IMPLIKASI INTEGRASI ILMU
SAINS DAN AGAMA PADA
PERKEMBANGAN AKHLAK PESERTA
DIDIK
Muhammad
Hafiz, Salminawati
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera
Utara, Indonesia
hafizmuhammad1212@gmail.com,
salminawati@uinsu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised
: Accepted: |
01
Mei 2022 10
Juni 2022 20
Juni 2022 |
Latar Belakang : Dalam kegiatan pembelajaran,
kualitas dan mutu serta pendidikan akhlak terhadap siswa harus benar-benar
diterapkan. Oleh sebab itu, dalam perkembangan dunia pendidikan banyak sekali
model-model pembelajaran yang diupdate serta
ditawarkan oleh para pakar pendidikan, salah satu nya
adalah sebuah integrasi ilmu sains dan Agama dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mempersatukan atau
mempertemukan kembali kedua jenis pengetahuan tersebut yakni pengetahuan
agama dan sains modern. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dengan metode
kualitatif melalui pendekatan studi literatur untuk mendapatkan deskripsi
tentang implikasi integrasi ilmu sains dan agama terhdap
pendidikan akhlak dalam proses pembelajaran. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan banyak manusia yang
mengetahui nilai-nilai agama akan tetapi tidak relevan dengan nilai-nilai
ajaran agama yang diketahuinya. Kesimpulan : Perkembangan teknologi kerap menghancurkan akhlak peserta
didik terhadap guru dan sehingga tidak ada lagi batasan-batasan antara
peserta didik dan guru. Kata Kunci : Integrasi; Sains dan Agama;
Pendidikan Akhlak; Pembelajaran |
|
|
|
|
|
|
Abstract
|
|
|
|
Background: Dalam kegiatan
pembelajaran, kualitas dan mutu serta pendidikan akhlak terhadap siswa harus
benar-benar diterapkan. Oleh sebab itu, dalam perkembangan dunia pendidikan
banyak sekali model-model pembelajaran yang diupdate
serta ditawarkan oleh para pakar pendidikan, salah satu nya
adalah sebuah integrasi ilmu sains dan Agama dalam kegiatan pembelajaran. Objectives: Tujuan penelitian ini
adalah untuk mempersatukan atau mempertemukan kembali kedua jenis pengetahuan
tersebut yakni pengetahuan agama dan sains modern. Methods: Penelitian ini
menggunakan jenis penelitian dengan metode kualitatif melalui pendekatan
studi literatur untuk mendapatkan deskripsi tentang implikasi integrasi ilmu
sains dan agama terhdap pendidikan akhlak dalam
proses pembelajaran. Results: Hasil penelitian ini
menunjukkan banyak manusia yang mengetahui nilai-nilai agama akan tetapi
tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran agama yang diketahuinya. Conclusion: Perkembangan
teknologi kerap menghancurkan akhlak peserta didik terhadap guru dan sehingga
tidak ada lagi batasan-batasan antara peserta didik dan guru. Keywords: Integrasi; Sains
dan Agama; Pendidikan Akhlak; Pembelajaran |
|
*Correspondent Author :
Muhammad
Hafiz
Email : hafizmuhammad1212@gmail.com
PENDAHULUAN
Ilmu sains dan agama merupakan suatu cabang ilmu
yang utuh serta saling memiliki keterkaitan antara yang satu dan yang lainnya.
Semua pengetahuan yang ada didunia tidak luput dari ilmu yang ada pada Al-Quran
dan Hadis Rasulullah yang tidak ada keraguan didalamnya,
meskipun terdapat beberapa ilmuan yang mengatakan bahwa sains dan agama berdiri
pada porosnya masing-masing. Karena ilmuan tersebut memberikan pandangan bahwa
ilmu sains menggunakan data yang didukung secara empiris untuk memastikan kebenara ilmu tersebut. Sebaliknya, ilmu agama senantiasa
menerima segala yang bersifat abstrak yang didasarkan pada kepercayaan. Sains
dan agama harus hidup secara berdampingan, dikarenakan antara kedua ilmu
tersebut memiliki kesamaan dalam misi keilmuannya, perbedaan yang terdapat pada
keduanya menjadi dasar timbulnya konflik yang akan hidup pada inti
masing-masing. Membahas tentang interasi ilmu, saat
ini sering dijadikan keinginan sebagian besar dari kalangan umat Islam untuk
memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan Islam yang sampai saat ini masih
tertinggal. Disintegrasi ilmu saat ini dapat menyebabkan dikotomi keilmuan
dengan segala speknya. Sama-sama dapat kita saksikan
di berbagai media sosial, telah banyak beredar menganai
kenakalan remaja yang berkecimpung di dunia narkoba, minuman keras, perjudian
sampai tindakan asusila.
Hal ini menunjukkan bahwa betapa rendahnya nilai
akhlak serta moral yang dimiliki oleh peserta didik. Salah satu fakor yang menyebabkan hal ini dpata
terjadi dikarenakan kurang nya pendkatan
spritual yang diberkan
kepada peserta didik, sehingga peserta didik kurang mengenali nilai-nilai
agama. Pendidikan yang ada di Indonesia saat ini masih terdapat kontoversi. Dalam proses perkembangannya masih belum luas
serta jauh dari kehidupan nyata, sehingga peserta didik masih mengalami kesulitaan dalam memahami dan memaknai tentang nilai-nilai
yang terdapat dalam proses pembelajaran. Realita yang terjadi dalam dunia
pendidikan Islam, tidak semua sekolah mengutamakan nilai-nilai agama
dikarenakan dalam lingkup pendidikan sudah dipengaruhi oleh dunia barat yang notabenanya lebih berkembang pesat sehingga mampu
mempengaruhi dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan Agama Islam merupakan
salah satu mata pelajaran yang dapat dijadikan landasan pengembangan nilai,
pencegahan, dan juga sebagai tempat untuk membentuk prilaku
baik peserta didik. Untuk menjadikan pendidikan agara
lebih berkualitas secara matang, maka mata pelajaran PAI merupakan jawaban
untuk terwujudnya pendidikan yang menciptakan peserta didik yang memiliki iman,
bertaqwa, cerdas, terampil agar dapat bermanfaat
dalam kehidupan bermasyarakat. Didalam Al-Quran dan
Hadis, Allah memerintahkan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan
cara mengamati, memikirkan dan meneliti alam semesta yang maha luas ini agar
dapat menjadikan kehidupan yang lebih biak serta bermanfaat bagi orang lain.
Ilmu sians dan Islam seharusnya memiliki taraf yang
seimbang dalam mempelajari dan mengaplikasikan kedua ilmu tersebut dikarenakan
kedua ilmu ini saling membutuhkan dan saling memberikan manfaat dalam
menghadapi kehidupan yang sekarang sedang dijalani. Sains dan agama memiliki
kerangka materi yang berbeda, akan tetapi saling keterkaitan dengan nilai-nilai
agama.
Gagasan integrasi (nilai-nilai sains dan agama)
merupakan suatu konsep yang usang untuk dibahas kembali. Disebabkan dikotomi
keilmuan sudah mengakar sejak abad pertengahan yang lalu. Dalam praktik
pendidikan Agama Islam masih banyak menuai kegagalan. Kegagalan ini disebabkan
oleh praktik pendidikan yang harus memperhatikan aspek kognitif semata dan menagabaikan pembinaan aspek efektif, yaitu tekad untuk
mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Dampak dari hal ini, terjadinya
kesenjangan anatara pengetahuan dan pengalaman dalam
kehidupan beragama. Saat ini Pendidikan Agama Islam lebih terfokus pada belajar
tentang agama Islam sehingga hasil dari pembelajaran itu banyak manusia yang
mengetahui nilai-nilai agama akan tetapi tidak relevan dengan nilai-nilai ajaran
agama yang diketahuinya. Pemahaman yang timbul saat ini dalam dunia pendidikan,
yakni pembelajaran Pendidikan Agama Islam integratif akan membawa peserta didik
pada belajar secara totalitas, dan menjadikan Pendidikan Agama Islam sebagai
bagian dari kehidupan nyata yang dibutuhkan oleh mereka. Pencegahan dapat
dilakukan dengan cara memberikan pemahaman terhadap Pendidikan Agama Islam
secara isolatif atau terpisah dengan keilmuan lain. Kesannya, pendidikan Agama
Islam hanya berurusan dengan ke-Tuhanan dan kehidupan
selanjutnya (akhirat) sementara sains berkaitan dengan khidupan
manusia dan kehidupan di dunia. Menerapkan proses pembelajaran integratif salah
satu langkah untuk menghilangkan ke khawatiran
terhadap dampak pemisahan ilmu sains dan agama.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dengan metode kualitatif
melalui pendekatan studi literatur untuk mendapatkan deskripsi tentang
implikasi integrasi ilmu sains dan agama terhdap
pendidikan akhlak dalam proses pembelajaran. Sumber informasi dalam artikel ini
berdasarkan literatur artikel jurnal online dengan membuata meta analisis jurnal. Selanjutnya informasi juga
dikumpulkan dengan diperkaya oleh buku-buku, web, blog, atau tulisan online lainnya yang berkaitan dengan fokus penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Integrasi Sains dan Agama
Integrasi
merupakan combine (parts) into a whole, join
wits other group or race(s)
yakni menggabungkan bagian-bagian yang terpisah dalam satu kesatuan. Dapat
dipahami bahwa integrasi memiliki arti utuh atau menyeluruh. Integrasi bukan
hanya sekedar mengabungkan ilmu sains dan agama saja,
akan tetapi integrasi merupakan bentuk upaya dalam mempertemukan cara pandang,
cara berfikir, serta cara bertindak antara ilmu sains
dan Islam (Chanifudin & Nuriyati, 2020).
Ilmu berasal dari bahasa Arab “ilm” satu akar dengan
‘alam (bendera atau lambang), alamah
(alamat atau pertanda), dan ‘alam (jagat raya, universe).
Ketiga kata ini mewakili kenyataan atau gejala yang harus diketahui atau “di-ma’lum-i” yakni menjadi objek pengetahuan atau ilmu,
karena dibalik gejala ada sesuatu yang berguna bagi manusia (Fridiyanto, 2021). Sejauh
kita memahami terkait integrasi bahwa kita dapat menarik sebuah kesimpulan
bahwa integrasi merupakan perpaduan antara ilmu sains dan ilmu agama. Integrasi
yang harus dilakukan adalah untuk membangun kontruksi
yang saling mendukung antara keduanya. Integrasi ilmu merupakan ilmu yang
sesungguhnya berasal dari Allah swt. dalam hal ini, manusia diberi potensi
untuk mengharap kasihnya dan hal ini merupakan bentuk pengabdian atara seorang hamba kepada Rabb-Nya.
Oleh sebab itu ilmu sesungguhnya sudah benar-benar ada dikalangan
umat Islam, hanya saja cara untuk mengaplikasikannya kedalam
ilmu prkatis itu yang sampai saat ini masih belum
dapat dijalankan secara sempurna.
Dalam
pandangan Islam, alam semesta adalah sesuatu selain dari Allah swt. Sebab alam
semesta bukan hanya langit dan bumi, hamun juga segala sesuatu yang ada dan
berada diantara keduanya. Salain
itu, dalam pandangan Islam, alam semesta tidak hanya mencakup hal yang konkrit atau yang dapat diamati dengan indera
manusia. Namun juga, segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang tau hal-hal yang bersifat ghaib (Rasyidin, 2008). Sains
digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan sebagai ilmu yang merujuk pada objek
–objek yang berada di alam yang bersifat umum dan menggunakan hukum-hukum pasti
yang berlaku sampai kapanpun dan dimanapun.
Sains juga merupakn kumpulan pengetahuan-pengetahuan
dan cara untuk mendapatkannya dan mempergunakan pengetahuan tersebut. Sains
merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan “real Sciense is both
product and procss, inseparably joint”. (Istikhomah &
Abdul Wachid, 2021)
B.
Latar Belakang Munculnya Integrasi Ilmu
Dalam
perspektif agama-agama, sudah sejak lama hubungan antara sains modern dan agama
mengalami keretakan. Pengetahuan agama dan sains modern diawali dari timbunya teori heliosetris oleh Gaileo yang menggantikan paham agama Kristen yang masih
meyakin konsep geosentris. Selanjutnya, teori heleosentris
mendapat dukungan dari tokoh agama setelah menafsir ulang dari kitab suci. Dari
pertentangan agama dan sains modern yang pertama ini, disusul dengan munculnya
teori sains lain yang merubah pemahaman agama, mengindikasikan
bahwa teori sains telah membuka tafsir baru terhadap kitab suci. Dalam
perkembangannya, kontradisksi antara ilmu agama dan
ilmu sains modern semakin menajam. Hal ini disebabkan oleh para ahli-ahli barat
semakin memapankan filsafat sains dengan melandaskan kepada filsafat dualisme,
empirisme, rasionalisme, psitivisme, materialisme, prgamatisme, dan sekuralisme.
Berbagai macam bentuk filsafat tersebut seakan berpadu untuk meninggalkan serta
menafikan Tuhan dan spiritualisme (Fridiyanto, 2021).
Bertolak
dari watak dari saintisme itu sendiri, maka munculah kesadaran dari kalangan para ahli dari berbagai
agama yang ada termasuk Islam, bahwa sejatinya anatara
sains modern dengan pengetahuan agama terdapat banyak kontradiksi. Jalan
satu-satunya yang harus ditempuh tidak lain dan tidak bukan tujuannya adalah
untuk mempersatuak atau mempertemukan kembali kedua
jenis pengetahuan tersebut yakni pengetahuan agama dan sains modern. Kemudian
beranjak dari permasalaha diatas,
maka munculaha pemikiran dan usaha untuk menciptakan
integrasi pengetahuan atau mewujudkan kembali kesatuan terhadap ilmu
pengetahuan.
C.
Pentinganya
Integrasi Sains dan Agama
Dikotomi
yang terjadi antara ilmu sains dan ilmu agama pada dasarnya bukan merupakan hal
yang baru dalam Islam. Dalam hal ini, sains modern barat sering mengganggap rendah status keilmuan ilmu-ilmu keagamaan,
berbeda dengan dikotomi yang dikenal di dunia Islam. Hal itu terlihat ketika
ilmu agama berbicara tentang hal-hal ghaib, ilmu
agama tidak dapat dikatakan ilmiah karena menurut pandangan sains modern barat,
ilmu itu dapat dikatakan ilmiah apabila objeknya bersifat empiris. Tentu saja
ilmu agama tidak dapat menghindari diri dari pembahasan yang bersifat ghaib seperti tuhan, malaikat, surga dan neraka, dan lain
sebagainya. Integrasi antara ilmu sains dan ilmu agama harus diupayakan dengan
sungguh-sungguh. Hal ini berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan, yaitu:
a) Umat
Islam butuh suatu sistem sains untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, spritual dan material. Pada kenyataannya, nilai-nilai yang
terkandung dalam sains modern banyak yang bertentangan dengan nilai-nilai
Islam.
b) Secara
sosiologis, masyarakat yang tinggal diwilayah geografis tentu memiliki
kebudayaan yang berbeda-beda. Setiap wilayah jelas membutuhkan sistem sians yang berbeda, maka dalam hal ini untuk berada pada
satu kesatuan nilai ilmu agamayang menjadi pondasi agar tidak terjadinya perselisihan anatar manusia.
c) Umat
Islam pernah memiliki peradaban Islami dimasa sians
berkembang sesuai nilai dan kebutuhan umat Islam.
D.
Langkah-Langkah
Mengintegrasikan Ilmu Sains dan Agama dalam Pembelajaran
Dalam
mewujudkan integrasi sains dan Islam didalam
lingkungan pendidikan terkhusus didalam lingkungan
pendidikan Islam ada beberapa usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk
mewujudkannya dengan melakukan langkah-langkah berikut ini:
a) Dalam
pengintegrasian ilmu sains dan agama maka jadikan Al-Quran sebagai sumber utama
dalam pencapaian ilmu-ilmu umum. Adapun hasil dari kegiatan observasi,
eksperimen, penalaran logis yang kedudukannya sebagai ilmu pendukung dengan
maksud dan tujuan untuk menambah keyakinan kepada Allah melalui sumber utama
tersebut (Al-Qur’an).
b) Memperluas
materi-materi kajian Islami dan hindari diri dari dikotomi ilmu ajaran Islam
yang sifatnya Universal. Maka dari itu, tidak ada dikotomi dalam Islam
dikarenakan semua ilmu itu penting dan semu ilmu itu sumbernya cuma satu yakni
Allah swt.
c) Menciptakan
karakter dan kepribadian ulul albab. Ulul alabab memiliki arti bahwa orang tersebut benar-benar mampu
menggunakan akal fikirannya untuk memahami kejadian
alam sehingga mampu memahami sampai pada bukti-bukti keesaan Allah swt.
d) Menelusuri
ayat-ayat Al-Qura’an yang berkenaan dengan sains. Mengkaitkan materi yang sedang dipelajari terhadap Al-Quran
yang menjadi sumber utama dalam menjawab semua pertanyaan serta permasalahan
yang ada. Meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Al-Qura’an
merupakan sumber ilmu yang paling relevan dengan segala ilmu sains yang saat
ini berkembang dengan pesat.
e) Kurikulum
yang dikembangkan dilembaga pendidikan tidak boleh mendikotomikan ilmu. Saat
ini segala bentuk krisis yang terjadi berawal dari krisinya
akhlak dan moral, serta krissinya spritual.
Untuk dapat menciptakan insan-insan yang mempunyai kedalaman spiritual dan
kematangan serta memiliki sikap profesional maka jawabannya adalah ciptakan
integrasi ilmu sains dan agama dalam setiap proses pembelajaran.
E.
Implikasi Integrasi Ilmu Sains dan Agama
Terhadap Perkembangan Akhlak Peserta Didik
Dalam
pendidikan maka ada manusia yang berperan didalamnya
yaitu: Pertama yaitu Guru. Ramayulis dalam Buku Rachman menyebutkan bahwa guru adalah
orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada peserta didik
dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar peserta didik dapat mencapai
tingkat kedewasaan, maupun berdiri sendiri memenuhi tugas dan tanggung jawabnya
sebagai makhluk sosial yang mampu berdiri sendiri (MASDALINA, Rachman,
& Effendi, 2018). Guru
adalah kunci dari sebuah pendidikan. Guru yang bertugas untuk mendidik,
melindungi, memotivasi, membimbing, melatih dan yang paling penting adalah
sebagai pembentuk karakter peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran guru
sangat berperan aktif dalam membentuk karakter peserta didik, guru harus
mendidik peserta didik agar memiliki akhlak yang baik dengan tujuan agar
peserta didik mengetahui dan memahami kedudukannya sebagai peserta didik dan
mampu memahami karakter apa yang harus ia terapkan dalam kegiatan pembelajaran.
Kedua, peserta didik, yaitu anggota masyarakat yang belum dewasa yang memiliki
fitrah (potensi), baik secara fisik maupun psikis, yang memerlukan usaha,
bantuan dan bimbingan dari orang lain yang lebih dewasa, untuk mengembangkan
dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan
tertentu (Saputra, 2015).
Di era
sekarang di zaman 4.0 sama-sama kita ketahui bahwa
perkembangan teknologi semakin canggih yang mampu memberikan segala bentuk
informasi kepada siapa saja yang aktif dalam dunia digital. Dalam hal ini ilmu
sains benar-benar telah berada di puncak yang mampu mengendalikan tugas pokok
dan fungsi manusia sebagai makhluk Allah swt. maka dari itu, perkembangan zaman
ini ilmu agama harus mendampingi perkembangan ilmu sains agar segala bentuk
perkembangan yang terjadi tetap berada pada porosnya yaitu untuk mecapai sebuah ilmu yang bermanfaat untuk orang lain
berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasullullah
saw. Didalam dunia pendidikan, juga tidak dapat dipungkiri
bahwa teknologi merupakan suatu alat yang sangat dibutuhkan untuk menunjang
tercapainya tujuan pendidikan terkhusus pendidikan Agama Islam. Dengan adanya
teknologi tak jarang dijumpai bahwa ilmu pengetahuan peserta didik jauh lebih
banyak serta mendalam jika dibandingkan dengan pendidik (guru). Dan hal ini
juga kerap terjadi bahwa peserta didik menganggap rendah bahkan menyepelekan
ilmu yang ada pada pendidik. Nah, disini guru sangat
dituntut untuk dapat memiliki peran yang sangat kuat agar perkembangan
teknologi tidak memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan akhlak peserta
didik. penerapan integrasi ilmu sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan
akhlak peserta didik dan juga mampu mengangkat derajat keilmuan pendidik.
Penulis sendiri meyakini bahwa, ilmu yang didapat dari informasi digital hanya
sebatas ilmu umum yang apabila dipahami sendiri akan memberikan informasi yang
negatif atau salah jika tidak ada yang mengarahkan. Peranan guru disini untuk melurus kan semua ilmu-ilmu tersebut dengan mengkaitkan ilmu tersebut kepada landasan utama umat Islam
yaitu Al-Quran, karena tugas pendidik untuk memberikan pemahaman kepada peserta
didik.
Sebagai
contoh yang dapat kita ambil pada materi umum pelajaran IPA mengenai makhluk
hidup. Dengan perkembangan zaman saat ini jelas banyak segala pengetahuan
mengenai makhluk hidup yang didapat oleh peserta didik di berbagai media sosial
dan juga laman internet lainnya. Kita ambil sebuah contoh; Pada pembelajaran
IPA, guru bisa menjelaskan mengenai proses penciptaan makhluk hidup terdapat
tahapan tahapan yang terjadi sebelum terjadinya
manusia. Pada proses penciptaan manusia Allah juga telah menjelaskan terlebih
dahulu di dalam Al-Quran mengenai proses penciptaan manusia yakni didalam Q.S Al-Mu’minun 12-14.
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا
ٱلۡإِنسَٰنَ
مِن سُلَٰلَةٖ
مِّن طِينٖ ١٢ ثُمَّ
جَعَلۡنَٰهُ
نُطۡفَةٗ
فِي قَرَارٖ
مَّكِينٖ ١٣ ثُمَّ
خَلَقۡنَا
ٱلنُّطۡفَةَ
عَلَقَةٗ
فَخَلَقۡنَا
ٱلۡعَلَقَةَ
مُضۡغَةٗ
فَخَلَقۡنَا
ٱلۡمُضۡغَةَ
عِظَٰمٗا
فَكَسَوۡنَا
ٱلۡعِظَٰمَ
لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ
خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ
ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤
Artinya:
(12) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah (13)Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (14) Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (Departemen Agama,
2005).
Guru
dapat menjelaskan materi proses penciptaan manusia berdasarkan ayat tersebut
kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami ciptaan
Allah bahwa Allah maha sempurna dalam menciptakan sesuatu. Dengan
mengintegrasikan ilmu sains dan agama perlahan guru telah membentuk karakter
peserta didik menjadi insan yang mulia karena selain memahami ilmu umum juga
memahami Al-Quran. Dalam hal ini, Derajat guru juga akan diangkat oleh Allah
bahkan peserta didik juga tidak akan merendahkan ilmu pendidik karena pendidik
memiliki ilmu dibidang sains dan juga agama. Ketika berbicara ilmu sosial dan
ilmu-ilmu lainnya, guru juga bisa mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qura’an sebagai referensi dalam menyampaikan materi dan hal
ini perlahan membentuk perkembangan akhlak yang baik bagi peserta didik.
Implikasi dalam aspek pendidikan sosial keagamaan dengan paradigma integratif
peserta didik dirangkul untuk berfikir holistik dan
tidak persial dalam menghayati majemuk keyakinan dan
keagamaan. Proses pendidikan memainkan peran yang menentukan dalam proses
integrasi ilmu dan agama. Sains dan agama merupakan bagian terpenting dalam
kehidupan sejarah umat manusia karena mempertemukan ide-ide spiritualitas
(agama) dan pemikiran rasional empiris. Ketika terjadi kegunaan yang seimbang
maka tidak perlu adanya dikotomi. Dalam proses pembelajaran, tidak boleh
menilai agama dengan tolak ukur sains begitu juga sebalaiknya
tidak boleh menilai sains dengan tolak ukur agama.
KESIMPULAN
Chanifudin,
Chanifudin, & Nuriyati, Tuti. (2020). Integrasi Sains dan Islam dalam
Pembelajaran. Asatiza, 1(2), 212–229. Google Scholar
Departemen
Agama, R. I. (2005). Al-Quran and its translation (Al-Quran dan terjemahannya).
Bandung: PT Syaamil Cipta Media. Google Scholar
Fridiyanto, M.
Pd I. (2021). Paradigma Wahdatul ‘Ulum UIN Sumatera Utara Strategi Bersaing
menuju Perguruan Tinggi Islam Kompetitif. CV Literasi Nusantara Abadi. Google Scholar
Istikhomah,
Radenra Imro’atun, & Abdul Wachid, B. S. (2021). Filsafat sebagai landasan
ilmu dalam pengembangan sains. Jurnal Filsafat Indonesia, 4(1). Google Scholar
MASDALINA,
MASDALINA, Rachman, Fuad Abd, & Effendi, Effendi. (2018). PENGEMBANGAN
MODUL KIMIA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI LARUTAN ASAM BASA DI
KELAS XI IPA SMA SRIJAYA NEGARA PALEMBANG. Sriwijaya University. Google Scholar
Rasyidin, Al.
(2008). Falsafah Pendidikan Islami. Perdana Publishing. Google Scholar
Saputra, M.
Indara. (2015). Hakekat pendidik dan peserta didik dalam pendidikan Islam. Al-Tadzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 231–251. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted
for possible open access publication under the terms and conditions of the
Creative Commons Attribution (CC BY SA) license
(https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |