Deo Fanni Nababan, Onan Marakali Siregar
Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Indonesia
deonababan12@gmail.com, onanmsiregar@gmail.com
|
|
Abstrak |
|
|
Received: 10 April 2022 Revised : 10 Mei 2022 Accepted: 20 Mei 2022 |
|
Latar Belakang : Terjadinya pandemi Covid-19 mengakibatkan terganggunya aktivitas ekonomi di Indonesia, di mana Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I/2021 mengalami minus 0.74 persen. Tetapi, dibalik menurunnya ekonomi Indonesia, aktivitas belanja online di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan sebanyak 400% yang dimuat oleh KemenKominfo. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana perilaku konsumen generasi milenial pada masa Covid-19 di Kota Medan. Metode : Bentuk Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bermaksud untuk memahami dan menggambarkan kejadian atau fakta yang terdapat pada suatu objek penelitian dengan cara melakukan wawancara dan penyebaran kuesioner. Hasil : Hasil penelitian ini menyatakan bahwa berbelanja secara online adalah alternatif yang dipilih konsumen untuk menerapkan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah Indonesia yang menjadi budaya baru yang harus diterapkan. Bahkan berbelanja secara online sudah menjadi gaya hidup ditengah Covid-19 saat ini. Kesimpulan : Faktor yang mempengaruhi generasi milenial memutuskan pembelian secara online adalah kontribusi yang dilakukan pihak layanan aplikasi e-commerce dengan memberikan kemudahan dalam hal berbelanja, memberikan promo, serta memberikan kenyamanan bagi konsumen, terutama pada generasi milenial. Kata
Kunci : Perilaku Konsumen; Generasi Milenial; Belanja Online. |
|
|
|
|
|
|
Abstract |
|
|
|
Background: The occurrence
of the Covid-19 pandemic has disrupted economic activity in Indonesia,
where Indonesia's Gross Domestic Product (GDP) in the first quarter of 2021 experienced minus 0.74 percent. However, behind the decline
in the Indonesian economy,
online shopping activities in Indonesia experienced
a very significant increase of 400% as published by the Ministry of Communication and Information. Objectives: This
study aims to find out how
the millennial generation consumer behavior during the Covid-19 period in Medan
City. Methods: The form of this research
uses a descriptive method with a qualitative approach. This study intends to understand and describe events or facts
contained in an object of research
by conducting interviews and distributing questionnaires. Results: The results of this study state that shopping online is the
alternative chosen by consumers to implement the health protocols
implemented by the Indonesian government which is a new
culture that must be implemented.
Even shopping online has become a lifestyle in the midst of
Covid-19 at this time. Conclusion: The factor
that influences the millennial generation to decide to purchase
online is the contribution made by the
e-commerce application service by providing
convenience in terms of shopping, providing promos, and providing convenience for consumers, especially for the millennial
generation. Keywords: Consumer behavior; Millennial
Generation; Online shopping. |
|
*Correspondent Author :
Deo Fanni Nababan
Email : deonababan12@gmail.com
PENDAHULUAN
Negara Amerika,
marketplace mulai populer pada tahun tahun 1995 dengan adanya eBay dan Amazon.
Negara China mulai populer ketika berdirinya Alibaba
pada Tahun 1999 yang didirikan oleh Jack Ma. Platform tersebut yang awalnya
hanya digunakan untuk menunjukkan produknya. Sementara proses transaksi jual
beli masih secara offline. Di Indonesia marketplace online mulai ada
ketika beberapa tahun setelah munculnya marketplace online di Amerika dan China, pada Tahun 2006 Toko Bagus dan
OLX pun berdiri. Seiring dengan berjalannya waktu perkembangan kemajuan
internet semakin pesat dan tren marketplace
semakin bertumbuh. Pada tahun 2009 telah berdirinya platform Tokopedia dan
mengalami perkembangan yang sangat pesat. Marketplace akhirnya menjadi semakin
populer sebagai tempat bagi masyarakat untuk berbelanja berbagai kebutuhan.
Pada tahun 2010, marketplace Bukalapak
turut berdiri. Seiringnya berjalan waktu, jumlah pengguna e-commerce
semakin meningkat dan platform e-commerce juga
semakin bertambah yang bersaing di Indonesia, seperti, skonsumen
dalam hal melakukan transaksi jual beli.
Perilaku
konsumen menurut Solomon (Abdullah &
Suliyanthini, 2021),
lebih dari sekedar membeli, juga mencakup studi tentang bagaimana memiliki
(tidak memiliki) hal-hal yang mempengaruhi kehidupan kita dan bagaimana harta
benda yang dimiliki mempengaruhi perasaan kita sendiri serta hubungan satu sama
lainnya. Solomon juga menuliskan bahwa perilaku konsumen adalah studi tentang
proses yang terlibat ketika individu atau kelompok memilih, membeli,
menggunakan atau membuang produk, jasa, ide atau pengalaman untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini
masyarakat di dunia dan terkhususnya di Indonesia telah mengalami perubahan
dalam hal memenuhi kebutuhan secara perlahan dengan aktivitas belanja yang dilakukan secara online. Jumlah transaksinya pun dari tahun ke tahun semakin
meningkat dan jenis barang yang masyarakat beli juga semakin beraneka ragam
untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, ditambah lagi pada saat ini
dunia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang awalnya ada di Wuhan,
China pada bulan Desember 2019 dan menyebar hampir ke seluruh dunia. Di
Indonesia, Covid-19 pertama kali dikonfirmasi pada bulan Maret tahun 2021.
Pemerintah telah melakukan beragam upaya dalam mencegah penyebaran virus ini.
Beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah antara lain kebijakan Pembatasan
Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Kebijakan
tersebut mendorong masyarakat untuk menyesuaikan perilaku sesuai dengan
protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Kebijakan itu juga membuat
konsumen memilih suatu keputusan (decision) dalam
memilih alternatif yang berkaitan dalam keputusan pembelian. Selain itu,
pandemi Covid-19 telah merubah tatanan kehidupan masarakat, dimana aspek kehidupan
masyarakat berubah secara drastis. Di mana masyarakat dianjurkan bekerja dari
rumah (work from home), sekolah via online, dan
mempengaruhi prilaku konsumen berbelanja dari rumah (online shop). Terjadinya pandemi
Covid-19 membuat stabilitas perekonomian negara Indonesia mengalami gangguan
mulai dari ekonomi makro hingga mikro pada kuartal I/2021 yang minus 0.74%.
Akan tetapi, aktivitas belanja secara online di
Indonesia mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kemenkominfo) mencatat aktivitas belanja
online meningkat sampai 400% selama pandemi Covid-19.
Aktivitas belanja secara online tersebut di dominasi
dari generasi milenial.
Aktivitas
belanja online dilakukan di beberapa Kota besar.
Seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan. Hasil dari survei yang dirilis oleh Populix pada tanggal 9 November 2020 yang dikelompok
generasi millenial dan generasi Z dengan jumlah koinforman sebanyak 6.285 orang. Usia 18-21 tahun dan 22-28
tahun memiliki angka tertinggi dalam aktivitas belanja online
dengan masing-masing 35 persen dan 33 persen suara informan. Jumlah penduduk di
Kota medan yang tercatat masuk dalam kategori generasi milenial
yang berjumlah 952.854 orang dengan rentan umur 20-44 tahun dari 2.279.894
orang penduduk Kota Medan. sesuai dengan data tersebut menyatakan bahwa genrasi milenial di Kota Medan hamper mendominasi di Kota Medan. Kota Medan juga salah
satu Kota dengan aktivitas belanja online yang
banyak. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen generasi milenial
pada masa pendemi Covid-19 di Kota Medan, 2mengetahui
apa yang membuat generasi milenial lebih memilih
berbelanja online pada masa pendemi
Covid-19 di Kota Medan.
A.
The American Marketing
Association
(Kotler, 2000) mendefenisikan perilaku konsumen merupakan interaksi
dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungan di mana manusia
melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka (Setiadi & SE, 2019).
Perilaku konsumen adalah dinamis, berarti bahwa perilaku seseorang konsumen,
grup konsumen, ataupun masyarakat luas selalu berubah dan bergerak sepanjang
waktu. Perilaku konsumen adalah suatu proses yang memiliki kaitan erat dengan
proses pembelian. Saat itu konsumen melakukan efektivitas-efektivitas seperti
melakukan pencarian, penelitian, dan pengevaluasian produk, dan sampai kepada
membuat keputusan pembelian. Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumen yaitu:
a)
Faktor Kebudayaan
Kebudayaan, Subbudaya,
Kelas Sosial
b)
Kelompok Sosial
Kelompok Referensi, Kelompok Keluarga, Peran
dan Status
c)
Faktor-faktor Pribadi
Umur dan
Tahapan Siklus Hidup, Pekerjaan, Keadaan Ekonomi, Gaya Hidup, Kepribadiaan dan Konsep Diri
d)
Faktor-faktor Psikologis
Motivasi, Persepsi
Menurut Assael (Sarno, Effendi, & Haryadita, 2016),
membedakan empat tipe perilaku konsumen berdasarkan pada tingkat keterlibatan
pembeli dan tingkat perbedaan di antara merek.
1.
Perilaku membeli yang kompleks (complex buying behavior). Ketika
konsumen terlibat dalam suatu pembelian dan menyadari adanya perbedaan nyata
antara berbagai merek. Umumnya produk yang diinginkan harga mahal, jarang
dibeli, berisiko dan mempunyai ekspresi pribadi yang tinggi. Perilaku konsumen yang
kompleks dijelaskan bagaimana konsumen membandingkan dan memilih suatu produk
yang sesuai dengan kebutuhannya. Dalam proses pembelian suatu produk tertentu,
pertama kali konsumen mempunyai perhatian suatu barang.
2.
Perilaku membeli yang dapat mengurangi
disonansi (dissonance reducing
buying behavior). Konsumen
akan terlibat langsung dalam proses pembelian tetapi mengalami kesulitan untuk
menentukan perbedaan antara merek dan akibatnya konsumen mengalami disonansi
(kekhawatiran yang diakibatkan penyesalan dalam memilih). Konsumen hanya
mungkin menanggapi menurut harga yang baik atau kemudahan membeli.
3.
Perilaku membeli yang sudah terbiasa (habitual buying behavior). Minimnya keterlibatan konsumen dalam menentukan
kategori produk atau merek. Konsumen akan cenderung menunjukkan pola kebiasaan
dan akhirnya keputusan pembelian tidak dipengaruhi oleh loyalitas ataupun campaign dari produk yang akan dibeli. Contohnya adalah
ketika membeli produk barang pokok.
4.
Perilaku mencari keragaman produk (variety seeking behavior). Situasi pembelian ditandai dengan keterlibatan
konsumen yang rendah, namun dapat perbedaan-perbedaan merek bersifat nyata, di
sini konsumen sering melakukan peralihan bukan merasa tidak puas, tetapi hanya
mencari variasi. Perilaku ini didasari oleh motivasi konsumen untuk mencari
produk dengan variasi yang lain dari yang sudah dicari oleh konsumen.
B.
Generasi Milenial
Generasi
millenial merupakan generasi yang lahir pada rentang
tahun 1981-2000 atau yang saat ini berusia 17-36 tahun. Beberapa peran yang
dijalankan oleh generasi millenial saat ini adalah
mahasiswa, mereka yang baru bekerja dan orangtua muda
(Ali & Purwandi, 2017). Adapun
Karakteristik generasi milenial yaitu:
1.
Milenial lebih
percaya User Generated Content. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Barkley
tahun 2011 di Amerika (DELLA ANANDA LESTARI, Ferawati, & Fielnanda,
2020).
Menjelaskan pengertian user generated content (UGC)
bahwa kini sudah bukan zamannya lagi bagi generasi milenial
untuk percaya pada produk iklan atau perusahaan besar. Bisa dikatakan bahwa milenial sudah tidak percaya lagi kepada distribusi
informasi yang bersifat satu arah.
2.
Memanfaatkan Teknologi dan Informasi. Karena
lahir di era kemajuan teknologi, perilaku generasi milenial
sangat bergantung pada teknologi. Mereka bergantung pada internet untuk mencari
berbagai informasi termasuk mengumpulkan informasi sebelum memutuskan pembelian
suatu produk atau menggunakan suatu jasa.
3.
Generasi milenial
lebih konsumtif dalam artian senang mengahabiskan
uang untuk membeli suatu produk atau menggunakan jasa yang telah disediakan. Milenial merupakan konsumen yang mendominasi pasar saat
ini. Tak heran ini menjadi peluang bisnis bagi pelaku bisnis khususnya bisnis online.
C.
Belanja Online
Belanja online dapat diartikan sebagai aktivitas belanja yang
menggunakan jaringan internet yang memudahkan pembelinya karena praktis
sehingga tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk pergi ke lokasi penjualan
serta dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Merujuk
pada jurnal (Sinaga, 2020)
perilaku pembelian online saat ini terdiri atas tiga
hal, yaitu:
1.
Visiting (search): Calon pembeli pertama-tama mengakses situs
e-commerce. Kunjungannya ini dilakukan setelah
mengidentifikasi kebutuhan yang ingin dibeli. Namun, ada pula yang hanya
sekedar ingin meluangkan waktunya melihat-lihat produk, jasa atau promo yang
ditawarkan pihak e-commerce.
2.
Purchasing:
Setelah seseorang melakukan kunjungan atau pencarian dan menemukan produk atau
jasa yang cocok baginya, ia kemudian akan melakukan pembelian. Ada beberapa hal
yang melatarbelakangi pembelian seseorang di situs e-commerce.
Pertama, seseorang melakukan pembelian karena memang membutuhkan barang atau
jasa tersebut. Kedua, seseorang melakukan pembelian karena tertarik dengan
promo yang ditawarkan penyedia layanan e-commerce.
3.
Multi-channel shopping: Adalah fitur yang disediakan oleh situs e-commerce dalam bentuk penyediaan berbagai macam jalur atau
cara pembelian bagi konsumennya. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan nilai
belanja konsumen. Konsumen yang akan membeli bisa membeli produk dengan cara
yang disenanginya.
Menurut Katawetawaraks (Sinaga, 2020)
faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian barang secara online
adalah:
1.
Kenyamanan: kenyamanan internet adalah salah
satu dampak pada kesediaan konsumen untuk membeli secara online.
Belanja online tersedia untuk pelanggan sepanjang
waktu dibandingkan dengan toko tradisional karena buka 24 jam sehari, 7 hari
seminggu (Sinaga, 2020).
2.
Informasi: Menurut (Dirbawanto & Sutrasmawati, 2016) (Sinaga, 2020)
Internet telah mempermudah pengaksesan data. Mengingat pelanggan jarang
memiliki kesempatan untuk menyentuh dan merasakan produk dan layanan online sebelum mereka mengambil keputusan, penjual online biasanya memberikan lebih banyak informasi produk
yang dapat digunakan pelanggan saat melakukan pembelian.
3.
Produk dan layanan yang tersedia: Menurut (Dirbawanto & Sutrasmawati, 2016) (Sinaga, 2020) E-commerce telah membuat transaksi lebih mudah dari pada
sebelumnya dan toko online menawarkan manfaat kepada
konsumen dengan menyediakan lebih banyak variasi produk dan layanan yang dapat
mereka pilih. Konsumen dapat menemukan semua jenis produk yang mungkin hanya
tersedia online dari seluruh dunia.
4.
Efisiensi biaya dan waktu: Menurut (Lim & Dubinsky, 2005) (Sinaga, 2020)
pelanggan belanja online sering ditawari kesepakatan
yang lebih baik, mereka bisa mendapatkan produk yang sama dengan yang mereka
beli di toko dengan harga lebih murah karena toko online
menawarkan pelanggan dengan berbagai produk dan layanan yang memberi pelanggan
lebih banyak peluang untuk membandingkan harga dari situs web yang berbeda dan
menemukan produk dengan harga lebih rendah daripada membeli dari toko ritel
lokal.
D.
Pengaruh Covid-19
Pada
pertengahan bulan Maret 2020 Covid-19 terkonfirmasi atau terdeteksi di
Indonesia, dan pemerintah memberlakukan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial
Berskala Besar) agar dapat menahan laju pergerakan virus tersebut. Akibatnya
masyarakat melakukan semua kegiatannya di rumah atau dikenal sebagai Work From Home
(WFH). Dampak dari pandemi covid-19 sangatlah
berpengaruh diberbagai aspek, termasuk tingkah laku
masyarakat sebagai pelaku konsumen. Kebijakan PSBB memaksa pelaku usaha untuk merubah model bisnis menuju online
sehingga berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan perilaku
konsumen dalam berbelanja online.
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian
yang digunakan adalah Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Penelitian deskriptif yang dimaksud di dalam Penelitian ini yaitu untuk
memahami dan menggambarkan bagaimana perilaku konsumen generasi milenial dalam memutuskan pembelian secara online pada masa pandemi Covid-19. Adapun lokasi dijadikan
tempat penelitian ini dilakukan di dilakukan di daerah Kota Medan. Waktu
Penelitian ini adalah dari bulan April-Juli 2021. Sumber dan jenis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari lapangan
dengan metode kueisioner kepada generasi milenial dan melakukan wawancara ulang kepada informan yang
mengisi kuesioner tersebut untuk memperdalam jawaban dari kuesioner tersebut
dan melakukan wawancara dengan pengamat perilaku konsumen yang ada di Kota
Medan sebagai informan pendukung, dan data eksternal yang diambil dari sumber
internet dan jurnal yang memiliki kaitan dengan perilaku konsumen dalam
memutuskan pembelian secara online yang kredibel dan
dapat dipertanggungjawabkan.
Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan menyebarkan kuesioner dengan pertanyaan tertutup sebanyak 100 orang
informan dan melakukan wawancara ulang secara langsung dengan pertanyaan
terbuka sebanyak 30 orang yang mengisi kuesioner tersebut dan melakukan
wawancara secara langsung dengan seorang pengamat perilaku konsumen. Informan
yang ditentukan dalam Penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu informan kunci
dan informan pendukung. Informan kunci adalah generasi milenial
yang melakukan pembelian secara online. Informan
pendukung adalah seorang pengamat yaitu Nana Dyki Dirbawanto, S.E, M.BA (Dirbawanto & Sutrasmawati, 2016). Beliau
adalah seorang dosen di universitas Sumatera Utara dan beliau seorang pengusaha.
Metode analisis data yang dipakai adalah penyajian data yaitu hasil wawancara
Jawaban dari tiap-tiap poin kuesioner mengenai pembelian online
yang dilakukan oleh generasi milenial akan
diakumulasikan dan dihitung dalam bentuk persentase dan disajikan dalam bentuk
tabel frekuensi, dan melakukan penarikan kesimpulan yaitu tahap lanjutan dimana kesimpulan ditarik dari temuan data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengaruh Covid-19 Terhadap
Aktivitas Berbelanja
Tabel 4.3
Hasil data yang Menyatakan Bahwa Menerapkan rotokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah pada masa
pandemi membuat generasi milenial mengurangi
aktivitas belanja konvensional atau offline
|
No. |
Pilihan |
Persentase |
|
1. |
Ya |
80% |
|
2. |
Tidak |
20% |
Sumber: Peneliti (2021)
Pengaruh Covid-19 terhadap
aktivitas berbelanja generasi milenial menunjukkan
bahwa mengurangi aktivitas belanja secara konvensional atau offline
dan beralih berbelanja secara online. Namun bukan
berarti mereka tidak melakukan belanja secara konvensional, adapun barang yang
mereka beli secara konvensional adalah bahan pokok makanan dan kebutuhan
sehari-hari lainnya. Namun, belanja online sudah
tidak asing lagi bagi generasi milenial karena
sebelum adanya Covid-19 mayoritas informan sudah pernah melakukan pembelian
secara online sebelum pandemi. Adapun faktor yang
membuat mereka beralih adalah karena ada kekhawatiran akan tertularnya Covid-19
saat mereka melakukan pembelian di toko fisik dan adanya budaya menerapkan
protokol kesehatan antara lain: menjaga jarak, mengurangi aktivitas di luar,
dan menghindari kerumunan dan generasi milenial juga
ada rasa malas ketika keluar rumah harus menerapkan prokotol
kesehatan, seperti pakai masker, sarung tangan plastik, dan selalu menggunakan hand sanitizer.
B. Perilaku Konsumen Generasi
Milenial pada Masa Covid-19
Tabel 4.8
Hasil Data yang Menyatakan Bahwa Berbelanja online sudah menjadi gaya hidup ditengah
pandemi covid-19
|
No. |
Pilihan |
Persentase |
|
1. |
Ya |
61% |
|
2. |
Tidak |
39% |
Sumber: Peneliti (2021)
Sebagian generasi milenial menjadikan belanja online
menjadi gaya hidup mereka ditengah-tengah situasi Covid-19 saat ini. Karena
dalam era digital sekarang, internet sudah bagian dari kehidupan mereka. Hal
itu ditunjukkan dengan temuan Peneliti, sebanyak 61% informan menunjukkan bahwa
belanja online sudah menjadi gaya hidup mereka.
Sebelum Covid-19 pun mereka sudah melakukan pembelian secara online sebagai tren, namun saat terjadinya Covid-19 di
Indonesia membuat berbelanja secara online menjadi
suatu gaya hidup bagi sebagian generasi milenial
karena sudah menjadi kebiasaan.
Sebelum memutuskan
pembelian ada pihak yang mereka libatkan menjadi suatu kelompok acuan atau
kelompok referensi yaitu ulasan pembeli atau reviewer
produk karena memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap
mereka ketika memutuskan pembelian secara online.
Ulasan tersebut bisa dibaca melalui fitur khusus di plaftrom
e-commerce. Fitur tersebut adalah wadah untuk
mengukur kepuasaan konsumen. Dalam melakukan
pembelian secara online, konsumen akan melihat
ulasan-ulasan pembeli yang sudah melakukan pembelian sebelumnya, dengan adanya
ulasan tersebut mereka bisa membuat keputusan berdasarkan pengalaman orang lain
melalui ulasan pembelian tersebut dan juga untuk menghindari suatu penipuan.
Jadi, semakin positif ulasan pembelian tersebut, maka akan semakin mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen.
Masa Covid-19 saat ini
konsumen generasi milenial melakukan pembelian secara
online dominan membeli karena berdasarkan kebutuhan
baik kebutuhan primer maupun sekunder. Namun, ada juga generasi milenial melakukan pembelian karena spontanitas, dalam
artian ketika mereka membuka aplikasi e-commerce dan
menemukan promo yang menarik mereka akan membelinya walaupun tidak membutuhkan
barang tersebut. Saat Covid-19 saat ini, fashion
adalah barang yang paling diminati oleh konsumen. Hal itu terbukti sebanyak 37%
informan kuesioner memilih fashion. Fashion adalah
gaya berbusana yang dapat menunjang penampilan seseorang, fashion
berupa, pakaian, tas, sepatu, aksesoris, dan lain sebagainya. Temuan dalam poin
ini menunjukkan bahwa gaya berbusana digunakan untuk menunjang penampilan
seseorang dan menjadi suatu motivasi generasi milenial
dalam melakukan pembelian secara online. Informan
juga beranggapan bahwa kualitas barang yang di jual secara online
memiliki kualitas yang sama. Hal itu tidak terlepas bagaimana konsumen
melakukan proses dalam memilih dan mengartikan informasi yang ada seputar
produk yang ingin mereka beli, agar sesuai dengan persepsi konsumen mengenai
produk tersebut.
C. Proses Sebelum Memutuskan
Pembelian Secara Online
Sebelum melakukan
pembelian secara online konsumen melakukan proses
perencanaan dan pertimbangan sebelum memutuskan pembelian secara online. Dalam teori juga menyatakan bahwa sebelum melakukan
atau memutuskan pembelian secara online mereka akan
mengidentifikasi kebutuhan apa yang akan mereka beli, lalu mereka akan
melakukan pencarian di platform e-commerce atau di
media sosial. Temuan Peneliti dalam poin ini menemukan bahwa mayoritas informan
sebanyak 72% melakukan pencarian ketika mereka memiliki waktu luang atau saat
bersantai. Mayoritas informan melakukan perencanaan sebelum memutuskan
pembelian. Adapun perencanaan yang dilakukan konsumen adalah mengidentifikasi
produk apa yang ingin dibeli, memilih merek, anggaran biaya belanja, hingga
mencari informasi produk. Sebelum memutuskan pembelian secara online mereka melakukan pertimbangan, pada umumnya mereka
melakukan pertimbangn ketika melakukan pembelian
produk yang mahal. Namun ketika mereka melakukan pembelian secara online, pertimbangan yang mereka pertimbangkan adalah
ketika membeli barang yang harganya murah. Karena harga memang adalah hal yang
harus diperhatikan sebelum memutukan pembelian secara
online. Harga murah/terlampau murah atau harga yang dibawah standart, membuat
informan ragu dengan kualitas produk tersebut. Dalam poin ini, informan akan
mencari tahu harga pasaran produk yang mau mereka beli, sehingga sesuai dengan
ekspektasi mereka sehingga tidak mengalami kerugian.
D. Aktivitas Belanja Online
Generasi Milenial
Tabel 4.18
Hasil Data Rata-rata biaya yang dikeluarkan Generasi Milenial Selama Sebulan Untuk Berbelanja Online pada Masa
Pandemi
|
No. |
Pilihan |
Persentase |
|
1. |
Rp 50.000-Rp 500.000 |
84% |
|
2. |
Rp 600.000-Rp 1.000.000 |
13% |
|
3. |
Rp 2.000.000-Rp 5.000.000 |
3% |
|
4. |
>Rp 5.000.000 |
- |
Sumber: Peneliti (2021)
Aktivitas belanja online didominasi oleh generasi milenial
karena generasi milenial adalah generasi yang paling
melekat dengan teknologi saat ini. Aktivitas belanja online
generasi milenial dalam satu bulan sangat bervariasi
mulai dari 1-3 kali hingga lebih dari 15 kali. Mayoritas informan melakukan
aktivitas belanja online yang dilakukan generasi milenial dalam sebulan sebanyak 1-3 kali dengan persentase
45% dan 4-7 kali dengan persentase 31% dengan rata-rata biaya Rp 50.000-Rp
500.000 selama sebulan. Dalam mencari informasi mengenai produk yang ingin
dibeli, generasi milenial lebih percaya pada
informasi yang disampaikan oleh informasi perorangan, karena dengan sosok
tertentu mungkin menjadi kepercayaan atau mereka kagumi yang dianggap telah
memakainya. Jadi, seseorang yang melihat iklan yang dibuat perusahaaan
tidak akan langsung memutuskan pembelian tetapi akan melihat dari pengalaman
yang sudah pernah membelinya. Hal itu ditunjukkan sebanyak 76% informan,
menunjukkan bahwa mereka lebih tertarik informasi yang dibuat oleh reviewer produk yang bisa diakses dari platform media
sosial seperti Youtube, Facebook atau Twitter, dan dari ulasan pembeli. Karena
informasi yang disampaikan perorangan diklaim lebih alami dan juga asli
dibandingkan konten yang dibuat oleh perusahaan.
E. Faktor yang Membuat
Generasi Milenial Lebih Memilih Pembelian Secara
Online
Mayoritas informan memilih
menggunakan platform e-commerce (Tokopedia, Shopee, Lazada) dibandingkan dari
media sosial (Facebook, Instagram, WhatsApp, dll). Alasan mereka memilih platform tersebut karena faktor
kenyamanan serta pelayanan yang ditawarkan aplikasi tersebut lebih tertarik.
Tampilan menu yang ada di aplikasi marketplace lebih
mudah dipahami, tentunya hal itu dapat mempermudah konsumen mencari produk yang
ingin mereka beli. Untuk membuka e-commerce, generasi
milenial akan membukanya ketika saat mereka
bersantai. Bagi mereka bersantai adalah waktu yang tepat untuk mencari produk
yang ingin mereka beli secara online di aplikasi e-commerce, mulai mengakses e-commerce,
identifikasi kebutuhan atau produk, bahkan hanya untuk melihat-lihat produk dan
promo saja. Pada masa Covid-19 ini platform-platform e-commerce
seperti Tokopedia, Shopee, Lazada,
JD ID bersaing memberikan promo-promo yang menarik, hal itu ternyata mampu
menarik perhatian generasi milenial, adapun promo
yang ditawarkan adalah berupa potongan harga, gratis ongkir,
bahkan cashback. Pada masa Covid-19 saat ini pihak
aplikasi seperti Shopee, Tokopedia dan Lazada akan memberikan promo yang menarik setiap tanggal
cantik, seperti 12.12 yang bertepatan bulan 12 dan tanggal 12. Generasi milenial memutuskan pembelian secara online
bukan semata-mata karena promo tetapi mereka berdasarkan kebutuhan, hal itu
bisa dilihat dari 65% informan, menunjukkan bahwa yang melatar belakangi mereka
melakukan pembelian karena berdasarkan kebutuhan. Tetapi bisa dipicu dengan
adanya promo.
Kenyamanan adalah faktor
yang dapat membuat keputusan generasi milenial untuk
melakukan pembelian online. Kenyamanan yang didapat
generasi milenial ketika melakukan pembelian online adalah aplikasi e-commerce
yang bisa diakses selama 24 jam dan tidak perlu datang ke toko fisik untuk
melihat produk yang ingin dibeli serta ada rasa kepuasaan
tersendiri ketika mereka melakukan pembelian secara online
yang dirasakan mulai pelayanan, harga dan kualitas produk dan sejauh ini tingkat
penipuan berbelanja online sangat minim ditemukan dan
plaftrom e-commerce
sekarang sangat terpercaya. Informasi yang disampaikan penjual di aplikasi e-commerce juga secara lengkap dan up-to-date
serta relevan yang didapat dari platform e-commerce
yaitu tersedia fitur deskripsi produk dan fitur chat
yang bisa komunikasi antara pembeli dan penjual yang membuat tingkat keputusan
pembeli generasi milenial sehingga memutuskan
pembelian secara online. Hal itu ditunjukkan bahwa
74% informan mendapatkan informasi yang tepat waktu dan selalu up-to-date. Generasi milenial
juga mendapatkan informasi yang lengkap seputar produk yang ingin mereka beli
di internet tinggal menyesuaikan dengan keinginan. Karena di zaman teknologi
sekarang segala infomasi bisa diakses melalui
internet, di platform e-commerce juga tersedia fitur deskrpisi produk dan fitur chat
yang bisa komunikasi antara pembeli dan penjual.
Dengan berbelanja online konsumen bisa menghemat waktu dan biaya. Temuan
dalam Penelitian bahwa mayoritas informan menyatakan dengan berbelanja online bisa menghemat biaya dan waktu. Dengan berbelanja online mereka bisa mendapatkan produk yang sama dengan yang
mereka beli di toko fisik dengan harga yang lebih murah dan promo di toko online. Pada masa pandemi ini di toko online
dari informan pendukung juga mengungkapkan bahwa pembeli bisa langsung membeli
di distributor tanpa melalui resseler. Hal itu
memberi pelanggan lebih banyak peluang untuk membandingkan harga dari aplikasi
atau toko berbeda dan menemukan produk dengan harga lebih rendah. Oleh karena
itu, dalam hal waktu juga konsumen tidak perlu menghabiskan waktu untuk pergi
ke toko fisik, cukup dari rumah dan memesannya dari aplikasi dan menunggu
barang dikirim sampai depan rumah. Serta proses pemesanan dan pembayaran online mudah dilakukan di mana saja, tinggal klik lalu
akan diproses secara otomatis oleh aplikasi hingga kepenjual
sehingga dilakukan persetujuan, pengemasan dan pengiriman dan waktu pengiriman
tergantung pada seberapa jauh jarak antara penjual dan pembeli. Pembayaran di
e-commerce juga mudah dilakukan karena banyak sekali
cara atau jasa pembayaran yang dilakukan, bisa melalui COD (Cash
On Delivery) Gopay, Ovo, Mbanking, dan masih banyak
lagi.
KESIMPULAN
Perubahan
perilaku konsumen dalam masa Covid-19 saat ini membuat konsumen mengurangi
aktivitas belanja mereka secara konvensional dan beralih berbelanja secara online. Hal itu dibuktikan dari aktivitas belanja online yang meningkat ditengah-tengah masa Covid-19.
Berbelanja secara online adalah alternatif yang
dipilih konsumen untuk menerapkan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah
Indonesia yang menjadi budaya baru yang harus diterapkan. Bahkan berbelanja
secara online sudah menjadi gaya hidup ditengah Covid-19 saat ini. Serta perubahan perilaku
konsumen pada masa Covid-19 saat ini konsumen lebih fokus pada pemenuhan
kebutuhan, dan faktor yang mempengaruhi
generasi milenial memutuskan pembelian secara online adalah kontribusi yang dilakukan pihak layanan
aplikasi e-commerce dengan memberikan kemudahan dalam
hal berbelanja, memberikan promo, serta memberikan kenyamanan bagi konsumen,
terutama pada generai milenial.
Belanja online sangat mudah dilakukan karena cukup
dari gadget pengguna, konsumen milenial bisa
mengakses produk apa yang ingin mereka beli sehingga lebih praktis dan efisien.
Bagi generasi milenial yang akan melakukan pembelian
secara online supaya memastikan toko penjual memiliki
ulasan atau reputasi yang baik supaya tidak terhindar dari penipuan serta
mintalah rekomendasi dari teman atau keluarga yang pernah melakukan transaksi ditoko tersebut karena bisa saja toko tersebut menggunakan
jasa ulasan fiktif, dan bagi pelaku usaha terkhususnya di Kota Medan supaya
beralih dari penjualan konvensional ke penjualan online
dengan memanfaat platfrom e-commerce
yang ada, seperti Tokopedia, Shoppe, Lazada, Grab, Gojek, dan masih
banyak lagi. Serta lakukan promosi yang menarik agar konsumen mengetahui bahwa
produk Anda bisa dipesan secara online.
Abdullah, Cholilawati,
& Suliyanthini, Dewi. (2021). Perubahan Perilaku
Konsumen di Masa Pandemi Covid-19. Equilibrium:
Jurnal Pendidikan, 9(1), 1824. Google Scholar
Ali, Hasanuddin, & Purwandi, Lilik. (2017).
Milenial nusantara. Gramedia Pustaka Utama. Google Scholar
DELLA ANANDA LESTARI, EES160338, Ferawati,
Rofiqoh, & Fielnanda, Refky. (2020). ANALISIS
PERILAKU KONSUMSI GENERASI MILENIAL DALAM MENGIKUTI TREND FASHION HIJAB (STUDI
PADA MAHASISWI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI). UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.m. Google Scholar
Dirbawanto, Nana Dyki, & Sutrasmawati, Rr
Endang. (2016). Pengaruh Customer Experience
dan Brand Trust Terhadap Customer Loyalty.
Management Analysis Journal, 5(1). Google Scholar
Kotler,
Philip. (2000). Marketing management:
The millennium edition
(Vol. 10). Prentice Hall Upper Saddle River,
NJ. Google Scholar
Lim, Heejin, & Dubinsky, Alan J. (2005). The theory
of planned behavior in e‐commerce:
Making a case for interdependencies between salient beliefs. Psychology & Marketing,
22(10), 833855. Google Scholar
Sarno, Riyanarto, Effendi, Yutika Amelia, & Haryadita, Fitrianing. (2016). Modified time-based heuristics miner for parallel business
processes. International Review
on Computers and Software (IRECOS), 11(3),
249260. Google Scholar
Setiadi, Nugroho J., & SE, M. M. (2019).
Perilaku Konsumen: Perspektif Kontemporer pada Motif, Tujuan, dan Keinginan
Konsumen Edisi Ketiga (Vol. 3). Prenada Media. Google
Scholar
Sinaga, Jefry Andi. (2020). Studi Tentang
Persepsi Konsumen Terhadap Pembelian Online Saat Pandemi Covid-19. Google Scholar
|
|
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). |