KEKERABATAN ANTARA PEDAGANG PADA INTERAKSI JUAL BELI DI PASAR RAYA MMTC
DALAM PENDEKATAN MIMETIK
Elza Saragih,
Risky Alda Hutagaol
Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, Indonesia
elzasaragih@gmail.com,
risky.hutagaol@student.uhn.ac.id
|
|
Abstrak |
|
|
Received: 10 April 2022 Revised: 10 Mei 2022 Accepted: 20 Mei 2022 |
|
Latar Belakang : Pasar merupakan kumpulan seluruh pembeli dan penjual yang berpotensial menyediakan barang tertentu di pasar MMTC. Pasar biasanya menampung berbagai macam penjual. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan daya saing pasar MMTC, untuk menjelaskan bagaimana interaksi yang terjadi di pasar MMTC. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder, data primer berupa tuturan penjualan dan pembeli di Pasaraya MMTC, jalan pancing yang terjadi saat tawar- menawar, data sekunder dalam penelitian ini yaitu bahan – bahan yang tertulis yang berhubungan dengan buku kesantunan berbahasa. Jurnal dan lain- lain. Hasil : Hasil penelitian adanya berbagai bentuk bahasa yang telah diteliti dan dapat ditemui interaksi penjual dan pembeli adalah merupakan wujud bahasa indonesia yang formal dan non formal, seperti kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, dimana pada dasarnya bahwa bahasa indonesia merupakan bahasa yang dipakai dalam bahasa sehari – hari yang digunakan untuk saling bekomunikasi dan berinteraksi. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dapat diambil, meliputi wujud kesantunan berbahasa di pasaraya MMTC dalam interaksi jual beli yang terdiri dari bentuk bahasa yang digunakan penjual dan pembeli saat tawar menawar. Kata
Kunci : Kekerabatan Daya Saing; pelayanan;
pedagang pasar |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: The market is a collection of all
buyers and sellers who have the potential to provide certain goods in the
MMTC market. The market usually accommodates a wide variety of sellers. Objectives: The purpose of this study is to
explain the competitiveness of the MMTC market, to explain how interactions
occur in the MMTC market. Methods: The method used in this research
is sourced from primary data and secondary data, primary data in the form of
speeches of sales and buyers at Pasaraya MMTC,
fishing trails that occur during bargaining, secondary data in this study are
written materials related to politeness books. language. Journals and others. Conclusion: Based on the results of research
and discussion that can be taken, includes the form of politeness in the MMTC
market in buying and selling interactions which consists of the form of
language used by sellers and buyers when bargaining. Keywords: Competitiveness Relationship;
service; market trader |
|
*Correspondent Author :
Elza Saragih
Email : elzasaragih@gmail.com
PENDAHULUAN
Manusia
adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia dalam
hidupnya tidak hanya membuntuhkan keberadaan manusia
lainnya, lebih dari itu manusia menjalin hubungan dengan sesamanya dalam
berbagai bentuk ikatan. Salah satu bentuk ikatan hubungan, dengan adanya
komunikasi, maka setiap orang bisa menyampaikan isi pikiran ataupun perasaan
terhadap orang lain yang digunakan oleh manusia sebagai alat komunikasi satu
sama lain baik melalui lambang namun juga mengandung makna tersendiri. Dengan
bahasa yang memiliki
struktur kebahasaan yang unik kita
mampu memahami sebenarnya apa yang diharapkan oleh alam semesta,baik yang bersifat material maupun yang bersifat metafisika
dan dengan bahasa kita mampu
berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya di dunia sehingga
dengan bahasa kita mampu memelihara dunia
agar tetap seimbang dan harmonis (Iswara & Susana, 2019).
Namun dikatakan bahasa tidak asal-asal diucapkan, tetapi dikatakan bahasa jika
memiliki struktur yang tersusun dengan teratur dan memiliki makna. Karena
bahasa itu ada yang tertulis dan ada yang lisan, dalam arti lisan menyampaikan
informasi melalui bahasa komunikasih yang menggunakan
suara dengan ucapan yang dikeluarkan. Bahasa memegang peranan penting dalam
komunikasi dan interaksi manusia dalam kehidupan sosialnya. Setiap komunikasi manusia
saling menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan
maupun emosi secara langsung (Cahyani & Rokhman, 2017)
(Zamzani, 2011).
Era
globalisasi yang semakin canggih ini, masyarakat sudah semakin pintar dalam
memproduksi bahasa. Dalam berbahasa juga dibutuhkan yang namanya kesantunan
berbahasa. Secara umum kesantunan berbahasa dikelompokkan kedalam
dua jenis, yaitu, kesantunan tingkat pertama (first
order politeness), yang merujuk pada etiket atau kaidah
kepatutan bertingkah laku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Pada sisi
ini kesantunan merujuk kepada seperangkat kaidah tatakrama
yang disepakati oleh suatu kelompok dan pemahaman atas kaidah tatakrama kelompok menjadi indikator kesuksesan seorang
dalam bertutur yang santun. Kesantunan tingkat pertama ini disebut kesantunan
sosial. Kedua, kesantunan tingkat kedua (second order
politeness) yang merujuk pada penggunaan bahasa untuk
menjaga hubungan interpersonal (Halawa, Gani, & Syahrul, 2019)
(Kuntarto, 2016).
Kesatunan merupakan suatu cara berbahasa yang baik
dan layak dengan tujuan mendekatkan antara para penuturnya degan lawan
bicaranya. Artinya dalam suatu kesantunan yang merupakan bagian perilaku
diekspresikan dengan cara yang baik dan beretika. (Nabunome & Prihatminingtyas, 2016)
mengatakan bahwa pasar merupakan aset budaya di masyarakat karena memberikan
manfaat besar bagi masyarakat untuk mrmrnuhi
kebutuhan. Pasar biasanya menampung berbagai macam penjualan. Agar pasar bisa
bertahan dan berkembang dalam dunia yang penuh persaingan untuk mencari
konsumen, maka pedagang harus mampu memahami konsumennya secara menyeluruh,
karena konsumen merupakan pasar sasaran suatu produk. Diterima atau tidaknya
produk tergantung petsepsi konsumen atas produk
tersebut. Jika konsumen merasa produk tersebut dapat memberikan manfaat maka maka barang tersebut akan dibeli. Mengingat keberadaan
konsumen merupakan faktor yang pentingnya peranan konsumen. Hal ini menunjukkan
bahwa resiko kehilangan pelanggan dengan mengabaikan
keluhan yang tidak dianggap remeh. Pasar yang menggunakan konsumennya dan
pedagang dari golongan menengah keatas, hanya sedikit
dari golongan ekonomi bawah.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder, data primer berupa
tuturan penjualan dan pembeli di Pasaraya MMTC, jalan pancing yang terjadi saat
tawar- menawar, data sekunder dalam penelitian ini yaitu bahan – bahan yang
tertulis yang berhubungan dengan buku kesantunan berbahasa. Jurnal dan lain-
lain. Penelitian ini memakai metode merekam pembicaraan ataupun tuturan
penjualan dan pembeli saat terjadi tawar – menawar dengan menggunakan handphone untuk mendapatkan hasil dari penelitian ini juga
di bantu dengan teknik lainnya.
1) Teknik simak libat cakap :
dalam penelitian ini penulis terlibat langsung ke dalam dan berperan menjadi
pembeli.
2) Teknik Sadap”: pada saat mulai
terjadi pembicaraan, maka penulis menyadap pembicraan
pembeli kepada penjual
3) Teknik catat : di dalam
penelitian ini teknik analisis yang peneliti lakukan yaitu :
Penyalinan dan menganalisis
setelah itu data disalin kembali, tahap selanjutnya data tersebut dianalisis
wujudnya dan dideskripsikan melalui tuturan, dalam memakai teri strategi
kesantunan oleh brown dan levinson
yaitu yang memberi batasan kesantunan itu sendiri sebagai upaya sadar seseorang
dalan menjaga keperluan muka orang lain , istilah
muka dalam hubungan ini brown dan levinson
dimaknai sebagai citra dari seseorang dalam masyarakat.
Menurut (Arikunto, 2010)
validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan instrumen yang bila digunakan
beberapa kali untuk mengukur objek yang sama dan akan menghasilak
data yang sama sehingga instrumen yang reliabel akan menghasilkan objek sama (Sugiyono, 2013),
mengatakan penelitian yang terdiri dari sebuah interaksi antara penjual dan
pembeli yang memiliki persaingan akan mendapatkan kepuasan secara bersama. Persamaan
regresi dalam penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar pengaruh variabel
yaitu daya saing, terhadap pelayanan dan
,terhadap kepuasan konsumennya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian adanya
berbagai bentuk bahasa yang telah diteliti dan dapat ditemui interaksi penjual
dan pembeli adalah merupakan wujud bahasa indonesia
yang formal dan non formal, seperti kalimat berita, kalimat tanya, kalimat
perintah, dimana pada dasarnya bahwa bahasa indonesia merupakan bahasa yang dipakai dalam bahasa sehari–hari yang
digunakan untuk saling bekomunikasi dan berinteraksi.
Dalam kesantunan berbahasa dalam sebuah pengucapan yang sering muncul dalam
tuturan penjual dan pembeli di pasaraya MMTC tersebut dapat lebih menekankan
pada kata-kata yang digunakan dan serta juga melalui intonasi yang digunakan
saat terjadi peembicaraan antara penjual dan pembeli
di pasaraya MMTC (Murni, 2013).
Bentuk kesantunan bahasa
yang dapat diklasifikasikan atas beberapa macam tindak tutur yaitu : menyuruh, bertanya,
memohon, menentang
1. Tindak tutur menyuruh
Tuturan beerikut merupakan contoh tindak tutur menyuruh
ikan masnya satu kilo tiga
puluh lima ribu ya bang !
tuturan yang dititurkan oleh pewawancara kepada abang yang menjual ikan
mas merupakan tindak tutur menyuruh yang di tandai dengan adanya tindak
penawaran.
2. Tindak tutur bertanya
Tindak tutur bertanya yang
digunakan penjual dan pembeli di pasaraya MMTC dapat dilihat pada tuturan
berikut.
Bu, berapa harga sosisnya
satu biji bu ?
Tuturan tersebut
menyatakan bahwa penutur bertanya kepada lawan tutur apakah lawan tutur
mengerti dengan penjelasan yang diberikan penutur.
3. Tindak tutur memohon
Tindak tutur ini memohon
yang tedapat pada tuturan berikut
Lima belas la bu, supaya jadi bu
Tuturan yang dituturkan
pembeli kepada penjuak agar harga jualannya diturunkan, tindak tutur memoho ini ditandai dengan adalah kata lima belas ribu la bu. Pada tuturan tersebut
pembeli memohon kepada penjual agar harga jualannya diturunkan selama adanya
proses interaksi.
4. Tindak tutur menentang
Tindak tutur menentang
yang ditemukan dalam penelitian ini adalah ada satu sasaran yaitu sebagai
berikut :
Lima belas ya ?
Tuturan yang dituturkan
oleh penjual dan pembeli agar dia membeli jualannya, pada tuturan tersebut
pembeli dalam arti menyuruh ibu tersebut menurunkan harga jualannya.
Tingkat kesantunan dalam
proses tawar menawar antara penjual dan pembeli di pasaraya MMTC
Dalam penelitian ini
menemukan bahwa penjual dan pembeli yang terjadi di pasaraya MMTC hanya menngunakan kategori yang memaksimalkan berdasarkan hasil
analisis data yang di peroleh sehingga peringkat
pilihan cara yang digunakan hanya untuk membentuk kesantunan berbahasa dalam
proses layanan informasi.
Contoh ujaran yang
terdapat :
Bu sepeluh
ribu, baru saya mau
Tuturan yang dituturkan
oleh pembeli kepada penjual tersebut dan akhirnya menerima persetujuan harga
yang tidak menguntungkan untuk penjual tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan yang dapat diambil, meliputi wujud kesantunan
berbahasa di pasaraya MMTC dalam interaksi jual beli yang terdiri dari bentuk
bahasa yang digunakan penjual dan pembeli saat tawar menawar.kesantunan
berbahasa yang sering muncul dalam tuturan penjual dan pembeli di pasaraya MMTC
adalah tuturan yang sudah lumayan santun dalam arti tuturan yang baik. Namun
untuk sebagian penjual yang lain adanya, yang masih ada menggunakan tuturan
yang kurang namun tidak sepenuhnya.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Metode peneltian. Jakarta:
Rineka Cipta. Google Scholar
Cahyani, Desy Nur, & Rokhman, Fathur. (2017). Kesantunan
Berbahasa Mahasiswa dalam Berinteraksi di Lingkungan Universitas Tidar: Kajian
Sosiopragmatik. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6(1),
44–52. Google Scholar
Halawa, Noibe, Gani, Erizal, & Syahrul, Ramadhan. (2019).
Kesantunan berbahasa Indonesia dalam tindak tutur melarang dan mengkritik pada
tujuh etni. Lingua, 15(2), 195–205. Google Scholar
Iswara, Agus Ari, & Susana, Kadek Yogi. (2019). Analisis
kesantunan bahasa media sosial: Komunikasi mahasiswa kepada dosen stmik stikom
Indonesia. KULTURISTIK: Jurnal Bahasa Dan Budaya, 3(2), 10–29. Google
Scholar
Kuntarto, Eko. (2016). Kesantunan Berbahasa Ditinjau Dari
Prespektif Kecerdasan Majemuk. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi,
16(2), 58–73. Google Scholar
Murni, Sri Minda. (2013). Kesantunan linguistik.
Unimed Press. Google Scholar
Nabunome, Adelvia, & Prihatminingtyas, Budi. (2016).
Public Service Quality. Dalam Journal of Economics and Sustainable
Development, 7(22). Google Scholar
Sugiyono, Dr. (2013). Metode penelitian pendidikan
pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D. Google Scholar
Zamzani, Zamzani. (2011). Pengembangan alat ukur kesantunan
bahasa Indonesia dalam interaksi sosial bersemuka. LITERA, 10(1).
Google
Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |