Tsania
Salsabilla, Onan Marakali Siregar
Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia
tsaniaaas@gmail.com, onan@usu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Mei 2022 10 Juni 2022 20 Juni 2022 |
Latar Belakang : Pada era globalisasi ini persaingan bisnis menjadi sangat tajam baik di pasar domestik maupun pasar internasional global. Siap tidak siap seluruh bangsa di dunia akan memasuki era revolusi 4.0. Pihak perusahaan harus mampu membuat strategi pemasaran yang mampu bersaing dengan cafe-cafe lain, di antaranya bisa memanfaat teknologi yakni memasarkan secara online melalui jasa pengiriman pesanan kepada konsumen. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan omzet pada Foresthree di Kota Jambi saat bermitra dengan Grab-Food. Penelitian ini juga akan melihat apakah strategi yang dilakukan Foresthree Kota Baru sudah benar-benar tepat. Metode : Bentuk penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif. Hasil : Penelitian ini bermaksud menggambarkan kejadian atau fakta yang terdapat pada suatu objek penelitian dengan cara melakukan wawancara yang dibandingkan dengan data pendukung yang didapatkan dengan cara penyebaran kueisioner. Kesimpulan : Penjualan online yang dilakukan Foresthree Kota Baru melalui merchant
Grab-food dinilai berhasil meningkatkan omzet dan
membantu Foresthree untuk mencapai target penjualan
kurang lebih sebesar 20%. Target penjualan yang ditetapkan Foresthree sendiri sebesar Rp. 150.000.000 perbulan dan penjualan yang didapat dari merchant Grab-food saja bisa
mencapai Rp. 12.000.000 perbulan dan disetiap bulan meningkat. Kata Kunci : Foresthree;
Konsumen; Peningkatan Omzet; Penjualan Online |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: In this era of globalization, business
competition has become very sharp in both the domestic market and the global
international market. Ready unprepared all nations of the world will enter
the era of revolution 4.0. The company must be able to make a marketing
strategy that is able to compete with other cafes, including being able to
take advantage of technology, namely marketing online through order delivery
services to consumers. Objectives: The purpose of this study
was to analyze the increase in turnover at Foresthree
in Jambi City when partnering with Grab-Food. This research will also look at
whether the strategy carried out by the New Town Foresthree
is really right. Methods: The form of research used
by the authors in this study is descriptive analysis using a qualitative
approach supported by quantitative data. Results: This study intends to
describe the events or facts contained in a research object by conducting
interviews that are compared with supporting data obtained by distributing
questionnaires. Conclusion: Online sales made by Foresthree Kota Baru through
Grab-food merchants are considered successful in increasing turnover and
helping Foresthree to achieve the sales target of approximately
20%. The sales target set by Foresthree itself is
Rp. 150,000,000 per month and sales obtained from Grab-food merchants alone
can reach Rp. 12,000,000 per month and every month increase. Keywords: Foresthree; Consumers; Increased Turnover; Online Sales |
|
*Correspondent Author :
Sulistyani Prabu Aji
Email : sulistyaniprabuaji@student.uns.ac.id
PENDAHULUAN
Maraknya
rumah makan maupun kafe yang menarik bermunculan mengakibatkan ketatnya
persaingan terutama bagi perusahaan yang berkecimpung dalam lingkungan usaha
yang mempunyai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang berubah dengan cepat
dan dinamis. Pada era globalisasi ini persaingan bisnis menjadi sangat tajam
baik di pasar domestik maupun pasar internasional global. Siap tidak siap
seluruh bangsa di dunia akan memasuki era revolusi 4.0. Menurut , secara
singkat pengertian industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang
menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi (Calix, Singh, Chen, Zhang, & Tu,
2020).
Akan terjadi banyak perubahan di berbagai bidang. Salah satu yang akan terkena
dampak perubahan adalah dunia usaha. Pemilik usaha harus menghindari semua risiko
yang dapat membuat kelangsungan kafé terancam dan
dapat memanfaatkan peluang yang ada untuk mempertahankan posisi kafe. Misalnya
dengan meningkatkan pelayanan melalui e-commerce
sehingga konsumen masih bisa tetap membeli produk yang ditawarkan meski tetap
di rumah. Pihak perusahaan harus mampu membuat strategi pemasaran yang mampu
bersaing dengan kafe-kafé lain, di antaranya bisa
memanfaat teknologi yakni memasarkan secara online
melalui jasa pengiriman pesanan kepada konsumen.
Di
era kemajuan produksi yang ada pada saat ini, teknologi mempunyai peranan yang
sangat besar. Berkembangnya teknologi yang semakin cepat maka bidang finansial
dan teknologi juga semakin berkembang dengan efisien dan modern. Teknologi
memudahkan kita dalam menunjang berbagai macam kegiatan aktivitas dalam
kehidupan. Keberadaan e-commerce merupakan
alternatif bisnis yang cukup menjanjikan untuk diterapkan pada saat ini, karena
e-commerce memberikan banyak kemudahan bagi
pihak penjual maupun dari pihak pembeli di dalam melakukan transaksi jual beli,
meskipun kedua pihak yang terlibat tidak bertatap muka secara langsung. Salah
satu contoh e-commerce yang ada di Indonesia
yaitu Grab. Grab hadir di
Indonesia pada tahun 2014, Grab diawal
kemunculannya memperkenalkan GrabTaxi sebagai alat
transportasi yang dapat di akses masyarakat secara online.
Dengan kebutuhan masyarakat yang semakin bertambah membuat Grab
memperkenalkan terobosan-terobosan terbaru untuk mempermudah masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan sehari hari, dengan mulai memperkenalkan GrabCar,
GrabBike, GrabExpress, dan
yang terakhir GrabFood (www.grab.com/id/). Dengan
melalui Grab seseorang bisa menggunakan jasa
seseorang untuk transportasi dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun
kendaraan roda empat, memesan makanan, mengirim barang, jasa angkut dan yang
lainnya. Aplikasi Grab-food by
Grab ini sangat membantu pihak penjual kerena menjadi sarana promosi dan lebih mudah dijangkau
banyak calon konsumen. Aplikasi Grab-food sekarang
ini semakin banyak digunakan oleh masyarakat seiring dengan meningkatnya
kebutuhan untuk mendapatkan kemudahan dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan
aplikasi Grab-food pemilik usaha kuliner dapat
memanfaatkan teknologi dan memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat sekarang ini yang menginginkan segala sesuatu cepat dan mudah.
Berdasarkan
omzet pendapatannya, Foresthree Kota Baru termasuk
pada jenis UMKM dengan kriteria Usaha Mikro, dikarenakan menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 Pasal 35 Ayat 5, kriteria UMKM yang termasuk
Usaha Mikro yaitu usaha yang memiliki hasil penjualan tahunan sampai paling
banyak Rp. 2.000.000.000. Sedangkan Foresthree Kota
Baru memiliki hasil penjualan tahunan kira-kira sebesar Rp. 1.800.000.000. Berdasarkan
hasil survey penulis melalui wawancara dengan pemilik
kafe, dengan terdaftarnya Foresthree ke Grab-food sangat membantu Foresthree
untuk membuat promosi lebih mudah. Karena dengan adanya pembatasan sosial dan
ditambah lagi dengan berubahnya kebiasaan konsumen milenial
yang ingin semua serba praktis. Biasanya konsumen yang menggunakan aplikasi
penjualan online ada beberapa pertimbangan
untuk membeli produk yang diinginkan, yaitu jarak, harga, promo, dan rating.
Tabel
1
Pendapatan penjualan Foresthree
pada Grab-food
|
No. |
Bulan |
Pendapatan
penjualan Grab-food |
|
1. |
Januari
2021 |
Rp. 1. 444.000 |
|
2. |
Februari
2021 |
Rp. 1. 523.000 |
|
3. |
Maret 2021 |
Rp. 3. 742.000 |
|
4. |
April 2021 |
Rp. 6.693.000 |
|
5. |
Mei 2021 |
Rp. 12.000.000 |
Sumber:
(Supriatna, Mulyana,
& Utari, 2021)
Berdasarkan
uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan dengan judul “Analisis Penjualan Online melalui Merchant Grab-food terhadap
Peningkatan Omzet (Studi pada Foresthree Kota Baru,
Kota Jambi”.
Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menganalisis peningkatan omzet pada Foresthree
di Kota Jambi saat bermitra dengan Grab-Food.
A.
Omzet Penjualan
Menurut Chaniago (Wulansari,
2015),
omzet penjualan adalah keseluruhan jumlah pendapatan yang didapat dari hasil
penjualan suatu barang/jasa dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan menurut (Wulansari,
2015),
omzet penjualan adalah keseluruhan jumlah penjualan barang/jasa dalam kurun
waktu tertentu, yang dihitung berdasarkan jumlah uang yang diperoleh. Seorang
pengelola usaha dituntut untuk selalu meningkatkan omset penjualan dari hari ke
hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Hal
ini diperlukan kemampuan dalam mengatur modal terutama modal kerja agar
kegiatan operasional perusahaan dapat terjamin kelangsungannya. Menurut (Amelia
& LP3M, 2019),
istilah penjualan sering disalah artikan dengan istilah pemasaran, bahkan
ironisnya ada yang menganggap sama pengertian antara penjualan dengan
pemasaran. Kesalahpahaman tidak hanya pada praktik penjualan tetapi juga pada
struktur organisasi perusahaan.
Pada hakekatnya
kedua istilah tersebut memiliki arti dan ruang lingkup berbeda. Pemasaran memiliki
arti yang lebih luas meliputi berbagai fungsi perusahaan, sedangkan penjualan
merupakan bagian dari kegiatan pemasaran itu sendiri. Dengan demikian penjualan
tidak sama dengan pemasaran. Adanya penjualan dapat tercipta suatu proses
pertukaran barang atau jasa antara penjual dengan pembeli. Didalam
perekonomian kita (ekonomi uang), seseorang yang menjual sesuatu akan
mendapatkan imbalan berupa uang. Dengan alat penukar berupa uang, orang akan
lebih mudah memenuhi segala keinginannya dan penjualan menjadi lebih mudah
dilakukan. Jarak yang jauh tidak menjadi masalah bagi penjual. Faktor-faktor
yang mempengaruhi penjualan praktek kegiatan
penjualan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah :
1)
Kondisi dan Kemampuan Penjual
2)
Kondisi Pasar
3)
Modal
4)
Kondisi Organisasi Perusahaan
5)
Faktor Lain seperti:
periklanan, peragaan, kampanye, pemberian hadiah, yang sering mempengaruhi
penjualan.
B.
Penjualan Online
Menurut Kalakota
dan Whinston (Wulansari,
2015),
mendefinisikan penjualan online atau yang
disebut juga e-commerce dari beberapa
perspektif berikut:
1)
Perspektif komunikasi: e-commerce merupakan pengiriman informasi,
produk/layanan, atau pembayaran melalui lini telepon, jaringan komputer atau
sarana elektronik lainnya.
2)
Perspektif proses bisnis: e-commerce merupakan aplikasi teknologi menuju otomisasi transaksi dan aliran kerja perusahaan.
3)
Perspektif layanan: merupakan
salah satu alat yang memenuhi keinginan perusahaan, konsumen dan manajemen
dalam memangkas service cost
ketika meningkatkan mutu barang dan kecepatan pelayanan.
4)
Perspektif online:
e-commerce berkaitan dengan kapasitas jual
beli produk dan informasi di internet dan jasa online
lainnya.
Menurut (Efriyanti,
Garaika, & Irviani, 2018),
dalam dunia modern ini, electronic commerce telah memberikan pengaruh yang besar terhadap
pertumbuhan tata sosial dan ekonomi masyarakat. Electronic commerce telah menjadi bagian terpenting dari sektor
bisnis khusus dan umum. Hal ini memang diakui karena dengan adanya electronic commerce
ini, biaya operasional bisa dikurangi agar bisa bersaing dan berjuang dengan
semakin banyaknya permintaan yang mengharuskan pelayanan yang cepat dan akurat.
Jadi dapat disimpulkan e-commerce merupakan
transaksi yang dilakukan menggunakan media internet antara organisasi dan
organisasi maupun organisasi dan konsumen. E-commerce
juga telah menjadi bagian terpenting dari sektor bisnis baik khusus maupun
umum.
METODE PENELITIAN
Bentuk penelitian yang
digunakan penulis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan
menggunakan pendekatan kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif.
Peneliti ingin mendeskripsikan atau menggambarkan tentang karakteristik
individu dan
situasi
kelompok. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada
filsafat postpositivisme, digunakan untuk
meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen)
di mana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data bersifat
induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pemahaman
makna, dan mengkonstruksi fenomena dari pada
generalisasi. Sedangkan penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian
yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang
ada. Penelitian ini dilakukan di Foresthree Kota Baru
yang berlokasi di Jalan Blekok Raya No. 9, Kota Jambi. Penelitian ini
dilaksanakan mulai bulan Maret 2021 sampai dengan bulan Juni 2021.
Ada 2 jenis data yang
digunakan peneliti dalam penelitian ini, yaitu internal dan eksternal. Data
internal adalah data yang didapatkan peneliti dari dalam organisasi/institusi
yang di teliti. Data internal yang akan digunakan oleh peneliti berasal dari
manajemen Foresthree Kota Baru yang berhubungan
dengan strategi pemasaran yang sedang berjalan sekarang. Data akan didapatkan
melalui wawancara dengan informan dan juga catatan penjualan melalui merchant Grab-food. Data
eksternal adalah data yang didapatkan peneliti dari luar organisasi/institusi
yang diteliti. Data eksternal yang akan digunakan peneliti didapat dari
jawaban-jawaban responden mengenai keinginan konsumen yang sebelumnya sudah
disebarluaskan. Jawaban-jawaban dari kuesioner ini kemudian akan menjadi data
perbandingan untuk data internal yang sudah didapatkan sebelumnya.
Sedangkan sumber data yang
digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer didapatkan melalui 2 cara yaitu wawancara secara langsung
dengan memberikan pertanyaan kepada informan kunci yaitu kepada pemilik dari Foresthree Kota Baru dan juga dengan kuesioner yang
disebarkan kepada 30 orang yang menjadi informan pendukung, yaitu konsumen Foresthree Kota Baru yang pernah melakukan transaksi melalui merchant
Grab-food. Tujuan dari adanya penyebaran kuesioner
adalah hanya untuk melihat rata-rata jawaban dari para konsumen Foresthree Kota Baru mengenai hal-hal apa yang sebenarnya
diinginkan oleh konsumen. Data sekunder untuk penelitian ini akan didapatkan
peneliti melalui dokumentasi. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang
sudah berlalu dalam bentuk tulisan, gambar, atau karya monumental seseorang.
Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan catatan riwayat penjualan online untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk
analisis.
Informan yang ditentukan dalam
penelitian ini dibedakan menjadi 3, yaitu informan kunci, informan utama dan
informan pendukung. Informan kunci adalah informan yang memiliki informasi
secara menyeluruh tentang permasalahan yang diangkat oleh peneliti, pada
penelitian ini peneliti menetapkan bahwa informan kunci pada penelitian ini
adalah Fernando selaku owner Foresthree Kota Baru, Kota Jambi. Informan Utama adalah
orang yang mengetahui secara teknis dan detail tentang masalah penelitian yang
akan dipelajari, dan peneliti menentukan bahwa yang menjadi informan utama
adalah karyawan Foresthree Kota Baru, Kota Jambi.
Peneliti juga menambahkan informan pendukung untuk mendapatkan data eksternal
yang akan digunakan sebagai pembanding dan pelengkap data yang dibutuhkan
karena sejatinya informan pendukung adalah orang yang dapat memberikan
informasi tambahan sebagai pelengkap analisis dan pembahasan dalam penelitian
kualitatif. Adapun informan pendukung yang ditetapkan peneliti adalah konsumen Foresthree Kota Baru yang pernah melakukan transaksi
melalui merchant Grab-food
sebanyak 30 orang.
Melalui pengumpulan data
proses pencatatan terhadap peristiwa, keterangan, dan hal-hal yang berkaitan
dengan subjek penelitiannya dapat digunakan untuk mendukung penelitian yang
dilakukan. Metode atau teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dapat
dilakukan dengan cara wawancara dan kuesioner. Analisis data yang digunakan
adalah metode deskriptif analitik, yaitu mendeskripsikan data yang dikumpulkan
berupa kata-kata, gambar dan bukan angka. Data yang berasal dari naskah,
wawancara, catatan lapangan, dokumen dan sebagainya, kemudian dideskripsikan
sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Strategi Pemasaran pada Foresthree Kota Baru
Berdasarkan hasil penelitian, Foresthree
Kota Baru mampu menggunakan produk berkualitas bagi pelanggan. Dilihat dari
konsumen yang memiliki produk andalan setiap saat melakukan pemesanan produk Foresthree melalui Grab-food. Foresthree Kota Baru juga memiliki berbagai macam pilihan
produk yang ditawarkan, sehingga konsumen dapat menyesuaikan seleranya pada
pemesanan produk Foresthree. Produk yang ditawarkan
juga relativ makanan ringan dan minuman yang cocok
untuk dikonsunsi saat bersantai. Juga dari segi
pelayanan Foresthree mampu dengan sigap untuk
menanggapi keluhan dari konsumen.
Harga yaitu jumlah yang harus disiapkan oleh konsumen
yang ingin mendapatkan barang atau jasa. Dalam menetapkan harga, perusahaan
dapat menggunakan empat pendekatan yaitu: market based pricing, cost based pricing,
competition based pricing, value based pricing. Untuk penentuan
harga, Foresthree Kota Baru lebih menggunakan konsep market based pricing
yaitu penetapan harga berdasarkan pertimbangan seperti selera, nilai dan citra
yang dirasakan, tingkat persaingan pasar, dan siklus hidup produk. Jadi,
perusahaan memberikan bobot variabel secara lebih signifikan daripada biaya.
Harga yang Foresthree Kota Baru tawarkan tidak jauh
berbeda dari harga yang ditawarkan pesaing serupa. Begitu juga yang Foresthree Kota Baru tetapkan pada penentuan harga pada merchant Grab-food. Foresthree Kota Baru menaikkan harga produk signature pada Grab-food sebesar
30% dikarenakan Grab menetapkan fee
per produk sebesar 30%. Namun, Foresthree Kota Baru
juga menawarkan promo potongan harga dengan minimum pembelian dan waktu
tertentu sehingga konsumen tidak terlalu dikenakan harga yang terlalu tinggi.
Tempat sebagai kumpulan dari organisasi-organisasi yang
independen, yang membuat suatu barang atau jasa menjadi tersedia sehingga
pelanggan dapat menggunakan atau mengkonsumsi barang
atau jasa tersebut bisa merupakan pelanggan individu ataupun pelanggan bisnis.
Ketersediaan dalam elemen tempat dapat diartikan menjadi beberapa hal yaitu:
kenyamanan, keberadaan, variasi, hemat tempat dan waktu. Berdasarkan hasil
penelitian, Foresthree Kota Baru yang berlokasi di
Jalan Blekok Raya No. 9, Kota Jambi dinilai cukup strategis dikarenakan
banyaknya konsumen yang datang (dine in)
maupun memesan produk melalui Grab-food. Salah satu
pertimbangan konsumen untuk memesan produk melalui Grab-food
adalah jarak / ongkos kirim yang ditawarkan Grab-food.
Konsumen juga menilai lokasi Foresthree Kota Baru
nyaman untuk mengerjakan tugas / belajar maupun untuk berkumpul bersama orang
terdekat. Lokasi Foresthree Kota Baru juga menyediakan
outdoor yang cukup besar, sehingga lebih aman
pada masa pandemi seperti sekarang.
Promosi dianggap sebagai bentuk pencampuran dari berbagai
unsur kelengkapan yang termasuk dalam media promosi. Kelengkapan komunikasi
pemasaran yang digunakan untuk mengkomunikasikan secara meyakinkan nilai
pelanggan. Mengkomunikasikan hasil dari olahan kelengkapan komunikasi yang
digunakan untuk membangun hubungan baik dengan pelanggan. Foresthree
Kota Baru melakukan strategi promosi produk yang dimana
promosinya lebih mengutamakan pendekatan pada media internet dan personil yang
terlibat didalam promosi tersebut. Seperti rutin
menawarkan promo, diskon, dan lain lain dan
menyebarkan informasi tersebut melalui sosial media dan juga pada timeline Grab-food.
Strategi ini dinilai berhasil karena mengundang banyak konsumen untuk melakukan
pemesanan produk Foresthree terutama pada aplikasi Grab-food.
B. Penjualan online melalui merchant
Grab-food terhadap peningkatan omzet pada Foresthree Kota Baru
Penjualan online atau
pemasaran digital sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemasaran
tradisional. Keduanya harus berdampingan dengan masing-masing peran pada
penjualan. Pada awal interaksi, pemasaran tradisional memiliki peran utama
dalam membangun minat konsumen. Sedangkan peran terpenting pada pemasaran
digital untuk lebih mendorong tindakan. Pemasaran digital sendiri dianggap
lebih akuntabel daripada pemasaran tradisional, dan
fokus pemasaran tradisional adalah mengusahakan interaksi konsumen. Pada Foresthree Kota Baru sendiri, memadukan interaksi pemasaran
dan penjualan melalui offline dan juga online. Pada penjualan offline
sendiri, Foresthree Kota Baru menyediakan lokasi dan
tempat yang nyaman untuk disinggahi, sekaligus menjadi tempat Foresthree untuk menyiapkan dan menyediakan produk yang
ditawarkan. Sponsor-sponsor yang didapat seperti Sampoerna, juga diaplikasikan
pada lokasinya. Pada penjualan online, Foresthree Kota Baru memanfaatkan merchant
yang ada salah satunya Grab-food. Konsumen yang
melakukan pemesanan pada Grab-food melalui aplikasi Grab yang dihubungkan langsung ke Foresthree
Kota Baru melalui driver Grab
sebagai perantara. Kemudian, Foresthree menyiapkan
produk yang dipesan dengan kemasan yang aman untuk dibawa pada perjalanan.
Kemudian driver Grab
mengantarkan produk kepada konsumen. Pada metode pembayaran juga Grab-food menawarkan 2 pilihan, yaitu melalui pembayaran online (OVO) dan pembayaran cash
pada driver (driver
membayarkan harga total pemesanan kepada pihak store,
kemudian konsumen menggantinya saat pesanan diantarkan).
Pada dasarnya, Foresthree Kota
Baru memanfaatkan segala sarana pemasaran terutama pemasaran digital seperti bekerjasama dengan e-commerce,
marketplace, endorsement,
dan lain-lain. Semakin lama jaman semakin maju, mau tidak mau segala sektor
harus menyesuaikan keadaan. Grab tidak hanya
menawarkan jasa antar-jemput barang namun juga menjadi salah satu strategi
pemasaran bagi pelaku usaha. Strategi yang diterapkan Grab-food
sendiri adalah menampilkan toko-toko makanan dan minuman yang bekerjasama dengan Grab sesuai
dengan jenis makanan dan minuman yang mereka tawarkan. Berdasarkan survey yang peneliti lakukan terhadap konsumen Foresthree, alasan konsumen untuk memilih menggunakan Grab-food sebagai aplikasi dalam pemesanan produk Foresthree dikarenakan tidak perlu keluar rumah dan juga
banyak promo yang ditawarkan pada hari/waktu tertentu. Dan juga harga yang terjangkau
dan rasa yang enak menjadi alasan konsumen untuk memilih produk Foresthree. Hal ini dapat memperkuat bahwa strategi yang Foresthree terapkan yaitu mengutamakan kualitas dan
kenyamanan adalah benar. Konsumen juga lebih suka memesan produk yang sudah
pernah dipesan sebelumnya. Dan kebanyakan konsumen menghabiskan sebesar Rp.
50.000 – Rp. 100.000 dalam sebulan untuk pemesanan produk Foresthree
Kota Baru.
Strategi promosi yang diterapkan Foresthree
Kota Baru sendiri yaitu promo-promo ditawarkan langsung dari Forestree Pusat walaupun tidak semua promo harus diterapkan
(kecuali promo-promo wajib) sehingga Forestree cabang
bisa menyesuaikan dengan kondisi penjualan mereka. Seperti contoh Foresthree mendapatkan sponsor dari Sampoerna, dana dari
sponsor tersebut Foresthree alokasikan sebagai
promo-promo untuk konsumen seperti promo ditiap hari senin, dan di hari lain. Grab-food
sendiri mematokkan fee perproduk
yang ditawarkan pelaku usaha sebesar 30%. Foresthree
menaikkan harga untuk produk-produk signature
yang mana membutuhkan modal lebih besar dan menawarkan harga normal atau sama
dengan outlet untuk produk-produk basic seperti Kopi Susu karena modal yang dibutuhkan
tidak terlalu besar. Dengan begitu biaya Grab-food
yang Foresthree Kota Baru bayarkan sudah tertutupi
dari penjualan melalui Grab-food sendiri.
Berdasarkan wawancara dengan pihak Foresthree
Kota Baru dan survei kepada konsumen Foresthree,
ditambah diperkuat dengan data penjualan Grab-food
pada Foresthree, penjualan online
yang dilakukan Foresthree Kota Baru melalui merchant Grab-food
berhasil meningkatkan omzet dan membantu Foresthree
untuk mencapai target penjualan kurang lebih sebesar 20%. Target penjualan yang
ditetapkan Foresthree sendiri sebesar Rp. 150.000.000
perbulan dan penjualan yang didapat dari merchant Grab-food bisa mencapai
Rp. 12.000.000 perbulan dan disetiap
bulan meningkat.
Dengan
meningkatnya omzet penjualan biasanya tidak selalu mempengaruhi peningkatan
pendapatan pula. Perlu dilihat juga dari modal ataupun upaya-upaya yang
dilakukan guna meningkatkan omzet. Contohnya seperti melakukan promosi dengan
mengeluarkan modal yang cukup besar. Namun, peningkatan omzet pada Foresthree Kota Baru penjualan online
melalui Grab-food sendiri cukup meningkatkan
pendapatan pula, karena fee yang dikenakan oleh Grab-food sudah tertutupi melalui harga jual yang Foresthree Kota Baru tawarkan pada konsumen melalui Grab-food. Ditambah lagi dengan adanya masa pandemi seperti
sekarang dan peraturan pemerintah yang membatasi kuota konsumen pada store, membuat konsumen beralih melakukan pemesanan
produk melalui online.
C. Relevansi Pemasaran 4.0 dengan
Penjualan Online pada Masa Pandemi
Menurut (Kotler, Kartajaya, &
Setiawan, 2019), pemasaran 4.0 atau marketing 4.0 adalah pendekatan pemasaran yang
menggabungkan interaksi online dan offline antara perusahaan dan pelanggan. Dalam ekonomi
digital, interaksi online saja tidak cukup, harus
dibarengi dengan interaksi offline yang cukup
penting. Pada pemasaran 4.0 mengangkat konektivitas mesin-ke-mesin dan
kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas pemasaran dengan
konektivitas manusia-ke-manusia untuk memperkuat keterlibatan konsumen. Pelaku
usaha tentu juga perlu mulai beradaptasi dengan pemasaran 4.0 juga, tidak hanya
pada pemasaran tradisional saja. Pelaku usaha perlu mencari cara agar dapat
bersaing dengan usaha pesaing serupa. Dengan bekerjasamanya
pelaku usaha dengan instansi besar seperti Grab,
Gojek, Shopee, dan sebagainya juga membangun
kepercayaan kepada konsumen terhadap pelaku usaha tersebut. Hal tersebut
tentunya menambah nilai plus dari pemasaran online
sendiri.
Pada masa pandemi sekarang, hampir semuanya dibatasi.
Dari mulai pembatasan sosial (physical distancing), pembatasan kuota konsumen pada store, protokol-protokol kesehatan yang ditetapkan
pemerintah diperketat, membuat pelaku usaha harus mencari cara lagi untuk
mempertahankan usahanya. Dengan memanfaatkan pemasaran online,
tentu pelaku usaha dapat menjangkau konsumen tanpa harus bertatap muka dan juga
menjadi alternatif untuk pelaku usaha bisa tetap bertahan. Grab-food
menjadi salah satu cara untuk pelaku usaha terutama Foresthree
Kota Baru untuk bertahan pada masa pandemi seperti sekarang ini. Dengan
terbatasnya konsumen untuk datang langsung untuk memesan produk Foresthree, dengan adanya Grab-food
menjadikan alternatif lain untuk konsumen agar tetap bisa menikmati produk Foresthree dan begitu juga sebaliknya.
KESIMPULAN
Amelia, Ratih, & LP3M, Politeknik Unggul. (2019).
Pengaruh aplikasi GoFood terhadap peningkatan penjualan Mochitalk Plaza Medan
Fair. Jurnal Ilmiah Bisnis Dan Ekonomi Asia, 13. Google Scholar
Calix, Ricardo A.,
Singh, Sumendra B., Chen, Tingyu, Zhang, Dingkai, & Tu, Michael. (2020).
Cyber security tool kit (CyberSecTK): A Python library for machine learning and
cyber security. Information, 11(2), 100. Google
Scholar
Efriyanti, Mery,
Garaika, Rita Irviani, & Irviani, Rita. (2018). Analisis Implementasi
Electronic Commerce Untuk Meningkatkan Omset Penjualan Butik Mery Berbasis Web
Mobile. Jurnal Signaling, 7(2), 45–51.
Google Scholar
Kotler, Philip,
Kartajaya, Hermawan, & Setiawan, Iwan. (2019). Marketing 4.0: Bergerak
dari Tradisional ke Digital. Gramedia Pustaka Utama. Google
Scholar
Supriatna, Supriatna, Mulyana, Mumuh, & Utari, Wulandari Dwi. (2021). Evaluasi Kelompok Referensi Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Konsumen Foresthree Coffee. Jurnal Ilmiah Pariwisata Kesatuan, 2(2), 61–70. Google Scholar
Wulansari, Dya Ayu.
(2015). Pengaruh penjualan online terhadap omzet penjualan butik zieta desa
sewulan kec. Dagangan Kab. Madiun. EQUILIBRIUM: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan
Pembelajarannya, 3(2). Google Scholar
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |
*note
Secara keseluruhan penelitian ini sudah baik tetapi masih perlu
ditambahkan sumber rujukan