JOSR: Journal of Social Research
Mei 2022, 1 (5), 500-506
p-ISSN: 2827-9832 e-ISSN:2828-335x
Available online at http:// https://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
http://ijsr.internationaljournallabs.com/index.php/ijsr
729
ANALISIS PENINGKATAN PEMBELIAN SAHAM OLEH MILENIAL
KOTA MEDAN PADA SAAT PANDEMI COVID-19
Khairunnisa Nasri, Onan Marakali Siregar
Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia
khairunnisanasri275@yahoo.com, onan@usu.ac.id
Abstrak
Received:
Revised :
Accepted:
01 Mei 2022
10 Juni 2022
20 Juni 2022
Latar Belakang : Analisa pasar saham memprediksi
pengaruh negatif dari pandemi saat ini terhadap pasar saham,
akan tetapi terjadi peningkatan pembelian saham yang
mematahkan perkiraan analisa saham. Peningkatan
pembelian saham meningkat dan secara demografi investor
yang melakukan pembelian saham saat Pandemi COVID-19
adalah generasi milenial.
Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menganalisa bagaimana terjadinya peningkatan pembelian
saham oleh milenial Kota Medan pada saat Pandemi
COVID-19.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif
dengan pendekatan kualitatif.
Hasil : Hasil penelitian ini adalah investor milenial mulai
melihat adanya peluang keuntungan berinvestasi dan mulai
adanya kesadaran pentingnya berinvestasi untuk
menghindari ketidakpastian yang terjadi seperti pandemi
COVID-19 saat ini.
Kesimpulan : Sebagai generasi milenial yang dekat dengan
teknologi sangat mudah untuk mencari informasi mengenai
risiko yang dihadapi sehingga bisa dapat miminimalisir
risiko yang didapat. Investor milenial pun melakukan analisis
sebelum memutuskan untuk membeli saham untuk
menghindari capital loss.
Kata Kunci : Investor Milenial; Kota Medan; Pembelian
Saham.
Abstract
Background: Analisa pasar saham memprediksi pengaruh
negatif dari pandemi saat ini terhadap pasar saham, akan
tetapi terjadi peningkatan pembelian saham yang
mematahkan perkiraan analisa saham. Peningkatan
pembelian saham meningkat dan secara demografi investor
yang melakukan pembelian saham saat Pandemi COVID-
19 adalah generasi milenial.
Objectives: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menganalisa bagaimana terjadinya peningkatan pembelian
saham oleh milenial Kota Medan pada saat Pandemi
COVID-19.
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
730
Methods: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif
dengan pendekatan kualitatif.
Results: Hasil penelitian ini adalah investor milenial mulai
melihat adanya peluang keuntungan berinvestasi dan mulai
adanya kesadaran pentingnya berinvestasi untuk
menghindari ketidakpastian yang terjadi seperti pandemi
COVID-19 saat ini.
Conclusion: Sebagai generasi milenial yang dekat dengan
teknologi sangat mudah untuk mencari informasi mengenai
risiko yang dihadapi sehingga bisa dapat miminimalisir
risiko yang didapat. Investor milenial pun melakukan
analisis sebelum memutuskan untuk membeli saham untuk
menghindari capital loss..
Keywords: Investor Milenial; Kota Medan; Pembelian
Saham.
*Correspondent Author : Khairunnisa Nasri
Email : khairunnisanasri275@yahoo.com
PENDAHULUAN
Pada negara-negara maju, masyarakatnya memiliki orientasi finansial berjangka
panjang atau dalam kategori investing society (investasi) sehingga kesadaran akan
pengelolaan keuangan mereka sudah sedemikian besarnya hingga mampu menyisihkan
30% pendapatannya untuk investasi, sedangkan Indonesia yang termasuk dalam negara
berkembang mayoritas masyarakatnya baru memiliki orientasi finansial berjangka pendek
yaitu, di kategori saving society (menabung) (Pajar & Pustikaningsih, 2017). Melihat
fenomena orientasi finansial masyarakat Indonesia, PT. Bursa Efek Indonesia (BEI)
melakukan kampanye “Yuk Nabung Saham” yang mulai di sosialisasikan secara meluas
sejak 2015. Kampanye ini bertujuan untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat mengganti
orientasi finansial menjadi jangka panjang dan memanfaatkan industri keuangan yang ada
untuk berinvestasi, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia (Hogan, 2017).
Memilih kata “Nabung” dari pada kata “Investasi” dalam kampanyenya, BEI berusaha
menghilangkan persepsi investasi mahal, butuh uang banyak dan hanya untuk orang
berpunya, dan dengan menggunakan kata “Nabung” maka dapat diterima oleh lapisan
masyarakat untuk berinvestasi dalam waktu jangka panjang. Meskipun banyak tantangan
dalam kampanye ini tetapi setiap tahun BEI berhasil meningkatkan jumlah investor di setiap
tahunnya terutama pada investasi saham, hal ini mengacu pada tabel 1.
Tabel 1
Jumlah Investor 2018-2019
Tahun
Jumlah Investor
2018
1.619.372
2019
2.484.358
Sumber: KSEI dan OJK (2019)
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah investor dan
investor saham menjadi investor mayoritas di intrumen investasi keuangan yang
menandakan peminat investasi saham banyak dan lebih populer dari instrumen investasi
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
Implementasi Anggaran Kesehatan Di Bidang Kesehatan Sesuai Dengan Spm (Standar
Penilaian Minimal)
731
keuangan lainnya. Menurut Dani, alasan populernya investasi saham dibandingkan
instrumen keuangan lainnya adalah berinvestasi saham bisa memberikan return yang paling
agresif dan menarik diantara instrumen investasi lainnya. Keuntungan berinvestasi saham
bukan hanya dari sisi return dana tetapi yang perlu dikeluarkan juga relatif terjangkau
tergantung saham apa yang mau dibeli. Peningkatan jumlah investor juga mempengaruhi
pembelian saham yang meningkat, hal ini mengacu pada tabel 2.
Tabel 2
Pembelian Saham
2015-2019
Tahun
Volume (Juta)
Nilai (Rp M)
Frekuensi (Ribu)
2015
933.022,35
1.035.087,77
53.952,86
2016
1.305.398,24
1.221.579,71
64.841,57
2017
1.829.770,28
1.252.916,33
74.205,38
2018
1.706.969,13
1.509.987,20
92.631,39
2019
2.434.308,27
1.631.629,46
114.182,77
Sumber: OJK (2019)
Berdasarkan tabel 2 terjadi peningkatan pembelian saham dari tahun 2015 2016
baik secara volume, nilai maupun frekuensi yang sejalan dengan peningkatan jumlah
investor saham pada tabel 1. Peningkatan ini membuktikan keberhasilan kampanye BEI
untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan
merebaknya virus baru yaitu Coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya
disebut Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Asal mula virus ini diduga berasal dari
Wuhan, Tiongkok ini ditemukan pada akhir Desember tahun 2019. Sampai saat ini sudah
dipastikan terdapat 217 Negara yang telah terjangkit virus satu ini dan dengan jumlah kasus
212,6 Juta. Sejak pasien pertama COVID-19 di Indonesia dikonfirmasi awal Maret 2020,
transaksi perdagangan di pasar saham mengalami fluktuatif. Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) terus mengalami fluktuatif selama pandemi COVID-19 terutama pada
awal masuknya COVID-19 ke Indonesia, hal ini mengacu pada tabel 3.
Tabel 3
Pergerakan IHSG Maret Mei 2020
Bulan
IHSG
Terendah
IHSG
Tertinggi
IHSG Akhir
Maret 2020
3.937,632
5.650,136
4.538,930
April 2020
4.460,037
4.811,827
4.716,403
Mei 2020
4.507,607
4.753,612
4.753,612
Sumber: OJK (2020)
Berdasarkan tabel 3 terdapat data IHSG yang fluktuatif saat awal pandemi COVID-
19 bahkan IHSG terendah mencapai 3.937,632 menggambarkan bagaimana transaksi
perdagangan saham mengalami fluktuatif dan akan berpengaruh pada semakin menurunnya
tingkat pembelian saham. Keadaan ini dapat dikategorikan sebagai peristiwa bencana yang
tidak terduga dan menurut Arin et al. (Ngwakwe, 2020) ketika peristiwa bencana tidak
terduga terjadi, investor keuangan dipaksa untuk keluar dari pasar yang tidak stabil, mencari
keuangan yang lebih stabil. Selama pandemi ini tetap berlangsung maka meningkat atau
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
732
tidaknya volatilitas pasar keuangan dapat dilihat dari peningkatan jumlah kasus COVID-19
dikarenakan besarnya volatilitas setara dengan parahnya wabah setiap negara (Ngwakwe,
2020).
COVID-19 telah mempengaruhi banyak hal, tidak hanya mempengaruhi kesehatan
dan cara hidup manusia tetapi juga ekonomi dan pasar saham dapat dilihat dari IHSG yang
menyentuh angka terendah. Kehancuran pasar saham tidak dapat dihindari akibat COVID-
19. Banyak bisnis-bisnis ditutup/bangkrut, pengangguran melonjak, kemiskinan meningkat,
dan rasa ketakutan melanda banyak investor sehingga banyak investor menjual saham yang
dimilikinya sehingga harga saham anjlok di seluruh bursa saham global. Pandemi seperti
ini menimbulkan guncangan eksternal pada pasar saham, yang menggagalkan tren ekonomi
ideal dan karena itu menyebabkan perubahan mendadak pada sentimen pasar (Ngwakwe,
2020). Tetapi pada penghujung tahun 2020 didapat data pembelian saham yang berbeda
dengan prediksi para analisa saham mengenai keadaan pasar modal saat pandemi COVID-
19. Menurut data OJK pada Desember 2020, pembelian saham selama pandemi COVID-19
secara frekuensi meningkat 43,4% menjadi 163.801,81dan secara nilai meningkat 12,5%
menjadi 1.842.583,56. Peningkatan pembelian saham ini pun sejalan dengan peningkatan
jumlah investor saham selama pandemi COVID-19 berdasarkan data OJK pada Desember
2020 sebanyak 1,6 juta, jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 54,3% jika
dibandingkan Desember 2019 yang sebesar 1,07 juta. Peningkatan pembelian saham ini
tidak lepas dari peran investor milenial yang mana investor milenial masih tetap sebagai
investor yang mendominasi pasar modal, hal ini mengacu pada tabel 4.
Tabel 4
Demografi Investor Berdasarkan Usia 2019-2020
Usia
2019
2020
< 30 Tahun
44,65%
54,79%
31 40 Tahun
24,43%
22,55%
41 50 Tahun
16,42%
11,91%
51 60 Tahun
9,62%
6,56%
> 60 Tahun
4,88%
4,19%
Sumber: KSEI (2020)
Berdasarkan tabel 4 investor milenial dengan rnge umur < 30 Tahun 42 Tahun
meningkat 8,26% dari tahun 2019 yang sebanyak 69,08% menjadi 77,34% di tahun 2020.
Investor milenial yang semakin mendominasi pasar modal dan dapat dilihat berdasarkan
data diatas investor milenial dengan range usia < 30 Tahun yang mengalami peningkatan.
Menurut Paramita (Nasution, 2021) fenomena peningkatan pembelian saham yang di
dominasi oleh investor milenial ini mungkin bisa di sebabkan oleh banyaknya waktu luang
yang dimiliki oleh milenial yang membuat mereka mencari berbagai informasi terutama
informasi yang banyak dicari adalah seputar investasi saham dan membuat meningkatnya
kesadaran milenial terkait berinvestasi, milenial akhirnya mau belajar dan berminat untuk
melakukan investasi. Informasi mengenai saham pun dapat mudah di dapat oleh milenial
mengingat milenial adalah generasi yang lekat dengan teknologi dan media sosial.
Kemungkinan lain yang menyebabkan terjadinya peningkatan pembelian oleh milenial
selama pandemi ini adalah karena harga saham saat ini cukup terjangkau dan sesuai dengan
budget investor milenial. Peningkatan pembelian saham oleh milenial pun terjadi di
beberapa kota di Indonesia salah satunya adalah Kota Medan yang menurut data OJK
merupakan kota dengan jumlah investor terbanyak urutan ke-9 di Indonesia dan menjadi
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
Implementasi Anggaran Kesehatan Di Bidang Kesehatan Sesuai Dengan Spm (Standar
Penilaian Minimal)
733
kota urutan pertama di Pulau Sumatera. Pembelian saham dan jumlah investor Kota Medan
saat pandemi COVID-19 menigkat signifikan dari tahun 2019 baik secara jumlah SID
maupun nilai pembelian saham Kota Medan, hal ini mengacu pada tabel 5.
Tabel 5
SID dan Nilai Transaksi Pembelian Saham Kota Medan 2019-2020
Tahun
SID
Nilai Transaksi Pembelian Saham (Rp M)
2019
30.569
31.271,3
2020
48.183
66.028,08
Sumber: Data diolah dari OJK (2021)
Berdasarkan tabel 5 terlihat peningkatan signifikan baik jumlah SID, maupun nilai
transaksi pembelian saham di Kota Medan. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ini pun
terjadi di Kota Medan. Menurut (Nasution, 2021) jumlah investor milenial mendominasi
pasar saham di Kota Medan, pada tahun 2020 terdapat 27.258 investor milenial dan terus
meningkat sampai Juli 2021 sebanyak 64.052 investor milenial. Berdasarkan fakta ini
menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan diteliti oleh peneliti untuk mengetahui
bagaimana peningkatan pembelian saham yang terjadi saat pandemi COVID-19, terutama
Milenial yang berperan besar dalam peningkatan pembelian saham saat ini. Peneliti ingin
mengetahui bagaimana peningkatan pembelian saham oleh milenial pada saat pandemi
COVID-19 dan faktor-faktor apa yang menyebabkan milenial melakukan pembelian saham
saat pandemi COVID-19.
A. Definisi Saham
Menurut Mahyus (Suryanto, 2018) saham adalah surat bukti kepemilikan
perusahaan bagi setiap pemegang saham, yaitu turut serta memiliki aset-aset perusahaan
yang menerbitkan saham. Sehingga pemegang saham berhak untuk memperoleh bagian
pendapatan bersih perusahaan atau arus kas bebas (free cash flow). Menurut (I. Fahmi,
2013) Saham adalah tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana pada suatu
perusahaan dalam bentuk kertas yang tercantum dengan jelas nominal, nama perusahaan
dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya.
Saham juga diartikan sebagai sertifikat yang menunjukan bukti kepemilikan suatu
perusahaan serta pemegang saham memiliki hak dan klaim atas penghasilan dan aktiva
perusahaan. Harga sebuah saham sangat dipengaruhi oleh hukum permintaan dan
penawaran. Harga suatu saham akan cenderung naik apabila suatu saham mengalami
kelebihan permintaan dan cenderung turun jika terjadi kelebihan penawaran (Herry &
Khaerul, 2013).
B. Tujuan Investasi Saham
(Mustafa & Mahyus, 2017) mengatakan secara sederhana tujuan investor
melakukan investasi adalah untuk memperoleh hasil dalam ukuran keuangan yaitu
kesejahteraan moneter. Apabila kepentingan investor hanya sekedar menghasilkan
sejumlah uang di masa yang akan datang, hal itu dapat dihasilkan dengan cepat oleh
investor dengan menjual aset- aset riil milik perusahaan yang tidak produktif atau
menjual kendaraan pribadi yang jarang digunakan. Secara lebih khusus menurut
(Tandelilin, 2010) ada beberapa alasan atau tujuan mengapa seseorang melakukan
investasi, antara lain adalah mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik di masa
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
734
yang akan datang, mengurangi risiko inflasi, mengurangi ketidakpastian (uncertainty),
dorongan untuk penghematan pembayaran pajak.
C. Dasar Keputusan Investasi
Menurut (Mustafa & Mahyus, 2017) Setiap individu pada dasarnya tidak
menyukai atau enggan menanggung risiko, sehingga kebanyakan investor berupaya
untuk memperoleh imbal hasil yang rendah tanpa risiko atau memilih risiko yang paling
rendah. Perilaku investor seperti ini disebut dengan investor yang menghindari risiko
(risk averse). Sebaliknya terdapat pula investor yang disebutkan dengan investor yang
berani mengambil risiko (risk taker), yaitu investor yang berani berhadapan dengan
risiko (Lubis, Sadalia, Fachrudin, & Meliza, 2013).
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian bentuk deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengumpulan data untuk
memberikan gambaran atau penegasan terhadap suatu konsep atau gejala dan juga
menjawab pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan subjek penelitian. Informasi
informasi yang didapat melalui pendekatan kualitatif ini diperoleh dari investor milenial
Kota Medan dan informan dari PT. Bursa Efek Indonesia (BEI). Informan yang ditentukan
dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu informan kunci dan informan utama.
Informan kunci adalah informan yang memiliki informasi secara menyeluruh tentang
permasalahan yang diangkat oleh peneliti, pada penelitian ini peneliti menetapkan bahwa
informan kunci pada penelitian ini adalah generasi milenial sebanyak 32 orang untuk
wawancara terstruktur dan memilih 5 orang informan kunci untuk wawancara tak
berstruktur. Informan kunci ditetapkan dengan teknik purposive sampling dimana 32 orang
informan yang di pilih adalah generasi milenial yang merupakan investor yang melakukan
pembelian saham pada saat pandemi COVID-19. Informan utama adalah orang yang
menganalisis bagaimana terjadinya peningkatan pembelian saham oleh milenial pada saat
pandemi COVID-19 yaitu seorang pengamat.impulsif secara online pada mahasiswa di
Universitas Sumatera Utara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Wawancara Tak Berstruktur
1) Tujuan dan alasan pembelian saham oleh milenial saat pandemi COVID-19 adalah
adanya peluang keuntungan yang dilihat oleh milenial di media sosial saat pandemi
COVID-19 terutama influencer yang membuat konten mengenai investasi saham dan
memperlihatkan keuntungan dalam berinvestasi sehingga milenial yang melihat
keuntungan itu mulai mempelajari mengenai investasi saham dan melakukan
pembelian saham. Selain itu tujuan dan alasan lainnya adalah milenial memanfaatkan
momen turunnya harga beberapa sektor saham selama pandemi COVID-19 untuk
membeli saham. Hal ini dikarenakan milenial ingin mendapatkan keuntungan yang
lebih besar di masa yang akan datang dengan membeli saham yang harganya sedang
turun atau murah.
2) Risiko pembelian saham oleh milenial saat pandemi COVID-19 adalah capital loss,
hal ini disebabkan IHSG yang fluktuatif selama pandemi COVID-19 dan risiko pasar
juga dirasakan karena fluktuatif IHSG selama pandemi COVID-19 dan risiko pasar
menjadi salah satu faktor yang membuat peluang risiko capital loss semakin besar.
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
Implementasi Anggaran Kesehatan Di Bidang Kesehatan Sesuai Dengan Spm (Standar
Penilaian Minimal)
735
3) Saham yang di beli oleh milenial saat pandemi COVID-19 adalah saham sektor
finansial (BBCA, BBRI, dan BBNI), saham sektor teknologi (EMTK dan LUCK),
saham sektor perdagangan, jasa dan investasi (HEAL dan MLPL), saham sektor
infrastruktur, utilitas dan transportasi (PGAS dan FREN), saham sektor
pertambangan (ANTM dan ADRO), saham bluechip (UNVR dan ICBP), Saham
yang tren harga sahamnya naik, dan saham pada indeks saham luar negeri
(NASDQ100 dan GER30).
4) Beberapa tahapan keputusan pembelian saham oleh yang dilakukan milenial pada
saat pandemi COVID-19 adalah investor milenial lebih banyak Risk Taker dalam
mengambil keputusan, melakukan analisis sekuritas, menggunakan strategi
portofolio aktif, melakukan revisi dan evaluasi portofolio, tidak menggunakan
financial advisor, melihat sentimen pasar mengenai saham tersebut, memilih saham
yang banyak dibeli investor lainnya, mempertimbangkan harga saham dengan
keuntungannya, dan memilih saham pada emiten yang memiliki prospek keuangan
yang baik.
B. Hasil Wawancara Terstruktur
1) Investor milenial Kota Medan didominasi oleh laki-laki dibandingkan perempuan
dan didominasi rentang usia 21- 28 Tahun. Investor milenial Kota Medan didominasi
oleh investor yang memiliki status pekerjaan Pelajar/Mahasiswa dan investor dengan
status pekerjaan Pegawai Swasta dengan mayoritas pendidikan terakhir investor
milenial Kota Medan adalah S1 serta investor milenial Kota Medan paling banyak
berpenghasilan > Rp 5.000.000 dan yang paling sedikit berpenghasilan < Rp
1.000.000.
2) Tujuan investasi saham adalah melihat peluang keuntungan investasi, mendapat
kesejahteraan di masa depan, dapat mengurangi ketidakpastian yang akan terjadi, dan
dapat menghemat pembayaran pajak
3) Risiko investasi saham yang dirasakan milenial Kota Medan pada saat pandemi
COVID-19 adalah risiko tingkat bunga, risiko pasar, risiko bisnis, risiko finansial,
risiko nilai tukar (kurs), risiko inflasi, risiko perekonomian, risiko likuiditas, risiko
gagal bayar, risiko politik, dan risiko negara.
4) Jenis saham yang dibeli oleh milenial Kota Medan adalah saham sektor Consumer
Goods Industry, Property, Real Estate & Building Contruction, serta sektor Mining
dan Finance
5) Tahapan keputusan investasi saham oleh milenial Kota Medan adalah investor
milenial lebih banyak Risk Taker dalam mengambil keputusan, melakukan analisis
sekuritas, analisis teknikal dan fundamental sebelum memutuskan membeli saham
pada saat pandemi COVID-19, menggunakan strategi portofolio aktif,
memperhatikan kondisi pasar, memperhatikan pemilihan saham dalam strategi
portofolio, momentum harga dan kinerja keuangan saham, serta melakukan revisi
dan evaluasi kinerja portofolio.
6) Mayoritas investor milenial Kota Medan memiliki kinerja portofolio yang baik
selama membeli saham pada saat pandemi COVID-19 dan menjadi alasan untuk tetap
berinvestasi saham pada saat pandemi COVID-19.
C. Tujuan Pembelian Saham Oleh Milenial Kota Medan Pada Saat Pandemi COVID-
19
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
736
Wawancara terhadap informan kunci didapat hasil bahwa dominan jawaban
tujuan investor berinvestasi saat pandemi COVID-19 karena melihat peluang
keuntungan. Hal ini didukung dengan hasil wawancara terstruktur kepada investor
milenial di Kota Medan alasan yang paling banyak di pilih oleh investor milenial adalah
investor milenial melihat adanya peluang keuntungan investasi dengan persentase
56,25% dan selain itu investor milenial mulai sadar mengenai pentingnya berinvestasi
terlihat dari persentase alasannya sebesar 31,25%. Kesadaran investor milenial
mengenai pentingnya berinvestasi dan adanya peluang keuntungan pada investasi
menurut Trainer BEI ini dikarenakan himbauan untuk stay at home oleh pemerintah
yang menyebabkan banyaknya waktu luang. Karena waktu luang yang dimiliki, milenial
yang dikenal sebagai generasi yang aktif di media sosial pun mencari kegiatan yang
bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Selama pandemi COVID-19 banyak Influencer
yang membuat konten mengenai investasi dan hal ini menjadi salah satu alasan mengapa
para milenial mulai melirik investasi saham dan mulai menyadari pentingnya
berinvestasi.
Pernyataan ini pun didukung dengan hasil penelitian Eko et al., (2020) yang
menyatakan bahwa adanya pengaruh norma subjektif pada niat investasi investor
milenial. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 mengubah niat
berinvestasi investor pemula di Indonesia melalui norma subjektif dalam berinvestasi.
Dapat dijelaskan bahwa di masa pandemi, investor pemula di Indonesia lebih berhati-
hati dalam menginvestasikan uangnya di Bursa Efek Indonesia. Keputusan orang lain
mempengaruhi niat investasi mereka selama pandemi. Niat berinvestasi dikarenakan
penghematan pembayaran pajak sebanyak 59,4% investor milenial Kota Medan
menyetujui penghematan pajak pada investasi yang menjadi peluang keuntungan dalam
investasi. Trainer BEI mengatakan pembayaran pajak pada investasi saham sangatlah
minim, dikarenakan pembayaran pajak hanya dikenakan jika investor menjual
sahamnya. Berbeda dengan investasi lain seperti investasi properti yang akan mendapat
pajak tahunan. Hal ini pun menjadi salah satu alasan milenial melihat peluang
keuntungan di Investasi.
Selain keuntungan yang dilihat oleh investor milenial, kesadaran berinvestasi
pun ada karena melihat ketidakpastian ekonomi. Sebanyak 87,5% investor milenial Kota
Medan menyetujui hal tersebut. Ketidakpastian mengenai perekonomian yang
diakibatkan tidak terprediksikan kapan pandemi COVID-19 ini akan segera berakhir.
Tujuan utama dari investor milenial melakukan pembelian saham pada saat pandemi
COVID-19 dengan persentase 100% adalah meningkatkan kesejahteraan di masa yang
akan datang, hal ini dikarenakan untuk menghindari ketidakpastian yang mungkin akan
terjadi lagi di masa yang akan datang. Hal lain yang menjadi alasan 12,5% investor
milenial yang melakukan pembelian saham adalah harga saham yang turun/murah dan
mayoritas informan yang diwawancara pun menjadikan penurunan harga saham saat
pandemi COVID-19 sebagai alasan mereka membeli saham. Kenyataan ini pun
didukung dengan data IHSG terendah selama Tahun 2020 menyentuh level 3.937,632
pada awal pandemi COVID-19 di Indonesia yaitu Maret 2020. Kesempatan seperti ini
di manfaatkan oleh investor milenial agar bisa mendapat keuntungan lebih jika harga
saham kembali naik. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu dari (Posfay-Barbe et
al., 2020) yang hasil penelitiannya mengatakan bahwa saat pandemi COVID-19 adalah
saat yang paling tepat untuk berinvestasi/membeli saham dikarenakan banyak orang
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
Implementasi Anggaran Kesehatan Di Bidang Kesehatan Sesuai Dengan Spm (Standar
Penilaian Minimal)
737
menjual saham sehingga harga saham sangatlah murah. Terdapat beberapa alasan dan
tujuan membeli saham dari investor milenial, akan tetapi hal utama yang menjadi tujuan
milenial membeli saham saat pandemi COVID-19 adalah melihat peluang keuntungan
berinvestasi saat pandemi COVID-19. Peluang keuntungan berinvestasi ini pun dapat
diprediksi dari berapa harga saham yang dibeli dan bagaimana kinerja saham/emiten di
masa yang akan datang.
D. Risiko Pembelian Saham Oleh Milenial Kota Medan Pada Saat Pandemi COVID-
19
Melakukan pembelian saham pada saat pandemi COVID-19 tentu banyak risiko
yang akan dihadapi melihat fluktuatif pada harga saham. Sebagai investor ada yang
memanfaatkan fluktuatif harga saham untuk mendapatkan keuntungan yang cepat.
Investor yang seperti ini adalah investor risk taker yang berani mengambil risiko yang
besar untuk mendapatkan keuntungan yang besar pula. Investor risk averse
memanfaatkan fluktuatif harga saham untuk membeli saham-saham bluechip dengan
harga yang lebih murah akan tetapi untuk menginvestasikan keuntungan di masa yang
akan datang. Melihat hasil wawancara terstruktur kepada investor milenial Kota Medan,
terdapat 68,75% investor Risk Taker dan 31,25% investor risk averse. Menurut Trainer
BEI, fenomena banyaknya investor milenial yang risk taker adalah karena hanya
mengikuti apa yang Influencer saham lakukan dan ditambah lagi selama pandemi
COVID-19 euforia para generasi milenial untuk berinvestasi sangat tinggi sehingga
melupakan analisis mendalam mengenai saham tersebut. Hal ini pun sesuai dengan hasil
wawancara terstruktur sebanyak 93,6% yang mengetahui risiko apa yang dihadapi yang
berarti milenial tau dengan pasti apa risiko yang akan dihadapi akan tetapi tetap
melakukan pembelian saham.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian (Ali, Sari,
Siahaan, Arya, & Susanto, 2020) menemukan bahwa investor milenial tidak
mempertimbangkan risiko dalam berinvestasi saham, sehingga mereka cenderung
melakukan transaksi saham walaupun mengetahui bahwa investasi memiliki risiko.
Menurut hasil wawancara terstruktur kepada investor milenial sebanyak 90,6%
merasakan langsung risiko investasi pada saat pandemi COVID-19. Menurut Trainer
BEI risiko yang paling mungkin terjadi adalah capital loss yang disebabkan fluktuatif
harga saham. Melalui wawancara dengan investor milenial pun diketahui kemungkinan
untuk capital loss sangat besar jika berinvestasi saat pandemi COVID-19. Harga saham
yang fluktuatif ini pun disebabkan risiko-risiko investasi yang ada pada saat
memutuskan berinvestasi saat pandemi COVID-19 dan risiko yang paling berpengaruh
bagi 96,9% investor milenial Kota Medan adalah risiko pasar.
Risiko lain yang banyak dirasakan oleh investor milenial pada saat pandemi
COVID-19 yaitu 75% merasakan risiko perekonomian, 96,9% merasakan risiko gagal
bayar, 71,9% risiko finansial, dan 56,3% risiko bisnis. Hal ini diakibatkan ketidakpastian
perekonomian Indonesia yang berdampak juga pada terhambat operasional perusahaan
sehingga banyak perusahaan yang merugi dan akhirnya mempunya risiko gagal bayar
yang tinggi. Sebanyak 46,9% investor merasakan risiko nilai tukar (kurs), risiko ini tidak
dominan dirasakan oleh investor dikarenakan risiko ini hanya berdampak pada
perusahaan yang aktif menjalankan ekspor-impor. Sebanyak 34,4% investor milenial
merasakan risiko inflasi, hal ini pun tidak begitu dominan dikarenakan inflasi di
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
738
Indonesia masih aman dan terkendali. Inflasi di Indonesia sempat naik hanya di akhir
Tahun 2020.
Sebanyak 50% investor milenial merasakan risiko politik, hal ini tidak dominan
dikarenakan risiko politik bersifat sementara dan cepat untuk dikembalikan ke keadaan
semula. Sebanyak 53,1% investor merasakan risiko negara, hal ini bisa disebabkan atas
kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, seperti di akhir Tahun 2020 pemerintah
mengeluarkan kebijakan penaikan pajak cukai Tembakau yang berdampak pada harga
saham perusahaan-perusahaan yang memakai Tembakau sebagai bahan produksi utama
seperti perusahaan rokok. Dapat disimpulkan bahwa banyak risiko yang terjadi pada saat
memutuskan membeli saham pada saat pandemi COVID-19 dan risiko-risiko ini pun
menyebabkan besarnya kemungkinan risiko capital loss terhadap investor milenial.
Risiko capital loss pun dirasakan oleh beberapa investor milenial diakibatkan fluktuatif
harga saham yang diakibat risiko-risiko investasi yang terjadi pada saat pandemi
COVID-19.
E. Jenis Saham yang di Beli Oleh Milenial Kota Medan Pada Saat Pandemi COVID-
19
Harga saham beberapa perusahaan menurun atau murah saat pandemi COVID-
19, dapat dilihat IHSG terendah selama pandemi COVID-19 sampai 3.937,632 pada
Maret 2020 awal masuknya pandemi COVID-19 di Indonesia. Hal ini dimanfaatkan oleh
investor milenial Kota Medan untuk membeli saham bluechip yaitu perusahaan yang
memiliki kapitalisasi pasar yang besar, mencapai di atas Rp10 triliun atau kinerja
keuangan yang stabil. Momen turunnya beberapa harga saham bluechip membuat
investor milenial tertarik untuk membeli dengan tujuan investasi jangka panjang atau
mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Saham bluechip pun terdiri dari
beberapa sektor saham dan saham bluechip yang di pilih oleh milenial Kota Medan
untuk investasi jangka panjang adalah properti, real estate dan kontruksi bangunan
seperti saham MMLP (PT. Mega Manunggal Property Tbk) yang bergerak pada sektor
industri. Menurut investor milenial, saham pada sektor properti, real estate dengan
persentase 25% pada hasil wawancara terstruktur dinilai memiliki prospek keuangan
yang baik dan akan menghasilkan high return di masa yang akan datang. Hal ini pun
disebabkan karena properti menjadi salah satu pokok kebutuhan manusia, walaupun
selama pandemi COVID-19 saham pada sektor properti, real estate dan kontruksi
bangunan tidak begitu memberi return yang besar akan tetapi di masa yang akan datang
setelah pandemi COVID-19 saham ini akan memberikan keuntungan return yang
diinginkan. Selain saham pada sektor properti, real estate dan kontruksi bangunan, sektor
finansial dan pertambangan pun menjadi pilihan saham bluechip yang dipilih oleh
investor milenial Kota Medan untuk dibeli.
Sama halnya dengan saham sektor properti, real estate dan kontruksi bangunan,
finansial dan pertambangan dirasa akan memberikan keuntungan di masa yang akan
datang dengan persentase yang sama sebanyak 18,8% investor milenial Kota Medan
memilih saham pada kedua sektor tersebut dan hal ini dikarenakan perusahaan-
perusahaan dalam sektor ini kebanyakan memiliki kinerja keuangan yang stabil. Pada
sektor pertambangan investor milenial Kota Medan memiliki alasan lain selain
kestabilankinerja keuangan yaitu indeks saham sektor pertambangan mencatatkan
kinerja paling baik dibanding indeks sektoral lainnya dengan persentase kenaikan
sebesar 24,65%. Saham sektor finansial yang paling diminati adalah saham-saham pada
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
Implementasi Anggaran Kesehatan Di Bidang Kesehatan Sesuai Dengan Spm (Standar
Penilaian Minimal)
739
sub-sektor perbankan seperti BBRI (PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ), BBCA
(PT. Bank Central Asia Tbk), BBNI (PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk), dan
AGRO (PT.Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk) dan saham sektor pertambangan
yang paling diminati adalah ANTM (PT. Aneka Tambang Tbk).
Selain indeks saham di Indonesia, investor milenial Kota Medan juga bermain
pada indeks saham luar negeri seperti NASDAQ 100 yang merupakan indeks saham
Amerika Serikat yang terdiri atas 100 perusahaan non-finansial terbesar, dan GER30
yang merupakan pasar saham Jerman yang terdiri dari 30 perusahaan terbesar yang
terdaftar di Bursa Saham Frankfurt, didasarkan pada nilai harga pasar. Hal ini juga
dikarenakan investor milenial Kota Medan merasa saham-saham pada pasar saham luar
negeri bergerak lebih stabil dan memberikan keuntungan yang lebih walaupun dengan
modal yang tak sedikit. Selain memanfaatkan momentum harga, investor milenial Kota
Medan pun memanfaatkan beberapa saham yang mengalami tren naik selama pandemi
COVID-19. Sektor saham yang mengalami tren naik adalah sektor industri barang
konsumsi, sektor perdagangan, jasa dan investasi, sektor infrastruktur, utilitas dan
transportasi dan sektor teknologi. Saham pada sektor-sektor ini mengalami tren naik
dikarenakan kebutuhan produk maupun jasa perusahaan-perusahaan pada sektor ini
selama pandemi COVID-19. Pada hasil wawancara terstruktur 34,4% investor milenial
Kota Medan memilih sektor industri barang konsumsi menjadi sektor saham yang aman
dibeli selama pandemi COVID-19 terutama pada sub-sektor makanan dan minuman dan
sub-sektor farmasi.
Hal ini dikarenakan himbauan pemerintah untuk stay at home membuat
meningkatnya kebutuhan barang-barang pokok untuk di rumah dan kebutuhan obat dan
vitamin untuk memperkuat imun tubuh untuk melawan virus COVID-19. Kebutuhan
meningkat pada sub-sektor farmasi ini pun sejalan dengan meningkatnya demand pada
Rumah Sakit yang berakibat sentimen pasar yang positif pada pada sub-sektor saham
Kesehatan yang termasuk saham sektor perdagangan, jasa dan investasi.
Adanya kebijakan ini pun membuat semua kegiatan sehari-hari harus dilakukan dari
rumah, seperti bekerja, sekolah dan beribadah. Hal ini pun membuat semua kegiatan
sehari-hari ini harus dilakukan jarak jauh dan berbasis online sehingga fenomena ini pun
membawa sentimen positif pada pasar saham telekomuninkasi yang merupakan sub-
sektor dari saham sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi. Saham sektor
infrastruktur, utilitas dan transportasi yang paling diminati adalah FREN (PT. Smartfren
Telecom Tbk) dan TLKM (PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk).
Sektor teknologi pun menjadi saham yang memiliki tren paling meningkat
dibandingkan sektor yang lainnya. Melihat data Years To Date (YTD) sektor saham
pada tahun 2020, sektor teknologi tidak meningkat akan tetapi pada tahun 2021 sektor
teknologi meningkat signifikan dan bahkan menjadi sektor saham yang paling diminati.
Hal ini dikarenakan adanya sambutan positif dari investor milenial terhadap saham
BUKA (PT Bukalapak.com Tbk) saat Initial Public Offering (IPO) pada Juli 2021,
sambutan positif ini berdampak pada naiknya tren saham sektor teknologi. Selain saham
BUKA (PT Bukalapak.com Tbk), saham EMTK (PT Elang Mahkota Teknologi Tbk)
pun menjadi salah satu saham sektor teknologi yang diminati oleh investor milenial Kota
Medan.
F. Tahap Keputusan Pembelian Saham Oleh Milenial Kota Medan Pada Saat
Pandemi COVID-19
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
740
Sebelum memutuskan membeli saham, investor terlebih dahulu melakukan
analisis sekuritas dan strategi portofolio agar tidak salah memilih saham dan
menghindari risiko capital loss. Hasil wawancara terstruktur dapat disimpulkan bahwa
semua investor milenial melakukan analisis sekuritas akan tetapi investor milenial
mayoritasnya condong untuk menggunakan metode analisis fundamental terlihat dari
besarnya persentase investor milenial Kota Medan yang lebih memperhatikan kondisi
pasar dibandingkan kinerja keuangan perusahaan. Melihat dari strategi portofolio
mayoritas investor milenial yang menggunakan strategi portofolio aktif dibandingkan
yang pasif dan didukung dengan data wawancara terstruktur bahwa mayoritas
memperhatikan tiga aspek untuk strategi portofolio aktif yaitu aspek pemilihan saham,
momentum harga dan rotasi sektor saham. Hasil analisis sekuritas dan penggunaan
strategi portofolio oleh investor milenial Kota Medan sesuai dengan banyaknya investor
milenial Kota Medan yang memilih untuk menjadi investor risk taker yang mana lebih
melihat aspek pada kinerja pasar saham dibanding kinerja keuangan saham yang akan
dibeli.
Mayoritas investor milenial Kota Medan melakukan analisis sekuritas serta
pemilihan strategi portofolio oleh diri sendiri tanpa menggunakan financial
advisor/penasihat keuangan dan memanfaatkan indikator analisis yang disediakan oleh
sekuritas. Hal ini pun sejalan dengan teori (Abbasi et al., 2020) yang mengatakan bahwa
investor milenial cenderung tidak mempercayai professional keuangan dan lebih
memanfaatkan teknologi, internet dan media sosial untuk perencanaan keuangan
mereka. Setelah melakukan analisis dan pembelian saham maka ada tahapan revisi dan
evaluasi kinerja portofolio untuk menentukan portofolio baik atau tidak. Sebanyak
90,6% investor milenial yang melakukan revisi dan evaluasi kinerja saham dan yang
tidak melakukan revisi dan evaluasi memilih untuk melihat tren harga saham, capital
loss/gain dan pertumbuhan 10% portofolio sebagai penentu kinerja sahamnya baik atau
tidak. Setelah melakukan revisi dan evaluasi baru dapat dilihat bagaimana kinerja
portofolio selama pandemi COVID-19. Sebanyak 78,1% investor milenial mendapatkan
kinerja portofolio yang baik selama pandemi COVID-19 dan sebanyak 84,4% investor
milenial menjadikan kinerja portofolio yang baik selama masa pandemi COVID-19
sebagai alasan terus melakukan investasi selama pandemi COVID-19.
Perilaku investor milenial Kota Medan dapat dianalisis dari bagaimana mereka
mengambil keputusan pembelian saham dengan menggunkan teori perilaku investor
keuangan. Berdasarkan hasil wawancara terdapat 3 perilaku investor milenial Kota
Medan dan perilaku paling mayoritas adalah perilaku herding. Perilaku ini dapat dilihat
dari pertimbangan investor milenial Kota Medan mengenai sentimen publik terhadap
saham-saham yang akan dibeli dan memilih saham yang banyak di beli oleh investor
lain. Investor milenial Kota Medan yang memiliki perilaku herding ini mayoritasnya
adalah investor risk taker yang cenderung melakukan treding dan memilih saham
berdasarkan tren saham tersebut. Perilaku lainnya adalah perilaku mental accounting.
Investor milenial Kota Medan dengan perilaku mental accounting memilih saham
dengan mempertimbangkan harga saham dan keuntungan yang akan di dapat. Perilaku
lainnya adalah Representativeness, investor dengan perilaku ini memilih saham dengan
indikator kinerja perusahaan. Kedua perilaku ini mayoritasnya adalah investor risk
averse yang sangat berhati-hati dalam memilih saham dan mengurangi kemungkinan
terjadi capital loss.
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
Implementasi Anggaran Kesehatan Di Bidang Kesehatan Sesuai Dengan Spm (Standar
Penilaian Minimal)
741
KESIMPULAN
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tujuan utama dari pembelian saham oleh
milenial selama pandemi COVID-19 adalah investor milenial melihat adanya peluang
keuntungan ketika berinvestasi saham dan mulai adanya kesadaran berinvestasi untuk
kesejahteraan di masa yang akan datang dan dapat mengantisipasi ketidakpastian seperti
saat ini yang mungkin akan terjadi. Risiko yang paling besar terjadi selama pandemi
COVID-19 adalah capital loss yang disebabkan dari beberapa faktor yang ada. Faktor yang
paling mempengaruhi besarnya risiko capital loss adalah risiko pasar, hal ini disebabkan
fluktuatif IHSG selama pandemi COVID-19 dalam tahap keputusan berinvestasi seluruh
investor melakukan analisis sekuritas dan strategi portofolio. Hanya saja dalam strategi
portofolio terlihat bahwa banyak yang menggunakan strategi aktif yang sesuai dengan
banyaknya investor milenial Kota Medan yang termasuk Risk Taker. Kinerja portofolio
saham pada pandemi COVID-19 mayoritasnya berjalan dengan :baik dan menjadi alasan
para investor milenial Kota Medan untuk tetap berinvestasi. Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan, peneliti memberikan beberapa saran untuk investor milenial, lebih berhati-
hati dalam pemilihan saham dan menganalisis lebih dalam sebelum membeli saham
sehingga kinerja portofolio selama pandemi COVID-19 berjalan dengan lebih baik dan
dapat menguatkan pasar saham di Indonesia. Untuk lembaga pasar saham penelitian ini
mendorong otoritas pasar saham untuk berbagi informasi positif tentang pasar saham dan
aktivitasnya. Informasi positif akan meningkatkan niat berinvestasi, dan informasi negatif
akan menurunkan niat berinvestasi. Jadi, keterampilan manajemen informasi yang baik
sangat dibutuhkan.
BIBLIOGRAFI
Abbasi, R. U., Abe, Mitsuhiro, Abu-Zayyad, T., Allen, M., Azuma, R., Barcikowski, E.,
Belz, J. W., Bergman, D. R., Blake, S. A., & Cady, R. (2020). Measurement of the
proton-air cross section with Telescope Array’s Black Rock Mesa and Long Ridge
fluorescence detectors, and surface array in hybrid mode. Physical Review D,
102(6), 62004. Google Scholar
Ali, Farida, Sari, Tuti I., Siahaan, Andi A., Arya, Al Kautsar D., & Susanto, Tri. (2020).
Pengaruh Penambahan Natural Rubber (NR), Epoxidation Natural Rubber (ENR-
46) dan Chlorprene Rubber (CR) pada Sifat Kompon Termoplastik. Jurnal Teknik
Kimia, 26(2), 6269. Google Scholar
Herry, Sutanto, & Khaerul, Umam. (2013). Manajemen Pemasaran Bank Syariah. Pustaka
Setia. Google Scholar
Hogan, Nicky. (2017). Yuk Nabung Saham: Selamat Datang, Investor Indonesia! Elex
Media Komputindo. Google Scholar
I. Fahmi, Analisis Laporan Keuangan. (2013). Analisis Laporan Keuangan: Alfabeta.
Bandung. Google Scholar
Lubis, Arlina Nurbaity, Sadalia, Isfenti, Fachrudin, Khaira Amalia, & Meliza, Juli. (2013).
Perilaku investor keuangan. Medan: USSU Press Art Design, Publishing, Dan
Printing. Google Scholar
Mustafa, Bob, & Mahyus, Mahyus. (2017). Determinan Kelemahan Sistem Pengendalian
Intern pada Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Kalimantan
Sulistyani Prabu Aji, Antonia Morita Iswari Saktiawati / JOSR: Journal of Social Research, 1(5),
500-506
742
Barat. Eksos, 13(2), 112131. Google Scholar
Nasution, Muhammad Pintor. (2021). Jumlah investor milenial Sumut di pasar modal
mencapai 64.052 orang. Retrieved from
https://sumut.antaranews.com/berita/408142/jumlah-investor-milenial-sumut-di-
pasar-modal-mencapai-64052-orang. Google Scholar
Ngwakwe, Collins C. (2020). Effect of COVID-19 pandemic on global stock market
values: a differential analysis. Acta Universitatis Danubius. Œconomica, 16(2),
255269. Google Scholar
Pajar, Rizki Chaerul, & Pustikaningsih, Adeng. (2017). Pengaruh motivasi investasi dan
pengetahuan investasi terhadap minat investasi di pasar modal pada mahasiswa FE
UNY. Jurnal Profita: Kajian Ilmu Akuntansi, 5(1). Google Scholar
Posfay-Barbe, Klara M., Wagner, Noemie, Gauthey, Magali, Moussaoui, Dehlia, Loevy,
Natasha, Diana, Alessandro, & L’Huillier, Arnaud G. (2020). COVID-19 in
children and the dynamics of infection in families. Pediatrics, 146(2). Google
Scholar
Suryanto, Dede. (2018). Manajemen Investasi. Google Scholar
Tandelilin, Eduardus. (2010). Dasar-dasar manajemen investasi. Keuangan. Google
Scholar
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the
terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA)
license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).