IDENTIFIKASI
KERUSAKAN MESIN SEA WATER REVERSE OSMOSIS (SWRO) DENGAN FAULT TREE ANALYSIS
(FTA) DI PT. PLN (PERSERO) UPK NAGAN RAYA
Malahati
Yagturi, Rita Hartati
Fakultas Teknik, Universitas Teuku Umar, Aceh Barat, Indonesia
malahatiy@gmail.com, ritahartati@gmail.com
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Agustus 2022 10 Agustus 2022 20 Agustus 2022 |
Latar Belakang : Penelitian ini membahas mengenai penggunaan metode Fault Tree Analysis (FTA) untuk mencari prioritas perbaikan pada mesin Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk mencari masalah sebagai dasar usulan perbaikan mesin SWRO. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data yang lebih aktual dan akurat. Metode : Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Fault Tree Analysis (FTA) yang digunakan untuk melihat risiko-risiko yang mungkin terjadi pada operasi perawatan dan kegiatan operasional perusahaan. Hasil : Pada penelitian ini terdapat 15 jenis kerusakan pada mesin SWRO yang tercatat dari bulan Januari-Desember 2021. Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat 15 kerusakan yang timbul pada mesin Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) pada bulan Januari 2021 hingga desember 2021 Kata
Kunci : Identifikasi; Kerusakan; Mesin;
FTA; SWRO |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: This study discusses the use of the Fault Tree
Analysis (FTA) method to find the priority of repairs to the Sea Water
Reverse Osmosis (SWRO) machine to find problems as the basis for proposed
SWRO engine repairs. Objectives: This study aims to obtain
more actual and accurate data. Methods: The method used in this
study is Fault Tree Analysis (FTA) which is used to see the risks that may
occur in maintenance operations and company operational activities. Results: In this study, there were 15 types of damage to
SWRO engines recorded from January-December 2021. Conclusion: The conclusion of this
study is that there were 15 damages arising from the Sea Water Reverse
Osmosis (SWRO) machine from January 2021 to December 2021 Keywords: Identification; Damage;
Engine; FTA; SWRO |
|
*Correspondent Author :
Malahati Yagturi
Email : malahatiy@gmail.com
PENDAHULUAN
Suatu
perusahaan dapat dikatakan berkualitas, apabila perusahaan tersebut mempunyai
sistem produksi yang baik dan proses yang terkendali. Dengan melakukan
pengendalian kualitas (Quality Control), perusahaan diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan produktivitas dalam mencegah terjadinya
produk yang gagal atau cacat, sehingga dapat mengurangi terjadinya pemborosan
baik dari segi penggunaan material, maupun waktu yang diperlukan dalam memproduksi
satu unit produk (Anugrah, Fitria, & Desrianty, 2015).
Mesin merupakan suatu peralatan yang digerakkan oleh kekuatan atau tenaga yang dipergunakan untuk membantu
manusia dalam mengerjakan suatu
produksi (Assauri,
2008). Reverse osmosis merupakan proses memaksa
pelarut dari daerah konsentrasi zat terlarut tinggi melalui membran
semipermeabel ke daerah konsentrasi zat terlarut rendah dengan menerapkan
tekanan melebihi tekanan osmotik (Lokajaya,
2016). Sea
Water Reverse Osmosis (SWRO) merupakan unit sistem
desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar (Shahabi
& Hashim, 2015),
menyatakan bahwa sumber air laut untuk Sea Water Reverse
Osmosis (SWRO) berasal dari beach wellsdansurface water (open seawater intake). TDS air
dari beach wells lebih
rendah dibanding dari surface water
karena air beach wells
diambil langsung dari air bawah tanah (Yoshi
& Widiasa, 2016).
Di
negara maju dan berkembang unit ini sudah banyak digunakan, karena dengan
mengolah air laut menjadi air tawar terdapat banyak sekali manfaat bagi siklus
kehidupan dan ramah lingkungan. Prinsip dasar reverse
osmosis adalah apabila dua buah larutan dengan konsentrasi rendah dan konsentrasi
tinggi dipisahkan oleh membran semi permeabel, maka larutan dengan konsentrasi
yang rendah akan berdifusi melalui membran semi permeabel tersebut masuk ke
dalam larutan konsentrasi tinggi sampai terjadi keseimbangan konsentrasi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai proses osmosis, sebagai contoh misalnya, jika
air tawar dan air payau dipisahkan dengan membran semi permeabel, maka air
tawar akan berdifusi ke dalam air payau melalui membran semi permeabel tersebut
sampai terjadi kesetimbangan. Perkembangan teknologi mesin industri yang
semakin meningkat akan mendorong semua perusahaan industri agar dapat
mengadopsi teknologi tersebut untuk menghasilkan produk yang berkualitas
terlepas dari biaya investasi yang harus dikeluarkan. Hal ini adalah dampak dari
persaingan dalam hal menjaring konsumen, karena konsumen pada akhirnya akan
mencari produk yang berkualitas. Meskipun demikian memanfaatkan teknologi
bukanlah hal yang mudah, karena harus dapat mengolah dan memanfaatkan
faktor-faktor produksi yang meliputi tenaga kerja (man),
bahan (material), peralatan dan mesin (machines)
serta dana (money) dengan sebaik-baiknya Apabila
perusahaan tidak efisien didalam mengolah
faktor-faktor produksi tersebut, maka akan menghambat operasi perusahaan.
tersebut. Faktor mesin merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan produksi
karena jika dikelola dengan baik akan menghasilkan barang berkualitas yang
baik. Oleh sebab itu perusahaan harus selalu memiliki mesin prima dan terjamin
dan hal tersebut membutuhkan kegiatan pemeliharaan mesin (Jasasila,
2017).
Dalam
kondisi seperti ini maka untuk masalah perawatan mesin merupakan hal yang
sangat penting dalam mendukung kelancaran suatu proses produksi. Hal ini
dikarenakan mesin-mesin yang ada memiliki kemampuan yang terbatas secara
teknis. Sehingga dapat dikatakan bahwa mesin tersebut akan kehilangan daya
kerjanya secara lambat laun sesuai dengan usia pemakaiannya, dengan demikian
maka akan mengganggu kelanjutan
proses produksi. Maintenance atau perawatan
merupakan suatu kegiatan merawat fasilitas, sehingga fasilitas tersebut berada
pada kondisi siap pakai sesuai kebutuhan atau dengan kata lain perawatan adalah
kegiatan / effort dalam rangka mengupayakan fasilitas
produksi pada kondisi/kemampuan produksi yang di kehendaki. Perawatan pada
umumnya dilihat sebagai kegiatan fisik seperti membersihkan peralatan yang bersangkutan,
memberi pelumas, memperbaiki kerusakan, mengganti komponen dan semacamnya jika
diperlukan (Purwanto,
2013). PT.
PLN (Persero) UPK (Unit Pelaksana Pembangkit) Nagan Raya merupakan perusahaan
yang bergerak di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sudah
beroperasi secara komersil sejak tahun 2013. PLTU
merupakan salah satu jenis pembangkit listrik yang paling banyak digunakan di
Indonesia. Banyak perusahaan negara ataupun swasta yang mendirikan PLTU di
Indonesia, sehingga tidak menutup kemungkinan Indonesia akan memenuhi kebutuhan
listrik dalam kurun waktu ke depan.
