kloset, belum adanya pemberdayaan masyarakat untuk
pembangunan jamban. Berdasarkan permasalahan yang muncul, artikel ini akan
membahas megeai pengelolaan sanitasi stop BAB (buang
air besar) pada wilayah pesisir pantai pada Sibolga.
METODE PENELITIAN
Konsep riset yang dipakai
dalam riset ini merupakan Literature review. Konsep ini dipakai buat mengenali “Pengelolaan
Sanitasi Stop BAB (Buang Air Besar) pada Wilayah Pesisir Pantai Pandan
Sibolga”. Informasi yang dipakai dalam riset ini merupakan informasi sekunder yang didapat
dari hasil riset yang sudah dicoba oleh peneliti-peneliti terdahulu (Nursalam, 2016).
Sumber data sekunder yang
didapat peneliti berupa artikel
atau jurnal yang relevan dengan topik dilakukan dengan
data base melalui google scholar. Pencarian artikel atau jurnal menggunakan keyword dan Boolean operator
(AND, OR NOT or AND NOT) yang digunakan untuk
memperluas atau menspesifikkan pencarian, sehingga
mempermudah dalam penentuan artikel atau jurnal yang digunakan (Nursalam, 2016). Kata kunci yang digunakan dalam penelitian
ini dalam bentuk bahasa Indonesia
yaitu, “Sanitasi” AND “buang air besar” AND “Sibolga”. Juga menggunakan kata
kunci lainnya dalam bahasa ingris yang disesuaikan
dengan Medical Subject Heading (MeSH) untuk
memperluas pencarian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sumber daya manusia merupakan elemen utama yang
menjalankan dan menentukan keberhasilan suatu program. Berdasarkan hasil
penelitian diketahui bahwa sumber daya manusia dalam implementasi peraturan
Bupati tentang bebas buang air besar sembarangan dinilai sudah cukup. Sumber
daya manusia yang ada di Desa Pandan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli untuk implementasi peraturan Bupati tentang
bebas buang air besar sembarangan berasal dari bidan desa, kader kesehatan,
perangkat desa dan kepala desa. Sumber daya manusia yang ada sudah sesuai
dengan susunan program kerja STBM desa yaitu terdiri dari Kepala desa,
perangkat desa, bidan dan kader kesehatan. Jika sumber daya manusia yang ada
saling bersinergi maka implementasi dari peraturan ini akan berjalan dengan
baik dan tentunya target yang ditetapkan akan tercapai. Berdasarkan hasil
penelitian ditemukan bahwa kader kesehatan menilai pengetahuan yang dimilikinya
masih kurang. Pengetahuan kader kesehatan yang kurang mengakibatkan informasi
yang diberikan kepada warga juga kurang optimal.
Dalam penelitian (Cintya, Garrido, & García, 2016)
menyebutkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan perilaku buang air besar
sembarangan. Pengetahuan yang tinggi terkait program ODF meningkatkan kesadaran
untuk tidak buang air besar sembarangan dengan membangun jamban sehat di
lingkungan rumahnya. Maka dari itu penting sekali untuk meningkatkan
pengetahuan sumber daya manusia terutama mengenai dampak buang air besar
sembarangan bagi kesehatan agar bisa mencapai ODF. Pembiayaan kesehatan berasal
dari pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, swasta dan sumber lain. Dalam
implementasi peraturan Bupati tentang bebas buang air besar sembarangan tidak
ada dana khusus yang diberikan oleh pemerintah. Dana yang digunakan tiap desa
berasal dari anggaran dana desa yang diajukan ke kecamatan. Jadi, setiap
tahunnya ada sebagian dana desa yang wajib dialokasikan untuk kegiatan jambanisasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Davik, 2016) menyebutkan bahwa salah
satu penghambat tercapainya bebas buang air besar sembarangan adalah kurangnya
dana untuk pembangunan fisik jamban sehat. Dijelaskan juga dalam jurnal the state of
health determinant in
Bangladesh oleh (Rahman & Hashem, 2000) menyebutkan bahwa salah
satu faktor penentu kesehatan di Bangladesh adalah sosial ekonomi, lingkungan
dan cultural. Artinya ketersediaan sarana prasarana
yang memadai juga dipengaruhi oleh jumlah ketersediaaan
dana yang dimiliki oleh masyarakat dan pemerintah selaku pembuat kebijakan.
Ketersediaan sarana yang memadai sangat mendukung dalam
tercapainya Wilayah Desa Pandan bebas buang air besar sembarangan. Sarana
prasarana untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut pada dasarnya sangat
dibutuhkan. Sarana prasarana merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam
implementasi kebijakan. Sarana prasarana harus dimiliki agar kegiatan yang
dilakukan dapat berjalan efektif dan efisien. Sarana dan prasarana yang memadai
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi suatu kebijakan. Prosedur
sangat berguna sebagai panduan dalam melaksanakan suatu kegiatan dalam
pelayanan bidang kesehatan promotif dan preventif sehingga akan memudahkan
petugas atau pelaksana dalam melaksanakan kegiatan dan mempercepat pelaksana
dalam melakukan proses penyelesaian tindakan. Dalam penelitian (Sugiharti, Widagdo, &
Widjanarko, 2016) menyebutkan bahwa
dukungan SOP dan regulasi sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan desa
ODF, artinya dengan adanya SOP akan lebih mudah untuk mencapai Desa ODF.
Dijelaskan juga dalam penelitian (Nugraha, 2015) bahwa agar pelaksanaan
program dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka
dibutuhkan pedoman pelaksanaan dehingga pelaksana
memiliki acuan untuk melakukan tindakan yang yang
mendukung keberhasilan program tersebut. Adanya SOP akan lebih memudahkan dalam
pekerjaan dan kegiatan yang sedang dilakukan atau target yang ingin dicapai
lebih terarah.
Pengawasan merupakan kegiatan monitoring
dan evaluasi yang dilakukan kepala puskesmas dalam melaksanakan program.
Kegiatan supervisi yang meliputi monitoring dan
evaluasi sudah dilakukan pihak puskesmas. Kegiatan monitoring
yang dilakukan oleh puskesmas sebanyak 3 kali dalam satu tahun. Kegiatan
evaluasi juga sudah dilakukan di akhir tahun pelaksanaan dan sudah sesuai
dengan yang ada dalam peraturan. Dukungan masyarakat dalam implementasi
peraturan tentang bebas buang air besar sembarangan masih kurang. Hasil
penelitian dari (Muhid & Fahmi, 2018) menyebutkan bahwa
partisipasi masyarakat dalam kegiatan program sanitasi total berbasis
masyarakat sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku ODF. Masyarakat di
Desa hampir semuanya sudah memiliki jamban dan sudah tidak buang air besar
sembarangan. Masyarakat sebenarnya sudah sadar bahwa buang air besar
sembarangan itu dilarang dan tidak baik bagi kesehatan, tetapi mereka masih
belum bisa merubah kebiasaan. Masyarakat buang air
besar sembarangan di sungai dan tambak karena tidak memiliki jamban. Ada juga
masyarakat yang sudah punya jamban, tetapi belum memiliki septic
tank jadi, pembuangannya dialirkan ke sungai belakang rumah. Komitmen Kepala
desa Pandan dinilai masih kurang karena belum adanya suatu penetapan punishment jika masih ada perilaku masyarakat yang buang
air besar sembarangan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian oleh (Indriyani, Yuniarti, &
Latif, 2016) yang menyebutkan bahwa
komitmen yang konsisten dalam suatu kebijakan dapat dipertegas dengan penetapan
punishment melalui cara denda atas tindakan membuang
feses ke sungai sebagai upaya peringatan tegas untuk merubah
perilaku tersebut. Dengan adanya punishment atau
denda masyarakat akan lebih patuh untuk tidak buang air besar sembarangan.
KESIMPULAN
Cintya, Peña Estrada Claudia, Garrido, Ilia Violeta Cázares,
& García, Luis Ambrosio Velázquez. (2016). Objetos de aprendizaje en
entornos digitales: desarrollo de competencias en la educación. Revista
Iberoamericana de Producción Académica y Gestión Educativa, 3(5). Google Scholar
Davik, Farouk Ilmid.
(2016). Evaluasi program sanitasi total berbasis masyarakat pilar stop babs di
puksesmas kabupaten probolinggo. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia,
4(2), 107–116. Google Scholar
Group, World Bank. (2013).
Global financial development report 2014: Financial inclusion (Vol. 2).
World Bank Publications. Google Scholar
Indriyani, Yulis,
Yuniarti, Yuniarti, & Latif, Rr Vita Nur. (2016). Kajian Strategi Promosi
Kesehatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Stbm) Di Kelurahan Tirto
Kecamatan Pekalongan Barat Kota Pekalongan. Unnes Journal of Public Health,
5(3), 240–251. Google Scholar
Muhid, Abdul, &
Fahmi, Lukman. (2018). Perubahan Perilaku Open Defecation Free (ODF) melalui
Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Babad Kecamatan
Kedungadem Kabupaten Bojonegoro. Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat, 2(1), 99–119. Google Scholar
Nugraha, Moh Fajar.
(2015). Dampak Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pilar
Pertama (di Desa Gucialit Kecamatan Gucialit Kabupaten Lumajang).
UNIVERSITAS AIRLANGGA. Google Scholar
Nursalam, NIDN.
(2016). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salimba Medika. Google Scholar
Organization, World
Health. (2015). Health in 2015: from MDGs, millennium development goals to
SDGs, sustainable development goals. Google
Scholar
Rahman, M. Redwanur,
& Hashem, Farhana. (2000). The state of health determinants in Bangladesh. International
Journal of Sociology and Social Policy.
Google Scholar
Sugiharti, Sugiharti,
Widagdo, Laksmono, & Widjanarko, Bagoes. (2016). Analisis Pelaksanaan
Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Pilar Pertama (Stop BABS) sebagai
Upaya Meningkatkan Cakupan Desa ODF (Open Defecation Free) oleh petugas
Puskesmas di Kabupaten Temanggung. UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |