Erita Oktasari, Ririn Widyastuti, Zeniar Astri / JOSR: Journal of Social Research, 1(7), 717-728
719
Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi perdagangan mencapai 12,83%, dan dari sisi
konsumsi berkisar 57,31%. Jika dilihat dari catatan historisnya, selama 5 tahun terakhir
ini bisnis eceran selalu berkontribusi lebih dari 10% atas sektor perdagangan terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB), dan lebih dari 50% atas sektor konsumsi terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB). Selain memberikan kontribusi yang besar terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB), Badan Pusat Statistik juga mencatat bahwa perdagangan eceran
juga menyerap tenaga kerja sebesar 22,4 juta atau 31,81% dari tenaga kerja non
pertanian. Atas kontribusi yang begitu besar terhadap negara, diharapkan bisnis
perdagangan eceran terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih banyak
terhadap negara. Dikarenakan, berdasarkan hasil penelitian dari (Firdausiyah & Fikri,
2021), konsumsi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsumsi
merupakan variabel yang memiliki koefisien paling tinggi dalam mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi dimana hasil estimasi menunjukkan bahwa setiap kenaikan
konsumsi sebesar 1 persen akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.66
persen. Hal ini senada dengan hasil penelitian dari (Kaharudin & Saputra, 2021), yang
menyatakan tingkat konsumsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi.
Saat ini, tantangan perdagangan eceran tidak hanya berorientasi kepada produk,
namun juga kenyamanan, efisiensi, dan kemudahan dalam bertransaksi. Tidak heran,
beberapa tahun belakangan ini banyak format bisnis eceran baru yang semakin
memudahkan para konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Online market place
misalnya. Konsumen dapat mencari informasi produk, membandingkan harga, serta
melakukan pembayaran tanpa harus keluar rumah. Semakin efisien model bisnis nya,
akan semakin digemari masyarakat. Kondisi persaingan yang ketat ini pada akhirnya
mendorong pebisnis eceran yang sebelumnya hanya membuka toko konvensional, kini
juga menawarkan fitur online supaya lebih dekat dengan para konsumennya dan
menjangkau skala yang lebih luas lagi. Namun tidak sedikit pula para pebisnis eceran
yang mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan konsumen yang berubah ubah
dengan cepat dan competitor baru yang banyak berdatangan. Sehingga, tidak sedikit
pebisnis yang harus menanggung kerugian selana bertahun tahun hingga mengalami
kondisi financial distress. Dengan melihat fenomena akhr-akhir ini dimana perusahaan
perdagangan ecer mengalami kerugian atau bahkan kebangkrutan, serta laba dan
manajemen keuangan yang sangat mempengaruhi keberlangsungan usaha suatu
perusahaan, peneliti peneliti tertarik untuk membuat penelitian yang berjudul “Pengaruh
Laba Bersih dan Arus Kas Terhadap Financial Distress (Sarfiah, Atmaja, & Verawati,
2019)”
Hasil penelitian ini diharapakan dapat menambah ilmu peneliti atas fenomena
financial distress yang akhir-akhir ini menimpa sub sektor perdagangan eceran, serta
menjawab rasa penasaran peneliti apabila laba bersih dan arus kas ada hubungannya
dengan financial distress. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran
bagi perusahaan yang mengalami financial distress. Dan untuk perusahaan yang masih
memiliki kondisi keuangan yang sehat, diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan dan
pembelajaran agar dapat terhindar dari financial distress. Hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat dan dapat menjadi acuan
bagi mahasiswa lain di bidang akuntansi. Kerangka Pemikiran, Paradigma Penelitian
Menurut (Noor, Zubair, & Ahmad, 2015), kerangka berpikir merupakan konseptual
mengenai bagaimana suatu teori berhubungan diantara berbagai faktor yang telah
diidentifikasi penting terhadap masalah penelitian. Dalam penelitian ini, masalah yang
dianggap penting adalah pengaruh Arus Kas dan Laba Bersih terhadap Financial Distress.
Dalam penelitian (Dewi, Endiana, & Arizona, 2019), Financial distress adalah
suatu situasi dimana arus kas operasi perusahaan tidak memadai untuk melunasi
kewajiban lancar dan perusahaan terpaksa harus melalukan tindakan perbaikan. Financial
Distress dapat diukur dengan menganalisa laporan keuangan. Laporan keuangan sendiri