Harry Chrystian Purba, Onan Marakali
Siregar
Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia
harrychryspro@gmail.com,
onan@usu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Mei 2022 10 Juni 2022 20 Juni 2022 |
Latar Belakang : Perkembangan teknologi menyebabkan banyak inovasi yang tercipta seperti cryptocurrency pada awalnya dibuat untuk menggantikan uang konvensional pada akhirnya banyak negara yang sekarang lebih memilih menjadikannya sebagai aset digital termasuk Indonesia menjadikanya sebagai instrumen investasi. Tujuan : Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, pengetahuan konsumen dan promosi terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi pada konsumen PT Indodax Nasional Indonesia. Pengaruh antara variabel independen dan dependen di penelitian ini diuji secara parsial dan secara simultan. Metode : Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan eksplanatory research. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan variabel persepsi manfaat (X1), persepsi kemudahan penggunaan (X2), pengetahuan konsumen (X3) berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi. Kesimpulan : Melalui nilai adjusted R square juga diketahui bahwa variabel persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, pengetahuan konsumen dan promosi berkontribusi sebesar 55,7%, terhadap variabel penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi sedangkan sisanya sebesar 44,3%, dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Kata
Kunci : Persepsi Manfaat; Persepsi
Kemudahan Penggunaan; Pengetahuan Konsumen; Promosi; Investasi; Cryptocurrency dan Indodax |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: The development of technology has caused many
innovations created such as cryptocurrencies were originally created to
replace conventional money in the end many countries now prefer to make it a
digital asset, including Indonesia making it an investment instrument. Objectives: This research aims to analyze how the influence
of perception of benefits, perception of ease of use, consumer knowledge and
promotion of the use of cryptocurrency as an investment instrument on
consumers of PT Indodax Nasional Indonesia. The influence between independent and dependent variables in this study
was tested partially and simultaneously. Methods: The form of research used
in this study is quantitative research with explanatory research. Results: The results showed that
the variables of benefit perception (X1), perceived ease of use (X2),
consumer knowledge (X3) had a significant effect on the use of
cryptocurrencies as investment instruments. Conclusion: Melalui
nilai adjusted R square juga diketahui
bahwa variabel persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, pengetahuan konsumen dan promosi berkontribusi sebesar 55,7%, terhadap variabel penggunaan cryptocurrency sebagai
instrumen investasi sedangkan sisanya sebesar 44,3%, dipengaruhi oleh
variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Keywords: Perception of Benefits;
Perceived Ease of Use; Consumer Knowledge; Promotion; Investment; Cryptocurrencies and Indodax |
|
*Correspondent Author :
Harry Chrystian Purba1
Email : harrychryspro@gmail.com
PENDAHULUAN
Perkembangan
dunia investasi di masyarakat pada belakangan ini mengalami peningkatan pesat
dalam pertumbuhan jumlah investor. Semakin beragam pula kegiatan investasi yang
dilakukan oleh setiap masyarakat. Hal ini menjadi peluang bagi masyarakat untuk
mendapatkan keuntungan secara finansial. Cryptocurrency
juga menjadi salah satu instrumen investasi yang mulai digemari oleh
masyarakat. Pada awalnya cryptocurrency ditemukan
oleh oleh seseorang atau sekelompok orang yang
menggunakan nama alias Satoshi Nakamoto
dengan nama cryptocurrency yaitu bitcoin.
Bitcoin tergolong juga mata uang kripto
(cryptocurrency) yaitu jenis mata uang yang beredar
tanpa diatur oleh bank sentral tertentu, tidak dibekingi
emas, dan tidak pula dinaungi oleh negara tertentu peredaran dan penggunaannya
melalui media dan jaringan internet. Pada tahun 2020 tercatat oleh Kementerian
Perdagangan Republik Indonesia bahwa ada 4 juta orang investor cryptocurrency, sampai dengan Mei 2021 jumlah investor cryptocurrency sudah tumbuh lebih dari 50% menjadi 6,5 juta
orang investor di Indonesia dengan jumlah transaksi sebesar Rp 65 triliun di
tahun 2020 pada bulan Mei tahun 2021 sudah tumbuh 5 kali lipat menjadi Rp 370
triliun. Sementara Cryptocurrency sebagai digital
aset dalam fungsinya sebagai komoditas juga berkaitan dengan
keputusan-keputusan BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi)
mengingat cryptocurrency telah ditetapkan sebagai
salah satu objek yang dapat diperdagangkan dalam bursa berjangka berdasarkan
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2018 tentang
Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Aset Kripto
atau Crypto Asset.
Diterangkan
juga di Peraturan No. 5 tahun 2019 tentang ketentuan teknis penyelenggaraan
pasar fisik aset kripto (crypto
asset) di bursa berjangka yang diterbitkan. Dalam
aturan ini dinyatakan aset kripto (crypto asset) yang selanjutnya
disebut aset kripto adalah komoditi tidak berwujud
yang berbentuk digital aset, menggunakan kriptografi, jaringan peer-to-peer, dan buku besar yang terdistribusi, untuk
mengatur penciptaan unit baru, memverifikasi transaksi, dan mengamankan
transaksi tanpa campur tangan pihak lain. Sementara pedagang fisik aset kripto adalah pihak yang telah memperoleh persetujuan dari
kepala BAPPEBTI untuk melakukan transaksi aset kripto
baik atas nama diri sendiri, dan/atau memfasilitasi transaksi pelanggan aset kripto. Pelanggan aset kripto
adalah pihak yang menggunakan jasa pedagang aset kripto
untuk membeli atau menjual aset kripto yang
diperdagangkan di pasar fisik aset kripto.
Dengan
memperlakukan cryptocurrency sebagai digital aset
maka diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu instrumen investasi.
Ditengah-tengah belum disetujuinya cryptocurrency
sebagai alat pembayaran oleh pemerintah di Indonesia. Dalam menggunakan cryptocurrency sebagai instrumen investasi perlu juga
melihat hal yang ditawarkan oleh perusahaan penyedia jual beli aset digital cryptocurrency seperti manfaat, kemudahan penggunaan,
pengetahuan konsumen dan promosi. Ditengah-tengah banyak perusahaan sejenis
yang belum memperoleh legalitas di Indonesia dan Indodax
menjadi perusahaan jual beli aset cryptocurrency yang
bekerja secara legal dengan terdaftar di BAPEBTI. Sehingga menimbulkan
ketertarikan saya untuk meneliti kosumen PT Indodax Nasional Indonesia, maka dipilih Konsumen PT Indodax Nasional Indonesia sebagai objek penelitian. Melalui
penelitian ini, peneliti ingin mempelajari pengaruh dari persepsi manfaat,
persepsi kemudahan penggunaan, pengetahuan konsumen dan promosi, namun
sekaligus melakukan evaluasi terhadap hal yang didapatkan oleh konsumen PT Indodax Nasional Indonesia dengan melihat pengaruh dari
persepsi manfaat, persepsi kemudahan
penggunaan, pengetahuan konsumen dan promosi yang didapatkan oleh konsumen
sebagai pelayanan yang diberikan PT Indodax Nasional
Indonesia.
Dalam
penelitian ini akan dilakukan penelitian terhadap konsumen PT Indodax Nasional Indonesia yang bertempat tinggal di 10
kota di Indonesia yaitu Medan, Pekanbaru, Jakarta, Semarang, Pontianak,
Samarinda, Manado, Makassar, Denpasar dan Sorong. Dengan mempertimbangkan bahwa
kota-kota tersebut menjadi representasi dari pulau-pulau terbesar di Indonesia
yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Bali. Judul penelitian
ini adalah Pengaruh Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan Penggunaan,
Pengetahuan Konsumen Dan Promosi Terhadap Penggunaan Cryptocurrency
Sebagai Instrumen Investasi (Studi Pada Konsumen PT Indodax
Nasional Indonesia). Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka yang
menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh persepsi
manfaat terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai
instrumen investasi pada konsumen PT Indodax Nasional
Indonesia?. Bagaimana pengaruh persepsi kemudahan penggunaan terhadap
penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi
pada konsumen PT Indodax Nasional Indonesia?.
Bagaimana pengaruh pengetahuan konsumen terhadap penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi pada konsumen PT Indodax
Nasional Indonesia?. Bagaimana pengaruh promosi terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi pada konsumen PT
Indodax Nasional Indonesia?. Bagaimana pengaruh
persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, pengetahuan konsumen dan
promosi terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai
instrumen investasi pada konsumen PT Indodax Nasional
Indonesia?.
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
bagaimana pengaruh persepsi manfaat terhadap penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi pada konsumen PT Indodax
Nasional Indonesia. Untuk menganalisis bagaimana pengaruh persepsi kemudahan
penggunaan terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai
instrumen investasi pada konsumen PT Indodax Nasional
Indonesia. Untuk menganalisis bagaimana pengaruh pengetahuan konsumen terhadap
penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi
pada konsumen PT Indodax Nasional Indonesia. Untuk menganalisi bagaimana pengaruh promosi terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi pada konsumen PT
Indodax Nasional Indonesia. Untuk menganalisis
bagaimana pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, pengetahuan
konsumen dan promosi terhadap penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi pada konsumen PT Indodax
Nasional Indonesia.
1.
Persepsi Manfaat
Menurut
Davis dalam (Pambudi,
2014)
persepsi kebermanfaatan merupakan suatu pemikiran
mengenai penggunaan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan
memberikan keuntungan bagi penggunanya. Menurut Jogiyanto
(Pambudi,
2014) yang
dimaksud manfaat yang dirasakan atau Perceived Usefulness adalah sejauh mana seseorang percaya bahwa
dengan menggunakan suatu teknologi tertentu akan meningkatkan kinerja
pekerjaannya. Selanjutnya Menurut (Perkins
& Annan, 2013) mendefinisikan
persepsi manfaat adalah mempertemukan kebutuhan dan harapan konsumen secara
berkelanjutan atas harga yang telah mereka bayarkan. Menurut menyatakan bahwa
terdapat empat item dimensi dari persepsi manfaat terdiri dari produktivitas (productivity), kinerja pekerjaan atau efektivitas (job performance or effecriveness), pentingnya
bagi tugas (importance to job), kebermanfaatan secara
keseluruhan (overall usefulness).
Menurut Yang et al., (Yogananda & Dirgantara, 2017)
menyatakan bahwa persepsi manfaat terdiri dari empat indikator terdiri dari
mempermudah transaksi, mempercepat transaksi, memberikan keuntungan tambahan
saat menyelesaikan transaksi dan meningkatkan efisiensi dalam melakukan
transaksi.
2.
Persepsi Kemudahan Penggunaan
Menurut (Yansya,
Pangiuk, & Kurniawan, 2018) konsep
kemudahan penggunaan menunjukkan tingkat dimana
seseorang meyakini bahwa penggunaan sistem informasi adalah mudah dan tidak
memerlukan usaha yang keras dari pemakainya untuk dapat menggunakannya. Ketika
sistem informasi mudah digunakan, maka pengguna akan cenderung untuk
menggunakan sistem informasi tersebut. Sedangkan menurut pendapat (Rahayu
& Purbandari, 2020) Persepsi
kemudahan (perceived ease of use) merupakan kepercayaan
seseorang dimana dalam menggunakan suatu teknologi
dapat dengan mudah digunakan dan dipahami. Menurut (Hadi,
2011),
persepsi kemudahan memberikian indikasi bahwa suatu system dirancang bukan untuk menyulitkan pemakainya, tetapi
justru mempermudah seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Menurut (Yogananda
& Dirgantara, 2017) menyatakan
bahwa persepsi kemudahan penggunaan terdiri dari tiga indikator meliputi mudah
untuk dipelajari, mudah untuk didapatkan, mudah untuk dioperasikan.
3.
Pengetahuan Konsumen
Menurut
Engel, Blackwell dan Miniard
(Firmansyah
& Mahardhika, 2018)
pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai
berbagai macam produk dan jasa, serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan
produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya
sebagai konsumen. Menurut (Surahmat
& Astini, 2017) pengetahuan
konsumen adalah pengetahuan suatu produk oleh konsumen sangat penting dalam
proses pengambilan keputusan. Menurut (Firmansyah
& Mahardhika, 2018) pengetahuan
konsumen terbagi menjadi tiga (3) jenis, yaitu pengetahuan produk, pengetahuan
pembelian dan pengetahuan pemakaiaan yang dapat
dijadikan indikator pengetahuan konsumen.
4.
Promosi
Menurut (Utami,
2021),
promosi adalah salah satu komponen prioritas dari ketiga kegiatan pemasaran
yang memberitahukan kepada konsumen bahwa perusahaan meluncurkan produk baru
yang menggoda konsumen untuk melakukan kegiatan pembelian. Sedangkan menurut (Tjiptono,
2019),
promosi adalah suatu aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,
mempengaruhi, membujuk atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan
produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan
perusahaan yang bersangkutan. Menurut (Ginting,
Effendi, & Amelia, 2020),
promosi adalah semua kegiatan perusahaan produsen untuk meningkatkan mutu
produknya dan membujuk atau merayu konsumen agar membeli produknya.
Sedangkan menurut Lupiyoadi
(Utami,
2021),
promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat
penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk jasa. Kegiatan
promosi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antara perusahaan dan
konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk memengaruhi konsumen dalam kegiatan
pembelian produk sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Menurut Elliot, Rundle-Theile, Waller (Widyastuti,
2017),
promosi adalah “The marketing
activities that make potential customers, partners, and society aware
of and attracted
to the business’s
offering’s”. Kegiatan Pemasaran yang dapat membentuk
konsumen yang potensial, rekan kerja, dan kesadaran, serta ketertarikan
masyarakat pada bisnis yang ditawarkan. Menurut (Firmansyah
& Mahardhika, 2018),
promosi sebagai upaya memperkenalkan produk dan jasa agar bisa dikenal dan
diterima publik. Menurut (Firmansyah
& Mahardhika, 2018), bauran
promosi (promotion mix) yang ingin dikelola secara
strategis oleh para pemasar agar dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli yang
dapat dijadikan sebagai indikator promosi terdiri dari advertising,
personal selling, sales promotions, public relation, direct marketing.
5.
Cryptocurrency
Menurut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka
Komoditi (Peraturan BAPPEBTI Nomor 5 tahun 2019 halaman 4) cryptocurrency/aset
kripto adalah komoditi tidak berwujud yang berbentuk
digital aset, menggunakan kriptografi, jaringan peer-to-peer,
dan buku besar yang terdistribusi, untuk mengatur penciptaan unit baru,
memverifikasi transaksi, dan mengamankan transaksi tanpa campur tangan pihak
lain. Menurut (Das
et al., 2019), “a cryptocurrency is a new form of
digital money. You can
transfer your traditional,
non-cryptocurrency money like the U.S. dollar
digitally, but that’s not quite the same as how
cryptocurrencies work”. Cryptocurrency adalah bentuk baru dari uang digital. Anda
dapat mentransfer uang tradisional non-cryptocurrency
seperti dolar AS secara digital, tetapi itu tidak sama dengan cara kerja cryptocurrency. Menurut (Lee
& Low, 2018), “Cryptocurrency is a Peer-to-Peer (P2P) programmable
digital currency. It allows online payments
to be sent
directly from one party to
another without going through an
intermediary”. Cryptocurrency
adalah mata uang digital Peer-to-Peer (P2P) yang
dapat diprogram. Ini memungkinkan pembayaran online
untuk dikirim langsung dari satu pihak ke pihak lain tanpa melalui perantara.
Sedangkan menurut (Billah, 2019),
“a cryptocurrency is costless, fastest and easiest digital currency business, creating an opportunity
for all across
the world into this economic
environment”. Cryptocurrency
adalah bisnis mata uang digital tanpa biaya, tercepat dan termudah, menciptakan
peluang bagi seluruh dunia ke dalam lingkungan ekonomi ini.
Menurut (Danial,
2019) keuntungan
ketika melakukan investasi di instrumen cryptocurrency
meliputi diversifikasi dari investasi tradisional, mendapatkan apresiasi modal,
meningkatkan potensi pendapatan, mendorong pemberdayaan ideologis. Sedangkan
risiko investasi di cryptocurrency terdiri dari
beberapa jenis seperti risiko sensasi crypto, risiko
keamanan, risiko volatilitas, risiko likuiditas, risiko hilang, risiko regulasi
dan risiko pajak.
6.
Instrumen Investasi
Instrumen investasi merupakan pilihan aset di
mana Anda akan menanamkan modal ke dalamnya. Sedangkan Menurut (Utami,
2021)
instrumen investasi adalah sebuah tempat atau media bagi seseorang atau pelaku
usaha untuk melindungi aset yang dimiliki. Instrumen investasi dapat membantu
seseorang untuk mencapai tujuan finansialnya, tergantung dengan jangka waktu
investasi tersebut. Menurut (Tandelilin,
2010), proses
keputusan investasi terdiri dari tahapan-tahapan yang dapat dijadikan sebagai
indikator penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen
investasi, digambarkan sebagai penentuan tujuan investasi, penentuan kebijakan
investasi, pemilihan strategi portofolio, pemilihan asset,
pengukuran dan evaluasi kerja portofolio
METODE PENELITIAN
Bentuk penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan metode eksplanatory
research atau penelitian penjelasan. eksplanatory research merupakan
penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui
pengujian hipotesis. Penelitian eksplanatori
digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai pengaruh antara variabel persepsi
manfaat, persepsi kemudahan penggunaan, pengetahuan konsumen dan promosi
terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen
investasi. Dalam penelitian ini lokasi penelitian dilakukan di kota-kota di
Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian survei dengan menyebarkan
kuesioner berbentuk google form
dan disebarkan melalui social media dan media intenet lainnya yang dapat menjangkau responden. Penelitian
ini dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2021.
Data primer diperoleh dari
jawaban responden melalui hasil kuesioner yang akan disebarkan kepada konsumen
PT Indodax Nasional Indonesia di 10 kota Indonesia
meliputi Medan, Pekanbaru, Semarang, Jakarta, Pontianak, Samarinda, Manado,
Makassar, Denpasar atau Sorong dengan
total sebanyak 115 responden. Dalam penelitian ini kuesioner akan dibagikan
dalam bentuk format google form
dan disebarkan kepada para responden melalui social
media dan media internet lainnya. Responden hanya perlu mengklik
alamat link yang telah diberikan oleh peneliti untuk
menjawab kuesioner tersebut. Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat
yang dapat digunakan dalam mengumpulkan data yang ada di lapangan. Kuesioner
tersebut telah berisikan beberapa butir pernyataan yang ditujukan kepada
responden untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penelitian yang
akan diolah oleh peneliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengumpulan data rata-rata usia
responden berusia 20-30 tahun. Dengan mayoritas responden berjenis kelamin
laki-laki sebesar 66,1%.
Tabel 1
Tempat Tinggal Responden
|
No. |
Kota tempat tinggal |
Jumlah |
Persentase (%) |
|
1. |
Medan |
16 |
13,9% |
|
2. |
Pekanbaru |
7 |
6,1% |
|
3. |
Semarang |
9 |
7,8% |
|
4. |
Jakarta |
17 |
14,8% |
|
5. |
Pontianak |
10 |
8,7% |
|
6. |
Samarinda |
12 |
10,4% |
|
7. |
Manado |
11 |
9,6% |
|
8. |
Makassar |
10 |
8,7% |
|
9. |
Denpasar |
13 |
11,3% |
|
10. |
Sorong |
10 |
8,7% |
|
Total |
115 |
100% |
|
Penelitian
ini menggunakan Software Statistic
dalam melakukan analisis untuk mendapatkan hasil uji validitas dan uji
reliabilitas.
Tabel 2
Hasil Uji Validitas
|
No. |
Butir |
rhitung |
rtabel |
Keterangan |
|
1 |
X1.1 |
0,734 |
0,1832 |
Valid |
|
2 |
X1.2 |
0,695 |
Valid |
|
|
3 |
X1.3 |
0,769 |
Valid |
|
|
4 |
X1.4 |
0,220 |
Valid |
|
|
5 |
X1.5 |
0,792 |
Valid |
|
|
6 |
X1.6 |
0,534 |
Valid |
|
|
7 |
X1.7 |
0,793 |
Valid |
|
|
8 |
X1.8 |
0,714 |
|
Valid |
|
1 |
X2.1 |
0,605 |
0,1832 |
Valid |
|
2 |
X2.2 |
0,674 |
|
Valid |
|
3 |
X2.3 |
0,716 |
Valid |
|
|
4 |
X2.4 |
0,582 |
Valid |
|
|
5 |
X2.5 |
0,732 |
Valid |
|
|
6 |
X2.6 |
0,665 |
|
Valid |
|
1 |
X3.1 |
0,240 |
0,1832 |
Valid |
|
2 |
X3.2 |
0,562 |
|
Valid |
|
3 |
X3.3 |
0,679 |
Valid |
|
|
4 |
X3.4. |
0,753 |
|
Valid |
|
5 |
X3.5 |
0,637 |
Valid |
|
|
6 |
X3.6 |
0,788 |
Valid |
|
|
1 |
X4.1 |
0,631 |
0,1832 |
Valid |
|
2 |
X4.2 |
0,441 |
Valid |
|
|
3 |
X4.3 |
0,408 |
Valid |
|
|
4 |
X4.4 |
0,643 |
|
Valid |
|
5 |
X4.5 |
0,647 |
Valid |
|
|
6 |
X4.6 |
0,775 |
Valid |
|
|
7 |
X4.7 |
0,498 |
|
Valid |
|
8 |
X4.8 |
0,763 |
Valid |
|
|
9 |
X4.9 |
0,750 |
Valid |
|
|
10 |
X4.10 |
0,727 |
Valid |
|
|
1 |
Y.1 |
0,537 |
0,1832 |
Valid |
|
2 |
Y.2 |
0,510 |
Valid |
|
|
3 |
Y.3 |
0,631 |
Valid |
|
|
4 |
Y.4 |
0,615 |
Valid |
|
|
5 |
Y.5 |
0,526 |
Valid |
|
|
6 |
Y.6 |
0,586 |
Valid |
|
|
7 |
Y.7 |
0,610 |
|
Valid |
|
8 |
Y.8 |
0,748 |
|
Valid |
|
9 |
Y.9 |
0,555 |
|
Valid |
|
10 |
Y.10 |
0,669 |
|
Valid |
Uji
Validitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan dari instrumen untuk mengukur
secara aktual apa yang seharusnya diukur dan tidak ada kesalahan dalam
penarikan kesimpulan data. Instrumen dikatakan valid apabila instrument tersebut bisa mengukur apa yang hendak diukur.
Nilai rtabel pada = 0,05 dengan derajat bebas df = n-2 = 113 pada uji dua arah adalah sebesar 0,1832
(didapat dari r tabel). Pada penelitian ini, peneliti menyebar kuesioner kepada
115 orang responden. Untuk mengetahui validitas setiap item pernyataan dalam
penelitian ini dapat dilihat berdasarkan kolom rhitung
dan rtabel. Apabila nilai rhitung
> rtabel maka pernyataan tersebut dinyatakan
valid. Dalam penelitian ini hasil uji validitas pada setiap pernyataan yang ada
di kuisoneir sudah valid dikarenakan semua nya nilai r hitung lebih besar daripada r tabel.
Tabel 3
Hasil Uji Reliabilitas
|
Uji Reliabilitas |
Realiability Statistics |
|
|
Croanbach’s Alpha |
N of Item |
|
|
Variabel Persepsi Manfaat (X1) |
.797 |
8 |
|
Variabel Persepsi Kemudahan Penggunaan (X2) |
.743 |
6 |
|
Variabel Pengetahuan Konsumen (X3) |
.696 |
6 |
|
Variabel Promosi (X4) |
.834 |
10 |
|
Variabel Penggunaan Cryptocurrency
Sebagai Instrumen Investasi (Y) |
.790 |
10 |
Uji
reliabilitas dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh
pertanyaan/pernyataan. Jika nilai alpha > 0,60
disebut maka instrumen tersebut memiliki reliabilitas yang baik dan terpercaya
(reliable) dan sebaliknya jika nilai alpha lebih kecil dari < 0,60 maka instrumen tersebut
tidak terpercaya. Dari hasil uji yang sudah dilakukan dan ditampilokan
pada tabel diatas maka seluruh pernyataan pada kuisioneir penelitian ini sudah baik dan terpercaya (reliable).
Tabel 4
Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov
|
One Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
Unstandarized Residual |
|
|
N |
115 |
|
|
Normal Parametersa.b |
Mean |
.0000000 |
|
Std.
Deviation |
3.25195139 |
|
|
Most Extreme Diffrences |
Absolute |
.065 |
|
Positive |
.033 |
|
|
Negative |
-.065 |
|
|
Test
Statistic |
.065 |
|
|
Asymp. Sig (2-tailed) |
.200c.d |
|
|
a.
Test
distribution is Normal |
||
|
b.
Calculated
from data |
||
|
c.
Lilliefors
Significance Correction |
||
|
d.
This is a
lower bound of the true significiance |
||
Berdasarkan hasil pengolahan data yang ditampilkan
pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai asymp sig pada uji Kolmogorov – Smirnov sebesar 0,200. Nilai tersebut memenuhi ketentuan
untuk menyatakan kenormalan data, yaitu nilai asymp. sig harus lebih besar dari
0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan berdistribusi
dengan normal.
Gambar 1
Grafik
Histogram
Dapat
dilihat pada gambar diatas bahwa grafik histogram
membentuk pola seperti lonceng dan tidak terlalu condong ke kanan atau ke kiri.
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi dengan normal.
Gambar 2.
Grafik P-Plot
Hasil
uji grafik berdasarkan gambar diatas dapat dilihat
bahwa titiktitik menyebar di sekitar garis diagonal
dan mengikuti arah garis diagonal. Grafik tersebut menunjukkan pola distribusi
normal dan berbentuk simetris, tidak melenceng jauh ke kanan atau ke kiri.
Tabel 5
Hasil Uji Multikolinearitas
|
Coefficientsa |
||||||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
Collinearity Statistics |
|||||
|
B |
Std. Error |
Beta |
|
|
Tolerance |
VIF |
||||
|
1 |
(Constant) |
.233 |
3.889 |
|
.060 |
.952 |
|
|
||
|
Persepsi Manfaat (X1) |
.166 |
.069 |
.159 |
2.399 |
.018 |
.884 |
1.131 |
|||
|
Persepsi Kemudahan Penggunaan (X2) |
.324 |
.163 |
.158 |
1.990 |
.049 |
.616 |
1.622 |
|||
|
Pengetahuan Konsumen (X3) |
.989 |
.141 |
.557 |
7.009 |
.000 |
.615 |
1.627 |
|||
|
Promosi (X4) |
.071 |
.057 |
.081 |
1.254 |
.212 |
.927 |
1.079 |
|||
|
a. Dependent Variable: Penggunaan Cryptocurrency
Sebagai Instrumen Investasi (Y) |
||||||||||
Berdasarkan
pada tabel 4.58 dapat dilihat bahwa nilai Tolerance
untuk variabel persepsi manfaat sebesar 0,884, variabel persepsi kemudahan
penggunaan sebesar 0,616, variabel pengetahuan konsumen sebesar 0,615 dan varibel promosi sebesar 0,927 yang berarti nilai tersebut
lebih besar dari >0,10 dan nilai VIF sebesar 1,131 untuk variabel persepsi
manfaat, 1,622 untuk variabel persepsi kemudahan penggunaan, 1,627 untuk
variabel pengetahuan konsumen dan 1,079 untuk variabel promosi yang berarti
lebih kecil daripada <10,00. Berdasarkan hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan
bahwa tidak terjadinya gejala multikolinearitas serta
model regresi dikatakan layak dan dapat digunakan untuk persamaan regresi.
Gambar 3
Uji Heteroskedastitas
Berdasarkan
gambar diatas dapat dilihat bahwa titik-titik data
menyebar secara menyeluruh dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Titik-titik
data juga menyebar diatas dan dibawah
angka nol sehingga dapat dilihat bahwa data tersebar secara acak. Hal tersebut
menunjukkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas
pada model regresi dalam penelitian ini.
Tabel 6
Hasil Uji Regresi Linear
Berganda
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
.233 |
3.889 |
|
.060 |
.952 |
|
Persepsi Manfaat (X1) |
.166 |
.069 |
.159 |
2.399 |
.018 |
|
|
Persepsi Kemudahan Penggunaan (X2) |
.324 |
.163 |
.158 |
1.990 |
.049 |
|
|
Pengetahuan Konsumen (X3) |
.989 |
.141 |
.557 |
7.009 |
.000 |
|
|
Promosi (X4) |
.071 |
.057 |
.081 |
1.254 |
.212 |
|
|
a. Dependent Variable: Penggunaan Cryptocurrency
Sebagai Instrumen Investasi (Y) |
||||||
Berdasarkan
hasil uji regresi diatas, model analisis regresi
linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai:
Y=
0,233 + 0,166X1 + 0,324X2 + 0,989X3 + 0,071X4
Uji
hipotesis digunakan untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau
ditolak. Penelitian ini akan menggunakan pengujian pasial
(uji T) dan pengujian simultan (uji F) untuk membuktikan kebenaran hipotesis
dalam penelitian ini.
Tabel 7
Hasil Uji Signifikansi Parsial
(Uji T)
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
.233 |
3.889 |
|
.060 |
.952 |
|
Persepsi Manfaat (X1) |
.166 |
.069 |
.159 |
2.399 |
.018 |
|
|
Persepsi Kemudahan Penggunaan (X2) |
.324 |
.163 |
.158 |
1.990 |
.049 |
|
|
|
Pengetahuan Konsumen (X3) |
.989 |
.141 |
.557 |
7.009 |
.000 |
|
Promosi (X4) |
.071 |
.057 |
.081 |
1.254 |
.212 |
|
|
a. Dependent Variable: Penggunaan Cryptocurrency
Sebagai Instrumen Investasi (Y) |
||||||
Berdasarkan
hasil uji t pada tabel 7 dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian program Software Statistic untuk variabel
persepsi manfaat (X1) terhadap Penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi (Y) diperoleh nilai thitung
sebesar 2,399 dimana nilai thitung
lebih besar daripada nilai ttabel yaitu sebesar 1,981
(2,399 > 1,981) dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (0,018
< 0,05) dan koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,166. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel persepsi manfaat (X1) berpengaruh secara signifikan
terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen
investasi (Y). Pada hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ha1 diterima.
Berdasarkan hasil uji dengan menggunakan program Software
Statistic untuk variabel persepsi kemudahan
penggunaan (X2) terhadap Penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi (Y) diperoleh nilai thitung
sebesar 1,990 dimana nilai thitung
lebih besar daripada nilai ttabel yaitu sebesar 1,981
(1,990 > 1,981) dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (0,049
< 0,05) dan koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,324. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel persepsi kemudahan penggunaan (X2) berpengaruh
secara signifikan terhadap penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi (Y).
Pada
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ha2 diterima. Hasil pengujian program Software Statistic untuk variabel
persepsi pengetahuan konsumen (X3) terhadap Penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi (Y) diperoleh nilai thitung
sebesar 7,009 dimana nilai thitung
lebih besar daripada nilai ttabel yaitu sebesar 1,981
(7,009 > 1,981) dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (0,000
< 0,05) dan koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,989. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel pengetahuan konsumen (X3) berpengaruh secara
signifikan terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai
instrumen investasi (Y). Pada hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Ha3
diterima. Berdasarkan hasil uji dengan menggunakan program Software
Statistic untuk variabel Promosi (X4) diperoleh nilai
thitung sebesar 1,254 yang berarti lebih kecil
daripada nilai ttabel sebesar 1,981 (1,254 <
1,981) dengan nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 (0,212 > 0,05)
dan koefisien regresi bernilai positif sebesar 0,071. Hal ini menunjukkan bahwa
variabel promosi (X4) berpengaruh secara tidak signifikan terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi (Y). Pada hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa H04 diterima
Uji
simultan (Uji F) dilakukan untuk melihat apakah variabel bebas, yaitu persepsi
manfaat (X1), persepsi kemudahan penggunaan (X2), pengetahuan konsumen (X3) dan
promosi (X4) berpengaruh secara keseluruhan atau bersama-sama terhadap variabel
terikat, yaitu penggunaan cryptocurrency sebagai
instrumen investasi (Y).
Tabel 8
Hasil Uji Simultan (Uji F)
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of Squares |
Df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
1616.829 |
4 |
404.207 |
36.881 |
.000b |
|
Residual |
1205.571 |
110 |
10.960 |
|
|
|
|
Total |
2822.400 |
114 |
|
|
|
|
|
a. Dependent Variable: Penggunaan Cryptocurrency Sebagai
Instrumen Investasi (Y) |
||||||
|
b. Predictors: (Constant), Promosi (X4), Persepsi Manfaat (X1), Persepsi Kemudahan Penggunaan (X2), Pengetahuan Konsumen (X3) |
||||||
Berdasarkan
hasil pengolahan data pada tabel 4.61 dapat dilihat bahwa nilai Fhitung yang diperoleh sebesar 36,881, yang berarti nilai Fhitung lebih besar dibandingkan nilai Ftabel,
yaitu 36,881 > 2,45 atau berdasarkan nilai sig.
yaitu 0,000 < 0,05. Hasil tersebut berarti bahwa variabel bebas yakni
persepsi manfaat (X1), persepsi kemudahan penggunaan (X2), pengetahuan konsumen
(X3) dan promosi (X4) berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap
variabel terikat yaitu penggunaan cryptocurrency
sebagai instrumen investasi (Y).
Tabel 9
Uji R2 (Koefisien Determinasi)
|
Model Summaryb |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.757a |
.573 |
.557 |
3.311 |
|
a. Predictors: (Constant), Promosi (X4), Persepsi Manfaat (X1), Persepsi Kemudahan Penggunaan (X2), Pengetahuan Konsumen (X3) |
||||
|
b. Dependent Variable: Penggunaan Cryptocurrency
Sebagai Instrumen Investasi (Y) |
||||
Berdasarkan
hasil pengolahan data pada tabel 4.62 diatas dapat
dilihat bahwa nilai R yaitu sebesar 0,757, dimana
nilai koefisien ini menunjukkan hubungan antara persepsi manfaat, persepsi
kemudahan penggunaan, pengetahuan konsumen dan promosi terhadap penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi yang cukup erat
karena jika nilai R semakin mendekati satu maka semakin baik pula model
tersebut digunakan. Nilai Adjusted R Square atau nilai koefisien determinasi diatas
menunjukkan bahwa variabel persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan,
pengetahuan konsumen dan promosi dapat menjelaskan variabel penggunaan cryptocurrency sebagai instrumen investasi sebesar 55,7%,
sedangkan sisanya sebesar 44,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
dibahas dalam penelitian ini.
KESIMPULAN
Billah, Mohd
Ma’Sum. (2019). Halal cryptocurrency management. Springer. Google scholar
Danial, Kiana. (2019).
Cryptocurrency investing for dummies. John Wiley & Sons. Google scholar
Das, Debayan, Golder,
Anupam, Danial, Josef, Ghosh, Santosh, Raychowdhury, Arijit, & Sen,
Shreyas. (2019). X-DeepSCA: Cross-device deep learning side channel attack. Proceedings
of the 56th Annual Design Automation Conference 2019, 1–6. Google scholar
Firmansyah, M. Anang,
& Mahardhika, Budi W. (2018). Pengantar Manajemen. Deepublish. Google scholar
Ginting, Sri Ramadhani
Br, Effendi, Ihsan, & Amelia, Wan Rizca. (2020). Pengaruh Service dan
Promosi Terhadap Kepuasan Nasabah Pada Trust Sebagai Variabel Intervening di
BPR Laksana Abadi Sunggal. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI), 1(2).
Google scholar
Hadi, Syamsul. (2011).
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan layanan mobile banking. Google scholar
Lee, David Kuo Chuen,
& Low, Linda. (2018). Inclusive fintech: blockchain, cryptocurrency and
ICO. World Scientific. Google scholar
Pambudi, Bambang
Setiyo. (2014). Pengaruh Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan, Keamanan dan
Ketersediaan Fitur terhadap Minat Ulang Nasabah Bank dalam Menggunakan Internet
Banking (Studi pada Program Layanan Internet Banking BRI). Competence: Journal
of Management Studies, 8(1). Google
scholar
Perkins, E. D., &
Annan, Jonathan. (2013). Factors affecting the adoption of online banking in
Ghana: implications for bank managers. International Journal of Business and
Social Research (IJBSR), 3(6), 94–108. Google
scholar
Rahayu, Silva, &
Purbandari, Theresia. (2020). Pengaruh Persepsi Kepercayaan, Persepsi Kegunaan,
Persepsi Kemudahan, Persepsi Kenyamanan, dan Keamanan terhadap Minat Penggunaan
Aplikasi Investasi pada Investor yang Terdaftar di PT Indopremier Cabang Solo. JRMA
(Jurnal Riset Manajemen Dan Akuntansi), 8(1), 83–96. Google scholar
Surahmat, Dede, &
Astini, Rina. (2017). Pengaruh Pengetahuan Konsumen, Perasaan Konsumen,
Motivasi Konsumen, dan Kepribadian Konsumen terhadap Keputusan Pemilihan
Perguruan Tinggi (Studi Kasus pada Program Regular I Universitas Mercu Buana). Swot,
7(1), 279573. Google scholar
Tandelilin, Eduardus.
(2010). Portofolio dan Investasi: Teori dan aplikasi. Kanisius. Google scholar
Tjiptono, Fandy.
(2019). Perilaku Konsumen: Definisi, Domain, Determinan. Strategi Pemasaran
Dalam Perspektif Perilaku Konsumen, 103. Google
scholar
Utami, Fajria Anindya.
(2021). Apa itu New Normal [Berita]. Diambil. Google
scholar
Widyastuti, Sri.
(2017). Manajemen komunikasi pemasaran terpadu. Google
scholar
Yansya, Rendi,
Pangiuk, Ambok, & Kurniawan, Bambang. (2018). Pengaruh kemudahan penggunaan,
pengalaman berbelanja dan kepercayaan konsumen terhadap minat beli konsumen di
situs jual beli online Shopee di Kota Jambi. UIN Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi. Google scholar
Yogananda, Andrean
Septa, & Dirgantara, I. Made Bayu. (2017). Pengaruh persepsi manfaat,
persepsi kemudahan penggunaan, kepercayaan dan persepsi risiko terhadap minat
untuk menggunakan instrumen uang elektronik. Diponegoro Journal of Management,
6(4), 116–122. Google scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |