PENGARUH WAKTU MASERASI DAN
JENIS BAHAN ZAT WARNA
TERHADAP PEWARNAAN
KAIN
Naimatur
Rizqiani, Haryanto A.R
Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah,
Indonesia
d500170139@student.ums.ac.id, haryanto@ums.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: Revised : Accepted: |
10 April 2022 10 Mei 2022 20 Mei 2022 |
Latar Belakang : Bahan pewarna tekstil alami daun alpukat, daun ketapang, daun sirsak, dan sabut kelapa. Tujuan : Penggunaan bahan alami bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pewarnaan tekstil Metode : Metode yang digunakan untuk mendapatkan zat pewarna adalah maserasi, maserasi merupakan metode yang sangat sederhana dengan variasi waktu maserasi 2,4, 6, 8, 10 hari. Hasil : Acuan yang digunakan dalam pewarnaan ini adalah banyaknya kadar tanin yang terkandung dalam bahan tersebut. Penelitian ini menggunakan daun sirsak segar, daun ketapang kering, daun ketapang segar, daun sirsak segar, dan sabut kelapa segar. Kesimpulan : Uji kadar tanin dilakukan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 400-800 nm. Kata
Kunci : Ekstraksi; Tanin; Daun Alpukat; Daun
Ketapang; Daun Sirsak; Sabut Kelapa; Pewarna Alami |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: Natural textile
dyes for avocado leaves, ketapang leaves, soursop leaves, and coconut
fiber. Objectives: The use of natural materials aims
to reduce environmental pollution due to textile coloring Methods: The method used to obtain the dye
is maceration, maceration is a very simple method with variations in
maceration time of 2, 4, 6, 8, 10 days. Results: The reference used in this
coloring is the amount of tannin content contained in the material. This
study used fresh soursop leaves, dried ketapang
leaves, fresh ketapang leaves, fresh soursop
leaves, and fresh coconut husk. Conclusion: The tannin content test was
carried out using UV-Vis Spectrophotometry with a wavelength of 400-800 nm. Keywords: Edistractions; Tanin; Daun
Apukat; Daun Ketapang; Daun Sirsak; Sabut Kelapa; Pecolor
A lami |
|
*Correspondent Author :
Naimatur Rizqiani
Email : d500170139@student.ums.ac.id
PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah sehingga
dapat dimanfaatkan sebagai modal dalam pengembangan sumber daya manusia, salah
satunya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang diolah menjadi zat pewarna
alami tekstil. Tumbuh-tumbuhan merupakan bahan utama untuk menghasilkan pewarna
yang mudah terdegradasi. Tanin yang merupakan salah satu zat pewarna alami yang
terkandung dalam sebagian besar tumbuh-tumbuhan dengan pigmen yang memberikan
warna kuning (Bahri,
Jalaluddin, & Rosnita, 2018).
Daun
alpukat (Persea americana
Mill.) menunjukkan adanya golongan senyawa
flavonoid, tanin, kuinon, saponin dan steroid. Secara
spesifik, kandungan senyawa kimia tersebut tentunya memiliki karakteristik yang
berbeda-beda, salah satunya kandungan tanin (Hamboroputro & Yuniwati, 2017).
Daun
ketapang mengandung total 122 senyawa tanin yang dapat terhidrolisis. Selain
itu, daun ketapang mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, kuinon,
fenolik dan terpenoid serta
steroid. Penelitian dengan menggunakan metode identifikasi kualitatif secara fitokimia
kandungan senyawa yang terdapat pada daun ketapang yaitu tanin, saponin,
flavonoid, alkaloid dan fenol banyak ditemukan pada daun yang masih muda.
Senyawa yang terdapat dalam daun ketapang dapat diperoleh dengan melalui proses
ekstraksi (Putri, 2017).
Berdasarkan
penelitian skrining fitokimia ekstrak daun sirsak yang telah dilakukan oleh (Wisdom, Chor, Hoagwood, & Horwitz, 2014),
diketahui bahwa daun sirsak mengandung tannin. Oleh
karena itu daun sirsak dapat digunakan untuk bahan dasar pewarna alami tekstil
yang ramah lingkungan. Zat pewarna alami tannin akan
menghasilkan warna kuning hingga coklat tua pada kain. Pengambilan tannin dari daun sirsak dilakukan dengan cara ekstraksi (Chintya & Utami, 2017).
Sabut
kelapa mengandung senyawa tanin pada partikel sabutnya. Senyawa tanin dapat
mengikat enzim yang dihasilkan oleh mikroba sehingga mikroba menjadi tidak
aktif. Tanin dapat didefinisikan dengan kromatografi dan senyawa fenol dari
tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptik dan
pemberi warna (Rohaeni, 2016).
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut.
Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa
melarutkan material lainnya. Metode ekstraksi terbagi 2 yaitu maserasi dan soxhletasi. Pada penelitian ini digunkan
metode maserasi karena maserasi merupakan metode yang paling sederhana, dimana bahan dihaluskan berupa serbuk kasar ataupun ukuran
yang lebih kecil kemudian dilarutkan dengan pelarut dengan cara direndam. Untuk
mendapatkan hasil ekstrak yang maksimal perlu digunakan pengekstrak
yang cocok dengan sifat zat yang akan diekstrak (Eriani & Purnama, 2017).
METODE PENELITIAN
Penelitian
yang dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh waktu maserasi terhadap
pewarnaan kain yang didapat dari banyaknya kadar tanin pada daun alpukat segar,
daun ketapang kering, daun ketapang segar, daun sirsak segar dan sabut kelapa
segar. Daun alpukat segar, ketapang kering, daun ketapang segar daun sirsak
segar dan sabut kelapa yang telah dipotong kecil-kecil di ekstraksi dalam gelas
beker dengan pelarut etanol 90% 100 mL dan aquades 100 mL. Variasi waktu
yang telah ditentukan yaitu 2, 4, 6, 8, 10 hari, pengadukan dilakukan sekali
dalam 24 jam dan sampel disimpan di botol HDPE bertutup rapat. Kain katun
direndam dalam larutan tawas selama 30 menit dan dikeringkan. Kemudian kain
katun dicelupkan kedalam larutan sampel selama 10
menit, angkat tanpa diperas dan keringkan dengan cara diangin-anginkan.
A.
Analisis hasil
1.
Uji kualitatif kadar tanin
Pengujian
kualitatif tannin dilakukan dengan penambahan FeCl3,
larutan yang semula berwarna kuning muda berubah menjadi hijau pekat. Terjadi
perubahan warna pada semua sampel yang telah ditambahkan FeCl3 menandakan
adanya tanin pada sampel tersebut (Chintya & Utami, 2017).
2.
Uji kuantitatif kadar tanin
Uji
kadar tanin menggunakan Spektrofotometri UV-Vis untuk
mengetahui variasi waktu dan bahan zat pewarna yang optimal dengan acuan
banyaknya kadar tanin yang terkandung.
3.
Uji statistik
Uji two way anova
digunakan untuk membandingkan perbedaan rata-rata antar sampel dengan waktu
maserasi yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Uji kualitatif kadar tanin
Larutan sampel yang telah
ditambahkan FeCl3 menunjukkan perubahan warna dari kuning kecoklatan
menjadi hijau kehitaman. Perubahan warna tersebut menandakan adanya tanin di
dalam sampel.
B. Uji kuantitatif kadar
tanin
Pembuatan sampel untuk
perhitungan kurva standar yaitu dengan menimbang asam tanat,
kemudian diencerkan menggunakan aquades. Larutan sampel
dibuat dalam beberapa konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm dan 10 ppm,
kemudian diukur absorbansinya. Pengukuran absorbansi bertujuan untuk mengetahui respon
pigmen di sekitar spektrum UV hingga visible.
Pengukuran setiap bahan sampel dibedakan panjang gelombangnya untuk mendapat
nilai absorbansi tertinggi.
1. Daun alpukat segar
Dari hasil pengukuran
didapatkan panjang gelombang maksimum sebesar 751 nm.
Gambar 1
kurva kalibrasi
asam tanat
Dari kurva standart asam tanat di atas
diperoleh persamaan y=0.0491×+0.1046
Tabel 1
Data hasil uji
spektrofotometri UV-Vis daun alpukat
|
No. |
Waktu Maserasi |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.194 |
6.0815 |
200 |
|
2. |
4 |
0.213 |
6.4684 |
200 |
|
3. |
6 |
0.271 |
7.6497 |
200 |
|
4. |
8 |
0.229 |
6.7943 |
200 |
|
5. |
10 |
0.185 |
5.8982 |
200 |
2. Daun ketapang kering
Dari
hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk daun ketapang kering adalah
709 nm.
Gambar 2
kurva kalibrasi asam tanat
Dari
kurva standart asam tanat
di atas diperoleh persamaan
y=0.0475×+0.1276
Tabel 2
Data hasil uji
spektrofotometri UV-Vis daun ketapang kering
|
No. |
Waktu Maserasi (hari) |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.386 |
10.8126 |
200 |
|
2. |
4 |
0.530 |
13.8442 |
200 |
|
3. |
6 |
0.490 |
13.0021 |
200 |
|
4. |
8 |
0.645 |
16.2653 |
200 |
|
5. |
10 |
0.511 |
13.4442 |
200 |
3. Daun ketapang segar
Dari
hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk daun ketapang kering adalah
709 nm.
Gambar 3
kurva kalibrasi asam tanat
Dari
kurva standart asam tanat
di atas diperoleh persamaan
y=0.0475×+0.1276
Tabel 3
Data hasil uji
spektrofotometri UV-Vis daun ketapang segar
|
No. |
Waktu Maserasi |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.448 |
12.1179 |
200 |
|
2. |
4 |
0.598 |
15.2758 |
200 |
|
3. |
6 |
0.745 |
18.3705 |
200 |
|
4. |
8 |
0.587 |
15.0442 |
200 |
|
5. |
10 |
0.402 |
11.1495 |
200 |
4. Daun sirsak
Dari
hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk daun sirsak adalah 712 nm.
Gambar 4
kurva kalibrasi asam tanat
Dari
kurva kalibrasi asam tanat di atas diperoleh
persamaan
y=0.0249×+0.2786
Tabel 4
Data hasil uji
spektrofotometri UV-Vis daun sirsak
|
No. |
Waktu Maserasi (hari) |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.525 |
32.2731 |
200 |
|
2. |
4 |
0.664 |
37.8554 |
200 |
|
3. |
6 |
0.489 |
30.8273 |
200 |
|
4. |
8 |
0.467 |
29.9438 |
200 |
|
5. |
10 |
0.404 |
27.4137 |
200 |
5. Sabut kelapa
Dari
hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk sabut kelapa adalah 740 nm.
Gambar 4
kurva kalibrasi asam tanat
Dari
kurva kalibrasi asam tanat di atas diperoleh
persamaan
y=0.0486×+0.1302
Tabel 4
Data hasil uji
spektrofotometri UV-Vis sabut kelapa
|
No. |
Waktu Maserasi (hari) |
Absorbansi |
Kadar tanin (%) |
Pengenceran (mL) |
|
1. |
2 |
0.465 |
12.2469 |
200 |
|
2. |
4 |
0.512 |
13.2140 |
200 |
|
3. |
6 |
0.481 |
12.5761 |
200 |
|
4. |
8 |
0.215 |
7.1029 |
200 |
|
5. |
10 |
0.379 |
10.4774 |
200 |
Untuk
setiap sampel memiliki waktu ideal tersendiri untuk mencapai nilai absorbansi maksimum. Semakin tinggi kadar tanin maka
semakin tinggi pula nilai absorbansinya. Kadar tanin
yang tinggi di dapat dari hasil ekstraksi yang cukup lama, hasil ini
menunjukkan semakin lama waktu ekstraksi, maka absorbansi
juga akan semakin tinggi (Eriani & Purnama, 2017).
Tetapi tanin dapat rusak jika waktu perendaman terlalu lama. Semakin lama waktu
ekstraksi maka semakin lama pula waktu kontak antara pelarut dengan zat, dan
masing-masing komponen memiliki batas optimal. Jika waktu melebihi waktu
optimum, maka ekstraksi tidak akan berpengaruh karena senyawa akan terurai.
Sehingga didapat kadar tanin maksimum untuk sampel daun alpukat pada hari ke-6,
daun ketapang kering hari ke-8, daun ketapang segar hari ke-6, daun sirsak hari
ke-4 dan sabut kelapa hari ke-4. Maserasi dilakukan dengan pelarut ethanol-air dengan rasio 1:1. Pemilihan etanol-air sebagai
pelarut karena sama-sama bersifat polar (Chintya & Utami, 2017).
Hasil maserasi optimum didapatkan dari daun sirsak dengan kadar tanin paling
banyak. Sedangkan daun alpukat memiliki kadar tanin paling sedikit dibandingkan
dengan sampel lainnya.
C. Uji statistik
Hasil
pengolahan data menunjukkan bahwa ada 5 jenis sampel sebagai faktor pertama
yaitu daun alpukat, ketapang kering, ketapang segar, daun sirsak, dan sabut
kelapa masing-masing dengan 5 ulangan dan 5 jenis variasi waktu sebagai faktor
kedua yaitu 2, 4, 6, 8, dan 10. Hasil uji interaksi p_value
(0,000) < α (0,05) maka ada interaksi antara faktor sampel dan variasi
waktu. Hasil uji efek faktor sampel p_value (0,000)
< α (0,05) maka ada interaksi antara faktor sampel. Hasil uji efek
faktor variasi waktu p_value
(0,000) < α (0,05) maka ada interaksi antara faktor variasi waktu.
KESIMPULAN
Bahri, Syamsul,
Jalaluddin, Jalaluddin, & Rosnita, Rosnita. (2018). Pembuatan zat warna
alami dari kulit batang jamblang (syzygium cumini) sebagai bahan dasar pewarna
tekstil. Jurnal Teknologi Kimia Unimal, 6(1), 10–19. Google Scholar
Chintya, Nana, & Utami, Budi. (2017). Ekstraksi tannin
dari daun sirsak (Annona muricata L.) sebagai pewarna alami tekstil. JC-T
(Journal Cis-Trans): Jurnal Kimia Dan Terapannya, 1(1). Google Scholar
Eriani, Winya, & Purnama, Ir Herry. (2017). Pengaruh
Waktu Maserasi, Perlakuan Bahan Dan Zat Fiksasi Pada Pembuatan Warna Alami Daun
Ketapang (Terminalia catappa Linn). Universitas Muhammadiyah Surakarta. Google Scholar
Hamboroputro, Lintang P., & Yuniwati, Murni. (2017).
Pengambilan Zat Tanin dari Daun Alpukat (Persea americana Mill.) melalui Proses
Ekstraksi dengan Pelarut Etanol (Variabel Suhu Ekstraksi). Jurnal Inovasi
Proses, 2(1), 18–24. Google Scholar
Putri, Kurnia Arini. (2017). Ekstraksi Zat Warna Daun
Ketapang (Terminalia Catappa l.) dan Aplikasinya pada Dye Sensitized Solar Cell
(DSSC). Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Google Scholar
Rohaeni, Nine Siti. (2016). Kajian Konsentrasi Pelarut
Terhadap Ekstrak Pigmen dari Sabut Kelapa (Cocos Nucifera L) Sebagai Pewarna
Alami. Fakultas Teknik Unpas. Google Scholar
Wisdom, Jennifer P., Chor, Ka Ho Brian, Hoagwood, Kimberly
E., & Horwitz, Sarah M. (2014). Innovation adoption: a review of theories
and constructs. Administration and Policy in Mental Health and Mental Health
Services Research, 41(4), 480–502. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |