SAINS DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT
Vera
Yunita Siregar, Salminawati
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera
Utara, Indonesia
verasiregar02@gmail.com, salminawati@uinsu.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
01 Mei 2022 10 Juni 2022 20 Juni 2022 |
Latar Belakang : Manusia pada hakikatnya, akan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini dilakukan karena dengan pengetahuan akan menimbulkan kepuasan tersendiri sesuai tuntutan zaman, tidak hanya sebatas pengetahuan semata, tetapi lebih kepada pengetahuan dan kebenarannya. Metode : Jenis penelitian ini termasuk penelitian penelitian bahan pustaka (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan di pustaka dan menggunakan bahan-bahan bacaan berupa buku, dan majalah. Hasil : Berawal dari sinilah filsafat sains digunakan untuk mempelajari, mengungkap, dan menyelesaikan permasalahan sains bagi kehidupan manusia. Kesimpulan : Penelitian ini membahas tentang apa itu sains dipandang dari segi filsafat, tujuan sains, serta objek yang dikaji daam sains. Kata
Kunci : Sains; Filsafat; Ilmu Pengatahuan |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: Man, in essence, will
always try to improve the knowledge he has. This is done because knowledge
will cause its own satisfaction according to the demands of the times, not
only limited to knowledge, but more to knowledge and truth. Objectives: The purpose of this study
is to find out what is meant by science to find out what are the goals of
science. To find out what are the objects of study of science. Methods: This type of research
includes library research research (Library
Research), which is research conducted in libraries and using reading
materials in the form of books, and magazines. Results: It started from here that
the philosophy of science was used to study, uncover, and solve scientific
problems for human life. Conclusion: This research discusses
what science is in terms of philosophy, the purpose of science, and the
objects studied in science. Keywords: Science; Philosophy; The Science of Knowledge |
|
*Correspondent Author :
Vera Yunita Siregar
Email : verasiregar02@gmail.com
PENDAHULUAN
Perubahan
sosial dan ekonomi yang sangat pesat dalam tiga dekade belakangan yang
mencengangkan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi yang dikendalikan
oleh aplikasi teknologi. (Friedman,
2005) misalnya
dalam buku The World is Flat, menjelaskan dengan
meyakinkan bahwa teknologi informasi dan outsourcing-offshoring
telah merubah cara hidup manusia di seluruh dunia
dalam berinteraksi dan bertransaksi, dia mengatakan kondisi ini sebagai Globalisation 3. 0. Tidak diragukan lagi bahwa dalam
keadaan begitu, inovasi menjadi kata kunci kepada keunggulan kompetitif dari
kesuksesan dan kesejahteraan bagi tiap-tiap individu, daerah ataupun negara (Brown & Lauder, 2003).
Konsekuensi langsung dari situasi ekonomi global yang penuh persaingan ini
adalah ketergantungan yang sangat besar terhadap kemahiran/ketrampilan (skills), pengetahuan dan modal intelektual dari pihak yang
memang mampu berkreasi dan mengembangkan berbagai inovasi tersebut.
Skenario
dari perkembangan aktual ini mau tak mau akan menempatkan bahwa sektor
pendidikan akan menjadi lebih strategis dan tumpuan utama dalam hal mendukung
kesuksesan. lni tidak lain karena melalui pendidikan lah pengetahuan dan kreativitas untuk inovasi terus
dikembangkan. Bekal pengetahuan dan kemahiran dari prosespendidikan
akan menjadi tumpuan, (Bybee
& Fuchs, 2006) mensyaratkan
bahwa itu dapat dicapai dengan guru yang berkualitas, isi kurikulum yang tepat
dan berkesinambungan, tes belajar yang sesuai dan sistem penilaian yang terkait
dengan tujuan paling penting. Pelajaran bahasa dan matematik merupakan disiplin
yang fundamental untuk diajarkan, setelah itu pelajaran sains menjadi sesuatu yang
penting yang juga perlu dipahami dengan baik oleh siswa. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sains untuk mengetahui apa
saja tujuan sains. Untuk mengetahui apa saja objek kajian sains.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini termasuk
penelitian penelitian bahan pustaka (Library Research), yaitu
penelitian yang dilakukan di pustaka dan menggunakan bahan-bahan bacaan berupa
buku, majalah atau lainnya. Sedangkan
bila dilihat dari segi cara dan taraf pembahasan masalah, jenis penelitian ini
merupakan penelitian Destriptif (Muri, 2014). Yakni penelitian yang
berupaya mengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan
mengungkapkan fakta-fakta yang ada walaupun kadang-kadang diberikan
interpretasi atau analisis. Sumber data dari penelitian ini adalah penulis
menggunakan beberapa literatur sebagai bahan rujukan untuk kelengkapan dan
keabsahan tulisan ini. Teknik pengumpulan data peneliti menggunakan
penelitian Dokumentasi, yakni metode
pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen
yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang subjek.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sains
Hakikat sains kami gunakan untuk menjawab pertanyaan
”apakah sebenarnya sains itu?”. Istilah sains berasal dari bahasa latin scientia yang berarti pengetahuan. Namun pernyataan ini
terlalu luas dalam penggunaannya sehari-hari. Dalam arti sempit sains adalah
disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Termasuk physical
sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi,
mineralogi, meteorology, dan fisika, sedangkan life science meliputi biologi
(anatomi, fisiologi, zoology, sitologi, embriologi,
mikrobiologi). Dalam hal ini istilah sains dimaknai secara khusus sebagai nature of science
atau ilmu pengetahuan alam. Pengertian
atas istilah sains secara khusus sebagai Ilmu Pengetahuan Alam sangat beragam. Conant mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep
serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan tumbuh sebagai
hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna
untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut.
Carin & Sund mendefinisikan sains adalah suatu
sistem untuk memahami alam semesta melalui observasi dan eksperimen yang
terkontrol. Menurut James Conan, sains sebagai
deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang
tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi,
serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan
lebih lanjut.
Menurut Toharudin ilmu
pengetahuan alam sering pula disebut sains, sains memiliki sifat dan
karakteristik yang unik yang membedakannya dari ilmu lainnya. Wonoraharjo menguatkan bahwa ilmu pengetahuan alam (IPA)
adalah sekumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui metode tertentu. Ahli lain
menyatakan bahwa hakikat sains atau Nature of Science (NoS)
merupakan pengetahuan tentang epistemologi (metode) dari sains, proses terjadinya
sains, atau nilai dan keyakinan yang melekat untuk mengembangkan sains.
Pendapat tersebut diperkuat oleh Carin and Sund dalam Wenno bahwa hakikat sains meliputi scientific product, scientific processes, dan scientific attitudes. Produk
sains yang meliputi fakta, konsep, prinsip diperoleh melalui serangkaian proses
penemuan ilmiah dengan metode ilmiah dan didasari oleh sikap ilmiah. Menurut Toharudin, hakikat sains terdiri dari saIns
sebagai proses, sains sebagai produk dan sians
sebagai sikap. Berikut penjabaran masing-masing aspek:
1) Sains sebagai Proses Sains
sebagai proses, merupakan aktivitas kognitif. Sains sebagai proses akan selalu
merujuk pada suatu aktivitas ilmiah yang dilaksanakan oleh para ahli sains.
Setiap aktivitas ilmiah mempunyai ciri-ciri yang rasional, kognitif dan
bertujuan. Aktivitas seorang dalam mencari ilmu pasti memerlukan pikiran untuk
menalarnya. Dalam melaksanakan ktivitas ilmiah yang
merupakan kegiatan terbaik harus dipayungi oleh kegiatan yang bernama
penelitian
2) Sains sebagai sikap Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan
oleh ilmuan saat mereka melakukan berbagai kegiatan ilmiah terkait dengan
profesinya sebagai seoarang ilmuwan. Dengan perkataan
lain, sikap ilmiah merupakan kecenderungan individu untuk bertindak atau
berperilaku dalam memecahkan masalah sistematis melalui langkah-langkah. Karena
itu, seorang peneliti harus mampu mengembangkan beberapa sikap ilmiah.
3) Sains sebagai produk Sains
sebagai produk ilmiah, dapat berupa pengetahuan-pengetahuan sains yang didapat
dari bahan ajar, makalah-makalah ilmiah, buku teks, artikel ilmiah dan
pernyataan para ahli sains berupa teori, postulat, hukum dan lain-lain. Secara umum,
ada beberapa produk sians seperti faka,
konsep, lambang, konsepsi atau penjelasan dan teori. Berdasarkan definisi dari
para ahli dapat disimpulkan bahwa sains adalah suatu cara untuk memperoleh
pengetahuan baru yang berupa produk ilmiah dan sikap ilmiah melalui suatu
kegiatan yang disebut proses ilmiah. Siapapun yang
akan mempelajari sains haruslah melakukan suatu kegiatan yang disebut sebagai
proses ilmiah. Seseorang dapat menemukan pengetahuan baru dan menanamkan sikap
yang ada dalam dirinya melalui. J.D.Bernal menyarankan untuk memahami sains haruslah
melalui pemahaman dari berbagai segi atau aspek dari sains seutuhnya (tidak
hanya dari satu aspek saja). Ia menonjolkan adanya 5 aspek yaitu:
1. Sains sebagai institusi
Institusi di sini artinya
adalah suatu lembaga imaginer, kelembagaan dari
bidang profesi tertentu. Misalnya orang bertanya “anda
bekerja di mana?”, maka orang yang ditanya itu menjawab “di bidang sains”.
Bidang sains memang baru muncul abad ke 20 dan diakui eksistensinya karena
kenyataannya telah ada beribu manusia menggantungkan hidupnya pada bidang ini.
Sains memiliki ciri khusus; kalau bidang lain (kedokteran, hokum,
dan sebagainya) berhadapan langsung dengan masyarakat, tetapi bidang sains
cenderung memisahkan diri dari masyarakat umum. Ilmuwan bekerja di laboratorium
dengan alat-alat yang asing bagi masyarakat, membuat hitung-hitungan yang hanya
bisa dimengerti mereka, seolah-olah mereka memiliki bahasa khusus yang hanya
dimengerti oleh rekan-rekan seprofesinya. Karena ciri khusus itulah maka orang
cepat mengetahui bahwa itu sains, tetapi jika ditanya apa itu sains maka sebagaian besar tidak mengetahui karena memang tidak
mengerti apa yang dilakukan oleh para ilmuwan. Maka jawabnya adalah “sains itu
ya apa yang dikerjakan oleh ilmuwan” atau “science is what scientist
do” sebagaimana dikemukakan Bernal.
2. Sains sebagai metode
Hal ini berkebaikan dengan
sains sebagai institusi yang merupakan sesuatu yang nyata dan dapat dilihat
hubungannya dengan masyarakat. Sains sebagai suatu metode adalah suatu hal yang
abstrak, yang merupakan konsepsi. Konsepsi metode sains itu senditri
tidaklah tetap karena pegertiannya berkembang sesuai
dengan perkembangan sejarah. Jadi metode sains merupakan suatu proses yang
terus berubah. Metode sains terdiri dari sejumlah kegiatan, baik mental maupun
manual, termasuk di dalamnya adalah observasi, eksperimentasi,
klasifikasi, pengukuran, dan sebagainya. Metode sains juga melibatkan
teori-teori hipotesis serta hokum-hukum.
3. Sains sebagai kumpulan
pengetahuan
Sains dapat dipandang sebagai suatu body
of knowledge yang terus
tumbuh, tidak statis. Kumpulan pengetahuan sains tidak sama seperti agama
ataupun kesenian. Agama berkenaan dengan pelestarian suatu kebenaran yang
bersifat mutlak, sedangkan seni bersifat individual. Perbedaan dengan sains
adalah kebenaran sains tidak bersifat mutlak karena kebenaran sains diperiksa
oleh orang lain atau diulang observasinya, dan jumlahnya pun selalu berkembang.
Sains sebagai kumpulan pengetahuan mengacu pada kumpulan berbagai konsep sains
yang sangat luas. Sains dipertimbangkan sebagai akumulasi berbagai pengetahuan
yang telah ditemukan sejak zaman dahulu sampai penemuan pengetahuan yangbaru.pengetahhuan tersebut berupa fakta, konsep, teori,
dan generalisasi yang menjelaskan tentang alam.
4. Sains sebagai faktor
pengembang produksi
5. Sains sebagai salah satu
faktor yang mempengaruhi kepercayaan dan sikap.
Nagel dalam bab pertama dalam buku Philosophy
of Science Today karangan Sidney Morgenbesser
mengemukakan sains dapat dilihat dalam tiga aspek, yaitu;
1) Aspek tujuan, sains adalah
sebagai alat unstuck menguasai alam, dan memberi
sumbangan kepada kesejahteraan manusia. Sebagai contoh: berbagai keuntungan
yang didapat dari sains dan teknologinya di bidang kesehatan dan industri.
2) Aspek pengetahuan yang
sistematik, dan tangguh dalam arti merupakan suatu hasil atau kesimpulan yang
didapat dari berbagai peristiwa.
3) Aspek metode, metode sains merupakan suatu
perangkat aturanaturan untuck
memecahkan masalah, untuk mendapatkan hokum-hukum
ataupun teori-teori dari objek yang diamati.
R. Harre dalam bukunya The Philosophies of Science dijelaskan bahwa “science
is a collection of well attested
theories which explain the patterns
and regularies and irregularies among carefully studied phenomena”, yang berarti
sains adalah kumpulan teori-teori yang telah diuji kebenarannya, menjelaskan
tentang pola-pola dan keteraturan maupun ketidakteraturan
dari gejala yang diamati dengan seksama. Klaimat
tersebut berisi dua hal. Yang pertama menyatakan bahwa sains itu suatu kumpulan
pengetahuan, dalam hal ini teori-teori. Yang kedua menjelaskan fungsi dari
pengetahuan atau teori itu yaitu untuk menjelaskan adanya pola hubungan antara berbagia gejala alam.
(Noor, 2019) NoS
mempunyai tujuh aspek sebagaimana karakteristik sains sesuai dengan tingkat
ilmu pengetahuan yaitu :
a)
Tentatif (dapat berubah sewaktu-waktu)
b)
Empiris (berdasarkan pengamatan atau observasi)
c)
Metode ilmiah
d)
Imajinasi dan kreativitas manusia
e)
Sosial dan budaya
f)
Subjektif
g)
Hubungan teori dan hukum ilmiah
B.
Tujuan Pembelajaran Sains
Tujuan pembelajaran sains bagi anak adalah mengembangkan
aspek perkembangan dan potensi yang dimiliki anak. Selain itu pembelajaran
sains juga ditujukan untuk mengembangkan individu agar mengenal ruang lingkup
sains itu sendiri serta mampu menggunakan aspek-aspek fundamental dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya. Jadi fokus program pengembangan
pembelajaran sains hendaklah ditujukan untuk memupuk pemahaman, minat dan
penghargaan anak didik terhadap dunia di mana mereka hidup pada hal-hal di atas
secara umum menyampaikan bahwa pengembangan pembelajaran sains pada anak usia
dini hendaklah di tujukan untuk merealisasikan empat
hal yaitu:
1) Pengembangkan pembelajaran
sains pada anak usia dini ditunjukan agar anak-anak
memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui penggunaan
metode sains, sehingga anak-anak terbantu dan menjadi terampil dalam
menyelesaikan berbagai hal yang dihadapinya.
2) Pengembangkan pembelajaran
sains pada anak usia dini ditunjukan agar anak-anak
memiliki sikap-sikap ilmiah. Misalkan tidak cepat-cepat dalam mengambil
keputusan, dapat melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang,
berhati-hati terhadap informasi-informasi yang diterimanya.
3) Pengembangkan pembelajaran
sains pada anak usia dini ditunjukan agar anak-anak
mendapatkan pengetahuan dan informasi ilmiah.
4) Pengembangkan pembelajaran
sains pada anak usia dini ditujukan agar anak-anak menjadi lebih berminat dan
tertarik untuk menghayati sains yang berbeda dan ditemukan di lingkungan dan
alam sekitarnya.
C. Objek Kajian Sains
Objek pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang diteliti
sains) ialah semua objek yang empiris. Menurut Jujun. S dalam Ahmad Tafsir
mengatakan bahwa objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang
lingkup pengalaman manusia. Sedangkan karakteristik sains menurut Randall dan Buchker yaitu:
1) Hasil sains bersifat
akumulatif dan merupakan milik bersama, artinya hasil sains yang lalu dapat
digunakan untuk penyelidikan hal yang baru, dan tidak memonopoli. Setiap orang
dapat memanfaatkan hasil penemuan orang lain.
2) Hasil sains kebenarannya
tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah
manusia.
3) Sains bersifat objektif
,artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode sains tidak tergantung
kepada siapa yang menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.
Objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang
lingkup pengalaman manusia, yang dimaksud dengan pengalaman manusia disini adalah pengalaman indera.
Sains menjadi berbeda dengan pengetahuan filsafat dan mistik karena ia
membatasi rung jelajahnya hanya pada alam materi atau semua bentuk pegalaman manusia (Djajadi, 2019) (Istikhomah & Abdul
Wachid, 2021). Artinya, objek
penelaahan sains meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman
manusia lewat pancaindera. Dengan demikian segala
sesuatu yang ada di alam sekitar menjadi ranah kajian sains. Sains memiliki
ruang lingkup ang terbatas yaitu hanya pada ha yang
dapat dipahami oleh indera kita seperti penglihatan,
pendengaran, rabaan, sentuhan dan juga ucapan. Dapat dikatakan bahwa sains
adalah ilmu pengetahuan yang didapat dari proses pembelajaran dan juga proses
pembuktian, yang berbeda antara sains terapan dan sains murni adalah sains
terapan merupakan aplikasi sains yang memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
manusia (Trianto, 2010). Objek-objek yang dapat
dilihat dan diliti oleh sains sangat banyak yaitu alam, tumbuhan, hewan, manusia, serta
kejadian-kejadian di alam sekitar juga merupakan objek kajian sains. Dari objek
penelitian itulah muncul teori-teori sains yan saat
ini dikenal. Teori-teori itu berkelompok atau dikelompokkan dalam masing-masing
cabang sains yang dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a) Ilmu sains kealaman
·
Kimia
Kimia analitik, kimia organik, kimia anorganik,
elektrokimia, kimia polimer, thermokimia, ilmu
material dan lainnya.
·
Biologi
Anatomi, ekologi, biofisika, taksonomi, viroogi, zoologi, fisiologi, genetika dan lainnya.
·
Astronomi
·
Ilmu bumi
Ilmu lingkungan, palenteologi, geologi, geodesi, hydrologi,
meteorologi, oceanologi dan lainnya.
·
Ilmu sains sosial
Sosiologi komunikasi,
sosiologi politik, sosiologi pendidikan. Antropologi budaya, antropologi
ekonomi, antropologi politik
·
Psikologi.
Psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal.
·
Ekonomi
Ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan.
·
Politik
Politik dalam negeri, politik hukum, politik
internasional.
·
Ilmu sains humaniora
Seni abstrak, seni grafika, seni pahat, seni tari.
·
Hukum
Hukum pidana, hukum tata usaha negara, hukum adat.
·
Bahasa
Sastra.
·
Sejarah
Sejarah Indonesia, sejarah dunia dan lainnya.
KESIMPULAN
Brown, Phillip, & Lauder, Hugh. (2003). Globalisation
and the knowledge economy: Some observations on recent trends in employment,
education and the labour market. Google Scholar
Bybee, Rodger W., & Fuchs, Bruce. (2006). Preparing
the 21st century workforce: A new reform in science and technology education. Google Scholar
Djajadi, Muhammad. (2019). The Use of Outdoor Study Methods
in Physics Kinematics Learning (A Classroom Action Research). Jurnal
Pendidikan Fisika, 7(2), 151–172. Google
Scholar
Friedman, Thomas. (2005). The world is flat: A brief history
of the globalised world in the 21st century. Allen Lane-Penguin Books:
London. Google Scholar
Istikhomah, Radenra Imro’atun, & Abdul Wachid, B. S.
(2021). Filsafat sebagai landasan ilmu dalam pengembangan sains. Jurnal
Filsafat Indonesia, 4(1). Google Scholar
Muri, Yusuf. (2014). Metode penelitian: kuantitatif,
kualitatif, dan penelitian gabungan. Jakarta: Kencana, 6(1), 338.
Google Scholar
Noor, Fuad Arif. (2019). Karakteristik Sains dalam Pemikiran
Filosofis Kontemporer (Tinjauan Filsafat Ilmu-Ilmu Keislaman). AL-MURABBI:
Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman, 6(1), 1–12. Google Scholar
Trianto, Trianto. (2010). Model pembelajaran terpadu. Jakarta:
Bumi Aksara. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |