GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA DALAM PEMENUHAN ACTIVITY DAILY LIVING DI LINGKUNGAN XIV JALAN PEMBANGUNAN USU KELURAHAN PADANG BULAN

KECAMATAN MEDAN BARU TAHUN 2021

 

 

Nurhani Sihaloho

Program Studi D3 Keperawatan STIKes Elisabeth Medan, Indonesia

br.halohohani@gmail.com

 

 

 

Abstrak

Received:

Revised  :

Accepted:

 01 April 2022

10 Mei 2022

20 Mei 2022

Latar Belakang: Kemandirian lansia dalam ADL didefinisikan sebagai kemandirian seseorang dalam melakukan aktivitas dan fungsi - fungsi kehidupan sehari - hari yang dilakukan oleh manusia secara rutin dan universal. Semakin lanjut usia seseorang maka kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan kemunduran pada peran-peran sosialnya.

Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat kemandirian lansia dalam pemenuhan ADL di Lingkungan xiv Jalan Pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru tahun 2021.

Metode: Penelitian ini adalah deskriptif menggunakan teknik total sampling dengan metode kuantitatif dimana pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan kuesioner Indeks Barthel menurut Jonathan Gleadle.

Hasil: Didapatkan dari 35 responden menunjukan bahwa lansia dengan mandiri sebanyak 13 orang (37.1%), ketergantungan ringan sebanyak 13 orang (37.1%), ketergantungan sedang sebanyak 4 orang (11.4%), ketergantungan berat sebanyak 3 orang (8.6%), ketergantungan total sebanyak 2 orang (5.7%).

Kesimpulan: Kemandirian lansia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Disarankan kepada keluarga untuk selalu memperhatikan dan membantu lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari agar bagian tubuh bisa bergerak dan tidak ada gangguan imobilitas seperti senam lansia dan tetap mengontrol kesehatan ke posyandu dan puskesmas.

 

 

Kata kunci: Kemandirian; Lansia; Activity Daily Living

 

 

 

 

Abstract

 

Background: Elderly independence in daily living activities is defined as a person's independence in carrying out activities and functions of daily life that are routinely and universally carried out by humans. The older a person is, his physical abilities will decrease, so that it can lead to a setback in his social roles.

Objective: Of the study was to describe the level of independence of the elderly in fulfilling daily living activities in the USU Development Road, Padang Bulan Village, Medan Baru Subdistrict in 2021.

Methods: Was descriptive using a total sampling technique with a quantitative method where data collection was carried out using a Barthel Index questionnaire according to Jonathan Gleadle.

Results: Obtained from 35 respondents showed that the elderly were independent as many as 13 people (37.1%), mild dependence as many as 13 people (37.1%), moderate dependence as many as 4 people (11.4%), heavy dependence as many as 3 people (8.6%), dependence a total of 2 people (5.7%).

Conslusion: The independence of the elderly can be influenced by several factors such as age, gender, education, and occupation. It is recommended for families to always pay attention and help the elderly in carrying out daily activities so that body parts can move and there are no immobility disorders such as elderly gymnastics and continue to control health at posyandu and health centers.

Keywords: Independence; Elderly; Activity Daily Living

*Correspondent Author : Nurhani Sihaloho

Email : br.halohohani@gmail.com

 

 

PENDAHULUAN

 

Kemandirian pada lanjut usia tergantung pada kemampuan status fungsionalnya dalam melakukan  aktivitas  sehari–hari. Kemandirian merupakan sikap individu yang diperoleh secara komulatif dalam perkembangan dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu mampu berfikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandirian seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk berkembang ke yang lebih mantap (Rohadi, Putri, & Karimah, 2016). Kemandirian lansia dalam ADL didefinisikan sebagai kemandirian seseorang dalam melakukan aktivitas dan fungsi - fungsi kehidupan sehari - hari yang dilakukan oleh manusia secara rutin dan universal (Ediawati, 2012). Kemandirian lansia dalam melakukan ADL dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, sumber pendapatan, status kesehatan, peran bidan, peran kader lansia, peran keluarga lansia, interaksi sosial, peran peer group lansia, aktifitas fisik dan keaktifan lansia (Hurek, Setiaji, & Suginarty, 2019) Faktor yang mempengaruhi tingkat kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti usia, imobilitas dan mudah terjatuh (Rohaedi, Putri, & Kharimah, 2016).

Peningkatan jumlah penduduk lansia ini akan membawa berbagai dampak, terutama pada peningkatan angka ketergantungan. Ketergantungan lanjut usia disebabkan kondisi orang lansia banyak mengalami kemunduran fisik maupun psikis. Kurang imobilitas fisik merupakan masalah yang sering dijumpai pada pasien lanjut usia akibat berbagai masalah fisik, psikologis, dan lingkungan yang dialami oleh lansia (Malida P, 2014). Hasil Riskesdas 2013, penyakit terbanyak pada lanjut usia adalah Penyakit Tidak Menular (PTM) antara lain hipertensi, artritis, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, dan diabetes miletus.

Semakin lanjut usia seseorang maka kemampuan fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan kemunduran pada peran-peran sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya gangguan dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain (dan Noorkasiani, 2011). Apabila ketergantungan tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan beberapa akibat seperti gangguan system tubuh, yaitu penyakit menurunnya ADL. Menurut (Riza, Desreza, & Asnawati, 2018) berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dari 70 responden tingkat kemandirian lansia di Gampong Lambhuk Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh berada pada kategori mandiri sebanyak 35 responden (50,0%), ketergantungan ringan 10 responden (14,3%), ketergantungan sedang 5 responden (7,1%), ketergantungan berat 20 responden (28,6%), ketergantungan total 0. Menurut (Iskandar Harun Pratama & Usman, 2017) berdasarkan hasil peneltian didapatkan bahwa dari 75 responden tingkat kemandirian lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Minaula Kendari yaitu kategori mandiri sebesar 45 orang (60,0%), dan sebagian kecil ketergantungan ringan 23 orang (30,7%), ketergantungan sedang 3 orang (4,0%), ketergantungan berat 3 orang (4,0%), dan lansia yang ketergantungan total 1 orang (1,3%). Menurut Aprilia Gading (2017) berdasarkan hasil penelitian yang di dapatkan di Kampung Cokrokusuman diperoleh sebanyak 7 dari 10 lansia (70%) mampu melakukan ADL secara mandiri, sebanyak 2 lansia (20%) masuk ke dalam kategori ketergantungan ringan, dan 1 lansia (10%) masuk ke dalam kategori ketergantungan berat dalam pemenuhan kebutuhan ADL.

Menurut (Rohaedi et al., 2016) mengenai Tingkat Kemandirian Lansia dalam ADL di PSTW Senja Rawi Kota Bandung dengan responden lansia berusia 60-69 tahun yang berjumlah 21 lansia Dalam data yang ditemukan pada saat penelitian, didapatkan bahwa 3 lansia (14%) mengalami ketergantungan total, 15 lansia (72%) mengalami ketergantungan sebagian dan 3 lansia (14%) mandiri. Adapun yang mengalami ketergantungan total dan sebagian disebabkan oleh penyakit stroke dan parkinson. Dalam penelitian (Fiona Fang Chen et al., 2016) bahwa pada tahun 2040, lebih dari 27 persen lansia Jepang akan menunjukkan keterbatasan dalam melakukan kegiatan sehari - hari dan fungsi sosial. Mayoritas peningkatan ketergantungan  muncul dari penuaan pada populasi di Jepang. Usia keseluruhan rata-rata adalah 76 tahun, dan proporsi perempuan adalah 61,1%. Di antara mereka yang mengalami ketergantungan, proporsi subjek dengan ringan 25,4 5%, sedang/parah 49,8 % , dan total adalah  24,8% (Brian K. Chen et al., 2016) keterbatasan kemampuan ADL pada lansia merupakan hal yang umum sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa penelitian. Penelitian (Fuller-Thomson & Chi, 2012) yang meneliti keterbatasan kemampuan ADL pada lansia di Asia, Amerika dan kepulauan pasifik. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi gangguan kemampuan ADL lansia pada masyarakat India adalah 4,7% sebagai prevalensi terendah dan Korea Selatan sebesar 18,8% sebagai prevalensi tertinggi. Kelompok Negara diantaranya antara lain China, Vietnam, Jepang, Philipina dengan prevalensi sekitar 8-10%.

Pengkajian tingkat kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari Activity Daily Living penting untuk mengetahui tingkat ketergantungan lanjut usia dalam rangka menetapkan level bantuan bagi lansia dan perencanaaan perawatan jangka panjang. Berdasarkan permasalahan dari latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, Gambaran Tingkat Kemandirian Lansia Dalam Pemenuhan Activity Daily Living di Lingkungan 14 Jalan Pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru Tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Tingkat Kemandirian Lansia Dalam Pemenuhan Activity Daily Living di Lingkungan xiv Jalan Pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru Tahun 2021.

 

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dimana pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 35 partisipan. Instrumen penelitian  yang digunakan peneliti adalah dengan menggunakan Observasi Index Barthel Komponen dari Index Barthel ini  terdiri dari 10 kriteria dan cara pengisian yaitu dengan cara mengamati responden dan check list di lembar observasi index barthel pada kolom yang disediakan sesuai dengan tingkat kemandirian atau kemampuan responden dalam melakukan activity daily living.

Analisa data pada penelitian ini adalah analisa univariat untuk mengetahui gambaran tingkat kemandirian lansia dalam pemenuhan Activity Daily Living di lingkungan xiv jalan pembangunan USU kelurahan Padang Bulan kecamatan Medan Baru tahun 2021.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.   Demografi responden berdasarkan tingkat kemandirian.

Jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 35 orang lansia di Lingkungan xiv Jalan Pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru Tahun 2021.

 

1.    Karakteristik responden

Karakteristik responden pada penelitian ini dikelompokkan berdasarkan demografi yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, suku lebih lengkap dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1

Distribusi frekuensi karakteristik demografi lansia di Lingkungan xiv Jalan Pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru tahun 2021

 

Karakteristik

(f)

(%)

Umur

 

 

Lanjut Usia (60-74 tahun)

15

42.9

Lanjut Usia Tua (75-90 tahun )

19

54.3

Sangat Tua ( > 90 tahun )

1

2.9

Total

35

100.0

Jenis Kelamin

 

 

Laki- laki

14

40.0

Perempuan

21

60.0

Total

35

100.0

Pendidikan

 

 

Tidak sekolah

14

40.0

SD

18

51.4

SMP

2

5.7

SMA

0

0

Sarjana

1

2.9

Total

35

100.0

Pekerjaan

 

 

PNS

1

2.9

Wiraswasta

2

5.7

Tidak bekerja

14

40.0

Bertani

4

11.4

Pensiunan

1

2.9

IRT

13

37.1

Total

35

100.0

Suku

 

 

Batak karo

28

80.0

Batak toba

4

11.4

Batak mandailing

1

2.9

Jawa

2

5.7

Total

35

100.0

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa responden di lingkungan xiv jalan pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru tahun 2021 sebagian besar responden pada rentang usia 75-90 tahun berjumlah 19 orang (54,3%),  rentang usia 60-74 tahun berjumlah 15 orang (42,9%) dan sebagian kecil pada rentang usia >90 tahun berjumlah 1 orang (2,9%),  sebagian besar berjenis kelamin perempuan berjumlah 21 orang (60%), sebagian kecil berjenis kelamin laki-laki berjumlah 14 orang ( 40 %). Sebagian besar responden berpendidikan SD berjumlah 18 orang (51,4%), tidak sekolah berjumlah 14 orang (40%), SMP berjumlah 2 orang (5,7%), sebagian kecil berjumlah 1 orang (2,9%). Sebagian besar responden tidak bekerja berjumlah 14 orang (40%), IRT berjumlah 13 orang (37,%), bertani berjumlah 4 orang (11,4%), wiraswasta berjumlah 2 orang (5,7%), PNS berjumlah 1 orang (2,9%), sebagian kecil pensiunan berjumlah 1 orang (2,9%). Sebagian besar bersuku batak karo berjumlah 28 orang (80%), suku Batak Toba berjumlah 4 orang (11,4%), suku Jawa berjumlah 2 orang (5,7%), sebagian kecil suku Batak Mandailing berjumlah 1 orang (2,9%).

 

 

 

 

 

2.    Tingkat Kemandirian Responden

Tingkat kemandirian pada penelitian ini dikelompokkan menjadi 5 kategori yaitu mandiri, ketergantungan ringan, ketergantungan sedang, ketergantungan berat, ketergantungan total.

 

Tabel 2

Distribusi frekuensi tingkat kemandirian lansia di Lingkungan xiv Jalan Pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru tahun 2021

Tingkat kemandirian

(f)

(%)

Mandiri

13

37.1

Ketergantungan ringan

13

37.1

Ketergantungan sedang

4

11.4

Ketergantungan berat

3

8.6

Ketergantungan total

2

5.7

Total

35

100.0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa proporsi tertinggi tingkat kemandirian lansia di Lingkungan xiv Jalan Pembangunan USU Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru adalah mandiri dan ketergantungan ringan sebanyak 13 responden ( 37.1%) dan proporsi terendah ketergantungan total sebanyak 2 responden (5.7%).

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan yaitu hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada rentang usia 75-90 tahun berjumlah 19 orang (54,3%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan berjumlah 21 orang (60%), sebagian besar responden berpendidikan SD berjumlah 18 orang (51,4%), sebagian besar responden tidak bekerja berjumlah 14 orang (40%), IRT berjumlah 13 orang (37,%), sebagian besar bersuku batak karo berjumlah 28 orang (80%). Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kemandirian lansia sebagian besar ketergantungan ringan sebanyak 13 responden (37.1%), sebagian kecil ketergantungan total sebanyak 2 orang (5.7%). hal ini dikarenakan kemandirian lansia dalam pemenuhan activity daily living dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti  usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan. Bagi institusi pendidikan STIKes Santa Elisabeth Medan. Mengembangkan perencanaan keperawatan tentang gambaran tingkat kemandirian activity daily living pada lansia dan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk membentuk perawatan khusus gerontik yang dapat memahami seluk beluk kebutuhan activity daily living lansia.

Bagi Lansia untuk tetap melakukan aktivitas sehari-hari agar bagian tubuh bisa bergerak dan tidak ada gangguan imobilitas seperti senam lansia, kegiatan yang berhubungan dengan lansia yang ada dalam lingkungan terutama dalam tingkat kemandirian dan tetap mengontrol kesehatan ke posyandu, puskesmas ataupun pelayanan kesehatan lainnya. Sementara bagi mahasiswa diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi, sumber informasi, acuan dan sebagai data tambahan dalam mengidentifikasi gambaran tingkat kemandirian lansia dalam melakukan activity daily living dan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut dalam meningkatkan kemandirian lansia.

 

BIBLIOGRAFI

 

Chen, Brian K., Jalal, Hawre, Hashimoto, Hideki, Suen, Sze Chuan, Eggleston, Karen, Hurley, Michael, Schoemaker, Lena, & Bhattacharya, Jay. (2016). Forecasting trends in disability in a super-aging society: Adapting the Future Elderly Model to Japan. In Journal of the Economics of Ageing (Vol. 8). https://doi.org/10.1016/j.jeoa.2016.06.001. Google Scholar

 

Chen, Fiona Fang, Breedon, Michael, White, Paul, Chu, Clement, Mallick, Dwaipayan, Thomas, Sebastian, Sapper, Erik, & Cole, Ivan. (2016). Correlation between molecular features and electrochemical properties using an artificial neural network. Materials & Design, 112, 410–418. Google Scholar

 

dan Noorkasiani, Tamher. (2011). Kesehatan Lanjut Usia dengan Pendekatan Asuhan keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Google Scholar

 

Ediawati, Eka. (2012). Gambaran Tingkat Kemandirian Dalam Actuvity Of Daily Living (ADL) Dan Resiko Jatuh Pada Lansia DI Panti Sosial Trsna Wredha Budi Mulia 01 dan 03 Jakarta Timur. Depok: FK UI. Google Scholar

 

Fuller-Thomson, Esme, & Chi, Monica. (2012). Older Asian Americans and Pacific Islanders with activities of daily living (ADL) limitations: Immigration and other factors associated with institutionalization. International Journal of Environmental Research and Public Health, 9(9), 3264–3279. Google Scholar

 

Hurek, Rosina Kardina Kidi, Setiaji, Bambang, & Suginarty, Suginarty. (2019). Determinan Kemandirian Lansia Dalam Melakukan Basic Activity Daily Living (Badl) Di Wilayah Kerja Puskesmas Balauring Kec. Omasuri Kab. Lembata-NTT Tahun 2018. Infokes, 9(01), 71–81. Google Scholar

 

Iskandar Harun Pratama, Penulis, & Usman, Reni Devianti. (2017). IDENTIFIKASI TINGKAT KEMANDIRIAN LANSIA DALAM MELAKUKAN AKTIVITAS SEHARI–HARI DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA MINAULA KENDARI. Poltekkes Kemenkes Kendari. Google Scholar

 

Malida P, Herning. (2014). Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dan Pola Makan Dengan Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Google Scholar

 

Riza, Saiful, Desreza, Nanda, & Asnawati, Asnawati. (2018). Tinjauan Tingkat Kemandirian Lansia Dalam Activities Daily Living (Adl) di Gampong Lambhuk Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh. Jurnal Aceh Medika, 2(1), 166–170. Google Scholar

 

Rohadi, Slamet, Putri, Suci Tuty, & Karimah, Aniq Dini. (2016). Tingkat Kemandirian Lansia Dalam Activities Daily. Pendidikan Keperawatan Indonesia, 2(1), 17. Google Scholar

 

Rohaedi, Slamet, Putri, Suci Tuty, & Kharimah, Aniq Dini. (2016). Tingkat kemandirian lansia dalam activities daily livingdi panti sosial tresna werdha senja rawi. Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia, 2(1), 16–21. Google Scholar

 

 

© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).