Dalam
proses PLTU terdapat peralatan utama dan peralatan penunjang. Peralatan utama
meliputi boiler, turbin, generator, trafo, dan lain
sebagainya. Sedangkan untuk peralatan penunjang seperti cooling
tower, Sea Water Reverse
Osmosis (SWRO), demineralisasi dan lain-lain (Cholil,
Ramadhan, & Maulidia, n.d.). Pada
PLTU membutuhkan Demineralisasi yaitu tempat pengolahan air tawar menjadi air
bebas mineral. Dikarenakan sulitnya mendapatkan air tawar dan untuk menyediakan
dalam jumlah besar, maka dalam unit PLTU peran desalinasi sangat diperlukan
untuk menyediakan air tawar sebagai bahan baku produksi listrik. Permasalahan
yang selama ini sering terjadi PT. PLN (Persero) UPK (Unit Pelaksana
Pembangkit) Nagan Raya adalah kerusakan mesin salah satunya Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Menurut (Ariyanty,
n.d.), Proses
desalinasi air laut menggunakan teknologi membran menjadi salah satu teknologi
yang sudah banyak dipakai untuk berbagai aspek kehidupan. Sistem kerja dari
teknologi membran ini bekerja dengan menahan partikel partikel di dalam air
yang ukurannya lebih besar daripada pori pori membran, dan cairan yang
memiliki ukuran lebih kecil dari pori pori membran akan lewat tanpa adanya
kandungan garam lagi. Salah satu teknologi membran yang digunakan untuk proses
desalinasi adalah seawater reverse
osmosis (SWRO). Namun kelemahan dari teknologi membran adalah kerusakan yang
terjadi pada membran karena adanya scaling (Hibatullah,
Syuriadi, & Fachruddin, 2019). Pada
mesin Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sering terjadi
kerusakan. Karena sudah sering terjadi kerusakan-kerusakan pada komponen Sea
Water Reverse Osmosis (SWRO) maka dilakukan
penelitian di PT. PLN (Persero) UPK (Unit Pelaksana Pembangkit) Nagan Raya.
Berikut adalah data kerusakan yang diambil satu tahun terakhir dari Januari
Desember 2021 :
Tabel 1
Kerusakan Komponen Mesin Sea Water Reserve
Osmosis (SWRO)
|
Tanggal Kerusakan |
Komonen yang
mengalami kerusakan |
Kerusakan |
|
14/01/2021 |
Oring SWRO |
Putus |
|
18/01/2021 |
Valve Inlet Flushing SWRO
A |
Tidak bisa
terbuka |
|
18/01/2021 |
Valve Inlet Flushing SWRO
B |
Tidak bisa
terbuka |
|
24/01/2021 |
Flow Meter Outlet
SWRO A |
Indikasi terlepas |
|
24/01/2021 |
Inlet Flushing SWRO A |
Terlepas |
|
18/02/2021 |
Vessel NO.8
SWRO A |
Bocor |
|
18/02/2021 |
Selang Sampling
SWRO |
Bocor |
|
25/02/2021 |
Selang Induk Panel
SWRO |
Bocor |
|
02/05/2021 |
Brine Flow SWRO A |
Retak |
|
26/05/2021 |
Sambungan Vessel No.17 SWRO
A |
Bocor |
|
07/07/2021 |
Turbo Charge SWRO B |
Bocor |
|
13/07/2021 |
Selang Udara Valve Reject SWRO A |
Patah |
|
17/07/2021 |
Inlet Valve SWRO B |
Tidak bisa terbuka/tertutup |
|
20/07/2021 |
Inlet Valve SWRO A |
Tidak bisa terbuka/tertutup |
|
29/07/2021 |
Brine Flow SWRO A |
Retak |
Sumber: PT.PLN (Persero) UPK Nagan Raya
Salah
satu metode untuk mengetahui kinerja dan produktivitas pada unit Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di PT. PLN UPK Nagan Raya adalah Fault Tree Analysis
(FTA). FTA adalah sebuah model grafis dari cabang dalam sebuah system yang dapat menuntun kepada suatu kemungkinan
terjadinya kegagalan yang tidak diinginkan. Setelah perhitungan mengguanakn metode Fault Tree Analysis (FTA) selesai kemudian baru bisa di lanjutkan
menggunakan metode 5W + 1H untuk melakukan perbaikan pada jenis delay dengan nilai probabilitas tertinggi (Djamal
& Azizi, 2015). Fault Tree Analysis merupakan
metode yang efektif dalam menemukan inti permasalahan karena memastikan bahwa
suatu kejadian yang tidak diinginkan atau kerugian yang ditimbulkan tidak
berasal pada satu titik kegagalan. Fault Tree Analysis mengidentifikasi hubungan antara faktor penyebab
dan ditampilkan dalam bentuk pohon kesalahan yang melibatkan gerbang logika
sederhana (Rahayu
& Yuliana, 2018).
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan pada
penelitian ini adalah Fault Tree Analysis
(FTA) yang digunakan untuk melihat risiko-risiko yang mungkin terjadi pada operasi perawatan
dan kegiatan operasional perusahaan. Fault tree analysis dapat
dideskripsikan sebagai teknik analitis, menganalisis lingkungan dan operasi
untuk (FTA) menemukan jalan/solusi dari masalah-masalah yang muncul. FTA
merupakan model grafik dari variasi paralel dan kombinasi kesalahan yang muncul
sebagai hasil dari pendefinisian masalah yang ada. Kesalahan bisa disebabkan
oleh kesalahan hardware, human error
atau kejadian lainnya. FTA memperlihatkan hubungan logika dari penyebab dasar
yang menjadi penyebab masalah yang merupakan penyebab utama yang berada diatas (Kartika, Harsono, &
Liansari, 2016). Menurut (Dewi, 2016), Fault
Tree Analysis (FTA) merupakan pendekatan top-down analisis kegagalan, dimulai dengan potensi kejadian
utama atau peristiwa yang tidak diinginkan disebut dengan top level event, lalu menentukan semua hal yang dapat membuat
peristiwa atau kejadian tersebut terjadi. Analisis tersebut dilakukan dengan
menentukan bagaimana top level event (potensi
kejadian utama) bisa terjadi, apa penyebabnya, dan siapa penyebabnya. Penyebab
dari potensi kejadian utama adalah connected
melalui logic gates yaitu
AND-gates dan OR-gates. FTA
merupakan metodologi analisis yang menggunakan model grafis untuk menunjukan analisis proses secara visual. FTA memungkinkan
untuk identifikasi kejadian kegagalan berdasarkan penilaian probabbilitas
kegagalan (Kurniawan, Yusuf, &
Parwati, 2017). Dalam penerapannya, teknik
FTA yang digunakan secara kualitatif memiliki 2 (dua) tipe notasi dasar:
peristiwa (events) dan gerbang logika (logic gates). Notasi peristiwa
terdiri dari 4 simbol, antara lain (Handayani, 2021):
1) Lingkaran (basic
event) merupakan simbol yang menyatakan penyebab
risiko. Dengan kata lain simbol lingkaran merepresentasikan akar / sumber
penyebab dari suatu peristiwa risiko di mana simbol ini tidak memerlukan
analisis lanjutan.
2) Persegi (intermediate
event) merupakan simbol dari peristiwa yang masih
memerlukan analisislanjutan, biasanya
setelah simbol ini
akan diikuti logic gates untuk menggambarkan peristiwa selanjutnya.
3) Segi 4 Wajik (undeveloped event) merupakan
simbol yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut tidak dapat dianalisis lebih
lanjut karena ketidakkecukupan data atau informasi.
4) Segitiga (transfer symbol) merupakan simbol dari peristiwa yang masih
memerlukan analisis lanjutan, di luar dari peristiwa risiko utama pada analisis
yang sedang dikerjakan.
Gambar
1. Simbol Notasi Peristia FTA
Sumber:
(Handayani, 2021)
Notasi gerbang logika terdiri
dari 3 simbol, antara lain (Handayani, 2021):
1) AND Gate
sebuah peristiwa risiko dapat terjadi apabila seluruh input
peristiwa di bawahnya terjadi.
2) OR Gate
sebuah peristiwa risiko dapat terjadi apabila salah satu atau lebih dari input peristiwa di bawahnya terjadi.
3) Voting OR Gate
sebuah peristiwa dapat terjadi jika jumlah peristiwa yang terjadi sesuai
dengan kondisi yang dibutuhkan. Pada
contoh gambar di bawah ini, sebuah peristiwa dapat terjadi apabila terdapat
minimal 2 penyebab yang harus terjadi. Jika Voting OR Gate
berisi 1/3, maka dibutuhkan minimal 1 penyebab yang harus terjadi.
Gambar 2. Simbol Notasi
Gerbang Logika FTA
Sumber: (Handayani, 2021)
Penerapan teknik FTA dapat
dilakukan dengan 4 langkah utama, antara lain (Handayani, 2021):
1) Dapatkan pemahaman mengenai
suatu sasaran;
2) Definisikan peristiwa risiko yang tidak
diinginkan terkait dengan suatu sasaran;
3) Berdasarkan informasi yang ada
dan expert judgement,
simpulkan penyebab-penyebab terjadinya suatu peristiwa risiko hingga tidak ada
lagi peristiwa yang menyebabkan risiko tersebut;
4) Buat fault
tree (pohon kesalahan) dengan menggunakan notasi events dan logic gates;
5) Evaluasi analisis
pohon kesalahan Anda,
jangan biarkan satu
penyebab/peristiwa terlewatkan.
Menurut (Susanto & Suryadi,
2010) Tujuan dari Fault Tree Analysis (FTA) yaitu
sebagai berikut (RI, n.d.):
1) Dilakukan untuk
mengidentifikasi kombinasi dari equipment failure dan human error yang
dapat menyebabkan terjadinya suatu kejadian yang tidak dikehendaki.
2) Dilakukan untuk prediksi
kombinasi kejadian yang tidak dikehendaki, sehingga dapat dilakukan koreksi
untuk meningkatkan produk safety.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengumpulan Data
Karena sudah sering
terjadi kerusakan maka perlu dioptimalkan dari segi pengawasan dan perawatan
secara intensif saat beroperasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara :
1)
Observasi yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan
study lapangan (langsung) dengan
mengamati objek yang diteliti untuk mendapatkan data relevan.
2)
Wawancara
yaitu menanyakan beberapa
pertanyaan terhadap karyawan
perusahan dengan tujuan untuk mendapatkan data
yang lebih aktual dan akurat.
3)
Study
literatur yaitu mencari beberapa
teori yang pendukung
baik dari buku
dan jurnal/artikel yang berkaitan dengan permasalahan yang diamati. Permasalahan yang terjadi di stasiun
desalinasi pada mesin Sea Water Reverse Osmosis
(SWRO) adalah beberapa komponen mesin yang mengalami kerusakan. Kerusakan
komponen mesin Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang terjadi pada Januari sampai
dengan Desember dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2
Kerusakan dan Waktu
Perbaikan Mesin SWRO (Sea Reserve Osmosis)
|
No. |
Komponen
Yang Rusak |
Kerusakan |
Waktu Perbaikan |
Keterangan |
|
1. |
Oring SWRO |
Putus |
30 Menit |
Diganti dengan unit baru |
|
2. |
Valve Inlet Flushing SWRO A |
Tidak bisa terbuka |
1 jam |
Diperbaiki /tidak langsung
diganti |
|
3. |
Valve Inlet Flushing SWRO B |
Tidak bisa terbuka |
1 jam |
Diperbaiki/tidak langsung
diganti |
|
4. |
Flow Meter Outlet SWRO A |
Indikasi terlepas |
2 jam |
Diganti dengan unit baru |
|
5. |
Inlet Flushing SWRO A |
Terlepas |
3 jam |
Diperbaiki/tidak langsung
diganti |
|
6. |
Vessel NO.8 SWRO
A |
Bocor |
5 jam |
Diganti dengan unit baru |
|
7. |
Selang Sampling SWRO |
Bocor |
3 jam |
Diganti dengan unit baru |
|
8. |
Selang Induk Panel
SWRO |
Bocor |
4 jam |
Diperbaiki/tidak langsung
diganti |
|
9. |
Brine Flow SWRO A |
Retak |
2 jam |
Diganti dengan unit baru |
|
10. |
Sambungan Vessel
No.17 SWRO A |
Bocor |
5 jam |
Diganti dengan unit baru |
|
11. |
Turbo Charge SWRO B |
Bocor |
3 jam |
Diperbaiki/tidak langsung
diganti |
|
12. |
Selang Udara Valve Reject SWRO
A |
Patah |
3 jam |
Diganti dengan unit baru |
|
13. |
Inlet Valve SWRO B |
Tidak bisa terbuka/tertutup |
2 jam |
Diganti dengan unit baru |
|
14. |
Inlet Valve SWRO A |
Tidak bisa terbuka/tertutup |
2 jam |
Diperbaiki/tidak langsung
diganti |
|
15. |
Brine Flow SWRO A |
Retak |
2 jam |
Diganti dengan unit baru |
Tabel 3
Data komponen dan
kerusakan pada mesin SWRO
|
No. |
Komponen
Yang Rusak |
Kerusakan |
|
1. |
Oring SWRO |
Putus |
|
2. |
Valve Inlet Flushing SWRO
A |
Tidak bisa terbuka |
|
3. |
Valve Inlet Flushing SWRO
B |
Tidak bisa terbuka |
|
4. |
Flow Meter Outlet SWRO A |
Indikasi terlepas |
|
5. |
Inlet Flushing SWRO
A |
Terlepas |
|
6. |
Vessel NO.8 SWRO A |
Bocor |
|
7. |
Selang Sampling SWRO |
Bocor |
|
8. |
Selang Induk Panel SWRO |
Bocor |
|
9. |
Brine Flow SWRO A |
Retak |
|
10. |
Sambungan Vessel No.17 SWRO A |
Bocor |
|
11. |
Turbo Charge SWRO B |
Bocor |
|
12. |
Selang Udara Valve Reject SWRO A |
Patah |
|
13. |
Inlet Valve SWRO B |
Tidak bisa terbuka/tertutup |
|
14. |
Inlet Valve SWRO A |
Tidak bisa terbuka/tertutup |
|
15. |
Brine Flow SWRO A |
Retak |
B. Pengolahan Data
FTA merupakan teknik untuk
mengidentifikasi kegagalan (failure) dari suatu
sistem. FTA berorientasi pada fungsi atau yang lebih dikenal dengan dengan top down approach karena identifikasi ini berawal dari sistem level
(top) dan meneruskannya kebawah (Priyanta, 2000). Dalam membangun pohon
kesalahan (fault tree)
dilakukan dengan cara wawancara dengan kepala seksi bagian ready
mix PT. PLN UPK. Nagan Raya dan melakukan pengamatan langsung terhadap proses
produksi dilapangan. Selanjutnya sumber-sumber
kerusakan mesin tersebut digambarkan dalam bentuk model pohon kesalahan (fault tree). Identifikasi
penyebab kegagalan ini dilakukan dengan menggunakan data-data yang didapatkan, dimana komponen yang dianggap berisiko tinggi memberikan
kerusakan akan menjadi masukan dalam pembuatan pohon kesalahan. Berikut ini
akar penyebab terjadinya kerusakan komponen mesin Sea Water Reverse
Osmosis (SWRO) yang dianggap paling berisiko menyebabkan kegagalan dengan
menggunakan metode Fault Tree Analysis
(FTA) :
Gambar 3
FTA Penyebab
Terjadinya Kerusakan Mesin Sea Water Reserve Osmosis (SWRO)
C. Usulan Perbaikan
Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode FTA terkait
permasalahan kerusakan mesin Sea Water Reverse
Osmosis (SWRO), maka perlu dilakukan usulan untuk upaya meminimalisir
risiko kerusakan. Adapun usulan perbaikannya yaitu:
1)
Perusahaan melakukan pengecekan rutin sebelum dan sesudah
pemakaian sehingga mesin yang digunakan dapat terpantau lebih sering.
2)
Perusahaan melakukan service
ringan (Tune Up) terhadap
mesin agar kerusakan ringan dapat dihilangkan dan meminimalisir
kerusakan besar yang membuat produksi perusahaan terhambat.
3)
Perusahaan memberikan pembersihan rutin terhadap mesin
SWRO setelah digunakan.
KESIMPULAN
Anugrah, Ninda
Restu, Fitria, Lisye, & Desrianty, Arie. (2015). Usulan Perbaikan Kualitas
Produk Menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA) Dan Failure Mode And Effect
Analysis (FMEA) Di Pabrik Roti Bariton. Reka Integra, 3(4). Google Scholar
Ariyanty, Mita.
(n.d.). Monitoring Perubahan Penutupan Lahan dengan Menggunakan Sistem
Informasi Geografi (SIG) dan Penginderaan Jauh (Studi Kasus: Kawasan Puncak,
Kabupataen Bogor, Jawa Barat). Google Scholar
Assauri, Sofjan.
(2008). Manajemen Produksi dan Operasi edisi revisi. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Google
Scholar
Cholil, Munawaroh
Nasailul, Ramadhan, Dwiki, & Maulidia, Yulita. (n.d.). Inhibisi Korosi Pada
Baja Lunak Dalam Media Air Gambut Dengan Metode Elektroplating. ELKHA:
Jurnal Teknik Elektro, 10(2), 5661. Google
Scholar
Dewi, Dian Masita.
(2016). Pengaruh likuiditas, leverage, ukuran perusahaan terhadap kebijakan
dividen tunai dengan profitabilitas sebagai variabel intervening. Jurnal
Bisnis Dan Ekonomi, 23(1). Google
Scholar
Djamal, Nugraheni,
& Azizi, Rifki. (2015). Identifikasi dan Rencana Perbaikan Penyebab Delay
Produksi Melting Proses Dengan Konsep Fault Tree Analysis (FTA) di PT. XYZ. Jurnal
INTECH Teknik Industri Universitas Serang Raya, 1(1), 3445. Google Scholar
Handayani, Sri Dewi.
(2021). APLIKASI BOWTIE ANALYSIS UNTUK IDENTIFIKASI ENVIRONMENTAL CRITICAL
ELEMENT (ECE) PADA FLOATING LIQUIFIED NATURAL GAS (FLNG) DAN PIPA GAS BAWAH
LAUT. Google Scholar
Hibatullah, Iqmal,
Syuriadi, Adi, & Fachruddin, Fachruddin. (2019). Identifikasi Kemunculan
Scaling pada Sistem SeaWater Reverse Osmosis (SWRO). Seminar Nasional Teknik
Mesin 2021, 9(1), 11301137. Google
Scholar
Jasasila, Jasasila.
(2017). Peningkatan Mutu Pemeliharaan Mesin Pengaruhnya Terhadap Proses
Produksi Pada Pt. Aneka Bumi Pratama (Abp) Di Kabupaten Batanghari. Jurnal
Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 17(3), 96102. Google Scholar
Kartika, Windhi Y.,
Harsono, Ambar, & Liansari, Gita Permata. (2016). Usulan Perbaikan Produk
Cacat Menggunakan Metode Fault Mode and Effect Analysis dan Fault Tree Analysis
Pada PT. Sygma Examedia Arkanleema. REKA INTEGRA, 4(1). Google Scholar
Kurniawan, Bayu Huda,
Yusuf, Muhammad, & Parwati, Cyrilla Indri. (2017). Evaluasi Perawatan Mesin
Dengan Metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode And Effect Analysis
(FMEA) pada Cv. Julang Marching. Jurnal Rekavasi, 5(2), 8086. Google Scholar
Lokajaya, I. Nyoman.
(2016). Kelayakan Investasi Instalasi Sea Water Reverse Osmosis (Swro) Di
Kawasan Wisata Pantai Kenjeran Surabaya. Surabaya: Jurnal Teknik Industri,
13(2). Google Scholar
Priyanta, Dwi. (2000).
Keandalan dan Perawatan. Surabaya: Institut Teknologi Surabaya. Google Scholar
Purwanto, Andy.
(2013). Analisis Failure Rate Mesin Reverse Osmosis Dengan Perhitungan Evaluasi
Sistem Perawatan di PT. XYZ. Jurnal Industri Elektro Dan Penerbangan, 3(3).
Google Scholar
Rahayu, Sri, &
Yuliana, Pram Eliyah. (2018). Penjadwalan Waktu Perawatan Dan Penyediaan
Kebutuhan Komponen Untuk Mesin Pengemas Makanan Ringan. Teknik Industri,
21(02). Google Scholar
RI, KEMENTERIAN
PERINDUSTRIAN. (n.d.). PENERAPAN METODE FMEA DAN FTA DALAM MENGIDENTIFIKASI
PENYEBAB KERUSAKAN MESIN VERTICAL SHAFT PADA PT. PRIMA. Google Scholar
Shahabi, Himan, &
Hashim, Mazlan. (2015). Landslide susceptibility mapping using GIS-based
statistical models and Remote sensing data in tropical environment. Scientific
Reports, 5(1), 115. Google Scholar
Susanto, Sani, &
Suryadi, Dedy. (2010). Pengantar data mining: mengagali pengetahuan dari
bongkahan data. Penerbit Andi. Google Scholar
Yoshi, Linda A., &
Widiasa, I. Nyoman. (2016). Sistem Desalinasi Membran Reverse Osmosis (RO)
untuk Penyediaan Air Bersih. Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan, 6.
Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |